SESAT menjadi malapetaka bagi manusia. Sesat berarti ‘salah jalan, menyimpang dari jalan yang benar, dan atau tak melalui jalan yang benar’. Muatan maknanya dapat dikenakan pada pikiran (yang bersumber dari akal/minda), perasaan dengan segala sifat turunannya (yang bersumber dari hati nurani), dan perilaku dengan semua tindakan turunannya.

Pikiran hendak menganiaya orang yang dianggap saingan atau lawan, misalnya, adalah pikiran sesat. Rasa benci dan dendam kesumat kepada orang lain adalah perasaan sesat. Perbuatan memfitnah orang sehingga orang yang menjadi sasarannya mengalami penderitaan, umpamanya, tak lain dari perilaku sesat.

Karena sifatnya buruk dan konotasinya negatif, tak seorang manusia pun berkeinginan terbawa ke wilayah yang salah ini. Akan tetapi, namanya juga manusia. Tak jarang terjadi, karena pelbagai sebab dan alasan, kesesatan dapat juga menyertai perjalanan hidupnya, disadari atau tidak. Kecuali, pada orang-orang yang memiliki siasat atau sifat teliti dan saksama dalam menghadapi pelbagai fenomena kehidupan, kesesatan tak mampu menghampiri dirinya.

Siasat apakah yang harus digunakan agar kita terhindar dari kesesatan? Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kita dalam kaitannya dengan perkara ini melalui Gurindam Dua Belas (GDB), Pasal yang Ketujuh.

Inilah siasat pertama berkaitan dengan berkata-kata.

 

Apabila banyak berkata-kata

Di situ jalan masuk dusta

 

 Siasat menghindari dusta ini terhimpun dalam GDB Pasal yang Ketujuh, bait 1. Nampaknya, RAH sengaja menempatkannya sebagai pembuka kalam GDB pasal ini karena kedustaan atau kebohonganlah yang menjadi pangkal bala atau punca kesesatan yang menimpa umat manusia. Contohnya berserak di sekeliling kita, dari lingkungan kota dunia yang paling metropolitan sampai ke dusun kampung yang amat selekeh sekali pun.

Berkata-kata tentang sesuatu yang jelas faktanya tentulah perlu asal dipenuhi syarat santunnya. Dengan begitu, kebenaran akan mengemuka sehingga diketahui khalayak. Bahkan, dari perkataan yang benar yang dikomunikasikan secara bijaklah nescaya terhimpun masyarakat yang bersepadu untuk mengembangkan tamadun. Akan tetapi, berkata-kata dengan memanipulasi bahasa sedemikian rupa tanpa menghiraukan nilai kebenaran, di situlah jalan masuk dusta, kebohongan, yang tak hanya menyesatkan diri sendiri (orang yang berkata-kata itu), tetapi juga berpotensi menyesatkan orang lain apabila orang yang menjadi sasarannya kurang periksa, kurang teliti, atau kurang siasat ketika mendengarkan atau membaca perkataan si pelaku. Bahkan, kebohongan dapat mencelakakan orang lain, menjejas marwah bangsa, sampai kepada yang paling dahsyat melenyapkan tamadun. Berkata benar dengan siasat yang benar merupakan mutu orang yang dapat dibilangkan nama, orang yang berjati diri.

Sangat banyak firman Allah di dalam Al-Quran tentang larangan berdusta. Di antara firman itu, bahkan, berisi ancaman.

“Kemudian marilah kita bermubahalah (bersumpah) kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta,” (Q.S. Ali ‘Imran:61).

Ayat di atas menegaskan bahwa orang yang berdusta akan mendapat laknat dari Allah. Hukuman itu memang setimpal karena perbuatan dusta itu berdampak pada kerusakan diri manusia dan mencelakakan orang lain. Itulah sebabnya, GDB menuntun kita tak banyak berkata-kata karena dikhawatirkan akan terselip dusta. Dalam hal ini, GDB Pasal yang Ketujuh, bait 1, di atas sejalan benar tuntunan Ilahi dan wasiat Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang banyak berkata-kata, banyak pula salahnya, dan barang siapa yang banyak salahnya, banyak pula dosanya, dan barang siapa yang banyak dosanya, api neraka lebih layak baginya,” (H.R. Ath-Thabrani).

Agaknya, tak sesiapa pun yang hendak berduka. Oleh sebab itu, manusia senantiasa berusaha agar tak dirundung duka. GDB Pasal .yang Ketujuh, bait 2, mengusulkan siasatnya.

 

Apabila banyak berlebih-lebihan suka

Itu tanda hampirkan duka

 

Seperti halnya berkata-kata, adalah hak manusia untuk bersuka-ria, bersenang-senang. Walaupun begitu, bersuka-sukaan pun haruslah berpada-pada, tak boleh berlebihan-lebihan. Pasal apa? Orang yang berlebih-lebihan suka cenderung tak siap menghadapi duka. Padahal, dalam perjalanan hidup manusia, suka dan duka boleh datang silih berganti. Suka atau tak suka, siapa pun harus siap menghadapinya. Jika suka dirasakan berlebihan-lebihan, maka duka sekecil kerikil pun akan dihayati sebagai musibah yang akan menghancurkan dunia. Berpada-pada dalam menghadapi suka merupakan siasat orang yang boleh dibilangkan nama.

“… Dan, janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” (Q.S. Al-An’am:141).

Ayat di atas merupakan salah satu larangan Allah SWT  tentang perilaku berlebih-lebihan. Ayat tersebut merupakan salah satu dalil pembenar bagi nasihat RAH dalam bait GDB di atas. Bahkan, Nabi Muhammad SAW memperingatkan perkara itu dalam nada yang cenderung mengancam karena buruknya sifat dan perilaku berlebih-lebihan dan melampaui batas itu.

Rasulullah SAW bersabda, “Binasalah orang-orang yang melampaui batas,” (H.R. Muslim).

Inilah pula siasat ketiga agar manusia terhindar dari bahaya sesat.

 

Apabila kita kurang siasat

Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

 

Apa pun pekerjaan yang kita lakukan hendaklah dilaksanakan dengan teliti dan saksama. Perlu strategi dan taktik yang tepat dan benar untuk mencapai kejayaan. Itulah pesan yang terkandung dalam GDB Pasal yang Ketujuh, bait 3 ini.

Berhubung dengan amanat GDB di atas, dapat kita peroleh sumbernya dari ajaran Islam, antara lain, firman Allah SWT  berikut ini.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu,” (Q.S. Al-Hujurat:6).

Sifat kurang teliti, tak saksama, dan tanpa strategi yang tepat lagi benar akan menjerumuskan kita pada kesalahan yang berakibat buruk. Berpikir dengan siasat, berasa dengan siasat, dan bertindak sebagai perwujudan pikir dan rasa pun harus dengan siasat. Jika yang terjadi “lain yang diniatkan, lain yang dikatakan, dan lain pula yang dikerjakan”; di situlah sarang kesesatan yang amat nyata. Manusia seyogianya mampu menghindari sesat dengan siasat. Dan, itulah mutu manusia yang boleh dibilangkan nama, yang jati dirinya tiada tercela.

Setiap lahir seorang anak manusia, dia telah dianugerahkan oleh Allah s.w.t. dengan semua potensi yang diperlukannya untuk hidup di dunia. Potensi itu harus dikembangkan dengan bantuan orang-orang di sekelilingnya. Tentulah tugas pengembangan potensi anak-anak itu menjadi kewajiban utama ibu-bapanya. GDB Pasal yang Ketujuh, bait 3 mengusulkan siasat untuk itu.

 

Apabila anak tiada dilatih

 Jika besar bapanya letih

 

Anak-anak yang tak mendapatkan pendidikan, di dalamnya termasuk pelatihan, secara baik sejak usia dini menyebabkan potensi yang dimilikinya tak berkembang. Si anak akan kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Dalam keadaan seperti itu, si anak mudah terbelok ke arah yang sesat, salah jalan. Akibatnya, si anak akan menjadi masalah, bukan hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga bagi keluarganya, masyarakatnya, bahkan bangsanya. Sebagai anugerah Allah, anak-anak harus memperoleh pendidikan yang baik sejak kecil. Dan, memiliki siasat mendidik anak dengan baik sejak anak berusia dini merupakan mutu ibu-bapa atau orang tua yang boleh dibilangkan nama, yang jati dirinya boleh dikira.

Bait GDB di atas pun diilhami oleh perintah Allah kepada manusia untuk mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya. Di antara firman Tuhan tentang hal itu adalah ini.

“Apakah kalian menyuruh manusia untuk berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian,” (Q.S. Al-Baqarah:44).

Firman Allah yang dinukilkan di atas menyiratkan ajaran agar para orang tua dan manusia umumnya untuk mendidik anak-anaknya dengan ketauladanan. Contoh yang baik dari orang tua akan diikuti anak-anak dalam hidupnya, begitu pula sebaliknya. Yang pasti, tanggung jawab utama terhadap pendidikan anak-anak terletak pada ibu-bapak mereka.

Perihal pentingnya peran orang tua terhadap pendidikan anak-anak ditegaskan oleh Rasulullah di dalam hadits Baginda. Inilah di antara petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah kepada para ibu-bapak dalam mendidik anak-anak.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik,” (H.R. Al-Hakim).

Ini adalah siasat yang kelima, yang mustahak diperhatikan agar manusia terhindar dari kesesatan, nyata atau terselubung.

 

Apabila banyak mencacat orang

Itulah tanda dirinya kurang

 

Mencacat orang? Artinya, semua perasaan orang lain, pikiran orang lain, sifat orang lain, sikap orang lain, pekerjaan orang lain, dan sebagainya tak pernah betul bagi dirinya. Lalu, yang betul siapa? Hanya dirinya sendiri. Dialah yang paling betul, paling baik, paling mulia, paling pandai, paling jujur, dan segala sifat yang baik harus terpulang kepada dirinya, tak boleh kepada orang lain. Jatah orang lain hanyalah tak baik, tak betul, tak senonoh, dan segala sifat turunan yang berkonotasi negatif. Itulah perilaku yang dikenal sebagai mencacat orang.

Bagaimanakah pandangan Islam dalam hal yang dikemukakan RAH melalui bait GDB di atas? Untuk mengetahui hal itu, ada baiknya kita amati petunjuk Allah berikut ini.

“Dan, janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,” (Al-Qalam:10—11).

Firman Allah di atas berisi larangan. Di antara perkara yang terlarang itu adalah mencela orang lain. Jadi, ayat itu membenarkan amanat RAH di dalam GDB Pasal yang Ketujuh, bait 5, di atas.

RAH dengan tegas menyebutkan bahwa perilaku mencacat orang menunjukkan ciri diri pelakunya yang kurang. Kurang dalam hal apa? Sekurang-kurangnya, kurang dalam hal yang dituduhkannya kepada orang lain. Kalau orang lain dituduh tak jujur, misalnya, boleh jadi si pencacat merupakan sarang utama ketakjujuran. Bahkan, kurangnya boleh melebar sampai kepada seluruh kearifan yang seyogianya dimiliki manusia.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu bersaudara terhadap muslim lainnya, dia tak boleh menganiaya dan menghinanya. Seseorang cukup dianggap berlaku jahat karena dia menghina saudaranya sesama muslim,” (HR.Muslim).

Sabda Rasulullah yang dikutip di atas lebih menegaskan lagi tentang bahaya menghina dan atau mencela orang lain. Perilaku itu tergolong kejahatan di dalam pandangan Islam.

Sebetulnya apa betullah yang hendak kita banggakan di dunia ini? Kita hanya diberi pinjaman ilmu yang sedikit, hanya seujung kuku saja. Satu kebenaran yang kita ajukan untuk sesuatu perkara, masih tersedia kebenaran lain tentang perkara yang sama dalam jumlah yang tak terbatas sampai ke langit yang ketujuh. Begitu pulalah jika kita diberikan kelebihan yang lain, tak perlulah dibangga-banggakan berlebih-lebihan. Pasalnya, kesemuanya itu hanyalah pinjaman belaka dan sering menipu pula. Yang kita perlukan sebetulnya hanyalah niat baik, selanjutnya dikomunikasikan secara baik, dan yang paling mustahak dikerjakan dengan baik pula. Sifat, sikap, dan perilaku seperti itulah yang dapat menyelamatkan kita, baik di dunia maupun lebih-lebih di akhirat kelak.***

 

Tinggalkan Balasan