Latar : Salah Satu halaman manuskrip Surat Hikayat Abdul Muluk koleksi Perpustakaan Negara Malaysia (dok: Aswandi Syahri)

SUKAKAH kamu atau tiada? Itulah pertanyaan mustahak yang mesti dikemukakan ketika kita akan memilih pemimpin. Jawabnya pula, suka atau tiada, tentu dengan hujah dan alasan yang patut menurut pertimbangan akal budi.

Pasalnya lain tiada. Tugas dan tanggung jawab kepemimpinan mewajibkan sesiapa saja yang menyandangnya untuk melaksanakannya dengan amanah. Hal itu disebabkan oleh kepemimpinan sangat menentukan maju-mundur dan baik-buruknya masyarakat, bangsa, dan negeri yang dipimpin oleh seseorang pemimpin. Oleh sebab itu, untuk memudahkan penyelenggaraan kepemimpinan, kearifan bangsa kita mengajarkan supaya pemimpin tak segan-segan untuk meminta saran dan pendapat kepada sesiapa saja, terutama orang-orang yang ahli dalam bidangnya lagi terpercaya.

Raja Ali Haji rahimahullah, melalui karya-karya beliau, juga berwasiat agar pemimpin mau meminta saran dan pendapat kepada orang lain sebelum memutuskan sesuatu perkara yang berkaitan dengan kepemimpinan. Di antara wasiat beliau itu terekam di dalam bait syair berikut ini.

Wazirul alam empunya sabda
Abdul Muluk sultan yang muda
Menggantikan kerajaan ayahanda baginda
Sukakah kamu atau tiada

Menjawab segala hulubalang pendekar
Serta sekalian rakyat dan laskar
Mengatakan suka riuh dan gempar
Gemuruh seperti bunyinya tagar

Dua bait syair di atas berasal dari Syair Abdul Muluk. Bait-bait syair itu berkisah tentang Wazir (Perdana Menteri) Negeri Barbari mengumpulkan hulubalang, laskar, dan rakyat sekaliannya. Maksud pertemuan itu adalah untuk meminta pendapat mereka perihal pengangkatan Abdul Muluk sebagai Sultan Negeri Barbari menggantikan ayahandanya yang telah mangkat. Walaupun menurut hukum dan adat Negeri Barbari bahwa jika seseorang sultan mangkat, maka putranyalah yang harus menggantikannya, Wazir Negeri Barbari tetap melakukan kebiasaan yang baik (konvensi) meminta pendapat rakyat, tentara, dan orang besar-besar kerajaan.

Ternyata, semua orang yang dimintai pendapat itu bersetuju Abdul Muluk menggantikan ayahandanya. Dengan demikian, dukungan terhadap Abdul Muluk sebagai pemimpin negeri menjadi sangat kuat. Karena apa? Karena, penunjukan dan pengangkatan sultan baru itu benar-benar mengikuti hukum, adat-istiadat, dan konvensi yang berlaku di negeri itu. Sambutan yang bergemuruh dari rakyat dan seluruh laskar negeri menjadi indikator bahwa Abdul Muluk memang sosok pemimpin yang diharapkan dan disukai oleh seluruh negeri.

Dari nukilan bait syair di atas ada dua simpulan yang dapat ditarik tentang perkara yang diidealkan oleh Raja Ali Haji. Pertama, penetapan dan pemilihan pemimpin hendaklah diambil dari figur yang disukai oleh rakyat. Kedua, setiap pemimpin seyogianya membiasakan diri mau menerima saran dan pendapat orang lain untuk mempermudah penyelenggaraan kepemimpinan. Dengan demikian, kerja-kerja kepemimpinan dapat diselenggarakan secara ugahari.

Secara harfiah dan denotatif, ugahari berarti ‘sedang, sederhana, atau pertengahan’. Akan tetapi, ungkapan itu di sini digunakan secara kontekstual yang maknanya ‘mudah, tak rumit’. Hal itu berarti, upaya pemimpin membuka diri bagi saran dan pendapat yang konstruktif akan memudahkannya menyelenggarakan pemerintahan dan mentadbir negeri, yang pada gilirannya akan didukung oleh sebagian besar rakyat—kalau tak dapat dikatakan seluruhnya—yang  memahami tradisi kepemimpinan yang benar dan baik. Pemimpin yang mengamalkan kebiasaan yang baik itu tergolong memiliki kehalusan budi dalam konteks penyelenggaraan kepemimpinan.

