https://www.sanggarseni.my/gamelan

Diskusi dan Rekonstruksi Warisan Seni Indonesia yang Mati Suri

BOLEH dikatakan, seni Gamelan Melayu di Indonesia khususnya di Lingga telah mati  suri  sejak  ratusan tahun silam. Jejaknya pun masih tercecer dalam  sejarah  bangsa  Melayu  yang besar.

Seni Gamelan ini masih menjadi tanda tanya besar; bagaimana gamelan yang identik dengan Jawa tersebut juga hidup dan pernah  berkembang  dalam Kesultanan Melayu? Bagaimana pula bentuk dan juga fungsinya dalam masyarakat saat itu? Bagaimana juga hubungan kerajaan Melayu dan Jawa dalam interaksi kebudayaan? Konon, Seni Gamelan Melayu ini berasal dari Daik Lingga semasa menjadi pusat Kesultanan  Melayu  Lingga-Riau (1787-1901) dan dibawa ke negeri Pahang Malaysia. Di dalam buku Pahang Dalam Sejarah menyebutkan “pada tahun 1835 Yang Mulia Dato Bendahara Seri Maharaja (1806-1857) telah berangkat ke Lingga karena Yang Maha Mulia Sultan hendak mengangkat gelaran puteranya Sultan Mahmud Muzzafar Syah.

Perayaan tersebut diserikan dengan pelbagai upacara dan temasya, termasuk perjudian, menyabung ayam dan persembahan kesenian. Di antara kesenian yang dipersembahkan ialah gamelan.

Yang Mulia Dato Bendahara Seri  Maharaja Ali amat tertarik hati dengan  persembahan gamelan. Baginda langsung membawa balik ke Pahang satu set alat gamelan yang terdiri dari satu set Kerombong (Bonang), satu set Gambang, satu set Demong, satuset Saron, satu set Kenong, satu set Gong dan satu set Gendang.”

Sementara untuk mengembangkan seni Gamelan tersebut di Pahang, seorang pemusik gamelan dari Lingga yakni Encik Basuk juga dibawa sebagai juru tunjuk atau pengajar orang tempatan oleh istana.

Gamelan Melayu atau Joget Pahang ini pun terus berkembang dan menjadi salah satu sajian pertunjukan di istana seperti dalam kegiatan adat istiadat. Di Pahang, kesenian ini kemudian dikenal dengan nama Joget Pahang atau Gamelan Pahang. Sampai sekarang gamelan yang berusia 183 tahun tersebut masih utuh tersimpan di Muzium Sultan Abu Bakar Pahang. Ada juga yang menyebutnya dengan nama Gamelan Malaysia.

Gamelan Melayu atau Joget Pahang dalam perkembangannya juga mengalami pasang surut. Pada tahun 1914 setelah Sultan Ahmad mangkat, tidak ada seorang pun dari waris baginda yang meneruskan untuk merawat kesenian ini. Sampai pada akhirnya tahun 1970-an baru lah kesenian ini kembali dihidupkan oleh Kerajaan Negeri Pahang setelah menjadi Negara Malaysia dan terpisah dengan Lingga-Riau yang masuk dalam wilayah Indonesia.

Sedangkan di Lingga sendiri, yang menjadi asal mula Gamelan Pahang tersebut belum banyak diketahui baik mengenai sejarah dan jejak instrumentasi serta para pelaku seni nya. Termasuk asal muasal Gamelan pertama kali sampai ke Daik Lingga.

Yang hanya bisa ditemukan di Daik, hanya empat buah bonang dan kini tersimpan di Museum Linggam Cahaya, Komplek Istana Damnah. Menurut pengurus Museum, keempat bonang tersebut ditemukan oleh warga desa Kerandin kecamatan Lingga Timur dan telah terkubur di dalam tanah kemudian diserahkan kepada pihak Museum.

“Cemburu” dengan Perhatian Malaysia terhadap Gamelan Melayu

Pengajar Gamelan Melayu, Universitas Pertahanan Nasional Malaysia yang juga Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Dwiono Hermantoro mengaku “cemburu” dengan perhatian negara Malaysia terhadap Gamelan Melayu tersebut. Sejak tahun 1997 menjadi tenaga pengajar di Malaysia hingga saat ini, Malaysia menurutnya memberikan perhatian serius terhadap seni Gamelan dan telah menjadi kegiatan ekstrakurikuler di Universitas Kebangaaan Malaysia (UKM) sejak tahun 1980.

Dalam setiap kali diskusi Gamelan Melayu terang pria yang akrab disapa Herman ini nama Daik Lingga selalu disebutkan sebagai sejarah asal Gamelan tersebut.

“Yang menjadi pemicu kenapa saya tertarik menghidupkan kembali Gamelan Malayu ini karena menjadi satu tanggung jawab saya secara nasionalis. Saya cemburu dengan perkembangannya di Malaysia. Padahal dalam tulisan sejarah, orang dari Malaysia menyebutkan dalam setiap pertemuan di dalam kelas, gamelan berasal dari Daik seperti banyak dalam buku sejarah yang dituliskan. Ada tanggung jawab saya secara pribadi membangkitkan kembali, agar Gamelan ditabuh lagi di Lingga,” ungkap Herman di Daik Lingga usai Diskusi Gamelan Melayu, Senin (9/4) lalu).

Lingga sebagai daerah asal-muasal gamelan tersebut menurut Herman seharusnya memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga warisan kebudayaan dan seni ini. Sebab jelas menjadi kekayaan khazanah budaya.

Meskipun telah lama hilang terang Herman selalu ada jalan jika para pelaku seni Lingga ingin menghidupkan lagi seni Gamelan Melayu tersebut.

“Bahwa gamelan itu sudah menjadi warisan budaya Indonesia. Tentu bukan menjadi sesuatu yang musykil menghidupkan kembali di pulau Lingga, di lingkungan Melayu sebagai salah satu warisan seni nenek moyang yang boleh di teruskan,” jelasnya.

Untuk itu, Herman berharap lewat diskusi dan pengenalan kepada generasi muda serta perhatian pemerintah setempat Gamelan Melayu bisa direkonstruksi kembali.

“Dulu kawan saya dari Malaysia pernah datang ke sini (Daik) dan ingin melihat gamelan, tapi tidak ada. Ke depan ini menjadi tanggung jawab bersama para pegiat seni. Dari segi kesejarahan mencari narasumber mencari sumber cerita sejarah atau cerita rakyat yang berhubungan dengan gamelan itu di Lingga,” jelasnya.

Soal gamelan kenapa bisa ada di Lingga dan berkembang di dunia Melayu menurut Herman itu hal yang lumrah. Gamelan menurut tradisi Jawa kata Herman memang menjadi instrumentasi yang wajib dimiliki oleh kalangan berada dan status sosial yang tinggi.

Namun sejarah pasti kapan dan siapa yang membawa gamelan tersebut ke Lingga masih perlu dikaji lebih lanjut.

“Saya sudah cukup lama mengkaji sejarah gamelan baik di Jawa maupun di mana-mana. Ternyata sudah menyebar ke seluruh Indonesia, ada di Banjar dan Kutai juga ke Lingga. Dasar ini yang membuat saya ingin mengetahui lebih banyak apa sebenarnya berlaku dengan Gamelan Melayu di Lingga,” kata Herman yang mengenal Lingga dalam banyak buku sejarah.

Lagu Timang Burung – Gamelan Melayu

Sementara soal Gamelan Melayu, kata Herman, memiliki nada yang berbeda dengan Jawa, Sunda, Bali dan daerah mana pun. Sejumlah lagu yang kini berkembang di Malaysia dalam iringan Gamelan Melayu seperti Timang Burung, Tenun, Togok, Raden Inu, Topeng, Ketam Renjung, Selang Aruk dan Ayak-ayak.

“Set Gamelan Melayu yang dimainkan di Malaysia berlaras selendro dengan nada C diatonis,” pungkasnya.***

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulilah perbualan kita ada ada disini. Terimakasih Hasbi telah menerima kedatangan saya pada bulan April yang lalu. semoag dalam waktu dekat ini saya dapat kemabli ke pulau. Oh saya tambahkan laras gamelan Melayu ada 2 yaitu Bb yg banyak digunakan karena mengikut kepada gamelan asal yang sekarang tersimpan di Museum Pekan Negri Pahang dan kemudian laras C yang baru dibut pada tahun 70an atas prakarsa alamarhum Dr Arif Ahmad dn Ayob Bin Ismail nenggiat gamelan di Malaysia.

Tinggalkan Balasan