Prosesi penganugerahan gelar adat Sri Perdana Mahkota Negara kepada Wapres Jusuf Kalla, di Daik, Lingga, Minggu (19/11). (foto: humas prov. kepri)

KEDATANGAN Wapres RI Jusuf Kalla dan istri ke Lingga, Minggu (19/11) lalu, bukan melulu tentang penganugerahan gelar adat. Sebagaimana diketahui bersama, ketika di Daik, Lingga Wapres Kalla dianugerahi gelar adat Sri Perdana Mahkota Negara dan Ny. Mufidah Kalla dengan gelar Sri Puan.

Prosesi penganugerahan gelar ini ditandai dengan pemasangan tanjak, selempang, keris, dan warkah kepada Wapres Kalla oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Kepri, Datok Sri Setia Amanah, Abdul Razak.

Pada prosesi tersebut, dilakukan pemasangan tanda kebesaran adat berupa Tanjak, Selempang, Keris dan Warkah oleh Ketua Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau Datok Sri Setia Amanah, Abdul Razak

Dan yang paling menyita perhatian adalah ketika Wapres Kalla menyinggung Sumpah Setia Melayu-Bugis. Tentang sumpah ini, Raja Ali Haji dalam Kitab Silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian Raja-rajanya menuliskan:

……” Kemudian berkata Upu2 yang berlima itu kepada Raja Sulaiman, adapun yang seperti permintaan Raja Sulaiman kepada saya semua itu, saya terimalah. Akan tetapi hendaklah kita semua ini berjanji dahulu betul2. Maka Jawab Raja Sulaiman, baiklah. Dan khabarkanlah oleh Upu2 itu boleh saya dengar. Syahdan berkata pula Upu Daeng Perani. Adapun jika jaya pekerjaan saya semua ini sekali lagi melanggar Siak, maka sebelah Raja Sulaiman menjadi Yamtuan Besar sampailah kepada turun menurunnya, dan saya semuanya menjadi Yamtuan Muda sampailah kepada turun – menurunnya juga, tiada boleh yang lain, Maka boleh pilih saja yang lima beradik ini, mana – mana jua yang disukai oleh orang banyak, maka dianya itulah yang jadi Yamtuan Muda, tiada boleh tiada. Dan lagi pula Yamtuan besar jadi seperti perempuan saja, jika diberinya makan baharulah makan ia. Dan Yamtuan Muda jadi seperti laki – laki. Dan jika datang satu2 hal atau apa2 juga bicara, melainkan apa2 kata Yamtuan Muda. Syahdan sekali perjanjian kita mana2 yang tersebut itu, tiada boleh diobahkan lagi. Maka boleh kita semua pakai sampai kepada anak cucu cicit turun temurun kita kekalkan selama – lamanya”. (sumber: pulaulingga)

Dan Wapres Kalla, sebagai orang Bugis amat mengenang Sumpah Setia ini. Ia sendiri mengaku banyak belajar tentang kesetiaan dan amanah dari sumpah setia ini.

Sumpah Setia ini, kata Wapres Kalla, menunjukkan bahwa sejak dulu, Melayu dan Bugis sudah berpikir soal kebangsaan yang besar. Bukan soal ego kelompok sendiri. Saat itu, ketika ada konflik dengan bangsa asing, Melayu-Bugis selalu bersatu.

Sebagai Orang Bugis, Wapres Kalla mengaku persebatian itu. Jika masuk ke Makassar melalui pelabuhan, katanya, maka daerah yang diinjak untuk pertama kali adalah Kampung Melayu, bukan Kampung Bugis. Ini menunjukkan sudah lama orang Melayu ada di tanah Bugis.

Prasasti Sumpah Setia Melayu-Bugis yang diteken Wapres RI Jusuf Kalla, di Daik, Lingga, Minggu (19/11). (foto: facebook moel akhyar)

“Melayu dan Bugis bagai dwitunggal yang menjaga agar adat tidak ditinggal,” ucap Wapres Kalla.

Dari Sumpah Setia ratusan tahun silam ini, Wapres Kalla menilai hubungan erat ini harus terus dijaga. Demikian juga dengan semua suku bangsa lainnya di nusantara dan dunia.

Foto: Adi Pranadipa/jantungmelayu.com

Lalu, Wapres Kalla menandatangani sebuah prasasti Sumpah Setia Melayu-Bugis sebagai tanda mata ingatan bersama perkekalan hubungan dua bangsa yang sudah terjalin berabad-abad silam ini.***

Tinggalkan Balasan