BUDI sungguh memegang peran yang sangat mustahak dalam kehidupan orang Melayu. Seseorang akan dihormati jika zahir dan batinnya bersalutkan kehalusan budi. Bersabit dengan itu, seseorang yang sanggup menghargai, mengenang, dan apatah lagi membalas budi orang lain akan mendapat kehormatan yang sama dalam pergaulan hidup. Hanya orang berbudilah yang mampu mengapresiasi sebarang budi dari orang lain.

Secara metaforis, orang Melayu mengiaskan daya tahan budi tak pernah ada habisnya. Jangankan masih di dalam kehidupan di dunia yang fana ini, bahkan setelah jasad tak berwujud pun keberadaan budi tak dapat dilenyapkan. Begitulah dahsyatnya daya ikat budi bagi manusia menurut penghayatan orang Melayu. Oleh sebab itu, nilai-nilai budi senantiasa ada di dalam setiap karya budaya bangsa Melayu, sama ada tersurat ataupun tersirat.

Nyiur gading puncak mahligai
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan tulang berkecai
Budi baik dikenang juga

Budi adalah intipati rohaniah yang bersemayam dalam jiwa dan hati-nurani seseorang manusia. Wujudnya tak terlihat karena berada dalam pikiran, perasaan, dan atau gagasan yang memang merupakan unsur dalaman, kecuali setelah ianya menjelma ke dalam unsur luaran seperti sifat, sikap, perkataan, kelakuan, watak, dan atau perangai. Hanya pada maujud yang konkret itulah dapat dilihat, diketahui, bahkan dinilai budi seseorang.

Budi, sesuai dengan makna asalnya dari bahasa Sansekerta, memiliki arti yang sangat dalam dan unsur kejiwaannya pun amat tinggi. Budi adalah bahagian jiwa yang memungkinkan manusia membuat kebijaksanaan. Dengan budi, manusia mampu membedakan kebenaran dengan kepalsuan sehingga menyerlahkan kebijaksanaan dan atau kearifan.

Walaupun konsep budi diadopsi dari bahasa Sanskerta, dalam budaya Melayu konsep itu mengalami ubah suai (modifikasi) yang mendasar. Hal itu disebabkan oleh pertembungan Melayu dengan Islam sehingga budaya Melayu pun berintikan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, nilai-nilai Islam-lah yang menjadi rujukan utama berkaitan dengan konsep budi yang dipahami dan digunakan oleh orang Melayu sampai setakat ini.

Bukhari al-Jauhari menjelaskan perihal budi secara panjang lebar dalam karya beliau  yang sangat terkenal: Taj al-Salatin. Di antaranya beliau memerikan budi secara indah dan menarik.

“… budi itu, karena ada ia pohon segala kebenaran, dan aku betapa dapat aku tinggal jauh dari budi itu dan tiada menurut padanya, karena ia ada terhampir pada Allah Taala dari sekalian yang ada…. Adapun dalam kitab Sifatu’l-aql wa’l-aqil dikata wujud manusia itu seperti suatu negeri yang makmur, dan raja negeri itu budi itulah, dan menterinya itu musyawarah, dan pesuruhnya lidah, dan suratnya itu katanya. Maka daripada kelakuan pesuruh dan daripada peri katanya itu nyatalah peri rajanya dan kebajikan kerajaannya ….”

Berdasarkan perian itu, dapat disarikan ciri-ciri budi menurut Bukhari al-Jauhari, antara lain, ia adalah (1) entitas dalam diri manusia yang paling dekat dengan Allah, (2) asal-muasal segala kebenaran yang ditunjukkan Allah, (3) yang memancarkan cahaya (kebenaran) ke seluruh tubuh ibarat matahari bagi alam semesta, (4) yang mengarahkan manusia supaya tak sesat,       (5) dengan adanya boleh dibedakan baik dan buruk secara jelas, dan (6) yang membawa kesempurnaan bagi diri dan perbuatan manusia.

Bukhari al-Jauhari juga menguraikan tujuh tanda orang yang berbudi. Ketujuh tanda itu meliputi (1) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya, menyukakan hatinya, dan memaafkan kesalahannya; (2) merendahkan diri kepada segala orang yang kurang martabatnya dari dirinya dan bermuliakan nyawanya kepada segala orang yang lebih martabatnya dari dirinya; (3) sangat berusaha dan menyegerakan segala pekerjaan dan perbuatan yang terpuji; (4) benci kepada segala pekerjaan yang keji dan orang yang jahat; (5) senantiasa menyebut nama Allah, meminta ampun atas segala kesalahan kepada-Nya, dan mengingat maut serta kubur; (6) mengatakan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kepastian, tempat, dan waktunya; dan (7) semata-mata bergantung kepada karunia Allah dalam mengatasi kesusahan dan menyakini bahwa Allah dapat memudahkan segala kesukaran sebab hal itu sangat mudah bagi Allah dan Dia amat mengasihani makhluk-Nya.

Raja Ali Haji rahimahullah pula menjelaskan konsep budi, antara lain, dalam syair yang ditempatkan beliau sebagai penjelasan lema (entri) budi di dalam karyanya Kitab Pengetahun Bahasa.Inilah dinukilkan sebait saja dari syair tersebut.

Orang berakal sangat mulia
Pakaian aulia dan anbia
Barang siapa mengikut dia
Itulah tanda orang bahagia

Berdasarkan syair itu, tanda-tanda budi dan atau orang berbudi itu, antara lain,  adalah (1) pakaian para ambia dan aulia, (2) selalu berbahagia, (3) merendahkan diri, (4) suka memberi, (5) tutur katanya lembut dan manis, (6) tak menyakiti hati orang lain, (7) tak melakukan perbuatan tercela, (8) mampu memimpin semua orang dengan baik, (9) cerdas, (10) tak suka kepada kekejaman, (11) tak suka merendahkan orang kecil, dan (12) tak suka mengejek orang lain.

Konsep budi yang dijelaskan kedua cendekiawan Melayu-Islam yang ternama itu jelas mengarah kepada ajaran Islam. Dalam pandangan mereka, budi merupakan maujud rohaniah yang berasal dari hati. Unsur rohaniah itulah yang harus dijaga supaya ianya sanggup mengendalikan semua fungsi jiwa dan unsur lahiriah manusia. Bahwa budi bersumber dari hati dapat juga dilihat dalam karya Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas (1846), Pasal yang Keempat, bait 1.

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun roboh

Dari bait Gurindam Dua Belas itu dapatlah diketahui bahwa fungsi hati yang dimaksudkan oleh Raja Ali Haji itu adalah juga fungsi budi. Budi-lah yang mengendalikan diri manusia. Jikalau budi baik, maka manusia yang memilikinya pun akan menjadi baik, begitu pula sebaliknya.

Fungsi hati tempat bersemayamnya budi itu semakin jelas terlihat dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang mengacu kepada makna ‘hati’ dalam bahasa kita, tetapi dengan kedalaman makna yang berlapis-lapis. Ada qalb yaitu dimensi hati yang paling luar, lebih dalam lagi ada fuâd yaitu dimensi hati yang lebih dalam dari qalb dan merujuk kepada akal yang mengandung potensi kecerdasan intelektual, ke dalam lagi ada pula tsaqâfah yaitu dimensi hati yang memiliki kecerdasan rohani, lebih dalam lagi ada lubb yang mengandungi semua kekuatan akal atau kecerdasan intelektual dan rohani, dan dimensi yang terdalam adalah sirr yang mengandungi rahasia kerohanian yang paling dalam (rahasia Allah).

Budi itu paling dekat dengan Allah menurut Bukhari al-Jauhari. Menurut Raja Ali Haji pula, budi adalah pakaian anbia dan aulia. Itu bermakna, sumber budi adalah lapisan hati yang terdalam, yang merupakan rahasia kerohanian yang terdalam dan sudah barang tentu pula yang tersuci serta tersakral yakni sirr dalam bahasa Arab. Dimensi kerohanian yang terdalam dari hati itulah yang paling mungkin menerima petunjuk langsung dari Allah tentang segala yang benar dan yang salah serta yang baik dan yang buruk. Sirr itulah yang menjelmakan kehalusan budi karena ianya bukan lagi dimensi fisis, melainkan metafisis.

Perkara itu dapat ditelusuri juga dalam wasiat Syaiyina Ali bin Abi Thalib r.a. “Maka wahai putraku, aku berwasiat kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, hidupkan hatimu dengan selalu mengingat-Nya dan berpegang teguhlah pada tali-Nya (ketaatan dan penghambaan). Dan, ikatan apa yang dapat lebih dipercaya dan diandalkan dibandingkan dengan ikatan antara engkau dengan Tuhanmu (Allah) Jalla Jalaluhu, asal engkau bersungguh-sungguh dalam menjalinnya.

Maka hidupkan hatimu dengan nasihat (maw’izhah), matikan ia dengan kezuhudan, kuatkan ia dengan keyakinan, dan terangilah ia dengan hikmah. Dan, hinakan ia dengan mengingat kematian, buatlah ia mengakui kefanaan, jadikanlah ia tenteram dengan takut (kepada Allah), kenakan padanya pakaian kesabaran, pahamkan ia akan pelbagai malapetaka dunia dan peringatkanlah ia akan kekuasaan waktu serta getirkan perubahan, juga pergantian siang dan malam.”

Hati memiliki dua fungsi penting: pertama, untuk mengetahui, mengenali, dan memahami dan kedua, menjadi sumber pelbagai macam keinginan yang menggerakkan kegiatan manusia. Keinginan manusia juga terbagi atas dua bagian: (1) keinginan yang mengarah kehadirat Allah dan surga-Nya dan (2) keinginan yang mengekori syaitan dan neraka. Di hati itulah budi bersemayam. Dan, berdasarkan keinginan hati itulah, budi menentukan keberpihakannya: Allah dan surga atau syaitan dan neraka.

Pemilihan terhadap budi yang baik dan atau mulia tak semata-mata hasil dari pemikiran manusia. Ianya memang bersumber dari pedoman yang dianugerahkan oleh Allah.

“Dan, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan jika orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandungi) keselamatan,” (Q.S. Al-Furqan:63).

Atas dasar itulah keberpihakan pada kehalusan budi dalam hidup ini merupakan pilihan yang arif dan bijaksana. Itulah dia muara dari segala kebahagiaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia sebagai wujud dari Kemahapemurahan-Nya. Tak ada kebahagiaan yang seindah dan seagung keelokan dan kehalusan budi yang bersumber dari Allah Yang Maha Pemurah. Pasalnya, jaminan keselamatannya tak hanya sebatas memberi kebahagiaan di dunia yang fana ini, tetapi lebih jauh daripada itu, yakni kebahagiaan di akhirat yang pasti kekal dan abadinya. Selebihnya, terpulanglah kepada manusia: hendak percaya ataupun tidak. Yang pasti, pedomannya telah diberikan oleh Sang Khalik Yang Mahabaik.

Surga atau neraka memang menjadi pilihan yang terbuka. Maka, budilah yang menuntun manusia kepada pilihan yang arif dan bijaksana. Oleh sebab itu, tak heranlah jika budi setahun dapat menjadi segunung intan. Bahkan, ianya boleh menjadi hamparan luas berlian murni yang pasti menyelamatkan. Budi mulia sanggup menyertai manusia sampai ke alam baka. Maka, tak heranlah kita akan kenyataan: karena budi, jasad tertawan.***

Tinggalkan Balasan