Daik-Lingga adalah mata rantai yang penting dalam tradisi cetak Riau-Lingga sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebuah percetakan milik kerajaan Lingga-Riau di Daik telah menghasilkan sejumlah karya cetak sejak 1886: dua diantaranya berjudul Syair Taman Beradu  dan Hikayat Taman Permata.

Buku Langka

            Judul lengkap Syair Taman Beradu adalah, Bahwa Ini Syair Taman Beradu Yakni Cermin Mata Bagi Segala Yang Awam Pelajaran Pada Perempuan-Perempuan, dengan judul imbuhan,  Di Dalamnya Beberapa Surah dan Bahas Boleh Menjadi Kesukaan Pada Yang Membaca Dia.

Syair yang penulisnya tidak dikenal  (anonymous) ini dicetak oleh Percetakan Kerajaan Lingga di Daik pada tahun 1889, pada zaman Sutan Abdulrahman Muazamsyah (1885-1911) bersemayam di Daik-Lingga.

Adapaun judul lengkap Hikayat Taman Permata adalah, Bahwa Ini Hikayat Taman Permata Yakni Majlis Bagi Segala Raja-Raja dan Orang Besar-Besar, dengan tambahan judul imbuhan, Maka Didalamnya Beberapa Cerita Yang Indah-Indah dan Beberapa Nasehat yang Berpaedah Adanya. Hikayat ini, dikarang oleh al-fakir al-hakir al-mata’raf bi-al-danbi wa-al-takshir Yaitu Tuan Haji Muhammad Yusuf ibni Puspa Teruna: dicetak oleh Percetakan Kerajaan Lingga pada 1889.

Kedua Hikayat dan Syair ini adalah kepustakaan langka (rare books) yang telah dicatat sebagai Early Malay Printed Books oleh Ian Proudfoot (1992). Menurut Proudfoot, hanya tersisa 3 eksemplaar Hikayat Taman Permata, dan kini berada dalam simpanan perpustakaan Oxford Institute of Social Anthropology, School of African and Oriental Studies, dan Cambridge University central Library di London.

Sebaliknya, diketahui hanya ada satu eksemplaar Syair Taman Beradu, dan kini berada dalam simpanan perpustakaan School of African and Oriental Studies, di London, Inggris. Saya beruntung mendapat “salinan digital” dua buku langka hasil cetakan Percetakan Kerajaan Lingga ini berkat budi baik saudara Jenni McCulum di Inggris.

Percetakan Kerajaan Lingga

            Syair Taman Beradu dan Hikayat Taman Permata adalah bukti otentik tentang peran besar yang telah dimainkan oleh Daik-Linga dalam sejarah intelektual Riau-Lingga. Banyak penjelasan dan kejelasan yang dapat disauk dari Hikayat dan Syair ini! Mengapa?

Syair dan Hikayat ini menyimpan rekam jejak sejarah percetakan typography atau percetakan menggunakan huruf timah, sebagai bagian dari mata rantai penting dalam sejarah tradisi tulis dan tradisi cetak Riau-Lingga yang idenya telah digagas oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat sejak tahun 1860-an

Singkatnya, realisasi ide besar Raja Ali Haji tentang pentingnya mesin cetak dan percetakan dalam sebuah tradisi tulis itu, terjadi di Daik-Lingga. Sekitar awal tahun 1860, sebuah percatekan tipografi milik kerajaan dibuka di Daik-Lingga.

Dalam perjalanan sejarahnya, percetakan ini sempat menggunakan beberapa nama resmi: Ofis Cap Kerajaan Lingga, Lingga & Strait Printing Office (1886), Ofis Cap Gabernemen Lingga (1887), dan Percetakan Kerajaan Lingga (1889)

Karya pertama yang dicetak oleh Percetakan Kerajaan di Daik-Lingga ini adalah karya Raja Ali Haji yang berjudul Thamarat al-Muhimmah (1867). Selain Syair Taman Beradu dan Hikayat Taman Permata, secara berturut-turut percetakan ini telah mencetak beberapa karya lainnya seperi, Tsamarat al Muhimmah karya Raja Ali Haji (1887). dua jilid Hikayat Napoleon Bonaparte (1887 dan 1888), Kisah Pelayan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1889), dan Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji (1891)

Menurut Jan Van der Putten dalam Printing in Riau Two Step Toward Modernity (1997:728), percetakan kerajaan di Daik-Lingga ini kemudian dipindahkan ke Pulau Penyengat, tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Riau, pada awal 1890-an.

 Syair Taman Beradu

            Syair Taman Beradu adalah sebuah syair yang berisikan pedoman bagi kaum perempuan dalam menjalankan beberapa kaidah dan amaliah suai ajaran agama Islam: semacam ‘fikih perempuan’ yang memungkinkan dibaca kala senggang, atau menjelang terlelap (tidur atau beradu) di peraduan.

