Khazanah manuskrip Melayu adalah saujana yang kaya dengan berbagai Ilmu Tradisional Melayu. Kitab tib yang berisikan formula pengobatan tradisional Melayu adalah salah satu diantaranya.

Manuskrip Kitab Tib yang akan diperkenalkan dalam Kutubkhanah ini ditulis pada 82 halaman muka surat dengan ukuran 21 x 17 cm yang dijilid dengan cara dijahit menggunakan benang. Isi manuskrip ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan beragam cap air (water marks) bertuliskan:  G HIEBER & Co; SINGAPORE; FRATELI KRANZ GRAZ, dan cap air berupa gambar ‘rusa bertanduk’ serta ‘pemandangan dengan pohon kelapa’.

            Seperti kebanyakan manuskrip Melayu sejenis, manuskrip ini tidak mempunyai judul. Juga tidak ada baris  kolofon yang menjelaskan siapa penyalin atau penulisnya. Begitu pula nama tempat penyalinan atau penulisannya.

Tarikh penulisan atau penyalinannya juga tidak dinyatakan. Namun dari beberapa cap air yang tercantum pada lembaran kertas yang digunakan, dapat diperkirakan manuskitab tib ini ditulis antara tahun 1889 hingga awal 1890-an

Manuskrip ini tidak mempunyai kulit kitab. Namun secara keseluruhan kondisinya masih baik, dan tulisannya yang menggunakan tinta hitam serta sedikit pensil masih jelas terbaca. Isi naskah ditulis menggunakan bahasa Melayu dengan beberapa bagian berisikan petikan-petikan ayat al-Qur’an.

Diperkirakan, kitab ini adalah salinan dari sebuah kitab tib yang lain, atau atau salinan yang dibuat atas pengetahuan lisan seorang bomoh atau dukun yang mengamalkan ilmu pengobatan tradisional Melayu.

Tampaknya, proses penyalinan manuskrip ini dilakukan  pada waktu yang berbeda dan oleh tangan yang berbeda pula. Indikasi ini terlihat dengan adanya perbedaan gaya tulisan pada 14 halaman terakhir naskah ini.

‘Noda’ hitam yang cukup tebal, yang terdapat pada sudut bagian bawah semua halamannya menandakan manuskrip ini sering digunakan sebagai rujukan oleh pengguna atau pemiliknya. Dengan demikian, patut dipertimbangkan bahwa manuskrip ini asalnya adalah milik seorang dukun, bomoh, atau ‘orang pintar’.

Manuskrip yang diperoleh dari seorang pedagang antik di Tanjungpinang ini telah didigitalisasikan serta dicatat dalam program penyelamatan bahan-bahan arsip dan manuskrip yang terancam punah, Endangered Archives Programme, yang ditaja oleh Perpustakaan Kerajaan Inggris (British Library).

Kita Tib

            Apakah yang dimaksud dengan kitab tib? Dalam dunia khazanah manuskrip Melayu, semua manuskrip dengan kandungan isi seperti manuskrip yang diperkenalkan ini dikenal sebagai kitab tib: yakni ‘kitab obat’ atau ‘ilmu tentang obat dan pengobatan’ tradisional Melayu. Menurut R.J. Wilkinson (1959:1218), perkataan tib  asalnya adalah bahasa Arab, yang bermakna: formula dan resep magis atau medis (medical or magical prescription or formula).

Sementara itu, di lain pihak, Harun Mat Piah dalam buku hasil kajian paling mutakhir tentang kitab tib,  Kitab Tib Ilmu Perubatan Melayu (2006:22), mengatakan perkataan tib yang berasal dari bahasa Arab itu mengandungi makna: ubat, tukang ubat (tabib), surat ubat, (wasfatu’t-tabib), perubatan atau ilmu perubatan (ilmut’tabib).

Dengan cakupan makna perkatan tib yang luas itu, lebih jauh Harun Mat Piah mengatakan, bahwa dalam sebuah kitab tib Melayu kandungan isinya tidak hanya terbatas pada ilmu perubatan dan pengobatan penyakit saja. Kandungan isinya juga meliputi ilmu-ilmu lain yang mencakupi ilmu raksi bintang dan ramalan, ilmu birahi (sex), ilmu firasat orang Melayu, tabir mimpi, raksi jodoh dan lain sebagainya.

Korpus manuskrip kitab tib yang dikenal luas dalam dunia manuskrip Melayu adalah sebuah sub-genre dari genre kepustakaan Ilmu Tradisional Melayu yang mencakupi manuskrip tentang berbagai aspek ilmu seperti: tabir mimpi, tasawuf, astrologi, faraidh, ilmu hisab dan ilmu hitungan, ilmu falaq, dan lain sebagainya.

manuskrip sub-genre kitab tib seperti yang diperkenalkan dalam ruang kutubkhanah ini cukup banyak: tersebar luas dalam sejumlah perpustakaan penting penyimpan manuskrip Melayu di dunia, dan tidak sedikit pula yang masih menjadi koleksi pribadi yang dipelihara sebagai warisan keluarga.

Obat, Azimat, dan Rajah

            Secara umum, kandungan isi semua kitab tib yang dikenal dalam khazanah dunia manuskrip Melayu menjelaskan ilmu pengobatan tradisional Melayu, berbagai jenis penyakit, beserta ramuan obat, cara membuatnya, dan perawatannya.

Namun demikian, tidak sedikit pula manuskrip kitab tib yang juga memasukkan perihal berbagai penyakit dan ‘gangguan kasat mata’ terhadap manusia yang disebabkan oleh jin, hantu, dan setan. Dalam kitab tib, kaidah pengobatan terhadap penyakit yang berasal dari ‘gangguan kasat mata’ ini biasanya dilengkapi dengan lafaz jampi-jampi, serapah, rajah dalam bentuk tulisan dan gambar,‘azimat, cuca-cuca, dan do’a-do’a yang bersumber dari al-Qur’an serta serapah-jampi yang berasal dari  sisa-sisa warisan animisme, atau gabungan keduanya.

Adakalanya dalam sebuah kitab tib juga dicantumkan masalah-masalah ‘non medis’ yang berkenaan dengan penguat syahwat, atau perkara-perkara ‘pemanis’ dan ‘penyeri  dalam hidup bermasyarakat  dalam bentuk jampi-jampi pikat-memikat lawan jenis. Kitab tib yang diperkenalkan dalam kutubkhanah minggu ini mengandungi hampir semua perkara diatas.

Dalam kitab ini terdapat lebih dari seratus buah formula, resep atau rempa, rajah, ‘azimat, dan do’a yang berkenaan pengobatan suatu penyakit, pelembut hati perempuan, ‘azimat perkasih pada perempuan;  penawar bila terkena polong dan hantu laut; ‘azimat pelaris dagangan; dan ‘azimat serta ramuan penguat kejantanan dan perkasa pada perempuan; ‘azimat pegangan mengadap raja atau orang-orang kaya, dan lain sebagainya.

Rempa (ramuan) obat sakit tubuh sengal-sengal, ‘azimat pagar mengadap raja dan orang-orang kaya, do’a menguatkan zakar. (foto: aswandi syahri)

Sebagai contoh, untuk mengobati penyakit tubuh sengal-sengal atau kering angin, maka ramuan atau rempa-nya adalah: “…Pertama, halia Cina beratnya sekati, dan pala tiap kati, dan kadung Cina tiap kati, dan cengke anam tahil, dan pucuk ampat tahil, dan kanti ampat tahil dan xxx ampat tahil, dan lada sulah setengah kati, dan maka racik-racik semuanya itu jemur kering tiga hari. Maka goreng semuanya itu jadi satu. Jikalau makannya dengan gula batu.”

Bagi ibu menyusui yang tak kunjung keluar air susunya, maka obatnya adalah: “…bacakan pada putting susu. Ini do’anya: Bismillah hirrahmanirrahim. Tatkala ‘Ali bertemu dengan Fatima. Mani ‘Ali dengan mani Fatima titik ke bumi menjadi pisang emas. Getahnya menjadi air susu. Itula asal mulanya jadi air susu. Teruslah engkau berkata Laillah-ha-illallah-Muhammad-Rasul-Allah”.

Contoh ’aazimat perkasih (pengasih) perempuan atau pun orang, ‘azimat angin-angin, ‘azimat tuju penyakit didalam perut, obat orang tidak keluar susu, obat sakit dingin, dan rajah menceraikan orang laki-istri (foto: aswandi syahri)

Dalam kitab ini, juga dijelaskan juga bagaimana cara memanggil orang yang lari atau melarikan diri dan dapat dapat dipanggil ‘secara magis’ agar kembali dengan sendirinya. Hal ini, antara lain, dapat dilakukan dengan mengamalkan ‘azimat ‘angin-‘angin yang disurat pada kertas lalu digantung dengan rambut pada kayu lobang angin-angin sebuah rumah.***

Artikel SebelumEngku Puteri: Sinar Carang Cahaya Penyengat
Artikel BerikutHendak Dimalui, Jangan Memalui
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan