Beranda blog

Hikayat Tengkorak Kering Boleh Berkata-Kata

0

Judul hikayat ini sangat menggerunkan atau menakutkan. Namun isinya bukanlah kisah horor yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Hikayat ini adalah contoh cerita berbingkai, legenda pahlawan-pahlawan Islam dan orang alim yang sarat dengan kebesaran agama Allah sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW.

Hikayat seperti ini asalnya adalah khazanah sastra Timur Tengah yang  kemudian tersebar juga di Alam Melayu. Dalam khazanah sastra Melayu, padanan Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering ini adalah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Saif Dhu’l-Yazan atau Sirat ibn Yazan, Hikayat Sultan Ibrahim Ibn Adham atau Syair Cerita di Dalam Kubur.

Sebaran dan Versi

            Richard Olaf Winsted dalam buku klasiknya A Historical of Classical Malay Literature (1969:97) mengatakan tak ditemukan naskah awal dan tak ada catatan serta penjelasan tentang asal-usul Hikayat Tengkorak Kering yang dikenal juga dengan judul Hikayat Raja Jumjumah, King Skull (Raja Tengkorak), Hikayat Jumjumah, dan Hikayat Tengkorak Kering Boleh Berkata,  sebelum abad ke-19.

Namun demikian, menurut Winstedt, berbagai versinya dapat ditemukan dalam bahasa Sunda, Aceh, Persia, Hindustan, Afganistan, dan sudah barang tentu dalam bahasa Melayu. Bahkan, syair ini telah pula diterjemahkan kedalam bahsa Inggris dan dimuat dalam Asiatic Journal and Monthly Register pada tahun 1823.

Di Alam Melayu umumnya, dan Kepulauan Riau-Lingga khususnya, hikayat ini populer melalui edisi cetak litografi (edisi cetak batu) menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu yang dihasilkan oleh percetakan dan penerbit di Pulau Pinang serta Singapura.

Versi cetak paling tua dari  hikayat ini, tercatat berasal dari tahun 1894, dan dicetak oleh Mercantile Press di Pulau Pinang. Microfilm edisi cetak tahun 1894 ini antara lain berada  simpanan National Library Singapura dengan nomor katalogus NL 2553.

Setelah edisi cetak Pulau Pinang, muncul kembali beberapa versi cetak oleh penerbit  di Singapura antara tahun 1896 dan 1917. Ian Proudfoot dalam Early Malay Printed Books (1992:511), mencatat tiga versi cetak di Singapura  yang kini tesimpan pada sejumlah perpustakaan  di Inggris, Jakarta, Belanda, dan Singapura.

‘Versi Singapura’ ini muncul pertamakali pada bulan November 1896, dan dicetak oleh Kedai Haji Muhammad Said milik Haji Mujtahid yang beralamat di 51 & 47 Sultan Road, Singapura. Dalam colofon-nya, judul lengkap hikayat ini ditulis sebagai berikut: Hikayat Tengkorak Kering Boleh Berkata-Kata Tengkorak itu Asalnya Daripada Sultan Jumjumah.

Pada 5 Desember 1896, sekali lagi Haji Muhammad Said mencetak 1000 eksemplaar hikayat ini dan dijual dengan harga $0.15,- per eksemplaar. Pada tahun yang sama, edisi kedua ini juga telah diregisterkan (didaftarkan) di Singapura dengan No. 301 dan “menjadi hak Haji Mujtahid bin Haji Muhammad Said selamanya”.

Sebagai pemegang ‘hak cipta’, percetakan Kedai Haji Muhammad Said yang kemudian beralamat di 82 Arab Street Singapura, kembali mencetak Hikayat Tengkorak Kering Yang Pandai Berkata-Kata secara litografi pada akhir tahun 1917.

 

Karangan Baharu

            Hikayat Tengkorak Kering yang diperkenalkan dalam  kutubkhanah  ini adalah ‘versi baru’ atau karangan baharu. Diusahakan oleh seorang penulis  ‘tak dikenal’ yang menamakan dirinya Babu Zamansyah atau Babu bin Zamansyah.

Sebagai sebuah ‘karangan baharu’, Babu Zamansyah mengunakan judul Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering. Tak ada informasi bibliografis tentang tarikh hikayat ini dicetak. Namun yang pasti, versi ini juga dicetak di Singapura oleh percetakan Darul Taba’ah al Misriyah al-Qubra atau Al-Misriya Publishing House: sebuah percetakan buku terunggul di Timur Asia yang beralamat di 60 Basroh Street, Singapura.

Sama seperti tiga versi yang sebelumnya juga  dicetak Singapura oleh Kedai Haji Muhammad Said, isi Hikayat Tengkorak Kering ‘versi Babu Zamansyah’ ini masih dicetak secara litografi. Namun bila melihat covernya yang telah dibuat menggunakan teknik cetak lebih maju dan dilengkapi ilustrasi dalam bentuk sketsa dan foto, maka versi ini jauh lebih muda dibanding hasil cetakan Kedai Haji Muhammad Said.

Versi Karangan Baharu yang menjadi rujukan utama laman kutubkhanah ini terdiri dari 23 muka surat, dan bersumber dari koleksi pribadi Abdul Halim Nasir yang kini berada dalalam simpanan perpustakaan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) University Kebangsaan Malaysia (UKM).

Meskipun disebut sebagai sebuah ‘karangan baharu’ yang memasukkan ajaran-ajaran Islam yang baru setelah kdatangan Nabi Muhammad SAW, bahan utama versi ini tampaknya adalah versi lama yang ditulis sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir. Mengapa?

Indikasi ini terlihat dengan adanya teks kalimah syahadat yang belum mencantumkan nama Nabi Muhammad SAW, melain Nabi Isa ‘Alaihissalam sebgai rasul sebagaimana terlihat dalam kalimah syahadat yang diucapkan oleh Raja atau Sultan Jummmah sebagai salah satu tokoh utama dalam hikayat ini: Asyhandu-anla-illahailallah-wa-asyhadu-annaka-Isa-Ruhullah.

Tengkorak Raja Jumjumah 

Hikayat Jumjumah atau Tengkorak Kering karangan baharu ini bercerita tentang seorang raja Negeri Syam (kini mencakupi wilayah Libanon, Palsetina, Siria atau Suria, dan Yordania) yang bernama Raja Jumjumah atau Sultan Jumjumah dan hal ihwalnya dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam.

Dikisahkan bahwa Sultan Jumjumah adalah seorang maharaja masyhur yang menakluki seluruh Benua Syam, sekalian Negeri Parsi, Basrah, Bagdad (Irak), seluruh negeri-negeri di Tanah Arab, Mesir, dan seluruh Benua Afrika.

Semasa hidupnya ia memerintah dengan adil namun tidak menunaikan sembahyang lima waktu. Akibatnya, setelah wafat ia mendapat siksa di neraka, “…bertemu dengan segala jenis binatang ular, dan kala, dan halipan, yang besar-besar seperti gunung dan bukit, mamatuk dan melontarkan kepalanya kedalam lautan api neraka…”

Pada suatu hari, tengkorak Raja Jumjumah yang telah lama wafat dan telah kering itu ditemukan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam ketika baginda berjalan-jalan di tengah padang di Negeri Syam.

“…Maka diangkat oleh Nabi Alla ‘Isa ‘Alaihissalam serta ditangisnya oleh melihatkan tengkorak. Maka Nabi Allah ‘Isa pun memintak do’a kepada Allah subhana-wa-ta’ala, katanya, Ya Rab, Ya Saidi, Ya Maula, Ya-Rabbal-‘Alamin. Dengan kebesaran dan kemuliaan Mu jua, aku pohonkan kepada Mu, berilah kiranya tengkorak ini berkata-kata, supaya hamba Mu dapat bertanya kepadanya…. Ia sudah merasai mati…”

“Maka, dengan seketika itu juga didengar oleh Nabi Allah ‘Isa ‘Alaihissalam satu suara, demikian katanya. “Hai ‘Isa, bertanyalah engkau kepada tengkorak itu”. Maka dengan takdir Allah ta’ala, berkat mu’jizat Nabi Allah ‘Isa, tengkorak yang sudah kering itu pun dapatlah berkata-kata.”     

Tengkorak itu kemudian becerita kapada Nabi Isa bahwa ia asalnya adalah se­orang raja di Negeri Syam yang penuh dengan segala kemewahan dan bersifat adil, tetapi ia tidak menunai­kan fardhu sembahyang lima waktu.

Kemudian tengkorak itu menceritakan pengalaman dahsyat-dahsyat yang dialaminya sesudah ia mati, dan bagaimana azabnya orang-orang yang berbuat maksiat serta melalaikan perintah Allah disiksa di akhirat.  Setelah sekian lama menjalani siksa neraka, akhirnya Raja Jumjumah lepas dari segala azab, karena semasa hidupnya ia ada sedikit ilmu agama dan suka bersedekah kepada fakir miskin.

Di akhir pembicaraan dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam, tenggkorak Raja Jumjumah minta agar Nabi Isa memohon kepada Allah supaya ia dihidupkan sa­mula untuk berbuat amal saleh. Apabila permo­honannya terkabul maka ia tak ingin lagi menjadi raja dan senantiasa beribadat kepada Allah.

Gemparlah penduduk Negeri Syam karena rajanya yang telah lama wafat hidup kembali. Kepada rakyatnya ia bercerita: “Wallah-‘alam, entah bagaimana, ditakdirkan Allah subhana-wata’ala, tiba-tiba tengkorakku dikeluarkan Allah di tengah padang  Negeri Syam ini. Lalu dicerita oleh Jumjumah kepada menteri dan rakyat sekalian daripada awal sampai akhirnya, dan berjenis-jenis ‘azab yang telah diterima daripada Allah di dalam neraka.”

“…Maka berkata Jumjumah…hai menteriku dan rakyatku sekalian, sekarang aku tidak mahu menjadi raja lagi, dan aku tidak berkehendak kepada harta benda aku sekalian itu, dan aku hendak memberi nasihat kepada kamu sekalian supaya kamu menurut perintah [Allah]”.

Setelah itu, Raja Jumjumah duduk di sebuah rumah dan senantiasa berbuat amal ibadat dan puasa kepada Allah subhana-wata’ala siang dan malam, serta memintak ampun segala dosanya sampai ia wafat kembali.

Konon, setelah tengkoraknya dihidupkan kembali, Raja Jumjumah  “… hidup lapan puluh tahun, dan ada setengah pula berkata ia hidup ampat puluh tahun, dan setengah berkata ia hidup ampat puluh hari sahaja. Waulah’alam. Amin Ya rabbal-‘alamin”.***

Seperti Kebun Berpagar Duri

0

PELBAGAI masalah kepemimpinan, bahkan persoalan apa pun dalam kehidupan, dapat diselesaikan dengan baik melalui musyawarah. Bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah tergolong sangat dianjurkan dan bernilai mulia dalam tamadun kita.

Oleh sebab itu, pemimpin yang melaksanakan kebijakan kepemimpinannya berdasarkan hasil musyawarah akan diapresiasi dan dipuji oleh masyarakat dan atau rakyat dibandingkan pemimpin yang cenderung memaksakan pemikirannya sendiri.

Pemimpin yang membiasakan diri mengambil keputusan kepemimpinan berdasarkan mufakat bersama orang-orang yang tepat cenderung berhasil mencapai visi dan misi kepemimpinannya secara meyakinkan. Keberhasilannya dapat diukur dari kemajuan negeri. Dalam hal ini, negeri yang dipimpinnya makmur dan rakyatnya sejahtera.

Pemimpin dengan kualitas itu sanggup menjaga negeri dan rakyat secara baik berasaskan hikmah mufakat. Pemimpin yang mampu menjalankan pemerintahan berdasarkan musyawarah-mufakat yang baik tergolong arif sehingga wajar mendapat sokongan rakyat.

Dalam Syair Abdul Muluk, Raja Ali Haji rahimahullah menarasikan keberhasilan kepemimpinan dan kemajuan negeri yang dikelola dengan mengutamakan musyawarah dan mufakat. Inilah nukilan bait karya yang tak hanya bernilai, tetapi juga memikat itu.

Beberapa pula menteri perdana
Di bawah Mansur yang bijaksana
Mufakatnya baik dengan sempurna
Tetaplah kerajaan duli yang gana

Bait syair di atas merupakan lukisan yang dibuat oleh Raja Ali Haji tentang suasana Kerajaan Negeri Barbari yang makmur dan sejahtera. Negeri itu beroleh anugerah yang berlimpah dari Allah, antara lain, karena pentadbirannya dilaksanakan dengan kebiasaan bermufakat di antara para penyelenggaranya: sultan, para menteri, dan orang besar-besar (para pembesar) sekaliannya.

Karena pemimpinnya membiasakan pengambilan keputusan melalui musyawarah itulah, Kerajaan Barbari berjaya menjadi negeri yang gana atau negara yang ‘makmur dan sejahtera’.

Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman kejayaan itu, menjelang sampai ajalnya karena gering (sakit)-nya yang tenat (parah), Sultan Abdul Hamid Syah—penguasa Negeri Barbari—berwasiat kepada putranya Abdul Muluk.

Pesannya agar putra mahkota negeri itu melanjutkan tradisi bermusyawarah untuk mencari mufakat dalam pentadbiran negeri. Dalam hal ini, apa pun masalah yang dihadapi hendaklah diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat.

Karena tuan orang yang muda
Belumlah sampai akal anakanda
Jikalau sesuatu pekerjaan ada
Hendaklah mufakat dengan mamanda

Melalui tokoh-tokoh ceritanya dalam Syair Abdul Muluk, Raja Ali Haji memandang sangat mustahak tradisi bermusyawarah diterapkan dalam penyelenggaraan pemerintahan negeri dan atau negara.

Beliau berkeyakinan bahwa musyawarah dan mufakat merupakan strategi yang menentukan kejayaan kepemimpinan dan pemimpinnya. Oleh sebab itu, di dalam karya beliau yang ditulis setahun setelah Syair Abdul Muluk, yakni Gurindam Dua Belas, persoalan mufakat itu dikemukakan lagi pada Pasal yang Kedua Belas, yang memang khusus membahas masalah penyelenggaraan negara, yang terekam pada bait 1.

Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagar duri

Bait gurindam di atas menegaskan bahwa negeri atau negara yang dikelola dengan cara musyawarah-mufakat akan sulit dijatuhkan oleh pihak mana pun, sama ada dari dalam ataupun dari luar. Pasalnya, mufakat itu dapat berperan bagai pagar untuk sebidang kebun (sebagai simbol negeri atau negara).

Dengan demikian, mufakat itu menjadi pagar yang kuat lagi efektif untuk menangkal segala anasir yang berpotensi untuk menjatuhkan pemimpin dan kepemimpinannya sehingga negeri atau negara akan senantiasa berada dalam keadaan aman dan tenteram walaupun sebagaimana layaknya kehidupan berbangsa dan bernegara bahwa cobaan dan cabaran senantiasa datang silih berganti.

Pagar mufakatlah yang mampu menjadi perisai yang mangkus bagi keamanan dan kenyamanan negeri. Alhasil, pagar mufakat itu sanggup menjulangkan sesebuah negara menjadi negeri yang gana, makmur-sejahtera, yang memang patut dihuni oleh makhluk yang bertamadun tinggi. Dengan demikian, pemimpin negerinya pun tak diragukan lagi kualitas budinya.

Raja Ali Haji masih menegaskan mustahaknya musyawarah dalam pelaksanaan pemerintahan negeri. Kali ini melalui karya beliau Tsamarat al-Muhimmah. Di dalam karya itu beliau menegaskan bahwa penyelenggaraan negara dengan mengutamakan musyawarah memang dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Oleh sebab itu, beliau meyakini bahwa negeri yang dikelola dengan cahaya musyawarah-mufakat akan dilapangkan jalan kebenaran dalam penyelenggaraanya. Dampaknya, negeri itu pun mudah mendulang kejayaannya.

“Syahdan bermula pekerjaan musyawarah itu, yaitu yang disuruhkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya…. Dan, telah berkata setengah hukama barang siapa yang diberi empat perkara, tiada ditegahkan [dilapangkan, dipermudah, A.M.] empat perkara. Pertama, barang siapa diberi syukur tiada ditegahkan bertambahnya.

Dan, barang siapa diberi taubat, tiada ditegahkan kabulnya. Barang siapa diberi istikharah tiada ditegahkan kebajikan. Dan, barang siapa diberi musyawarah, tiada ditegahkan kebenarannya, intaha,” (Raja Ali Haji dalam Abdul Malik, Ed., 2013:51).

Perian di atas mengungkapkan keutamaan musyawarah dalam pentadbiran negeri, menurut Raja Ali Haji, berdasarkan pedoman dari Allah dan Rasulullah. Firman Allah yang dapat dirujuk untuk itu, antara lain, adalah ayat berikut ini.

“Dan, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya,” (Q.S. Ali Imran:159).

Ayat di atas merupakan salah satu pedoman dari Allah yang membenarkan hujah Raja Ali Haji tentang keutamaan musyawarah. Itulah sebabnya, beliau sangat yakin bahwa kepemimpinan yang berpilarkan mufakat yang benar akan mendapat hidayah dari Allah.

Walaupun begitu, Raja Ali Haji mengingatkan kita bahwa tak semua musyawarah dapat melapangkan jalan kebenaran penyelenggaraan pemerintahan. Bahkan, perkara yang sebaliknya boleh terjadi sebagai akibatnya.

Dalam hal ini, melalui Tsamarat al-Muhimmah (lih. Raja Ali Haji dalam Abdul Malik, Ed., 2013:51—52), beliau mengingatkan janganlah bermusyawarah dengan (1) orang yang jahil, (2) orang yang memusuhi kita, (3) orang yang dengki, (4) orang yang riya’, (5) orang yang penakut, (6) orang yang bakhil (kikir, lokek), (7) orang yang suka bermain perempuan, dan (8) orang yang cenderung menjadi hamba sahaya hawa-nafsu.

Pasalnya, kedelapan jenis orang atau makhluk itu akan mendatangkan kecederaan (kerusakan) pada musyawarah itu.

Maksudnya, jika makhluk-makhluk tersebut yang diajak bermusyawarah, mereka akan menggiring musyawarah untuk menghasilkan mufakat yang dimurkai oleh Allah demi memuaskan hawa-nafsu mereka saja.

Sebagai contoh, tukang bakar hutan yang dibawa bermusyawarah untuk mengatasi kebakaran hutan, pastilah mereka akan menggiring opini bahwa membakar hutan itu tak mendatangkan mudarat asal dilakukan dengan cara begini dan begitu dengan hujah atau argumentasi yang menyesatkan.

Di sebalik hujah dan opini itu, hawa-nafsu mereka telah mengangankan sekian juta, bahkan mungkin miliaran, dolar keuntungan akan diraup dalam sekejap.

Bagi para penyembah hawa nafsu duniawi itu, tak ada urusannya dengan rakyat yang harus tersedak menghirup asap sepanjang hari dengan segala dampak penyakit yang ditimbulkannya sampai kepada kematian sekalipun.

Apatah lagi, keuntungan itu diperoleh di tengah nilai tukar rupiah yang kian menggila terhadap dolar yang kian menggoda semakin ke sini.

Soal musuh yang dilarang dibawa bermusyawarah itu, dalam hal ini, para pemimpin harus betul-betul memahami karenahnya. Jangan dikira orang-orang yang selalu memberikan kritik yang konstruktif dianggap musuh pula. Merekalah, boleh jadi, ternyata teman terbaik yang harus selalu dibawa bermufakat. Pasalnya, tipe manusia seperti itu memang mengidealkan negeri dibangun berdasarkan prinsip-prinsip yang madani. Tentulah mereka berbeda dengan para pengeritik asal kritik, yang membawa udang di sebalik batu di kepalanya.

Yang justeru harus diwaspadai adalah para musuh di dalam selimut. Mereka boleh menyamar menjadi apa saja: kerabat, sahabat atau, bahkan, bawahan sang pemimpin selama ini. Bahkan, derajat mereka pun dinaikkan oleh pemimpin itu dari sebelumnya bukan siapa-siapa. Malangnya, mereka bukanlah “orang kepercayaan” yang setia, melainkan musuh sejati yang siap menikam dari belakang ketika pemimpinnya lengah dan leka. Makhluk jenis inilah yang dibidalkan oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesembilan, sebagai syaitan/iblis yang menyerupai manusia.

Jenis makhluk dayus seperti itu memang tak pernah berani menantang atau mencabar dari depan, kecuali mereka bermuka-muka atau mencari muka di depan pemimpinnya (pengampu). Semangat hedonistis dan pragmatis yang senantiasa merasuki memungkinkan mereka menghalalkan segala cara untuk keuntungan mereka, termasuk menjatuhkan pemimpin yang telah berjasa kepada mereka. Untuk menghadapi makhluk bermuka jamak seperti itu, memang diperlukan kecerdasan dan kearifan pemimpin. Dalam hal ini, hendaklah diingat nasihat orang tua-tua, “Hanya mutu yang mengenal manikam.”

Rasulullah SAW bersabda, “Jika pemimpin-pemimpin kalian adalah orang-orang yang terbaik di antara kalian, dan orang-orang kaya kalian adalah orang-orang yang berlapang dada dari kalian, dan perkara kalian diselesaikan dengan musyawarah di antara kalian, maka punggung bumi akan lebih baik bagi kalian daripada perutnya. Dan, jika pemimpin-pemimpin kalian adalah orang-orang yang jahat di antara kalian, dan orang-orang kayanya adalah orang-orang yang bakhil (kikir) dari kalian, dan perkara kalian kembali kepada perempuan-perempuan kalian, maka perut bumi lebih baik daripada permukaannya,” (H.R. Tirmidzi).

Kutipan hadits di atas juga membenarkan pernyataan Raja Ali Haji bahwa memimpin negeri dengan mengutamakan musyawarah-mufakat memang dianjurkan oleh Baginda Rasulullah SAW. Bahkan ditegaskan, karena mengutamakan musyawarahlah, manusia layak hidup di permukaan bumi. Sebaliknya pula, jika mufakat dinafikan, Baginda Rasul mengisyaratkan tempat hunian yang terbaik bagi makhluk itu adalah perut (bagian dalam) bumi. Begitulah mustahaknya musyawarah dan mufakat dalam penyelenggaraan pemerintahan menurut ajaran Islam sebagaimana yang diyakini oleh Raja Ali Haji.

Hari boleh berganti sebagaimana musim boleh berubah. Bersamaan dengan itu, para pemimpin pun terus bertukar dan atau diganti dari masa ke masa. Oleh sebab itu, sesiapa pun yang berasa mampu boleh berbaris untuk mendaftar menjadi pemimpin negeri. Satu perkara yang tak pernah boleh berubah dalam kepemimpinan adalah hanya mufakat yang sempurnalah akan menjelmakan negeri yang gana. Matlamat itu hanya boleh dicapai jika negeri dipimpin oleh pemimpin sejati. Yang pasti, dia bukanlah orang yang setiap hari memasang muka untuk dikasihi dan atau unjuk kuasa untuk dihormati.

Negeri makmur dan rakyat sejahtera memang menjadi cita-cita mulia bersama dalam pembentukan sesebuah negeri dan atau negara di mana pun di dunia ini. Oleh sebab itu, amat patut dicari pemimpin yang mampu menjulangkan daulat rakyat dalam kepemimpinannya. Artinya, pemimpin itu konsisten menerapkan strategi musyawarat dan mufakat agar rakyat memperoleh haknya untuk hidup layak dan selesa di permukaan bumi Allah yang berlimpah karunia-Nya seperti yang diwasiatkan oleh Rasulullah. Semoga tak pula terjadi, kita hidup di permukaan bumi, tetapi berasa terkurung di perut bumi. Padahnya, hidup rasanya segan, tetapi  mati pun tak pula mau.***

Pohon Perhimpunan Karya Raja Ali Kelana

0

Ungkapan yang mengatakan bahwa berita adalah sejarah yang ditulis pada hari ini”, sangat tepat untuk menyebut esensi lain dari hasil kerja seorang jurnalis. Ungkapan ini tentu semakin mengena bila disandingkan dengan ungkapan terkenal yang menyebutkan bahwa “seorang jurnalis adalah pencatat sejarah di garis depan”.

Di Kepulauan Riau, esensi kerja seorang jurnalis ini telah dimulai dan dipraktikkan oleh Raja Ali Kelana melalui karyanya yang berjudul Pohon Perhimpunan. Mengapa?

Raja Ali Kelana

Siapa Raja Ali Kelana? Beliau adalah seorang tokoh politik, intelektual anti kolonial, pengusaha, dan pembesar dari Kerajaan Riau-Lingga. Dalam struktur pemerintahan kerajaan Riau-Lingga pada akhir abad ke-19, jabatannya adalah Kelana atau calon Yang Dipertuan Muda Riau untuk mengganti posisi ayahnya, Raja Muhammad Yusuf  Yang Dipertuan Muda Riau X.

Sebagai seorang Kelana pembesar kerajaan yang menjalankan kerja-kerja Yang Dipertuan Muda Riau, posisi Raja Ali Kelana istimewa. Beliau adalah satu-satunya calon Yang Dipertuan Muda Riau yang menghasilkan karya tulis, dan peneraju perkumpulan Rusydiah Club Riouw Pulau Penyengat yang luas pengetahuannya: baik dalam bidang agama, bahasa, siasah, dan ilmu lainnya.

Sejauh yang diketahui, sebagai seorang penulis, Raja Ali Kelana telah menghasilkan sedikitnya delapan buah karya dalam berbagai bidang. Salah satunya adalah Pohon Perhimpunan yang akan diperkenalkan dalam Kutubkhanah minggu ini.

Dalam arena politik, Raja Ali Kelana adalah aktor-intelektual dibalik perlawanan pasif (lidelijk verzet) cendekiawan Riau-Lingga dalam “menggoyang” parlemen Hindia Belanda di Batavia, yang berujung kepada pemakzulan sultan dan penghapusan kerajaan Riau-Lingga pada 1913.

Demi marwah, Kelana Riau-Lingga yang tak sempat menjabat Yang Dipertuan Muda Riau ini hijrah ke Johor setelah Belanda memakzulkan Sultan Riau-Lingga pada 1911. Raja Ali Kelana mangkat di Jl. Tebrau, Johor Baharu, pada hari Ahad pukul 8 pagi tanggal 10 Jumadil Akhir 1346 Hijriah bersamaan dengan 4 Desember 1927. Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman diraja Johor di Bukit Mahmudiah.

Pohon Perhimpunan

Judul lengkapnya adalah  Bahwa Inilah Cetera Yang Bernama Pohon Perhimpunan Pada Menyatakan Peri Perjalanan. Dalam katalogus perpustakaan, edisi cetaknya dalam huruf Arab Melayu yang dihasilkan Mathba’ah al-Riauwiyah Pulau Penyengat pada 1897, dan edisi alih aksara dalam huruf rumi atau latin yang muncul jauh kemudian, “judulnya populernya” adalah  Pohon Perhimpunan.

Halaman 23 Pohon Perhimpunan: berisikan laporan perjalanan ke Teluk Bunguran pada 12 Ramadhan hari Arba’a bersamaan dengan 26 Februari 1896.

Ian Proudfoot telah mencantumkan Pohon Perhimpunan dalam katalog buku-buku Melayu cetakan yang muncul hingga tahun 1920-an yang dihimpunkannya dalam sebuah buku setebal 859 halaman berjudul Early Malay Printed Books (1993).

Pohon Perhimpunan karya Raja Ali Kelana tergolong bahan pustaka klasik yang istimewa dan sangat langka atau rare books. Sangat terbatas eksemplarnya yang masih tersisa. Berdasarkan data dari sejumlah katalogus, satu satunya eksemplaar Pohon Perhimpunan, yang diketahui masih kekal dan telah direstorasi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, kini berada dalam simpanan Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Riau di Penyengat.

Berdasarkan informasi dalam Notulen Bataviaasch Genootschap (sekarang Museum Nasional) tahun 1903, Pohon Perhimpunan pernah menjadi salah satu koleksi perpustakaan museum yang dibangun oleh Thomas Stamford Raffles itu. Namun sayangnya, karya Raja Ali Kelana itu tak ditemukan lagi dalam koleksi perpustakaan tua yang kini diwariskan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Laporan Jurnalistik

Pohon Perhimpunan adalah sebuah buku dengan tulisan Arab Melayu (huruf Jawi) yang bersikan laporan perjalanan Raja Ali Kelana selama 15 hari mengunjungi kawasan Pulau  Tujuh (menacakupi Pulau Jemaja, Siantan, Bunguran, Serasan, dan Tambelan) dari tanggal  9 Februari 1896 hingga 6 Maret 1896, lengkap  dengan sejumlah sejumlah “foto jurnalistik” yang mengabadikan momen-momen penting dalam perjalanan itu.

Laporan perjalanan ini adalah saripati dari sebuah catatan komisi (perjalan inspeksi) bersama Controleur Tanjungpinang, J.J.E.F. Schwartz, sempena mengetahui hal ihwal di kawasan Pulau Tujuh, Kepulauan Riau, yang ketika itu berada dalam wilayah kerajaan Lingga-Riau dan daerah takluknya.

Salah satu “foto jurnalistik yang ditempelkan dalam Pohon Perhimpunan: Raja Ali Kelana (duduk paling tengah) dan Controleur J.J.E.F. Schwartz (duduk di sebelah kiri) ketika mengunjungi hulu Sungai Air Pasir, di Pulau Jemaja, 21 Februari 1896.

Dalam Pohon Perhimpunan terdapat empat belas kisah perjalanan. Diawali dengan perjalanan pertama, yang bermula dari labuhan Tanjungpinang pada hari Arba’a tanggal 6 Ramadhan 1313 anno Heigira yang bersamaan dengan tanggal 19 Februari 1896 anno Miladiah. Seluruh rangkaian perjalanan ini juga berakhir di labuhan Tanjungpinang pada tanggal 23 Ramadhan yang bersamaan dengan hari Sabtu pukul 5 petang, tanggal 6 Maret tahun 1896.

Melalui Pohon Perhimpunan sejumlah pakar telah menasbihkan Raja Ali Kelana sebagai seorang peletak dasar  dunia jurnalistik di kerajaan Riau-Lingga. Mengapa?

Menurut Hasan Junus, jarak antara peristiwa atau kejadian yang dilihat dan didengar oleh Raja Ali Kelana dengan penyiarannya dalam Pohon Perhimpunan kurang dari dua tahun, adalah satu ukuran yang cukup dekat dan cepat untuk ukuran zamannya: sebuah syarat yang cukup untuk menyebutnya sebagai sebuah karya jurnalistik untuk ukuran zaman itu, mengingat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan infomasi.

Di lain pihak, Jan van der Putten  menyebut Pohon Perhimpunan  sebagai sebuah karya yang cukup syarat untuk disebut sebagai hasil kerja seorang jurnalis ‘pencatat’  sejarah di garis depan, karena banyaknya tempelan foto yang berkaitan dengan apa yang tertulis di dalamnya. Menurut Jan, hal  ini menandakan Pohon Perhimpunan  adalah sebuah publikasi yang ditujukan untuk dilihat dan dibaca oleh orang banyak .

Pohon Perhimpunan adalah sebuah contoh sempurna peralihan dari tradisi manuskrip kepada teknik tipografi menggunakan huruf timah. Sebuah kecenderungan baru dalam tradisi tulis Riau-Lingga yang sedikit-banyaknya dipicu oleh perkembangan teknik percetakan di Kepulauan Riau-Lingga dan Singapura pada akhir abad ke-19.***

Syair Negeri Tambelan

0
Elemen dalam Foto: 1. Kolofon pada bagian akhir Syair Negeri Tambelan Koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. (foto: aswandi syahri) 2. Foto Pemandangan Kampung di Negeri Tambelan, Pulau Tambelan, tahun 1896 karya H.J.E. Schwartz. (dok: aswandi syahri) 3. Foto aerial Tambelan oleh One Dispar Bintan

Nama Pulau Tambelan, di Kecamatan Tambelan Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau,  kurang dikenal dalam dunia  khazanah manuskrip Melayu. Namun demikian, bukan berarti tidak ada khazanah manuskrip Melayu tentang Pulau Tambelan, atau manuskrip Melayu yang pernah ditulis dan disalin di Pulau itu.

Salah satu khazanah manuskrip Melayu  yang terkenal dan mencatat perihal Pulau Tambelan dan masyarakatnya pada akhir abad 19 adalah sebuah edisi cetak laporan perjalanan Raja Ali Kelana ketika komisi [inspeksi] ke Pulau Tujuh pada 1896 yang berjudul  Bahwa Inilah Cetera Yang Bernama Pohon Perhimpunan Pada Menyatakan Peri Perjalanan: dicetak oleh Madba’ah al-Riauwiyah Pulau Penyengat pada tahun itu juga.

Kutubkhanah minggu ini memperkenalkan Syair Negeri Tambelan, sebuah khazanah manuskrip Melayu yang banyak mencatat ikwal Pulau Tambelan pada akahir abad ke-19.

Pusat Manuskrip Melayu

Manuskrip syair  ini pada mulanya adalah koleksi pribadi almarhum Wan Mohd Shaghir Abdullah, seorang anak watan Pulau Midai  yang masyhur sebagi kolektor  penting Manuskrip Melayu di Kuala Lumpur. Ia mendapatkan manuskrip Syair Negeri Tambelan ini di Kota Pontianak pada 20 Disember 2001 M.

Namun kini, manuskrip Syair Negeri Tambelan ini telah menjadi bagian dari koleksi Pusat Manuskrip Melayu (PMM) Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) dengan nomor katalog MSS 3137. Menurut penjelan pihak PMM-PNM, manuskrip syair ini sebenarnya tidak berjudul, dan Syair Negeri Tambelan adalah judul yang diberikan oleh PMM-PNM.

Manuskrip syair simpanan PMM-PNM adalah bagian dari sebuah manuskrip  yang ditulis pada 106 muka surat,  dan mengandungi dua buah syair yang berbeda isinya. Kedua syai tersebut ditulis menggunakan huruf Jawi atau huruf Arab Melayu tulisan tangan mengunakan tinta hitam pada kertas bergaris, atau buku tulis yang dipotong sedemikian rupa, dan  dijilid dengan cara dijahit.

Syair pertama yang mengawali Syair Negeri Tambelan adalah Syair Bab al-Nikah (SBN). Sebuah salinan bagian Bab al-Nikah dalam Kitab al-Nikah  @ Syair Hukum Nikah @ Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji yang disalin oleh Datuk  Petinggi Tambelan, dan kemudian disalin kembali oleh pengarang Syair Negeri Tambelan di Pulau Tambelan pada 24 Zulqaidah 1313 H bersamaan dengan 7 Mei 1896. Dalam manuskrip koleki PMM yang berukran 17 cm x 11 cm ini, Syair Negeri Tambelan dicantumkan pada muka surat 71 hingga muka surat 110. Sama seperti Syair Bab al-Nikah, Syair Negeri Tambelan  ditulis menggunakan tinta hitam.

Beberapa bagian  kertas yang mengandungi Syair Negeri Tambelan kondisinya agak rusak karena air dan serangga, yang menyebabkan sejumlah huruf dalam bait-bait syair itu hilang. Fisik manuskrip syair ini memang telah direstorasi oleh pihak PMM-PNM. Namun demikian, tindakan penyelamatan yang dilakukan tak sepenuhnya dapat memulihkan bagian-bagian tulisan yang rusak dan hilang.

Kolofon pada bagian akhir Syair Negeri Tambelan Koleksi Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia. (foto: aswandi syahri)

Karya Muhammad Umar

            Nama lengkap pengarang Syair Negeri Tambelan adalah Muhammad Umar bin Encik Harun. Ia lahir Kampung Tambelan, Kesultanan Pontianak, pada 3 Jumadil Awal 1275 H bersamaan dengan 9 Desember 1858 M. Biografi singkatnya pernah ditulis oleh Wan Mohd Shaghir Abdullah (2005).

Kesultanan Pontianak ketika itu dipimpin oleh Sultan Syarif Muhammad al-Kadrie (1895-1944). Sedangkan Kampung Tambelan di Kesultanan Pontianak pada masa itu masih dipimpin langsung oleh tokoh pembukanya yang bernama  Abdulrahman atau Panglima Abdulrahman, bergelar Datok Kaya Abdulrahman.

Muhammad  Umar  bin Encik Harun wafat di Pontianak  pada malam Ahad tanggal 28 Syafar 1342 H bersamaan dengan 4 Agustus 1929,  dalam usia 73 tahun. Informasi biografis Muhammad Umar  yang diungkap oleh Wan Mohd Shaghir Abdullah dalam tulisannya (2005), berkait-kelindan dengan bait-bait Syair Negeri Tambelan yang menjelaskan sosok (Muhammad Umar sebagai) pengarangnya:

Jikalau tuan tahu akan orangnya/ Pontianak itu negerinya/ Sultan Mahmud nama Rajanya/ Bangsa sayid muda alimnya/ Di Kampung Tambelan rumah tangganya/ Muhammad Umar nama yang punya/ Abdulrahman nama kepalanya/ Sewaktu itu hamba membuatnya”.

Selaian menulis Syair Negeri Tambelan dan menyalin ulang salinan  Syair Bab al-Nikah, Muhammad Umar  juga menghasilkan karya lain berjudul Jurnal Perlayan dan Petua Melayu serta sejumlah catatan tentang obat-obatan Melayu.              

            Manuskrip Syair Negeri Tambelan diselesaikannya ketika ia berada di Pulau Tambelan yang  disebutnya sebagai Negeri Tambelan. Ketika itu, Negeri Tambelan dipimpin oleh dua orang Datuk (Datuk Kaya dan Datuk Petinggi). Dalam bait-bait Syair Negeri Tambelan,  Muhammad Umar menjelaskannya sebagai berikut: “Negeri itu Datuknya dua/ Yang di ulu satu di hilir yang kedua/ Tiada sama perintah dia/ Masing-masing menurutkan hawa.”

Tarikh selesai penulisannya dijelaskan oleh Muhammad Umar secara ‘samar-samar’ dalam bait terakhir syair yang isinya sebagai berikut: “Tamatlah syair harinya Ahad/ Di negeri Tambelan kita membuat/ Bulan Muharam tahun lebih ampat/ Orang negeri tiada sepakat.”

Apakah makna larik “Bulan Muharam tahun lebih ampat”?  Berdasarkan kolofon yang terdapat pada Syair Bab al-Nikah dan bait-bait Syair Negeri Tambelan, maka tarikh selesai penulisan Syair Negeri Tambelan yang dinyatakan secara berkias itu, dapat dijelaskan sebegai berikut:

Pertama, syair ini ditulis pada akhir abad ke-19, ketika Kesultanan Pontianak diperintah oleh Sultan Syarif Muhammad al-Kadrie (1895-1944).

Kedua, jika mengacu kepada catatan dalam  kolofon manuskrip Syair Bab al-Nikah  yang selesai disalin pada 7 Mei 1896 (bersama dengan 24 hari bulan zu-al-qa’idah malam Jum’at pukul 12 dua belas kepada tahun sanah 1313), maka larik syair “Bulan Muharam tahun lebih ampat  bermakna Syair Negeri Tambelan selesai dibuat atau dikarang  empat tahun setelah salinan Syair Bab al-Nikah selesai disalin semula pada tahun 1317 H yang bersamaan dengan 1899 M.

Foto Pemandangan Kampung di Negeri Tambelan, Pulau Tambelan, tahun 1896 karya H.J.E. Schwartz. (dok: aswandi syahri)

Bukti lain yang dapat menunjukkan bahwa syair ini selesai ditulis pada akhir abad ke-19 adalah penggunaan potongan kertas bekas arsip surat (dokumen) tulisan tangan berbahasa Belanda bertarikh 29 Mei 1896, yang terdapat pada bait terakhir syair ini. Potongan arsip surat menggunakan kertas Eropa yang lebih lebal dari kertas untuk menuliskan manuskrip ini, digunakan sebagi penguat sampul (kulit) kitab.

Negeri Tambelan Akhir Abad 19

            Syair Negeri Tambelan, berisikan kisah nyata yang dialami dan disaksikan langsung oleh  Muhammad Umar selaku pengarangnya yang menumpang kapal seorang pedagang dan singgah selama sekitar lima hingga enam bulan di Pulau Tambelan.

Awalnya ia berlayar dari Kampung Tambelan di Pontianak, menumpang perahu milik pedagang beras, tembakau, dan setarup  (setaroh: sejenis herbal) bernama Haji Isa orang Serasan, yang hendak berlayar ke Singapura melaui Pulau Tambelan.

Di Pulau Tambelan, Muhammad Umar dan Haji Isa duduk menumpang di Rumah Muhammad  Bakar sambil menanti habisnya penjualan barang dagangan yang dibawa oleh Haji Isa, sembari mengumpulkan kelapak (kelapa dalam logat Tambelan) untuk dibawa ke Singapura.

Selama singgah di Pulau Tambelan, Muhammad  Umar banyak menyaksikan dan mencatat berbagai peristiwa sosial-ekonomi yang terjadi pada akahir abad ke-19 . “Selama kita di Negeri Tambelan/ Sahabat handai manggil sekalian/ Ada Pengantin ada yang kematian/ Begitulah didalam lima anam bulan”. Bahkan ia juga sempat tampil bermain kesenin terbang dan rodat dalam sebuah pesta  pernikahan seorang bernama Sulaiman di Kampung Melayu.

Seperti telah dilaporkan juga oleh Raja Ali Kelana dalam kitab Pohon Perhimpunan, sistem perdagangan di Tambelan terbilang ‘unik’.  Menurut Muhammad Umar, di Tambelan ketika itu tidak terdapat  pasar tempat pedagang dan pembeli berkumpul. Semua transaksi jual-beli dilakukan di atas perahu  milik pedagang yang datang secara berkala.

Pada akhir abad ke-19 itu, selain dikunjungi oleh perahu-perahu pedagang Melayu seperti Haji Isa, Pulau Tambelan juga disinggahi oleh sejumlah perahu pedagang Cina, yang umumnya bermodal besar. Mereka mengusai perdagangan beras yang mereka jual dibawah harga pasar.

Menurut Muhammad Umar,”monopoli” pedagang Cina dalam perdagangan beras  ini mematikan usaha pedagangan beras orang Melayu: “Kerana rugi beras dijualkan/ Perahu Cina ada di Tambelan/ Tiga ampat buah di dalam labuhan/ Membawa beras berpuluh koyan | Cina jual lapan gantang seringgit/ Orang membeli bukan sedikit/ Abis sebuah sebuah berjangkit/ Dengan kelapak kering tidak mungut ringgit.

Selain perihal perdagangan, Muhammad Umar juga mencatat sejumlah peristiwa sosial, politik, dan kriminal yang terjadi di Pulau Tambelan ketika itu. Sebagai ilustrasi, dalam bait-bait Syair Negeri Tambelan ada dicatat beberapa peritiwa kriminal yang  menggemparkan ketika terjadi peritiwa penikaman dan  pencurian peti berisi dua ratus lima puluh ringgit milik Muhammad Yusuf  di Kampung [Melayu] Ujung. Tersangkanya bernama Si Radat yang berasal dari Pulau Bunguran. Peti uang itu sempat disembunyikannya di dalam tanah, ditaruhnya di ilir ujungnya negeri/ Dimasukan di tanah malamnya hari.

Kasus pencurian uang ringgit ini akhirnya dapat dituntaskan. Dengan perintah Datuk Petinggi, berbagai usaha dilakukan untuk menangkap Si Radat. Pencuri kelas kakap itu akhirnya dapat ditangkap oleh penduduk Pulau Tambelan dan dipasung oleh  Datuk Petingi untuk memaksanya menunjukan tempat peti uang tersebut disembunyikan.

Syair Negeri Tambelan, adalah salah satu contoh syair klasik Melayu yang  kaya dengan informasi faktual tentang suatu zaman pada ruang dan waktu tertentu. Ianya adalah tipikal  “Syair Jurnalistik” yang harus disimak oleh siapa saja yang akan menulis ikwal Negeri Tambelan pada akhir abad 19.***

Hendak Dimalui, Jangan Memalui

0

SEMUA pemimpin, secara potensial, boleh berjaya dalam kepemimpinannya. Secara umum, indikator kejayaan pemimpin adalah kepemimpinannya memang memuaskan sebagian besar rakyat, yang memang diakui secara jujur oleh rakyat atau masyarakat yang dipimpinnya. Dalam keadaan demikian, pemimpin dan rakyat secara bersama-sama dapat menikmati hasil kepemimpinan yang dilaksanakan dengan baik secara mengesankan.

Kejayaan kepemimpinan seperti itulah yang didambakan oleh setiap pemimpin. Walaupun begitu, tak semua pemimpin mampu mewujudkan harapannya itu karena pelbagai faktor, baik internal maupun eksternal.

Akan tetapi, pemimpin yang mendasarkan bakti kepemimpinannya dengan niat yang suci dan bekerja dengan ikhlas, walaupun menghadapi pelbagai cabaran, pasti akan menuai kejayaan kepemimpinan.

Kejayaan kepemimpinan mempersyaratkan, antara lain, sang pemimpin mencintai rakyat dan negerinya dengan sepenuh hati. Di pihak lain, rakyat pun mencintai pemimpinnya dengan sesungguhnya, bukan karena direkayasa oleh sang pemimpin dengan pelbagai cara untuk mengecoh rakyat atau masyarakatnya.

Dalam keadaan pemimpin mencintai rakyat dan sebaliknya rakyat pun demikian pula kepada pemimpinnya, buah manis kepemimpinan akan dinikmati. Hasilnya tentulah negeri makmur, aman, dan sentosa; rakyat sejahtera; serta sang pemegang teraju kepemimpinan akan mencatatkan namanya sebagai pemimpin terbilang.

Dalam kondisi yang ideal itu, jangankan manusia, bahkan waktu pun tak pernah sanggup menghapus ingatan sesiapa pun sepanjang perjalanan sejarah suatu bangsa dan umat manusia.

Dari perspektif tamadun Melayu yang berteraskan ajaran Islam, kepemimpinan merupakan suatu amanah. Oleh sebab itu, ianya tak boleh diperebutkan karena akan buruk padah (akibat)-nya jika dilanggar atau mengingkari ketentuan amanah itu.

Sesuatu amanah baru dapat dilaksanakan dengan benar dan baik jika ianya didasari oleh cinta dan doa. Dalam hal ini, kedua-duanya secara resiprokal pemimpin dan rakyat saling berdoa untuk kejayaan kepemimpinan. Pedomannya terdapat dalam wasiat Baginda Rasulullah SAW.

Dari ‘Auf ibn Malik, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya pemimpin kalian ialah orang yang kalian cintai dan mereka [maksudnya, para pemimpin, A.M.] itu pun mencintai kalian. Juga, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian.

Sebaliknya, seburuk-buruknya pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian,” (H.R. Muslim).

Berdasarkan petunjuk dari Baginda Rasulullah SAW itulah, Raja Ali Haji rahimahullah memerikan keyakinan melalui karya beliau. Dalam syair Abdul Muluk dapat kita jumpai bait-bait yang menegaskan mustahaknya rasa cinta seseorang pemimpin terhadap rakyatnya.

 

Masyhur khabar segenap negeri

Abdul Hamid Syah Sultan Barbari

Adil dan murah bijak bestari

Sangatlah mengasihi dagang senteri

………………………………………….

Jika ayahanda sudahlah mati
Tinggallah Tuan menjadi ganti
Hendaklah siasat jangan berhenti
Rakyat tentara jangan disakiti

 

Bait-bait syair di atas berkisah tentang sifat dan perilaku Sultan Abdul Hamid Syah, pemimpin Negeri Barbari, yang sangat mencintai rakyatnya. Larik /Sangatlah mengasihi dagang senteri/ menandai hal ini sehingga Sultan Barbari berjaya membawa negeri dan rakyatnya menuju singgasana kemakmuran dan kesejahteraan, bahkan mampu mengangkat marwah negerinya secara memesona.

Berdasarkan pengalaman itulah, menjelang sampai ajalnya, Sang Sultan berwasiat kepada pewaris tahtanya, anakandanya Abdul Muluk, untuk menjadikan cinta sejati kepada rakyat dan tentara sebagai kunci utama pembuka gerbang kejayaan kepemimpinan: /rakyat tentara jangan disakiti/.

Dengan keyakinan yang kuat itu pulalah, kemudian, Raja Ali Haji mengukuhkan amanat beliau melalui Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesebelas, bait 5, dan Pasal yang Kedua Belas, bait 4—5 tentang kewajiban pemimpin mengasihi orang yang berilmu dan menghormati orang yang pandai. Kesemuanya bermuara pada cinta-kasih dalam kepemimpinan. Berikut ini Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kesebelas, bait 5.

 

Hendak dimalui
Jangan memalui

 

Larik-larik dalam bait gurindam di atas bermakna ‘jika hendak dihormati orang /Hendak dimalui/, setiap pemimpin tak boleh melanggar syarat dan atau ketentuan kepemimpinan yang benar dan baik: /Jangan melalui/. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, sesiapa pun pemimpinnya harus mampu mencintai rakyat (dan negeri)-nya dengan cinta sejati dan sepenuh hati berasaskan ketaatan untuk melaksanakan amanah Allah.

Jika syarat dan ketentuan itu diabaikan, alamat kepemimpinan akan mengundang malapetaka dan musibah. Rakyat dan tentara akan membenci pemimpinnya sebagai indikator kegagalan sekaligus kejatuhan pemimpin. Perkara itu dengan sangat jelas pula dinarasikan oleh Raja Ali Haji dalam syair nasihat dari karya beliau dalam bidang politik, hukum, dan pemerintahan: Tsamarat al-Muhimmah. Berikut ini nukilan bait syair yang bermuatan tunjuk ajar tersebut.

Jika tergelincir pekerjaan salah
Pekerjaan anakanda beroleh lelah
Rakyat tentara tentu bencilah
Barangkali datang murkanya Allah

Jika berpaling dari rasa cinta terhadap rakyat dan negeri, pemimpin sengaja mengundang kebencian rakyat dan tentara terhadap dirinya. Dalam keadaan serupa itu, tak akan ada lagi marwah, wibawa, dan daya kepemimpinan seseorang pemimpin. Apa pun yang hendak direkayasa dan diupayakan untuk bertahan, kesemuanya itu tak akan berguna. Musibah yang,  justeru, sangat dekat menghampiri adalah kejatuhan, kecelaan, kenestapaan, dan kehinaan kepemimpinan.

Apatah lagi, murka atau kemarahan Allah tak mungkin lagi dielakkan karena sang pemimpin tak memiliki iktikad baik untuk melaksanakan amanah dan anugerah istimewa yang telah diberikan oleh Tuhan. Contoh pemimpin gagal dan secara tragis harus terhempas sangat banyak dipersaksikan oleh Allah kepada kita dalam rentang waktu dan jarak geografis yang dekat ataupun jauh. Kesemuanya disediakan untuk dijadikan tamsil-ibarat bagi membangun tradisi kepemimpinan yang kuat lagi unggul berdasarkan pedoman Ilahi.

Dalam kejatuhan kepemimpinan yang memalukan, tak perlu disesali nasib untung di badan. Karena apa? Telah sangat banyak contoh dan tauladan yang ditunjukkan oleh Tuhan.

Malangnya, semua alamat dan tanda-tanda zaman, yang seyogianya dijadikan pelajaran dan sempadan supaya terhindar dari kedurhakaan, hanya dianggap sebagai angin lalu yang datang dan pergi tanpa berkesan. Praktik dan perilaku penuhanan diri itulah yang paling banyak mencelakakan pemimpin dalam setiap peradaban yang pernah dilalui dan dilakoni oleh umat  manusia zaman-berzaman.

Lebih malang lagi, ada juga gejala yang tak jarang muncul ke permukaan bahwa kecelakaan dan kegagalan itu dijadikan dalih untuk menyalahkan Tuhan. Padahal, syahwat kekuasaan yang bersumber dari hati yang didorong oleh motivasi syaitaniahlah yang menutup nurani untuk melihat sekaligus mengejar kebenaran. Akibatnya, tangan yang mencencang, bahulah yang harus memikul beban.

Hebatnya, tak hanya di dunia, di akhirat pun masih akan ada sederet panjang soal-jawab yang diajukan oleh Tuhan sebagai pertanggungjawaban kepemimpinan. Itu memang kontrak yang telah disetujui oleh sesiapa pun yang menyiapsediakan diri untuk menjadi pemimpin. Pasalnya, seperti yang dikemukakan di muka, kepemimpinan itu amanah Allah yang sangat tak patut untuk diselewengkan.

“Maka Kami hukumlah Firaun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka, lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim. Dan, Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tak akan ditolong. Dan, Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah),” (Q.S. Al-Qashash, 40—42).

Sesuai dengan kualitas pemimpin yang diidealkan (mencintai rakyat dan negeri), yang selaras pula dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, kita masih disuguhi contoh pemimpin yang memenuhi syarat ketauladanan itu. Di dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan putranya Raja Ali Haji mengemukakan contoh pemimpin yang patut ditiru.

“Syahadan apabila mangkatlah Sultan Mansur Syah ini maka menggantikan kerajaannya puteranya Sultan Alauddin Riayat Syah. Adalah baginda itu sangat suka mengawali negeri pergi sambang malam dengan dirinya sendiri, dan beberapa kali ia membunuh penyamun dan pencuri dengan tangannya sendiri dan menghukumkan dengan adil dan bencikan orang yang jahat-jahat serta memelihara harta benda orang,” (Matheson 1982, 7).

Sultan Alauddin Riayat Syah yang diperikan di atas merupakan keturunan Diraja Dinasti Melaka. Baginda, menurut Tuhfat al-Nafis, adalah tauladan pemimpin yang sangat mencintai rakyat dan negerinya. Karena cinta itulah, Baginda terjun langsung memerangi para penjahat yang hendak mencerobohi negeri dan rakyatnya. Dengan kepiawaian memimpin itu, Baginda sangat dicintai oleh rakyatnya. Alhasil, cinta yang tulus sang pemimpin mendapat balasan yang setimpal dari rakyatnya sehingga memungkinkan negeri (dalam hal ini, Kerajaan Melaka kala itu) mencapai kejayaan: aman, makmur, dan sentosa. Bersamaan dengan itu, daulat rakyat jadi terjulang dan marwah pemimpin pun semakin terbilang.

Cintailah rakyat dengan segala konsekuensinya. Dengan begitu, pemimpin akan dicintai pula oleh rakyat. Itulah amanat Raja Ali Haji melalui karya-karya beliau. Jika pemimpin dan rakyatnya hidup dalam cahaya cinta-kasih dan saling berdoa untuk kebaikan, kejayaan kepemimpinan pun akan menyerlah dengan rahmat Allah.

Dari situlah semua kisah kebahagiaan sesungguhnya, termasuk kebahagiaan kepemimpinan, akan menghiasi hari-hari yang akan terasa selesa untuk dinikmati. Dan, semua wasiat Raja Ali Haji itu saling tak tumpah dengan petunjuk Ilahi, yang sudah barang tentu menjadi referensi utama beliau.

“Dan, berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka, Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk,” (Q.S. Ali ‘Imran:103).

Di antara kunci kejayaan kepemimpinan itu ternyata cinta dan doa rakyat serata negeri. Oleh sebab itu, setiap pemimpin seyogianya berupaya sekuat dapat untuk membangkitkan cinta-kasih rakyat dengan cara dan jalan yang benar. Dia sanggup membuktikan kinerja yang unggul untuk mengangkat martabat bangsanya, bukan sebaliknya dengan helah yang memperdaya rakyat dan mempermalukan bangsanya.

Dalam hal ini, niat, perkataan, dan perbuatan pemimpin sangat menentukan keberhasilannya merebut hati rakyat. Atas dasar itulah, sesebuah negeri dapat dibangun secara benar dan baik sehingga hasilnya bermanfaat bagi bangsanya. Sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, pemimpin, rakyat, dan negeri yang disinari oleh cahaya cinta-kasih yang bersebati dengan kalimat-kalimat doa untuk kebaikan akan dimudahkan untuk mencapai matlamat kemajuan yang didambakan.

Kuncinya pada pemimpin. Tentu, rakyat juga bertanggung jawab terhadap maju-mundurnya negerinya karena rakyatlah yang memilih pemimpinnya. Kalau kita hendak terpandang dalam pergaulan bangsa-bangsa sedunia, seyogianya kita berupaya semampu-mampunya untuk memilih pemimpin yang sanggup mewujudkan cita-cita mulia itu melalui bakti yang berlandaskan niat yang suci. “Hendak dimalui, jangan melalui,” wasiat Raja Ali Haji.***

Kitab Tib, Manuskrip Obat dan Ilmu Tradisional Melayu

0

Khazanah manuskrip Melayu adalah saujana yang kaya dengan berbagai Ilmu Tradisional Melayu. Kitab tib yang berisikan formula pengobatan tradisional Melayu adalah salah satu diantaranya.

Manuskrip Kitab Tib yang akan diperkenalkan dalam Kutubkhanah ini ditulis pada 82 halaman muka surat dengan ukuran 21 x 17 cm yang dijilid dengan cara dijahit menggunakan benang. Isi manuskrip ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan beragam cap air (water marks) bertuliskan:  G HIEBER & Co; SINGAPORE; FRATELI KRANZ GRAZ, dan cap air berupa gambar ‘rusa bertanduk’ serta ‘pemandangan dengan pohon kelapa’.

            Seperti kebanyakan manuskrip Melayu sejenis, manuskrip ini tidak mempunyai judul. Juga tidak ada baris  kolofon yang menjelaskan siapa penyalin atau penulisnya. Begitu pula nama tempat penyalinan atau penulisannya.

Tarikh penulisan atau penyalinannya juga tidak dinyatakan. Namun dari beberapa cap air yang tercantum pada lembaran kertas yang digunakan, dapat diperkirakan manuskitab tib ini ditulis antara tahun 1889 hingga awal 1890-an

Manuskrip ini tidak mempunyai kulit kitab. Namun secara keseluruhan kondisinya masih baik, dan tulisannya yang menggunakan tinta hitam serta sedikit pensil masih jelas terbaca. Isi naskah ditulis menggunakan bahasa Melayu dengan beberapa bagian berisikan petikan-petikan ayat al-Qur’an.

Diperkirakan, kitab ini adalah salinan dari sebuah kitab tib yang lain, atau atau salinan yang dibuat atas pengetahuan lisan seorang bomoh atau dukun yang mengamalkan ilmu pengobatan tradisional Melayu.

Tampaknya, proses penyalinan manuskrip ini dilakukan  pada waktu yang berbeda dan oleh tangan yang berbeda pula. Indikasi ini terlihat dengan adanya perbedaan gaya tulisan pada 14 halaman terakhir naskah ini.

‘Noda’ hitam yang cukup tebal, yang terdapat pada sudut bagian bawah semua halamannya menandakan manuskrip ini sering digunakan sebagai rujukan oleh pengguna atau pemiliknya. Dengan demikian, patut dipertimbangkan bahwa manuskrip ini asalnya adalah milik seorang dukun, bomoh, atau ‘orang pintar’.

Manuskrip yang diperoleh dari seorang pedagang antik di Tanjungpinang ini telah didigitalisasikan serta dicatat dalam program penyelamatan bahan-bahan arsip dan manuskrip yang terancam punah, Endangered Archives Programme, yang ditaja oleh Perpustakaan Kerajaan Inggris (British Library).

Kita Tib

            Apakah yang dimaksud dengan kitab tib? Dalam dunia khazanah manuskrip Melayu, semua manuskrip dengan kandungan isi seperti manuskrip yang diperkenalkan ini dikenal sebagai kitab tib: yakni ‘kitab obat’ atau ‘ilmu tentang obat dan pengobatan’ tradisional Melayu. Menurut R.J. Wilkinson (1959:1218), perkataan tib  asalnya adalah bahasa Arab, yang bermakna: formula dan resep magis atau medis (medical or magical prescription or formula).

Sementara itu, di lain pihak, Harun Mat Piah dalam buku hasil kajian paling mutakhir tentang kitab tib,  Kitab Tib Ilmu Perubatan Melayu (2006:22), mengatakan perkataan tib yang berasal dari bahasa Arab itu mengandungi makna: ubat, tukang ubat (tabib), surat ubat, (wasfatu’t-tabib), perubatan atau ilmu perubatan (ilmut’tabib).

Dengan cakupan makna perkatan tib yang luas itu, lebih jauh Harun Mat Piah mengatakan, bahwa dalam sebuah kitab tib Melayu kandungan isinya tidak hanya terbatas pada ilmu perubatan dan pengobatan penyakit saja. Kandungan isinya juga meliputi ilmu-ilmu lain yang mencakupi ilmu raksi bintang dan ramalan, ilmu birahi (sex), ilmu firasat orang Melayu, tabir mimpi, raksi jodoh dan lain sebagainya.

Korpus manuskrip kitab tib yang dikenal luas dalam dunia manuskrip Melayu adalah sebuah sub-genre dari genre kepustakaan Ilmu Tradisional Melayu yang mencakupi manuskrip tentang berbagai aspek ilmu seperti: tabir mimpi, tasawuf, astrologi, faraidh, ilmu hisab dan ilmu hitungan, ilmu falaq, dan lain sebagainya.

manuskrip sub-genre kitab tib seperti yang diperkenalkan dalam ruang kutubkhanah ini cukup banyak: tersebar luas dalam sejumlah perpustakaan penting penyimpan manuskrip Melayu di dunia, dan tidak sedikit pula yang masih menjadi koleksi pribadi yang dipelihara sebagai warisan keluarga.

Obat, Azimat, dan Rajah

            Secara umum, kandungan isi semua kitab tib yang dikenal dalam khazanah dunia manuskrip Melayu menjelaskan ilmu pengobatan tradisional Melayu, berbagai jenis penyakit, beserta ramuan obat, cara membuatnya, dan perawatannya.

Namun demikian, tidak sedikit pula manuskrip kitab tib yang juga memasukkan perihal berbagai penyakit dan ‘gangguan kasat mata’ terhadap manusia yang disebabkan oleh jin, hantu, dan setan. Dalam kitab tib, kaidah pengobatan terhadap penyakit yang berasal dari ‘gangguan kasat mata’ ini biasanya dilengkapi dengan lafaz jampi-jampi, serapah, rajah dalam bentuk tulisan dan gambar,‘azimat, cuca-cuca, dan do’a-do’a yang bersumber dari al-Qur’an serta serapah-jampi yang berasal dari  sisa-sisa warisan animisme, atau gabungan keduanya.

Adakalanya dalam sebuah kitab tib juga dicantumkan masalah-masalah ‘non medis’ yang berkenaan dengan penguat syahwat, atau perkara-perkara ‘pemanis’ dan ‘penyeri  dalam hidup bermasyarakat  dalam bentuk jampi-jampi pikat-memikat lawan jenis. Kitab tib yang diperkenalkan dalam kutubkhanah minggu ini mengandungi hampir semua perkara diatas.

Dalam kitab ini terdapat lebih dari seratus buah formula, resep atau rempa, rajah, ‘azimat, dan do’a yang berkenaan pengobatan suatu penyakit, pelembut hati perempuan, ‘azimat perkasih pada perempuan;  penawar bila terkena polong dan hantu laut; ‘azimat pelaris dagangan; dan ‘azimat serta ramuan penguat kejantanan dan perkasa pada perempuan; ‘azimat pegangan mengadap raja atau orang-orang kaya, dan lain sebagainya.

Rempa (ramuan) obat sakit tubuh sengal-sengal, ‘azimat pagar mengadap raja dan orang-orang kaya, do’a menguatkan zakar. (foto: aswandi syahri)

Sebagai contoh, untuk mengobati penyakit tubuh sengal-sengal atau kering angin, maka ramuan atau rempa-nya adalah: “…Pertama, halia Cina beratnya sekati, dan pala tiap kati, dan kadung Cina tiap kati, dan cengke anam tahil, dan pucuk ampat tahil, dan kanti ampat tahil dan xxx ampat tahil, dan lada sulah setengah kati, dan maka racik-racik semuanya itu jemur kering tiga hari. Maka goreng semuanya itu jadi satu. Jikalau makannya dengan gula batu.”

Bagi ibu menyusui yang tak kunjung keluar air susunya, maka obatnya adalah: “…bacakan pada putting susu. Ini do’anya: Bismillah hirrahmanirrahim. Tatkala ‘Ali bertemu dengan Fatima. Mani ‘Ali dengan mani Fatima titik ke bumi menjadi pisang emas. Getahnya menjadi air susu. Itula asal mulanya jadi air susu. Teruslah engkau berkata Laillah-ha-illallah-Muhammad-Rasul-Allah”.

Contoh ’aazimat perkasih (pengasih) perempuan atau pun orang, ‘azimat angin-angin, ‘azimat tuju penyakit didalam perut, obat orang tidak keluar susu, obat sakit dingin, dan rajah menceraikan orang laki-istri (foto: aswandi syahri)

Dalam kitab ini, juga dijelaskan juga bagaimana cara memanggil orang yang lari atau melarikan diri dan dapat dapat dipanggil ‘secara magis’ agar kembali dengan sendirinya. Hal ini, antara lain, dapat dilakukan dengan mengamalkan ‘azimat ‘angin-‘angin yang disurat pada kertas lalu digantung dengan rambut pada kayu lobang angin-angin sebuah rumah.***

Engku Puteri: Sinar Carang Cahaya Penyengat

0
Jembatan Engku Putri Raja Hamidah di Sungai Carang, Foto: Adi Pranadipa

SUNGAI CARANG dan Pulau Penyengat Indera Sakti (kedua-duanya di wilayah administratif Kota Tanjungpinang, di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau sekarang) menjadi saksi hidup perjuangan dan pengorbanan para syuhada yang kecintaannya terhadap bangsa dan negaranya tiada bertolok banding. Kedua tempat itu, antara lain, telah dengan sangat setia merekamkan pahit-maung perjuangan dan keteguhan hati seorang perempuan sejati, yang lebih memilih hidup untuk berbakti kepada bangsa dan negeri timbang memuaskan diri sekadar memenuhi kepentingan pribadi. Baginda adalah Engku Puteri Raja Hamidah putri Raja Haji Fisabilillah (dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada 1998) dan permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah (dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia pada 2017). Belum tahukah siapa mereka?

Sebelum menjadi pusat pemerintahan kesultanan, Pulau Penyengat merupakan benteng pertahanan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kala itu pusat pemerintahan salah satu kesultanan penting di Selat Melaka tersebut berada di Sungai Carang, Hulu Riau, Pulau Bintan.

Pulau Penyengat mulai dijadikan tempat tinggal penduduk pada 1805. Sebelum itu, pada 1803 Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812), sultan yang berkuasa kala itu, melamar dan selanjutnya menikah dengan Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah. Raja Haji Fisabilillah, ayahanda Raja Hamidah, adalah Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777—1784), yang gugur di medan perang di Teluk Ketapang, Melaka pada 18 Juni 1784.

Maskawin atau mahar pernikahan antara Sultan Mahmud Riayat Syah dan Engku Puteri Raja Hamidah tiada lain adalah sebuah pulau. Itulah Pulau Penyengat, Pulau Maskawin. Dengan demikian, Pulau Penyengat menjadi satu-satunya pulau di dunia yang pernah dijadikan maskawin (mahar) pernikahan. Sejak itu, secara adat dan hukum yang berlaku pada masa itu, Pulau Penyengat menjadi milik sah Engku Puteri Raja Hamidah.

Bersamaan dengan dijadikannya maskawin pernikahan untuk istrinya, Sultan Mahmud Riayat Syah memerintahkan pembangunan Pulau Penyengat. Pembangunan itu berlangsung lebih kurang dua tahun dan selesai pada 1805. Infrastruktur yang dibangun meliputi istana, perkantoran, taman-taman, masjid, jalan, dan lain-lain sehingga pulau yang sebelumnya tak berpenghuni itu berubah sama-sekali menjadi sebuah bandar (kota) baru. Setelah dibangun, Pulau Penyengat disebut juga Penyengat Bandar Riau.

Setelah pembangunan Pulau Penyengat selesai, Engku Puteri Raja Hamidah pun pindah ke Penyengat Bandar Riau. Sebelum itu, Engku Puteri tinggal bersama saudaranya Raja Jaafar ibni Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga (1805—1832) di Kota Piring, Pulau Biram Dewa, Hulu Riau (juga di wilayah administratif Kota Tanjungpinang sekarang). Sebaliknya, Sultan Mahmud Riayat Syah sejak 1787 telah berpindah ke Daik, Pulau Lingga, yang sejak itu telah dijadikan tempat kedudukan Baginda sebagai Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Bersamaan dengan kepindahan Engku Puteri Raja Hamidah, Sultan Mahmud Riayat Syah menganjurkan Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga Raja Jaafar untuk memindahkan juga pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda ke Penyengat Bandar Riau. Sesuai dengan kesepakatan bersama sultan, pada 1805 Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar pun memindahkan pula pusat pemerintahan ke Pulau Penyengat dan bandar baru itu menjadi tempat kedudukan resmi beliau sebagai Yang Dipertuan Muda. Sejak itu, pulau tersebut dikenal juga dengan nama Pulau Penyengat Indera Sakti.

Lebih kurang 95 tahun Pulau Penyengat Indera Sakti telah menjadi pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda. Selanjutnya, pada 1900 Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah II, sultan yang berkuasa kala itu, memindahkan pula pusat pemerintahan dan kedudukan resmi Baginda sebagai Sultan atau Yang Dipertuan Besar ke Pulau Penyengat Indera Sakti dari kedudukan semula di Bandar Daik, Pulau Lingga (di wilayah administratif Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau sekarang).

Pemindahan itu menyebabkan pusat pemerintahan Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda Kesultanan Riau-Lingga dipersatukan tempatnya, yakni di Pulau Penyengat Indera Sakti.

Dengan pemindahan pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda (sejak 1805) dan Yang Dipertuan Besar (sejak 1900) ke sana, Pulau Penyengat mencatatkan dirinya sebagai pulau terkecil di dunia  (luasnya hanya lebih kurang 1,7 km persegi) yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar. Betapa tidak? Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang merupakan sebuah Kesultanan Melayu yang cukup besar. Wilayahnya meliputi sebagian Indonesia (Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Riau, dan Provinsi Jambi), sebagian Malaysia (Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang), dan Singapura sekarang.

Menjadi Pulau Maskawin satu-satunya di dunia merupakan keistmewaan Pulau Penyengat yang tiada bandingannya. Kenyataannya pernah menjadi ibukota negara besar, padahal ukuran pulaunya tegolong mini menjadikan Pulau Penyengat Indera Sakti lebih istimewa lagi. Lebih daripada itu, manusia yang mendiaminyalah yang membuat Pulau Penyengat menjadi lebih sakti lagi sehingga dikagumi oleh sesiapa pun yang mengetahui masa lalunya yang cemerlang dan gemilang.

Pulau Penyengat Indera Sakti juga diharumkan oleh seorang yang sangat setia berperan sebagai penjaga sekaligus pembela adat-istiadat, tamadun, sekaligus marwah bangsa Melayu. Beliau tiada lain adalah Engku Puteri Raja Hamidah, permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah. Beliau sejatinya Putri Sungai Carang yang masyhur di Penyengat.

Setelah menikah dengan Sultan Mahmud Riayat Syah, Engku Puteri diamanahkan oleh suaminya untuk menjaga regalia Kesultanan. Regalia adalah seperangkat alat kebesaran kesultanan yang digunakan, antara lain, untuk kelengkapan penabalan (pelantikan) Sultan Riau-Lingga-Lingga-Johor-Pahang. Tanpa regalia, pengangkatan seseorang sultan menjadi tak sah menurut hukum dan adat-istiadat Melayu.

Secara umum, regalia merupakan simbol kebesaran adat-istiadat dan tamadun (peradaban) Melayu. Oleh sebab itu, jika ada pihak lain yang menganggap bahwa mereka telah menguasai Kesultanan Melayu, orang Melayu tak pernah mengakuinya selama regalia tak berhasil mereka peroleh dengan cara yang terhormat. Dengan demikian, menjaga regalia bermakna juga menjaga kehormatan dan marwah Melayu.

Begitulah peran penting dan sakralnya regalia Kesultanan bagi orang Melayu. Dengan demikian, regalia haruslah berada di bawah penjagaan seseorang yang tangguh secara psikologis, kultural,  dan religius sekaligus. Dia mestilah orang yang sangat setia menjaga adat-istiadat dan marwah bangsanya. Orang itu tiada lain adalah Engku Puteri Raja Hamidah, seorang perempuan yang rela menderita, bahkan mati, untuk mempertahankan adat-istiadat dan tamadun warisan nenek moyangnya.

Tak pernah ada ketangguhan tanpa ujian untuk pembuktiannya. Sampai waktu dan ketikanya, ujian itu pun dikenakan kepada Engku Puteri Raja Hamidah dan keluarga besar Baginda.

Pada 12 Januari 1812 Sultan Mahmud Riayat Syah, suami Engku Puteri, mangkat di Daik, Lingga. Menurut wasiat Sultan kepada Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar, Tengku Abdul Rahman, putra kedua Baginda Sultan, yang harus dilantik untuk menggantikan sultan yang telah mangkat. Akan tetapi, Engku Puteri tak mendengarkan secara langsung wasiat itu dari suaminya sehingga beliau berkeberatan Tengku Abdul Rahman dilantik menjadi sultan. Karena apa?

Menurut adat-istiadat Melayu, putra tertua-lah yang harus menggantikan ayahandanya sebagai sultan. Dalam hal ini, seyogianya Tengku Husin, kakanda Tengku Abdul Rahman, yang harus menggantikan ayahanda mereka karena beliau putra sulung. Alhasil, karena Raja Jaafar dan para pembesar istana lebih cenderung melaksanakan wasiat sultan, Tengku Abdul Rahman yang ditabalkan menjadi sultan untuk menggantikan ayahandanya. Karena tak sesuai dengan adat-istiadat yang berlaku selama ini, Engku Puteri enggan menyerahkan regalia sebagai kelengkapan pelantikan Sultan Abdul Rahman Syah I sehingga penabalan itu mengalami cacat secara adat.

Tujuh tahun berikutnya, Januari 1819, Tengku Husin dilantik pula oleh Thomas Stanford Raffles menjadi Sultan Singapura. Kala itu Singapura merupakan wilayah ketemenggungan di bawah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Seyogianya, Singapura tak berhak melantik seorang sultan. Jelaslah bahwa pelantikan Sultan Husin Syah, kakanda Sultan Abdul Rahman Syah I, itu merupakan upaya Raffles untuk memecah-belah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, yang belum lama ditinggalkan oleh pemimpin besarnya yang tak pernah mampu disentuh oleh kuasa asing, baik Belanda maupun Inggris.

Pihak Singapura yang disokong oleh Inggris pada 1821 berusaha mendapatkan regalia dari Engku Puteri agar keberadaan Tengku Husin sebagai Sultan Singapura menjadi sah. Caranya tergolong sangat keji, yakni melalui permainan rasuah dengan berupaya menyogok Engku Puteri Raja Hamidah dengan 30.000 ringgit Spanyol. Akibatnya, Engku Puteri sangat tersinggung dan beliau marah besar, terutama kepada Engku Long (sapaan akrab Sultan Husin Syah).

Upaya Singapura itu gagal total sehingga keberadaan Sultan Singapura tak pernah mendapatkan legitimasi dari Kesultanan Melayu alias tak sah menurut adat-istiadat dan hukum bangsa Melayu.

Selanjutnya, pada November 1822, setelah lebih kurang 10 tahun memerintah, Sultan Abdul Rahman Syah I yang didukung oleh Belanda akan dilantik juga dengan kelengkapan dan keabsahan adat-istiadat Melayu. Tentulah harus dengan kelengkapan regalia. Karena Engku Puteri masih bertahan tak mau menyerahkan regalia, tentara Belanda mengepung istana Baginda di Pulau Penyengat.

Setelah memasuki istana dan bertemu Engku Puteri, tentara Belanda menodongkan senjata ke arah permaisuri Sultan Mahmud Riayat Syah itu seraya berupaya merebut regalia dari tangan perempuan yang berhati baja itu.

Putri Raja Haji Fisabilillah yang setia itu tak pernah gentar ditodong dengan senjata jenis apa pun. Pahit-maung perjuangan yang telah dialami beliau bersama ayahanda dan suami Baginda telah membuat Engku Puteri tak mudah digertak oleh sesiapa pun di dunia ini. Bahkan, jangankan ditodong, jika benar-benar ditembak pun, Baginda rela.

Padahal, kalau hendak hidup nyaman, Baginda tinggal membuat pilihan: hendak berpihak ke anaknya yang mana, Sultan Husin Syah dan Inggris atau Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I dan Belanda. Akan tetapi, Engku Puteri bukanlah tipe perempuan dan pemimpin oportunistis murahan seperti itu.

Karena regalia akan direbut secara paksa dari penjagaannya, dengan tatapan mata penuh wibawa, Baginda berujar lantang kepada penceroboh di hadapannya:

“Regalia ini tak boleh kalian rampas dari orang yang telah menjaganya sepanjang hayat dengan segenap jiwa dan raganya dalam kecintaan yang tiada bertolok bandingnya. Karena kalian berupaya mengambilnya secara paksa dari tangan beta, setelah beta hempaskan ke tanah, benda itu tak memiliki tuah dan makna apa pun lagi menurut adat-istiadat kami, kecuali hanya lempengan emas yang sama-sekali tak berguna bagi kami. Kalian tak akan pernah mampu menjaga regalia itu sebagaimana kami menjaganya bagai menating minyak yang penuh. Dan, kalian pun tak akan pernah berhasil memahami apatah lagi merebut hati kami orang Melayu!”

Begitu selesai kalimat terakhirnya, dengan hati yang remuk-redam, perangkat kebesaran Kesultanan dan adat-istiadat Melayu itu direjamkan (dihempaskan)-nya ke tanah dari tingkap (jendela) istana Baginda. Tuah benda pusaka itu pun melayang jauh karena tak diserahkan dengan cara yang terhormat, apatah lagi tak secara takzim menurut adat-istiadat Melayu!

Pada 27 November 1822 Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah I memang dilantik juga dengan menggunakan regalia. Akan tetapi, jauh di lubuk hati yang hampa, Baginda pasti menyadari bahwa benda itu kini hanya tinggal lempengan emas biasa, seperti diungkapkan oleh ibunda Baginda, yang tak lagi memiliki tuah yang mampu mengangkat marwah bangsa Melayu.

Kesetiaan Engku Puteri Raja Hamidah terhadap nilai-nilai warisan nenek-moyangnya memungkinkan adat-istiadat dan tamadun Melayu masih bertahan di wilayah Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang sampai sekarang. Nilai-nilai perjuangan dan ketauladanan pemilik sah Pulau Penyengat itu memang sulit dicari tolok bandingnya. Kesan kewibawaannya masih sangat kuat sampai setakat ini. Keanggunannya masih sangat terasa bagi sesiapa pun yang sempat berziarah ke makam Baginda di Komplek Pemakaman Diraja Melayu, Pulau Penyengat Indera Sakti.

Itulah cuplikan sekilas dari kisah panjang tentang bakti dan suri tauladan dari seorang Putri Sungai Carang, yang masyhur di Pulau Penyengat Indera Sakti. Seorang yang bukan perempuan biasa, melainkan putri tersayang Yang Dipertuan Muda Melayu yang gagah perkasa dan permaisuri tercinta dari Sultan Melayu yang tak hanya keberaniannya tak bertolok banding, tetapi juga sangat bijaksana dan visioner. Cahaya cemerlangnya tak akan pernah padam selagi Melayu tak hilang di bumi. Oleh sebab itu, jangan pernah mencemari nama Engku Puteri Raja Hamidah dengan perbuatan dan perilaku yang tak bertamadun dan tercela. Jika perkara terlarang itu dilakukan, yakinlah, padah yang teramat buruk akan menimpa pelakunya, siapa pun dia!***

Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu

0
1.Bagian awal naskah Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu koleksi Perpustakaan Universitas Leide. (foto: aswandi syahri)

oleh: Aswandi Syahri

Salinan manuskrip Riau-Lingga yang berjudul Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Leidsche Universiteits-Bibliotheek,  di Negeri Belanda, dan menjadi bagian dari sebuah kitab yang berisikan beberapa salinan manuskrip.

Dalam katalogus paling mutakhir perpustakaan itu yang disusun oleh Teuku Iskadar (1999) dan E.P. Wieringa (1997), nomor katalog manuskrip tersebut adalah Cod. Or. 3199. Sedangkan dalam katalog lama yang disusun oleh H.H. Juynboll, Catalogus van De Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteits-Bibliotheek (1899), nomor katalog-nya adalah CCLXIV (Cod. 3199 (2)).

Awalnya, kitab kumpulan salinan manuskrip tersebut adalah koleksi, H.N. van Der Tuuk, seorang linguist terbaik yang penah dimiliki Universtas Leiden. Sebuah label kecil menggunakan bahasa Latin yang ditempelkan pada bagian dalam kover belakang manusrip ini menandainya dengan keterangan sebagai berikut: “warisan orang yang paling terpelajar H. Neubronner van Der Tuuk untuk Universitas Leiden pada tahun 1894”  (Ex Legato viri Doctissimi H. Neubronner van Der Tuuk 1894).

Pada bagian daftar isinya yang ditulis sendiri oleh van Der Tuuk (halaman 1 recto naskah Cod. Or. 3199 ini), tercantum  judul delapan salinan manuskrip yang ada di dalam kitab kumpulan salinan manuskrip itu. Salinan manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu adalah manuskrip terakhir dalam urutannya. Secara berturut-turut judul-judul delaman salinan manuskrip tersebut adalah sebagai berikut: (1) Hukum Qanun, (2) Hukum Pelayaran Melaka, (3) Undang-Undang Negeri dan Pelayan, (4) Salasilah Turunan Sulthan Sumeneb, (5) Surat Peraturan Duli Yang Dipertuan  Muda Negeri Riau, (6) Surat Cap-Cap dan Kepala Surat-Surat Raja Melayu, dan (7) Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan.

Disalin di Melaka

             Dalam kumpulan salinan manuskrip ini, Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu  ditulis pada halaman 105verso hingga halaman 108recto. Kecuali halaman 108recto, setiap halamannya terdiri dari 19 baris tulisan yang kemas dan masih jelas terbaca. Penulisannya menggunakan tinta hitam, dengan sedikit tinta merah untuk menuliskan perkataan sanah atau sanat (bahasa Arab untuk tahun), yang diletakkan tepat di bawah seluruh angka tahun yang ada dalam cerita ini.

Pada halaman terakhir (108recto) naskah ini, terdapat dua kolofon (keterangan pada akhir naskah). Kolofon pertama menyebutkan bahwa manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini mula-mula disalin di Riau (Tanjungpinang atau Pulau Penyengat?) pada 2 September 1819. Selanjutnya kolofon kedua menyebutkan naskah salinan itu disalin kembali di Melaka pada 9 September 1819. Penyalinnya tidak dikenal (anonymous).

2.Kolofon yang tercantum pada halaman 108recto naskah Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. (foto: aswandi syahri)

Selengkapnya, isi kedua kolofon manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu adalah sebagai berikut: Pertama, “Tersalin di dalam negeri Riau kepada dua hari bulan Sepetember tahun Wilanda Sanah 1819,” dan kedua, Tersalin daripada surat salinan, di dalam negeri Melaka kepada Sembilan hari bulan September tahun Wilanda sanah 1819.”

Fakta Lain Sejarah Riau-Lingga

            Sebagaimana dicatat oleh Juynboll (1899: 251), dari segi judulnya, manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini mirip dengan manuskrip Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan yang terdapat dalam kitab kumpula manuskrip koleksi Perpustakaan Universitas Leiden yang diberi nomor katalogus Cod. Or. 3199.

Namun demikian, dalam kenyataanya subyek dan kandungan isi kedua manuskrip ini berbeda. Jika dibaca dengan cermat maka jelas terlihat bahwa manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu bukan lah kelanjutan manuskrip Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan seperti dicatat oleh Wieringa (1997).

Manuskrip Ceritera Asal Raja-Raja Melayu Punya Keturunan sesungguhnya berisikan kisah dan asal-usul  raja-raja Melayu, yang bermula dari Sri Tribuana sehingga lah kepada Sultan Abdulrahman Syah yang memerintah di Lingga hingga tahun 1248 H bersamaan  dengan tahun 1832 M.

Sebaliknya, manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu berisikan sejarah Sultan Sulaiman yang menjadi Yang Dipertuan Besar Kerajaan Johor di Negeri Riau sehingga lah pada masa ketika Daeng Kemboja menjadi Yang Dipetuan Muda Riau, dan Raja Haji menjadi Kelananya pada tahun 1166 H yang bersamaan dengan tahun 1752 M.

Adalah juga keliru bila mengatakan bahwa kandungan isi manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini kurang lebih sama (more or less similar) dengan manuskrip Aturan Setia Bugis Bugis dan Melayu, seperti disinyalir oleh Teuku Iskandar dalam katalognya (1997).

Mungkin, lebih tepat bila dikatakan bahwa manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini lebih mirip atau varian lain dari Hikayar Negeri Johor (Cod.Or. 141 (2) yang dicantumkan Wieringa (1998: 98) dalam katalognya. Mengapa?

Sama seperti manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu, manuskrip Hikayat Negeri Johor adalah juga sebuah catatan sejarah yang disusun berdasarkan urutan waktu atau kronik yang disebut oleh Leonard Andaya (1987) sebagai “keringkasan sejarah Kerajaan Johor yang baru di Riau”, yang disusun berdasarkan urutan waktu kejadian peristiwanya.

Kandungan isi manuskrip Ceritera Asa Keturunan Raja-Raja Melayu ini diawali dengan teks sebagai berikut: “Hijrat al-Nabi Shali-Allah ‘alaihi wassalam sanah 1173 [bersamaan 1759 M] kepada hari Jumat, adalah kepada masa itu Raja Sulaiman ditabalkan oleh Kelana Jaya Putra dan Daing Menampok. Maka gelar Sultan Sulaiman Badr-al-‘amsyah diatas tahta Kerajaan negeri Johor dan Pahang…”.

Meskipun dibuka dengan teks yang ‘meragukan’ dan harus diteliti lebih jauh karena berbeda dalam menuliskan tarikh penabalan Sultan Sulaiman yang  telah umum diketahui terjadi pada tarikk 1734 H bersamaan dengan 1721 H (lihat: Ismail Husin, Hiskayat Negeri Johor yang dilapirkan dalam R.O. Winstedt, History Johore 1365-1895, MBRAS, 1979: 195), manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu ini menampilkan fakta-fakta sejarah yang selama ini tak begitu jelas diungkapkan.

Manuskrip Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu dengan jelas mencatat bahwa pada fase-fase awal berdirinya, ‘kerajaan Johor yang baru’ di Riau bukan semata-mata hasil ‘pakatan politik’  Daeng Kemboja adik beradik dan Sutan Sulaiman dengan saudara-saudaranya semata.

Sumpah setia Marhum Sungai Baru atau Persetian Melayu dan Bugis yang terkenal dan berulang-ulangkali dikrarkan itu, bukan hanya dilakukan  oleh Yang Dipetuan Muda dan Yang Dipertuan Besar saja, tapi juga melibatkan Raja Tua yang (dalam manuskrip ini ditulis: Raja Tuha), Datuk Bendahara, dan Engku Raja Indra Bungsu, dan  segala penggawa Bugis serta Melayu.

Sumpah setia itu berulangkali diperbaharui. Tidak hanya ketika terjadi perselisan antara Sultan dan Yamtuan Muda atau ketika penabalan salah satu diantara keduanya, tapi juga diperbaharui semula ketika seorang Raja Tua yang baru ditabalkan menggantikan raja Raja Tua yang lama: seperti dalam kasus penabalan Tun ‘Abdulah menggatikan Raja Tua yang pertama pada 10 Zulhijah 1147 H bersamaan dengan 31 Mei 1734.

Maka diteguhi pula perjanjian itu dihadapan Duli Yang Dipertuan Besar, dan Duli Yang Dipertuan Muda, dan Engku Raja Indra Bungsu, dengan segala Penggawa dan orang tuha-tuha sumpah setia yang tiada berubah-ubah. Dan barangsiapa mungkir daripada sumpah setia yang tersurat di atas kertas ini maka diramai-ramai anak Bugis dan anak Melayu. Dikutuki Allah sampai kepada anak ucunya. Tiada beroleh baik sampailah kepada anak cucunya…”

Dalam manuskrip ini juga dinyatakan bahwa seorang Raja Indra Bungsu pada ketika itu juga pernah memegang perintah atas rakyat dan teluk rantau tokong pulau, serta dapat menjadi Datuk Bendahara atas permohonan Yang Dipertuan Muda beserta segala Penggawa Bugis dan Melayu kepada Sulta Yang Dipertuan Besar: seperti  dalam kasus yang terjadi pada tahun 1161 H bersamaan dengan tahun 1784 M.

Fakta-fakta dalam sejarah awal penubuhan ‘Kerajaan Johor yang baru’ di Negeri Riau memang masih banyak yang belum tersibak, atau mungkin ‘dihilangkan’ dan ‘disembunyi’ sebagai bagai bagian dari ‘politik historiogarfi sistana’ demi ‘peneguhan legitimasi historis’ penguasa tertentu pada suatu periode tertentu pula.

Bahkan Raja Ali Haji, yang menurut Virginia Matheson (1971) menggunakan naskah Ceritera Asal Keturunan Raja-Raja Melayu sebagai salah satu bahan sumbernya ketika melanjutkan kerja menyelasaikan dan mengemas semula Tuhfat al-Nafis yang telah dimulai oleh ayahnya, juga samar-samar dalam menyebutkan fakta-fakta sejarah yang penting pada fase-fase awal “kerajaan Johor yang baru” di Negeri Riau.***

Engku Puteri, Perempuan yang Melawan dengan Seribu Kata

0

Oleh : Rida K Liamsi

1Pendahuluan

Di panggung sejarah Kemaharajan Melayu yang jatuh-bangun selama hampir 500 tahun, sejak pertengahan abad ke-15 sampai awal abad ke-20, mulai dari era Malaka sampai ke era Lingga, memang tercatat sejumlah nama perempuan yang perkasa, berhati baja, dan telah berjuang dengan segala daya mereka, baik dalam membela negeri, kekuasaan, maupun martabat bangsa dan kaumnya.

Ada yang berjuang dengan menghunus senjata, berperang dari satu laut ke laut lain, ada yang menggunakan segenap kekuatan pesona dan ketegarannya untuk melawan kezaliman para penguasa, ada yang berjuang dengan segenap daya menegakkan marwah, harkat dan martabat negeri dan bangsanya.

Ada nama seperti Tun Fatimah, permaisuri Sultan Mahmud I Malaka, puteri Tun Mutahir, sang Bendahara. Dia bertempur bersama Sultan Mahmud menghadapi serangan Portugis (1511), mulai dari Malaka, terus ke Bintan, dan akhirnya mundur ke Kampar, di mana Sultan Mahmud mangkat dan Malaka takluk. Meskipun Tun Fatimah tidak mencintai suaminya, sang Sultan, tapi dia menyabung nyawa, demi negeri bernama Malaka.

Ada nama seperti Ratu Emas, isteri Raja Haji Fisabilillah. Puteri Sultan Jambi ini berjuang melawan kompeni Belanda dalam Perang Riau (1782-1784). Bersama suaminya Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah, mereka menyerang kompeni di Malaka. Saat Raja Haji tewas dan jenazahnya dilarikan Belanda dan dikuburkan secara diam-diam di kaki benteng Malaka, Ratu Mas berjuang untuk merebutnya kembali dengan darah dan airmata, meskipun dia gagal.

Ada Tun Teja, wanita jelita tetapi berhati baja. Dia melawan kezaliman Sultan Malaka, suaminya, untuk mempertahankan hak dan harkat perempuan sebagai permaisuri, sebagai ratu penjaga negeri. Dia berjuang menyelamatkan negeri Pahang, tempat dia dibesarkan dari rampasan Sultan Malaka. Juga Puteri Retno Dumilah, puteri Raja Majapahit, yang mengembara ke negeri Malaka, karena cintanya kepada Laksamana Hang Tuah, namun dia dipaksa oleh Sultan Malaka untuk dijadikan permaisurinya.

Dia lebih rela menjadi Pen Asmara dan menghuni Gunung Ledang di darat Malaka, ketimbang menghianati cinta dan hati nuraninya. Dan Tentu saja ada Engku Puteri, permaisuri Sultan Mahmud III, Sultan Riau-Lingga (1762-1812), yang melawan semua tekanan kekuasaan, baik kerajaan Lingga, maupun tekanan Inggris dan Belanda, untuk mempertahankan hak dan marwah kerajaan, kekuatan adat dan budaya Melayu, meski yang ada padanya hanya keyakinan, ketegapan hati, dan semangat baja.

Dia berjuang dengan kekuatan hujjah, hukum, norma, adat dan kata-kata bijak lainnya, melawan senapan, kelewang, suap dan meriam kekuasaan. Masih banyak nama lain, seperti Tengku Embung Fatimah, Tengku Tengah, dll. sosok yang begitu tegar, teguh, dan juga ambisius.

Cerita keperkasaan para perempuan itu, memang ada yang tercatat sebagai sebuah jejak sejarah, ada yang masih sebuah legenda, tetapi menyebar dalam cerita dan riwayat keperkasaan dari mulut ke mulut, dari kronik dan cerita rakyat. Tapi kertas kerja ini, hanya ingin membicarakan tentang Engku Puteri, sosok perkasa yang ada dan tercatat dalam sejarah Riau Lingga, meski dengan bahan-bahan yang masih terbatas dan seadanya.

Kertas kerja ini ingin mengetengahkan bahwa perlawanan dengan kata-kata, dengan keteguhan sikap, dengan semangat menegakkan harkat, martabat dan harga diri suatu bangsa, adalah juga perlawanan yang tidak kalah gagah beraninya dibandingkan dengan perjuangan dengan keris, kelewang, senapan, meriam dan kapal perang.

Perlawanan budaya, dan pemberontakan kultural, adalah perjuangan dan perlawanan yang tak bisa dilihat dengan sebelah mata saja dari rangkaian perlawanan menentang penindasan dan perampasan hak-hak dan keadilan., penjajahan, dan tipu muslihat politik, sepanjang sejarah jatuh bangunnya nusantara ini.

2Siapa Engku Puteri ?

Nama perempuan ini ketika dilahirkan adalah Raja Hamidah. Anak perempuan pertama Raja Haji, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga IV ( 1778-1874 ). Ibunya, adalah Raja Perak, puteri Daeng Kamboja, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga III (1748 -1777). Daeng Kamboja, adalah anak Daeng Parani, saudara tertua dari lima bersaudara para pendekar Bugis Luwu yang datang merantau ke semenanjung (Daeng Prerani, Daeng Marewa, Daeng Celak, Daeng Manambun, Daeng Kemasi ). Raja Ali Haji sendiri adalah anak Daeng Celak. Jadi mereka masih bersepupu.

Begitulah perkawinan para keturunan bangsawan Bugis-Melayu di era kerajaan Johor-Riau-Lingga itu (1722-1912) diatur dan direkayasa, untuk menjaga panca kaki garis keturunan dan kekuasaan. Raja Hamidah adalah keturunan Melayu Bugis, generasi kedua. Generasi pertama adalah ayahnya, Raja Haji (anak Daeng Celak dengan Tengku Mandak).

Karena itu mereka memakai gelar Raja. Tapi ibunya, Raja Perak itu (anak Daeng Kamboja), adalah isteri kedua dari Raja Haji. Isteri pertamanya adalah Tengku Lebar, anak Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Sultan Johor-Riau yang I (1722-1760). Dan perkawinannya yang pertama ini, lahir Raja Djaafar, yang kelak, menjadi Yang Dipertuan Muda Riau Lingga ke VI (1805-1831).

Saya memang belum menemukan catatan pasti, bila Raja Hamidah dilahirkan. Tapi dengan mencermati beberapa catatan lain dalam sejarah jatuh bangun kerajaan Riau Lingga, diperkirakan Raja Hamidah lahir sekitar tahun 1774. Ini dikaitkan dengan catatan kepergiannya bersama abang sepupunya Raja Ali bin Daeng Kamboja yang kelak menjadi Yang Dipertuan Muda V (1803-1805), saat selesai perang Riau, 1784, dimana mereka menyingkir ke Siantan dan Sukadana (Kalbar).

Saat itu dikatakan bahwa dia sebagai gadis sunti (mungkin 9 atau 10 tahun), dan abangnya Raja Djaafar diperkirakan saat itu berusia 18 tahun, karena ketika dilantik menjadi Yang Diprtuan Muda, usianya diperkirakan 40 tahun.

Raja Hamidah dilahirkan di Ulu Riau, pusat pemerintahan kerajaan Riau Lingga, setelah pusal kerajaan pindah dari Johor. Ketika dia dilahirkan, ayahnya, Raja Haji masih bestatus Kelana Putera Jaya, yaitu jabatan yang diberikan kepada calon Yang Dipertuan Muda. Tugasnya menjaga teluk rantau, dan memerangi musuh yang datang. Raja Hamidah mungkin dilahirkan di istana Kota Piring, karena ayahnya sudah membangun istana megah itu, jauh sebelum dia menjadi Yang Dipertuan Muda.

Mungkin juga di kawasan istana Yang Dipertuan Besar di Ulu Riau, karena di kawasan itu dahulunya baik Yang Dipertuan Besar (sultan), maupun Yang Dipertuan Muda, menetap bersama. Catatan yang ada menunjukkan hanya adiknya, Raja Ahmad, yang dipastikan lahir di Istana Kota Piring itu, 1778. Raja Hamidah masih mempunyai beberapa saudara yang lain. Yang seibu dan seayah, adalah Raja Siti. Seayah berlainan ibu, antara lain Raja Djafaar, Raja Idris, dan tentu saja Raja Ahmad, si bungsu.

Sebagai puteri seorang Panglima perang, Kelana Jaaya Putera, Yang Dipertuan Muda, maka Raja Hamidah tentulah dibesarkan dalam tradisi istana, tradisi kebangsawanan, tradisi perang dan militerisasi. Tetapi, Raja Haji juga seorang yang sangat taat beragama, menghargai para ulama, dan ke istannya di Kota Piring, dia telah mendatangkan banyak guru dan ulama, dan mereka mengajar ilmu-ilmu, baik agama Islam maupun ilmu pengetahuan lainnya, termasuk baca tulis huruf Jawi, kepada keluarga istana, dan para pembesar negeri.

Kecuali itu, Raja Hamidah pun dibesarkan dalam tradisi adat yang kuat, baik tradisi adat Melayu melalui Ibunya, maupun dari para pemuka adat dari garis Bugis. Tradisi ini tentu ikut membentuk karakter dan pemahaman Raja Hamidah tentang dirinya, posisinya sebagai puteri bangsawan, sebagai ahli waris dari seorang Yang Dipertuan Muda, dan garis keturunan yang unggul, baik dari garis Melayu maupun Bugis.

Proses pendidikan di Dalam Besar istana Yang Dipertuan Muda, pengembaraannya di tengah perang bersama abang sepupunya Raja Ali, dan konflik politik yang mewarnai masa mudanya, tentulah akhirnya mewujudkan sosok Raja Hamidah yang anggun, kukuh, beradat istiadat, cerdas, dan berpengetahuan.

Memang agak sulit menemukan deskripsi tetang sosok Raja Hamidah sebagai seorang wanita. Kerupawanan, kejelitaan, dan lain-lain tanda-tanda kesempumaan seorang perempuan. Sebagai wanita keturunan campuran Melayu yang jelita, gemulai, dengan Bugis yang tegar, teguh, dan karismatis, tentulah dapat dibayangkan pada sosoknya. Beberapa sumber tertulis, menyebutkan Raja Hamidah sebagai seorang perempuan yang sangat elegan, cerdas dan bijaksana. Wanita anggun dan sangat berwibawa.

Raja Hamidah telah masuk ke wilayah kekuasaan dan politik begitu dia dewasa, dan kemudian dipersunting Sultan Mahmud III dan menjadi permaisuri kerajaan Riau Lingga. Saat menikah dengan Sultan Mahmud tahun 1803, Raja Hamidah memang sudah menjadi seorang perempuan yang matang, dan karena itu dinilai sanggup memikul berbagai masalah pelik bagi seorang perempuan istana, baik beban politik maupun tekanan kekuasaan lain dipundaknya, yang dititipkan para pemuka adat dan pembesar negeri, khususnya keturunan Bugis.

Usianya yang sekitar 29 tahun, tentulah telah memberikan Raja Hamidah usia yang matang dan bijak, baik sebagai seorang bangsawan dan pihak Bugis, maupun sebagai seorang permaisuri.

Dia begitu setia mendampingi sang Sultan sebagai permaisuri yang gahara sampai Sultan Mahmud III mangkat (1812). Bukan hanya sebagai permaisuri, tetapi juga seorang penasehat, pemegang teraju adat dan tradisi, serta menjalankan tugasnya sebagai Pemegang Regalia Kerajaan. Wanita Ranggi, Peri sejarah ini, meninggal 5 Agustus 1844, di istananya, di pulau Penyengat. Jika benar dia lahir sekitar tahun 1774, maka saat meninggal, wanita perkasa dan berhati baja ini, berusia sekitar 70 tahun.

Dia memang hidup lebih lama dibanding sang abangnya Raja Djaafar, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga VI, yang meninggal tahun 1831, yang saat meninggal diperkirakan berusia 66 tahun. Keduanya meninggal dengan memendam rasa pedih dan kecewa atas takdir politik, meski keduanya merasa, telah mengemban tugas dipundak masing-masing dengan sekuat rasa. Mereka harus memendam luka persaudaraan yang lama dan berdarah. Sepak terjangnya sebagai permaisuri, sebagai ibu suri, sebagai pemegang regalia kerajaan, telah membuat namanya ditulis dan dicatat dalam berbagai buku kronik dan sejarah.

Orang mengaguminya sebagai perempuan yang tegar, keras, dan tak kenal menyerah atas prinsip hidup dan amanah yang dilimpahkan kepadanya, dan juga seorang permaisuri yanag kesepian.

Raja Hamidah dimakamkan di pulau Penyengat. Kini makamnya yang terawat baik dalam komplek pemakaman para bangsawan kerajaan Melayu Riau Lingga, banyak dikunjungi, terutama para penziarah yang ingin melihat dan mencatat jejak perjuangannya yang menggetarkan itu.

3Apa Perannya dalam Sejarah Riau Lingga ?

Peran Raja Hamidah (Engku Puteri) dalam jejak sejarah kerajaan Melayu Riau Lingga dapat dilihat secara terang, setelah dia menikah dengan Sultan Mahmud III. Perkawinannya dengan Sultan Mahmud, memang sebuah perkawinan politik, bukan perkawinan yang bangkit dari bara cinta.

Ketika perkawinan itu terjadi, mereka berselisih usia 20 tahun lebih. Sultan Mahmud mendekati umur 50 tahun, dan sudah punya tiga isteri. Yang pertama, Engku Puan, puteri Bendahara Pahang, yang dianggap sebagai permaisuri gahara. Yang kedua, Encik Makoh, keturunan Bugis, dan yang ketiga Encik Manam, keturunan Melayu. Raja Hamidah menerima pernikahan itu dan ikhlas menjadi isteri keempat, dan dia sadar saat menjalani perkawinan itu, paling tidak mengemban tiga tugas berat:

Pertama, inilah nikahul siasah (perkawinan politik) untuk meredam konflik politik antara pihak Melayu dan Bugis, akibat perebutan kekuasaan dan jabatan Yang Diprertuan Muda Riau Lingga antara Tengku Muda Muhammad (Putera Temenggung Abdul Jamal) dengan Raja Ali (putera Daeng Kamboja ).

Konflik politik yang diwarnai perang saudara ini, berlangsung lebih dari 8 tahun (1795 -1803) dan menelan banyak harta dan nyawa. Tengku Muda Muhammad merasa berhak sebagai Yang Dipertuan Muda, karena dialah yang ditugaskan dan diangkat oleh Sultan Mahmud sebagai Raja Muda (sebutan jabatan itu dari pihak Melayu.

Sementara pihak Bugis menyebutnya Yang Dipertuan Muda), setelah Belanda yang menang perang melawan Riau ( 1784 ) sebagaimana isi perjanjian di atas kapal perang Utrecht yang mensyaratkan bahwa jabatan Raja Muda (Yang Dipertuan Muda) tidak boleh diberikan kepada keturunan Bugis.

Sedangkan Raja Ali, juga merasa berbak, karena jabatan Yang Dipertuan Muda itu hak keturunan Bugis dan sudah diikrarkan dalam Sumpah Setia Melayu-Bugis dan dia katanya sudah dilantik menjadi Yang Dipertuan Muda Riau Lingga oleh Sultan Ibrahim, Selangor, saudara Raja Haji, setelah Raja Haji tewas di Teluk Ketapang. (Inilah sengketa politik yang unik. Raja Ali, anak Daeng Kamboja, cucu Daeng Perani.

Sementara Tengku Muda Muhamamad itu, anak Raja Maimunah dan Raja Maimunah ini, adalah anak Daeng Perani. Jadi yang berkelahi dan berebut kuasa itu, adalah cucu-cucunya Upu Daeng Perani. Satu mewakili dinasty Bugis Luwu, yang satu mewakili dynasti Melayu Johor. Tapi di darah kedua kaum itu sudah bercampur baur. Konflik ini memang benar-benar konflik kepentingan dan nafsu politik mereka).

Untuk meredam konflik ini, maka harus ada perdamaian dan penyelesaian politik yang menguntungkan kedua belah pihak. Dan orang dibalik sekenario politik, dan perdamaian ini, adalah Raja Lumu, Sultan Selangor yang disebut Sultan Salahuddin (Anak Daeng Celak, saudara kandung Raja Haji Fisabilillah, ayah saudara sepupu kedua tokoh yang bertikai itu).

Raja Lumu ini, dalam perjalanan sejarah Riau Lingga memang menjadi tokoh sentral pihak Bugis, yang sangat disegani dan dihormati para keturunan Bugis, dan tentu saja yang sangat tidak disenangi pihak Melayu, melalui Temenggung Johor, Bendahara Pahang, dan tokoh sentralnya Tun Dalam, Raja Terengganu.

Maka lahirlah, apa yang disebut sebagai Perdamaian Kuala Bulang (mengambil nama sebuah pulau besar di sekitar Batam, tempat menetap pihak keturunan Melayu, seperti Temenggung Johor dan Bendahara Pahang ), September 1803. Inti kesepakatan politik itu, antara lain adalah: Sultan Mahmud, sebagai sosok keturunan Melayu yang berkuasa akan mengawini Raja Hamidah (sosok keturunan Bugis, dan penerus Raja Haji Fisabilillah), dengan tujuan meluluhkan perseteruan Melayu dan Bugis.

Bukan hanya dalam politik, juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bayangan mereka, kelak. jika ditakdirkan, putera yang lahir dari perkawinan ini, akan menjadi putera mahkota (Tengku Besar, begitu sebutannya) sebagai calon sultan yang gahara, dan ditubuhnya darah Melayu dan Bugis bersatu, dan akan menjadi keturunan Bugis Melayu pertama di tahta kerajaan Riau Lingga (sebelumnya semua Sultannya punya darah Melayu yang sangat kuat, karena jabatan Sultan itu memang menjadi haknya orang-orang keturunan Melayu ). Itulah beban politik dan sejarah yang diletakkan dibahu perempuan bangsawan yang berusia 29 tahun itu.

Sementara itu, untuk mengeleminir konflik lainnya, anak Tengku Muda yang bernama Tengku Buntat (neneknya Raja Maimunah adalah anak Daeng Perani), dikawinkan dengan putera sulung Sultan Mahmud, yang bemama Tengku Husin atau Tengku Long (ibunya Encik Makoh, ketuman Bugis, tetapi bukan permaisuri yang gahara).

Ini pun sekenario penyelasaian melalui percampuran darah. Kelak, putera Tengku Husin dan Tengku Buntat, diharapkan akan menjadi Sultan Riau Lingga dari campuran darah Bugis Melayu yang sudah sulit dibedakan. Kemudian Raja Ali, mendapat kembali jabatan Yang Dipertuan Muda. Hanya Tengku Muda Muhammad, yang meski anaknya menjadi calon permaisuri kerajaan Riau Lingga, tapi dia menolak jadi Temenggung Johor mengganti ayahnya Temenggung Abdul Jamal yang meninggal.

Tengku Muda Muhammad memilih menyingkir ke Temasik dan kemudian meninggal di sana. Jabatan Temenggung, diberikannya kepada anak saudaranya Tun Abdurrahman.

Kedua, sebagai puteri bangsawan yang darah Bugisnya lebih besar, dapat diperkirakan, pihak Pembesar Bugis, ingin Raja Hamidah dapat menjaga kepentingan pihak Bugis di puncak kekuasaan. Baik dalam mengatur jabatan, maupun kepentingan ekonomi dan kekuasaan lainnya.

Dia diharapkan menjadi kekuatan di belakang layar yang mengatur percaturan kekuaasaan yang menguntungkan pihak Bugis, sampai kepada penetapan siapa pengganti Mahmud kelak sebagai sultan. Karena itu, masuk akallah kalau Tengku Husin, disebut-sebut sebagai pilihan utama untuk dijadikan pengganti Mahmud, jika perkawinan Mahmud dan Raja Hamidah tidak menghasilkan keturunan (malangnya, memang begitulah takdirnya, meskipun menurut satu catatan Raja Hamidah sempat melahirkan seorang puteri, namun meninggal), karena selain darah bugisnya lebih besar, dia juga putera yang sulung.

Bukan Tengku Abdurrahman, yang darah Melayunya lebih besar, karena ibunya Encik Mariam adalah keturunan Melayu, dan juga bukan putera dari permaisuri gahara. ltulah beban yang agaknya dipanggul Raja Hamidah, yang setelah menjadi permaisuri, kemudian bergelar Engku Puteri itu.

Dalam perjalanan kepermaisuriannya, memang ada beberapa catatan yang menyatakan bahwa Raja Hamidah memang sangat menyayangi dan memanjakan Tengku Husin, anak tirinya itu. Tidaklah jelas, apakah itu kemudian memang perwujudan dari beban politik yang dipikulkan oleh petinggi pihak Bugis kepadanya.

Namun, sebuah kenyataan yang juga tercatat dengan baik adalah, temyata Raja Hamidah lebih meletakkan dirinya, bukan sebagai personifikasi kepentingan politik keturunan Bugis semata, tapi benar-benar sebagai seorang isteri, seorang perrnaisuri, tempat Sultan Mahmud meletakkan kasih sayang dan kerinduannya. Kecantikannya, kecerdasannya, keteguhan hati, dan pemahamannya yang luas tentang politik, adat istiadat dan kebiasaan negeri-negeri yang besar (Engku Puteri banyak belajar dari sepupunya Raja Ibrahim, Sultan Selangor tentang pemerintaan, dan belajar membangun negeri dengan sering berkunjung ke Selangor, Malaka, dll di semenanjung Malaka) membuat pengetahuannya sangat luas, dan arif dalam bersikap.

Engku Puteri telah menjadi Think Tanknya Sultan Mahmud. Menjadi penasehat (bukan pembisik), dan pengawal adat istidat dan budaya kerajaan Melayu. Karena itu pulalah agaknya, kemudian Sultan Mahmud, memberi dia tugas menjadi penjaga dan pemegang Regalia Kerajaan (sebuah perangkat sakral kerajaan, tanda dan panji kebesaran, perangkat nobat, Sirih Besar, gendang, nafiri, dll).

Perangkat kebesaran ini adalah supremasi tetinggi bagi eksistensi sebuah kekuasaan, sebuah negeri, sebuah kedaulatan tidak akan sah dan berdaulat seorang Sultan, jika pelantikannya tidak menggunakan Regalia ini. Karena itu Pumegang Regalia itu, sekaligus juga adalah penjaga adat istidat, dan tradisi .

Di dalam kesatuan antara Regalia dan adat kebesaran budaya kerajaan itu, melekat marwah (kehormatan), harkat dan martabat kerajaan Riau Lingga. Jika rusak dan binasa kedua kekuatan spritual ini, maka hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa itu. Bagi Kerajaan-kerajaan Melayu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain.

Raja atau Sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke kawasan lain, mencari pertindungan. Tetapi, selagi Regalia Kerajaan tidak dirampas, tidak direbut, selagi Regalia sakti dan keramat itu masih dipegang sang Rajanya, maka selagi itulah kedaulatan negeri itu masih tegak.

Sultannya tetap punya daulat, dan dia bisa berkerajaan dimana saja, dan dirajakan dimana saja. Karena sukma yang sakti itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regalia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seorang yang kuasanya jauh diatas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri.

Ketiga, sebagai keponakan Sultan Selangor (Raja Lumu), Raja Hamidah diharapkan menjadi sosok yang menjadi simbol dari eksistensi keturunan Bugis yang ada di Riau, tempat kaumnya berlindung dan hidup terjaga di negeri orang. Ini beban yang tak kurang beratnya.

Karena, begitu selesai pesta perkawinannya dengan Sultan Mahmud, maka sang Sultan memaklumkan bahwa dia menganugerahkan Raja Hamidah, sebuah pulau, yaitu pulau Penyengat Inderasaksi, sebagai maskawin dan tempat kediaman, sebagai istana permaisuri. Dengan penganugerahan itu, maka Mahmud juga memaklumkan, bahwa sejak hari itu dia membagi wilayah kuasa ekonomi antara pihak Melayu dan Bugis. Raja Hamidah, dengan para saudara-saudara dari pihak bugis lainnya, akan memiliki pulau penyengat dan kawasan sekitarnya, sebagai “daerah permakanan”.

Sumber ekonomi, pendapatan, dan biaya hidup mereka, dan pihak Melayu tidak boleh mengganggu gugat. Maka di pulau Penyengat itu pulalah, misalnya, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga, sebagai sosok Bugis dan kuasanya, akan beristana dan mengendalikan pemeritahan (urusan pertahanan, ekonomi, politik dan hubungan luar negeri ).

Sedangkan Lingga (Daik dan sekitamya) menjadi kawasan “permakanan” pihak Melayu, melalui sosok Tengku Abdurrahman (si Komeng ), putera Sultan Mahmud, dan pihak Bugis tidak boleh mengganggunya (di Singkep ketika itu sudah ditemukan dan diproduksi timah).

Beberapa penulis sejarah tentang jatuh-bangunnya keraajaan Melayu Riau Lingga menganggap keputusan Sultan Mahmud membagi wilayah permakanan ini sebagai keputusan politik yang luar biasa dampak dan pengaruhnya dikemudian hari bagi kedua kaum itu dan kerajaan itu sendiri.

Engku Puteri memang gagal menjadi permaisuri yang mewariskan putera mahkota dan membangun zuriat dari darahnya untuk menjadi Sultan di puncak kekuasaan Riau Lingga. Tapi, dia berhasil menjadi benteng yang tangguh sebagai pemegang, pemelihara, dan pengawal Kebesaran dan Kedaulatan kerajaan, yang bernama Regalia itu.

Dia berhasil menjadi kekuatan yang senantiasa menjaga kesucian Sirih Besar dan perangkat kebesaran dan lambang kekekuasaan itu. sebagai kekuatan suci dan semua yang di bawahnya harus tunduk dan berlutut. Itulah sebab mengapa dia rela berselisih paham, dan nyaris memutus hubungan darah dan persaudaraan dengan abangnya Raja Djaafar, Yang Dipertuan Muda Riau Lingga, ketika Raja Djaafar justru menetapkan Tengku Abdurrahman (Raja Jumat atau si Komeng ) sebagai pengganti Sultan Mahmud yang mangkat, dan bukan memilih putera sulung Sultan, Tengku Husin. \

Engku puteri menentang pemilihan itu, dan menganggap penetapan Tengku Abdurrahman itu, melanggar adat dan kebiasaan, apalagi ketika itu Bendahara dan Temenggung, dua pejabat teras kerajaan tidak berada di tempat dan belum memberi persetujuan. Raja Djaafar dianggap melanggar tradisi dan menjatuhkan marwah kerajaan Riau Lingga. Karena itu pula, dia tidak mau menyerahkan Regalia kerajaan itu ke tangan Tengku Abdurrahman sebagai simbol pelantikan.

Dia membawa pusaka keramat itu ke istananya di Penyengat, dan membiarkan Raja Djaafar melantik Sultan Abdurrahman (1812) tanpa regalia. Membiarkan peristiwa pelantikan itu menjadi sebuah peristiwa yang sumbang dan memalukan. Dan membiarkan Sultan Abdurrahman merasa belumlah sebagai Sultan, dan membiarkan Raja Djaafar sang Yang Dipertuan Muda, berduka dan terluka.

Perseteruannya dengan abangnya itu, menjadi konflik baru Bugis Melayu yang formulasinya sudah makin sulit diterjemahkan. Konflik itu tidak lagi konflik darah dan keturunan, tetapi menjadi konflik kepentingan, kekuasaan, dan rasa ketidak puasan lainnya yang rawan untuk ditunggangi oleh tangan-tangan politik yang keji dan jahat.

Begitu marahnya Engku Puteri kepada abangnya itu, membuat dia nyaris tidak pernah lagi menjejakkan kaki ke Lingga. Dan Raja Djaafar pun, begitu kecewa pada adiknya, sehingga tidak lagi mau beristana di Penyengat, dan memilih tetap di Daik, Lingga. Perseteruan ini begitu melukakan (meskipun akhirnya Regalia itu berhasil diambil oleh Sultan Abdurrahman dengan bantuan Belanda secara paksa, 1821) dan terus berdarah.

Hanya, ketika datang kabar Raja Djaafar gering dan hampir naza’, maka Engku Puteri akhirnya pergi juga ke Lingga. Dia memaafkan abangnya, agar abangnya dapat menghadapi maut dengan tenang dan tanpa beban. Raja Djaafar pun demikian, seakan hanya rela meninggalkan dunia fana itu setelah berdamai dengan adiknya (cerita ini dengan bagusnya ditulis oleh Raja Ahmad, adik bungsu mereka dalam Syair: Engku Puteri pergi Ke Lingga).

Engku Puteri ingin membawa abangnya yang sedang sakit itu ke Penyengat, dan merawatnya, tetapi abangnya menolak. Akhinya, setelah melihat sakit abangnya berangsur pulih, dia pun kembali ke Penyengat. Tetapi, kesembuhan itu temyata hanya permainan perasaan, untuk menyenangkan hati mereka yang ditinggalkan. Tak lama Raja Djaafar pun rneninggal dengan tenang di Daik. Dikebumikan disana, dan baru beberapa tahun kemudian, jenazahnya di bawa ke Penyengat dan dimakamkan di sana.

Dan Engku Puteri, membawa luka itu yang secara tak terasa terus menggerogoti usianya. Kesedihan melihat penderitaan abangnya akibat sengketa itu, membuat Engku Puteri menjadi nelangsa sampai akhir hayatnya. Batinnya bertambah parah, melihat regalia yang sakral itu dirampas oleh kekuasaan asing. Kepedihan itu menjadi luka sejarah. Itulah yang menggoda saya untuk menulis puisi panjang: Dan sejarah pun berdarah…. Sebagai ingatan betapa peristiwa itu menjadi riwayat yang mendukakan.

4Melawan dengan Kata-Kata

Tetapi peran dan eksistensi Engku Puteri sebagai sosok perempaun yang tegar, kukuh, dan berhati baja, dan melawan sekuat tenaga, untuk mempertahankan marwah dan martabat kerajaan Riau Lingga sebagai sebuah negeri yang berdaulat, bukan hanya melawan kesewenangan kekuasan Sultan Riau Lingga Abdurrahman dan Yang Dipertuan Muda Raja Djaafar yang telah melanggar pantang dan menyepelekan adat istiadat, dan tidak menghargai pandapat dan nasehat sang pemegang Regalia.

Tetapi, perlawanan yang lebih keras dan perjuangan yang lebih berat, adalah ketika ada kekuatan asing yang ingin merampas Regalia itu, bagi kepentingan kekuasaan dan politik mereka. Ini ditandai dengan dua peristiwa penting, dan sangat historikal:

Pertama, ketika Inggeris mulai menjalankan politik kotorya untuk memecah belah kerajaan Riau Lingga. Mereka, memanipulasi perasaan kecewa Tengku Husin yang gagal menjadi Sultan Riau dan Kelompok Temenggung Johor yang merasa telah disingkirkan pihak Bugis, dengan cara mengangkat Tengku Husin sebagai Sultan Singapura.

Untuk melantik Tengku Husin sebagai Sultan, mereka berusaha untuk mendapatkan Regalia Kerajan Riau yang ada ditangan Engku Puteri, karena mereka tahu Regalia itu masih tetap ditangan Engku Puteri, dan belum direbut oleh lawan politik mereka, Belanda yang saat itu menguasai Riau Lingga dan sekitarnya.

Mereka menyuruh Tengku Husin membujuk Engku Puteri agar Regalia itu diserahkan kepadanya, karena dia akan dijadikan Inggris sebagai Sultan di Singapura. Mereka begitu yakin akan memperoleh benda pusaka itu, karena mereka tahu betapa sayangnya Engku Puteri kepada Tengku Husin yang dulu dibelanya supaya menjadi Sultan Riau Lingga.

Tapi, Engku Puteri temyata menolak, karena menganggap tindakan anak tiri kesayangannyan itu, justru melanggar adat dan akan memecah belah kerajaan Riau. Raja Hamidah begitu kecewa atas prilaku anak tirinya itu.

Karena Tengku Husin gagal membujuk ibu tirinya, lalu mereka mencoba menyuap Engku Puteri dengan menawarkan sejumlah uang, sekitar 50.000 ringgit Sepanyol, untuk menyerahkan Regalia itu. Engku Puteri tetap menolak, dan merasa sangat terhina oleh tawaran uang suap itu.

Dia menganggap sikap arogan Raffles dan Farquhar itu sebagai tindakan penjajahan dan mau meramnpas kedaulatan Riau melalaui penguasaan Regalia kerajaan. Akhimya, karena gagal memiliki Regalia itu, dan agar pelantikan Tengku Husin tetap bermakna secara adat, mereka sengaja mengantit (mencopot) perabung istana Engku Puteri di Penyengat, dan dibawa ke Singapura, dan di jadikan simbol pelantikan.

Tengku Husin akhimya dilantik sebagai sultan Singapura oleh Inggris (Februari 1819) dengan gelar Sultan Husin Mauhammadsyah, dan sejak itu Kerajaan Riau Lingga yang kekuasaannya termasuk Johor, Pahang, dan Singapura pecah dua. Riau Lingga dibawah Sultan Abdurrahman, dan Singapura, Johor dan Pahang dibawah Sultan Husinsyah. Pemisahan itu menjadi lebih nyata sejak Traktat London, tahun 1824.

Kedua, ketika Belanda yang sudah bercokol kembali di Riau Lingga setelah tahun 1815 (perjanjian Wina) dan berbagi wilayah penjajahan dengan Inggris, mulai ikut cmpur dan membantu Sultan Abdurrahman untuk memiliki Regalia itu. Karena sejak dilantik menjadi Sultan Riau Lingga (1812 ), Sultan Abdurrahman tetap belum merasa sebagai Sultan, karena Regalia kerajaan itu belum dimilikinya.

Karena itu, dia sempat merajuk dan meninggalkan Riau menuju Pahang, 1822, dan mengancam tak akan kembali ke Lingga sebelum Regalia itu dimilikinya. Meskipun dia dan Raja Djaafar dengan kekuasaannya bisa saja merampas Regalia itu dari tangan Engku Puteri yang tidak memiliki kekuasaan angkatan perang, serdadu dan senjata, namun mereka tetap tidak mau menggunakan kekerasan, dan merasa sangat kualat kalau sampai melakukan kekerasan.

Regalia yang sakral dan sakti itu, akan kehilangan kuasa dan kesaksaralannya jika diambil dengan paksa, apalagi dengan darah. Karena itu, awal tahun 1822, setelah gagal membujuk Engku Puteri untuk menyerahkan secara sukarela regalia itu, Sultan dan Yang Dipertuan Muda, lalu mengirim utusan kepada Guibenur Jendral Belanda Van der Capellen di Batavia (utusan itu dipimpin oleh Raja Ahmad, adik Engku Puteri dan orang kepercayaan Raja Djaafar dan pelobi ulung, Sayed Zein al Qudsi ).

Van der Capellen, lalu menugaskan Gubernur Belanda di Malaka, Timmermann Tyssen agar dapat membantu membujuk Engku Puteri menyerahkan perangkat kebesaran adat itu, dengan cara mengundang Engku Puteri ke Malaka. Tapi tawaran dan bujukan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Engku Puteri.

Dia menantang Belanda dengan kata-katanya yang keras, dan memberitahu Belanda bahwa Regalia Kerajaan Riau Lingga itu adalah kedaulatan sebuah negeri, dan Regalia itu hanya boleh dimiliki oleh sebuah kekuasan yang benar-benar menjunjung tinggi adat dan tradisi pemerintahan negeri Melayu. Karena putus asa itulah, Sultan Abdurrahman merajuk ke Pahang dan mengancam tak mau kembali ke Riau.

Belanda yang khawatir tindakan Sultan Abdurrahman itu akan memberi peluang Inggris menguasai Riau Lingga, karena mereka sudah merajakan Tengku Husin di Singapura, maka akhirnya Timmerman Tyssen didampingi Andrian Kock, bersama pasukannya datang dari Malaka, dan mengepung istana kediaman Engku Puteri di Penyengat.

Dibawah todongan senapan dan ancaman kelewang, Regalia itu dirampas dari tangan Engku Puteri. Meskipun Engku Puteri diriwayatkan melawan dengan cara menghujat dan mencaci pelaku tak terpuji para serdadu dan utusan Gubernur Malaka itu. Regelia itu telah dirampas secara paksa, dan perempuan berhati baja itu, yang ketika itu berusia hampir setengah abad, memang tak berdaya mempertahankannya.

Namun dia telah pekikkan kepada para serdadu dan Gubemur Malaka itu, bahwa Regalia yang sakral itu, telah kehilangan kesaktiannya, begitu dia diambil dengan paksa dan dirampas dari tangan orang yang telah menjaganya sepanjang usia.

Regalia itu, dibawa ke kantor Residen Belanda di Tanjungpinang, dan disimpan disana. Kemudian, Sultan Abdurrahman pulang dari Pahang, setelah mendengar Regalia itu sudah jatuh ke tangan Belanda, dan akan diserahkan kepadanya. Dan November 1822, Sultan Abdurrahman pun dikukuhkan sebagai Sultan Riau Lingga dengan Sirih Besar dan perangkat Regalia lainnya.

Dalam catatan sejarah dikatakan, pelantikan itu berlangsung dengan sangat sumbang, dan menyimpang dari berbagai adat resam negeri Melayu. Sepuluh tahun kemudian, sultan Abdurrahman meninggal, setelah setahun sebelumnya didahului kepergian Yang Dipertuan Muda Raja Djaafar. Setelah kejadian itu, bala dan bencana nyaris terus menerus menimpa kerajaan Riau Lingga, dan silih berganti kejatuhan terjadi. Mulai dari kezaliman Belanda memakzulkan Sultan Riau Lingga, seperti Sultan Mahmud Muzaffarsyah, 1857 (setelah 17 tahun memerintah) dan Sultan Abdurrahman Muaazzamsyah, 1911, sultan terakhir Riau Lingga. Maka berakhirlah imperium Melayu ini, dengan sejumlah jejak sejarah yang gemilang, cemerlang, dan juga kepedihan.

5Perlawanan Kultur, adalah juga Kepahlawanan

Apa yang dapat dipetik dari catatan-catatan singkat diatas tadi ?

Pertama, kepahlawanan itu bukan hanya ditandai dengan perjuangan melawan penjajahan dan penindasan dengan bedil dan meriam. Bukan hanya persimbahan darah dengan kematian yang mengerikan. Tetapi juga perlawanan dengan budaya, perjuangan dengan kata-kata, dengan ketegaran hati, dan sikap tidak menyerah dalam mempertahankan kedaulatan dan harkat negeri.

Perlawanan yang dilakukan Engku Puteri dalam mempertahankan Regalia Kerajan Riau Lingga itu, adalah perlawasan terhadap penjajahan dan penindasan yang ingin merampas kedaulatan Riau Lingga melalui perampadan terhadap simbol kedaulatan kerajaan Riau Lingga. Perlawanan menentang sikap zalim dan kejam para penjajah dalam menindas dan merendahkan harkat dan martabat suatu negeri, sebuah bangsa tang bernama Melayu. Sebuah rumpun bangsa, sebuah negeri, sebuah tradisi yang ratusan tahun sudah tegak dan berperan membangun rantau di nusantara ini.

Kedua, Engku Puteri tidak menembakkan meriam, tidak mengangkat kelewang, tidak seperti ayahandanya Raja Haji Fisabilillah. Tapi dia melawan dengan keteguhan hati, kekuatan jiwa. Dia melakukan pemberontakan secara kultural terhadap kekuasaaan asing yang ingin menghancurkan kebudayaan sebuah negeri.

Perlawanan budaya ini juga pemah dilakukan tahun 1902 dan 1903, ketika Sultan Abdurrahman Muazzamsyah (1885-1911) memerintahkan agar bendera Belanda tidak dipasang di Kapal kebesarannya, dan tanggal 1 Januari 1903, dia memerintahkan pembesarnya agar memasang bendera Kerajaan Riau Lingga diatas bendera Belanda di pulau Penyengat Peristiwa ini telah menimbulkan kemarahan Residen Belanda, dan menuduh Sultan Abdurrahman Muazamsyah telah membangkang dan memberontak. Sebuah pemberontakan kultural, yang jauh lebih tajam dan keras dampaknya dari pada perlawan bersenjata.

Lalu, pahlawankah Engku Puteri? Berarti besarkah perlawanannya terhadap para penindas itu demi menyelamatkan Regalia yang menjadi simbol kedaulatan kerajaan Riau Lingga itu? Tak sebandingkah perjuangan dan ketegaran sikap perlawanannya itu dengan seribu meriam, seribu kapal perang, dan beribu mayat yang terbaring tewas? Tidak cukup pentingkah perlawanan seribu kata sang perempaun perkasa itu terhadap perjalanan sejarah bangsa ini? Seminar inilah yang akan menilai dan menjawabnya.

6Daftar Bacaan 

  • Abdullah Abdulkadir Munsyi ( Hamzah Hamdani, ed), Hikayat Abdulah, PTS Publications & Distributions SDN BHD, Selangor ( Malaysia ), 2007
  • Aswandi Syahri, Temenggung Abdul Jamal & Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kota Batam, 2007
  • Hasan Junus, Engku Puteri Raja Hamidah, Pemegang Regalia Kerajaan, Unri Press, Pekanbaru,Riau, 2002
  • Hasan Junus, Karena Emas di Bunga Lautan, Unri Press, Pekanbaru, Riau, 2002
  • Hasan Junus, Raja Ali Haji, Sasrawan di Gerbang Abad XX, Unri Press, Pekanbaru,2002
  • Mukhtar Lutfi, dkk, Sejarah Riau, Pemda Riau, 1977.
  • PC.R.Boxer, Yan Kompeni, Sejarah VOC dalam Perang dan Damai, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1983.
  • Raja Haji Ahmad dan Raja Ali Haji (Verginia Matheson, ed), Tuhfat Al Nafis, Fajar Bakti SDN.BHD, Kuala Lumpur.
  • Suwardi Ms. dkk, Sejarah Perjuangan Raja Haji Fisabilillah, Pemda Riau. 1989
  • Tun Sri Lanang (editor WG Shellabear), Sejarah Melayu, Fajar Bakti SDN.BHD, Kuala Lumpur, 1981.

Tulisan ini telah dipresentasikan dalam Seminar Bersempena Peringatan 200 Tahun Raja Ali Haji yang diselenggarakan oleh Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) dan Pemprov Kepulauan Riau. Seminar diadakan di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada Sabtu, 29 November 2008.

Rida K Liamsi Adalah Peminat Sejarah dan Pemerhati Budaya Melayu

10 Tahun Rekor Muri Berbalas Pantun Terlama, Sebuah Ingatan

0

RENDRA SETYADIHARJA
Pemantun dan Akademisi

BAGI sebagian kalangan, bulan April adalah sebuah bulan yang unik karena tersedia sebuah hari dimana manusia boleh berbohong atau boleh mengerjai orang lain dengan tipu helah sikap, ucapan dan perbuatan.

Hari itu sering kita sebut dan kita kenal dengan April Mop. Namun, bulan April bagi sebagian kalangan, khususnya bagi seniman pantun pernah menjadi hari bersejarah. Baik bagi hidup pemantun tersebut, atau bagi Kota Tanjungpinang.

Ada kejadian apakah di bulan April, sehingga para pemantun mengganggapnya sangat istimewa. Tulisan kali ini merupakan sebuah catatan yang penulis sendiri terlibat secara aktif di dalam peristiwa ini.

Tepatnya 10 tahun yang lalu, yaitu tanggal 28-29 April 2008, tujuh orang pemantun berjuang untuk sebuah marwah bagi kota tercinta yaitu Kota Tanjungpinang. Berjuang menahan kantuk, berjuang menahan malas, berjuang untuk terus berkonsentrasi, berjuang demi merebut sebuah gelar bagi kota tercinta.

Lewat sebuah peristiwa yaitu, Pemecahan Rekor MURI Berbalas Pantun Terlama selama 6 Jam Tanpa Henti, yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Yayasan Panggung Melayu. Sebuah rekor berbalas pantun terlama pertama yang diperoleh oleh Kota Tanjungpinang.

Dengan perhelatan tersebut. Kota Tanjungpinang yang dikenal sebagai Kota Gurindam maka bertambah lagi gelarnya yaitu Negeri Pantun. Maka Kota Tanjungpinang lengkap dan resmi bergelar Kota Tanjungpinang, Kota Gurindam, Negeri Pantun.

Tujuh orang pemantun itu adalah Teja Al Habd yang pada waktu itu berperan sebagai juru hebah, yaitu orang yang bertugas mengatur jalannya berbalas pantun antar pemantun.

Kemudian enam orang pemantun yang selama 6 jam tanpa henti berbalas pantun tanpa ada jeda sedikit pun, tiga pemantun pertama adalah saya, Alm. Taufik Akbar, dan Amran Syahidid yang tergabung menjadi satu kelompok yang diberi nama kelompok Hang Jebat.

Kemudian ditambahkan tiga pemantun lagi yaitu Muharroni, Mukhtar dan Syamsu yang tergabung kedalam sebuah kelompok yang diberi nama kelompok Hang Tuah. Di waktu itu, kedua kelompok tersebut saling berbalas pantun dengan teknik saling menjualkan pantun dan menjawab pantun. Pantun yang dijual atau ditanyakan selama 6 jam itu terdiri dari beragam tema, mulai dari percintaan, adat istiadat, isu lingkungan, isu kaum muda, isu perkawinan adat Melayu, jenaka dan isu sosial lainya yang kemudian diolah dan terus berbalas selama 6 jam.

Unik dan hebatnya lagi, bahwa berbalas pantun selama 6 jam tanpa henti ini dilakukan dengan spontan. Artinya pantun yang tercipta dengan tema-tema yang dijelaskan di atas, tersusun pada saat di atas panggung, pemantun tidak sama sekali menyiapkan pantun atau menghafal pantun, akan tetapi pantun itu mengalir dengan spontan dan deras dari pemantun pada saat mereka berpantun di atas panggung.

Waktu perhelatan berbalas pantun di masa itu terbilang cukup berat. Dimulai pada tanggal 28 April 2008 tepatnya pada pukul 23.00 WIB dan selesai pada tanggal 29 April 2008 pada pagi hari tepatnya pukul 5.00 pagi WIB. Pemantun pada saat itu berkeinginan untuk meneruskannya hingga pukul 07.00 pagi Wib, namun pihak MURI menjelaskan bahwa rekor yang diinginkan sudah terpecahkan sehingga perhelatan pun diselesaikan, dan resmi tercatat berbalas pantun terlama selama 6 jam tanpa henti.

Kegembiraan Pemerintah Kota Tanjungpinang, Yayasan Panggung Melayu dan para pemantun Kota Tanjungpinang menjadi lengkap saat Piagam Rekor MURI Berbalas Pantun Terlama Selama 6 Jam Tanpa Henti itu diserahkan langsung oleh Pimpinan MURI, Jaya Suprana di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 29 April 2008.

Piagam itu diserahkan kepada para Pemantun yang telah berhasil memecahkan rekor tersebut, selain itu juga diserahkan kepada Penyelenggara Acara Festival Pantun Serumpun yaitu Asrizal Nur dan kepada Walikota Tanjungpinang periode 2008-2013 yaitu Hj. Suryatati A. Manan. Acara perhelatan pemecahan rekor MURI Berbalas Pantun terlama ini juga disejalankan dengan Festival Pantun Serumpun Se-Asia Tenggara. Dimana juga diselenggarakan acara lomba berbalas pantun antar provinsi dan negara serumpun yang masih kental akan budaya berbalas pantun, seperti Kalimantan Barat, Jambi, Riau, Sumatera Utara, dan juga negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Tak hanya Lomba berbalas pantun, acara seminar pantun juga dihelat dengan menampilkan salah satu pemateri, Alm. Tusiran Suseno yang telah menulis dan menerbitkan buku Mari Berpantun yang diterbitkan oleh Yayasan Kesenian Riau Jakarta dan Pemerintah Kota Tanjungpinang pada tahun 2003.

Pada acara puncak pada tanggal 29 April 2008 diselenggarakan sebuah penampilan opera yang diberi judul Opera Pantun. Perhelatan ini unik daripada opera yang standar-standar saja, karena menggunakan pantun sebagai dialog dan narasi. Kemudian juga dihiasi dengan musik dan tarian Melayu.

Para pemainnya sebagian besar adalah para pemantun pemecah Rekor Muri Berbalas Pantun Terlama selama 6 jam tanpa henti, budayawan Kota Tanjungpinang seperti Datuk Ali pon yang tercatat sebagai maestro pantun, kemudian juga dimeriahkan dengan tarian Melayu yang disajikan oleh penari-penari dari Jakarta, serta penampilan nyanyian Melayu yang dinyanyikan oleh penyanyi Melayu terkenal yaitu Darmansyah. Lakon dan naskah Opera Pantun ini disutradarai oleh Asrizal Nur dan naskahnya ditulis oleh Alm. Tusiran Suseno.

Zapin Sri Gading, Lirik Pantun oleh Teja Alhabd, Penampilan khas Darmansyah saat Opera Pantun tahun 2008

Kini, 10 tahun perhelatan itu berlalu sudah. Sudah 10 tahun juga Kota Tanjungpinang bergelar Kota Gurindam Negeri Pantun. Bagaimana nasib pantun saat ini dan di masa depan? Akankah kejayaan pantun yang sangat meriah di bulan April 2008 itu akan terulang kembali? atau kisah ini hanya menjadi catatan sejarah dari orang yang ikut dan menjadi saksi perhelatan itu ? tepuk dada tanya selera. Apakah “Negeri Pantun” hanya tinggal gelar yang dulu pernah ada dan kemudian akan tergantikan ?.

Dari catatan refleksi 10 Tahun Rekor MURI Berbalas Pantun ini harusnya menjadi sebuah ingatan, bahwa pantun adalah salah satu karya sastra dan juga karya peradaban yaitu sebuah komunikasi bangsa Melayu yang takkan pernah hilang ditelan zaman dan takkan terganti dengan pergantian kepemimpinan politik.

Pantun harusnya menjadi jiwa dan bagian dari bangsa Melayu sampai kapanpun. Pantun adalah cerminan kesopanan komunikasi yang tak hanya sekedar karya sastra namun ia adalah petuah, nasehat dan jiwa dalam bangsa Melayu.

Jika tak ingin Melayu hilang dibumi, maka salah satunya adalah jangan menghilangkan pantun dari bagian kemelayuan itu sendiri. Menjaga pantun sama dengan menjaga tradisi komunikasi bangsa Melayu, dan menjaga adat istiadat kesopanan dan kesantunan bermadah.***

 

Baharu