Halaman judul Hikayat Taman Permata koleksi SOAS-London (foto: dok. aswandi syahri)

Didalamnya tersurat untaian syair yang dikemas dalam bentuk dialog beberapa perempuan istri pandita yang bernama Siti Rabiyah, Siti Diyanah, Encik Jamilah istri Haji Abdullah, Encik Meta, dan Siti Afifah yang alim akan ilmu agama ketika mereka  berhimpun berkata-kata membahas akan ilmu dan amalnya serta.

Sepintas lalu, pola penulisan dan penyampaian dalam syair ini mengingatkan kita kepada beberapa syair Riau-Lingga lainnya seperti, Syair Burung karya Raja Hasan yang juga menggunakan dialog sejumlah burung untuk menjelaskan perkara-perkara agama, tasawuf, dan hukum fiqih dalam Islam.

Kandungan isi syair ini dibagi dalam lima bab. Dua bab diantaranya berisikan beberapa pasal, dan diakhiri dengan beberapa nasehat yang dikemas dalam untaian syair. Diawali dengan sembilan belas bait syair pengantar, lalu dilajutkan dengan Bab al-wudhuk  yang menjelaskan peri membersihkan anggota tubuh sebelum beribadah.

Bagian selanjutnya, adalah untaian syair tentang hukum mandi wajib yang diberi judul Mujib al-Asal. Lalu Bab al-Salat, yang berisikan Pasal Rukun Sembahyang, Pasal Membatalkan Sembahyang, Tarkah Sembahyang, Pasal Sembahyang Berjemaah, dan Pasal Kaparat.

Selepas untaian syair yang menjelaskan perkara zakat, Bab al-Zakat, isi syair ini dilajutkan dengan untaian syair Bab al-Tasawuf yang mengandungi pasal penjelasan perihal: Al-‘ain, al-Yadain, Farj, Rijlain, Qalbu, Makna Takbir, Makna Riya’, Makna Ujub, Makna Hasad, Kebinasaan Dengki Makna Syamathahih, Makna Ghadhab, Soal Zann, Makan hub-al-dunnia, Makna Tamak, Dawa’ al-Madhkur, Husn al-Khalk ala-Jamilah Adab al-Waladain, Adab al-Ikhwan, Adab al-Walid, Adab al-Mamluk, dan Adab al-Zaujah ala al-Zauj.

Hikayat Taman Permata

            Tidak seperti Taman Beradu yang digubah dalam bentuk puisi, maka Taman Permata dikemas dalam bentuk prosa, dan berisikan beberapa cerita atau hikayat dari tanah Arab; ikhwalnya beriskan kisah-kisah sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W hingga zaman raja-raja sepeninggal Beliau, dan kaya dengan pengajaran-pengajaran agama serta moral dalam Islam.

Halaman judul Hikayat Taman Permata koleksi SOAS-London (foto: dok. aswandi syahri)

Hanya saja, berbeda dengan Syair Taman Beradu, cerita-cerita dalam Hikayat Taman Permata ditujukan khusus sebagai ‘santapan rohani’ bagi para raja dan orang besar-besar. Fungsinya adalah ‘cermin’ tempat mengambil teladan sempena mengingatkan para raja dan orang besar-besar tentang kelemahan diri (manusia) sebagai mahluk Allah: Mengingatkan para raja dan orang besar-besar, serta semua manusia bahwa “…dunia ini tiadalah ia kekal, seperti orang tidur bermimpi dalam tidurnya…”

Selengkapnya, maksud dan tujuan penulisan Hikayat Taman Permata, dijelaskan pada ‘bagian pembuka’ hikayat tersebut sebagai berikut: “….supaya boleh raja-raja dan orang besar-besar mengambil teladan dan insaf akan dirinya. Barang siapa lalai dengan kebesaran dan kemuliaan didalam dunia ini, hendaklah ia ingat akan hari yang kemudian di dalam akhirat, dan kemulian akhirat itu yang amat kekal dengan sebenar-benarnya.”

Raja-raja yang dikisahkan dalam Hikayat Taman Permata, adalah raja-raja yang amat masyhur dengan kebesaran pada zamannya, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad S.A.W dan sesudahnya: raja-raja besar dan masyhur yang adil serta memelihara rakyat di dalam negerinya, yang memuliakan alim dan ulama, serta  fakir miskin.

‘Kumpulan’ hikayat dalam Taman Permata ditulis bersambung tanpa jeda. Diawali dengan kisah seorang Syekh bernama Abu Ali Daqaq Radhi-Allah-anh dengan Sultan Muhammad dan Sultan Ya’qub di negeri Khurasan, yakni sebuah kerajaan besar yang wilayahnya kekuasaannya mencakupi Afghanistan, Iran, dan Turkmenistan sekarang.***

Artikel SebelumJikalau Hendak Nama Terbilang
Artikel BerikutKarena Budi Jasad Tertawan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan