Inilah kitab yang sangat terkenal dan tersebar luas di kalangan Islam sunni di seluruh dunia. Menjadi amalan dan pegangan Raja Haji Fisabilillah selama perang melawan VOC-Belanda pada 1782-1784. Dala’il al-Khayrat,  kitab yang masyhur setelah Al-Qur’an dan al-Hadis. Apakah sesungguhnya kitab Dala’il al-Khayrat?

Karya al-Jazuli

            Judul lengkapnya dalam bahasa Arab adalah Dala’il al-Khayrat wa-Shawariq al-Anwar fi Dzikir al-Shlat ‘ala al-Nabi al-Mukhtar. Bila dimelayukan maka judulnya menjadi, ‘Penuntun kepada cahaya keberkahan nan berkilau, yang disertai dengan do’a penuh berkah pilihan Nabi’.

Kitab yang dalam penggunaan sehari-hari dikenl dengan nama Dala’il al-Khayrat, atau Dala’il, Dalil,  ini disusun oleh seorang sufi asal Maroko bernama Abu ‘Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli al-Simlali Rahimahullah. Nama panjang itu biasanya disingkat menjadi al-Jazuli.

Sedikit yang diketahui tentang riwayat hidup al-Jazuli. Menurut Jan Just Witkam, al-Jazuli berasal dari al-Sus al-Aqsa, atau kota Jazulah, di Barat Daya negara Maroko sekarang. Ia pernah bermukim di Mekah dan Madinah selama beberapa tahun.

Ketika kembali ke Maroko, al-Jazuli menetap di kota Fez dan tunak belajar di perpustakaan Qarawiyyin milik Madrasah al-Syaffarin. Hasil dari bertekeun-tekun itu adalah sebuah kitab berjudul Dala’il al-Khayrat yang melambungkan namanya.

Di kota Fez, al-Jazuli juga mejadi bagian dari kelompok Tarekat Syaghiliyyah, sebuah aliran tasawuf yang diajarkan oleh Nurrudin Abu Hasan al-Syadhili dari Tunisia. Pokok ajaran tarekat ini, yang menggiring manusia untuk takut kepada Allah, adalah mengamalkan Sunnah Nabi, memandang hina perkara duniawi, berserah diri kepada Allah, dan meminta perlindunganNya, menjadi esensi kitab karyanya.

Al-Jazuli mangkat dalam sebuah pertelagahan politik di Maroko pada tahun 870 Miladiah. Mula-mula jazanahnya dimakamkan di kota Afughal, yang terletak daerah Haha. Kemudian, atas perintah Sultan Abu al-Abbas al-A’raj dipindahkan makam itu ke tempat yang bernama Riyad al-‘Arus di kota Marakech .

Di Alam Melayu

Kitab Dala’il al-Khayrat dikenal luas oleh masyarakat negeri-negeri Islam di belahan Barat, tempat ia ditulis sekitar lima ratus tahun yang lalu, yang kemudian  menyebar luas di negeri Islam Asia Tenggara, serta kawasan yang terletak diantaranya.

Di Alam Melayu, kitab Dala’il al-Khayrat adalah salah satu kitab sunni yang penting setelah al-Qur’an dan al-Hadis pada abad 18 dan 19.

Kedudukannya sangat penting dalam kehidupan beragama masyarakat Alam Melayu. Hal ini terlihat dari begitu banyaknya manuskrip atau naskahnya yang masih masih dapat detemukan hingga ini. Bahkan versi cetak kitab ini masih terus dihasilkan hingga ke masa kini.

Pada zaman penjajajahan di Alam Melayu, terutama abad 18 dan 19, kitab Dala’il al-Khayrat menjadi elemen yang sangat penting dalam menghadapi para penjajah yang di sebut kaum kafir.

Masyarakat negeri-negeri Islam di Alam Melayu menggabungkan ritual dan ibadah menggunakan kitab Dala’il al-Khayrat, seperti yang penah dilakukan oleh al-Jazuli ketika mepertahankan negerinya dari rempuhan kaum kafir Portugis.

