Hingga kini, dua perigi (sumur) tua berhampiran Istana Kantor di Pulau Penyengat itu masih disebut oleh penduduk setempat  sebagai Perigi Suluk, sumber air untuk bersuci bagi para pengamal Tarekat Naqsyabandiyah di pulau bersejarah itu pada abad 19.

 

Perigi Suluk: Salah satu perigi suluk yang terletak berhampiran situs Istana Kantor di Pulau Penyengat (foto: aswandi syahri)

Begitu juga di bekas ibukota kerajaan di Daik-Lingga,  sebuah istana Yantuan Muda Riau yang bernama Robath Ahmadi  (situs Istana Robath) juga erat kaitannya dengan dengan aktifitas pengamal Tarekat Nasybandiyah di Kerajaan Lingga-Riau pada penghujung abad ke-19.

Dua situs bersejarah tersebut, adalah beberapa bukti fisik yang dapat disebutkan dalam kaitannya dengan sejarah Tarekat Nasyabadiyah di kerajaan Lingga-Riau pada zamannya. Sebuah zaman ketika Pulau Penyengat dan Daik di Pulau Lingga tidak hanya menjadi tempat  Sultan dan Yamtuan Muda Riau mentadbir pemerintahan, tapi juga menjadi pusat syiar Islam yang penting di Alam Melayu.

Sejarah Tarekat Naqsyabandiah di Kerajaan Lingga-Riau telah bermula sejak pertengah abad ke-19, dan diwarnai oleh dua aliran yang eksis pada dua masa yang berbeda. Aliran Tarekat Naqsyabandiyah pertama yang  berkembang di Kerajaan Lingga-Riau adalah Tarekat Naqsyabandiah Khalidiyah, sebuah sebuah aliran pembaharu dalam Tarekat Naqsyabandiah yang dipelopori oleh Maulana Khalid atau Diya’ al-Din Khalid al-Baghdadi yang berasal dari Damaskus.

Di Kerajaan Lingga-Riau, aliran Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah ini  untuk pertama kalinya diperkenalkan di Pulau Penyengat pada masa pemerintahan Yamtuan Muda Riau Raja Ali (Marhum Kantor) oleh Syekh Ismail bin Abdullah al-Minangkabauwi al-Khalidi al- Naqsyabandi al-Syafi’I (seorang sufi dan ulama besar yang berasal dari Negeri Simabur, dekat Batusangkar, Ranah Minangkabau). Ketika kembali dari Mekah dan Singgah di Singapura, beliau diundang oleh Yamtuan Muda Raja Ali ke Pulau Penyengat pada tahun 1850-an.

Menurut catatan Wan Muhammad Shaghir Abdullah (1985:3), Syekh Ismail ini punya hubungan keluarga dengan salah seorang anak raja bugis lima saudara di Semenanjung, dan juga punya pertalian darah dengan Syekh Abdurahman bin Abdullah, datuk Wakil Presiden Mohammad Hatta yang memimpin surau Tarekat Nasyabandiyah terbesar di Dataran Tinggi Minangkabau: tepatnya di Nagari Batuhampar, dekat Payakumpuh.

Ikwal Syekh Ismail memperkenalkan Tarekat Naqsyabadiyaah ke Pulau Penyengat pada tahun 1850-an itu dicatat oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis. Menurut Raja Ali Haji, kedatangan Syekh Ismail dan tarekat yang dibawanya disambut dengan kebesaran istana Riau oleh Yamtuan Muda Raja Ali, dan Yamtuan Muda Raja Ali beserta sanak sadaranya masuk menjadi pengikut tarekat tersebut.

Syekh Ismail berjaya menjadikan Tarekat Naqsyabandiah al-Khalidiah sebagai amalan keluarga diraja dan penduduk Pulau Penyengat. Bahkan, Raja Haji Abdullah alias Engku Haji Muda yang kemudian menggantikan Raja Ali (Marhum Kantor) sebagai Yamtuan Muda Riau (1857-1858) diangkat pula sebagai Mursyid Naqsyabandiah dan Khalifah bagi Syekh Ismail al-Minangkabauwi. Itulah sebabnya gelar posthumous Yamtuan Muda Raja Abdullah adalah Marhum Mursyid.

Setelah Yamtuan Muda Raja Abdullah Marhum Mursyid mangkat tahun 1858, posisinya sebegai Yamtuan Muda Riau dan imam tarekat Naqsyabandiyah di Kerajaan Lingga-Riau digantikan oleh Raja Muhammad Yusuf (1858-1899). Namun, tak lama kemudian, Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf dibai’at ulang masuk Tarekat Naqsyabandiah dari aliran yang lain pula oleh Syekh Muhammad Saleh al-Zawawi: seorang ulama terkenal yang memimpin Tarekat al-Naqsyabandiyah al-Majididiah al-Ahmadiah.

Imam Muhammad Yusuf Ahmadi atau Yamtuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi dengan pakaian kebesarannya ketika menjadi mursyid terakhir Tarekat Naqsyabandiyah di Kerajaan Riau-Lingga. (foto: koleksi aswandi syahri)

Karena itulah, Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf menambah gelar al-Ahmadi di belakang namanya karena kedudukan beliau sebagai mursyid (Imam) Tarekat al-Naqsyabandiyah al-Majididiah al-Ahmadiah. Dan setelah beliau mangkat di istana Robath Ahmadi di Daik Lingga, gelar posthumousnya adalah Marhum Ahmadi.

Sejak zaman Marhum Ahmadi ini, aktifitas tarekat Naqsyabandiah di Kerejaan Lingga-Riau dimamalkan dan dipusatkan di dua istananya yang berada di Penyengat (Istana Ahmadi yang letaknya bersebelahan dengan kompleks Mesjid Jamik Pulau Penyangat) dan di Istana Robath Ahmadi di Daik-Lingga. Selain itu, beliau juga mencetak sejumlah risalah dan panduan ritual bagi pengikut  tarekat ini, yang salah satu diantaranya adalah sebuah buku cetakan lama yang berjadul Kaifiyat al-Zikir ‘Ala Tarekat al-Naqsyabandiyah.

Panduan Ritual

                Judul lengkap buku cetakan lama itu adalah Kaifiyat al-Zikir ‘Ala Tarekat al-Naqsyabandiyah al-Majididiyah al-Ahmadiyah. Penyusunnya adalah guru atau mursyid Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi yang bernama Syekh Muhammad Saleh al-Zawawi, yang gelar kebesaran dan puji-pujiaan akan kemulian namanya serta kefasihan ilmunya adalah, al-Katib al-Sufiyah al-Said al-Syarif Muhammad Saleh ibni al-Marhum al-Said al-Syarif Habib ‘Abdulrahman al-Zawawi summa al-Maki Afadhallah ‘Alaina Barakatihi Wana’ana ba’alumah.

Menurut Martin van Bruinessen dalam Tarekat Naqsyabandiayah di Indonesia (1992:69), Muhammad Saleh al-Zawawi berasal dari sebuah keluarga ulama di benua Afrika Utara, dan sangat masyhur. Di Indonesia, murid-muridnya berasal dari Madura, Pontianak dan Kepulauan Lingga-Riau yang datang ke Mekah menunaikan Haji pada penghujung abad ke-19.

Sebagai bagian dari kebijakan istana Lingga-Riau dalam hal syiar islam, maka buku tipis panduan ritual bagi pengikut Tarekat al-Naqsyabandiyah al-Majididiyah al-Ahmadiyah di Pulau Penyengat yang disusun oleh Syekh Muhammad Saleh al-Zawawi ini dicetak secara khusus oleh Mathba’ah al-Ahmadiah: sebuah percetakan milik kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat yang namanya juga mengambil tuah nama aliran terekat itu dan nama kebesaran mursyid atau imam tarekat tersebut yang disandang oleh Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi.

Risalah panduan ritual zikir yang terdiri dari dari 10 halaman ini selesai dicetak dibawah pengawasan langsung oleh kepala Mathba’ah al Ahmadiah Pulau Penyengat (yang pada ketika itu dijabat oleh Said Ali bin Ahmad al-Attas) pada 11 Muharam 1313 Hijriah, bersamaan dengan 14 Juli 1819 Miladiah.

Hingga kini, paling tidak masih ditemukan tiga eksemplar buku paduan ritual zikir  atau Kaifiyat al-Zikir ‘Ala Tarekat al-Naqsyabandiyah peninggalan para pengamal Tarekat Naqsyabandiayah di Kerajaan Lingga-Riau pada akhir abad ke 19. Dua eksemplar diantaranya ditemukan di Daik-Lingga, dan satu eksemplar lainnya ada di Pulau Penyengat. Pada zamannya, buku tipis panduan ritual zikir tarekat ini dipergunakan dan diberikan kepada siapa saja yang masuk mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah al-Majididiyah al-Ahmadiyah di Kerajaan Lingga-Riau: terutama di Daik dan Pulau Penyengat.

Sebagai sebuah paduan ritual, didalamnya dijelaskan sarat dan tertib yang perlu dilakukan sempena memastikan benar tidaknya amalan, khususnya zikir yang diamalkan dalam Tarekat Naqsyabandiyah aliran Majididiah al-Ahmadiah yang dipimpin oleh Yamtuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi.

Menurut panduan ritual ini, amalan zikir Naqsyabandiyah al-Ahmdiyah biasanya dilakukan pada setiap selesai shalat fardhu, atau pada setiap hari Selasa dan Juma’at.

Kaidah zikir Terekat Naqsyabandiyah Majididiah al-Ahmadiah yang dicantumkan dalam panduan zikir ini juga mencakupi kaidah zikir lathaif, sebuah amalan zikir yang tinggi tingkatannya dan tinggi tingkat kesulitannya dalam ritual-ritual zikir kaum sufi Tarekat Naqsyabandiyah.

Menurut Bruinessen, dengan zikir ini, para pengamal Naqsyabandiah mampu memusatkan  kesadarannya (dan membayangkan nama Allah itu bergetar dan memancarkan cahaya) secara berturut-turut pada tujuh titik halus di tubuh, yaitu: hati (qalb), jiwa (ruh), nurani terdalam (sir), kedalaman tersembunyi (khafi), kedalaman paling tersembunyi (akhfa), akal budi (nafs nathiqah), hinggalah kepada  kull jasad (seluruh tubuh).

Panduan atau Kaifiyat al-Zikir ‘Ala Tarekat al-Naqsyabandiyah ini juga menjadi bukti historis yang otentik bahwa Yamtuan Muda Riau X Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi adalah salah seorang mursyid Naqsyabandiyah yang penting. Karena, didalam semua panduan zikir ini terdapat sebuah wasilah-silsilah mursyid aliran tarekat Terekat Naqsyabandiyah Majididiah al-Ahmadiah yang bermula dengan Nabi Muhammad S.A.W dan berakhir dengan al-fakir ilallah ta-‘ala al-ghani Maulana Yamtuan Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi di Pulau Penyengat.

Selain itu, dua risalah dari Daik-Lingga yang menjadi rujukan ruang kutubkhanah untuk jantungmelayu.com ini juga mempunyai informasi lain yang tak kalah pentingnya bagi penulisan sejarah Tarekat Naqsyabandiyah di Alam Melayu. Dari dua risalah itu, dapat diketahui bahwa semua orang yang masuk dalam tarekat Naqsyabandiyah di Daik-Lingga dibai’at di Istana Robath Ahmadi.

Selain di dibai’at, di istana itu pula setiap orang yang baru masuk tarekat Naqsyabandiah mendapatkan “tanda berkat” yang ditauliah oleh Imam [Raja] Muhammad Yusuf al-Ahmadi.  Keterangan tauliah tersebut ditulis pada halaman terakhir setiap buku panduan zikir milik seorang pengamal tarekat itu. Tauliah “tanda berkat” ini dibubuhi pula dengan tanda tangan serta stempel warna merah milik Raja Muhammad Yusuf sebagai mursyid Naqsyabandiyah dengan khat bertuliskan “Imam Muhammad Yusuf Ahmadi”.

Sebagai contoh, pada sebuah buku Kaifiyat al-Zikir ‘Ala Tarekat al-Naqsyabandiyah yang ditemukan di Daik-Lingga, tertulis tauliah “tanda berkat” sebagai berikut: “27 Muharam hari Ahad tahun 1315 [28 Juni 1897] Haji Pasing bin Brahim Encik Abdusyakir telah telah masuk Tharekat al-Naqsyabandiya dan Ahmadi di dalam Istana Robath Ahmadi pada …imam Muhammad Yusuf Ahmadi…”***

Tinggalkan Balasan