SESIAPA PUN pemimpinnya, dia dipilih dan diangkat dengan tugas utama menjaga negeri dan seluruh rakyat. Sebagai konsekuensinya, manusia yang menyediakan diri untuk menjadi pemimpin harus melaksanakan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Kualitas utama pemimpin memang diukur dari kemampuan dan kemauannya secara bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan yang diamanahkan kepadanya.

Perkara yang berhubung dengan tanggung jawab pemimpin, antara lain dapat kita baca dalam karya-karya Raja Ali Haji rahimahullah. Dalam Tsamarat al-Muhimmah, beliau mengungkapkan tanggung jawab utama pemimpin untuk menjaga negeri di bawah pemerintahan dan atau kepemimpinannya.

Ayuhai segala raja menteri

Serta pegawai kanan dan kiri

Hendaklah jaga ingatkan negeri

Perampok penyamun perompak pencuri

 

Melalui bait syairnya di atas, Raja Ali Haji mengingatkan para pemimpin untuk menjaga negeri yang dipimpinnya. Pasalnya, pemimpin dipilih dan diangkat memang dengan tugas utama untuk menjaga sekaligus memakmurkan negeri. Dalam hal penjagaan negeri, yang paling utama diperangi oleh pemimpin adalah perampok, penyamun, perompak, dan pencuri apa pun bentuk dan jenisnya, sama ada yang berasal dari dalam ataupun dari luar. Karena apa? Para penjahat itulah yang paling potensial merugikan negeri dan atau Negara sehingga kemakmuran negeri dan kesejahteraan rakyat menjadi terkendala.

Selain itu, para pemimpin juga harus mengingatkan seluruh anak negeri (rakyat sekaliannya) untuk melaksanakan tanggung jawab yang sama dalam menjaga negerinya. Pasalnya, negeri akan aman, makmur, dan sentosa jika pemimpin dan rakyat menaruh kepedulian yang sama dalam pembangunan negeri. Oleh sebab itu, pemimpin seyogianya memiliki kemampuan mengajak dan memotivasi rakyat untuk bersama-sama membangun negeri, termasuk penjagaan negeri. Atas dasar itu pulalah, pemimpin harus menampilkan kinerja yang unggul, baik, bersih, dan bebas dari segala prasangka negatif sehingga rakyat dengan senang hati bersedia berpartisipasi dalam pembangunan negeri.

 

Serta orang seribu laskar

Seratus hulubalang yang pendekar

Lain pula matros kapal yang besar

Menanggung pekerjaaan sakit dan sukar

 

Bait syair di atas berasal dari Syair Abdul Muluk. Bagian syair itu berkisah tentang para hulubalang dan laskar (tentara) yang mengiringi Sultan Abdul Muluk melakukan kunjungan muhibah ke negeri-negeri jiran. Para tentara itu melaksanakan tugas dan tanggung jawab mengawal pemimpin mereka (Sultan Abdul Muluk) dengan ikhlas, tanpa memikirkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan. Di samping menyadari bahwa tugas itu memang menjadi tanggung jawab profesi sebagai tentara, mereka melaksanakan kesemuanya itu dengan bangga karena sang pemimpin sangat memperhatikan mereka.

Alhasil, pekerjaan seberat apa pun, karena dikerjakan secara bersama-sama dan saling menjaga, dapat dilaksanakan dengan baik dan memuaskan semua pihak. Pendek kata, kunci keberhasilan pekerjaan menjaga dan memakmurkan negeri terletak pada pemimpinnya. Jika pemimpin melaksanakan kebijakan kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab, rakyat dan tentara pun akan mendukung pemimpinnya dengan berbuat sama, bahkan boleh jadi lebih dari yang diharapkan oleh pemimpinnya. Sebaliknya pula, jika rakyat acuh tak acuh terhadap pembangunan dan penjagaan negeri, hal itu berarti ada yang salah dalam kebijakan dan pelaksanaan pembangunan negeri yang dilakukan oleh pemimpin.

Tokoh-tokoh dalam Syair Abdul Muluk merupakan tokoh fiktif yang memang diciptakan oleh Raja Ali Haji untuk mengungkapkan pemikiran dan gagasan beliau, yang sudah barang tentu cemerlang, tentang pelbagai perkara dalam kehidupan ini, termasuk masalah kepemimpinan. Bahkan, Syair Abdul Muluk nyata-nyata berisikan pesan untuk melawan penjajah yang dikemas dalam bentuk syair naratif yang memesona. Kerajaan Barbari yang mula-mula merdeka sehingga menjelma menjadi kerajaan besar yang kuat, aman, makmur, dan sentosa, kemudian karena angkara murka yang dilakukan oleh pihak lain, pihak asing, dijajah oleh Kerajaan Hindustan, sumber angkara murka itu.

Dengan perjuangan gigih para pemimpinnya, justeru dipimpin oleh seorang perempuan, istri Sultan Abdul Muluk sendiri, Siti Rafiah yang mengubah dirinya dari perempuan jelita menjadi wira yang gagah perkasa lagi canggih taktik dan strategi perangnya. Dan, kepemimpinannya disokong sepenuhnya oleh rakyat dan tentara. Mereka berjuang tanpa mengenal rasa takut dan pantang menyerah. Setelah menempuh pelbagai suka-duka peperangan, akhirnya kemerdekaan Negeri Barbari dapat direbut kembali. Dalam watak tokoh-tokoh fiktif itu yang dipadu dengan alur cerita yang memikat, Raja Ali Haji mengemas nilai-nilai kepemimpinan, kejuangan, dan kepahlawanan dengan begitu sempurna dan sudah barang tentu menginspirasi kaum perjuangan untuk menghalau penjajah dari bumi nusantara.

Adalah fakta menarik pula bahwa Syair Abdul Muluk—karya sulung Raja Ali Haji yang selesai ditulis pada 1846—bebas sensor pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Hal itu membuktikan kepiawaian Raja Ali Haji mengemas siasat dan menggoreskan kalamnya. Dengan demikian, ketika beliau menulis, “… Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores kalam jadi tersarung,”  dibuktikan sendiri di dalam karya-karya beliau.

Selanjutnya, kata siapa karya-karya yang bertemakan perlawanan terhadap penjajah dipelopori oleh sastrawan Angkatan Balai Pustaka? Padahal, Raja Ali Haji telah menulisnya pada pertengahan abad ke-19, jauh sebelum ada Balai Pustaka. Agar lebih jelas, Negeri Barbari itu merupakan simbol Nusantara, sedangkan Negeri Hindustan adalah simbol penjajah, sangat mungkin Belanda. Menariknya lagi, motif penjajahannya adalah ekonomi dan perdagangan, maka pas-lah sudah adanya!

Jika Syair Abdul Muluk adalah karya fiktif, Tuhfat al-Nafis adalah karya sejarah yang nonfiktif. Dengan demikian, tokoh-tokohnya nyata dalam sejarah. Di dalam karya yang disebutkan terakhir itu pun, Raja Ali Haji (bersama ayahanda beliau Raja Ahmad Engku Haji Tua) menampilkan sisi tanggung jawab pemimpin. Berikut ini nukilan karya tersebut.

            “Alkisah maka tersebutlah perkataan Yang Dipertuan Muda Riau Opu Kelana Jaya Putera serta paduka adinda Opu Dahing Celak serta baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Maka baginda-baginda itu apabila sudahlah balik Raja Kecik ke Siak maka baginda serta Yang Dipertuan Muda muafakatlah pada membetulkan negeri dan segala Teluk rantau Johor yang telah dipulangkan oleh Raja Kecik, tatkala ia bersumpah di dalam masjid dahulu itu. Maka musyawarahlah baginda-baginda itu akan memeriksa segala jajahan itu. Maka bersiaplah Yang Dipertuan Muda dengan beberapa kelengkapannya yang akan dibawa itu,” (Matheson, Ed., 1982:104).

Kutipan di atas mencatatkan ikhtiar membangun kembali Kesultanan Riau-Johor setelah selesai berperang dengan Raja Kecik. Dalam hal ini, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dan Yang Dipertuan Muda Daeng Marewah mengambil tanggung jawab itu karena mereka adalah pemimpin negeri. Tak hanya ibukota negara yang diperhatikan, tetapi juga seluruh ceruk rantau wilayah kesultanan itu. Melalui musyawarah, kedua-dua Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda itu mufakat membangun kembali negeri yang porak-poranda karena perang, yang menimbulkan kerusakan fisik dan keadaan sosial-ekonominya. Begitulah pemimpin yang menyadari amanah yang dititipkan oleh Allah sanggup memikul tanggung jawab yang diserahkan kepadanya, bukan dengan retorika tanpa makna.

Satu lagi contoh pemimpin yang setia memikul tanggung jawab kepemimpinan disajikan oleh Raja Ali Haji. Kali ini dalam karya beliau Syair Gemala Mestika Alam. Siapa lagi tokoh itu kalau bukan Baginda Rasulullah SAW.

 

Tiada diindahkan Nabi Muhammad

Bersungguh-sungguh juga mengajar umat

Melepaskan daripada kafir zhalalat

Di negeri akhirat boleh selamat

 

Tiadalah mereka itu mengindahkan dia

Diperbuatnya juga perbuatan sia-sia

Menyakitkan nabi beberapa bahaya

Sampai dilontarnya nabi yang mulia

Rasulullah SAW telah berupaya menyelamatkan umatnya dari kecelakaan dunia dan azab akhirat dengan mengajarkan kebenaran kepada mereka. Bukannya pujian yang diterima, malah Baginda Rasul dilempari dan dicaci maki oleh orang-orang yang hatinya tertutup dari nilai-nilai kebenaran. Walaupun perilaku keji itu yang ditujukan kepada Baginda, Rasulullah tetap melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan karena Baginda Nabi menyadari bahwa amanah itu mutlak harus dilaksanakan, apa pun cobaan dan cabaran yang harus dihadapi.

Setiap pemimpin wajib melaksanakan tanggung jawabnya secara konsisten dan konsekuen. Ternyata, ketentuan itu memang perintah Allah. Di antara pedoman yang menyatakan hal itu adalah ini.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui,” (Q.S. Al-Anfaal:27).

Pedoman yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap pemimpin adalah agar mereka tak mengkhianati amanah (kepemimpinan) yang dititipkan. Dengan demikian, para pemimpin seyogianya menjalankan amanah kepemimpinan itu dengan penuh tanggung jawab. Jika amanah itu dikhianati, sanksi dari Allah akan mereka terima, baik di dunia maupun di akhirat. Atau, kalau tak di dunia, pasti di akhirat ketika tak lagi berguna segala siasat.

 Di antara sanksi bagi pemimpin yang menyimpang dari petunjuk Allah dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW. Sabda Baginda Rasulullah itu seyogianya diperhatikan secara bersungguh-sungguh oleh setiap pemimpin.

Rasulullulah SAW bersabda, “Tiadalah seseorang hamba Allah yang diberi tugas untuk memimpin rakyat, kemudian dia mati, yang di hari kematiannya dia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah SAW mengharamkannya memasuki surga,” (H.R. Muttafaq’alaih).

Tanggung jawab kepemimpinan, ternyata tak selesai hanya di dunia saja. Sampai ke akhirat pun Allah akan meminta pertanggungjawaban sesiapa saja yang telah diamanahkan-Nya menjadi pemimpin. Sesiapa pun yang menyimpang tak akan pernah masuk surga. Itu janji sekaligus ancaman Allah. Oleh sebab itu, tak terbantahkanlah ketika Raja Ali Haji meneruskan amanat beliau dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 7.

 

Akhirat itu terlalu nyata

Kepada hati yang tidak buta

 

Menjadi pemimpin sememangnya baik. Namun, akan lebih baik lagi jika para pemimpin melaksanakan amanah kepemimpinan sesuai dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu, sesiapa pun yang berniat baik dan berkemampuan baik, silalah berjuang untuk menjadi pemimpin. Asal, sanggup mengukur diri dan berkemampuan membawa negeri dan rakyat menjadi lebih baik. Jika tidak, janji dan ancaman Allah hendaklah dicamkan baik-baik. Pasalnya, padah bagi pemimpin yang memesongkan niat dan perbuatan kepemimpinan sungguh tak baik.

Konsekuensi kepemimpinan hanya dua: (1) gagal dan (2) berjaya. Yang pertama karena tak mampu dan lebih-lebih tak mau melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik. Yang kedua karena memang benar-benar mampu dan mau mengerahkan segala kemampuannya dengan ikhlas dan bertanggung jawab.***

 

Tinggalkan Balasan