Nama Rusydiah Club sangat terkenal. Akan tetapi, bahan sumber dan informasi tentang perkumpulan cerdik-cendekia kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat itu sangat sedikit dan langka. Akibatnya, hingga kini tidak diketahui dengan pasti kapan perkumpulan itu bermula, dan kapan sesungguhnya ia berakhir. Banyak pertanyaan penting tentang perkumpulan ini yang belum terjawab.

Diantara bahan sumber sejarah Rusydiah Club yang sedikit dan langka itu, sebuah buklet berjudul Taman Penghiburan adalah salah satu diantaranya.

Publikasi Rusydiah Club

Judul atau keterangan lengkap buklet tersebut, seperti dicetak pada bagian sampulnya adalah: Taman Penghiburan yaitu berita kesukaan pada hari raya idulfitri yang diadakan oleh lid-lid Rusydiah Klub Negeri Riau Pulau Penyengat pada tahun 1313.

Dalam dunia  kepustakaan klasik Melayu, khususnya bahan-bahan pustaka klasik

Halaman judul buklet Taman Penghiburan koleksi warisan KITLV, Leiden.

yang berasal dari Pulau Penyengat,  khazanah pustaka ini dikategorikan oleh Ian Proudfoot sebagai buku cetakan lama (early Malay printed books) dan disimpan sebagai buku langka (rare books). Dengan kata lain, jumlahnya tak banyak. Eksemplar yang kini tersisa, dan perpustakaan yang menyimpannya, boleh dihitung dengan sebelah jari tangan saja. Dan dalam korpus kepustakaan klasik Melayu, diketahui hanya ada dua perpustakaan yang menyimpan buklet Taman Penghiburan: yakni Balai Maklumat Kebudayaan Melayu Riau di Pulau Penyengat yang ditubuhkan oleh almarhum Raja Hamzah Yunus dan Perpustakaan KITLV-Leiden yang kini semua koleksinya disimpan di Asia Library Universitas Leiden, Negeri Belanda.

Bahan yang menjadi acuan ruang kutubkhanah minggu ini, adalah koleksi warisan Perpustakaan KITLV di Leiden, Belanda, yang dalam katalogusnya masih menuliskan judulnya dalam ejaan lama: Taman penghiboeran ia-itoe berita kasoekaan pada hari idoelfitr jang di-adakan oleh lid-lid Roesjdijah Kelab negeri Rijau poelau Penjengat.

Taman Penghiburan adalah salah satu contoh bahan yang pernah dipublikasikan oleh  Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat pada dekade terakhir abad 19. Formatnya adalah sebuah buku sangat tipis. Hanya terdiri dari 5 halaman, dengan dimensi 20 cm x 15 cm dan  dicetak di Pulau Penyengat oleh Mathba’ah al-Riauwiyah pada tahun 1313 AH bersamaan dengan tahun 1895 CE.

Oleh karena itu dan selari dengan kandungan isinya yang berkenaan dengan berita kesukaan sempena kegiatan yang dilakukan oleh Rusydiah Club Riaou Pulau Penyengat pada saat perayaan Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1313 AH yang bersamaan dengan hari Selasa 17 Maret 1896 CE di Pulau Penyengat, maka Taman Penghiburan ini sesungguhnya adalah sebuah buklet: buku kecil dan tipis yang berfungsi sebagai sarana pemberitahuan kepada khalayak ramai (brosur yang berisikan informsi tertulis tentang suatu masalah yang disusun secara sistimatis).

Secara garis besar, isi Taman Penghiburan dapat dibagi dalam tiga bagian. Pertama yang berjudul Berita Rusydiah Club, berisikan tarikh, waktu, dan tempat pelaksanaan keramaian yang digelar sempena Idulfitiri 1313 AH bersamaan 1895 CE, bertempat di halaman gedung Rusydiah Club Riouw di Kampung Baharu, Pulau Penyengat.

Kedua, adalah bagian berjudul Mangku Jaya yang berisikan nama-nama pengurus Rusydiah Club dan tugas mereka dalam keramaian itu. Bagian kedua ini dapatlah disebut sebagai senarai nama-nama panitia yang bertanggung jawab menjayakan keramaian Taman Penghiburan tersebut. Adapun bagian yang ketiga berisikan nama-nama Neka Permainan (daftar permainan ketangkasan) yang akan diperlombakan dalam keramaian itu, lengkap dengan hadiah berupa sejumlah uang dolar bagi tiga orang pemenang untuk masig-masing permainan.

Hingga saat ini, Taman Penghiburan adalah satu-satunya bahan sumber primer tertulis yang  mencantumkan dengan lengkap nama delapan belas (18) lid (bahasa Belanda: anggota),  dan jabatan pengurus awal perkumpulan itu, yang diselarikan dengan tugas mereka sebagai Mangku Jaya atau ‘panitia’ dalam keramaian ‘pesta’ permainan ketangkasan sempena Idulfitri yang dikemas dalam sebuah acara Perhimpunan Kesukaan  dengan tajuk Taman Penghiburan.

Lid Rusydiah Club

Informasi tentang nama-nama anggota dan pengurus Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat yang terkandung dalam Taman Penghiburan amat penting bagi sejarah intelektual di kerajaan Riau-Lingga, dan teramat penting bagi pengetahuan kita tentang sejarah Rusydiah Club itu sendiri.

Nama delapan belas lid (anggota) dan pengurus Rusydiah Club itu diawali dengan Tengku Besar (calon Sultan Riau-Lingga) yang menjabat sebagai Presiden Rusydiah Club (dengan jabatan kuasa yang ‘am dalam Perhimpunan Kesukaan bertajuk Taman Penghiburan tersebut).

Kemudian diikuti dengan pengurus teras yang terdiri sepuluh (10) orang. Tengku Muda, Misyir Rusydiah Club (yang menjadi timbalan kuasa yang ‘am dalam kepanitiaan Perhimpunan Kesukaan Taman Penghiburan). Kemudian, ada ula Raja Khalid al-Hitami (Khalid Hitam) Bentara Kiri Kerajaan Riau-Lingga yang menjabat sebagai Maktub fi Rusydiah Club, dan bertugas bertugas mengelu-elukan bagi orang yang melawat kesukaan dan di majlis jamuan dalam Taman Penghiburan.

Selanjutnya adalah Raja Haji Ali @ Raja Ali Kelana. Dalam struktur organisasi Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat jabatannya adalah wakil Timbalan Rusydiah Club dan menjadi kuasa mengaturkan hidangan jamuan dalam keramaian Taman Penghiburan. Kemudian dikuti pula oleh Bentara Kanan Kerajaan Riau-Lingga, Raja Abdulrahman @ Raja Abdulrahman Kecik, dan Tuan Haji Jakfar bin Abubakar Lingga. Keduanya adalah wakil timbalan Rusydiah Club yang bertindak sebagai kuasa mengaturkan alatan (perlengkapan) dan lakon (aturan) permainan serta mengeluarkan tiket orang yang [men]dapat hadiah dalam Perhimpunan Kesukaan  Taman Penghiburan.

Setelah itu, ada pula Raja Awang, Wakil Timbalan Rusydiah Club, dan Tengku Usman Timbalan Rusydiah Club yang diberi tanggung jawab untuk menyiapkan segala alatan (perlengkaan) yang berguna dalam permainan dan jamuan sempena Perhimpunan Kesukaan dalam Taman Penghiburan.

Dari kiri ke kanan, Said Syekh Al-Hadi dan Tengku Usman. Dua Timbalan Rusydiah Club ketika berada di Cairo, Mesir, 1906. (foto: aswandi syahri)

            Tiga pengurus teras terakhir yang dicantumkan dalam senarai panitia (Mangku Jaya) Keramaian Taman Penghiburan adalah Raja Muhammad Akib (Timbalan Rusydiah Club), Said Ali al-Atas (Sekretaris Rusydiah Club), dan Said Syekh al-Hadi Wan Anom (Timbalan Rusydiah Club) di Mekah al-Musyarafah. Ketiganya bertanggung jawab terhadap hal-ikhwal yang disebut, Dicinta Hadir, dalam struktur kepanitian Perhimpunan Kesukaan dalam Taman Penghiburan tersebut.

Selain sepuluh pengurus teras tersebut, terdapat pula tujuh nama lid (anggota) Rusydiah Club. Diantaranya adalah Tengku Abdul Kadir sebagai timbalan kuasa yang ‘am; Tengku Abu Bakar dan Engku Abdul Majid sebagai lid yang berasal dari Lingga dengan tugas sebagai kapitan kuasa yang ‘am; Raja Abdul Muttalib, Raja Idris,  dan Raja Abdul Gani yang betugas sebagi Setia Amanah mengaturkan uang hadiah dalam Perhimpunan Kesukaan sempena Taman Penghiburan.

Terakhir, adalah seorang Lid Muda Rusydiah Club bernama Said Umar. Beliau bertugas sebagai Sedia Usaha yag bertanggung jawab mensediakan orang-orang yang akan bermain dalam Perhimpunan Kesukaan itu.

Bukan Karya Sastra

            Facsimile dan alih aksara Taman Penghiburan yang pernah dibuat, hanya beredar terbatas pada kalangan tertentu. Namun ianya amat populer karena sering dikutip dan diperkatakan dalam tulisan-tulisan tentang sejarah cendekia Riau-Lingga. Alhasil, karena judulnya yang indah itu, tak sedikit ‘orang awam’ yang mengira Taman Penghiburan adalah sebuah ‘karya sastra’.

Taman Penghiburan bukanlah judul sebuah karya sastra. Formatnya adalah sebuah buklet atau brosur yang berisikan “berita kesukaan” sempena Perhimpunan Kesukaan dengan aneka perlombanan permaian ketangkasan yang diselenggarakan oleh pengurus Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat sempena memeriahkan perayaan Idulfitri di pulau pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga itu  pada 1895.

Buklet Taman Penghiburan ini adalah salah satu pintu masuk yang penting sempena menyibak latar belakang sosial dan kultural anggota Rusydiah Club. Melalui buklet ini,  antara lain, kita mengetahui bahwa tidak semua anggota Rusydiah Club adalah penulis atau wajib menghasilkan karya tulis dalam dalam berbagai bentuk sebagai syarat menjadi anggotanya.

Sungguh suatu kekeliruan bila ada yang mengatakan bahwa syarat utama yang harus dipenuhi sebelum menjadi anggota Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat  adalah telah pernah menghasilkan sebuah karya (ter)tulis. Mengapa? Karena dari bahan sumber primer yang lain tentang Rusydiah Club, jelas terlihat bahwa syarat utama yang harus dilalui agar dapat menjadi angota perkumpulan cerdik cendekia itu adalah prosesi perakuan dalam bentuk bai’ah yang kemudian ditandai dengan selembar ‘sertifikat’ dari Presiden Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat.

Isi buklet Taman Penghiburan dibuka dengan kalimat, Dengan Izin Keadilan Negeri Riau Pulau Penyengat, dan kemudian dilanjutkan dengan  bagian berjudul Berita Rusydiah Klub, yang isinya sebagai berikut:

Bahwa pada hari Raya Idulfitri yang mulia yaitu pada hari Selasa jam pukul 2 siang hingga Asar 5 ½ tahun 1313 diadakan oleh lid-lid Rusydiah (Klub) akan beberapa permainan pada sekeliling halaman Rusydiah (Kelab) karena menzahirkan kesukaan dan membesarkan bagi menerima Hari Raya yang mulia ini.”

Setelah bagian yang berisikan nama anggota dan pengurus Rusydiah Club dengan berbagai tugas mereka dalam kegitan itu, isi buklet Taman Penghiburan dilanjutkan dengan bagian daftar nama Neka Permainan yang diperlombakan, jumlah peserta sekali putaran lomba, dan nominal uang hadiah yang akan diterima pemenangnya.

Terdapat empat belas jenis permainan yang diperlombakan. Mulai dari, Berlumba berlari serta memasang rokok sekali pusing sekeliling pagar besi di hadapan Rusydiah empat orang; Berlumba berlari di dalam karung sekali pusing empat orang; Berlumba berlari bertinggung sekali pusing empat orang; Berlumba kuda buta sais bisu sekali pusing tiga orang; Berlomba belari serta mengambil dan memeluk niur empat butir sekali pusing 4 orang; Berlumba mencocok jarum 10 batang sekali pusing 4 orang; Berlumba belari undur buntut sekali pusing 4 orang; Sehinggalah Berlumba memungut kayu siapa yang habis dahulu.***

Artikel SebelumMenabuh Gamelan Melayu
Artikel BerikutSesat, Sengsara Dunia Duka Akhirat
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan