Jembatan Engku Putri Raja Hamidah di Sungai Carang, Foto: Adi Pranadipa

SUNGAI CARANG dan Pulau Penyengat Indera Sakti (kedua-duanya di wilayah administratif Kota Tanjungpinang, di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau sekarang) menjadi saksi hidup perjuangan dan pengorbanan para syuhada yang kecintaannya terhadap bangsa dan negaranya tiada bertolok banding. Kedua tempat itu, antara lain, telah dengan sangat setia merekamkan pahit-maung perjuangan dan keteguhan hati seorang perempuan sejati, yang lebih memilih hidup untuk berbakti kepada bangsa dan negeri timbang memuaskan diri sekadar memenuhi kepentingan pribadi. Baginda adalah Engku Puteri Raja Hamidah putri Raja Haji Fisabilillah (dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada 1998) dan permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah (dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada 2017). Belum tahukah siapa mereka?

Sebelum menjadi pusat pemerintahan kesultanan, Pulau Penyengat merupakan benteng pertahanan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kala itu pusat pemerintahan salah satu kesultanan penting di Selat Melaka tersebut berada di Sungai Carang, Hulu Riau, Pulau Bintan.

Pulau Penyengat mulai dijadikan tempat tinggal penduduk pada 1805. Sebelum itu, pada 1803 Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812), sultan yang berkuasa kala itu, melamar dan selanjutnya menikah dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji Fisabilillah, ayahanda Raja Hamidah, adalah Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777—1784), yang gugur di medan perang di Teluk Ketapang, Melaka pada 18 Juni 1784.

Maskawin atau mahar pernikahan antara Sultan Mahmud Riayat Syah dan Engku Puteri Raja Hamidah tiada lain adalah sebuah pulau. Itulah Pulau Penyengat, Pulau Maskawin. Dengan demikian, Pulau Penyengat menjadi satu-satunya pulau di dunia yang pernah dijadikan maskawin (mahar) pernikahan. Sejak itu, secara adat dan hukum yang berlaku pada masa itu, Pulau Penyengat menjadi milik sah Engku Puteri Raja Hamidah.

Bersamaan dengan dijadikannya maskawin pernikahan untuk istrinya, Sultan Mahmud Riayat Syah memerintahkan pembangunan Pulau Penyengat. Pembangunan itu berlangsung lebih kurang dua tahun dan selesai pada 1805. Infrastruktur yang dibangun meliputi istana, perkantoran, taman-taman, masjid, jalan, dan lain-lain sehingga pulau yang sebelumnya tak berpenghuni itu berubah sama-sekali menjadi sebuah bandar (kota) baru. Setelah dibangun, Pulau Penyengat disebut juga Penyengat Bandar Riau.

Setelah pembangunan Pulau Penyengat selesai, Engku Puteri Raja Hamidah pun pindah ke Penyengat Bandar Riau. Sebelum itu, Engku Puteri tinggal bersama saudaranya Raja Jaafar ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga (1805—1832) di Kota Piring, Pulau Biram Dewa, Hulu Riau (juga di wilayah administratif Kota Tanjungpinang sekarang). Sebaliknya, Sultan Mahmud Riayat Syah sejak 1787 telah berpindah ke Daik, Pulau Lingga, yang sejak itu telah dijadikan tempat kedudukan Baginda sebagai Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Bersamaan dengan kepindahan Engku Puteri Raja Hamidah, Sultan Mahmud Riayat Syah menganjurkan Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga Raja Jaafar untuk memindahkan juga pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda ke Penyengat Bandar Riau. Sesuai dengan kesepakatan bersama sultan, pada 1805 Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar pun memindahkan pula pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat dan bandar baru itu menjadi tempat kedudukan resmi beliau sebagai Yang Dipertuan Muda. Sejak itu, pulau tersebut dikenal juga dengan nama Pulau Penyengat Indera Sakti.

Lebih kurang 95 tahun Pulau Penyengat Indera Sakti telah menjadi pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda. Selanjutnya, pada 1900 Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah II, sultan yang berkuasa kala itu, memindahkan pula pusat pemerintahan dan kedudukan resmi Baginda sebagai Sultan atau Yang Dipertuan Besar ke Pulau Penyengat Indera Sakti dari kedudukan semula di Bandar Daik, Pulau Lingga (di wilayah administratif Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau sekarang).

Pemindahan itu menyebabkan pusat pemerintahan Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga dipersatukan tempatnya, yakni di Pulau Penyengat Indera Sakti.

Dengan pemindahan pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda (sejak 1805) dan Yang Dipertuan Besar (sejak 1900) ke sana, Pulau Penyengat mencatatkan dirinya sebagai pulau terkecil di dunia  (luasnya hanya lebih kurang 1,7 km persegi) yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar. Betapa tidak? Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang merupakan sebuah Kesultanan Melayu yang cukup besar. Wilayahnya meliputi sebagian Indonesia (Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Riau, dan Provinsi Jambi), sebagian Malaysia (Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang), dan Singapura sekarang.

