NAMA memang menjadi perkara yang amat mustahak dalam tamadun kita. Oleh sebab itu, bangsa kita mengidealkan orang-orang dengan nama baik atau memiliki nama terbilang. Dalam perjalanan hidup di dunia ini, misi utama manusia adalah mengumpulkan bekal secukup-cukupnya untuk menuju tempat bermastautin yang abadi.

Alam akhirat pasti ditemui melalui peristiwa hidup setelah mati. Untuk itu, keterbilangan nama menjadi syarat mutlak yang mesti diperjuangkan oleh setiap manusia di dunia ini.

Sebagai manusia, di ujung pengembaraan dunia, kita wajib meninggalkan sesuatu di dunia yang fana ini untuk selanjutnya membawanya ke alam akhirat yang abadi. Sesuatu yang paling mustahak itu tiada lain nama yang terbilang.

Pasalnya, nama baik merupakan lambang (simbol) jati diri yang mesti diraih oleh setiap manusia karena sejalan dengan petunjuk Ilahi.

Tentu ada alasan bagi kesemuanya itu? Ternyata, memang ada dan, bahkan, banyak. Di antaranya, “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (Q.S. At-Tiin:4).

Selanjutnya, “Dan, sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,” (Q.S. Al-Isra’:70).

Nukilan firman Allah itu merupakan alasan mustahaknya manusia memperjuangkan nama baik. Allah memang menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik, termulia, dan tersempurna di antara makhluk ciptaan-Nya. Atas dasar itu, manusia wajib memelihara segala kebaikan, kemuliaan, dan keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah itu agar keberadaannya sebagai makhluk terbaik dapat dipertahankan.

Jika tidak, tentulah turun derajatnya sehingga tak berbedalah dia dengan hewan sekalipun.

Berdasarkan petunjuk Allah itu, sangat tepat ketika Raja Ali Haji rahimahullah (selanjutnya disingkat RAH) memulai karya agungnya Gurindam Dua Belas (selanjutnya disingkat GDB) dengan persoalan nama. GDB Pasal yang Pertama, bait 1, langsung menyuratkan pernyataan ini.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Jelas sekali RAH sengaja mengusung tema utama nama baik untuk didedahkan di dalam keseluruhan GDB. Nama baik merupakan penyerlah jati diri yang diidealkan setiap bangsa yang beradab.

Selepas itu adalah perkara mewujudkannya. Jika hendak dibilangkan nama, manusia wajib mengenal agama (GDB, Pasal I, bait 1).

Inilah pedoman yang berkaitan dengan mengenal agama itu. “Sesungguhnya, (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku,” (Q.S. Al-Anbiya’:92). Ayat ini merupakan salah satu rujukan untuk menjelaskan amanat yang terkandung di dalam GDB Pasal yang Pertama, bait 1. Dengan pedoman-Nya itu, Allah menganjurkan manusia untuk memeluk dan mengikuti ajaran agama yang satu yakni agama Tauhid yang disediakan-Nya untuk keselamatan dan kesempurnaan jati diri manusia.

Apakah tanda mengenal agama? Pertama-tama, harus diperhatikan persoalan akidah. Dalam hal ini, yang terutama manusia harus mengenal Allah (GDB, Pasal I, bait 3).

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegah-Nya tiada ia menyalah

Manusia yang mengenal Allah ditandai dengan ikhlas melaksanakan suruhan (perintah) dan taat menjauhi tegahan (larangan)-Nya. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah itu dilaksanakannya dengan cara yang benar (tiada ia menyalah).

Lagi-lagi RAH memantapkan amanatnya melalui GDB dengan merujuk firman Allah. “Sesungguhnya, (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku,” (Q.S. Al-Mu’minuun:52).

Di samping menyeru manusia supaya menyembah-Nya, melalui firman-Nya itu, Allah mewajibkan manusia bertakwa kepada-Nya. Bertakwa kepada Allah tiada lain maksudnya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. RAH menyebutnya, “Suruh dan tegah-Nya tiada ia menyalah.”

Persoalan akidah yang berkelindan dengan mengenal agama juga ditandai dengan mengenal diri (GDB, Pasal I, bait 4).

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal Tuhan Yang Bahari

 Mengenal diri bermakna menyadari kekurangan diri sebagai makhluk Allah walaupun manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Namun, manusia tak dapat membandingkan dirinya dengan Allah Yang Mahasempurna. Karena banyaknya sisi kelemahan itulah, manusia harus senantiasa waspada dengan mengharapkan pertolongan dari Tuhan Yang Bahari atau Tuhan Yang Mahabesar.

Sangat banyak pedoman Allah yang disediakan oleh Allah untuk manusia untuk mengenal dirinya. Di antara petunjuk itu yang sejalan dengan GDB adalah ini, “Dan, Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tak mengetahui sesuatu apa pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur,” (Q.S. Al-Nahl:78).

Di antara firman Allah tentang penciptaan manusia yang tersurat di dalam Al-Quran adalah ayat 78 Surat Al-Nahl yang dikutip di atas. Ayat itu tak sekadar menjelaskan penciptaan manusia karena rahmat-Nya, tetapi manusia dianugerahkan tiga alat penting untuk memahami penciptaan dirinya oleh Allah. Dari makhluk yang sama sekali tak berdaya karena tak mengetahui sesuatu apa pun, manusia menjelma menjadi makhluk yang sempurna karena dianugerahkan pendengaran, penglihatan, dan yang paling utama hati.

Dengan unsur-unsur diri itulah seyogianya manusia memahami, menghayati, dan menyadari posisinya sebagai makhluk yang paling istimewa diciptakan oleh Allah. Pada gilirannya, tak ada ungkapan lain yang patut diucapkannya selain bersyukur (berterima kasih) kepada Allah. Tanda kesyukuran itu harus dibuktikan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan sudah barang tentu menjauhi dan atau meninggalkan segala larangan-Nya.

Selanjutnya, manusia dapat dikatakan mengenal agama kalau dia mengenal dunia (GDB, Pasal I, bait 5). Beginilah tuturan RAH tentang perkara itu.

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terperdaya

Dari tuntunan yang diberikan oleh agama kita menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya. Pengembaraan sementara di alam dunia menjadi penuh cabaran atau tantangan sehingga ketika manusia terleka lagi terlena, lari dari pedoman agama, dia boleh jadi lupa mengambil bekal untuk dibawa ke alam yang kekal, tempat yang menjanjikan kebahagiaan sejati bagi mereka yang sungguh-sungguh mengikuti pedoman Ilahi.

Soal karenah dunia yang memperdaya itu pun, GDB tak berganjak dari petunjuk Ilahi. Dalam hal ini, di antara firman Allah tentang dunia tersuratlah petunjuk ini.

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan yang bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan petani, kemudian tanam-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan, di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan, kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah kesenangan yang menipu,” (Q.S. Al-Hadid:20).

Begitu jelasnya penjelasan sekaligus tuntunan Allah tentang kehidupan dunia. Intinya, Allah memperingatkan manusia bahwa dunia ciptaan-Nya itu memang cenderung memberikan kesenangan yang menipu. Hanya manusia yang pandai memanfaat pendengaran, penglihatan, dan hatinya dengan benarlah yang dapat terhindar dari tipuan dunia.

Bagi mereka telah disediakan ampunan dan rida oleh Allah di akhirat kelak karena mereka benar-benar taat mengikuti petunjuk-Nya. Dengan demikian, sangat tepatlah GDB menyebutkan bahwa dunia ini hanyalah sekadar barang yang terperdaya karena dunia tak lebih dari sekadar permainan tipu-daya. Jika lalai, manusia akan terperdaya.

Masih dari sisi akidah, manusia dikatakan mengenal agama kalau dia mengenal akhirat (GDB, Pasal I, bait 6).

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Akhirat adalah alam kekal yang menjadi tujuan akhir pengembaraan manusia. Akhirat menyediakan kebahagiaan sejati bagi yang mengikuti petunjuk Ilahi, tetapi dapat menjadi penderitaan yang juga sejati bagi yang mengingkari. Akhirat jauh lebih bermanfaat daripada dunia, yang justeru lebih memberikan mudarat bagi mereka yang tak mengenal agama. Ringkasnya, bahagia dan nestapa akhirat yang abadi tak sebanding dengan dunia yang fana lagi memperdaya.

Lagi-lagi GDB menyematkan amanat yang selaras dengan kalam Ilahi. Inilah di antara rujukannya yang pasti, “Dan, tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” (Q.S. Al-Ankabuut:64).

Dunia, berdasarkan petunjuk Allah di atas, hanyalah semata-mata permainan dan senda-gurau. Pasalnya, dunia dengan segala suka-dukanya cuma sementara sifatnya. Oleh sebab itu, manusia yang serius memperjuangkan keterbilangan namanya tak boleh terjebak oleh permainan dunia.

Kebahagiaan di akhiratlah yang mesti sungguh-sungguh diperjuangkan walaupun kita tak dianjurkan untuk menyia-nyiakan dunia. Karena apa? Karena, kehidupan sesungguhnya adalah akhirat. Di tempat itulah berlangsungnya kehidupan yang abadi.

Karena ianya (akhirat) abadi, maka jika kebahagiaan yang diperoleh, maka bahagia itu pun abadi. Sebaliknya, jika penderitaan yang diderita, maka deraan itu juga abadi. Nah, tak terbantahkanlah bahwa dibandingkan akhirat, dunia ini hanyalah mudarat. Sama halnya dengan dibandingkan dunia, akhirat itu tak akan berhingga curahan nikmat Allah bagi sesiapa pun yang taat.

Manusia yang memiliki empat pengetahuan yang memadai tentang Allah, diri, dunia, dan akhirat itulah yang mampu mencapai makrifat (GDB, Pasal I, bait 2).

Barang siapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang yang makrifat

Meyakini, mengetahui, memahami, dan menghayati hakikat Allah, diri, dunia, dan akhirat akan mengantarkan manusia kepada penyerahan dan penghambaan diri secara menyeluruh kepada Allah sampai ke peringkat yang tertinggi (makrifat). Itulah bukti keyakinan diri yang tak tergoyahkan oleh segala godaan dunia yang fana.

Manusia yang mengetahui, memahami, menghayati, dan mengamalkan keempat perkara itu pulalah yang akan mampu mencapai kualitas takwa (GDB, Pasal 2, bait 1). Kualitas takwa memang menjadi dambaan setiap insan yang setia kepada Sang Pencipta.

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Dengan mengenal, memahami, dan menghayati keberadaan dan kedudukan Allah, diri, dunia, dan akhirat; manusia akan dengan ikhlas melaksanakan perintah Allah. Dengan ketaatan yang berlandaskan keyakinan dan pengetahuan yang benar dari sumber Yang Mahabenar, dia dengan suka rela menjauhi segala larangan-Nya.

Pasalnya, dia kini mengetahui bahwa yang diperintahkan atau yang dianjurkan itu memang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta semua yang dilarang itu memang mendatangkan kerugian kalau dilanggar.

“Dan, barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan,” (Q.S. An-Nuur:52).

Ayat yang dikutip di atas menjelaskan perihal orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah. Berdasarkan petunjuk Ilahi itu, mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut GDB, orang yang mengenal makna takut itu mengenal Allah, mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal akhirat. Sudah barang tentu pengenalan itu sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Allah yang telah disebutkan terdahulu. Manusia dengan kualitas itulah yang akan memperoleh kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat, sesuai dengan jaminan dari Allah.

Setiap manusia pastilah mendambakan nama yang terbilang. Keterbilangan nama tak semata-mata berdasarkan ukuran manusia, yang cenderung alpa karena pelbagai kecenderungan nafsu yang menggoda. Akan tetapi, dasar keterbilangan yang sesungguhnya menurut tuntunan agama karena bersumber dari kalam Ilahi. GDB menyarankan bahwa hanya manusia yang memegang teguh agamalah—dalam arti melaksanakan ajaran agama tanpa berbelah bagi—yang namanya boleh terbilang, bukan dan tak akan pernah karena yang lain.

Ternyata, amanat GDB itu selaras dengan firman Allah. Berdasarkan kenyataan itu, nilai-nilai agama memang patut diikuti dan diimplementasikan dalam kehidupan ini agar manusia mampu mengusung nama yang terbilang. Tentu maknanya keterbilangan sejati, bukan keterbilangan yang menipu. Pasalnya, hanya keterbilangan sejati yang bermanfaat untuk kehidupan setelah meninggal dunia. Ingatlah, kehidupan kedua itu kekal adanya, sama ada bahagia ataupun derita.***

 

Tinggalkan Balasan