Pantun sebagaimana kita ketahui memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan ia dengan karya sastra lainnya, yaitu memiliki Sampiran dan Isi.

Sebagaimana dijelaskan oleh para ahli salah satunya menurut pendapat Thomas (Setyadiharja, 2018) menjelaskan bahwa pada pasangan baris pertama dan kedua dikenal sebagai pembayang atau disebut sampiran, yang biasanya menjelaskan kearifan alam di dalamnya.

Sementara baris ketiga dan keempat disebut dengan maksud atau isi yang selalu berisikan perilaku sosial dan moralitas manusia yang kemudian dituangkan menjadi nasihat yang terkandung di dalam isi pantun.

Namun hubungan antara sampiran dan isi sesungguhnya mengandung berbagai macam makna. Salah satu hubungan sederhana antara sampiran dan isi adalah untuk membedakan persajakannya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Thomas (1985) dan Setyadiharja (2018) bahwa dengan Sampiran dan Isi maka pantun memiliki persajakan A,B,A,B dimana persajakan AB merupakan tanda pasangan pada setiap barisnya.

Sehingga persajakan ini lebih kuat dibanding persajakan A,A,A,A karena dianggap tak dapat melihat pasangan antara sampiran dan isi. Namun hubungan sampiran dan isi sejatinya memiliki hubungan yang lebih jauh dan lebih filosofistik.

Di dalam sampiran dan isi sejatinya terdapat sebuah gairah perjodohan yang harus dipasangkan dan tak boleh lepas. Meski tak semua pantun memiliki sampiran dan isi yang berjodohan. Namun pantun yang terbaik dan bernilai tinggi adalah yang memiliki sampiran dan isinya memiliki hubungan.

Gairah perjodohan itu sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad (2017) dapat dijalin dengan sebuah media yang kita sebut dengan metafora atau boleh kita artinya sebagai pengandaian.

Pantun yang bernilai tinggi ketika sampiran dan isinya memiliki perjodohan secara semantik dan memiliki perjodohan secara kosmologikal.

Dengan kedua metafora ini tampak bahwa pantun sebenarnya bukan hanya sebuah ungkapan karya sastra yang dapat sesuka hati dikarang oleh pemantun.

Akan tetapi pantun yang baik terjadi ketika pemantun dapat menjodohkan sampirannya dengan isinya. Meski hukum ini tak sepenuhnya berlaku mutlak untuk semua pantun.

Di dalam metafora pantun tersebut, pemantun sesungguhnya menyusun sebuah lambang demi lambang atau boleh dikatakan simbol dengan simbol yang kemudian menyempurnakan pantun tersebut.

Lambang atau simbol tersebut di bawa dari perasaan pemantun. Sehingga dalam konteks ini metafora di dalam pantun lahir dari lambang perasaan atau jiwa pemantun itu sendiri. Untuk memilih sebuah maksud di dalam pantun, pemantun memilih citra alam atau keadaan alam yang sesuai dengan perasaannya (Salleh, 2018).

Dengan demikian bukan saja antara sampiran dan isi yang berjodoh namun perasaan pemantun dan pantun yang disampaikan juga haruslah berjodoh satu sama lainnya.

Dengan berjodohnya lambang perasaan yang kemudian dicitrakan di dengan alam dalam bait pantun akan menghasilkan metafora yang juga berjodoh baik secara semantik dan juga secara kosmologikal. Mari kita simak pantun berikut.

Dari mana punai melayang

            Dari sawah turun ke padi

            Dari mana datang sayang

            Dari mata turun ke hati

            (Sumber Pantun: Haji Muhammad Salleh, 2018)

Pantun di atas, menurut penjelasan Salleh (2018) melambangkan sebuah perasaan cinta pada diri pemantun, yang kemudian dengan rasa cinta itu, pemantun berhasil menjodohkan sampiran dan isinya.

Citra burung yang melayang, yang tidak berjejak ke bumi, dan agak lembut membawa pergerakan dan keadaan yang sedang berubah-ubah tempat tujuannya. Keadaan ini lambang untuk situasi dan wanita yang belum dikenal dengan akrab.

Begitu juga masalah apakah yang akan terjadi pada hubungan yang diinginkan akan menjadi kuat atau hanyut dalam arus ketidakpastian (Salleh, 2018). Maksudnya adalah pada sampiran pantun tersebut berisi metafora yang memiliki hubungan semantik.

Dimana “Punai Melayang” menjadi lambang sesuatu yang belum pastinya datang atau berjejak. Memiliki kesamaan semantik dengan “datang sayang”.  Sama-sama memiliki arti penantian akan sesuatu.

Namun pada kalimat “dari sawah turun ke padi” melambangkan sebuah metafora bahwa sesuatu yang dinantikan hinggap ke tanah, ianya secara kodrati akan hinggap sebagaimana sewajarnya punai hinggap dari sawah turun ke padi.

Begitu juga kalimat “dari mata turun ke hati”. Suatu lambang pengandaian yang bermakna sesuatu yang telah ditunggu yaitu “datang sayang” akan datang “dari mata turun ke hati”. Hubungan perjodohan antara sampiran dan isi dalam pantun itu adalah perjodohan semantik atau pemaknaan.

Ini menandakan bahwa sampiran dan isi bukanlah dua hal yang tak bisa saling rujuk, namun ianya memiliki sebuah hubungan perjodohan satu sama lainnya.

Pantun lainnya yang memiliki gairah perjodohan di makna pantunnya yaitu,

Tetak nyirih galangkan dapur

            Mari ditetak dengan dahannya

            Minta sirih barang sekapur

            Mari minta dengan tuannya

            (Sumber Pantun: Haji Muhammad Salleh, 2018)

Pantun di atas, berdasarkan penjelasan Salleh (2018) menjelaskan bahwa Kata “Nyirih” merupakan sebuah kayu yang tidak lurus, namun jika dilakukan sebuah usaha yaitu “ditetak” yang mengartikan sebuah perbuatan untuk mengumpulkan bahan penyokong untuk dapur pada sebuah rumah.

Nyirih akan sangat diperlukan dan cukup kokoh untuk membuat tegaknya sebuah seni bina rumah. Begitu juga kata “Sirih” yang menurut Salleh (2018) diartikan sebagai tanda bahwa seseorang meminta tanda kasih.

Maka untuk mendapatkan kasih yang sejati perlu sebuah usaha, sama seperti menjadikan nyirih penyokong dapur rumah.

Maka kasih harus diusahakan meminta pada yang benar dan haq. Barulah ia dapat menjadi perkuat dan penyokong berdirinya seni bina rumah tangga.

Baik pada sampiran dan isi pada pantun ini dijodohkan dengan metafora “Nyirih” dan “Sirih” yang kedua hal ini sama pentingnya untuk membangun seni bina, “nyirih” untuk menyokong dan memperkut dapur rumah, sementara “sirih” yang dimaknai tanda kasih untuk membangun dan memperkokoh rumah tangga yang memadukan kasih dua insan manusia.

Begitulah pemantun menjodohkan antara perasaan cinta yang dirasakan di dalam dirinya yang kemudian disusun lebih halus dengan metafora yang tersajikan pada sampiran dan isi pantun. Sehingga sampiran dan isi pantun bukanlah dua alam yang berbeda namun ianya memiliki makna dan gairah perjodohan.

Oleh sebab itu, dua tradisi dalam adat perkawinan Melayu seperti meminang dan serah terima hantaran sebelum akad nikah digunakan pantun sebagai penghias kedua majelis tersebut.

Pantun bukan saja sebagai simbol tingginya budaya komunikasi bangsa Melayu yang dikenal dengan sopan dan santun, beradab dan beretika, yang kemudian menjadikannya  sebagai medium komunikasi dalam tradisi ini.

Penggunaan pantun ini  sesungguhnya adalah wujud dari sebuah perlambang bahwa pantun memiliki gairah perjodohan dimana maksud, perasaan, kasih sayang, cinta asmara yang tersirat muncul di dalam sampiran dan isinya.

Sehingga dalam perkara jodoh manusia, pantun mengambil peran untuk menemukan kedua insan yang telah dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang namun harus dibungkus secara tersirat sebagai simbol sopan santun dalam bertutur kata.

Pantun menjadi bagian di dalam komunikasi pada tradisi menemukan jodoh antara satu insan dengan insan yang lainnya dalam tradisi adat meminang, kemudian menghantarkan manusia dalam sebuah ikatan suci pernikahan.

Hakikat pantun sesungguhnya adalah perjodohan. Bukan saja perjodohan secara maknawi, namun juga terkadang perjodohan kasih sayang dan cinta yang kemudian dibalut dengan keadilan dan tanggung jawab di dalam kehidupan manusia.

Lambang-lambang perasaan itulah yang kemudian menjadikan pantun adalah wujud perjodohan antara sampiran dan isinya. Sama halnya perjodohan manusia dengan manusia lainnya dan pantun mengambil bagian penting dalam persoalan perjodohan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan