Ramadan yang Berkualitas

0
1.324 views

AJARAN Islam menganjurkan manusia agar senantiasa menjaga perhubungan baik dengan sesama manusia. Anjuran sekaligus perintah itu tak boleh diabaikan oleh setiap muslim karena memang bersumber dari Allah Azza wa Jalla. Di antara ayat Allah yang menjelaskan perkara itu adalah yang berikut ini.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (Q.S. Al-Hujuraat:13).

Firman Allah di atas menyiratkan anjuran kepada manusia, yang fitrahnya dijadikan-Nya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya menjalin perhubungan yang baik dengan sesamanya. Dengan demikian, manusia dapat saling mengenal seperti yang diperintahkan-Nya  sehingga terciptalah harmoni dalam masyarakat. Manusia dengan amalan terpuji itu laksana mengenakan “pakaian” para aulia dan anbia yang tak diragukan lagi berkah dan faedahnya.

Perintah Allah SWT itu telah mengilhami Raja Ali Haji rahimahullah untuk membahas perkara-perkara yang bersabit dengan muamalah di dalam karya beliau.  Berdasarkan ajaran itulah, Raja Ali Haji di dalam karya-karya beliau menganjurkan manusia untuk mengikuti jalan keselamatan yang dituntun oleh Rasulullah SAW. Melalui karya beliau Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji memperingatkan manusia agar menjaga perhubungan baik dengan sesama manusia. Di antara perilaku yang wajib diperhatikan itu adalah jangan suka mencela orang lain dalam pergaulan kita sehari-hari. Sifat dan amalan mencela itu tergolong perilaku buruk.

 

Apabila banyak mencacat orang

            Itulah tanda dirinya kurang

 

Perbuatan mencacat, menyalahkan, dan mencela orang lain bukanlah amalan yang baik sehingga tak patut dilakukan. Raja Ali Haji menyindir bahwa manusia yang suka mencela atau mencacat orang lain itu sebagai tanda kekurangan pada diri si pencela itu sendiri. Artinya, sifat dan perangai suka mencela orang lain tergolong perilaku buruk, sebaliknya sesiapa pun yang mampu mencegah dirinya melakukan celaan terhadap orang lain merupakan penanda kehalusan budi yang dimilikinya.

Umumnya manusia senang disebut sebagai orang yang baik perangai atau berperilaku baik. Kalau demikian, jangan suka membuka aib orang. Amanat itu terdapat di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedelapan, bait 7.

 

Keaiban orang jangan dibuka

            Keaiban diri hendaklah sangka

 

Setiap manusia sangat jarang tak memiliki keaiban. Pasalnya, manusia itu memiliki kelemahan. Akan tetapi, keaiban orang tak boleh diceritakan kepada orang lain di dalam pergaulan hidup ini meskipun kita mengetahui orang itu memiliki aib. Sebaliknya, setiap manusia mestilah menyadari bahwa dia sendiri pun tak bebas dari aib. Itu pun tak boleh juga diceritakan kepada orang lain, tetapi cukuplah dijadikan pelajaran bagi diri sendiri dan segera bertaubat kepada Allah. Dengan begitu, akan tercipta keharmonisan dalam perhubungan kita dengan orang lain.

Tak ada manusia yang tak memerlukan kawan atau teman di dalam hidup ini, sehebat apa pun dia. Tanpa kawan manusia akan terperangkap ke dalam jebakan keterasingan yang sungguh mendera, menyakitkan, dan mencekam. Oleh sebab itu, kiat berteman memang harus dipelajari. Supaya orang lain suka berkawan dengan kita, adalah menjadi kewajiban setiap manusia untuk berbuat adil dengan kawan. Amanat itu terekam di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesepuluh, bait 5.

 

Dengan kawan hendaklah adil

            Supaya tangannya jadi kapil

 

Amanat Raja Ali Haji dalam gurindamnya di atas tiada lain harus adil kepada kawan. Kalau amalan itu yang dibuat, nescaya kawan akan bersedia menolong kita bila-bila masa saja (tangannya jadi kapil) ketika kita memerlukan pertolongannya. Adil kepada kawan, tentu jugalah kepada semua orang, dalam pergaulan dengan sesiapa saja, sehingga perilaku mulia lagi terpuji itu menjadi amalan hidup sehari-hari. Itu juga menjadi kualitas kehalusan budi dalam perhubungan manusia dengan sesama, lebih khas lagi dengan kawan atau teman. Perbuatan menikam teman dari belakang dengan perbuatan biadab merupakan perilaku yang amat tercela, apa pun situasinya, sehingga dikecam oleh semua tamadun yang pernah wujud di dunia ini.

