Lembar sampul Syair Nazam Tajwid al-Qur’an cetakan kedua tahun 1927. (foto: aswandi syahri) dan Halaman 3 Syair Nazam Tajwid al-Qur’an, berisikan bagian yang menjelaskan “Hukum nun dan mim yang bersabu” serta “Hukum mim yang mati”. (foto: aswandi syahri)

Tak ada yang mampu menandingi keindahan lafaz ayat-ayat alquran ketika dibacakan. Keindahan itu terjadi bukan hanya karena kebesaran Allah, tapi juga karena cara membaca huruf demi huruf dan kalimat demi kalimat dalam kalam ilhiah itu diatur dalam sebuah kaidah yang disebut hukum tajwid atau ilmu tajwid.

Dalam sejarah tradisi tulis Riau-Lingga, perihal hukum tajwid ini juga mendapat perhatian beberapa cerdik-cendekianya. Berbagai cara dan formula mereka ciptakan untuk menjelaskan ilmu tajwid ini. Salah satunya adalah dengan memanfaatan syair Melayu sebagai media penyampai, seperti diperlihatkan dalam Syair Nazam Tajwid Alquran yang dihasilkan oleh Raja Haji Muhammad Sa’id dari Pulau Penyengat.

            Syair Nazam Tajwid Alquran adalah salah satu contoh khzanah kepustakaan Melayu Riau-Lingga yang digolongkan oleh Ian Proudfoot (1992) sebagai Early Malay Printed Books, atau buku Melayu cetakan lama menurut Hasan Junus (1998).

Beberapa eksemplar buku Syair Nazam Tajwid Alquran yang diketahui masih berada dalam simpanan sejumlah lembaga dan perorangan, adalah edisi cetakan yang kedua. Dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah yang  beralamat di Jalan Sulan nomor 82 Singapura, pada 1346 AH bersamaan dengan 1927 CE.

Raja Muhammad Sa’id dan Karyanya

            Meskipun berasal dari lingkaran cendekiawan dan keluarga pengarang Riau di Pulau Penyengat, dan cukup banyak menghasilkan karya sejak akhir abad ke-19 di pulau bersejarah itu, penulis syair ini seakan terlupakan dalam penulisan sejarah tradisi tulis Riau-Lingga

Nama lengkapnya Raja Haji Muhammad Sa’id ibni Raja Muhammad Thahir ibni Raja Haji Abdullah Yamtuan Muda Riau IX. Ayahnya, Raja Muhammad Thahir,  adalah seorang ahli ilmu falak dan hakim Mahkamah Besar Kerejaan Riau Lingga di Pulau Penyengat. Sedangkan datuknya, selain menjabat Yamtuan Muda Riau, adalah seorang Mursyid Tarekat Naqsyabadiah al-Khalidiah di Kerajaan Riau-Lingga yang diba’iat oleh Syekh Ismail Ismail bin Abdullah al-Khalidi al-Minangakauwi, dan menyandang gelar potsthumous Marhum Mursyid.

Raja Haji Muhammad Sa’id lahir di Pulau Penyengat pada tarikh yang belum diketahui angka tahunnya. Namun yang pasti, seperti tertera dalam catatan Haji Jakfar bin Abu Bakar Lingga, beliau wafat di Singapura pada hari Selasa 11 Safar 1338 AH bersamaan dengan 4 November 1919 CE.

Seperti ayahnya, Raja Muhammad Sa’id juga dicatat sebagai salah seorang ulama Riau-Lingga. Ia juga pakar dalam bidang ilmu falak yang dipelajari dari ayahnya, dan anggota Tarekat Naqsyabandiah Khalidiah di Pualau Penyengat.

Sama seperti ayah dan saudra perempuannya yang bernama Badariah binti Muhammad Thahir, Raja Haji Muhammad Sa’id  meninggalkan sejumlah karya. Selain Syair Nazam Tajwid Alquran, menurut Wan Muhammad Shaghir (2009), paling tidak, ada tujuh (7) karya Raja Haji Muhammad Sa’id yang telah dapat diidentifikasi.

Pada 9 Safar 1316 AH bersamaan dengan 9 Juni 1898 CE ia selesai menulis sebuah  sebuah karya dalam bahasa Arab yang berjudul Wa’izh li Nafsi wa li Ihwani. Sebuah ‘karya tertua’ dalam korpus buah pena Raja Haji Muhammad Said yang kemudian dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah, di Singapura.

Sebuah karya yang berjudul Jalan Kesatuan atau Al-Irsyad ila Thariq at-Taalufi wa al-ittihad ditulis pula di Pulau Penyengat pada pada 25 Syawal 1325 AH bersamaan dengan 1 Oktober 1907 CE. Atas usaha Raja Haji Umar bin Raja Hasan Riau, Al-Irsyad diterbitkan juga oleh Mathba’ah al-Ahmadiah di Singapura pada 1345 AH bersamaan 1927 CE.

Al-Irsyad diikuti pula dengan sebuah karya terjemahan tentang sejarah kelahiran Nabi Muhammad S.A.W karya Jakfar al-Barzanji, yang kemudian diberi judul ‘Iqdul Jauhar fi Maulid am-Nabi al-Azhar. Karya ini juga selesai ditulis di Pulau Penyengat 11 Ramadhan 1327 AH bersamaan dengan 23 September 1909 CE, dan dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah  di Singapura pada 1327 AH bersamaan 1909 CE.

Raja Haji Muhammad Sa’id juga menulis sebuah buku berjudul Panduan Kanak-Kanak pada 4 Muharah 1335 AH bersaman dengan 31 Oktober 1916, yang kemudian dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah Singapura atas kehendak mudirnya yang bernama Raja Ali bin Raja Haji Muhammad Tengku Nong dan Raja Haji Umar bin Raja Hasan.

Beliau juga menghasilkan kitab Simpulan Islam, yang merupakan terjemahan atas karya Syekh Ibrahim Al-Mashiri tentang sejarah Islam dan sejarah Rasulullah S.A.W. Terjemahan ini dikemas dalam dalam format dwi-bahasa (Arab dan Melayu) ‘….yang amat ringkas dan amat mudah difahamkan oleh murid-murid di dalam tempat pelajaran’. Karya terjemehan ini dicetak oleh Mathba’ah al-Ahmadiah pada 1336 AH bersamaan dengan 1921 CE.

Terakhir, sebagai seorang ahli falakiah, Raja Haji Muhammad Sa’id juga menghasilkan kitab Naskah Hisab, yang selesai ditulis di Singapura pada 1 September 1910 CE.

Nazam Yang Pandak Bicara Tajwid

            Naskah atau ‘master file’ Syair Nazam Tajwid al-Qur’an  selesai dikarang oleh Raja Haji Muhammad Sa’id pada 26 Jumadil Awal sannah 1328 Hijriah bersamaan dengan 30 Mei sannah 1910 Miladiah.

Isinya menjelaskan beberapa kaidah Tajwid, yakni ilmu atau hukum yang berikaitan dengan lafaz atau sebutan yang betul dan tepat dalam membaca huruf dan ayat-ayat Alquran.

Penjelasan perihal tajwid dalam syair ini dibuat secara pandak atau ringkas dan dikemas dalam format syair agar mudah dipahami oleh budak-budak (anak-anak), seperti dinyatakan pada salah satu bait bagian pendahuluannnya: ‘Waba’du inilah nazam yang pandak/ Bicara tajwid ampunya kehendak/ Mudah-mudahan kesamaran tidak/ Dapat dipahamkan olehnya budak.’

Secara keseluruhan, kandungan ini Syair Nazam Tajwid al-Qur’an terbagi atau delapan (8) bagian. Bagian pertama yang merupakan pembuka dan pedahuluan, dikemas dalam lima bait syair.

Bagian berikutnya adalah bait-bait syair-syair berisikan penjelasan prihal hukum-hukum dalam ilmu Tajwid. Secara beturut-turut bagian ini diberi judul sebagai berikut: Hukum nun yang mati dan tanwin; Hukum nun dan mim yang bersabdu; Hukum mim yang mati; Huku lam al dan lam al-fa’al. Bahgian Mad; Hukum Mad beserta Hamzah; dan Bahgian Mad Lam Zai Mim yang digabungkan dengan bait-bait syair penutup keseluruhan syair nazam tajwid Alquran ini.

Berikut ini adalah contoh bait-bait Syair Nazam Tajwid Alquran yang menjelaskan bagaimana cara membaca ayar-ayat yang mengadungi huruf mim yang mati atau Hukum mim yang mati.

 

Mim yang mati diberi makrifat
Hukumnya tiga tiada ampat
Tatkala kemudiannya [huruf] ya didapat
Niscaya (dikhfakan) disitu tempat

Tetapi (idgham) haruslah pula
Demikianlah izharnya tiada cela
Dikhfakan dia terlebih awal
Disisi kebanyakan ‘ulama segala

Jika kemudian mim huruf yang sama
Dengan di satu umpama
Hukum (idgham) kata ulama
Idgham saghir disebut nama

Lain daripada huruf yang dua
Dengan dia jika bersua
Hukumnya (izhar) inilah jua
Inilah ulama ampunya petua

Dalam korpus dunia syair Melayu Riau-Lingga, syair berkenaan dengan ilmu tajwid seperti  Syair Nazam Tajwid Alquran bukanlah satu-satunya atau tipikal karya yang tunggal. Namun demikikan, syair karya Raja Haji Muhammad Sa’id ini dicatat sebagai syair tjwid Alquran yang pertama, yang dikemas untuk kemudahan anak-anak dalam mempelajari dan menguasai tajwid Alquran dengan cepat

Mendahului Raja Haji Muhammad Sa’id, seorang yang bernama Haji Muhammad Kasim bin Haji Husin al-Riauwiah juga pernah menulis Kitab Pelajaran Tajwid. Selanjutnya, lebih kurang delapan belas setelah  tarikh penulisan Syair Nazam Tajwid Alquran  (1328 AH bersamaan 1910 CE), di Daik Lingga, salah seorang zuriat Sultan Lingga yang bernama Tengku Muhammad Saleh Damnah ibni Tengku Abu Bakar, juga menulis manuskrip syair perihal ilmu Tajwid dalam bentuk nazam yang diberi judul Inilah Syair Tajwid al-Qur’an Yang Menunjukkan Jalan Bacaan.***

Artikel SebelumRamadan Menempa Akhlak Mulia
Artikel BerikutIklan Hari Raya Malaysia Pilihan Tahun 2018
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan