Salah Satu halaman manuskrip Surat Hikayat Abdul Muluk koleksi Perpustakaan Negara Malaysia (dok: Aswandi Syahri)

Raja Ali Haji menyebutnya Surat Hikayat Sultan Abdul Muluk (selanjutnya, SHSAM). Dibanding Gurindam 12, maka surat hikayat dalam bentuk syair ini adalah karya Raja Ali Haji yang paling populer pada ke-19 hingga awal abad ke-20.

Hal itu dimungkinkan setelah versi cetak SHSAM tampil di hadapan khalayak pembaca untuk pertama kalinya di Batavia (Jakarta) pada tahun 1847, atas usaha Phillippus Roorda van Eijsinga yang menerbitkan teks edisi cetak dalam huruf jawi SHSAM lengkap dengan terjemahan bebasnya (vrije vertaling) dalam bahasa Belanda, yang dimuat dalam volume 4 “majalah ilimiah” Tjdschrift voor Nederland’s Indie milik perkumpulan Bataviaasch Genootschap  .

Roorda, yang juga seorang hakim di Batavia ketika itu, menerbitkan teks edisi jawi SHSAM berdasarkan sebuah manuskrip SHSAM yang dikirim Raja Ali Haji sebagai ‘balasan’ atas hadiah sebuah edisi cetak Surat Sri Rama (Hikayat Sri Rama) yang dikirim Roorda kepadanya bersama sepucuk surat.

Tentang hadiah balasan itu, disebutkan oleh Raja Ali Haji dalam sepucuk surat bertarikh 6 Rajab 1262 bersaman dengan  30 Juni 1846 yang mengiringi manuskrip SHSAM dan  sehelai kain sutere buatan istrinya yang dikirimnya kepada Roorda di Batavia. Raja Ali Haji menjelaskannya  sebagai berikut:

            “Syahdan, suatu pun tiada cendra mata kepada sahabat kita, hanyalah satu surat Hikayat Sultan  Abdul Muluk yang sudah kita sendiri nazamkan dengan bahasa Melayu Johor yang terpakai pada masa ini. Serta sehelai kain sutera perbuatan istri kita sendiri. Tiada lah dengan sepertinya akan diperbuat basahan sahabat kita bersiram. Dan bukannya pula jadi pembalasan kepada sahabat kita adanya”.

Oleh karena tertarik dan kagum dengan versi cetak Surat Sri Rama yang diterimanya dari Roorda, maka dalam itu Raja Ali Haji  juga berharap agar SHSAM dicetak. Apabila selesai, ia minta dikirimi satu eksemplar:

Dan lagi, dari pihak itu surat [SHSAM], jika sahabat kita cetak dengan huruf bahasa Melayu, yang kita banyak harap juga, boleh sahabat kita kirimkan kita satu supaya boleh kita baca-baca…”

Bagai gayung bersambut, edisi cetak SHSAM akhir terbit dan hadir di tengah khalayak pembaca di Batavia psds tahun 1847. Dalam teks jawi yang diterbikannya itu, Roorda menggunakan judul seperti yang disebut Raja Ali Haji dalam suratnya: Surat Hikayat Sultan Abdul Muluk. Namun demikian, sangat disayangkan karena Roorda melakukan kekeliruan yang fatal. Ia menyebutkan pengarangnya adalah, Sri Paduka Yang Dipertuan Muda Raja Ali Haji ibni Raja Ahmad ibni Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah.

Halaman judul Surat Hikayat Sultan Abdul Muluk yang dinazamkan oleh Raja Ali Haji: edisi cetak huruf jawi yang diterbitkan oleh Phillippus Roorda van Eijsinga dalam Tjdschrift voor Nederland’s Indie, tahun 1847.

Apakah eksemplar edisi cetak SHSAM itu jadi dikirim Roorda kepada Raja Ali Haji? Bagaimana reaksi Raja Ali Haji tentang kesalahan dalam penulisan namanya itu? Wallahu’alam bissawab wa-al-maaf,  tiada seberang informasi yang sampai kepada kita tentang hal tersebut.

Dalam perjalanan sejarah , kesalahan bukan saja terjadi pada penulisan nama Raja Ali Haji sebagai pengarangnya, akan tetapi kepengarangannya atas SHSAM juga diragukan oleh beberapa pakar sastra Melayu klasik, hingga ini.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Semuanya berpunca dari katalogus Van Ronkel (190:321), yang menyebutkan adanya catatan L.W.C. van den Berg, dalam daftar manuskrip Melayu yang disusunnya, tentang sebuah manuskrip Melayu berjudul Sjair Soeltan Abdoelmoeloek yang didalamnya terdapat catatan Hermaan Von de Wall dalam bahasa Belanda, yang terjemahannya kira-kita sebagai berikut:

Roorda salah ketika menyebut pengarangnya adalah Raja Ali Haji Riouw, karena sesungguhnya syair hikayat itu disusun saudara perempuannnya yang bernama Raja Salihat atau Saleha”.

Catatan Von de Wall itu sangat berpengaruh, bahkan hingga kini. Tak sedikit pakar yang menyebut bahwa Raja Ali Haji hanya merevisi apa yang telah dibuat adiknya, Raja Saleha. Bahkan, dengan teorinya, pakar sastra Melayu klasik sekaliber Vladimir Braginsky meragukan kepengarangan Raja Ali Haji atas SHSAM: “…[didalam narasinya] perempuan tokoh utama kisah memainkan peran yang sama penting dengan laki-laki tokoh utama…bahwa mungkin Syair Abdul Muluk tetapi pasti Syair Sultan Yahya (karya Daeng Wuh, Perempuan dari Penyengat) adalah sususan penyair-penyair wanita…”.

Apakah pakar sekelas Bragisnky dan lainnya tak membaca kolofon pada teks jawi SHSAM  yang diterbitkan Roorda di Batavia tahun 1847? Bagaimanakah akan menidakkan bila dalam kolofonnya Raja Ali Haji mengatakan ia menyelesaikan penulisan SHSAM di Kampung Kota Rentang, Pulau Penyengat, pada hari Rabu 1 Juli 1846?

Telah selesai fakir al-hakir bizanbi kashir Wa-al-taksir yaitu Raja Ali Haji Ibni Raja Ahmad Riau mengarang syair ini, yaitu tarikh sanah 1262 pada delapan hari bulan Rajab kepada hari Arba’a jam pukul satu di dalam negeri Riau Pulau Penyengat di Kampung Kota Rentang adanya.”

Setelah diterbitkan pada tahun 1847, SHSAM yang hadir dalam dua bahasa dan dua tulisan (Jawi-Melayu dan Latin-Belanda) menjadi begitu populer dan tampil sebagai salah satu karya sastra penting di Hindia dan Alam Melayu karena kemudian menjadi sumber inspirasi dalam melahirkan berbagai versi “inkarnasi” atau avatar-sastranya  sejak pertengahan abad ke-19 hingga dekade-dekade awal abad ke-20.

Di Singapura, SHSAM muncul dengan judul: Syair Abdul Muluk, Hikayat Sultan Abdul Muluk, Sultan Abdul Muluk di Dalam Negeri Barbari, Syair Abdul Muluk Siti Rafiah, Syair Abdul Muluk Istrinya Bernama Rafiah, Syair Abdul Muluk dan Siti Rafiah, dalan lain sebagainya sejak tahun 1860-an hingga 1917. Selain itu, SHSAM juga dicetak di Palembang.

