Kolase Bagan Mata Angin Lapan dalam petunjuk nujum Melayu: Pelangkah Rijal Al-Ghalib. (koleksi: aswandi syahri) lalu Pedoman nujum Melayu untuk melihat ketika baik dan ketika buruk menggunakan perhitungan bintang tujuh. (koleksi: aswandi syahri) lalu Berbagai penjelasan tentang perhitungan ramalan dan pernujuman: meramal pencuri yang dapat ditangkap atau tidak, meramal barang yang hilang dapat ditemukan kembali atau tidak, meramal baik-buruknya seorang perempuan untuk dijadikan istri, dan lain sebagainya. (koleksi: aswandi syahri)

Seorang ahli nujum dalam kebudayaan Melayu bukanlah dukun. Mereka adalah para peramal atau ahlil-nujum yang bekerja dengan kaidah dan petunjuk tertentu yang terdapat dalam kitab ilmu nujum, kitab fa’al, dan sejenisnya. Apakah seseungguhnya ilmu nujum? Apa saja isi kitabnya?

***

Sangat banyak naskah kitab ilmu nujum Melayu yang kini masih dapat ditemukan dan terawat dengan baik dalam simpanan sejumlah perpustakan penting di dunia: Perpusta Nasional Republik Indonesia di Jakarta, Perpustakaan Negara dan Perpustakaan Dewan Bahasa di Kuala Lumpur memiliki beberapa naskah.

Begitu juga sejumlah perpustakaan penting lainnya di Negeri Beanda. Selain itu, tidak sedikit pula naskah yang berada dalam simpanan perseorangan.

Naskah ilmu nujum Melayu yang diketengahkan dalam laman kutubkhanah ini hanyalah salah satu dari sekian banyak naskah ilmu nujum Melayu yang telah diidentifikasi. Kondisinya tidak lengkap lagi.

Jahitan jilitannya telah rusak sehingga terdapat beberapa halaman naskah yang hilang. Namun demikian, bagian-bagian yang tersisa dari naskah ini cukup untuk menjadi bahan ilustrasi sempena menjelaskan dan memperkenal naskah ilmu nujum Melayu secara umum.

Naskah ini adalah salah satu contoh naskah Melayu yang ‘diselamatkan’ dari ‘perdagangan’ barang antik dan naskah kuno Melayu di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2006.

Judul naskah, penulis, atau penyalinnya tidak diketahui. Tidak ada kolofon naskah yang dapat menjelaskannya. Namun, pada margin bawah halaman 28 naskah tersebut  terdapat catatan menggunakan pensil dan dibubuhi stempel kecil berbentuk perisai menggunakan tinta hitam, yang menyebutkan nama pemiliknya: yang punya ini surat Muhammad ‘Ashim.

Tarikh dan tempat naskah ini ditulis atau disalin juga tidak diketahui. Akan tetapi dari capa air GUTHRIE & Co yang tertera pada lembaran kertas yang digunakan dapat diperkiraka nasakah ini berasal dari rentang waktu akhir abad ke-19 hingga awal abd ke-20 (ditulis atau disalin antara tahun 1895-1903).

Naskah yang terdiri dari 56 muka surat dan berukuran 17 x 20,5 cm ini telah dibuat versi digitalnya, dan dicantumkan sebagai naskah dari Kepuluan Riau oleh Jan van der Putten, Alex Teoh, Aswandi Syahri dalam Endanger Archives Programme (EAP) 2007-2008 yang ditaja oleh Biritish Library, London, dengan nomor referensi EAP 153_TPI_ASWANDI_15.

Sub-Genre Ilmu Tradisional Melayu

Istilah nujum  dan sebutan ahli-nujum atau ahli-al-nujum yang dilekatkan kepada orang yang menguasai pernujuman Melayu sesungguhnya berasal dari bahasa Arab.

Dalam kamusnya yang sangat terkenal,  R.J. Wilkinson (1956:810), mencatat makna pertama kosa kata nujum sebagai berikut: “[nujum adalah] bintang yang berkenaan dengan asttologi, dan Ilmu nujum adalah ilmu astrologi adalah sebuah sistem dan cara meramal yang menarik premis atau kesimpulan melalui sebuah keyakinan bahwa ada kait-kelindan antara fenomena astronomi dengan nasib dan kehidupan manusia di alam raya ini”.

Banyak kebudayaan di dunia ini yang telah memanfaat gejala dan fenomena astronomi untuk berbagai kebutuhan tertentu. Para pendukung kebudayaan India, Cina, dan Maya dan Inca umpamanya, telah menciptakan sistem yang rumit dalam membaca fenomena-fenomena astronomi yang punya pengaruh penting dalam kehidupan mereka.

Demikian pula halnya, melalui kebudayaan Yunani, Babilonia, dan Romawi, dunia Barat diperkenalkan dan kemudian mengembangkan sistem horoskop yang erat kaitanya peredaran bintang bulan, dan matahari untuk melihat keperibadian seseorang dan meramal masa depannya.

Di belahan dunia yang lain, orang Melayu juga memanfatan aspek dan gejala-gejala astronomi seperti yang yang dilakukan orang oleh Cina, India, Maya, orang Eropa, untuk kepentingan kehidupannya.

Hal ini lebih jauh ditegaskan oleh Harun Mat Piah (2005) yang menyebutkan bahwa orang Melayu telah menguasa ilmu perbintangn, ilmu falak, dan astrologi sejak zaman prasejarah.

Dalam korpus dunia khazanah naskah kuno Melayu, ilmu nujum adalah sub-genre dari genre kepustakaan ilmu tradisional Melayu yang luas cakupannya. Harun Mat Piah (2000) dan Mohamad Zain Zaharir (2003), menyebutkan, selain ilmu nujum, dalam genre ini juga tercakup sub-genre ilmu-ilmu lainya seperti: ilmu hisab, ilmu tentang binatang dan tumbuhan, ilmu falak-hisab-astronomi, ilmu faraid, ilmu-ilmu pengobatan, dan lain sebagainya.

Ilmu Nujum Melayu

Ilmu nujum Melayu, dan semua ilmu nujum di belahan dunia manapun adalah ilmu untuk meramal sesuatu yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Semua ramalan menggunakan ilmu nujum dibuat berdasarkan perhitungan tertentu atas peredaran benda-benda astronomi (benda-benda langit) dan gejala alam yang diakibatkan oleh peredaran bulan, matahari, letak bintang bintang-bintang, dan arah mata angin.

Oleh karena itu, kedudukan ilmu nujum  terkait rapat dengan astrologi (ilmu tentang bintang-bintang di jagat araya dan hubungannya dengan manusia). Namun demikian, dalam kebudayaan Melayu, pengertian ilmu nujum ini tidak sepenuhnya serupa dengan pengertian astrologi dalam tradisi masyarakat di dunia Barat.

Dalam kitab ilmu nujum Melayu, perhitungan peredaran bulan, matahari, dan bintang, serta gejala-gejala alam, dihubung-kaitkan dengan aspek tertentu dari seorang manusia dengan agamanya (Animisme, Hindu-Budha, dan kemudian Islam) dengan tujuan untuk meramal nasib masa depan, keberuntungan, dan baik buruk sesuatu yang akan dilakukannya.

Dengan mengaitkannya kepada arah mata angin umpamanya, seorang ahli nujum Melayu dapat meramal baik buruknya niat seseorang dari posisi duduknya ketika bertandang ke rumah tetanggnya. Dengan memanfaatkan gejala alam yang sama, seorang tok nujum Melayu juga dapat meramalkan musim hujan,  dan waktu yang baik untuk bercocok tanam, meramal datangnya gempa, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, dengan memanfaatkan peredaran yang disebut bintang tujuh yang lengkap dengan tabel kaidah penggunannya dan dihubungkan dengan perhitungan nama orang tertentu, seorang ahli nujum Melayu dapat meramalkan ‘gerak dalam diri’ seorang anak manusia untuk melihat ketika baik-buruknya, meramal, dan menilik keberuntungan dalam kehipannya.

Pada bagian yang lain, melalui ilmu nujum Melayu, juga dapat diramal nasib dan masa depan seseorang bedasarkan peredaran bintang dua belas, yang ditandai oleh bintang tertentu yang mewakili dua belas sifat dan dihubungan dengan angka-angka tertentu hasil perhitungan terhadap nilai huruf-huruf yang membentuk nama seseorang.

Kaidah peramalan dalam ilmu nujum Melayu, terutama dalam kaitannya dengan mendirikan rumah dan bercocok tanam umpamanya, juga dapat dilakukan dengan memanfaat taksiran perkisaran naga yang dikaitkan dengan peredaran dan arah mata angin.

Selain itu, khazanah ilmu nujum Melayu juga menyediakan kaidah khusus dalam menentukan hari baik dan burik dengan memanfaatkan Pelangkah Rijal al-Ghalib, yakni suatu yang diyakini sebagi roh alim ulama, dan khalifah yang berada dimuka bumi dan diyakini menjadi pelindung manusia.

Menurut Harun Daud (2010) dalam sistim ramalan pelangkah Rijal al-Ghalib ini, arah duduk Rijal al-Ghalib dalam satu minggu dikaitkan dengan  tokoh tertentu, termasuk Nabi Muhammad S.A.W.

Sebagai illustrasi, misalnya pada hari Ahad, ketika matahari berada pada sepuluh tapak bayang-bayang, Rijal al-Ghalib berada di Tenggara. Saat itu adalah saat yang baik untuk melakukan sesuatu yang diibaratkan seperti garuda mendapat ular, dan juga dianggap sebagai langkah kepunyaan Nabi Adam.***

Tinggalkan Balasan