KISAH ENGKU PUTRI: Bait-bait awal Syair Kisah Engku Puteri dalam manuskrip tulisan Jawi (Arab Melayu) koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. (Aswandi Syahri)

TAK jarang kisah-kisah penting dalam sejarah istana Riau-Lingga diabadikan dalam bait-bait syairyang indah dan informatif. Kutubkhanah minggu ini akan memperkenalkan sebuah syair yang mengisahkan perjalanan Engku Puteri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Riayatsyah, ke Daik-Lingga: sebuah syair Melayu sekelas belles  lettres  dalam  tradisi sastra di Eropa.

Di Tanah Penyengat

Judul lengkap syair ini dicantumkan pada halaman terakhir bait 511, sebagai berikut: Tamatlah Syair Kisah Engku Puteri/ Dikarang Engku Haji beberapa hari/ Berangkat ke Lingga meninggal- kan negeri/ Selamat kembali ke negeri sendiri.

Selain itu, judulnya juga dicantumkan di luar teks, pada bagian atas halaman pertama manuskrip syair ini. Kemungkinan besar judul ini ditambahkan kemudian oleh pemilik atau kurator manuskrip. Judul tersebut ditulis menggunakan huruf rumi tulisan tangan ejaan lama: Keesahnja Engkoe Peterie.

Dalam dunia manuskrip Melayu, terdapat berbagai cara menuliskan judul syair ini. Namun tetap mengacu kepada satu manuskrip. E.P. Wieringa (1998:127-129) mencatatnya dengan judul, Kissah Engku Puteri.

Di lain pihak, dalam  katalognya, Teuku Iskandar (1999:34) memberi judul Kisah Engku Puteri. Sementara itu, sebuah edisi alih aksara ‘tidak lengkap’ syair ini yang  diselenggrakan  oleh Hasan Junus (2002) judulnya adalah Syair Pelayaran Engku Puteri ke Lingga. Mengacu pada judul dalam manuskrip satu-satunya yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Kutubkhanah ini menyebutnya Syair Kisah Engku Puteri.

Sebagaimana disebutkan dalam bait ketiga halaman pertama syair ini, manuskrip asal syair ini dikarang oleh Engku Haji Ahmad, yakni Raja Haji Ahmad, ayah Raja Ali Haji, yang merupakan saudara laki-laki Engku Puteri. Beliau mengarangnya beberapa hari setelah kembali dari Daik-Lingga ke Pulau Penyengat pada 16 Mei 1831.

Tentang pengarangnya, dalam bait ketiga syair ini  dinyatakan  sebagai berikut: Engku Haji Ahmad mengarangn- ya itu/Akalnya sempurna arifnya tentu/ Puteranya Marhum Teluk Ketapang itu/ Sekarang pekerjaannya adil tertentu.

Kolofon di bagian akhir syair menyebutkan bahwa Syair  Kisah Engku Puteri selesai disalin di Pulau Penyengat pada 11 Rajab 1260 H bersamaan dengan 26 Juli 1844 CE oleh seorang penyalin anonymous yang disuruh oleh Haji Ibrahim.

Penyalinan ini dilakukan karena Haji Ibrahim mendapat order dari J.H. Walbeehm, Sekretaris Resident Riouw di Tanjungpinang, yang bermaksud mengirim salinan syair itu kepada anaknya di Eropa (Belanda). Tentang hal ini, penyalinnya menuliskan dalam bait-bait syair sebegai berikut:

Tamat disalin di tanah Penyengat/ Di Negeri Riau dengan selamatNaskhahnya habis sekalian tersurat/ Tuan tiliklah sampai ke tamat. 

Beta menyalin belum mengerti/

Daripada hendak berbuat bakti/ Tuan Haji Ibrahim menyuruh sempurna hati/ Daripada sebab mengenangkan budi.

Dari Delf ke Leiden

Informasi bibliografis manuskrip syair ini yang dimuat dalam Catalogue of
Malay and Minangkabau Manuscripts koleksi Universitas Leiden oleh E.P. Wieringa (1998: 127) menyebutkan pemilik awal manuskrip syair ini, provenance, adalah W. H. v.d. Hell (WHVDHELL).

Sejak tahun 1864, salinan manuskrip yang tergolong codex-unicus (manuskrip tunggal) ini berada dalam simpanan Perpustakaan Universitas Leiden (Leidse Universiteitsbibliotheek) dengan nomor katalog Cod. Or. 1761.

Perpustakaan Universitas Leiden memperolehnya dari Koninkelijk Acade- mie, Akedemi Kerajaan: yakni sekolah aspirant (calon) pegawai sipil untuk Hindia Belanda di kota Delf yang ditubuhkan pada 1842. Setelah sekolah ini tutup pada 1 Juli 1864, seluruh koleksi perpustakaanya yang terdiri dari manuskrip Melayu, Arab, dan Batak, ditransfer ke Perpustakaan Universitas Leiden.

Manuskrip Syair Kisah Engku Puteri ini adalah bagian dari sebuah kitabyang dijilid dengan kulit tebal berdimensi 32,5 x 20 cm, yang bersikan dua buah syair. Muka surat 1 verso  (kiri)  hingga 18 rekso (kanan) berisikan Syair Prang Johor. Adapun Syair Kisah  Engku Puteri yang ditulis menggunakan huruf Jawi atau huruf Arab Melayu dican- tumkan pada lembaran muka surat 18 verso hingga 30 rekso.Selain dalam format huruf Jawi tulisan tangan, Syair Kisah Engku Puteri dalam kitab ini disandingkan juga alih  aksaranya kedalam huruf rumi  (latin)  tulisan tangan, yang dimuat pada muka surat 34verso hingga 44 rekso.

Menurut Teuku Iskandar dalam Catalogue of Malay,  Minangkabau, and South Sumatran  Manuscripts  in The Netherlands (1999: vol.one, 34) dan E.P. Wieringa (1998:127), Syair Kisah Engku Puteri ditulis pada  lembaran kertas jenis wove paper dengan watermark (tanda air) Britania dengan tulisan LLOYD JAMES dan angka  1840.

Belles  Lettres Melayu

Teuku Iskandar, dalam Kesusastraan Melayu Sepanjang Abad (1996: 519- 520), menggolong syair ini ke dalam genre sastra Melayu berkadar sastra yang tinggi sekelas belles  lettres atau fine writing (karya sastra yang mementing  kualitas  estetika bahasa yang dibuat untuk kepentingan mengekspresikan emosi atau perasaan penciptanya) yang dikenal dalam khazanah sastra Eropa, terutama Prancis, sejak tahun 1665.

Di Alam Melayu, genre syair seperti ini dimulai oleh Raja Culan (dari keluarga diraja Perak, Malysia) dengan Syair Raja Iskandar Bermain-Main ke Laut. Contoh lain syair seperti  ini adalah, Syair Singapura Terbakar dan Syair Kambung Gelam Terbakar, karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.

Sebuah belles letters, adalah karya sastra yang isinya tidak hanya informatif, tapi juga mengandungi kadar seni (sastra) yang tinggi. Narasinya ringan dan menghibur. Namun demikian lazimnya adalah sebuah pencapaian kreativitas seni sastra yang canggih, indah, rumit, kompleks, dan selalunya ‘masaksecara sastrawi (sophisticated literature).

Kisah Engku Puteri ke Lingga

Centrum narasi Syair  Kisah  Engku Puteri adalah kisah perjalanan Engku Puteri Raja Hamidah, Permaisuri Sultan Mahmud Riayatsyah, dan rombongan dari Negeri Riau Pulau Penyengat ke Daik-Lingga.

Semuanya bermula setelah beliau mendapat kabar melalui sepucuk surat Sultan Abdulrahman yang dibawa oleh seorang biduanda (orang suruhan raja) pada 14 Ramadhan 1246 H bersamaan 26 Februari 1831 CE, yang isinya menyebutkan bahwa adindanya, Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda Riau (1808-1832) gering (sakit keras) di Daik-Lingga:

Adapun perkataannya di dalam surat/ Paduka ayahanda sangat darurat/

Geringnya adinda sangatlah berat/ Hampir gerangan jadi mudharat.

Rombongan Engku Puteri Raja Hamidah bertolak dari Negeri Riau, Pulau Penyengat, ke Daik-Lingga menggunakan perahu pada 16 Ra- madhan 1426 H bersamaan dengan 28 Februari 1831 CE. Selain sebuah perahu kenaikan Engku Puteri, dalam rombon- gan itu turut serta sebuah perahu lain kenaikan Engku Raja Lebar, istri Yang Dipertuan Muda Raja Jakfar.

Tokoh-tokoh penting yang turut serta dalam rombongan itu antara lain, Engku Haji Ahmad sang pengarang syair yang juga merupakan saudara Engku Puteri, Tengku Mahmud, Raja Husin, dan Haji Daud.

Di Daik-Lingga, Yang Dipertuan Muda Raja Jakfar diobati oleh seorang tabib benama Encik Abbas. Setelah sembuh penyakitnya, Engku Puteri Raja Hamidah membuat kenduriuntuk membayar nazar sempena kesebuhan adindanya itu.

Setlah itu, Engku Puteri dan rombongan kembali ke Negeri Riau, dan sampai di Pulau Penyengat pada pukul 3 petang tanggal 4 bulan Haji 1246 H bersamaan dengan 16 Mei 1831 CE.

Kesudahan kisah dalam syair ini ditutup dengan bait-bait perjalanan pulang Engku Puteri yang selamat sampat di Pulau Penyengat setelah berlindung dari terpaan angin dan badai di Sembulang dan Pulau Basing. Bait-bait penutup syair ini adalah sebagai berikut:

Angin pun teduh hujan berhenti/ Bertolak dari Basing raja yang sakti/ Kenaikan berdayung tidak berhenti/ Perahu pun sampai kakanda mesti.

Kenaikan masuk ke kandang batu/ Haluan menuju ke kota batu/ Dipan- dang oleh paduka ratu/ Kakanda berdiri menanti di situ.

Dalam terpandang oleh baginda/ Kepada pihak wajah kakanda/

Selamat sempurna demikian ada/ Hilanglah  masyghul  di  dalam dada.

Baginda pun berangkat naik segera/ Mendapatkan kakanda seraya bercet- era/ Bersama berangkat dua saudara/ Diiringkan dayang teruna dan dara.

Berangkat baginda raja yang ghana/ Diiringkan dayang2 hina dina/ Lalulah masuk ke dalam istana/ Lepas daripada bala selamat sempurna.

Terlalu suka Engku Puteri/ Olehnya bertemu saudara sendiri/ Bersenang berhenti anamnya hari/ Kemudiannya berjamu memberi kenduri.

Tamatlah syair kisah Engku Puteri/ Dikarangkan Engku Haji beberapa hari/ Berangkat ke Lingga meninggal- kan negeri/ Selamat kembali ke negeri sendiri.***

Artikel SebelumTeknik Memakai Kain Samping (Songket) Melayu
Artikel BerikutInilah Syair Seligi Tajam Bertimbal
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here