Kesultanan Melayu Johor-Riau atau Riau-Johor, dari Sungai Johor hingga ke Kepulauan Riau, banyak meninggalkan tapak sejarah tinggalan warisan silam. Di Kerajaan Negeri Johor Darulta’zim, Malaysia—khasnya di sepanjang Sungai Johor—tinggalan bersejarah itu masih terawat dengan baik dan menarik perhatian wisatawan, domestik dan mancanegara.

Di hulu Sungai Johor terdapat makam Megat Seri Rama atau di Johor lebih terkenal dengan sebutan Laksemana Bentan. Komplek makam Laksemana Johor itu terletak di Kampung Kelantan, kurang lebih 2 km dari Bandar Kota Tinggi.

Kenyataan itu membuktikan bahwa dugaan masyarakat Bintan di Komplek Makam Bukit Batu, Bintan, terdapat makam Megat Seri Rama menjadi tak berdasar. Pasalnya, makam beliau ternyata terdapat di Kampung Kelantan, Kota Tinggi, Johor.

Megat Seri Rama mencapai jabatan tertinggi sebagai Laksemana atau Panglima Angkatan Laut Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah II (Sultan Mahmud Mangkat Dijulang). Megat Seri Rama meninggal pada 29 Oktober 1698 setelah beliau menikam Sultan Mahmud karena menuntut bela atas kematian istrinya, Dang Anum, yang dibunuh oleh Tun Bija Ali atas perintah Sultan Mahmud pada 23 Oktober 1698.

Pasalnya, Dang Anum makan seulas nangka milik Sultan tanpa izin karena mengidam ketika hamil anak sulung. Megat Seri Rama meninggal terkena lemparan keris Sultan Mahmud di ujung ibu jari kakinya dan disumpah muntah darah oleh Sultan. Sumpah itu konon berlaku juga kepada tujuh keturunan Laksemana, tak boleh menginjakkan kaki di Kota Tinggi dan atau Johor Lama. Kalau dilanggar, sesiapa pun zuriat Laksemana sampai tujuh keturunan akan muntah darah.

Sultan Mahmud juga mangkat karena ditikam oleh Megat Seri Rama ketika dijulang. Itulah sebabnya, setelah mangkat Baginda disebut Marhum Mangkat Dijulang. Peristiwa itu merupakan yang paling tragis dalam sejarah Melayu sepanjang masa, jauh lebih tragis daripada perlawanan Hang Jebat terhadap Sultan Melaka. Pusara Laksemana Bentan dan istrinya tercinta, Dang Anum, bersanding mesra di Kompek Makam Kampung Kelantan.

Dari Kampung Kelantan menghilir sungai terdapat pula Kampung Makam Kota Tauhid, Kota Tinggi. Di Kampung ini terdapat dua makam penting yaitu Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang dan Makam Tun Habib Abdul Majid. Kota Tauhid menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor-Riau ke-7 yaitu pada era pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677) dan Sultan Mahmud Syah II (1685—1699). Kala itu bendaharanya adalah Bendahara Seri Maharaja Tun Habib Abdul Majid dan Bendahara Paduka Raja Tun Abdul Jalil.

Kota Tinggi kala itu didatangi oleh banyak sekali pedagang dari pelbagai negara seperti China, Inggris, India, Arab, Eropa, dan Kepulauan Nusantara (di Malaysia disebut Kepulauan Melayu). Portugis pernah beberapa kali menyerang Kota Tinggi, tetapi dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Komplek Makam Sultan Mahmud Mangkat Dijulang berdiri tesergam di samping kiri Mesjid Kampung Makam dan merupakan komplek makam termegah di sepanjang Sungai Johor.

Menghilir Sungai Johor lagi kira-kira 3 km dari Kota Tinggi terdapat Kota Batu Sawar. Kota ini dibangun setelah Kesultanan Johor-Riau kalah dari Portugis pada 1587. Batu Sawar menjadi pusat pemerintahan Johor-Riau semasa Sultan Alauddin Riayat Syah III (1597—1615) dan menjadi tempat berdirinya istana Sultan Abdul Jalil Syah III (1623—1677).

Batu Sawar juga banyak didatangi pedagang mancanegara ketika menjadi ibukota Kesultanan Johor-Riau. Pada 1608 tentara Potugis menyerang kota ini, tetapi penceroboh asing itu dapat dikalahkan oleh tentara Johor-Riau. Pada 1613 Aceh dengan pasukan yang besar menyerang Batu Sawar sehingga terjadi peperangan selama 29 hari. Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah adinda Baginda Sultan, dan Tun Seri Lanang ditawan dan dibawa ke Aceh.

Pada 1673 tentara Kerajaan Jambi pula menyerang Batu Sawar yang menjadi tempat bersemayamnya Sultan Abdul Jalil Syah III. Batu Sawar tempo dulu laksana “Puteri Jelita” yang senantiasa membangkitkan nafsu pihak asing untuk menaklukkan dan memilikinya dengan pelbagai cara dan helah. Johor-Riau memang senantiasa menawan, tak dulu tak sekarang, begitulah adanya. Kini di Batu Sawar terdapat Makam Sultan Alauddin Riayat Syah II, putera Sultan Mahmud Melaka yang juga sultan pertama Kesultanan Riau-Johor, yang berupaya membangun Negara Melayu baru di Johor setelah kekalahan Melaka dari Portugis.

Di hilir sekira 7 km dari Bandar Kota Tinggi di antara kuala Sungai Seluyut dan Selat Medina terdapat destinasi penting lagi. Di ketinggian sekira 204 kaki dari paras air terdapat Kota Seluyut di atas Bukit Seluyut. Kota Seluyut menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor-Riau semasa Sultan Muzaffar Syah (1564—1570). Di kota ini pulalah Tun Muhammad atau yang terkenal dengan nama Tun Seri Lanang pengarang buku Sulalatu’s Salatin atau Sejarah Melayu itu dilahirkan.

Sebagai pusat pemerintahan, Kota Seluyut hanya bertahan 7 tahun sahaja karena kemudian Sultan Ali Jalla Abdul Jalil memindahkan pusat pemerintahannya ke Tanah Putih selama 2 tahun, untuk kemudian dipindahkan lagi ke Johor Lama.

Di ketinggian Bukit Seluyut selain terdapat tinggalan Kota Seluyut, juga dijumpai Komplek Makam Tiga Beranak. Di makam itu bersemayam dengan damai dan tenang Sultan Muzaffar Syah, Raja Fatimah (adinda Sultan Muzaffar), dan Sultan Muzaffar Syah II yang disebut juga Marhum Seluyut yang meninggal ketika masih kecil.

Di komplek yang terpisah terdapat satu makam lagi yaitu Makam Bendahara Seri Maharaja Tun Isap Misai. Sebagai tambahan, jabatan bendahara dalam pemerintahan Kesultanan Melayu merupakan jabatan tertinggi kedua di bawah sultan, sebelum adanya Yang Dipertuan Muda. Di antara tinggalan bersejarah di sepanjang Sungai Johor, tantangan terbesar di Bukit Seluyut inilah karena untuk sampai ke sana pengunjung harus menaiki bukit yang agak terjal. Walaupun begitu, sesiapa pun yang sampai ke sana akan mendapatkan kesan yang menyenangkan dan membahagiakan.

Kota Panchor menjadi tempat penting setelah Bukit Seluyut. Kota Panchor terletak di atas Bukit Tukul kurang lebih 14 km dari Bandar Kota Tinggi. Ke arah hilir Sungai Johor, posisinya di tebing kiri sungai yang menjadi saksi bisu pelbagai peristiwa bersejarah yang dilakoni dan dialami oleh bangsa Melayu ratusan tahun silam.

Disebut nama Panchor, orang pasti teringat akan nama tempat di Lingga Utara, nama jalan di Tanjungpinang, dan nama kampung di Batam. Rupanya, orang Melayu tempo dulu suka memberi nama yang sama bagi tempat-tempat mereka bertebaran dan bermastautin di kawasan Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga.

Di Kota Panchor terdapat makam Sultan Abdul Jalil Syah I yaitu Sultan ke-4 Kesultanan Johor-Riau (1570—1571) dan Makam Tengku Dara Putih. Itulah di antara tinggalan bersejarah yang terdapat di Kota Panchor.

Panchor menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga pada masa Sultan Abdul Jalil Riayat Syah IV (1699—1718). Sebagai bandar perdagangan, Panchor tempo dulu banyak dikunjungi pedagang dari Eropa, Asia, dan nusantara. Kota ini pada 1718 diserang oleh Raja Kecik dari Siak, yang mengaku sebagai putra Sultan Mahmud Mangkat Dijulang. Sultan Abdul Jalil beredar ke Pahang, kemudian mangkat di Kuala Pahang.

Destinasi terakhir di Sungai Johor adalah Johor Lama. Kota ini berada sekitar 27 km dari Bandar Kota Tinggi. Jika menggunakan jalan darat Kota Tinggi—Pengerang—Pekan Teluk Sengat, jaraknya kurang lebih 30 km dari Kota Tinggi.

Bandar Johor Lama terletak di puncak bukit. Sebagian tembok kotanya terletak di Tanjung Batu (nama yang sama dengan ibukota Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun). Johor Lama didirikan pada 1540 oleh Sultan Alauddin Riayat Syah II (1528—1564). Di Johor Baginda  dikenal sebagai Sultan Johor pertama.

Terlepas, ayahnda Baginda, yakni Sultan Mahmud Syah I (Sultan Mahmud Melaka) disebut juga sebagai Sultan Johor-Riau yang pertama. Hanya, Sultan Mahmud mendirikan pusat pemerintahan sementara di Bintan. Pada era pemerintahan Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II (1571—1597) Johor Lama kembali dijadikan pusat pemerintahan. Pada 1576 dan 1578 Portugis menyerang kota ini, tetapi pasukan penjajah itu dapat dikalahkan oleh tentara Melayu. Pada 15 Agustus 1587 Potugis kembali menyerang dan kali ini dari tiga penjuru. Terjadi pertempuran sengit satu bulan.

Malangnya, “Puteri Jelita” Johor Lama dapat direbut oleh pasukan penjajah itu. Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Syah II memindahkan pusat pemerintahan Johor-Riau ke Batu Sawar yang telah diperikan di atas.

Tinggalan bersejarah di sepanjang Sungai Johor masih terawat dengan sangat baik. Sebagai destinasi wisata, kawasan ini menjadi salah satu andalan Kerajaan Negeri Johor dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke negeri mereka. Kenyataannya, para pelancong memang sangat terkesan ketika berkunjung ke kawasan wisata sejarah dan budaya di sepanjang Sungai Johor. Apakah rahasia kejayaan itu?

Kerajaan Negeri Johor (setingkat provinsi di Indonesia) melibatkan semua pejabat Kota Tinggi dari yang tertinggi (setingkat bupati atau walikota, kepala-kepala dinasnya sampai kepada kepala-kepala kampung (kepada desa) karena Kota Tinggi merupakan tuan rumah yang lokasi tapak sejarah di sepanjang Sungai Johor berada dalam wilayah Kota Tinggi, instansi swasta, pengurus Yayasan Warisan Johor, lembaga swadaya masyarakat, kalangan pers, dan lain-lain.

Yang menarik lagi, untuk urusan yang berkaitan dengan kebudayaan dan pelancongan ini, semua dinas dan instansi dilibatkan (provinsi dan kabupaten/kota), tak hanya dinas/instansi yang mengurus masalah kebudayaan dan pariwisata, sungguh suatu fenomena yang jarang terjadi di Indonesia. Apatah lagi, para pejabatnya sangat aktif memberikan kontribusi pemikiran untuk pembangunan kebudayaan yang dilaksanakan.

Kebijakan yang menuai kejayaan itu merupakan buah karya Abdul Ghani Othman, mantan Menteri Besar Johor. Tak hanya dikenal sebagai politisi di Malaysia, beliau juga seorang intelektual. Putra kelahiran Pekan Sungaimati, Muar, Johor Darulta’zim itu adalah sarjana ekonomi-politik lulusan Queensland University.

Beliau awalnya berkhidmat sebagai dosen di Universiti Malaya dan menjadi Dekan Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran pada 1980—1982. Beliau baru terjun ke dunia politik pada Juli 1986 dan dilantik sebagai Ahli Dewan Negara. Sebagai intelektual, Abdul Ghani menerbitkan buku, antara lain, Pembangunan Holistik: Dimensi Kebudayaan (MPH Group Publishing Sdn Bhd, Petaling Jaya, Selangor, 2008).

Sesuai dengan faham pembangunan yang diyakini dan diterapkannya, suatu aspek pembangunan mesti dirancang dan dilaksanakan dengan ancangan yang menyeluruh (holistik). Dalam menjelaskan fahamnya itu, beliau menyebutkan, “Pembangunan negara dan bangsa mesti meliputi semua aspek kehidupan yang saling berkaitan dengan amat erat—politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Keseluruhan sistem kehidupan adalah kesatuan yang padu dan utuh, yang menyeluruh dan tak terpisahkan, yang dipahami sebagai the sum is more than the total of its parts.”

Berdasarkan keyakinan itulah, Abdul Gani Othman, ketika menjabat Menteri Besar Johor, menerapkan pembangunan yang didekati dengan pelbagai dimensi keilmuan secara menyeluruh. Dengan demikian, pembangunan kebudayaan dan pelancongan pun harus melibatkan pelbagai disiplin ilmu yang saling mendukung. Oleh sebab itu, perencanaan dan pelaksanaannya tak hanya harus melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, tetapi semua dinas dan instansi Kerajaan Negeri Johor, termasuk perguruan tinggi setempat (Universiti Teknologi Malaysia), bukan perguruan tinggi di tempat lain.

Tradisi yang baik itu masih diteruskan oleh penerus Abdul Gani Othman sehingga pembangunan kebudayaan dan pariwisata Kerajaan Negeri Johor Darulta’zim berkembang semakin bersemarak.

Dalam memajukan kebudayaan dan memberdayakan masyarakat di sekitar objek wisata sejarah dan budaya, pemerintah Kerajaan Johor menerapkan pelbagai kebijakan. Di antara kebijakan itu adalah (1) memberi keutamaan kepada orang Melayu di sepanjang Sungai Johor untuk terlibat secara langsung dan menikmati manfaat dalam pembangunan industri pelancongan, (2) memberikan pelatihan dan pendidikan secara berkelanjutan kepada orang Melayu tempatan supaya mengeksploitasi peluang perniagaan yang ada di sekitar destinasi pelancongan, dan (3) mendirikan institut pengkajian mengenai Johor, The Royal Institute of Johor.

Sebetulnya, untuk melaksanakan kebijakan (3), Abdul Gani Othman—ketika masih menjabat—mengharapkan dapat bekerja sama dengan Kepulauan Riau (provinsi dan kabupaten/kota) sehingga institut tersebut akan diberi nama lengkap The Royal Institute of Johor-Riau-Lingga (RIJRL).

Sayangnya, gagasan beliau tak diteruskan oleh pengganti beliau. Termasuk, harapan beliau untuk memantapkan hubungan kerja sama antara Kerajaan Johor dan Kepulauan Riau melalui pelbagai mekanisme pembangunan kebudayaan dan pariwisata yang terencana dengan baik tak sempat dilaksanakan. Malangnya, pejabat penerus beliau tak melanjutkan rencana itu. Di pihak lain, Kepulauan Riau pun tak menunjukkan tanggapan yang positif. Padahal, kalau gagasan bernas itu ditindaklanjuti, tentulah akan berdampak positif bagi pembangunan kebudayaan dan pelancongan di kedua kawasan, yang memang memiliki warisan sejarah dan kebudayaan yang sama.***

Tinggalkan Balasan