DALAM perhubungan secara vertikal dengan Sang Pencipta, Allah SWT,  yang dikaitkan dengan karunia kehidupan di muka bumi ini, tak ada ungkapan lain yang patut diucapkan, kecuali rasa syukur yang mendalam. Soal  cara mengekspresikan kesyukuran itu terpulanglah kepada keyakinan masing-masing.

Bagi orang Melayu-Islam, pedoman kesyukuran itu amat jelas, antara lain, firman Allah, “Dan jika kamu bersyukur, nescaya Dia meridai kesyukuranmu itu,” (Q.S. Az-Zumar:7). Rasanya tak ada nikmat yang lebih tinggi daripada rida Allah atas nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada makhluk-Nya selama hidup di dunia ini.

Jelaslah anugerah Allah itu tiada berhingga, tak terhitung jumlah dan nikmatnya bagi manusia. Walaupun begitu, bagi kita yang bermastautin di Kepulauan Riau, yang dulu dikenal sebagai Kerajaan Riau-Lingga,  sekurang-kurangnya anugerah itu dapat dibedakan atas tiga kelompok utama yang memang patut  dipelihara dan dikembangkan.

Pertama, kita dilahirkan dan dibesarkan di kawasan yang dianugerahi oleh Allah dengan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah. Nikmat ini bersifat sedia kala atau sedia ada. Adalah tugas kita untuk memelihara dan memanfaatkannya dengan baik dan benar tanda rasa syukur kita kepada Allah, yang bersamaan dengan itu supaya tak menimbulkan murka Allah.

Memang, anugerah kelompok pertama itu, kendatipun berlimpah, belum dapat kita nikmati secara optimal. Bahkan, orang-orang dari belahan dunia lain, justeru, lebih menikmati SDA kita dibandingkan kita sendiri. Perkara itu akan panjang lebar uraiannya sehingga tak diperpanjangkan lagi di sini.

Kedua, nikmat sumber daya manusia (SDM) yang secara kuantitatif memadai untuk mengawal kawasan ini. Yang kedua ini bersifat potensial sehingga menjadi tugas kita untuk menciptakan SDM yang berkualitas: cerdas komprehensif, kreatif, inovatif, kompetitif, dan berbudi pekerti (berakhlak) mulia.

Ketiga, nikmat itu akan semakin nikmat pula kita nikmati jika potensi SDA yang kita miliki dapat dikelola dengan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran bersama sampai ke generasi mendatang.

Yang ketiga ini juga jelas masih bersifat potensial yang sangat memerlukan komitmen SDM yang berkualitas dalam ukuran kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual untuk memperjuangkannya. Jika tidak, kita akan terbelenggu hidup dalam “kerajaan kata-kata”, yang diimplementasikan dengan “janji tinggal janji” oleh para penganut faham permainan kekuasaan untuk memperdaya manusia.

Dikiranya pintarlah dia itu, padahal itulah sikap dan perilaku yang sangat dimurkai oleh Tuhan sehingga sudah pastilah ganjarannya kelak, lekas  atau laun.

Untuk menciptakan SDM berkualitas yang dicita-citakan itu, kita sadar sesadar-sadarnya bahwa generasi Melayu, antara lain, haruslah memiliki apresiasi yang memadai terhadap kebudayaan dan tamadunnya.

Perkara ini sangat mustahak lagi genting. Dengan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan kecintaan terhadap tamadun itu, akan timbul hasrat yang besar untuk memiliki dan memperjuangkannya dengan penuh tanggung jawab, mengekalkan, membina, dan mengembangkan warisan tamadun yang memang ranggi itu.

Dengan begitu, di satu sisi nilai-nilai tamadun Melayu akan membentuk generasi yang berkarakter baik dan berakhlak mulia. Di sisi lain, nilai-nilai yang penuh dengan kehalusan budi itu akan terus berkembang untuk menjadi pedoman nilai bagi generasi Melayu, khasnya, dan masyarakat, umumnya, dalam menjalani hidup, sama ada pada masa kini ataupun yang akan datang.

Dengan demikian, gerak dinamis tamadun Melayu dan nilai-nilainya yang terala akan terus bermekaran dan secara pragmatis bermanfaat dalam kehidupan kita dan generasi berikutnya serta terus memberikan sumbangan dan pencerahan bagi peradaban manusia.

Berhubung dengan itu, kita sekali lagi harus bersyukur kehadirat Allah SWT karena negeri kita telah dianugerahi khazanah kebudayaan dan tamadun yang berlimpah. Ini sungguh tak ternilai harganya, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Tradisi lisan dan tulis kita yang tersedia telah mengantarkan orang Melayu ke puncak jaya tamadun Melayu-Islam yang sangat membanggakan, sekurang-kurangnya pada masa lalu.

Nah, agar kita tak terbenam dalam kebanggaan masa lampau, seyogianya dilakukan upaya tandingan oleh generasi yang hidup pada masa ini. Ingatlah bahwa ciri khas tamadun Melayu yang sangat menonjol adalah berkembangnya tradisi intelektual.

Dalam hal ini, kita patutlah berterima kasih kepada para pendahulu sejak zaman Kesultanan Melayu yang lampau. Mereka telah bekerja bertungkus lumus, bermandi peluh, dan berhempas pulas untuk memperjuangkan orang Melayu dan tamadunnya menuju puncak kejayaan.

Warisan yang mereka tinggalkan bukan saja sangat membanggakan kita yang hidup pada hari ini, melainkan juga sangat bermanfaat untuk kita pedomani dalam menjalani kehidupan, apa pun profesi dan pekerjaan kita dalam hidup ini sekarang dan nanti.  Bahkan, karena tamadun Melayu meletakkan Islam sebagai terasnya, pengamalannya dalam hidup di dunia nescaya akan memungkinkan kita juga memperoleh kebahagiaan di akhirat kelak.

“Ingatkan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti. Akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta,” amanah didaktis yang sastrawi dari Raja Ali Haji rahimahullah.

Para pendahulu kita yang dimulai oleh Bilal Abu dan Raja Haji Ahmad Engku Haji Tua, sekadar mengilasbalikkannya dari tradisi Riau-Lingga sahaja tanpa mengambil yang jauh lebih ke atas, telah menanamkan semangat betapa mustahaknya mengembangkan tamadun untuk menyerlahkan, mempertahankan, dan memartabatkan jati diri bangsa.

Dalam barisan berikutnya ada Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, Raja Haji Ali, Raja Haji Abdullah Mursyid, Raja Saliha, Raja Haji Daud, dengan Raja Ali Haji sebagai pemimpin barisannya. Ketauladanan yang mereka berikan menyemangati generasi Raja Safiah, Raja Hasan, Encik Kamariah, dan lain-lain.

Berikutnya, berdiri dengan sanggam, segak, tegap, dan tegar Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, Abu Muhammad Adnan, dan sang pejuang tamadun yang sangat bermarwah, siapa lagi kalau bukan Aisyah Sulaiman.

Itu memang senarai yang tak lengkap, sekadar menyebutkan contohnya belaka. Di belakang mereka ada penguasa arif yang rela berkorban dan berjuang memberikan laluan selempang-lempangnya: Sultan Mahmud Riayat Syah, Raja Haji Fisabilillah, dan Engku Puteri Raja Hamidah.

Pasalnya, tak akan pernah ada sebuah tamadun yang maju dan berdiri tesergam jika tak disokong dengan gegap-gempita oleh pemimpin negeri. Dalam konteks masa lalu itu, kita sekali lagi patut bersyukur kepada Allah karena pernah diberikan pemimpin dengan semangat, kemampuan, dan kemauan politik untuk menjayakan dan memperkasakan tamadun, yang sampai bila-bila masa pun takkan pernah dapat dilupakan orang.

Dari buah pikir, daya kreatif, dan ketekunan mereka yang luar biasa, dunia Melayu telah mewarisi tradisi literasi yang sangat mengagumkan, di samping tradisi lisan yang memang telah lama ada. Bahkan, Haji Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang menghimpun tradisi lisan pantun menjadi tradisi tulis. Bukan hanya kita yang berasa kagum, bahkan dunia pun mengakuinya. Mereka telah mengajarkan kita bahwa memelihara warisan tamadun yang agung mestilah bagai menating minyak yang penuh: dengan ikhlas, sepenuh hati, kerja keras, dan siap mati—kalau perlu—untuk membelanya.

Karena kerja keras, ikhlas, dan penuh kecintaan dari para pejuang itulah; bahasa kita, bahasa Melayu, mencapai puncak kejayaan, dijunjung menjadi bahasa persatuan dan bahasa negara, bahasa Indonesia. Tak hanya sampai di situ, mereka telah mewariskan kepada kita pelbagai bidang ilmu seperti agama, bahasa, sastra, filsafat, sejarah,  politik, pemerintahan, astronomi, sosiologi, antropologi, ekonomi, kedokteran, dan masih banyak lagi.

Dengan perjuangan itu, Raja Ali Haji telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Bapak Bahasa Indonesia dan Pahlawan Nasional sejak November 2004. Itulah di antara bukti nyata bahwa negeri ini, Kepulauan Riau, menjadi pusat tamadun Melayu pada masa lalu, antara abad ke-18 sampai dengan awal abad ke-20.

Kita tentulah tak mengharapkan generasi Melayu hanya bertumpu pada kebanggaan masa lampau. Apa-apa yang telah dicapai oleh generasi terdahulu dan yang kita perbuat sekarang, hendaklah dilanjutkan oleh anak-cucu dengan kecintaan yang sama, kalau dapat lebih hebat dan perkasa lagi.

Untuk mencapai matlamat itu, haruslah kita pikirkan bersama-sama kerja-kerja apa saja yang boleh dan patut kita lakukan untuk lebih menyemarakkan lagi perkembangan tamadun Melayu ke depan ini.

Kesemuanya itu bukanlah sekadar pertunjukan kehebatan, melainkan memang mustahak kita perlukan untuk membentengi kepribadian bangsa. Kita sangat tak berharap bahwa generasi kita hanya menjadi peniru tamadun atau peradaban bangsa lain. Karena apa? Karena, imitasi itu palsu sehingga sangat berbahaya dan dapat merusakkan sendi-sendi kehidupan bangsa.

Secara geografis, Melayu memiliki kawasan yang sangat luas di nusantara ini. Di kawasan yang luas itu terdapat pemerintah negara dan pemerintah daerah (kerajaan negeri, provinsi, kabupaten, dan kota) yang sangat representatif.

Bukankah kita dapat bersinergi untuk meningkatkan kerja sama dalam memelihara, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kebudayaan dan tamadun kita? Bagi para pemimpinnya, amat sia-sialah kekuasaan yang diamanahkan rakyat jika mereka tak mau memberi perhatian yang sewajarnya terhadap perkara yang mustahak lagi genting ini.

Jika kita mau mencontoh dan belajar dari kejayaan Kesultanan Riau-Lingga saja, tamadun Melayu menduduki singgasana emasnya dan memberikan mutiara  budi-pekerti serta kebanggaan bangsa karena pemimpin dan rakyatnya sama-sama bersinergi untuk memajukannya. Itulah kunci kejayaannya mencapai puncak mahligai tamadun sehingga boleh dipakaikan mahkota tujuh bintang peradaban.

Kesemuanya itu adalah warisan tamadun yang berharga milik kita bersama. Dengan demikian, menjadi tanggung jawab kita bersamalah untuk mengekalkan, membina, dan mengembangkannya ke depan ini. Jika kita ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam perjuangan memajukan dan memperkasakan tamadun kita ini, Insya Allah, sekian nikmat Allah akan kita nikmati lagi. Bukankah itu janji Allah?

Kita sangat berharap agar lembaga pemerintah dan masyarakat di kawasan Melayu di nusantara ini, para cendekiawan, budayawan, seniman, usahawan, politisi, dan mereka yang berkhidmat di pentadbiran negeri (pemerintahan) bersedia untuk merumuskan, merencanakan, dan melaksanakan kerja-kerja yang memang patut untuk dilakukan.

Jika tak dapat melampaui capaian para pendahulu, saya yakin, kita memiliki kemampuan, kemauan, dan semangat yang sama untuk sekurang-kurangnya menyamainya. Jika Rusydiah Kelab mampu melahirkan pemikir-pemikir kelas dunia seperti Raja Ali Kelana, Khalid Hitam, dan Sayyid Sekh Al-Hadi, yang menjiwai semangat Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim, takkanlah kita sekarang harus kalah dari mereka. Pasal apa? Generasi kita sekarang mendapatkan pendidikan yang relatif lebih baik daripada mereka.

Takkah kita berasa malu terus terpuruk di lembah degradasi kultural yang menyesakkan dada selama ini? Takkah kita prihatin SDA kita justeru lebih banyak dinikmati oleh orang lain? Padahal, kita memiliki fasilitas yang relatif lebih baik sehingga sangat memungkinkan untuk maju menjadi masyarakat modern yang madani berteraskan tamadun kita, tamadun Melayu. Persoalannya hanya kita hendak atau tidak?

Sesungguhnya,  sesebuah tamadun adalah amanah Allah kepada manusia. Ia juga sekaligus nikmat Allah yang patut dinikmati dengan benar dan disyukuri. Dalam hal ini, patutlah kita renungkan firman-Nya yang memperingatkan kita, “Sesungguhnya,  Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi sumber penghidupan. Amat sedikitlah kamu yang bersyukur,” (Q.S. Al-A’raf:10).

Sejatinya sebuah tamadun merupakan sumber penghidupan dan kehidupan. Ianya adalah  buah dari daya pikir, daya rasa, dan daya kreatif manusia dengan memanfaatkan dan mengembangkan kecerdasan komprehensif (intelektual, emosional, sosial, dan spiritual) yang dianugerahkan Allah.

Siapa pun kita, akan sangat eloklah jika kita mau menjadi orang-orang yang benar-benar bersyukur. Caranya, tentulah kita harus merawat, mengawal, membina, dan mengembangkannya dengan sepenuh hati dan memanfaatkan sumber daya yang kita miliki. Dengan demikian, bermakna kita telah melakukan upaya, “Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui.”***

Tinggalkan Balasan