Di dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah, yang memang memerikan pedoman penyelenggaraan pemerintahan, Raja Ali Haji lagi-lagi menegaskan mustahaknya pemimpin meminta pendapat kepada orang lain dalam kepemimpinannya. Berikut ini nukilannya.

“Kami bebaskan kamu berjumpa kami dan berdatang sembah kepada kami jika ada perbuatan kami yang tiada berbetulan dengan syariat dan adat atau barang yang tiada sedap di hati kamu, tingkah laku kami atau ahli kami [‘anggota keluarga dan atau bawahan’, A.M.]. Maka, yaitu bebaslah kamu berjumpa kami dan berdatang sembah kepada kami kepada tempat yang patut dan pada masa yang patut dengan hal kelakuan yang patut, intaha,” (Raja Ali Haji dalam Malik, (Ed.) 2013, 73).

Raja Ali Haji mengidealkan seseorang pemimpin, atau raja dalam konteks kala itu, begitu dilantik hendaklah bersetia atau berjanji kepada rakyat. Janji yang diucapkan itu adalah seperti yang tersurat di dalam teks yang dipetik di atas. Dari teks persetiaan (janji) itu, dapatlah diketahui bahwa intisarinya tiada lain pemimpin seyogianya bersedia menerima saran dan atau pendapat dari masyarakat atau rakyat, yang disampaikan dengan cara-cara yang beradab, sama ada tempat ataupun cara penyampaiannya. Hal itu juga bermakna bahwa tamadun kita tak mewariskan penyampaian pendapat secara berteriak-teriak dan di tempat-tempat yang tak patut pula. Dengan demikian, tradisi bertamadun mestilah diselenggarakan dengan cara yang beradab.

Jika anakanda jadi menteri
Orang berilmu anakanda hampiri
Lawan musyawarat berperi
Supaya pekerjaan jadi ugahari

Itulah syair yang dilampirkan oleh Raja Ali Haji di dalam Tsamarat al-Muhimmah, yang dimaksudkan untuk pegangan para pemimpin. Sebaik-baiknya orang yang diajak bermusyawarah dan dimintai pendapat adalah mereka yang berilmu. Hal itu dapat dipahami karena orang-orang yang berilmu nescaya dapat memberikan saran dan pendapat berdasarkan sudut pandang keilmuan yang menjadi kepakarannya. Maksudnya, masalah hukum misalnya, sosok yang patut diajak bermusyawarah dan dimintai pendapat tentulah pakar hukum, bukan pakar ekonomi, dan seterusnya demikian adanya. Dengan cara itulah sesuatu pekerjaan kepemimpinan akan berjalan secara ugahari.

Di dalam Tuhfat al-Nafis pula, Raja Ali Haji (bersama ayahanda beliau Raja Ahmad Engku Haji Tua) memberikan contoh pemimpin yang membuka diri bagi pendapat dan saran orang lain. Berikut ini nukilannya.

“Alkisah tersebutlah perkataan Raja Landak, bermula adalah Raja Landak itu namanya Ratu Bagus. Maka apabila ia mendengar Raja Pinang Sekayuk berperang dengan Raja Sebukit di dalam Mempawah, maka ia pun bersegeralah pergi dengan Raden Othman berjalan darat serta dibawanya segala orang Islam Landak, dengan Dayak Cugi mengiring dia. Maka sampailah ia ke Pinang Sekayuk, lalu berjumpa dengan Pangeran Dipati Pinang Sekayuk. Maka berkhabarlah ia kepada Pangeran Dipati kedatangan ia itu kerana hendak mendamaikan Pangeran Dipati dan Pangeran Emas Seri Negara itu kerana apalah faedah berkelahi berbantah, kerana sudah seperti anak buah sanak saudara. Maka jawab Pangeran Dipati, ‘Yang saya tiada apa-apa mana-mana sahaja yang baik kepada Ratu Bagus, kerana pekerjaan saya ini sekali-sekali bukan perbuatan saya, tetapi adalah pekerjaan ini perbuatan anak saya, dengan tiada usul periksanya dan tiada sabar. Beberapa kali sudah saya larang tiada juga diindahkannya sampai masanya inilah jadinya, tidak pada dengan dia seorang isi negeri dan orang ramai yang menanggung susahnya,” (Matheson (Ed.) 1982, 105—106).

