CINTA kasih merupakan satu di antara nilai budaya semesta (universal) yang dikenal oleh umat manusia di mana pun mereka berada. Siapa pun kita, tak kira suku, bangsa, warna kulit, dan agama, mendambakan terwujudnya cinta kasih agar dapat hidup dengan selesa. Bahkan, kadar cinta kasih seseorang, sesuatu keluarga, sesuatu puak atau kaum, dan atau sesuatu bangsa menjadi penentu kualitas budi pekerti mereka. Itulah sebabnya, cinta kasih selalu disebut sebagai fitrah manusia. Sesungguhnya, cinta kasih itu sejatinya adalah anugerah Allah kepada manusia.

Di dalam ajaran Islam, cinta kasih memang menjadi sifat dan perilaku yang perwujudannya sangat dianjurkan oleh Allah. Banyak sekali firman Allah yang menganjurkan manusia untuk saling berkasih-sayang di antara sesamanya, selain mencintai Allah pada peringkat yang tertinggi sebagai manifestasi dari rasa syukur makhluk kepada Penciptanya. Di antara pedoman yang dapat dirujuk tentang cinta kasih dan atau kasih sayang itu adalah ayat berikut ini.

“Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal shalih kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan di dalam (hati) mereka rasa kasih sayang,” (Q.S. Maryam, 96).

Firman Allah di atas tak hanya menegaskan bahwa rasa cinta kasih atau kasih sayang yang menyaluti hati manusia itu bersumber dari rahmat Allah. Lebih daripada itu, Allah memberi petunjuk bahwa manusia yang memiliki rasa cinta kasih itu adalah orang-orang beriman dan beramal shalih, suatu predikat mulia yang seyogianya didambakan oleh sesiapa pun yang memahami dan menghayati makna kemuliaan, apatah lagi dari sisi Allah.

Pertengkaran di antara dua orang, pertikaian di dalam keluarga, huru-hara sesebuah bangsa dan negara, dan atau persengketaan di antara bangsa-bangsa menjadi indikator telah berkurangnya kadar cinta kasih di antara manusia. Memang dahsyat padah yang dialami oleh manusia jika cinta kasih telah luntur apatah lagi sirna: huru-hara, kacau-bilau, dan atau porak-poranda. Itulah sebabnya, cinta kasih menjadi indikator utama budi pekerti manusia. Dengan demikian, mewujudkan keadaan terus berseminya cinta kasih dalam kehidupan kita sehari-hari menjadi tanggung jawab setiap anak manusia, setiap anak bangsa bagi sebuah bangsa yang bertamadun tinggi.

Dalam setiap bangsa cinta kasih dimanifestasikan di semua cabang kebudayaannya. Begitu jugalah halnya dengan kebudayaan Melayu. Dalam kesusastraan Melayu, misalnya, cinta kasih menjadi tema sekaligus amanat utama yang senantiasa mengemuka. Lihatlah Pasal yang Pertama, bait 3, Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji rahimahullah.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Cinta makhluk kepada Sang Khalik harus diwujudkan dengan betul-betul mengenali-Nya dan meyakini keberadaan-Nya. Bersamaan dengan itu, manusia mengabdi kepada-Nya dengan tulus ikhlas. Dengan begitu, akan teserlah cinta kasih kepada Sang Pencipta Yang Maha Pengasih. Sebagai konsekuensinya, apa pun yang diperintahkan dan dilarang-Nya akan diikuti dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab tanpa syarat apa pun, kecuali rasa cinta kasih yang murni kepada Allah Yang Maha Penyayang. Satu-satunya yang didambakan oleh setiap manusia tentulah agar cinta kasih itu tak bertepuk sebelah tangan sehingga kita memperoleh ridha-Nya. Pasalnya, hanya ridha Allah yang dapat menyelamatkan manusia, tak hanya di dunia, tetapi dan lebih-lebih di akhirat.

Di dalam peribahasa Melayu pula, terdapat banyak sekali tema cinta kasih. Inilah peribahasa yang sangat luas dikenal.

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

Peribahasa “Jalan dan Galah” di atas menyiratkan makna ‘cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya sepanjang hayat, tetapi kadang-kadang cinta kasih anak-anak terhadap orang tuanya hanya sekejap dan boleh hilang sama sekali’. Itulah kondisi yang taksimetris antara cinta kasih ibu-bapak dan anak-anaknya. Dengan peribahasa itu diharapkan implikasinya bahwa anak-anak harus senantiasa ingat dan terus memupuk cinta kasihnya kepada orang tuanya. Perkara yang sebaliknya, tak perlu disangsikan lagi, bahwa orang tua akan senantiasa mencintai anak-anaknya.

Yang ini tentang hujan pula, tetapi bukan hujan biasa. Inilah hujan rahmat kepada negeri tempat tumbuh dan berseminya cinta kasih sejak awal mulanya.

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik negeri sendiri.

Itu merupakan peribahasa tentang cinta kasih seseorang kepada negerinya. Walau negeri dan kampung halamannya belum sebaik atau semaju negeri orang, setiap manusia idealnya mestilah mencintai negerinya sendiri, kampung halamannya sendiri. Bahkan, ada tanggung jawab untuk terus memperbaiki kondisi negeri kalau memang keadaannya belum mencapai taraf kemajuan yang didambakan. Perilaku membenci negeri sendiri atau kampung halaman sendiri tergolong rendahnya mutu budi pekerti.

Peribahasa Melayu mengiaskan pula tentang cinta kasih kepada sesama. Eloklah hikmahnya diperhatikan secara seksama.

Tukang tidak membuang kayu.

Mengapakah demikian? Pasalnya, bahan dasar pekerjaan pertukangan adalah kayu. Tanpa kayu, si tukang kayu tak akan pernah dapat melaksanakan pekerjaannya, sehebat apa pun si tukangnya. Dengan peribahasa itu dimaksudkan bahwa manusia ini kesemuanya saling berguna dalam kehidupan ini, tak ada yang dijadikan Allah dengan sia-sia. Oleh sebab itu, sayang-menyayangi di antara sesama manusia, bahkan kepada makhluk bukan manusia juga, merupakan sifat dan perilaku yang terpuji sehingga sangat dianjurkan. Karena apa? Jawabnya, sayang-menyayang paling menentukan kualitas hidup manusia, bahkan semua makhluk hidup di dunia ini.

Lain lagi amanat yang dianjurkan oleh peribahasa ini. Sasarannya kepada orang yang bersaudara kandung dan atau berhubungan genealogis.

Air dicencang tak akan putus.

Dalam perjalanan hidup orang-orang yang bersaudara, adik-beradik, pastilah ada perselisihan walau barang sedikit. Akan tetapi, keadaan itu tak harus mematikan kasih sayang dan memutuskan tali persaudaraan sesama saudara. Janganlah karena hal-hal kecil menjadikan “retak membawa belah” atau “karena nila setitik rusak santan sebelanga”. Sangat tak terpuji sifat yang dimiliki oleh sesiapa pun yang memutuskan cinta kasih sesama saudara.

Setikar seketiduran, sebantal sekalang hulu.

Itu adalah peribahasa yang dikiaskan kepada cinta kasih orang yang bersahabat. Manusia yang bersahabat, karena kekurangan fasilitas misalnya, tetap berbahagia walau harus tidur beralaskan satu tikar dan berbantal juga sebuah yang digunakan untuk berdua. Begitulah kualitas persahabatan di antara anak manusia yang diidealkan. Hanya orang yang dapat menerapkan perilaku berteman seperti itulah yang dapat disebut sahabat sejati.

Orang-orang yang saling mencintai dan saling mengasihi diibaratkan dengan peribahasa “Aur dan Tebing”.

Bagai aur dengan tebing.

Aur sangat kuat melekat di tebing, bahkan aurlah yang mampu menjaga tebing agar tak mudah runtuh diterpa air. Cinta kasih seperti itu tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas. Itulah cinta sejati yang tak akan hanyut oleh pasang, tak akan terbawa oleh surut, dan tak akan sirna oleh topan dan badai sekalipun.

Masih sangat banyak peribahasa Melayu yang bertemakan cinta kasih. Kenyataan itu membuktikan bahwa cinta kasih menjadi indikator kehalusan budi yang sangat diperhatikan dalam tamadun Melayu.

Cinta kasih pun tentulah banyak terekam dalam pantun pusaka Melayu. Beberapa di antara pantun itu disenaraikan berikut ini.

Ribu-ribu jalan ke Kandis
Landak membawa geliganya
Bundaku tinggal jangan menangis
Anak membawa akan nasibnya

Karena begitu kasih kepada anaknya, sang ibu tak sampai hatinya mendapati kenyataan bahwa si buah hati harus meninggalkan rumah dan kampung halaman. Bagaimanapun kenyataan itu harus dihadapi demi masa depan yang lebih baik bagi anak terkasih. “Pergilah intan, pergilah nyawa; pandai-pandailah membawa diri; Allah jangan nanda lupai; ingatlah pesan ayah dan bunda; In Shaa Allah, selamat dikau di sana; nanda pergi kuiringkan doa.”

Cinta kasih orang bersaudara digambarkan pula di dalam pantun yang tak kurang menariknya. Berpisah dengan saudara kandung boleh menimbulkan sebak di dada sehingga semangat bagai melayang entah ke mana.

Baru diikat bunga tanjung
Sama terikat bunga pandan
Baru melihat adik kandung
Kembali semangat dalam badan

Itulah idealnya perhubungan kasih sayang orang bersaudara. Keberadaan yang satu boleh memberi semangat hidup bagi yang lain. Alhasil, kita dapat menjalani kehidupan dengan hati berbunga-bunga. Bunga itu kelak akan melahirkan kinerja yang unggul sebagai buah cinta kasih sesama saudara. Ianya tak boleh dianggap remeh karena energinya mampu membangkitkan kreativitas dan inovasi luar biasa, yang semula mungkin tak terduga. Ya, semangat yang telah bangkit dari diamnya yang menyakitkan, bahkan mampu menimbulkan kekaguman berskala global.

Alangkah bahagianya kita jika kondisi yang terekam dan diidealkan oleh pantun di bawah ini terwujud dalam kehidupan keseharian kita. Sebagai sesuatu yang ideal, kecenderungan capaiannya memang hanya setakat minda, tetapi tak pernah berwujud menjadi nyata. Walaupun begitu, para pengagum cinta kasih karunia Ilahi tak pernah bosan untuk memperjuangkannya sejak penciptaan manusia pertama sampai ke akhir masa. Pasalnya, cinta kasih merupakan salah satu anugerah Sang Maha Pencipta yang mampu menyelamatkan manusia, dari dunia sampai ke alam baka.

Habis sembahyang terus mengaji
Berdagang luar kain pelekat
Berkasih sayang seisi negeri
Hidup bahagia dunia akhirat

Demikianlah keadaan negeri yang sangat didambakan oleh semua umat manusia di dunia ini. Malangnya, sampai setakat ini manusia belum mampu mencapai matlamat idealnya itu dengan gemilang karena pelbagai alasan, terutama sebab tak mampu menguasai hawa nafsu yang menipu, bahkan kebodohan yang membelenggu. Kesemuanya harus terus dan terus diperjuangkan. Jika tidak, berarti kita menolak tesis bahwa Sang Khalik menciptakan makhluk-Nya dengan cinta kasih-Nya yang abadi. Padahal, hanya karena cinta Ilahi itulah, kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati, yang jangankan ketika masih hidup, setelah mati pun cahayanya akan menyertai.

Lela Ratna Kumala bangsawan
Membuat beta lupa diri
Salangkan hamba-Nya dijadikan demikian
Yang menjadikannya betapakah lagi

Setelah dilihat oleh Dewa Mandu akan rupa Tuan Puteri itu, maka ia pun pingsanlah seketika. Lalu, Tuan Puteri Lela Ratna Kumala pun meniup kepala Dewa Mandu. Maka Dewa Mandu pun sadarlah akan dirinya, lalu ia mengucap seraya memuji Tuhan seru sekalian alam katanya, “Salangkan hamba-Nya yang dijadikan-Nya lagi sekian, jika yang menjadikan berapa lagi.” Makin bertambah-tambahlah tauhid dan tasdiknya akan Tuhan Malik al-Manan.

Begitulah seyogianya wujud cinta kasih menyerlahkan dirinya. Cinta kasih kepada makhluk mengantarkan kita kepada cinta kasih yang tulus tiada berbanding kepada Sang Khalik yang menganugerahi kita karunia-Nya yang luar biasa. Pada gilirannya, daya rohaniah itu mampu mendorong peningkatan keimanan kita hari demi hari kepada Allah. Alhasil, kita dapat menghayati dan menikmati nuansa rasa cinta kasih semata-mata hanya karena Dia Yang Maha Pengasih.

Ramadan memang disediakan oleh Allah sebagai bulan yang penuh keampunan. Sungguh arif kiranya, bersamaan dengan terhapusnya segala dosa, kita tingkatkan kualitas cinta kasih dengan sesama: sebagai anggota keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan warga dunia. Dengan begitu, mudah-mudahan bersama cinta kasih-Nya, Allah ridha untuk kita hidup bahagia, sama ada di dunia ataupun di alam baka. Bukankah kesemuanya terpulang kepada ridha-Nya?***

Tinggalkan Balasan