Metafora dalam Pantun

0
312 views

PANTUN Melayu adalah sebuah mikrokosmos atau bagian kecil dari suatu pola komunikasi manusia yang khas dari bangsa Melayu dimana dua baris pertama merupakan sebuah bentuk yang puitik dan dua baris kedua merupakan percakapan aktual (Asmah dalam Sew; 2007, Setyadiharja; 2018).

Pantun juga merupakan suatu pola komunikasi dalam kebudayaan di mana pantun sejatinya merupakan sebuah tradisi lisan yang berpola pada kategori komunikasi konteks tinggi, karena di dalam pantun sesungguhnya menyimpan suatu makna yang tersimbolik yang ingin disampaikan dengan pesan yang implisit dan bukan secara eksplisit (Hall dalam Seryadiharja, 2018).

Oleh karena itu, di dalam pantun sesungguhnya bangsa Melayu menuangkan pola pemikirannya lewat metafora-metafora tertentu sebagai sebuah ungkapan yang hendak disampaikan kepada lawan komunikasinya.

Za’ba (Ahmad, 2017) menjelaskan bahwa metafora dalam pola komunikasi bangsa Melayu diumpamakan atau dikiaskan kepada satu perkara lain yang memiliki makna yang bukan makna sebenarnya.

Berkaca dari pendapat itu, metafora merupakan suatu pola bahasa kias, peribahasa, sindiran, perumpamaan yang kualitas metafora itu ditentukan dari perkembangan bahasa di lingkungan yang menciptakannya (Za’ba dalam Ahmad, 2017).

Jadi orang Melayu dalam pola komunikasinya yang tergolong high context communication menggunakan metafora sebagai bagian dari pola komunikasinya yang kemudian tertuang salah satunya lewat pantun.

Di dalam pantun, orang Melayu selalu menggunakan metafora sebagai representasi pemikiran dan kesopanan serta kesantunan dalam berkomunikasi. Hal itu karena pantun digunakan memang sebagai suatu pola bahasa yang dimaksudkan untuk memberikan arah, petunjuk, tuntunan dan bimbingan (UU. Hamidy dalam Suseno; 2006, Setyadiharja, 2018).

Sehingga dalam menjalankan maksud tersebut, maka bahasa di dalam pantun disusun bukan dengan menggunakan pola bahasa yang tidak bermakna, namun haruslah memiliki nilai, norma dan etika sehingga ketika orang mendengarkan pantun itu, dapat memahami dan meresapi nilai, norma dan etika yang ingin disampaikan oleh bangsa yang melantunkan pantun tersebut.

Pantun yang disusun dengan metafora yang baik akan menjadi pantun yang bernilai tinggi dibanding pantun yang hanya bernilai generik yang tak dapat memberikan faedah sama sekali.

Metafora atau perumpamaan di dalam pantun bukanlah bermaksud selalu terdapat hubungan semantik antara sampiran dan isi pantun yang kemudian mengartikan bahwa sampiran pantun selalu memiliki hubungan dengan isi pantun.

Bukan bermakna bahwa ketika pada isi pantun berisikan metafora, lalu berhubungan dengan sampiran pantun. Namun lebih dapat dikatakan bahwa metafora di dalam sampiran pantun dapat mencitrakan isi pantun. Akan tetapi tidak selalu berlaku mutlak demikian. Metafora di dalam pantun dapat juga berdiri sendiri, baik di dalam sampiran dan di dalam isinya. (Ahmad, 2017).

Ahmad (2017) menjelaskan bahwa metafora di dalam pantun berbentuk menjadi empat yaitu (1) bersifat berdiri sendiri atau boleh disebut dengan harfiah-metaforik yang berada pada salah satu bagian pantun baik pada sampiran pantun atau isi pantun, (2) bersifat hubungan semantik antara sampiran dan isi pantun, (3) bersifat hubungan kosmologi, dan (4) bersifat fantastik.

Berikut akan dicontohkan beberapa metafora yang berlaku di dalam pantun. Pertama, metafora yang hanya berlaku pada salah satu bagian pantun baik isi pantun saja yang tak berhubungan dengan sampirannya atau pada sampiran saja yang tak berhubungan dengan isinya. Atau dapat dikatakan berdiri sendiri, baik itu bersifat harfiah-metaforik atau sebaliknya metaforik-harfiah. Perhatikan pantun berikut.

Elok warna berhias merah 
Kain songket di pakai puteri 
Jangan suka bersilat lidah 
Kelak terbelit aib sendiri

Meminjam analisa dari Ahmad (2017), jika pantun berbentuk demikian, maka pada sampiran merupakan ungkapan harfiah bukan ungkapan metafora, namun pada isi pantun memiliki ungkapan metafora, yang jika pantun di atas dianalisis maka metafora di dalam pantun terdapat pada isi pantun yang kemudian memiliki hubungan sebab akibat antara isi pada baris ke-3 dan isi pada baris ke-4.

Metafora itu berlaku pada kalimat “bersilat lidah” yaitu suatu perumpamaan orang yang suka memainkan perkataannya dengan berbagai macam dalih, tipu helah, elakan dan sebagainya.

Kalimat ini kemudian secara hubungan metafora dapat menyebabkan “terbelit aib sendiri” yang maknanya ialah jika salah orang memainkan perkataannya dengan segala tipu helah, dalih dan elakan maka salah-salah suatu saat aibnya yang akan terbongkar pada lawan komunikasinya.

Kedua, metafora yang memiliki hubungan semantik antara sampiran dan isi pantun. Perhatikan contoh pantun berikut

Apa tanda batang tebu 
Batang tebu halus uratnya 
Apalah tanda orang berilmu 
Orang berilmu halus budinya
(sumber pantun: Harun Mat Piah dalam Ahmad, 2017).

Ahmad (2017) menganalisis metafora di dalam pantun di atas. Maka menurut Ahmad (2017) metafora berlaku atau terjadi di dalam hubungan semantik antara sampiran dan isi pantun.

Metafora terdapat pada kalimat “halus uratnya”, yang kemudian metafora ini mencitrakan samanya sifat “batang tebu” yang “halus uratnya” (pada sampiran pantun) dengan makna sifat “orang berilmu” yang “halus budinya” (pada isi pantun) (Ahmad, 2017).

Itu artinya di dalam pantun tersebut metafora pada sampiran pantun memiliki hubungan semantik dengan isi pantun.

Ketiga, metafora yang bersifat hubungan kosmologis atau hubungan alam semesta atau hubungan alam yang kemudian tertuang menjadi hubungan erat antara sampiran dan isi pantun. Perhatikan contoh pantun berikut.

Hujan mengutuk berderas sudah 
Langit marah petir mengata
ombak mengamuk pantai pun alah 
alamat tanah bersimbah bencana

Perhatikan pantun di atas, metafora antara sampiran dan isi pantun hubungan antara dua citraan yang bersifat kosmologi yaitu hubungan yang terjadi pada alam semesta.

Pada sampiran pantun tampak menggambarkan suatu makna sebuah kondisi kosmologi yang sedang hujan dan badai disertai petir yang maha dahsyat dengan metafora “Hujan Mengutuk” yang bermakna bahwa hujan yang terjadi sangat hebat dan dahsyat, dan metafora “Langit Marah, Petir Mengata” yang memiliki makna terjadi suasana kosmologi yang sedang dilanda badai disertai petir yang kuat.

Metafora ini memiliki hubungan dengan isi pantun yang juga mengambarkan suatu suasana kosmologi yaitu suasana ombak yang besar naik ke pantai yang membuat pantai rusak dan abrasi akibat ombak kuat yang disertai badai dan hujan yang lebat. Pemaknaan ini ada pada metafora “ombak mengamuk”.

Kemudian mengisyaratkan akan merusak tanah atau daratan yang berada di dekatnya akibat ombak yang dilanda badai dan hujan disertai petir menghancurkan pantai di tepian. Pemaknaan ini pada metafora “bersimbah bencana”

Keempat, metafora yang bersifat fantastik. Yaitu metafora yang berada pada salah satu bagian pantun baik itu pada sampiran pantun atau isi pantun yang kemudian menyebabkan hubungan antara sampiran dan isi yang seolah tidak tampak memiliki hubungan namun sebenarnya memiliki hubungan tak kasat makna.

Salah satu bagian dari pantun memunculkan metafora fantastik tersebut. Perhatikan pantun berikut yang dicontohkan Ahmad (2017).

Anak beruk dimakan siput 
Disambar oleh buaya katak
Laksana lambuk di tengah laut
Tengah timbul dilambung ombak

Menurut analisis yang dilakukan Ahmad (2017) dalam bukunya Metafora Melayu menjelaskan bahwa pantun yang dicontohkan tersebut bersifat fantastik. Hubungan antara sampiran dan isinya tidak jelas.

Metafora fantastik itu sebagaimana penjelasan Ahmad (2017) berada di isi baris ke-3 yaitu pada kalimat “laksana lambut di tengah laut”. Fantasi atau sesuatu imajinasi yang terjadi pada kalimat ini adalah pengandaian hidup tanpa arah atau tanpa tujuan.

Maka hidupnya diimajinasikan sama halnya dengan “lambuk dilambung ombak” (makna metafora), yang tanpa tujuan akan terombang ambing kemana arah ombak menuju. Kemudian metafora ini juga diandaikan sama dengan nasib seekor “anak beruk (orang utan) yang kehilangan induknya”, yang kemudian bernasib malang. Kedua hubungan semantik antara sampiran dan isi pantun masih berupa fantasi atau perumpamaan imajinatif.

Inilah kekayaan pemikiran bangsa yang menjadikan pantun sebagai bagian dari komunikasinya.

Dengan beberapa penjelasan di atas, jelas sudah bahwa pantun bukan hanya sekedar susunan kata-kata tanpa sebuah keindahan makna.

Dengan metafora-metafora yang digunakan di dalam pantun dengan jenis masing-masing metafora, tampak bahwa bangsa yang menjadikan pantun bagian dari komunikasinya ingin menyampaikan sebuah maksud dengan sangat sopan dan santun, penuh etika yang kemudian disampaikan dengan perumpamaan, sindiran, peribahasa atau imanijasi yang penuh estetik.***

Tinggalkan Balasan