DUA karya Raja Ali Haji rahimahullah dalam bidang pentadbiran dan atau pemerintahan membuktikan bahwa beliau memang mengambil berat terhadap pelbagai perkara yang berhubung dengan pembangunan manusia dan kemanusiaan. Di antara persoalan yang menjadi sorotan beliau adalah kepemimpinan. Oleh sebab itulah, beliau menulis dua buku khas, yakni Muqaddima Fi Intizam (1857) dan Tsamarat al-Muhimmah (1858). Di samping kedua buku yang istimewa itu, Raja Ali Haji masih juga membahas masalah kepemimpinan dalam hampir semua karya beliau. Pendek kata, hampir tak ada masalah kepemimpinan yang luput dari karya-karya beliau.

Dari karya-karya Raja Ali Haji, dapatlah diketahui bahwa beliau mengidealkan kepemimpinan yang baik dan bermartabat yang diterajui oleh pemimpin yang memiliki kehalusan budi. Hanya dari pemimpin dengan kualitas ideal itulah daulat rakyat dan marwah negeri dan atau negara akan terjulang. Berhubung dengan itu, seseorang pemimpin, khususnya pemimpin masyarakat, negeri, dan atau negara harus memiliki kualitas tertentu sehingga dia layak menjadi pemimpin yang sesungguhnya, pemimpin sejati, pemimpin ulung, dan atau pemimpin yang negarawan.

Merujuk karya-karya Raja Ali Haji, kualitas kepemimpinan seseorang dapat ditakar dan diukur dari ada-tidaknya penanda atau ciri khas dalam diri yang bersangkutan. Tentulah kualitas itu terlihat ketika diimplementasikan dalam praktik kepemimpinannya. Ciri atau penanda pertama dan utama pemimpin yang berkualitas, menurut Raja Ali Haji, adalah orangnya taat beragama. Perkara itu dikemukakan oleh beliau dalam karya Tsamarat al-Muhimmah.

“Syahdan inilah segala sebab yang mengesahkan menjadi raja [baca: pemimpin, HAM]. Adapun segala syaratnya ‘alal jumlah. Bahwa hendaklah raja [pemimpin] itu Islam yang teguh memegang agama Islam …. Lagi pantas segera berbangkit pada tiap-tiap pekerjaan yang jadi kebajikan. Maka, inilah setengah syarat raja [pemimpin] atas yang dihimpunkan,” (Haji dalam Malik, Ed., 2013, 29).

Kutipan Tsamarat al-Muhimmah pada perenggan di atas dengan tegas menyebutkan bahwa pemimpin itu hendaklah taat beragama atau istilah yang digunakan oleh Raja Ali Haji teguh memegang agama. Hal itu bermakna indikator keberhasilan kepemimpinan, menurut Raja Ali Haji, apabila pemimpinnya taat beragama. Itulah syarat utama yang seyogianya menjadi pegangan setiap orang yang bercita-cita menjadi pemimpin yang baik. Bersamaan dengan itu, kualitas serupa mestilah menjadi pedoman bagi rakyat atau masyarakat dalam menentukan pemimpin yang mampu mengangkat dan menjaga daulat (meningkatkan martabat atau marwah) rakyat dan atau bangsa. Pada gilirannya, dia mampu menjulangkan marwah negeri atau negara. Jika persyaratan itu gagal dipenuhi, berarti juga matlamat atau tujuan mulia bernegeri dan atau bernegara tak akan pernah tercapai, mungkin karena diselewengkan.

Ternyata, Raja Ali Haji mengasaskan keyakinan beliau itu dari pedoman Allah. Di antara sekian firman Allah tentang perkara itu adalah ayat yang dinukilkan berikut ini.

“Dan, barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka,” (Q.S. Al-Nisaa’, 80).

Ayat di atas ditujukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, Baginda Rasul diutus, antara lain, untuk memelihara umat yang taat beragama, bukan yang menyimpang atau berpaling. Dengan demikian, umat yang ingkar dari ketaatan itu tak menjadi kewajiban Rasulullah SAW untuk memeliharanya. Sebagai pemelihara umat yang taat beragama, jelaslah pula bahwa Rasulullah SAW sendiri merupakan figur yang sangat taat beragama, bahkan Baginda menjadi suri tauladan kepemimpinan bagi seluruh alam.

Tentulah ketauladanan itu harus diikuti oleh sesiapa pun pemimpin yang datang kemudian. Tanpa jaminan pemeliharaan dari Allah, amat mustahillah pemimpin yang berpaling dari ajaran agama akan mampu membawa rakyat dan negeri atau negaranya ke gerbang kesejahteraan dan kemakmuran yang sesungguhnya. Kecuali, dia sekadar mengantarkan rakyat kepada kemakmuran dan kesejahteraan hidup dalam kata-kata yang tak bermakna.    

Karya Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas awal-awal lagi telah mengingatkan perkara ketaatan beragama itu. Dalam Pasal yang Pertama, bait 1—6, diikuti oleh Pasal yang Kedua seluruh baitnya, karya agung itu mendedahkan perkara yang amat mustahak untuk menentukan kualitas manusia, termasuk mutu kepemimpinan.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barang siapa mengenal yang empat
Ia itulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

 
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal Tuhan Yang Bahari

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Ungkapan barang siapa pada bait-bait Gurindam Dua Belas di atas mengacu kepada sesiapa saja, pribadi-pribadi, atau sesiapa pun. Hal itu bermakna seruan atau amanatnya ditujukan kepada diri setiap manusia. Dalam hal ini, setiap diri kita seyogianya mengenal agama, termasuk para pemimpin, yang memang seyogianya menjadi tauladan bagi masyarakat dan atau rakyat.

Ungkapan mengenal agama tak semata-mata terbatas atau terhenti pada mengenal sahaja. Seyogianya, pengenalan itu dilanjutkan dengan meyakini, mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran dan anjuran agama. Dengan kata lain, mengenal agama mencakupi makna yang lebih luas, yaitu melaksanakan ajaran atau taat beragama. Hal itu menjadi lebih jelas setelah kita mengikuti pasal-pasal dan bait-bait berikutnya karena pasal-pasal dan bait-bait Gurindam Dua Belas itu berkait-kaitan satu sama lainnya berhubung dengan masalah-masalah akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Kesemuanya itu bersumber dari ajaran agama Islam.

Pasal yang Pertama, bait 1—6, Gurindam Dua Belas berhubung dengan masalah akidah. Setelah taat beragama, para pemimpin seyogianya mengenal Allah. Pasalnya, kepemimpinan akan berjalan baik dan terjamin jika disertai oleh hidayah dan inayah Allah. Selain itu, kepemimpinan sesungguhnya harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di akhirat kelak. Ianya tak selesai sekadar dipertanggungjawabkan kepada manusia, apa pun jabatan dan kuasa manusia di dunia ini.

Yang perlu digarisbawahi adalah masalah kepemimpinan tak hanya selesai di dunia. Ianya pasti dihadapkan dengan mahkamah akhirat. Di mahkamah yang sesunguhnya itu, Allah-lah yang langsung menjadi Hakimnya. Oleh sebab itu, persoalan akidah yang berkaitan dengan keyakinan kepada Allah menjadi syarat mutlak kepemimpinan.

Selain mengenal Allah, pemimpin yang baik wajib mengenal diri sendiri. Dia tahu menakar kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan pengetahuan dan pemahaman itu, pemimpin yang berkualitas akan selalu memohon petunjuk dan pertolongan Allah untuk mengatasi kelemahannya dan meningkatkan kemampuannya sehingga dia dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan dengan benar. Dia akan senantiasa mengharapkan bimbingan dan inayah Allah dalam menjaga rakyat, negeri, dan atau negara, yang diamanahkan kepadanya dengan sebaik-baiknya menurut penilaian manusia dan lebih-lebih berdasarkan pedoman Ilahi.

Selepas itu, walaupun dia menjadi pemimpin di dunia, karena tanggung jawabnya dibawa sampai ke akhirat, pemimpin yang taat beragama akan selalu waspada terhadap tipu-daya dunia berkaitan dengan kepemimpinan. Setiap kebijakan dan putusan kepemimpinan dipertimbangkannya secara seksama dari sudut kebaikan dunia dan faedah akhiratnya. Dia tak pernah terleka dan terlena oleh sebarang anasir yang akan menjejaskan nilai-nilai kepemimpinan yang baik bagi seluruh masyarakat dan atau rakyat yang dipimpinnya. Dia tak akan pernah rela negeri atau negaranya tergadai karena kecerobohan dan hawa nafsu kepemimpinannya. Dia pun akan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk menjulangkan martabat dan marwah bangsanya seraya senantiasa berharap akan inayah Allah.

Kualitas kepemimpinan yang diperikan itu hanya melekat dalam diri pemimpin yang taat beragama. Sebaliknya, pemimpinan yang rendah ketaatan agamanya hanya memikirkan dan berbuat untuk keuntungan duniawi. Dia pun, umumnya, menganggap kejayaan kepemimpinan menurut ukurannya sendiri hanya karena kehebatan dirinya. Alhasil, jenis kepemimpinan yang disebutkan terakhir itu tak pernah berhasil membawa rakyat menuju kesejahteraan zahir dan batin yang diidealkan semua bangsa beradab. Takrif kesejahteraan yang diterapkannya sekadar kesenangan duniawi bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang terdekat dan atau kelompoknya. Dia hanya memanfaatkan dan, bahkan, memanipulasi ketaktahuan, ketakacuhan, bahkan ketakutan masyarakat dan atau rakyat untuk keuntungan duniawinya.

 

Syaidina Ali r.a. berkisah bahwa Rasulullah SAW mengutus satu pasukan dan mengangkat seorang Anshar sebagai pimpinan pasukan itu. Ketika mereka keluar, pemimpin itu marah kepada mereka karena suatu perkara seraya berkata, “Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku?” Mereka menjawab, “Benar.” Dia berkata lagi, “Kumpulkanlah kayu bakar untukku!” Kemudian, dia meminta api, lalu membakarnya seraya berkata, “Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya.” Maka, nyaris saja mereka masuk ke api itu. Maka, seorang pemuda di antara mereka berkata, “Sesungguhnya, (jika kalian lari, maka) larilah kalian menuju Rasulullah SAW untuk menghindarkan diri dari api ini. Jangan kalian terburu-buru sampai kalian bertemu dengan Rasulullah SAW. Apabila Baginda Rasul memerintahkan kalian untuk masuk ke api itu, maka masuklah.” Maka, mereka pun kembali kepada Rasulullah SAW dan mengabarkan hal itu. Maka, Rasulullah pun bersabda, “Seandainya kalian masuk ke api itu, pasti kalian tak akan pernah keluar lagi darinya selama-lamanya. Ketaatan itu hanyalah (berlaku) pada sesuatu perbuatan yang baik,”(H.R. Ahmad).

 

Hadits di atas menegaskan sekaligus merupakan petunjuk tentang ketaatan yang benar dalam menentukan dan mengikuti pemimpin. Dalam hal ini, ketaatan yang dimaksudkan adalah ketaatan yang sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah SAW, bukan berdasarkan hawa nafsu seseorang pemimpin. Dengan demikian, taat beragama sebagai kualitas kehalusan budi pemimpin yang diamanatkan oleh Raja Ali Haji mendapat pembenaran dari ajaran agama Islam.

Inilah hikmahnya bagi kita setelah membaca karya Raja Ali Haji. Kita memang dituntut harus berhati-hati dalam memilih pemimpin. Janganlah hendaknya kita memilih pemimpin berdasarkan fanatisme buta atau karena terbius oleh permainan kata-kata yang tak berdasar dan tak berwujud dalam kenyataan.

Lebih parah lagi jika kita salah perhitungan dan lebih-lebih salah pilih. Tak sekadar di dunia yang fana, di akhirat yang abadi pun masih akan kita rasakan padah (akibat)-nya. Bukankah memang begitu janji sekaligus amaran Allah? Dan, ada baiknya kita camkan benar peringatan Rasulullah, “Seandainya kalian masuk ke api itu, maka kalian tak akan pernah keluar lagi!”***

Tinggalkan Balasan