Karena mengetahui Raja Pinang Sekayuk dan Raja Sebukit (di Mempawah, Kalimantan Barat) sedang berperang (perang saudara), Raja Landak datang ke daerah yang sedang bergolak itu untuk mendamaikan kedua-dua rajanya yang sedang berperang. Ternyata, nasihat, saran, dan pendapat yang diberikan oleh Ratu Bagus diterima oleh Pangeran Dipati (penguasa Pinang Sekayuk kala itu). Alhasil, peperangan dapat dihentikan dan kedamaian wujud kembali di Negeri Mempawah. Luar biasa rupanya manfaat menerima saran dan pendapat orang lain, tentu lebih-lebih pendapat orang-orang yang ahli dan arif dalam bidangnya, dalam menciptakan penyelenggaraan kepemimpinan dan pemerintahan yang baik. Raja Landak, Pangeran Dipati Pinang Sekayuk, dan Pangeran Emas Seri Naga merupakan contoh pemimpin, dalam sejarah Kerajaan Mempawah, yang mendapat hikmah kesediaan memberi dan menerima pendapat orang lain sehingga dapat menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pandangan, yang tak memerlukan tindak kekerasan.

Memang, kesediaan menerima saran dan pendapat dari orang lain melalui musyawarah seperti yang diwasiatkan oleh Raja Ali Haji saling tak tumpah dengan pedoman Allah. Marilah kita cermati firman Ilahi.

“Maka, disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” (Q.S. Ali ‘Imran:159).

Jelaslah sudah sumber utama wasiat Raja Ali Haji agar para pemimpin membudayakan perilaku meminta saran dan pendapat kepada orang lain dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kesemuanya itu memang sejalan dengan ajaran Allah SWT, Sang Pemilik Kebajikan yang kekuasaan-Nya tiada bandingannya dengan sesiapa atau apa pun di jagat raya ini. Tentulah pedoman Allah itu yang harus diikuti oleh setiap pemimpin jika kepemimpinannya hendak diperhitungkan dalam kategori cemerlang di dunia ini.

Atas dasar itu pula, tak heranlah kita ketika Raja Ali Haji menegaskan juga perkara itu di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 4 dan 5.

Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai

Mengasihi orang yang berilmu dan menghormati orang yang pandai tentulah tak perlu dengan memuja dan memuji mereka secara berlebihan. Cukuplah mereka dibawa bermusyawarah untuk dimintai saran dan pendapat berkenaan dengan bidang yang menjadi kepakaran mereka. Dengan begitu, pemimpin mampu mendayagunakan semua potensi yang tersedia di sekelilingnya untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan yang diamanahkan kepadanya. Insya Allah, kesemuanya akan dimudahkan oleh Allah—menjadi ugahari—karena pentadbiran negeri benar-benar berpedoman kepada Kalam Ilahi.

Al-Bukhari berkata dalam shahihnya, “Para pemimpin sepeninggal Nabi SAW  bermusyawarah dengan orang-orang berilmu yang amanah dalam permasalahan yang mubah agar mampu menemukan solusi yang termudah. Apabila Al-Quran dan Hadits telah jelas menerangkan sesuatu permasalahan, maka mereka tak berpaling kepada selain itu untuk mengikuti Nabi SAW. Abu Bakar telah berpandangan untuk memerangi kaum yang menolak membayar zakat, maka Umar pun berkata, “Bagaimanakah Anda boleh memerangi mereka, padahal Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan Laa ilaha illallah.’ Jika mereka telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka telah terjaga, kecuali dengan alasan yang hak dan kelak perhitungannya di sisi Allah Taala.” Maka Abu Bakar pun menjawab, “Demi Allah, saya akan memerangi orang yang memisah-misahkan sesuatu yang, justeru, digabungkan oleh Rasulullah SAW.” Kemudian, Umar pun mengikuti pendapat beliau.

Ternyata, bermusyawarah untuk menghimpun pendapat dan saran dari orang-orang yang tepat merupakan tradisi kepemimpinan yang diterapkan oleh para sahabat Rasulullah. Betapa Umar ibn Khattab menerima pendapat Abu Bakar As-Siddiq menjadi bukti akan mutu kebiasaan yang baik itu. Dengan cara seperti itulah, segala pekerjaan kepemimpinan menjadi ugahari. Dan, hanya pemimpin yang berkehalusan budi-lah yang memahami dan mau menerapkan gaya kepemimpinan yang baik lagi terpuji itu.

Di luar itu, kita tahulah karenah kepemimpinannya walaupun dia saban hari mengobral senyum palsunya. Senyum palsu kepemimpinan jauh lebih berbisa dari segala racun yang pernah wujud di dunia. Di racun itulah kita harus berhati-hati supaya tak menyesal nanti.***

 

Tinggalkan Balasan