Hingga setakat ini, manuskrip Melayu milik Raffles ini dianggap  sebagai manuskrip  yang tertua diantara khazanah manuskrip syair dari Kepulauan Riau-Lingga yang telah dicantumkan dalam katalogus manuskrip Melayu koleksi sejumlah perpustakaan penting di dunia.

Informasi bibliografis tentang manuskrip ini untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Herman Neubronner van der Tuuk pada tahun 1866, dan dipublikasikan dalam dua jurnal yang terbit di Belanda dan Inggris. Versi bahasa Belandanya dimuat dalam artikel berjudul “Kort verslag van de Maleische handschriften toebehoorende aan de Royal Asiatic Society te Londen”, “Laporan singkat tentang manuskrip Melayu milik Royal Asiatic Society di London”, yang dipublikasikan dalam jurnal Bijdragen edisi 13, tahun 1866.

Sedangkan versi bahasa Inggrisnya, dengan judul “Short account of the Malay manuscripts belonging to Royal Asiatic Society”, dimuat dalam Journal Royal Asiatic Society, new serie, pada tahun yang sama.

Pemerian ringkas oleh van der Tuuk, dan kolofonnya, menjelaskan bahwa manuskrip syair ini asalnya adalah milik Sir Thomas Stamford Raffles, Verzameling van Raffles, (Gubernur Jendral Inggris yang mengubah Tumasik menjadi Singapura dan punya minat yang besar terhadap sejarah, bahasa, dan sastra Melayu serta Jawa) yang kini menjadi bagian dari koleksi besar manuskrip Melayu simpanan British Library, London, dengan nomor katalog Raffles Malay No. 49.

Publikasi ringkas van der Tuuk tentang manuskrip syair ini pada tahun 1866, menjadi rujukan utama ketika Petrus Voohoeve menyusun katalogus baru perpustakaan Royal Asiatic Society itu tahun 1963. Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan Mc. Ricklefs dan Petrus Voohoeve ketika menghimpun katalogus seluruh manuskrip asal Indonesia yang tersimpan di seluruh perpustakaan publik yang ada Inggris dalam sebuah buku katalogus berjudul, Indonesian Manuscripts in Great Britain A Catalogue Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections, pada tahun 1977.

Saya beruntung, karena berhasil mendapatkan salinan digital naskah syair ini berkat bantun Dr. Farouk Yahya yang ketika itu sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan disertasi berjudul Magic and Divination: the Malay Tradition in Illustrated Manuscripts di School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London pada tahun 2010.

***

Manusrip syair milik Thomas Stamford Raffles ini sebenarnya tak mempunyai judul. Bahkan van der Tuuk yang pertamakali memerikannya mengatakan bahwa judulnya tak pasti (onzeker). Ia hanya menjelas bahwa syair ini sebagai, Het bevat een gedicht op een koning van Bintan (?), de beschrijving der pracht van zijn paleis, van zijn tuin enz (Sebuah syair tentang seorang Raja Bintan (?) gambaran tentang istananya, tamannya dll).

Bahkan dalam catatan kakinya tentang syair ini, ia meragukan judul  Syair Karangan Bintan Basa Melayu atau Syair Karangan Banten yang tertera pada ‘halaman judul’ syair itu. Menurut Van der Tuuk, kedua judul itu adalah sebagai suatu perkiraan belaka (een gissing te zijn) dari pemilik awalnya atau lembaga yang kemudian menyimpannya.

Ricklefs dan Voohoeve (1977) yang memperbaiki infomasi bibliografis syair ini dalam katalogusnya, juga tidak mencantumkan judulnya. Mereka hanya menjelaskan syair ini sebagai A shair containing the celebration of a King Bintan. 

Judul syair  ini juga tidak disebutkan oleh pengarang atau penyalinnya dalam baris-baris baitnya, atau dalam kolofonnya. Oleh karena itu, mengacu kepada esensi narasinya,  dalam kutubkhnah ini saya menyebutnya sebagai “Syair Perkawinan Anak Sultan Bintan”.

Selanjutnya, dapat dipastikan bahwa manuskrip syair ini adalah sebuah salinan atas sebuah manuskrip yang aslinya hingga kini belum ditemukan. Menurut Ricklefs dan Voohoeve, manuskrip syair ini disalin diatas kertas berukuran  26,5 x 20,5 Cm dengan cap air (water mark) ‘J Whatman’: yakni kertas Inggris  yang berasal dari tahun 1808.

Berdasarkan informasi yang tertera pada kolofonnya, sedikit sebanyaknya dapat lah diketahui bahwa manuskrip syair ini selesai disalin (di Singapura), Kepada hijrat Nabi Salallah-‘alaihi-wassalam [pada] seribu dua ratus dua puluh anam tahun kepada tahun dal, dan kepada ampat hari bulan Safar dan harinya Khamis waktunya jam pukul satu, yang bersamaan dengan 28 Februari 1811.Dalapm kolofon itu juga disebutkan pemilik dan penyalinya: Yang ampunya Tuan Raffles adanya. Adapun yang menyurat atau menyalinnya adalah Muhamad Latif ibni Qadr Muhyi-al-din.

Manuskrip syair ini bukanlah manuskrip tunggal atau satu-satunya. Van der Tuuk pernah membuat sebuah salinan berdasarkan manuskrip ini, yang kemudian dihimpun-kan dalam kumpulan manuskrip berisikan catatan, salinan, dan kutipan bagian-bagian manuskrip Melayu milik van der Tuuk yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dengan nomor katalogus Cod. Or. 31260a-u.

***

Syair  “Syair Perkawinan Anak Sultan Bintan” ini adalah tipikal sebuah syair fiksi (bukan syair sejarah). Oleh karena itu jangan membayangkan bahwa isinya berkenaan dengan sejarah kerajaan Bintan seperti dikisahkan pada bagian-bagian awal Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin),  karya Tun Sri Lanang Datuk Bendahara Paduka Raja.

Narasinya mengisahkan perayaan atau pesta besar yang diiktiraf sebagai sebuah kerja dar-al-salam, sempena pernikahan anak Sultan Bintan dengan anak Sultan Johor, kononnya. Dikisahkan, bahwa kerja besar itu diawali dengan membangun sebuah balai tujuh ruang yang dikerjakan oleh Suku Kelumang Rakyat Kuala dan Suku Jemaja yang dipimpin oleh Tukang Hamid, Encik Halim, dan Tukang Hamat.

Istiadat pernikahan diraja itu diawali dengan prosesi mengarak sirih yang indah-indah gubahannya, pada taggal 6 Zulhijah. Perarakan itu diawali dengan barisan pembawa gubahan sirih mengindra persembahan Datuk Bendara. Selanjutnya, prosesi itu diikuti pula dengan arakan-arakan  sirih perdana agung persembahan Datuk Temenggung, sirih bersambar kuntum beraja persembahan Engku Paduka Maharaja, dan sirih sekain persembahan Engku Busu.

Latar ceritanya adalah tempat-tempat di Pulau Bintan, seperti Pulau Biram Dewa, Sungai Galang, dan lain sebagainya yang dilukiskan sebagai tempat yang mempunyai kekuatan ghaib. Selain itu, dikisahkan pula perihal keindahan istana Sultan Bintan, yang dihiasi dengan taman, dan tasik yang di tengahnya terdapat Pulau Biram Dewa yang ghaib; berhiaskan beringin dililit naga puspa, dan banyak patung orang-orangan.

Bait-bait syair ini bertaburkan kosa kata Melayu yang arkhais, dan kosa kata khas yang lazim digunakan (meminjam istilah Wilkinson dalam kamusnya yang sangat terkenal, 1959)  sebagai expressed poetically;  yakni kosa kata yang lazim digunakan untuk megungkapkan ekspresi puitik yang tinggi dalam karya-karya sastra Melayu lama. Contoh perkatan-perkatan yang mempunyai kadar expressed poetically tersebut antara lain adalah: paksi  (burung), ayapan (makanan), dicandak (ditarik), wanta (delima wanta: buah nyireh), rerada , dewal (dinding atau tembok keliling kota raja), lukluk (mutiara, batu mulia), mutia (mutiara), maya (seri, berseri), kemala (sejenis batu yang bercaya dan mempunyai hikmat), pelinggam (sejenis batu marmer), dan lain sebagainya.

Seluruh narasi syair ini diakhiri dengan bait-bait yang mengisahkan prosesi ijab kabul yang berlansung khidmat, diikuti dengan mengarak mempelai ke dalam istana, dilanjutkan dengan persembahan hidangan serta berpuluh-puluh semberap (tepak sirih diraja yang bentuknya persegi enam).

Selesailah putera duli  sempayan
Keluarlah hidangan berlakayan
Berpuluh semberab berdadayan
Memberi ayapan hulubalang sekalian

Sebagai sebuah manuskrip syair tertua dalam korpus syair Riau-Lingga yang diketahui hingga setakat ini, Virginia Matheson pernah menyenaraikan syair ini sebagai syair terawal dalam senarai dari Pulau Penyengat yang dimuatnya dalam artikel berjudul Question Arising From A Nineteenth Century Riau Syair (RIMA, Volume 17, 1983).***

Artikel SebelumTradisi Perpuisian Kepulauan Riau (2-selesai)
Artikel BerikutCatatan Al-Azhar : Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan