Situs makam Datuk Sang Iye Orang Kaya Bintan di ketinggiaan sebuah bukit di Kampung Gisi, Bintan Buyu, Kabupaten Bintan (foto: aswandi syahri)

Sedikitnya ada  tiga ‘penghulu kepala tertinggi’ (Oppervolks Hoofd) dengan sebutan Orang Kaya yang bergelar Datok, dan sangat terkenal di Kepulauan Riau-Lingga pada masa lalu. Masing-masing mempunyai rakyat dan wilayah sendiri. Selain itu, mereka telah eksis jauh sebelum pemerintahan sultan  Kerajaan Johor yang baharu, Sulaiman Badrul Alamsyah,  bertapak di Negeri Riau  pada tahun 1722.

.           Tiga Orang Kaya tersebut adalah: Pertama, Orang Kaya Ungar. Diperkirakan Orang Kaya inilah yang menjadi pemimpin tertingi bagi orang-orang laut yang kelompok Suku Asing, Orang Tambus, dan Orang Ejong (Suku Ai-jong). Kedua, Orang Kaya Lingga yang bermastautin di Tjoning (Cening, Daik-Lingga) dan kemudian pindah ke Pulau Mepar. Pada zamannya, Orang Kaya Lingga sangat terkenal karena paling banyak rakyatnya, mencakupi semua kaum Batin Enam Suku, Orang Mantang, Orang Mapor, Karas dan lain sebagainya. Dan ketiga, adalah Orang Kaya Bintan, yang rakyatnya mencakupi semua Orang Bintan (Bukit Batu) dan Bintan Penaung, di Pulau Bintan.

Dibawah ketiga Orang Kaya ini, terdapat pula Penghulu sebagai perpajangan tangan sempena memerintah rakyat yang berada di darat, dan para Batin atau Hakim untuk memerintah rakyat yang berada di laut. Selanjutnya, para Batin ini dibantu pula oleh pempimpin-pemimpin lebih rendah yang disebut Juru dan Jenang.

Pada tahun 1934, adat pemerintahan dan eksistensi masa lalu Orang Kaya ini, khususnya Orang Kaya Bintan di wilayah District Bintan (yang meliputi, Pulau Bintan, Rempang, Galang Karas, Abang, Mantang, Kelong, Mapor,  dan pulau-pulau kecil lainnya) pernah ditelusuri melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh Encik Muhammad Apan (seorang anak jati Pulau Penyengat, putera Syahbandar Ismail dan cucu Syahbandar plus pengarang Haji Ibrahim) yang kelak menjadi Bupati pertama Kabupaten Kepulauan Riau.

Hasil penelusuran itu kemudian dituliskannya dalam sebuah laporan penelitian, berjudul Berita District Van Bintan, sempena jabatannya sebagai G.a.i.b. di Tanjungpinang.

Datuk Sang Iye Orang Kaya Bintan

Bukti arkeologis berkenaan dengan Orang Kaya Bintan yang setakat ini diketahui adalah berupa situs makam yang terletak Kampung Gisi, Desa Bintan Buyu, Kecamatan Teluk Bintan. Lokasinya terletak pada sebuah gundukan tanah yang agak meninggi, sekitar 6 meter di atas permukaan laut. Lokasi situs makam ini telah diberi pagar pembatas warna kuning setinggi 90 cm, dilengkapi dengan cungkup beratap seng dengan 8 buah tiang penyangga.

      Posisi makam tua ini ditandai dengan dua buah batu nisan laki-laki dari bahan batu alam yang dipahat kasar, dibalut dengan kain kuning. Jarak antara kedua nisan adalah 200 cm.

            ‘Cerita pusaka’ yang diwarisi Masyarakat Bintan meyakini situs ini sebabagi lokasi makam Datuk Sang Iye. Siapakah Datuk Sang Iye? Laporan penelitian berjudul yang Berita District van Bintan (1934),  yang disusun berdasarkan arsip-arsip Kerajaan Riau-Lingga  dan “cerita-cerita pusaka” hasil wawancara (“pertanyaan mulut”) Encik Muhammad Apan dengan Penghulu Bintan yang bernama Inon dan Penghulu Penaga (Penaung) yang bernama Matsih pada tahun 1934, sedikit banyak dapat menjelaskan siapa Datuk Sang Iye.

Beliau adalah Orang Kaya Bintan yang pernah menjadi pemimpin tertinggi di kalangan Orang Bintan atau Soeko Bintan dan Orang Penaung sebelum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah mendirikan kerajaan Johor yang baharu, di Sungai Carang, Hulu Riau, Pulau Bintan, pada tahun 1722.

Catatan dalam Berita District Van Bintan paling tidak dapat mengoreksi papan informasi yang berada di lokasi situs makam itu, dan sekaligus meluruskan hasil survey-pendataan situs-situs sejarah Kabupaten Bintan oleh BAPPEDA Kabupaten Bintan (2007) bersama Balai Pelestarian Peninggalan Purkala Batu Sangkar (2007), yang menyebut situ tersebut sebagai makam seorang Dewata bernama Indra Safiri.

Datuk Sang Iye bukanlah Sang Aria yang mempertahankan benteng Sultan Mahmudsyah Melaka di Kota Kara (Sungai Bintan)  bersama wira lainnya ketika dirempuh oleh serangan Portugis pada 23 Oktober 1526. Ia juga bukan Sang Setia yang, kononnya, bersama Laksamana Hangtuah, dan Tun Mamat diutus oleh Sultan Mahmudsyah Melaka ke Gunung Ledang. Dan juga bukan Sang Setia Tatayan  atau Sang Setia Bentayan putera Tun Bija Diraja, cucu Tun Hamzah, yang gugur dalam mempertahankan Pagoh dari serangan Portugis pada tahun 1511.

Bukan Tun Setia atau Sang Setia: makam Datuk Sang Iye Orang Kaya Bintan di Kampung Gisi, Bintan Buyu, Kabupaten Bintan (foto:aswandi Syahri)

Datuk Sang Iye adalah Orang Kaya Bintan yang terakhir dari keturunan asli Orang Kaya Bintan yang membawahi Penghulu Bintan dan Penghulu Penaung. Ia tidak mempunyai anak laki-laki yang dapat menggantikannya menurut adat pergantian Orang Kaya Bintan. Hasil penelitian Encik Muhammad Apan menjelaskan bahwa keturunan laki-laki dari keluarga pewaris Orang Kaya Bintan ini hanya diturunkan oleh saudara laki-lakinya yang bernama Tok Jamal.

            Menurut Encik Muhammad Apan, pangkat Orang Kaya Bintan adalah jabatan turun-temurun menurut garis keturunan pihak laki-laki dan dijabat seumur hidup. Oleh karena tidak mempunyai keturuan laki-laki, ada perubahan dalam adat pengangkatan Orang Kaya Bintan (yang sebelumnya dipilih, dan ditetapkan oleh Orang Bintan dan Penaung sebelum seorang Orang Kaya yang wafat dikuburkan) setelah zaman Datuk Sang Iye.

Oleh karena  itu lah, pada zaman kerajaan Riau-Lingga diperintah oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah  dan Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf, diangkatlah Orang Kaya Indra Jaya sebagai pengganti Orang Kaya Datuk Sang Iye berdasarkan surat angkatan dari kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1314 Hijriah bersamaan dengan 1896.

Sebagai Orang Kaya Bintan yang baru, dalam kenyataanya, kedudukan Orang Kaya Indra Jaya tidak diakui oleh Orang Bintan. Menurut Encik Muhamad Affan, ada dua sebab mengapa hal ini bisa terjadi. Pertama, karena Orang Kaya Indra Jaya berkedudukan di Penaung. Dan kedua, karena Orang Kaya Indra Jaya bukan keturunan langsung Datuk Sang Iye, melainkan keturunan dari Wan Pok dan wan Malini.

Namun demikian, Orang Kaya Indra Jaya terus manjadi Orang Kaya Bintan dan Penaung (Bintan Penaung) hingga akhir hayatnya. Beliau hanya meninggalkan dua orang anak perempuan: Pertama Baidah yang terus bermukim di Penaung, dan kedua, Halimah yang kemudian menetap di Johor.

Adat Pemerintahan  Orang Kaya

      Bagaimana adat pemerintahan dan kedudukan seorang Orang Kaya Bintan (dan Orang Kaya kainnya) di hadapan rakyatnya pada masa lalu? Tentang hal ini, dijelaskan oleh Encik Muhammad Apan pada halaman 6 dan 8 laporan penelitiannya sebagai berikut:

“…[Seorang] Orang Kaya, [adalah] pusat jala tumpuan ikan (hoofd der central bestuur), yaitu yang menguasai sekalian rakyatnya, tetapi adadnya memerintah tiadak ada terus kepada rakyat, melainkan kepada Batin dan Penghulu.

Adatnya Orang Kaya memerintah, tiada pernah  dia pergi ke tempat rombongan rakyatnya memberi perintah, melainkan dipanggilnya Batin dan Penghulu itu ke tempatnya, maksudnya, Batin dan Penghulu inilah yang menyampaikan [perintahnya] kepada rakyat.

Tiap-tiap yang tiada mau mengikut perintah Batin atau Penghulu, maka diserahkannyalah orang itu kepada Orang Kaya, dan Orang Kaya menjadikan orang itu Olo, yaitu ditahan di tempat Orang Kaya.

Segala rakyat yakin bahwa Orang Kaya itu ada sakti (toovermacht), dari itu takut dan hormat mereka itu kepada Orang Kaya sampai menjadi darah daging, hingga kuburan dari orang Kaya yang asli itu sampai sekarang menjadi tempat berkaul juga oleh mereka.

Mereka percaya juga, antara Orang Kaya itu ada yang tidak sakti, tetapi mereka yakin, dari keturunan Orang Kaya sajalah boleh terdapat yang ada sakti…”.

 

Artikel SebelumSukakah Kamu atau Tiada?
Artikel BerikutMembangun Patriotisme Melalui Seni-Budaya
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan