Tradisi tulis Riau-Lingga di Pulau Penyengat tetap berlanjut setelah kerajaan bersejarah itu dihapuskan Belanda pada 1913. Diantara penulis terkenal dan paling prolific pada periode ini adalah Abu Muhammad Adnan Riau.

Pewaris Raja Ali Haji

            Abu Muhammad Adnan Riau adalah nama pena Raja Haji Abdullah. Beliau cucu

Abu Muhammad Adnan atau Raja Haji Abdullah bersama Muhammad Adnan, anak laki-laki satu-satunya laki-lakiya dalam keluarga Raja Haji Abdullah. Foto dibuat di sebuah studio foto di Tanjungpinang pada dekade pertama abad 20. (foto: aswandi)

Raja Ali Haji melalui anak laki-laki kesayangannya yang berama Raja Hasan. Ia menggunakan nama pena Abu Muhammad Adnan setelah anak laki-laki satu-satunya yang bernama Raja Muhammad Adnan wafat dalam usia belasan tahun.

Sosok yang pada masa hidupnya disapa oleh penduduk Pulau Penyengat dengan sebutan Engku Haji Lah ini menggunakan nama pena Abu Muhammad Adnan (Ayah Muhammad Adnan) itu sebagai bentuk duka yang mendalam dan tanda sayang yang teramat sangat kepada anak kesayangannya itu.

Ia juga seorang pengamal tarekat Naqsyabandiah, dan nama tarekat itu juga menghiasi nama penanya yang lain, Abu Muhammad Adnan Riau al-Naqsyabandi al-Khalidi, dan Abu Muhammad Adnan Haji Abdullah al-Naqsyabandi.

Penerus dan salah satu pewaris kepiawaian Raja Ali Haji ini lahir di Pulau Penyengat, dan wafat di pulau itu pada 24 April 1926.

Majalah Peringatan yang terbit di Pulau Penyengat tahun 1939, juga mencatatnya sebagai “…pelukis Melajoe yang masjhoer….”. Keluasan pengetahuannya dalam bidang huku dan agama telah memungkin ia menjadi hakim di Kerajaan Riau-Lingga, dan menjadi Kadhi Syari’ah pada  Landraad (Pengadilan Negeri zaman Belanda) di Tanjungpinang, setelah kerajaan Riau-Lingga dihapuskan pada 1913.

Lebih jauh tentang cucu Raja Ali Haji ini, dalam majalah Peringatan No. 1, tahun 1, bulan Mei 1939 tersebut tercatat sebagai berikut:

Al-marhoem ini pandai berbahasa Arab dengan baik serta alim dalam pengtahwan Agama Islam. Moel2 Al-Marhoem ini beroleh pelasjaran di penjengat dan menamatkan peladjaran di Makkah.

Al-marhoem ini sangat bijak lagi mahir dalam ilmoe “Rohani” dan gemar melatih dirinja dam ilmoe2 jan seni2 seoempama Oeloemoel Aqlam (sebangsa ilmoe memerintahkan qalam menulis sendiri) menjatakan maksoed2 jang dikahandakinja.”

Sebelum terbakar pada malam hari raya puasa tahun 1920, rumah Abu Muhammad Adnan di Kampung Baharu Pulau Penyengat adalah ‘perpustakaan’ dan tempat rujukan penting tentang sejarah, bahasa, dan sastra Melayu pada zamannya. Dirumah itu pula tersimpan kitab  dan karya-karya datuknya, Raja Ali Haji.

Setelah datuknya, Raja Ali Haji, maka Abu Muhammad Adnan adalah pengarang paling prolific (subur berkarya) diantara pengarang-pengarang Riau-Lingga setelah zaman Raja Ali Haji. Bahkan ia terus menghasilkan karya-karya dalam bidang sastra, bahasa dan ilmu tradisional Melayu, jauh hingga ke masa-masa setelah Riau-Lingga berakhir pada 1913.

Dalam sejarah kepengarangan Riau-Lingga, Abu Muhammad Adnan antara lain dicatat menghasilkan karya-karya asli dan karya terjemahan yang menjadi salah satu kepiawaiannya sebagai seorang cendekia dan pengarang. Rangkaian karya-karya Abu Muhammad Andan yang telah diketahui antara adalah sebagai berikut:

Hikayat Tanah Suci atau Hikayat Asyik Turki (1924), serial Syair Ghayat al-Muna (1903, Kitab Pelajaran Bahsa Melayu Yang Dinamai Akan Dia Kutipan Mutiara Dengan Syair Dipahamkan Segera (1911), Syair Seribu Satu Hari yang merupakan terjemahan dari karya berbahasa Arab Alfu yaumin wa yaumin (1918), Penolong Bagi Yang Menuntut Akan Pengetahuan Yang Patut (1921), Syair Syahinsyah (1922), dan Kitab Pelajaran Bahasa Melayu Yang Dinamai Akan Dia Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama Yang Mudah (1926),

Diterbitkan Kembali

            Sebagai seorang penulis yang prolific, sudah tentu senarai judul karya Abu Muhammad yang telah diketahui belumlah menggambar korpus karya-karyanya. Diyakini masih banyak karya Abu Muhammad Adnan yang belum diketahui keberadaannya.

Beberapa ilustrasi dapat dikemukakan sempena asumsi ini. Ketika melakukan pendataan dan digitalisasi manuskrip dan Kepustakaan Riau-Lingga di Daik-Lingga pada tahun 2007 misalnya, saya menemukan sebuah manuskrip tentang bahasa Melayu karya karya Raja Abdulaah alias Abu Muhammad Adnan. Selain itu, sudah barang tentu Syair Abdulrahim Jenaka yang diperkenal dalam ruang kutubkhanah untuk jantungmelayu ini adalah salah satu bukti lain yang baru diketahui.

Syair Abdulrahim Jenaka belum pernah dikemukan dan diperkenalkan dalam tulisan-tulisan tentang Abu Muhammad Adnan dan dalam kajian-kajian tentang tradisi tulis Riau-Lingga, khususnya tentang berbagai karya yang ditulis pengarang-pengarang dari Pulau Penyengat.

Ian Proudfoot juga tidak mencantumkan syair ini dalam senarai buku-buku cetakan lama yang dihimpun dalam buku katalognya yang sangat terkenal dan penting bagi dunia kepustakaan Melayu klasik, Early Malay Printed Books (1993).

Dua halaman pertama Syair Abdulrahim Jenaka edisi foto copy (terbitan kedua) oleh Khazanah Fathaniyah Kuala Lumpur, Malaysia 1999 M (foto: aswandi)

Syair Abdulrahim Jenaka ini ditemukan dalam bentuk bentuk hasil foto-copy  berdasarkan sebuah edisi cetak lithography menggunakan huruf Arab-Melayu pada tahun 1338 H bersamaan dengan 1919 yang kini ada dalam simpanan Khazanah Fathaniyah, Malaysia. Hasil foto-copy syair itu merupakan terbitan kedua lembaga tersebut pada tarikh 1999.

Sayang, pihak Khazanah Fathaniyah tidak mencantumkan nama pencetak atau penerbit seta tempat syair ini dicetak pada tahun 1919. Akibatnya, sejumlah informasi bibliografis penting yang ada kainnya  dengan khazanah kepustakaan Melayu klasik ini lepas-luncas dari pengetahuan kita.

Syair Abdulrahim Jenaka

            Kolofon Syair Abdulrahim  Jenaka menjelaskan bahwa judul lengkap syair ini adalah, Inilah Kisah Gharamiyah Yang Dinamai Akan Dia Syair Abdulrahim  Jenaka Jadi Penghiburan Hati Yang Duka Supaya Boleh Mendatangkan Suka. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa syair ini terkumpul oleh Abu Muhammad Adnan Riau didalam tahun 1313, yang bersamaan dengan tahun 1919 M.

