Halaman judul empat hikayat Nabi Muhammad S.A.W. edisi litografi tahun 1919 koleksi Aswandi Syahri: Ditemukan di Pulau Tambelan. (foto: dok. aswandi Syahri)

            Sebagai penghulu para Nabi dan khatam al-anbiya, rasul yang terakhir, sosok Nabi Muhammad S.A.W mendapat tempat yang istimewa dalam khazanah kesusasteraan klasik di Alam Melayu.

Sejarah dan riwayat hidupnya, mulai dari Allah S.W.T menciptakan Nur Muhammad ketika segala sesuatunya belum ada di jagat raya ini sehingga lah baginda wafat meninggalkan alam yang fana ini, dituliskan dan tersebar luas dalam berbagai genre tradisi literasi Alam Melayu: termasuk di Kepulauan Riau.

Pada tahun 1311 Anno Higeira bersamaan dengan 1893 Anno Miladiah umpamanya, Mathba’ah Al-Riauwiyah di Pulau Penyengat mencetak syair kisah kelahiran hingga kemangkatan Nabi Muhammad S.A.W. yang digubah dalam bentuk  Syair berjudul Syair Sinar Gemala Mestika Alam oleh Raja Ali Haji.

Kisah-kisah atau sirah Nabi Muhammad S.A.W. ini sangat populer, dan dianggap sebagai khazanah kesusasteraan Islam yang terawal ditulis dalam bahasa Melayu, dan  sangat besar peranannya pada awal-awal penyebaran Islam. Sebagai ilustrasi, Raja Perumal dari Cranganagore, India, memeluk Islam setelah mendengarkan kisah mukjizat Nabi Muhammad S.A.W. ysng berjudul Hikayat Bulan Berbelah dibacakan oleh rombongan pendakwah dari Khurasan (Teuku Iskandar 1996:117).

Ruang Kutubkhanah untuk jantungmelayu.com ini akan memperkenalkan empat hikayat Nabi Muhammad S.A.W. yang sangat populer di Alam Melayu. Empat hikayat ini terangkum dalam sebuah buku cetakan lama berusia sembilan puluh sembilan (99)  tahun yang ditemukan di Pulau Tambelan, Provinsi Kepulauan Riau.

Edisi Litografi

            Judul lengkap kumpulan empat hikayat Nabi Muhammad S.A.W. ini adalah, Inilah Hikayat Nur Muhammad dan Nabi Mi’raj dan Nabi Bercukur dan Nabi Wafat. Dalam Katalogus kepusakaan klasik Melayu, kumpulan empat hikayat Nabi Muhammad  S.A.W. ini dikenal juga dengan judul yang pendek: Hikayat Nur Muhammad.

Empat hikayat ini sesungguhnya adalah turunan dari kumpulan versi-versi Melayu hikayat mengenai Nabi Muhammad S.A.W. yang telah mulai ditulis sejak abad ke-16. Kazanah kepustakaan klasik Melayu yang tergolong buku cetakan lama (early Malay Printed Books) yang ditemukan di Pulau Tambelan, Provinsi Kepulauan Riau ini, adalah salah satu eksemplar hasil cetak (cap) litografi (cap batu) oleh Haji Muhammad Idris bin Yahya, pemilik tempat cap (percetakan) Muhammad Idris Kampung Haji Lane nombor 21, Singapura.

Seperti dinyatakan dalam kolofon yang terdapat pada halaman terakhir hikayat ini, ianya telah selesai tercap (dicetak) pada tarikh 5 hari bulan Sya’ban  sanah 1337 Hijriah, bersamaan dengan 6 Mei anno 1919 Miladiah.

Kumpulan hikayat Nabi Muhammad S.A.W. yang ditemukan di Pulau Tambelan ini bukanlah edisi cetak litografi pertama yang dikenal. Karena, seperti dicatat oleh Ian Proudfoot dalam Early Malay Printed Books (1992:367), genre Hikayat Nabi Muhammad S.A.W. seperti ini telah muncul untuk pertama kalinya dalam edisi cetak litografi pada tahun 1871. Edisi litografi tahun 1871 itu, naskah asalnya disalin oleh Jidil bin Abdul Rahim. Diterbitkan oleh Encik Long, dan dicetak oleh Encik Talang di daerah Kampung Boyan Lama, Vitoria Street, Singapura.

Adapun edisi cetak litografi paling tua dan identik dengan hikayat Nabi Muhammad S.A.W.  yang ditemukan di Pulau Tambelan ini, juga dicetak dan diterbitkan oleh Muhammad Idris @ Haji Muhammad Idris bin Yahya di Kampung Haji Lane Singapura pada 18 Muharram sannah 1337 bersamaan dengan 24 Oktober anno 1918.

Hikayat Hagiografi

Dalam korpus genre sastra Melayu klasik, yang dikemukakan oleh Vladimir Btagisnsky dalam Yang Indah, Berfaedah dan Kamal Sejerah Sastra Melayu Dalam Abd 7-19 (1998:435-437), versi-versi Melayu hikayat tentang Nabi Muhammad S.A.W. digolongkan kedalam Hikiyat Hagiografi: narasi yang mengisahkan riwayat hidup orang-orang suci dan saleh.

Menurut Braginsky, walaupun pun isi genre  Hikayat Hagiografi versi Melayu ini mirip dengan ‘hikayat pertualangan ajaib’ dan ‘sastra didaktis’, namun hikayat jenis ini tidak menggambarkan seoarang  tokoh kesatria dan santun yang mencapai sukses dalam kehidupan duniawi.

Sosok tokoh utama dalam ‘Hikayat Hagiografi seperti ini dapat berupa seorang nabi atau manusi biasa yang lurus dan terpuji sifatnya, serta mempunyai kekuatan ghaib yang biasa hingga ke tingkat mukjizat. Karena itu pula, seperti Hikayat Hagiografi di negeri Islam lainnya, maka Hikayat Hagiografi Nabi Muhammad S.A.W. di Alam Melayu ini juga penuh dengan kisah-kisah kegaiban dan petualangan yang mampu menyuguhkan kepada pembacanya perihal kebenaran iman-Islam dalam bentuk yang memikat.

Hikayat Nabi Muhammad S.A.W. dalam teks edisi litografi yang ditemukan di Pulau Tambelan ini, terbagi ke dalam empat bagian hikayat. Bagian pertama diberi judul, Ini hikayat peri menyatakan Nur Muhammad. Hikayat ini termasuk dalam kelompok riwayat kejadian Nabi Muhammad S.A.W. yang mirip dengan versi yang lain seperti, Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Kejadian Baginda Rasulullah, Cerita Nabi Lahir, dan Hikayat Khatim al-Nabi.

Bagian Kedua, yang berjudul Ini Hikayat Peri Menyatakan Mi’raj Nabi Adanya, mengisahkan perjalanan nabi menghadap Allah ke langit untuk menerima perintahnya perihal shalat. Hikayat ini termasuk dalam golongan riwayat mukjizat nabi yang yang penting, karena tidak hanya memberikan kesan yang dalam terhadap sejarah perkembangan agama dan kesusastraan Islam di Alam  Melayu, tapi juga telah memberikan sumbangan yang tak kecil bagi sejarah kesusastraan Eropa: Devina Comedia karya penyair Dante Alighieri yang terkenal itu, tak akan lahir tanpa adanya hikayat ini.

Bagian ketiga adalah sebuah cerita sisi lain kehidupan Nabi Muhammad yang berjudul Inilah Hikayat Peri Menyatakan  Nabi Bercukur yang masih tergolong dalam riwayat tentang mukjizat Nabi Muhammad S.A.W. Bagian-bagian hikayat ini telah banyak mengalami penambahan-penambahan sehingga pada suatu ketika dimasa lalu, pernah dikecam.

Hikayat Nabi Bercukur, sangat populer dan digemari di Alam Melayu, karena ianya dibuka dengan ganjaran pengampunan dosa bagi siapa saja yang membaca atau mendengar orang membacanya sampai tamat: “Bermula barang siapa membaca dia atau mendengarkan dia daripada permulaannya datang kepada kesudahan dia, niscaya diampuni Allah subhana-wa-ta’ala menghapus segala dosanya”.

Bagian keempat, atau bagian terakhir dari kumpulan hikayat ini, berjudul Inilah Hikayat Peri Menyatakan Nabi Allah Wafat. Menurut Van Ronkel, hikayat yang mengisahkan akhir hidup Nabi Muhammad S.A.W. versi Melayu ini disadur dari sebuah kisah dalam bahasa Parsi yang berjudul Wafat Namah.***

Halaman awal tek edisi litografi Hikayat Nabi Wafat cetakan tahun 1919. (foto: dok. aswandi syahri)
Artikel SebelumJangan Masuk ke Api Itu!
Artikel BerikutBahasa Melayu sebagai Bahasa Ilmiah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan