MANUSIA sememangnyalah beroleh karunia yang sangat istimewa. Padahal, manusia itu sejatinya animal jua, sama dengan golongan animal yang lain. Oleh sebab itu, sama ada sering ataupun sekali-sekali menyerlah juga keanimalan manusia itu ke permukaan dalam wujud sifat, sikap, dan perangainya. Lupalah dia jadinya akan jati dirinya. Begitu malangnya!

Untunglah, manusia menjadi animal yang sangat istimewa. Mereka dikaruniai akal-budi oleh Allah Yang Maha Pengasih. Karena kelemahan fisiknya dibandingkan dengan beberapa jenis animal yang lain, manusia dikaruniai anugerah yang sangat khas itu agar mereka dapat tampil sebagai ras yang lebih unggul dan mulia daripada makhluk lain. Dapatlah dibayangkan dan dipikirkan tatkala manusia tak mampu menggunakan untuk selanjutnya mengelola akal-budi  dalam kehidupannya. Dengan demikian, sangat beralasanlah jika Allah Yang Maha Penyayang  mengancam manusia yang tak mau menggunakan akal-budinya dengan baik.

“Dan, tak ada seorang pun akan beriman, kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tak mempergunakan akal-budinya.” (Q.S. Yunus:100).

Sangat jelas dan tegas perintah sekaligus ancaman Allah kepada manusia melalui firman-Nya yang dinukilkan di atas. Allah menegaskan mustahaknya manusia menggunakan akal-budi dengan sempurna.

Bahkan, kemurkaan Allah akan ditimpakan-Nya kepada sesiapa saja yang tak menggunakan akal-budi yang telah dikaruniakan-Nya. Surat Yunus, ayat 100, juga menyiratkan betapa eratnya perhubungan keimanan dengan akal-budi karena kedua-duanya merupakan karunia utama Allah kepada manusia untuk mengangkat martabat dan atau marwah manusia.

Oleh sebab itu, sangat beralasanlah Allah mengancam manusia yang tak memaksimalkan potensi iman dan akal-budinya sebagai bekal hidup dengan ancaman kemurkaan-Nya. Pasalnya, pembangkangan itu bermakna manusia sengaja mengambil sikap membentuk koalisi yang beroposisi dengan-Nya dan secara terselubung atau terang-terangan melawan Allah SWT.

Atas dasar itulah, Raja Ali Haji rahimahullah—melalui karya-karya beliau—menawarkan kesempurnaan akal-budi sebagai syarat untuk mewujudkan kehalusan budi dan budi pekerti. Kesempurnaan akal yang diidealkan itu terekam, antara lain, di dalam Syair Abdul Muluk, bait 995, yang sangat indah lagi elok pengucapan puitisnya.

Namanya Siti Lela Mengerna
Putih kuning sedang sederhana
Akal dan budi amat sempurna
Terlalu kasih Duli yang Gana

Bait syair di atas berkisah tentang atau memerikan tokoh Siti Lela Mengerna yang memang cantik secara zahiriah (fisik) sehingga memenuhi syarat kecantikan dan atau kemuliaan “seri pantai”. Lebih daripada itu, Siti yang jelita makin berseri sosoknya karena dia juga mendapat anugerah kejelitaan ruhaniah, yang memenuhi syarat kecantikan “seri gunung” yakni akal dan budinya yang amat sempurna. Nada pengisahannya yang cenderung menyanjung membuktikan bahwa kejelitaan luar-dalam—zahir dalam wujud kesempurnaan fisik (Putih kuning sedang sederhana) dan batin dalam wujud kesempurnaan akal (Akal dan budi amat sempurna) memang diidealkan bagi seseorang manusia untuk sampai pada peringkat kejelitaan sejati karunia Ilahi. Nyatalah bahwa kesempurnaan akal-budi memang didambakan sebagai penyempurna kehalusan budi dan budi pekerti manusia.

Karya lain Raja Ali Haji,  Tsamarat al-Muhimmah, ada pula memerikan kekacauan yang terjadi akibat pengelolaan dan pemerintahan negeri yang tak disertai akal-budi yang sempurna. Untaian syair bait 42—46 berkisah tentang perkara yang memilukan itu. Ada baiknya kita renungkan  secara seksama bait 42 dan 46 syair tersebut seraya mengambil saripati hikmahnya bagi penyempurnaan akal-budi.

Beberapa negeri terkena bala
Sebab perbuatan kepala-kepala
Karena perbuatan banyak yang cela
Datanglah murka Allah Ta’ala
……………………………………
Asalnya jatuh demikian ini
Ilmu dan akal habislah fani
Dibunuh dengan gundik dan bini
Nama pun buruk ke sana sini
 

Begitulah muramnya keadaan yang terjadi karena manusia tak menggunakan akal-budinya dengan sempurna. Dunia menjadi kalang-kabut dan kacau-bilau tiada berseri. Begitulah keadaan seburuk-buruknya negeri yang membuat, jangankan manusia, animal jenis lain pun berasa ngeri karena azab dan deritanya tiada terperi.

Oleh sebab itu, hanya akal-budi yang sempurnalah yang dapat menyelamatkan manusia dalam pelbagai perkhidmatan yang menjadi tugasnya di dunia ini. Jadi, kesempurnaan akal-budi menjadi salah satu kualitas yang menentukan kehalusan budi dan budi pekerti. Pada gilirannya, akal-budi itulah, dengan izin Allah, menyelamatkan manusia di dalam bahtera perjalanan hidup di dunia menuju pantai impian akhirat yang sangat nyata kesempurnaan pesona tamasyanya.

Kearifan ajaran agar manusia menggunakan akal-budi dengan sempurna ternyata memang mendapat pembenaran dari ajaran agama Islam seperti yang tersurat di dalam firman Allah yang dikutip di atas. Hal itu berarti akal-budi yang sempurna memang diperlukan untuk memenuhi kualitas kehalusan budi, yang bernilai seri pantai dan seri gunung. Dalam hal ini, tak ada budi yang dikategorikan elok dan atau halus tanpa pendayagunaan akal dengan sempurna.

Orang yang berbudi elok dan halus, yang diindikasikan oleh kesempurnaan akal-budinya,  juga ditunjukkan oleh keberaniannya membela kebenaran. Hikmah itu terdapat dalam Syair Abdul Muluk, antara lain, pada bait 967—968 .

Jikalau anakku hendak berjalan
Hendak mencari sahabat dan taulan
Pergilah ke sebelah kaumnya Bahsan
Senanglah Tuan mencari kehidupan
 
Duri tersenyum mendengarkan madah
Sambil berkata terlalu petah
Hamba tak mau kepada yang salah
Jamaluddin itu asalnya khalifah

Duri (nama samaran Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk) menolak anjuran Pak Tua di dalam syair di atas. Pasalnya, Pak Tua menganjurkannya berjumpa dengan kaum Bahsan yang sedang berkuasa di negeri itu agar Duri mendapat kekayaan duniawi. Padahal, penguasa negeri itu yang sebenarnya (yang sah) adalah Sultan Jamaluddin. Kaum Bahsan bukan penguasa yang sah karena mereka merebut kekuasaan dari penguasa sahnya dengan cara-cara yang tak terpuji, tanpa mengindahkan akal dan budi. Oleh sebab itu, Duri lebih memilih bertemu dengan Sultan Jamaluddin yang “tersandera” kekuasaannya karena dialah sultan yang sah. Dalam hal ini, Sultan Jamaluddin dan kekuasaannya yang dilucuti merupakan simbol dari kebenaran yang tergadai oleh perilaku mabuk kuasa (kaum Bahsan), yang tak mampu menggunakan akal-budinya secara benar menurut pedoman Allah.

Sikap tokoh Duri yang digambarkan itu mengandung amanat bahwa manusia yang benar dengan akal-budi yang sempurna akan senantiasa membela kebenaran. Dia tak akan berundur barang setapak jua walaupun diberi jaminan kesenangan duniawi. Hal itu bermakna bahwa setiap manusia yang memiliki kehalusan budi dan budi pekerti seyogianya juga berani membela kebenaran. Kesenangan hidup dunia yang beralaskan kepalsuan, kemungkaran, dan pembelokan nilai kebenaran hanya mengundang murka Allah dan azab-Nya pun telah disiapkan lagi pasti, tak sekarang, sudah pasti nanti!

Gagasan membela kebenaran itu juga dikemukakan oleh Raja Ali Haji di dalam Gurindam Dua Belas. Perkara itu diperikan pada Pasal yang Kesembilan, bait 1.

Tahu pekerjaan yang tak baik, tetapi dikerjakan
Bukanlah manusia ia itu syaitan

Ungkapan pekerjaan yang tak baik di dalam bait gurindan di atas sama maknanya dengan ‘pekerjaan yang tak benar’. Orang yang mengerjakan pekerjaan yang tak baik atau tak benar digolongkan sama dengan syaitan. Bukankah syaitan memang ada yang berasal dari golongan manusia? Dengan demikian, setiap manusia yang benar dan baik seyogianya membela kebenaran.

Pada bait 16 syair Tsamarat al-Muhimmah juga ditegaskan mustahaknya manusia membela kebenaran. Bait syairnya memberikan motivasi yang penguat semangat.

Jika benar yang kita hukumkan
Di belakang jangan kita hiraukan
U(m)pat dan puji kita biarkan
Kepada Allah kita saksikan

Begitu tegas peringatan syair di atas bahwa jika kebenaran yang ditegakkan, kita tak perlu takut kepada apa atau sesiapa pun. Jika ada juga orang atau makhluk yang menentangnya, kesemuanya harus dipulangkan kepada Allah. Karena apa? Kebenaran dan ajaran membelanya itu berasal dari Allah Azza wa Jalla. Dengan semangat itu pulalah, para pejuang bangsa, antara lain Raja Haji Fisabilillah ikhlas berjuang sebagaimana dikisahkan di dalam Tuhfat al-Nafis.

“Syahadan setelah mustaid kubu-kubu itu maka Yang Dipertuan Muda pun melanggar Peringgit, maka Peringgit pun alahlah. Maka selalu (sic!) melanggar Bukit Cina, maka tiga kali langgar Bukit Cina pun alah juga. Kemudian Semabuk pula dilanggarnya, lalu Teluk Ketapang. Maka Yang Dipertuan Muda balik semula ke Kelebang. Maka tiada berapa lamanya, Raja Sa’id datang dari Selangor membawa petikaman dari Selangor, beberapa ratus Bugis. Kemudian Raja Alam pun datang membawa segala petikaman beberapa ratus. Lalu Raja Alam berbuat kubu besar satu,” (Matheson, 1982:141).

Kisah dari Tuhfat al-Nafis itu bercerita tentang kegagahan Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, dan pasukannya berperang melawan Belanda di Melaka. Perlawanan Raja Haji itu dilakukan Baginda karena membela kebenaran. Baginda tak rela negara dan bangsanya tergadai dan terjajah oleh Belanda, apa pun tagan dan cabarannya. Begitulah para wira sejati dan memiliki kehalusan budi serta budi pekerti akan bangkit semangatnya dan rela berkorban harta dan atau nyawa tatkala ada pihak-pihak yang hendak menodai kebenaran, menjejas kemerdekaan bangsa lain.

Sesungguhnya sifat berani membela kebenaran itu juga berpedoman kepada ajaran agama Islam. Banyak ayat Al-Quran yang menjelaskan perkara itu, satu di antaranya adalah ini.

“Hai, orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad dari agama-Nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tak gentar terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. Al-Maidah:54).

Ayat di atas menegaskan bahwa sumber motivasi keberanian membela kebenaran adalah Allah SWT. Bahkan, Allah menjamin akan memberikan karunia kepada sesiapa saja yang berani membela kebenaran. Tiada yang lebih benar dari kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah Yang Mahabenar.

Terbuktilah sudah amanah dan hikmahnya. Manusia—jika hendak tetap menyandang predikat itu—memang wajib menggunakan akal-budi dengan sempurna, yang membawanya kepada tekad mulia berani membela kebenaran. Sumber ajarannya memang dari Allah. Artinya, sifat, sikap, dan perilaku yang mulia lagi terpuji itu mendapat pembenaran dan sangat dianjurkan oleh Allah.

Kalam pemutusnya adalah bersiap sedia, rela, dan sanggup menggunakan akal dengan sempurna yang diikuti keberanian membela kebenaran merupakan kualitas utama kehalusan budi dan budi pekerti. Kualitas itu seyogianya tersemai subur dan merecup mekar secara abadi di dalam setiap diri pribadi sebagai pengokoh jati diri. Dari keelokan seri pantai dan kemuliaan seri gunung penyempurna diri itulah, setiap bangsa boleh berbangga. Pasalnya, mereka itulah pewaris dan ahli waris sah bangsa yang berkarakter kuat dan kokoh. Merekalah bangsa besar yang senantiasa melahirkan para pemimpin yang tiada ceroboh. Dan, rakyatnya pun tak pernah rela diperbodoh.

Wahai, Cik Siti Lela Mengerna! Di pantaimu yang jelita kutemukan mutiara, di gunungmu yang memesona kudapatkan permata. Tiada alasan untuk menderita. Maka, jangan biarkan angkara murka bersimaharajalela.***

Tinggalkan Balasan