Kandungan isinya diawali dengan empat bait syair ‘pengantar’ yang berisikan pujian-pujian kepada Tuhan dan shalawat kepada Nabi. Selanjutnya adalah bait-bait syair yang menjelaskan sari pati latar cerita,  serta penjelasan bahwa syair ini adalah hasil terjemahan sebuah karya berbahasa Arab, yang tidak disebutkan judulnya, kedalam bahasa Melayu Riau.

Diterjemahkan daripada bahasa ‘Arabiah
Kepada bahasa Melayu Riauwiyah
Kisah nin masa Bani Umaiyah
Di Damsyik al-Syam kerajaan waliyah.

Perintahnya sampai ke Kupah negeri
Ditauliahkan disana seorang Amir
Hijaj bin Yusuf yang masyhuri          
Al-Tsakfi bangsa digelari.

Setelah empat bait syair ‘pengantar’, kandungan isi syair ini dipilah-pilah dalam 39 buah judul atau babak cerita; 1 buah nasehat penterjemah sebagai rawi dan 1 buah do’a penutup, yang seluruhnya terdiri dari 69 halaman. Diawali dengan babak cerita berjudul “Dari hal Amir Hijaj bin Yusuf yang  aniaya Kerana Banyak Menumpahkan Darah Maknusia,” dan berakhir dengan babak cerita yang diberi judul “Perjamuan Besar di rumah Abdulrahim al-Nadim kerana Keselamatan dan sampai hajat kedua laki istri dengan ‘inayah Khalik al-Bari”.

Tampaknya, syair ini adalah bagian dari serial cerita-cerita dimana Riwayat Gharamiyah yang Dinamai Akan Dia Syair Ghayat al-Muna yang juga karya Abu Muhammad Adnan pada tahun 1903, tercakup di dalamnya. Namun demikian, Syair Abdurahim Jenaka adalah sebuah cerita tunggal, yang dibuat terpisah dari Syair Ghayat al-Muna yang dipilah-pilah penerbitannyamenjadi tiga jilid.

Seperti Syair Ghayat al-Muna, Syair Abdurahim Jenaka dan hampir semua syair cerita terjemahan Abu Muhammad Adnan berlatar cerita Timur Tengah. Cerita dalam syair Abdulrahim Jenaka cukup sederhana. Ia mengisahkan seputar kehidupan tagedia dan komedia tokoh utamanya yang bernama Abdulrahim, dalam hubunganya dengan tokoh lainya yang bernama, Abdulrahman, Amir Hijaj, Abdulrazak, Saidah ‘Ain, Zaharah al-Hayat di negeri Kufah-Hijaj, dan Damsyik pada zaman Kekhalifahan Bani Umaiyah.

Menurut Jan van der Putten dalan essainya tentang Syair Ghayat al-Muna (2007), syair-syair berlatar Timur Tengah karya Abu Muhammad Adnan, sama sekali bukanlah hal baru bagi orang Melayu, dan ianya telah  menjadi bagian dari tardisi literasi Riau-Lingga sejak pertengahan abad ke-19.

Syair abdul Muluk oleh Raja Ali Haji, Syair Qahar Masyhur dan Syair Madi karya Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji Abdullah, Syair Raja Damsyik karya Haji Ibrahim yang kesemuanya berlatar Timur Tengah, mungkin telah menjadi sumber inpirasi bagi Abu Muhammad Adnan dalam menghasilkan karya-karya, seperti Syair Abdulrahim Jenaka, yang sama genre-nya dan berlatar Timur Tengah.***

Artikel SebelumMembangun Patriotisme Melalui Seni-Budaya
Artikel BerikutJangan Masuk ke Api Itu!
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan