IDUL FITRI dirayakan seluruh umat muslim sedunia. Termasuk di Penyengat yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sampai hari ini, Hari Raya di sana selalu dirayakan dengan gegap-gempita. Sebuah tradisi yang tercatat sudah berlangsung sejak 1896. Kala itu, para cendekia sampai turun tangan sebagai panitia.

SUDAH menjadi lazim mereka yang beragama muslim merayakan hari raya Idulfitri dengan segenap sukacita.Terlebih di Indonesia. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Tidak pernah tercatat secara jelas memang, tarikh kali pertama perayaan Idulfitri dirayakan secara gegap-gempita.

Namun, dari penelusuran sejumlah arsip dan dokumentasi, sejarawan Aswandi Syahri membawa Jembia pada sepotong keriuhan perayaan Idulfitri di Penyengat pada tahun 1896.

Sejak 122 tahun lalu, penduduk Penyengat  sudah  punya perhatian khusus  terhadap  perayaan Idulfitri.

Kesultanan Riau-Lingga pun mendukung hal-hal semacam ini. Maka dari itu, tidak perlu heran jikalau untuk menyukseskan gawai semacam ini, bukan orang sembarangan yang dilibatkan.

“Jadi kalau sekarang kita melihat orang berpusu-pusu ke Penyengat, sebenarnya ada akar tradisinya, dan ini patut diingat zaman sekarang,”kata Aswandi Syahri.

Sebelum membincangkan sosok- sosok kunci di balik kesuksesan helatan perayaan Idulfitri 1896 di Penyengat,  mari  sama-sama saling mengingat terlebih dahulu bahwasanya tiap 1 Syawal, orang-orang dari pelbagai penjuru mendatangi Penyengat.

Sebagian untuk bersilaturahmi dengan keluarga, ada pula sebagian mereka yang datang untuk sekadar berplesiran. Aswandi berkisah, kunjungan Penyengat seperti yang terjadi sekarang itu juga bahkan dilakukan oleh Resident Belanda di Tanjungpinang untuk mengunjungi Sultan Riau-Lingga untuk melawat dan memberi selamat pada hari raya penghabisan puasa.

“Sebagai ilustrasi, dahulu Resident W.C. Hoogkamer pernah melawat Sultan Abdulrahman Muazamsyah di Istana Keraton Pulau Penyengat,” bebernya. Peristiwa yang disampaikan Aswandi  ini  bersempena  Idulfitri 1 Syawal 1317 atau bersamaan dengan 2 Februari 1900.

Kembali ke tahun 1896. Pada saat itu, Idulfitri bertepatan dengan Selasa 17 Maret 1896. Lid-lid  Rusydiyah Club Negeri Riau yang berada di pulau Penyengat lantas membentuk panitia pelaksana kegiatan perayaan Idulfitri.

“Para  cerdik-cendekia  itu lantas membentuk panitia yang mereka sebut dengan Mangku Jaya. Tugasnya adalah mensukseskan penyelenggaraan berupa Perhimpunan Kesukaan yang diberi tajuk Taman Penghiburan,” jelas Aswandi.

Tak tanggung-tanggung, sambung Aswandi, untuk menjayakan Perhimpunan Kesukaan dalam Taman Penghiburan itu, seluruh pemimpin teras, Lid Rusydiah (Club) dan seluruh Lid Muda Rusydiah (Club) yang sebagian besarnya adalah elit- elit Kerajaan Riau-Lingga ketika itu, terlibat secara aktif dalam kepanitiaan acara tersebut.

Ketua panitia atau Jabatan Kuasa Yang ‘Am dalam acara Perhimpunan Kesukaan itu dipegang langsung oleh Tengku Besar Kerajaan Riau Lingga, Tengku Abdullah ibni Yang Dipertuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf, yang ketika itu menjabat sebagai Presiden Rusydiah (Club).

Sementara ketua panitia pengarah atau Haluan Majelis dipegang oleh maktub fi Rusydiah (Club) yang dijabat oleh Raja Khalid al-Hitami alias Khalid Hitam, suami pengarang perempuan Aisyah Sulaiman.

MANGKU JAYA: Said Syekh Al-Hadi Wan Anom, Timbalan Rusydiah (Club) di Mekkah (sebelah kiri) dan Tengku Usman ibni Sultan Abdulrahman Muazamsyah, Timbalan Rusydiah (Club). Keduanya adalah Mangku Jaya dalam helatan Perhimpunan Kesukaan bersempena Idulfitri yang diadakan oleh lid-lid Rusydiah (Club) Negeri Riau Pulau Penyengat pada tahun 1896.
Dok : Aswandi Syahri

Bahkan, Raja Haji Ali ibni Raja Muhammad Yusul al-Ahmadi atau Raja Ali Kelana yang ketika itu menjabat Wakil Timbalan Rusydiah (Club) dan juga calon Yang Dipertuan Muda Riau turut serta dan bertanggung jawab dalam ikhwal Usaha Perhidangan dengan Kuasa Mengatur Hidangan Jamuan dalam Pehimpunan Kesukaan itu.

“Bayangkan nama-nama itu. Mereka tidak hanya berkarya, tapi  juga ternyata terampil sebagai hmmm …seperti event organizer kalau zaman sekarang,” ujar Aswandi.

Tidak berhenti sampai di sini.

Agar lebih sukses, mereka juga mencetak sebuah buklet tipis yang diberi tajuk Taman Penghiburan yaitu Berita Kesukaan Pada Hari Idul Fitri pada tahun 1313 Hijriah yang bersamaan dengan tahun 1896.

Lantas dengan Izin Keadilan Negeri Riau Pulau Penyengat, dalam buklet tersebut juga Berita Rusydiah (Club) yang antara lain menjelaskan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri yang kedua, yaitu pada siang hari Selasa tanggal 2 Syawal 1313 Hijriah bersamaan dengan 17 Maret 1896 Miladiah, lid lid Rusydiah (Club) akan mengadakan beberapa permainan sempena menzahirkan kesukaan dan membesarkan bagi menerima Hari Raya yang mulia….

Dalam Berita Rusydiah (Club) itu, sambung Aswandi, juga disebutkan bahwa seluruh rangkaian perlombaan dalam Perhimpunan Kesukaan tersebut akan diselenggarakan di “…sekeliling halaman (gedung) Rusydiah (Club)…pada siang hari Selasa (dari) jam pukul 2 hingga (waktu) Asar pukul 5 ½ …”

Buklet tipis yang berfungsi sebagai pengumuman dan sekaligus undangan terbuka kepada siapa saja tersebut ditutup dengan sebuah iimbauan yang menyatakan bahwa “barangsiapa yang beroleh tiket hadir hendaklah menjukkan kepada belaan majelis adanya.”

Dari fakta sejarah ini, tampak jelas profesionalitas para cendekia dalam menaja perayaan Idulfitri  yang semarak di Penyengat hari itu. Seperti kegiatan-kegiatan hari ini yang menyertakan semacam buku panduan, undangan, dan sekaligus pengumuman.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwasanya agar lebih semarak, turut diadakan perlombaan berupa permainan rakyat bersempena Idulfitri masa itu.

“Permainannya bahkan sampai masa kini masih sering dimainkan pada peringatan Kemerdekaan Indonesia tiap 17 Agustus,” ujar Aswandi.

Dari sejumlah referensi, Aswandi mencatat, ada 14 permainan dan perlombaan dalam acara yang berlangsung sejak pukul 14.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB.

Beberapa di antaranya yang dapat disebutkan adalah: Berlumba Berlari Serta Memasang Rokok Sekali Pusing Sekeliling Pagar Besi di Hadapan Rusydiah [Club]; Berlumba Berlari Dalam Karung Sekali Pusing Empat Orang; Berlumba Kuda Buta Sais Bisu Sekali Pusing Tiga Pasang; Berlumba Berlari Mencocok Jarum 10  Batang  Sekali  Pusing  4 Orang; dan permainan Seorang Bersembunyi Tekup Mata Beberapa Orang Mencari Tekup Mata juga di dalam lima menit. Seluruh perlombaan ini terbuka untuk masyarakat luas.

Karena ini perlombaan, sudah pasti ada hadianya. “Hadiahnya saat itu adalah uang tunai yang bervariasi antara 74-20 dollar,” ungkap Aswandi.

Fakta sejarah ini, sambung Aswandi, lantas mendapat perhatian dari peneliti asing. Adalah sejarawan Timothhy P. Barnard dari Universitas Kebangsaan Singapura dalam artikelnya bertajuk “Taman penghiburan: Entertainment and the Riau Elite in the Late 19th” Century (MBRAS, vol LXVII, Part 2, 1994), menyebutkan penyelenggaraan permainan dan perlombaan dalam memeriahkan hari besar Islam seperti Idulfitri yang dilakukan oleh sebuah  perkumpulan cerdik-cendekia seperti Rusydiah (Club) pada tahun  1896 itu adalah suatu yang baru di Alam Melayu.

Daftar perlombaan dan permainan yang dicantumkan dalam buklet Taman Penghiburan, tulis Timothy, adalah suatu yang mengejutkan: kegiatan yang tak lazim dilakukan oleh sebuah kelompok atau perkumpulan cendekia Melayu ketika itu.

Masih menurut Timothy, cara pandang lid-lid Rusydiah (Club) tersebut bertolak belakang dengan sikap Raja Ali Haji tiga dekade sebelumnya. Tokoh sentral seperti Raja Ali Kelana dan Said Syeikh al-Hadi tampaknya sangat terbuka terhadap pengaruh Barat atau, paling kurang, pragmatis dalam pendeka- tannya terhadap Barat pada satu sisi, dan kental keislamannya pada sisi yang lain.

Tentang hal ini, Aswandi juga punya pendapat. Menurutnya, hal itu sudah tercermin lewat penamaan komunitas itu sendiri. “Pemilihan nama Rusydiyah Club itu saja bisa jadi awal gejala. Ketika nama dari bahasa Arab dan bahasa asing digabungkan menjadi satu,” ujar Aswandi.

Namun satu hal perlu digarisbawahi dari fakta sejarah ini, kata Aswandi, adalah helatan bersempena Idulfitri itu masih berperisa Melayu.

“Campuran permainan mulai dari Berlumba berlari serta mengambil dan memeluk niur (buah kelapa)hingga Berlumba berlari bertinggung, dan Bersembunyi Tekup Mata, umpamanya, mewakili sebuah campuran hiburan dan permainan dalam budaya Melayu dan Barat,” pungkas Aswandi.

Pemaparan fakta sejarah ini, setidaknya bisa menjadi landasan jikalau pemerintah kota Tanjungpinang berkeinginan menghadirkan kenangan 122 tahun silam yang pernah terwujud melalui Perhimpunan Kesukaan itu.Aswandi sepakat dengan ini.

“Bisa saja dikemas dalam bentuk festival atau apalah. Setidaknya, jika benar-benar diseriusi, program secara ini tidak cuma melestarikan kebudayaan yang pernah ada, tapi juga bisa menjadi bagian dari kegiatan pariwisata,” ujarnya.

Pertanyaan paling besar: Adakah kepedulian untuk itu semua?***

Tinggalkan Balasan