Di dalam pergaulan hidup ini harus disadari bahwa manusia diciptakan oleh Allah sama derajatnya. Sifat dan sikap itu mesti menjadi amalan di dalam pergaulan hidup supaya semua orang berasa suka lagi bahagia bergaul dengan kita. Amanat itu terdapat di dalam karya Raja Ali Haji Tsamarat al-Muhimmah. Berikut ini periannya.

“Dan lagi kelebihan yang zahir pula, jika kita tilik kepada manusia, maka asalnya itu bersamaan semuanya, bani Adam. Maka di dalam hal itu, di dalam dunia ini, berlebih-lebihan setengah atas setengah seperti segala anbia, aulia, dan ulama. Maka lebih daripada segala orang yang am, yaitu tiada sebab lain, melainkan sebab ilmu yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepadanya,” (Raja Ali Haji dalam Abdul Malik, Ed., 2012:23).

Dengan penuturan beliau di atas, Raja Ali Haji menegaskan amanat ini. Setiap manusia sebetulnya diciptakan tanpa perbedaan. Satu-satunya yang membedakan manusia di hadapan Allah hanyalah ilmunya sahaja, yakni ilmu yang membawa ke jalan takwa. Dalam hal ini, ilmu yang benar dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain sesuai dengan petunjuk Allah. Oleh sebab itu, sangat arif kiranya jika kita tak memandang perbedaan dari sudut pandang apa pun di dalam bergaul dengan orang lain. Orang yang sanggup mengamalkan perilaku mulia itu tergolong manusia yang terpuji.

Pesan itu mengingatkan kita akan wasiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. di dalam syair beliau. “Manusia dipandang dari segi tubuh sama saja, ayahnya Adam dan ibunya Hawa. Kalau mereka itu membangga-banggakan keturunan,  keturunannya pun sama, tanah dan air.”

Dalam hal kelebihan dan kekurangan dalam ilmu pula, tak juga boleh menyebabkan kita berbangga karena berasa lebih daripada orang lain. Allah memang sangat menganjurkan manusia memburu ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi Dia juga mengingatkan kita tentang satu perkara yang mustahak ini.

“Dan, mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu, melainkan hanya sedikit,” (Q.S. Al-Isra’:85).

Itulah pedoman yang pasti nilai kebenarannya. Menuntut ilmu yang benar dan berfaedah adalah wajib, tetapi janganlah membanggakan diri karena memperolehnya sebab ilmu yang diberikan oleh Allah kepada kita sesungguhnya hanyalah sedikit. Karena sedikit itu pulalah kita berpotensi untuk salah, seorang pakar ilmu terhebat di dunia sekalipun berpotensi untuk salah.

Memperbanyak perbuatan baik dalam perhubungan manusia dengan sesama juga dapat dilakukan dengan beramal jariyah. Perkara tersebut dikemukakan, antara lain, di dalam Tuhfat al-Nafis.

“Syahadan adalah kira-kira sebelas hari di dalam negeri Medinah maka baliklah Raja Ahmad itu ke Mekkah al-musyarrafah maka Raja Ahmad pun membeli pula rumah dua buah yang sebuah diwakafkannya kepada Syekh Ismail. Kemudian akhir-akhirnya berpindah kepada Mufti Syafi’i dan yang sebuah diwakilkannya kepada Syekh Muhammad Salih. Kemudian akhir-akhirnya berpindah juga kepada Mufti Syafi’i akan nazirnya,” (Matheson, (Ed.), 1982:302—303).

Dalam karya beliau di atas, Raja Ali Haji menegaskan pentingnya amal jariyah bagi masyarakat. Di dalam kutipan itu diceritakan Raja Ahmad Engku Haji Tua, ayahanda beliau sendiri, membeli dua buah rumah di Mekah untuk dijadikan rumah wakaf bagi sesiapa saja yang menunaikan ibadah haji ke Mekah. Itulah salah satu contoh kehalusan budi manusia dalam perhubungannya dengan masyarakatnya. Jadi, amal jariyah merupakan salah satu wujud dari kehalusan budi.

Amalan ini pun sangat mustahak dilakukan  dalam kaitannya dengan perbuatan mulia lagi terpuji. Dalam hal ini, Raja Ali Haji mengamanatkan manusia agar berani menyeru manusia untuk berbuat baik di dalam hidup ini, di mana pun kita bermastautin.

 

Sifat kepujian dihimpun kepadanya

            Sifat kecelaan jauh daripadanya

            Hai segala kamu umatnya

            Ikut olehmu akan jalannya

 

Kutipan di atas berasal dari Syair Sinar Gemala Mestika Alam. Di dalam syairnya itu Raja Ali Haji menganjurkan manusia untuk mengikuti sifat dan amalan Rasulullah SAW. Begitulah seharusnya manusia yang baik, dia seyogianya sanggup mengajak orang-orang lain berbuat kebaikan walau pelbagai cabaran atau tantangan mungkin akan dihadapi. Alhasil, perbuatan itu akan mewujudkan masyarakat yang baik pula.

Rasulullah SAW bersabda, “Hak tetangga adalah apabila dia sakit engkau mengunjunginya dan apabila dia meninggal dunia engkau mengantarkan jenazahnya. Apabila dia memerlukan uang, engkau pinjamkan dan apabila dia mengalami kemiskinan (kesusahan), engkau tutup-tutupi (rahasiakan). Apabila dia memperoleh kebaikan, engkau ucapkan tahniah (selamat) kepadanya dan apabila dia mengalami musibah, engkau datangi dia untuk menyampaikan rasa duka. Janganlah meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya sehingga menutup kelancaran angin baginya dan janganlah engkau mengganggunya dengan bau periuk masakan, kecuali engkau ciduk sebahagian (masakan itu) untuk diberikan kepadanya,” (H.R. Tabrani).

Nukilan hadits di atas merekamkan ajaran Rasulullah SAW kepada umatnya dalam berhubungan dengan orang-orang di sekitarnya, khasnya tetangga. Dari wasiat Baginda Rasul itu, dapat dipahami begitu pentingnya menjaga perhubungan yang baik dengan sesama, lebih-lebih dengan jiran sebagai bagian dari masyarakat yang paling dekat dengan kita. Perhubungan dengan sesama masyarakat seyogianya seperti dengan keluarga sendiri. Saling menjaga, saling menghormati, dan saling memuliakan memang sangat dianjurkan di dalam Islam sebagaimana tersurat di dalam hadits yang dipetik di atas.

Pada bulan Ramadan yang mulia ini orang-orang yang beriman diundang oleh Allah SWT  untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah. Undangan khas itu hanya diberikan oleh Sang Khalik kepada orang-orang beriman sebagai apresiasi atas keteguhan penghambaan diri mereka kepada-Nya, juga sebagai wujud kasih-sayang-Nya yang tiada berhingga. Oleh sebab itu, amal perbuatan baik yang dilaksanakan pada bulan suci ini disediakan pahala yang berlipat ganda oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Jika kesemuanya itu dapat dilaksanakan dengan baik, dan pada bulan-bulan berikutnya terus dilanjutkan, orang-orang yang melaksanakan ibadah dengan baik itu akan memperoleh anugerah utama sebagai manusia yang bertakwa. Itulah orang-orang yang takut kepada Allah, tetapi malah mendapat rahmat, nikmat, hidayat, dan inayat dari-Nya.

Di antara perbuatan-perbuatan baik itu telah direkam dengan baik oleh Raja Ali Haji di dalam karya-karya beliau, yang rujukannya memang terdapat di dalam ajaran Islam seperti diperikan di atas. Selamat melanjutkan ibadah-ibadah indah Ramadan sampai tuntas. Semoga setelah bulan suci yang penuh keampunan ini, eksistensi kita sebagai makhluk yang paling baik ciptaan Allah terus meningkat, baik kuantitas maupun kualitas.***

 

Tinggalkan Balasan