Pantun dan Nyanyian

Rendra Setyadiharja

0
195 views

PANTUN yang selama ini dikenal di kalangan masyarakat Melayu dan masyarakat nusantara, ternyata bukan saja sebagai sebuah kekayaan komunikasi suku bangsa yang menyusun pantun, yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah karya sastra yang ditulis.

Namun pantun juga merupakan sebuah media hiburan yang kemudian dapat juga kita jumpai di dalam nyanyian Melayu atau lagu-lagu Melayu.

Salah satu yang paling terkenal, di mana pantun disenandungkan menjadi sebuah lagu adalah pada tradisi Dondang Sayang di Melaka Malaysia. Dondang Sayang pada awalnya sebagaimana dijelaskan oleh Dahlan (2014) dalam bukunya Sejarah Melayu merupakan pola komunikasi bangsa Cina yang ada di Melaka, sejarah menjelaskan bahwa bangsa Cina ini berasal dari keturunan Puteri Hang Li Po yang dinikahi oleh Sultan Mansyur Shah.

Puteri Hang Li Po pada masa kurun tahun 1458 membawa 500 rombongan orang Cina. Kemudian dengan adanya orang Cina atau dengan kata lain disebut dengan “China-Baba” atau “Melayu-Baba” ini, pola komunikasi antara orang Cina dengan Melayu selalu menggunakan Bahasa Melayu, dan mereka melahirkan sebuah kesenian Melayu disebut dengan Dondang Sayang yang hingga saat ini dikenal sebagai sebuah seni pertunjukan di Melaka Malaysia.

Menurut Dollah dan Kob (2015) menjelaskan bahwa Dondang Sayang adalah acara berbalas pantun yang diucapkan dalam bentuk berlagu atau berdendang dengan iringan musik.

Dondang sayang boleh juga dikatakan persembangan lagu dan musik yang didendangkan itu boleh mengikut rentak inang, joget atau lagu Melayu lainnya, kemudian alat musik yang mengiringi Dondang Sayang adalah biola, rebana, gong, dan harmonium (Dollah dan Kob, 2015).

Menurut Pijnapel (Borhan, 2001) menjelaskan bahwa pantun Dondang Sayang merupakan ibu pantun manakala pantun cinta pula merupakan pusat pantun, pantun-pantun yang dilagukan atau didendangkan dengan asyik sesuai dengan fitrah Melayu, maka pantun Dondang Sayang digambarkan dengan pantun berikut oleh Pijnapel (Borhan, 2001):

Dondang sayang ibunya lagu
Lagu terkarang zaman dahulu
Dondang sayang lagu Melayu 
Bila terkenang bertambah pilu

Matrusky, Ann dan Beng (2014) menjelaskan bahwa Dondang Sayang bermakna “Lagu Cinta”, dalam pertunjukan Dondang Sayang, seorang penyanyi atau biduan menyanyikan sebuah pantun dalam empat baris, kemudian penyanyi atau biduan lainnya menjawab pantun yang telah “dijual” oleh penyanyi tersebut dengan pantun yang terdiri dari empat baris juga.

Alat musik yang biasa mengiringi Dondang Sayang adalah biola, dua rebana dan disaat ini biasanya ditambah dengan harmonium atau akordion, gitar dan tamborin (Matrusky, Ann dan Beng, 2004). Dollah dan Kob (2015) menjelaskan bahwa Dondang Sayang dimainkan harus dengan dua orang pemantun atau pendendang. Pemantun pertama akan mengemukankan pantun yang disebut dengan Menjual Pantun, kemudian pemantun kedua akan Membeli Pantun.

Dalam proses menjual dan membeli pantun, maka pemantun atau pendendang akan diringi lagu Melayu dengan irama joget atau inang. Berikut salah satu contoh pantun yang dicatat dalam penelitian Dollah dan Kob (2015):

Ikan sepat dalam pergi 2x 
Lipat kajang berulang mandi 2x 
Kalau bukan tempat menanam 
padi….dondang sayang 
Habis baja benih tak jadi

Jika kita melihat pantun di atas, maka ada baris pantun yang diulang dua kali, hal itu dilakukan karena mengikuti irama lagu yang mengiringi Dondang Sayang. Pantun-pantun yang disajikan dalam petunjukan Dondang Sayang adalah pantun adalah pantun kasih sayang, kiasan, budi, jenaka, serta tentang alam seperti bunga, laut, dan juga buah-buahan (Dollah dan Kob, 2015).

Dondang Sayang khususnya di Melaka Malaysia menurut Dollah dan Kob, 2015) memang tidak penah terlepas dari pengaruh Cina Baba, berdasarkan sejarah yang dijelaskan di atas. Bahasa Melayu yang digunakan juga adalah khas dialeg Cina Baba.

Lirik lagu “Dondang Sayang” yang berisikan pantun ini kemudian dijelaskan dengan lengkap oleh Suseno, Amiruddin, Habd (2006) sebagai berikut.

Keris sakti tetap ku junjung 
Untuk berjuang membela negeri 
Niat di hati memikat burung 
Burung terbang menghilang diri

Orang Arab pulang ke Arab 
Kasut dipakai berderap-derap 
Burung terbang jangan di harap 
Kalau tak pakai getah seterap

Datuk panglima bermain pedang 
Pedangnya panjang sangkut di pinggang 
Sampai kemana burung nak terbang 
Ku tunggu-tunggu diakan pulang

Berdesak-desak di burung singkap 
Menyambar belibis di sawah padi 
Burung yang liar jangan ditangkap
Getah kan habis harap di hati

Lirik lagu Dondang Sayang di atas, dapat kita lihat merupakan bait-bait pantun yang memang secara kualitas pantun, bukan merupakan pantun dengan kategori sempurna.

Namun beberapa rumus dan kaidah pantun di dalam bait-bait pantun yang kemudian menjadi lirik lagu Dondang Sayang tersebut sudah dapat dikategorikan pantun karena memiliki empat baris kalimat, setiap baris terdiri dari empat sampai lima kata, dan setiap suku kata pada setiap baris terdiri dari delapan sampai dua belas suku kata.

Namun dalam sisi bersajakan ada yang menggunakan persajakan sempurna yang menggunakan persajakan A,B,A,B yaitu pantun bait terakhir dari pantun yang menjadi lirik yang dituliskan oleh Suseno, Amiruddin, Habd (2006) sementara pantun bait pertama hingga ketiga pantun di atas dianggap tidak sempurna dengan persajakan yang sempurna karena menggunakan persajakan A,A,A,A.

Dalam nyanyian Melayu atau Lagu Melayu berjudul Zapin Kasih dan Budi yang dipopulerkan oleh Allahyarham S.M Salim juga merupakan sebuah lagi dimana lirik-liriknya terdiri dari pantun-pantun. Dimana lirik tersebut berbunyi sebagai berikut.

Kalau menebang si pohon jati
Papan di Jawa di belah-belah 
Kalau hidup tidak berbudi 
Umpama pokok tidak berbuah

Bunga selasih si bunga padi 
Tumbuhlah mekar di dalam taman 
Pertama kasih kedua budi
Yang mana satu nak diturutkan

Tenanglah tenang air di laut 
Hai sampai kolek mudik ke tanjung 
Hati terkenang mulut menyebut 
Budi yang baik saya nak junjung

Bungalah padi bunga kiambang 
Buat hiasan di taman bunga 
Buahlah hati kekasih orang 
Hamba menumpang gembira saja

Berdasar lagu Zapin Kasih dan Budi di atas, tampak jelas bahwa pantun-pantun yang digunakan di dalam lirik lagu ini merupakan pantun dengan kaidah yang boleh dinilai terbilang sempurna, meski tidak semua bait pantun terlihat sempurna, namun terdapat pantun dengan kaidah yang sudah memenuhi aturannya. Sebagaimana salah satu bait pantun di dalam lagu ini yang dianggap sempurna yaitu pantun berikut.

Tenanglah tenang air di laut : 3/2/2/3=10
Hai sampan kolek mudik ke tanjung : 3/2/2/3=10
Hati terkenang mulut menyebut : 2/3/2/3=10
Budi yang baik saya nak junjung : 2/3/2/3=10

Pantun ini sudah dapat dinilai sempurna karena telah memenuhi beberapa kaidah pantun yaitu terdiri dari empat sampai lima kata pada tiap barisnya, kemudian pada setiap baris pantun terdiri dari paling banyak 10 kata.

Dari sisi persajakan pantun ini menggunakan persajakan sempurna yaitu A,B,A,B. Selanjutnya perhatikan kata “tenang” sama persajakannya dengan kata “terkenang”, kata “laut” sama persajakannya dengan kata “menyebut”, kata “kolek” sama persajakannya dengan “baik”.

Persajakan ini tidak hanya sama di kata akhir, namun juga pada pada persajakan tengah pantun. Kemudian pada kata “Laut” dan kata “Menyebut” kemudian pada kata “tanjung” dan kata “junjung”. Persajakan ini sebagaimana pendapat Suseno (2006) adalah persajakan dengan jenis persajakan penuh dan dianggap persajakan yang paling baik di dalam sebuah pantun.

Dari kesemua itu artinya adalah bahwa pantun, juga dapat digunakan di dalam sebuah nyanyian Melayu yang kemudian menjadi media hiburan lebih luas. Dengan syarat bahwa, pantun yang dijadikan lirik lagu haruslah tetap pada kaidah penyusunan pantunnya, sehingga pantun tidak kehilangan filosofisnya.

Lagu yang sama pun seperti Dondang Sayang serta lagu Zapin Kasih dan Budi, masih dapat diganti liriknya dengan pantun yang berbeda. Dengan syarat pantun yang disusun menjadi lirik harus tetap sesuai kaidah dan rumus pantunnya serta tentunya pantun yang disusun sesuai pada ketukan irama atau nada lagu tersebut.

Di Provinsi Kepulauan Riau, berdasarkan penelusuran penulis, terdapat juga lagu yang dimainkan dengan pantun-pantun, bukan saja pantun dengan lirik asli namun juga diubah suai namun tetap pada kaidah pantun dan sesuai nada dan irama lagu.

Hal ini disebut dengan Dendang Pantun yaitu sebuah tradisi berbalas pantun diucapkan dalam sebuah lagu dengan irama Melayu. Adapun lagu yang digunakan dalam Dendang Pantun adalah Pak Ngah Balik, Ala Emak Kawinkan Aku, dan lagu Pucuk Pisang.

Di Gorontalo sendiri seni pertunjukkan berbalas pantun seperti, berdasarkan penelusuran penulis ini disebut dengan Paiyo Hungi Ilo Poli, dimana terdapat berbalas pantun dengan bahasa Gorontalo kemudian didendangkan dengan lagu atau irama khas Gorontalo. Selamat mencoba menyanyikan pantun di dalam sebuah lagu.***

Tinggalkan Balasan