Pada tahun 1934, Balai Poestaka penah menerbitan sebuah teks edisi SHSAM berdasarkan terbitan Roorda, naskah koleksi Von de Wall, dan satu naskah cetak batu di Singapura. Selain itu, menurut Monique Zaini-Lajoubert, Syair Abdul Muluk itu juga telah menghasilkan sebuah avatarnya, dalam karya sastra Melayu-Tionghoa, yang berjudul Syair Cerita Siti Akbari  karya (bapak sastra Melayu-Tionghoa) Lie Kim Hok pada tahun 1922.

Inkarnasi yang lain dari SHSAM tersebab popularitasnya itu, adalah sebuah teater rakyat hasil ‘kreasi’ seorang bernama Hasan yang berasal dari Talang Pangeran, Kecamatan Pemulutan Ogan Komering Ilir, di Palembang.

Teater rakyat yang diciptakan berdasarkan kisah-kisah dalam SHSAM tersebut muncul untuk pertama kalinya di kampung Tebing Abang, Pelembang pada tahun 1919. Itulah teater rakyat yang kemudian dikenal sebagai Teater Dul Muluk.

***

            Garis besar narasi SHSAM adalah sebagai berikut:  Tersebutlah Abdul Muluk, putra Sultan Abdul Hamid  dari Negeri Barbari.  Mula-mula ia menikah dengan seorang putri bernama Siti Rahmah, lalu menikah untuk keduakalinya dengan seorang putri Sultan Negeri Ban yang bernama Siti Rafiah.

Kedua istrinya itu hidup rukun bersama Abdul Muluk yang kemudian menjadi Sultan di Negeri Barbari. Namun demikian, kebahagian itu tak berlangsung lama. Sultan Hindustan menyerang Negeri Barbari tanpa pernyataan perang terlabih dahulu, tersebab membalas kematian pamannya.

Dalam peperangan itu, Abdul Muluk Sultan Barbari dan istrinya yang bernama Siti Rahmah ditangkap, dimasukkan ke dalam penjara. Sementara itu, istri kedua Sultan Abdul Muluk,  Siti Rahmah, yang ketika itu sedang mengandung, berhasil menyelamatkan diri ke hutan, dilindungi oleh seorang pertapa.

Di hutan itu, Siti Rahmah melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Abdul Ghani. Tak lama kemudian, ia meninggalkan sang anak pada pertapa itu, dan menyamar sebagai seorang laki-laki bernama Dura untuk  mencari dan menyelamatkan suminya.

Siti Rahmah berhasil mengalah Sultan Hindustan dengan bantuan pasukan Negeri Barbaham dan membebaskan Abdul Muluk serta madunya, Siti Rahmah.

Narasi SHSAM disudahi dengan ‘happy ending’. Abdul Muluk dari negeri Barbari kemudian menjadi Sultan Negeri Ban Hindustan. Negerinya makmur, dan  Abdul Muluk hidup bahagia bersama kedua istri dan anaknya, Abdul Ghani.

Bait-bait syair dalam SHSAM (edisi cetak huruf jawi, 1847), dibawali dengan bait syair sebagai berikut:

Bismilah-ar-rahman permulan kata/ Nama Tuhan alam semesta/ Kemudian tersebut Sultan mahkota/ Di negeri Barbari Baginda bertahta.

Adapun bagian penamat al-kisahnya diakhiri dengan dua bait syair sebagai berikut:

Jadilah Makmur Negeri ban Hindustan/ Sebab perintah berpatutan/ Dengan syari’at yang diperturunkan/ Kepada Nabi akhir al-zaman/”

Wallah ‘alam tamatlah syair/ Dengan tolong Tuhan yang amat bashir/ Berkata Nabi basyir al-nazir/ Mohonkan sangat yaum al-akhir/

Menurut Braginsky (1998:397-398), esensi narasi SHSAM yang tidak kalah panjangnya dibandingkan dengan Syair Bidasari ini, memberikan penekanan pada tingginya akhlak mulia dan kecerdikan seorang perempuan.***

Artikel SebelumPilihan Bebas Kepemimpinan
Artikel BerikutSukakah Kamu atau Tiada?
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan