Judul hikayat ini sangat menggerunkan atau menakutkan. Namun isinya bukanlah kisah horor yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Hikayat ini adalah contoh cerita berbingkai, legenda pahlawan-pahlawan Islam dan orang alim yang sarat dengan kebesaran agama Allah sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Hikayat seperti ini asalnya adalah khazanah sastra Timur Tengah yang  kemudian tersebar juga di Alam Melayu. Dalam khazanah sastra Melayu, padanan Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering ini adalah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Saif Dhu’l-Yazan atau Sirat ibn Yazan, Hikayat Sultan Ibrahim Ibn Adham atau Syair Cerita di Dalam Kubur.

Sebaran dan Versi

            Richard Olaf Winsted dalam buku klasiknya A Historical of Classical Malay Literature (1969:97) mengatakan tak ditemukan naskah awal dan tak ada catatan serta penjelasan tentang asal-usul Hikayat Tengkorak Kering yang dikenal juga dengan judul Hikayat Raja Jumjumah, King Skull (Raja Tengkorak), Hikayat Jumjumah, dan Hikayat Tengkorak Kering Boleh Berkata,  sebelum abad ke-19.

Namun demikian, menurut Winstedt, berbagai versinya dapat ditemukan dalam bahasa Sunda, Aceh, Persia, Hindustan, Afganistan, dan sudah barang tentu dalam bahasa Melayu. Bahkan, syair ini telah pula diterjemahkan kedalam bahsa Inggris dan dimuat dalam Asiatic Journal and Monthly Register pada tahun 1823.

Di Alam Melayu umumnya, dan Kepulauan Riau-Lingga khususnya, hikayat ini populer melalui edisi cetak litografi (edisi cetak batu) menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu yang dihasilkan oleh percetakan dan penerbit di Pulau Pinang serta Singapura.

Versi cetak paling tua dari  hikayat ini, tercatat berasal dari tahun 1894, dan dicetak oleh Mercantile Press di Pulau Pinang. Microfilm edisi cetak tahun 1894 ini antara lain berada  simpanan National Library Singapura dengan nomor katalogus NL 2553.

Setelah edisi cetak Pulau Pinang, muncul kembali beberapa versi cetak oleh penerbit  di Singapura antara tahun 1896 dan 1917. Ian Proudfoot dalam Early Malay Printed Books (1992:511), mencatat tiga versi cetak di Singapura  yang kini tesimpan pada sejumlah perpustakaan  di Inggris, Jakarta, Belanda, dan Singapura.

‘Versi Singapura’ ini muncul pertamakali pada bulan November 1896, dan dicetak oleh Kedai Haji Muhammad Said milik Haji Mujtahid yang beralamat di 51 & 47 Sultan Road, Singapura. Dalam colofon-nya, judul lengkap hikayat ini ditulis sebagai berikut: Hikayat Tengkorak Kering Boleh Berkata-Kata Tengkorak itu Asalnya Daripada Sultan Jumjumah.

Pada 5 Desember 1896, sekali lagi Haji Muhammad Said mencetak 1000 eksemplaar hikayat ini dan dijual dengan harga $0.15,- per eksemplaar. Pada tahun yang sama, edisi kedua ini juga telah diregisterkan (didaftarkan) di Singapura dengan No. 301 dan “menjadi hak Haji Mujtahid bin Haji Muhammad Said selamanya”.

Sebagai pemegang ‘hak cipta’, percetakan Kedai Haji Muhammad Said yang kemudian beralamat di 82 Arab Street Singapura, kembali mencetak Hikayat Tengkorak Kering Yang Pandai Berkata-Kata secara litografi pada akhir tahun 1917.

 

Karangan Baharu

            Hikayat Tengkorak Kering yang diperkenalkan dalam  kutubkhanah  ini adalah ‘versi baru’ atau karangan baharu. Diusahakan oleh seorang penulis  ‘tak dikenal’ yang menamakan dirinya Babu Zamansyah atau Babu bin Zamansyah.

Sebagai sebuah ‘karangan baharu’, Babu Zamansyah mengunakan judul Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering. Tak ada informasi bibliografis tentang tarikh hikayat ini dicetak. Namun yang pasti, versi ini juga dicetak di Singapura oleh percetakan Darul Taba’ah al Misriyah al-Qubra atau Al-Misriya Publishing House: sebuah percetakan buku terunggul di Timur Asia yang beralamat di 60 Basroh Street, Singapura.

Sama seperti tiga versi yang sebelumnya juga  dicetak Singapura oleh Kedai Haji Muhammad Said, isi Hikayat Tengkorak Kering ‘versi Babu Zamansyah’ ini masih dicetak secara litografi. Namun bila melihat covernya yang telah dibuat menggunakan teknik cetak lebih maju dan dilengkapi ilustrasi dalam bentuk sketsa dan foto, maka versi ini jauh lebih muda dibanding hasil cetakan Kedai Haji Muhammad Said.

Versi Karangan Baharu yang menjadi rujukan utama laman kutubkhanah ini terdiri dari 23 muka surat, dan bersumber dari koleksi pribadi Abdul Halim Nasir yang kini berada dalalam simpanan perpustakaan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) University Kebangsaan Malaysia (UKM).

Meskipun disebut sebagai sebuah ‘karangan baharu’ yang memasukkan ajaran-ajaran Islam yang baru setelah kdatangan Nabi Muhammad SAW, bahan utama versi ini tampaknya adalah versi lama yang ditulis sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Mengapa?

Indikasi ini terlihat dengan adanya teks kalimah syahadat yang belum mencantumkan nama Nabi Muhammad SAW, melain Nabi Isa ‘Alaihissalam sebgai rasul sebagaimana terlihat dalam kalimah syahadat yang diucapkan oleh Raja atau Sultan Jummmah sebagai salah satu tokoh utama dalam hikayat ini: Asyhandu-anla-illahailallah-wa-asyhadu-annaka-Isa-Ruhullah.

Tengkorak Raja Jumjumah 

Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering karangan baharu ini bercerita tentang seorang raja Negeri Syam (kini mencakupi wilayah Libanon, Palsetina, Siria atau Suria, dan Yordania) yang bernama Raja Jumjumah atau Sultan Jumjumah dan hal ihwalnya dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam.

Dikisahkan bahwa Sultan Jumjumah adalah seorang maharaja masyhur yang menakluki seluruh Benua Syam, sekalian Negeri Parsi, Basrah, Bagdad (Irak), seluruh negeri-negeri di Tanah Arab, Mesir, dan seluruh Benua Afrika.

Semasa hidupnya ia memerintah dengan adil namun tidak menunaikan sembahyang lima waktu. Akibatnya, setelah wafat ia mendapat siksa di neraka, “…bertemu dengan segala jenis binatang ular, dan kala, dan halipan, yang besar-besar seperti gunung dan bukit, mamatuk dan melontarkan kepalanya kedalam lautan api neraka…”

Pada suatu hari, tengkorak Raja Jumjumah yang telah lama wafat dan telah kering itu ditemukan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam ketika baginda berjalan-jalan di tengah padang di Negeri Syam.

“…Maka diangkat oleh Nabi Alla ‘Isa ‘Alaihissalam serta ditangisnya oleh melihatkan tengkorak. Maka Nabi Allah ‘Isa pun memintak do’a kepada Allah subhana-wa-ta’ala, katanya, Ya Rab, Ya Saidi, Ya Maula, Ya-Rabbal-‘Alamin. Dengan kebesaran dan kemuliaan Mu jua, aku pohonkan kepada Mu, berilah kiranya tengkorak ini berkata-kata, supaya hamba Mu dapat bertanya kepadanya…. Ia sudah merasai mati…”

“Maka, dengan seketika itu juga didengar oleh Nabi Allah ‘Isa ‘Alaihissalam satu suara, demikian katanya. “Hai ‘Isa, bertanyalah engkau kepada tengkorak itu”. Maka dengan takdir Allah ta’ala, berkat mu’jizat Nabi Allah ‘Isa, tengkorak yang sudah kering itu pun dapatlah berkata-kata.”     

Tengkorak itu kemudian becerita kapada Nabi Isa bahwa ia asalnya adalah se­orang raja di Negeri Syam yang penuh dengan segala kemewahan dan bersifat adil, tetapi ia tidak menunai­kan fardhu sembahyang lima waktu.

Kemudian tengkorak itu menceritakan pengalaman dahsyat-dahsyat yang dialaminya sesudah ia mati, dan bagaimana azabnya orang-orang yang berbuat maksiat serta melalaikan perintah Allah disiksa di akhirat.  Setelah sekian lama menjalani siksa neraka, akhirnya Raja Jumjumah lepas dari segala azab, karena semasa hidupnya ia ada sedikit ilmu agama dan suka bersedekah kepada fakir miskin.

Di akhir pembicaraan dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam, tenggkorak Raja Jumjumah minta agar Nabi Isa memohon kepada Allah supaya ia dihidupkan sa­mula untuk berbuat amal saleh. Apabila permo­honannya terkabul maka ia tak ingin lagi menjadi raja dan senantiasa beribadat kepada Allah.

Gemparlah penduduk Negeri Syam karena rajanya yang telah lama wafat hidup kembali. Kepada rakyatnya ia bercerita: “Wallah-‘alam, entah bagaimana, ditakdirkan Allah subhana-wata’ala, tiba-tiba tengkorakku dikeluarkan Allah di tengah padang  Negeri Syam ini. Lalu dicerita oleh Jumjumah kepada menteri dan rakyat sekalian daripada awal sampai akhirnya, dan berjenis-jenis ‘azab yang telah diterima daripada Allah di dalam neraka.”

“…Maka berkata Jumjumah…hai menteriku dan rakyatku sekalian, sekarang aku tidak mahu menjadi raja lagi, dan aku tidak berkehendak kepada harta benda aku sekalian itu, dan aku hendak memberi nasihat kepada kamu sekalian supaya kamu menurut perintah [Allah]”.

Setelah itu, Raja Jumjumah duduk di sebuah rumah dan senantiasa berbuat amal ibadat dan puasa kepada Allah subhana-wata’ala siang dan malam, serta memintak ampun segala dosanya sampai ia wafat kembali.

Konon, setelah tengkoraknya dihidupkan kembali, Raja Jumjumah  “… hidup lapan puluh tahun, dan ada setengah pula berkata ia hidup ampat puluh tahun, dan setengah berkata ia hidup ampat puluh hari sahaja. Waulah’alam. Amin Ya rabbal-‘alamin”.***

Artikel SebelumSeperti Kebun Berpagar Duri
Artikel BerikutCinta Kasih Ramadhan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan