ADA kalanya sesuatu pertemuan cenderung tak terduga, bahkan ada pula yang terkesan aneh. Kesan itu pernah saya alami. Sebagai sesama penggiat kebudayaan, saya dan Tusiran Suseno kali pertama bersemuka bukan pada peristiwa budaya, melainkan pada peristiwa politik.

Kala itu awal 2006 ketika saya mencalonkan diri untuk menjadi Bupati Karimun periode 2006—2011. Karena mengetahui saya mencalonkan diri, Tusiran Suseno, Bhinneka Surya Syam, dan Teja Alhabd menemui saya untuk memberikan semangat. Agaknya, karena sama-sama bergiat dalam bidang kebudayaan, para sahabat itu tertarik akan visi saya menjadikan nilai-nilai budaya, khasnya budaya Melayu, sebagai acuan utama pembangunan daerah, khasnya Kabupaten Karimun.

Jadilah kami berjumpa di Batam, tempat saya bermastautin kala itu. Dari perbincangan kami di dalam pertemuan itu, saya semakin yakin bahwa Tusiran Suseno memang memiliki komitmen yang kuat dalam pengembangan kebudayaan Melayu.

Kenyataan itu membuat kami semakin akrab, lebih-lebih lagi setelah saya berpindah ke Tanjungpinang karena kami agak sering bersua, dan tentu, berbincang-bincang, khususnya tentang kebudayaan Melayu.

Walau pertemuan bersemuka baru terjadi pada awal 2006, saya telah sangat akrab dengan tulisan-tulisan Tusiran Suseno. Semasa masih bermastautin di Pekanbaru (1981—2004) lagi saya telah membaca beberapa karya beliau. Begitu pun sebaliknya, beliau pun biasa membaca karya-karya saya.

Hal itu terbukti dari karya beliau bersama Amiruddin dan Teja Alhabd, Butang Emas (2006), yang menggunakan dua karya saya sebagai referensi: (1) Sastra Lisan Mantra Daerah Riau dan (2) Kepulauan Riau sebagai Cagar Budaya Melayu. Pendek kata, pertemuan karya menjadikan kami bertambah akrab.

Tusiran Suseno adalah tauladan yang paling representatif dalam ketunakan berkarya, khasnya karya budaya. Hampir kesemua genre sastra ditekuni dan ditulisnya. Tak banyak penulis Indonesia yang dapat berbuat begitu, apatah lagi beliau menyepadukan karya-karya tradisional dan modern dengan sangat mesra.

Bang Tusiran, begitu sapaan akrab saya sehari-hari kepada beliau, terkenal sebagai penulis naskah sandiwara radio yang sangat produktif dan handal. Pekerjaan itu terutama dilakoninya semasa bekerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Tanjungpinang.

Dedikasinya dalam bidang ini diakui dengan diperolehnya sejumlah penghargaan. Karyanya Setegar Karang dinobatkan sebagai Juara II Swara Kencana (1989). Ombak Gelombang meraih Juara I Swara Kencana (1991), yang juga terpilih mewakili Indonesia untuk meraih Trophy Morits Hight, Jepang. Dua karya naskah sandiwara radionya yang lain, Pelangi (1995) dan Karam di Laut Hati (1998), masing-masing juga berhasil mendapat Juara II.

Dalam bidang perpuisian pula, beliau menerbitkan antologi bersama penyair lain Karya Cipta Sastrawan Kepulauan Riau (1994). Pada 2006 terbit pula Rampai Budaya Melayu untuk Kepulauan Riau, juga bersama para penyair lain. Karyanya yang lain juga bersama penyair lain terbit pada 2008, Jalan Bersama 2. Beliau juga menjadi penyusun buku puisi ciptaan para pejabat Tanjungpinang, Menatap Bayang, 2002.

Tusiran Suseno juga dikenal sebagai novelis. Sejumlah novelnya telah diterbitkan yaitu Matahari di Bawah Laut (1998), Sebuah Perjalanan: Menapak Tak Berjejak (1999), Bangsawan (2003), Siti Payung (2004), dan Mutiara Karam (2008), yang berhasil meraih Juara II Sayembara Penulisan Novel, Dewan Kesenian Jakarta, 2006.

Kecintaannya kepada budaya Melayu membuat beliau juga menyusun cerita rakyat dan aneka ragam khazanah budaya Melayu. Di antara karyanya dalam bidang ini adalah Pulau Paku (bersama Amiruddin, 2005), Putri Pandan Berduri (2007), dan Butang Emas (2007).

Bang Tusiran juga dikenal sebagai Raja Pantun. Kecintaannya terhadap puisi tradisional Melayu itu membuatnya menulis beberapa karya. Mari Berpantun diterbitkannya pada 2003 dan beliau termasuk penulis naskah pantun untuk Opera Pantun yang dipertunjukkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 29 April 2008.

Bahkan, beliau telah pun menerbitkan karya pantun terakhirnya Sepuluh Ribu Pantun. Saya memang belum membaca dan memperoleh karya terakhir beliau itu. Akan tetapi, saya mengetahuinya karena karya itu termasuk di antara cenderamata yang diberikan oleh Walikota Tanjungpinang kala itu, Hj. Suryatati A. Manan, kepada rombongan Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena), Malaysia, ketika para tamu itu berkunjung ke Tanjungpinang pada 2010.

Karya-karyanya itu menunjukkan betapa akrab dan cintanya Tusiran Suseno terhadap budaya Melayu. Di dalam karyanya Mutiara Karam, beliau mendedahkan betapa kehalusan budi orang Melayu, yang dipertentangkannya dengan kelompok lanun, yaitu perompak yang ganas, kasar, dan tak bertimbang rasa.

Walau ada di dalam sistem sosial masyarakat Melayu, para lanun tak mendapat tempat yang baik di dalam kebudayaan Melayu karena perilaku mereka yang cenderung biadab itu. Melayu sangat mengutamakan ketaatan pada peraturan, keelokan perangai, dan kehalusan budi bahasa. Itulah sebabnya, tokoh-tokoh lanun di dalam Mutiara Karam kesemuanya tewas, termasuk mereka yang akan bertaubat sekali pun.

Agak ekstrem memang, tetapi itulah pilihan nilai yang diambil oleh seorang Tusiran Suseno.

Agaknya, beliau hendak mengatakan, “Tangan yang mencencang, bahu yang memikul. Tak boleh ada pengkhianatan pada sesuatu yang dimuliakan. Sudah tahu jalannya salah, mengapakah jalan itu yang diikuti?” Tak ada kata “ampun” untuk sebuah pengkhianatan kultural, apa pun alasannya. Karena apa? Pasalnya, begitu ditoleransi, ianya akan membawa musibah besar di belakang hari.

Karya-karya Tusiran Suseno merupakan bukti bahwa betapa mesranya dia dengan budaya tanah kelahirannnya, budaya Melayu Kepulauan Riau.

Bukti karya itu juga menjelaskan betapa fasihnya dia membaca untuk kemudian begitu petahnya dia bercakap tentang budaya masyarakatnya.

Dan, bukti karya itu pun jelas menyerlahkan betapa cintanya dia terhadap budaya tempatan di tanah kelahirannya. Kecintaanlah sesungguhnya yang menyemangati seseorang anak manusia untuk berbuat kebajikan. Tusiran Suseno—penyair, novelis, dan budayawan kelahiran Tanjungpinang, 30 Juni 1957—itu, tak diragukan lagi, adalah penafsir kehidupan yang handal.

Kesemua karya Tusiran Suseno sangat menarik untuk dibicarakan. Walaupun begitu, saya sangat tertarik terhadap novelnya Mutiara Karam.

Karena apa? Dengan latar sejarah dan keadaan sosial-budaya masyarakat tempatan, Kepulauan Riau, dia telah berhasil mengangkat masalah utama yang dialami manusia sejagat raya ini: pertarungan abadi antara si putih kebaikan dan si hitam kejahatan. Akan tetapi, karena pelbagai kepentingan pragmatis, sering dijumpai tak ada pembatas yang tegas lagi di antara keduanya.

Pilihan judul Mutiara Karam saja telah menonjolkan kemenarikan itu. Judul itu dapat dipastikan telah memelawa (mengundang) orang untuk membaca isi novelnya sampai selesai.

Pasal apa? Inilah penyebabnya. Mutiara secara denotatif berarti ‘permata yang berasal dari kulit kerang mutiara’ yang adanya memang di dalam laut. Dalam kenyataan sehari-hari, mutiara tak pernah karam sebab karam adalah ‘tumbang di laut atau sungai (tentang alat transportasi air: perahu, kapal, dan sebagainya’).

Dengan demikian, seharusnya yang karam itu adalah kapal atau perahu, bukan mutiara. Mutiara hanya berkemungkinan untuk tenggelam, bukan karam, dalam keadaan ianya telah diangkat dari dasar laut ke permukaan, kemudian terjatuh lagi sehingga tenggelam kembali ke dasar laut. Itu berarti bahwa Mutiara Karam menyiratkan lambang ‘sesuatu yang sangat berharga (mutiara), tetapi kemudian hilang, sirna, dan atau musnah (karam)’.

Apakah yang sangat berharga itu? Apa lagi kalau bukan ‘kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran’. Mutiara Karam sejatinya berkisah tentang pertarungan abadi ‘kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran’ di satu pihak bertempur dengan ‘kesalahan, keburukan, keonaran, dan atau pengkhianatan’ di pihak lain.

Novel ini menggunakan latar sejarah zaman Kesultanan Riau-Lingga dengan keadaan sosial-budaya masyarakatnya kala itu. Pertikaian kian meruncing ketika terjadi perseteruan pihak kerajaan dan orang-orangnya yang melambangkan ‘kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran’ berlawan dengan pihak lanun (perompak, penjahat di laut yang merampas muatan kapal yang berlalu lalang di laut dan sering juga membunuh lawannya yang dirompak itu) yang jelas melambangkan ‘kesalahan, keburukan, keonaran, dan atau pengkhianatan’.

Malangnya, ada gunting dalam lipatan di sisi ‘kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran’ itu. Hal ini dilambangkan dengan pengkhiatan yang dilakukan oleh pihak kerajaan terhadap Tengkuk dan Kaman, yang padahal adalah dua orang panglima kerajaan yang setia. Karena kecewa terhadap penguasa, Tengkuk dan Kaman berpaling tadah masuk ke kelompok lanun.

Dalam hal ini, Tengkuk dan Kaman memilih jalan Hang Jebat: melawan kejahatan dengan menggunakan kejahatan yang lain. Mereka berbeda dengan Hang Tuah: melawan kejahatan atau kezaliman dengan tetap menggunakan kebenaran dan kebajikan, tak berganjak dari tapak suci kebenaran sehingga kejahatan dan pengkhiatan menjadi lumpuh, yang pada gilirannya tamadun manusia dapat diselamatkan.

Mereka juga berbeda dengan Megat Seri Rama yang melawan kejahatan dan kezaliman dengan membinasakan kebiadaban itu dengan cara yang amat keras walaupun dia harus menjadi korban, demi kebenaran dan keadilan sejati.

Sekian lama berada di lingkungan lanun, akhirnya Kaman menyadari dan menyesali kesalahannya. Dia merindui kampung halamannya dan berusaha menebus kesalahannya dengan melawan pihak lanun. Akan tetapi, dia tewas di tangan kawan sesama pelarian dari kerajaan, Tengkuk, yang telah benar-benar menjadi bagai lanun sejati. Peristiwa itu membuktikan betapa sulitnya untuk kembali ke jalan yang benar ketika manusia telah terjatuh ke jurang kejahatan.

Sahar, anak Kaman, yang menjadi lanun karena mengikuti bapaknya, juga sangat merindui kampung halamannya dan berharap dapat kembali ke tanah kelahirannya. Dalam pertempuran antara lanun dan pihak kerajaan, Sahar, bahkan, berpihak kepada kerajaan dan membunuh para lanun. Peristiwa itu juga merupakan simbol upaya manusia untuk kembali ke pangkal jalan (kebaikan) setelah sesat di ujung jalan (kejahatan).

Sahar pun jatuh hati kepada Suri, anak perempuan Encik Bakak, orang Lingga (kerajaan), yang tewas diserang lanun. Suri kemudian ditawan di sarang lanun. Ternyata, cinta Sahar tak bertepuk sebelah tangan. Suri pun mencintai Sahar sepenuh hati. Cinta Sahar kepada Suri melambangkan kecintaan anak manusia kepada kebaikan dan tak ada kebenaran sejati yang menolak kebaikan sejati (cinta Suri terhadap Sahar).

Malangnya, Sahar pun akhirnya tewas juga walaupun telah berusaha kembali ke jalan yang benar. Ada kejahatan yang dibungkus dengan kebaikan palsu yang tak menghendaki kebenaran sejati tampil ke permukaan. Itulah simbol dari tragedi tewasnya Sahar dan tak sampainya kasih pemuda itu terhadap kekasih hatinya, Suri. Sebuah tragedi kemanusiaan, yang juga tragedi kebenaran.

Alhasil, kesemua kawanan lanun itu pun tewaslah, baik lanun sejati (Markong, Marasan, dan lain-lain) maupun lanun yang tercipta karena pengkhianatan (Tengkuk, Kaman, dan Sahar) dalam serangan yang dipimpin oleh Datok Kaya Mepar dari pihak kerajaan. Dengan demikian, tumpaslah sudah kesemua jenis kejahatan dan pengkhiatan.

Bagaimanakah halnya dengan Suri? Namanya saja sangat menarik. Artinya ‘tauladan’. Dia sejatinya anak perawan yang suci yang tertawan di sarang penyamun. Perawan inilah lambang kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran sejati. Cintanya kepada Sahar pun melambangkan nilai itu. Sayang, cintanya tak sampai ke tujuan, atau lebih tepat digagalkan. Bahkan,

Suri pun tewas, sama halnya dengan kekasihnya, Sahar. Maka, kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran sejati pun lenyaplah sudah. Bersamaan dengan itu, punah jugalah ketauladanan. Tak ada lagi tokoh yang dapat ditauladani di dalam kehidupan ini. Tauladan sejati telah dimusnahkan. Ianya dikalahkan oleh “kebenaran” dalam bentuk lain alias kebaikan palsu atau kesucian pura-pura!

Kebenaran yang lain? Tentara penguasa yang dipimpin oleh Datok Kaya Mepar berhasil mengalahkan para lanun. Tak seorang lanun pun tersisa, termasuk lanun yang telah bertaubat dan ingin kembali ke jalan yang benar. Artinya, kebenaran dan kebaikan telah mengalahkan kesalahan dan kejahatan dalam perebutan tahta di singgasana nurani manusia.

Malangnya, ianya bukanlah kebenaran dan kebaikan sejati. Pasalnya, kebenaran itu sedari awal lagi telah ternoda atau tercemar oleh pengkhiatan terhadap Tengkuk, Kaman, dan Sahar oleh penguasa, bahkan lebih-lebih, terhadap Suri yang suci sehingga sang tauladan itu pun ikut menjadi korbannya.

Tinggallah kini “kebenaran, kebaikan, kesucian, dan atau kejujuran” menurut versi penguasa, kebenaran yang didefinisikan demi kekuasaan. Oleh sebab itu, Sahar dan Suri pun harus tewas sebab jika hidup dan berbahagia, mereka akan menjadi ancaman bagi penguasa. Mutiara berdelau itu telah karam, tenggelam, dan terbenam jauh ke dasar lumpur terdalam sebuah pengkhiatan dan keonaran terhadap tamadun manusia.

Sebuah tafsiran kehidupan dan kemanusiaan yang sungguh luar biasa yang telah dibuat oleh seorang Tusiran Suseno. Andaikan para juri Sayembara Novel, Dewan Kesenian Jakarta, 2006 memahami keadaan sosial-budaya Melayu, novel ini tak mungkin meraih Juara II. Tempat terhormatnya seyogianya Juara I. Malangnya, mungkin tak seorang pun di antara dewan jurinya yang memahami budaya Melayu. Tak tertutup kemungkinan ada juga pengkhianatan yang dibungkus rapi dengan “kebenaran” sehingga terjadilah pengkhianatan terselubung di sini. Dan, juri rupanya adalah juga sejenis penguasa bertopeng dalam wujud yang lain.

Siang 31 Maret 2011 kami bertolak dari Bandung menuju Bandara Sukarno-Hatta untuk pulang ke Tanjungpinang. Dari pagi semalam sampai ke malam hari kami sibuk mengikuti acara budaya di Fakultas Sastra, Universitas Pajajaran (Unpad) bersama Walikota Tanjungpinang kala itu atas undangan Fakultas Sastra, Universitas Pajajaran.

Untuk menghilangkan letih dan jenuh selama perjalanan, kami bercerita tentang pelbagai hal, terutama yang lucu-lucu. Dalam hal ini, Bang Tusiran termasuk yang paling banyak menampilkan cerita pendek-pendek yang membuat kami semua ketawa. Tak ada rasa letih atau mengantuk dalam perjalanan dengan bus selama empat jam itu. Begitulah hebatnya cerita-cerita yang dikisahkannya.

Di antara cerita yang dinukilkan oleh Bang Tusiran adalah kata-kata bahasa Melayu yang yang berakhir dengan –il. Kesemua kata yang dijadikannya contoh ternyata lucu-lucu belaka. Karena menarik, saya usulkan kepada beliau kala itu supaya cerita tentang –il itu dibukukan, jangan hanya jadi cerita lisan saja sehingga nanti terbang tak berkesan dibawa angin. Mendengar usul itu beliau tertarik, “Judulnya apa?” tanyanya. “Perkara –il supaya teserlah nuansa Melayunya” jawab saya spontan. Menurut Bhinneka Surya Syam (Tokmok, almarhum), buku itu memang ditulisnya dan telah sampai pada abjad N.

Tusiran Suseno, sastrawan dan budayawan produktif, kelahiran Tanjungpinang itu, memang tak pernah hendak berhenti berkarya. Hal-ilwal –il pun menjadi renungan dan perhatiannya. Memang, dari cerita tentang –il kala itu beliau tak menyebut perihal Izrail, entah mengapa.

Ternyata, Sang Khalik yang menciptakannya telah menetapkan bahwa cukup sudahlah bakti dan pengabdian suci seorang Tusiran Suseno untuk manusia dan dunia. Oleh sebab itu, malaikat Izrail diperintah oleh Allah untuk memanggil pulang Sang Penghalau “Lanun” itu dan dibawa kembali ke haribaan-Nya dengan tenang demi menemukan kebenaran-Nya yang sejati.  

Rabu, 13 Juli 2011 sekira pukul 21.00 WIB, Tusiran Suseno menerima panggilan itu dengan ikhlas seraya mengucapkan kalimah, “La ilaha illa-Llah Muhammad ar-Rasulullah,” tanpa ragu sedikit jua, sesuai dengan iman dan keyakinannya.

Beliau telah beristirahat dengan tenang di pangkuan Allah seraya tersenyum memandang dan menikmati kebenaran yang sesungguhnya, yang selama hidup di dunia yang fana ini diperjuangkannya. Saya yakin, sepahit apa pun perjuangan itu, azam dan cita-cita Tusiran Suseno pasti ada yang melanjutkannya. Patah tumbuh hilang berganti, bergadai nyawa berbuat bakti, mutu terala insan sejati.***

dimuat juga di versi cetak“Jembia,” Tanjungpinang Pos, Ahad, 15 Juli 2018, hlm. 13

Tinggalkan Balasan