Menjadi Pulau Maskawin satu-satunya di dunia merupakan keistmewaan Pulau Penyengat yang tiada bandingannya. Kenyataannya pernah menjadi ibukota negara besar, padahal ukuran pulaunya tegolong mini menjadikan Pulau Penyengat Indera Sakti lebih istimewa lagi. Lebih daripada itu, manusia yang mendiaminyalah yang membuat Pulau Penyengat menjadi lebih sakti lagi sehingga dikagumi oleh sesiapa pun yang mengetahui masa lalunya yang cemerlang dan gemilang.

Pulau Penyengat Indera Sakti juga diharumkan oleh seorang yang sangat setia berperan sebagai penjaga sekaligus pembela adat-istiadat, tamadun, sekaligus marwah bangsa Melayu. Beliau tiada lain adalah Engku Puteri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah. Beliau sejatinya Putri Sungai Carang yang masyhur di Penyengat.

Setelah menikah dengan Sultan Mahmud Riayat Syah, Engku Puteri diamanahkan oleh suaminya untuk menjaga regalia Kesultanan. Regalia adalah seperangkat alat kebesaran kesultanan yang digunakan, antara lain, untuk kelengkapan penabalan (pelantikan) Sultan Riau-Lingga-Lingga-Johor-Pahang. Tanpa regalia, pengangkatan seseorang sultan menjadi tak sah menurut hukum dan adat-istiadat Melayu.

Secara umum, regalia merupakan simbol kebesaran adat-istiadat dan tamadun (peradaban) Melayu. Oleh sebab itu, jika ada pihak lain yang menganggap bahwa mereka telah menguasai Kesultanan Melayu, orang Melayu tak pernah mengakuinya selama regalia tak berhasil mereka peroleh dengan cara yang terhormat. Dengan demikian, menjaga regalia bermakna juga menjaga kehormatan dan marwah Melayu.

Begitulah peran penting dan sakralnya regalia Kesultanan bagi orang Melayu. Dengan demikian, regalia haruslah berada di bawah penjagaan seseorang yang tangguh secara psikologis, kultural,  dan religius sekaligus. Dia mestilah orang yang sangat setia menjaga adat-istiadat dan marwah bangsanya. Orang itu tiada lain adalah Engku Puteri Raja Hamidah, seorang perempuan yang rela menderita, bahkan mati, untuk mempertahankan adat-istiadat dan tamadun warisan nenek moyangnya.

Tak pernah ada ketangguhan tanpa ujian untuk pembuktiannya. Sampai waktu dan ketikanya, ujian itu pun dikenakan kepada Engku Puteri Raja Hamidah dan keluarga besar Baginda.

Pada 12 Januari 1812 Sultan Mahmud Riayat Syah, suami Engku Puteri, mangkat di Daik, Lingga. Menurut wasiat Sultan kepada Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar, Tengku Abdul Rahman, putra kedua Baginda Sultan, yang harus dilantik untuk menggantikan sultan yang telah mangkat. Akan tetapi, Engku Puteri tak mendengarkan secara langsung wasiat itu dari suaminya sehingga beliau berkeberatan Tengku Abdul Rahman dilantik menjadi sultan. Karena apa?

Menurut adat-istiadat Melayu, putra tertua-lah yang harus menggantikan ayahandanya sebagai sultan. Dalam hal ini, seyogianya Tengku Husin, kakanda Tengku Abdul Rahman, yang harus menggantikan ayahanda mereka karena beliau putra sulung. Alhasil, karena Raja Jaafar dan para pembesar istana lebih cenderung melaksanakan wasiat sultan, Tengku Abdul Rahman yang ditabalkan menjadi sultan untuk menggantikan ayahandanya. Karena tak sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku selama ini, Engku Puteri enggan menyerahkan regalia sebagai kelengkapan pelantikan Sultan Abdul Rahman Syah I sehingga penabalan itu mengalami cacat secara adat.

Tujuh tahun berikutnya, Januari 1819, Tengku Husin dilantik pula oleh Thomas Stanford Raffles menjadi Sultan Singapura. Kala itu Singapura merupakan wilayah ketemenggungan di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Seyogianya, Singapura tak berhak melantik seorang sultan. Jelaslah bahwa pelantikan Sultan Husin Syah, kakanda Sultan Abdul Rahman Syah I, itu merupakan upaya Raffles untuk memecah-belah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, yang belum lama ditinggalkan oleh pemimpin besarnya yang tak pernah mampu disentuh oleh kuasa asing, baik Belanda maupun Inggris.

Pihak Singapura yang disokong oleh Inggris pada 1821 berusaha mendapatkan regalia dari Engku Puteri agar keberadaan Tengku Husin sebagai Sultan Singapura menjadi sah. Caranya tergolong sangat keji, yakni melalui permainan rasuah dengan berupaya menyogok Engku Puteri Raja Hamidah dengan 30.000 ringgit Spanyol. Akibatnya, Engku Puteri sangat tersinggung dan beliau marah besar, terutama kepada Engku Long (sapaan akrab Sultan Husin Syah).

Upaya Singapura itu gagal total sehingga keberadaan Sultan Singapura tak pernah mendapatkan legitimasi dari Kesultanan Melayu alias tak sah menurut adat-istiadat dan hukum bangsa Melayu.

Selanjutnya, pada November 1822, setelah lebih kurang 10 tahun memerintah, Sultan Abdul Rahman Syah I yang didukung oleh Belanda akan dilantik juga dengan kelengkapan dan keabsahan adat-istiadat Melayu. Tentulah harus dengan kelengkapan regalia. Karena Engku Puteri masih bertahan tak mau menyerahkan regalia, tentara Belanda mengepung istana Baginda di Pulau Penyengat.

Setelah memasuki istana dan bertemu Engku Puteri, tentara Belanda menodongkan senjata ke arah permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah itu seraya berupaya merebut regalia dari tangan perempuan yang berhati baja itu.

Putri Raja Haji Fisabilillah yang setia itu tak pernah gentar ditodong dengan senjata jenis apa pun. Pahit-maung perjuangan yang telah dialami beliau bersama ayahanda dan suami Baginda telah membuat Engku Puteri tak mudah digertak oleh sesiapa pun di dunia ini. Bahkan, jangankan ditodong, jika benar-benar ditembak pun, Baginda rela.

Padahal, kalau hendak hidup nyaman, Baginda tinggal membuat pilihan: hendak berpihak ke anaknya yang mana, Sultan Husin Syah dan Inggris atau Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I dan Belanda. Akan tetapi, Engku Puteri bukanlah tipe perempuan dan pemimpin oportunistis murahan seperti itu.

Karena regalia akan direbut secara paksa dari penjagaannya, dengan tatapan mata penuh wibawa, Baginda berujar lantang kepada penceroboh di hadapannya:

“Regalia ini tak boleh kalian rampas dari orang yang telah menjaganya sepanjang hayat dengan segenap jiwa dan raganya dalam kecintaan yang tiada bertolok bandingnya. Karena kalian berupaya mengambilnya secara paksa dari tangan beta, setelah beta hempaskan ke tanah, benda itu tak memiliki tuah dan makna apa pun lagi menurut adat-istiadat kami, kecuali hanya lempengan emas yang sama-sekali tak berguna bagi kami. Kalian tak akan pernah mampu menjaga regalia itu sebagaimana kami menjaganya bagai menating minyak yang penuh. Dan, kalian pun tak akan pernah berhasil memahami apatah lagi merebut hati kami orang Melayu!”

Begitu selesai kalimat terakhirnya, dengan hati yang remuk-redam, perangkat kebesaran Kesultanan dan adat-istiadat Melayu itu direjamkan (dihempaskan)-nya ke tanah dari tingkap (jendela) istana Baginda. Tuah benda pusaka itu pun melayang jauh karena tak diserahkan dengan cara yang terhormat, apatah lagi tak secara takzim menurut adat-istiadat Melayu!

Pada 27 November 1822 Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I memang dilantik juga dengan menggunakan regalia. Akan tetapi, jauh di lubuk hati yang hampa, Baginda pasti menyadari bahwa benda itu kini hanya tinggal lempengan emas biasa, seperti diungkapkan oleh ibunda Baginda, yang tak lagi memiliki tuah yang mampu mengangkat marwah bangsa Melayu.

Kesetiaan Engku Puteri Raja Hamidah terhadap nilai-nilai warisan nenek-moyangnya memungkinkan adat-istiadat dan tamadun Melayu masih bertahan di wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang sampai sekarang. Nilai-nilai perjuangan dan ketauladanan pemilik sah Pulau Penyengat itu memang sulit dicari tolok bandingnya. Kesan kewibawaannya masih sangat kuat sampai setakat ini. Keanggunannya masih sangat terasa bagi sesiapa pun yang sempat berziarah ke makam Baginda di Komplek Pemakaman Diraja Melayu, Pulau Penyengat Indera Sakti.

Itulah cuplikan sekilas dari kisah panjang tentang bakti dan suri tauladan dari seorang Putri Sungai Carang, yang masyhur di Pulau Penyengat Indera Sakti. Seorang yang bukan perempuan biasa, melainkan putri tersayang Yang Dipertuan Muda Melayu yang gagah perkasa dan permaisuri tercinta dari Sultan Melayu yang tak hanya keberaniannya tak bertolok banding, tetapi juga sangat bijaksana dan visioner. Cahaya cemerlangnya tak akan pernah padam selagi Melayu tak hilang di bumi. Oleh sebab itu, jangan pernah mencemari nama Engku Puteri Raja Hamidah dengan perbuatan dan perilaku yang tak bertamadun dan tercela. Jika perkara terlarang itu dilakukan, yakinlah, padah yang teramat buruk akan menimpa pelakunya, siapa pun dia!***

Tinggalkan Balasan