Pentingnya kitab ini dalam perjuangan anti kolonial di Alam Melayu, dapat dilhat dari banyaknya kitab Dala’il al-Khayrat yang ditemukan diantara beragam  barang rampasan penting yang dikumpulkan Belanda selama perang di Aceh dan dataran tinggi Minangkabau pada abad 19.

Menurut Catatan Just Witkamp, dalam korpus manuskrip Dala’il al-Khayrat koleksi Perpustakaan Universitas Leiden yang berjumlah 34 buah, terdapat beberapa buah manuskrip yang dirampas selama perang Aceh (1873-1910). Selain itu ada pula sebuah salinan Dala’il al-Khayrat yang terdapat dalam kitab kumpulan do’a milik Tuan Imam Bonjol, pemimpin Perang Padri di Tanah Minangkabau.

Di Indonesia, manuskrip atau naskah kitab Dala’il al-Khayrat antara lain dapat ditemukan dalam koleksi manuskrip Melayu simpanan Perpustakaan Nasional di Jakarta, dan dalam simpanan Balai Maklumat Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat.

Kitab Dala’il al-Khayrat, biasanya dijilid dengan mewah, dihias dengan iluminasi air emas yang indah-indah. Oleh karena itulah, dari sisi kodikologi, kitab Dala’il al-Khayrat dianggap sebagai ‘kompetitor’ al-Qur’an dari segi keindahan hiasan atau iluminasinya.

Pegangan Raja Haji Fisabilillah

Dala’il al-Khayrat pada dasarnya adalah sebuah kitab kumpulan shalawat dan do’a yang cukup tebal: sekitar 232 halaman. Di dalamnya dijelaskan keutamaan-keutamaan dan fadilat yang akan didapat oleh orang yang mengamalkannya.

Disamping shalawat, didalamnya terdapat pula Asma’ul-Husna, 200 buah Asma’unnabi, dan do’a besar Hizbu al-Bahri karya Imam abu al-Hsan al-Syahdhili yang pernah dipergunakan dan diamalkan oleh Ibnu Batutah dalam pengembaraaanya ke Negeri Cina dan Alam Melayu.

Sebagaimana firman Allah yang dikutip oleh al-Jazuli, tujuan penyususan kitab Dala’il al-Khayrat adalah  untuk mengajak manusia mendekatkan diri kepada Allah dan mengamalkan shalawat kepaba Nabi S.A.W.

Di Alam Melayu, rangkaian shawalat yang indah ini dibaca sebagaimana layaknya membaca Nazam Barzanji denga lagu dan irama yang indah, demi mendapatkan safa’at dan berkah dari baginda Nabi. Ia juga dikemas sedemikian rupa sebagai panduan ketaatan terhadap sunah Nabi Muhammad.

Di Kerajaan Riau-Lingga Johor-dan Pahang pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Raja Haji (1778-1784), kitab ini tampaknya menjadi salah pegangan dan amalan yang utama.

Dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji dengan jelas mencatat bagaimana datuknya, Raja Haji Fisabilillah, syahid dalam perang terakhir melawan kafir Belanda di Teluk Ketapang, Melaka, sambil memegang sebilah badik dan kitab Dala’il al-Khayrat,  pada 17 Juni 1784:

“…Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun bangkit menghunus badiknya. Sebelah tangannya memegang [Kitab] Dala’il al-Khayrat.  Maka dipeluk oleh beberapa orang. Maka di dalam tengah-tengah hal yang demikian itu, maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun kenalah peluru barisan senapang. Maka baginda pun rebahlah lalu mangkat syahidlah…”

Lebih jauh, dalam Tuhfat al-Nafis, raja Ali Haji juga menjelaskan bahawa selama memimpin peperangan yang berlangsung sepajang 1782 hingga 1784,  Raja Haji banyak memperoleh kebaikan atau istighlal dengan membaca kitab Dala’il al-Khayrat.

Karena itulah, jika melihat kandungan isi kitab Dala’il al-Khayrat yang sangat besar manfaatnya dimata kaum muslimin, maka bukankan suatu yang mengherankan bila kitab ini menjadi salah satu sumber kekuatan yang penting dalam perlawanan Raja Haji terhadap VOC-Belanda dalam perang Riau 1782-1784.***

Tinggalkan Balasan