Pawai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Penyengat, Jumat (1/12). (foto: adi pranadipa)

JUMAT (1/12) lalu, ada keriuhan di Pulau Penyengat. Ini kali bukan ada arak-arakan rombongan wisatawan bertandang ke pulau mahar tersebut. Keriuhan yang menjadi selepas ibadah Jumat itu adalah bersempena perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kelahiran Baginda Nabi, sebagaimana diketahui bersama, sudah lama ditetapkan sebagai hari libur nasional. Ini tak pelak menjadikan bagi umat muslim se-Indonesia merayakannya sebagai hari yang berbahagia.

Tak terkecuali di Penyengat. Dari tahun ke tahun, 12 Rabiul Awal menjadi titimangsa pelaksanaan pawai dari anak-anak sampai dewasa. Lengkap dengan bunga manggarnya. Komplet dengan kostum terbaiknya. “Dari tahun ke tahun, pawai Maulid di Penyengat, selalu ditunggu,” kata Adi Pranadipa.

Fotografer dari Tanjungpinang ini mengaku setiap tahun menyempatkan dirinya mengabadikan momen berbahagia merayakan kelahiran Baginda Nabi di Penyengat. Jumat (1/12) lalu pun begitu. Kata dia yang pasti setiap tahunnya: pawai perayaan Maulid Nabi selalu riuh, meriah, dan ramai adanya.

Namun, sungguh di balik itu semua, sebenarnya ada yang ”hilang” di balik tradisi perayaan Maulid Nabi yang sudah lestari sejak kerajaan Riau-Lingga. Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menjelaskan, yang ”hilang” itu adalah tradisi pembacaan Syair Gemala Mustika Alam karya Raja Ali Haji.

Nico Kapten dalam The Berdiri Mawlid issue among Indonesian muslims in the period from circa 1875 to 1930 (1993), kata Aswandi, menuliskan bahwa tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut adalah bagian dari syiar Islam  yang telah berlangsung sejak berkurun-kurun lamanya, dan telah menyebar luas ke seluruh Dunia Islam: termasuk ke seluruh ceruk  rantau Alam Melayu.

“Lazimnya, diisi dengan resitasi karya-karya sastra Islam tentang sejarah dan kehidupan Nabi Muhammad,” ujarnya. Dalam lingkungan pesantren, biasanya ini disebut dengan sirah nabawiy alias sejarah kenabian.

Resitasi karya sastra itu, sambung Aswandi, dilantunkan  dengan irama yang indah-indah. Teks karya sastra tersebut biasanya dibacakan dalam bahasa Arab, meskipun dalam masyarakat yang mengamalkannya bahasa Arab bukanlah bahasa sehari-sehari.

Di pusat Kerajaan Riau-Lingga pada masa lalu, baik di Daik-Lingga maupun di Pulau Penyengat, tradisi pembacaan karya sastra tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW pada perayaan Maulid Nabi itu juga diamalkan. Walau, kata Aswandi, sesungguhnya teks itu tidak hanya wajib dibacakan dalam perayaan Maulid Nabi saja.

Teks-teks yang dibacakan pada setiap perayaan Maulid Nabi itu antara lain adalah, teks Mawlid Sharaf al-anam, Ashraqa al-badru ‘Alaina, dan Maulid al-Barzanji nazman, yang semuanya bersumber dari teks kitab ‘Iqdu al-Jawahir fi Mawlud al-Nabi al-Azhar karya mufti Mazhab Syafii di Madinah, Imam Ja’far al-Barzanji. Karena itulah di Alam Melayu semua teks Maulid yang bersumber dari kitab ‘Iqdu al-Jawahir fi Mawlud al-Nabi al-Azhar itu dikenal sebagai kitab Barzanji, bersempena nama pengarangnyanya, Imam Ja’far al-Barzanji: dan kegiatan membancanya disebut  berzanji.

Namun jika dibandingkan dengan daerah lainnya pada saat yang sama, pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, maka amalan membaca teks-teks barzanji dalam perayaan Maulid Nabi di Kerajaan Riau-Lingga pada masa lalu lebih kaya dan lebih semarak dengan hadirnya sebuah karya sastra Islam tentang sejarah hidup Nabi Muhammad SAW yang digubah Raja Ali Haji.

Wujudnya adalah sebuah syair yang disebut oleh Hasan Junus dalam Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang Abad XX (2002) sebagai karya terakhir, yang disandingkannya sebagai sebuah nyanyian angsa dalam karya-karya sastrawan besar Eropa, dalam korpus karya-karya Raja Ali Haji.

“Judulnya adalah Syair Sinar Gemala Mustika Alam yang kemudian diterbitkan oleh Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat dan dicetak oleh Mathbaah al-Riauwiyah di pulau bersejarah itu  pada 1311 Hijriah bersamaan dengan tahun 1893 Miladiah atau 20 tahun setelah Raja Ali Haji mangkat pada 1873,” terang Aswandi.

Teks Arab Melayu bagian akhir pasal 7 dan awal pasal 8 edisi cetak Syair Sinar Gemala Mestika Alam gubahan Raja Ali Haji cetakan Mathbaah al-Riauwiyah, Pulau Penyengat pada 1311 Hijriah bersamaan tahun 1893 Miladiah. (foto: dok. aswandi syahri)

Sama seperti karya Ja’far al-Barzanji dan berbagai variannya, maka Sinar Gemala Mustika Alam adalah sebuah gubahan puitis yang berisikan sejarah kelahiran dan kehidupan Nabi Muhammad yang disampaikan dalam bentuk syair Melayu.

Aswandi menjelaskan, pihak Mathbaah al-Riauwiyah menyebut syair berbahasa Melayu Riau-Lingga ini sebagai sebuah karya terjemah atau terjemahan atas sebuah karya asal yang tidak disebutkan judulnya:

Terhias di dalamnya kisah Maulud Sallallahu‘alaihiwassalam yang amat indah ceritanya. Terjemah dengan bahasa Melayu oleh Almarhum Raja Ali Haji ibni Almarhum Raja Ahmad al-Hajjata’amadahu lillahi ta’ala birahmati wa’ada ‘alaina min barakatahu, amin.”

Meskipun Raja Ali Haji tidak menyebutkan bahan sumber yang menjadi rujukannya dalam menerjemahkan syair Sinar Gemala Mustika Alam, sambung Aswandi, namun pada bait terakhir Pasal 8 syair tersebut (pasal penutup), Raja Ali mengatakan syair yang ia gubah adalah sebuah mukhtasar (keringkasan) dari sebuah karya lain: “Tamatlah Syair Maulud ini/ Bahasa Melayu di sebelah sini/ Aku Mukhtasarkan hai ikhwani/ Kuambil waqa’anya sahaja begini”.

Syair Sinar Gemala Mestika Alam ini diusahakan langsung oleh Kepala Mathabaah al-Riauwiyah Pulau Penyengat, Said Ali ibni Ahmad al-Athas, yang ketika itu juga menjabat sebagai sekretaris Rusyadiah Club Riouw Pulau Penyengat.

Dalam syair yang amat indah ceritanya dan bahasanya ini, kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diibaratkan sebagai munculnya sebuah batu gemala hikmat yang pancaran kilauannya menerangi seluruh alam raya. Kisah maulid Nabi Muhammad dalam syair ini, sambung Aswandi, dimulai dengan kisah sejak Baginda Nabi masih masih dalam kandungan ibunya hingga kisah-kisah ketika wafatnya: keseluruhannya dipilah dalam delapan pasal yang menjadi narasi utamanya.

Di luar delapan pasal syair yang menjadi narasi utamanya itu, terdapat sebuah mukadimah yang terdiri dari 19 bait syair, dan sebuah doa penutup yang telah dimelayukan dan digubah dalam tiga bait syair. Kesudahan kitab syair ini diakhiri dengan sembilan bait syair yang berisikan penyataan tentang hak cipta dan hak pencetakan syair yang berada pada Mathbaah al-Riauwiyah di Pulau Penyengat.

Sembilan belas bait syair pada bagian mukadimah mengisahkan ‘pengalaman spiritual’ ibunda Nabi Muhammad, Siti Aminah, selama mengandung Nabi akhir zaman yang diseru sekalian alam itu.

Setelah itu, secara berturut-turut, Pasal 1 mengisahkan saat-saat kelahiran Nabi Muhammad S.A.W; Pasal 2 mengisahkan mukjizat dan tanda-tana kebesaran Allah ketika Nabi lahir; Pasal 3 mengisahkan Nabi yang yatim ketika dilahirkan; Pasal 4 berkisah tentang tanda-tanda kerasulannya yang terlihat oleh ulama rahib ketika Nabi berusia 12 tahun.

Selanjutnya, Pasal 5 berkisahkan tentang kehidupan Nabi sebagai pedagang dan pernikahannya dengan Siti Khadijah; Pasal 6 berkisah tentang kerasulannya pada usia 40 tahun; Pasal 7 tentang perjuangannya sebagai Rasul dalam menegakkan agama Allah; dan terakhir Pasal 8 yang mengisahkan rintangan dan peperangan yang dihadapi Nabi Muhammad dalam menegakkan Islam menjadi agama rahmatan lil’alamin.

Pada zamannya, terang Aswandi, Syair Sinar Gemala Mustika Alam gubahan Raja Ali Haji ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Maulid Nabi di Kerajaan Riau-Lingga yang diselenggarakan oleh anggota-anggota Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat pada akhir abad ke-19.

“Sebuah informasi lisan yang diperoleh Hasan Junus di Pulau Penyengat pada tahun 1971 menyebutkan, bahwa sampai tiga dekade pertama abad yang lalu, syair ini masih dibacakan untuk mendampingi karya Ja’far al-Barzaji pada setiap perayaan Maulid Nabi di Pulau Penyengat,” kenang Aswandi.

Resitasi Syair Sinar Gemala Mustika Alam pada perayaan Maulid Nabi di Kepulauan Riau, yang telah diamalkan sejak zaman kerajaan Riau-Lingga, kata Aswandi, sesungguhnya boleh dikata telah menjadi sebuah tradisi yang ”punah”.

“Dalam catatan saya, sedidikitnya ada tiga kali upaya menghidupkan kembali pembacaan syair ini dalam perayaan Maulid Nabi di Kepulauan Riau-Lingga setelah Kerajaan Riau Linggga dihapuskan,” ungkap Aswandi.

Pertama, berlangsung dalam sebuah perayaan Maulid Nabi oleh kaum ibu di Surau Kampung Melati, di Tanjungpinang, yang digagas oleh Hasan Junus sekitar awal 1970-an. Lama kemudian, barulah upaya kedua berlangsung pula ketika Kantor Departemen Agama Kabupaten Kepulauan Riau di Tanjungpinang, yang ketika itu dipimpin oleh H. Fauzi Mahbub, menyelenggarakan lomba pembacaan Syair Sinar Gemala Mustika Alam tingkat pelajar  sempena perayaan Maulid Nabi tahun 2001.

Pawai bersempena perayaan Maulid Nabi di Penyengat, Jumat (1/12) lalu. (foto: adi pranadipa)

Adapun upaya ketiga dilakukan oleh DPD BKPRMI Kabupaten Karimun bersempena Seminar Sastra Islam yang diselenggarakan di aula Masjid Agung Karimun pada 2015 lalu.

“Pembacaan yang dilakukan oleh ibu-ibu di Surau Kampung Melati, Tanjungpinang lebih 40 tahun lalu itu, adalah satu-satunya pembacaan lengkap Syair Sinar Gemala Mestika Alam yang pernah dilakukan setelah Kerajaan Riau-Lingga dihapuskan pada tahun 1913,” kata Aswandi.

Sedangkan dalam acara yang diselenggarakan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten Kepulauan Riau dan DPD BKPRMI Kabupaten Karimun, sambung dia, hanya dilakukan secara pragmentaris, sekadar memperkenalkan kembali kepada khalayak ramai saja.

“Karena itu, tak salah bila mengatakan bahwa tradisi pembacaan Syair Sinar Gemala Mustika Alam dalam perayaan Maulud Nabi di Kepulauan Riau telah menjadi suatu tradisi yang hilang atau punah,” ujar Aswandi.

Aswandi beranggapan, tak salah kiranya bila pemerintah daerah menghidupkan kembali tradisi pembacaan Syair Sinar Gemala Mustika Alam gubahan Raja Ali Haji ini pada setiap perayaan Maulid Nabi tiap tahunnya.***

Tinggalkan Balasan