Beranda blog

Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan

0

Secara substansial manuskrip ini sangat menarik, karena mengandungi narasi sejarah yang berbeda dari narasi sejarah pada bagian-bagian awal Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang yang sangat terkenal itu.

Milik Conradi Bussingh

            Manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan ini bagian dari sebuah kitab kumpulan salinan manuskip yang pada mulanya adalah koleksi perpustakaan Koninklijke Academie (Akademi Kerajaan) di Kota Delf-Belanda: sebuah akademi pemerintahan, tempat mendidik calon pegawai pemerintah di Hindia Belanda yang ditubuhkan pada tahun 1842.

Menurut Edwind P. Wieringa (1998:29 dan 74), pada 1 Juli 1864 akademi pemeritahan itu ditutup. Sejak saat itu, 197 buah manuskrip Melayu, termasuk kumpulan manuskrip ini,  dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Leiden. Di Perpustakaan Universitas Leiden, semua manuskrip ‘eks Kota Delf’ yang sebagian besarnya berasal dari Hindia Belanda ini didaftarkan dengan nomor katalogus Cod.Or. 1689 hingga Cod.Or. 1888.

Ketika masih menjadi koleksi Koninklijke Academie di Delf, kumpulan manuskrip ini diberi label dan nomor katalogus Ned Kolonien Handschriften C No. 33. Kemudian, oleh pihak perpustakan Universitas Leiden dirubah menjadi M.S. Orient No. 1721. Dan kini, nomor katalog mutakhirnya  adalah Cod.Or. 1721.

Sedangkan sebagai pemilik awal (provenance) naskah ini, seperti tertulis menggunakan huruf latin pada halaman 1 dan halaman 125 naskah Co.Or. 1721, adalah Conradi Bussingh. Ia adalah seorang pejabat urusan bahasa penduduk setempat (eleve voor Inlandsche talen) yang bertugas di Negeri Riau (Tanjungpinang) pada dekade pertama abad 19,  dan pada tahun 1829 dipindahkan ke Pulau Jawa.

Diperkirakan manuskrip ini adalah salah satu manuskrip yang disalin ketika Bussingh bertugas sebagai ‘pegawai bahasa’ di Tanjungpinang: sama seperti manuskrip ilmu surat-surat menyurat  Melayu koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (disalin di Negri Riau-Tanjungpinang pada 1826) yang dikenal sebagai kitab ‘Terasul Tuan Bussing’.

Bunga Rampai

            Manuskrip tanpa tarikh penyalinan dan penulisan ini sebenarnya tidak mempunyai judul. Judul Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan yang dipergunakan dalam ruang kutubkhanah ini mengacu kepada kalimat pembuka manuskrip tersebut. Sejak akhir abad ke-19 hingga abad ke-21, sejumlah filolog dan pakar kodikologi telah memberikan beragam judul kepada manuskrip koleksi Perpustakaan Univeritas Leiden ini.

Dr. H.H. Juynboll yang pertama kali memerikan naskah ini dalam katalognya (1899:173), memberi judul dalam bahasa Belanda: Een verhall, hoe de radja van Singapore den vorts van Bintan aanvalt (Sebuah cerita, bagaimananRajandari Singapura menyerang penguasa dari Bintan).

Dalam jilid pertama katalog mutakhir tentang koleksi naskah-naskah Melayu, Minangkabau, dan Sumatera Selatan yang ada di Negeri Belanda (termasuk koleksi Perpustakaan Universitas Leiden)   yang disusun oleh Teuku Iskandar (1999: 18), naskah ini diberi judul “Hikayat Bintan Dilanggar Singapura”.

Sebaliknya, dalam katalog ‘paling mutakhir, yang disusun oleh E.P. Wieringa (2007: 74-75), manuskrip ini diberi ‘judul’ dalam bahasa Inggris, Story of Singapore’s raja who attacks the ruler of Bintan (Cerita Raja Singapura yang menyerang penguasa Bintan).

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan ini adalah bagian dari sebuah kumpulan salinan manuskrip Melayu yang berisikan sembilan buah cerita.

Judul kitab manuskrip kumpulan cerita ini dalam ejaan lama, seperti ditulis menggunakan huruf latin pada lembaran pertamanya, adalah Boenga Rampe, yang kemudian diterjemahkan oleh Juynboll (1899) ke dalama bahasa Belanda menjadi, Varia. Oleh Teuku Iskantar (1999) dan E.P. Wieringa (2007), judul kitab kumpulan manuskrip  ini ‘direvisi’ dengan memperbarui ejaan judul lamanya menjadi Bunga Rampai.

Dalam kumpulan salinan manuskrip berjudul Bunga Rampai yang terdiri dari 124 halaman dengan dimensi 12 x 12 cm inilah manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan berada. Ia merupakan cerita nomor III (halaman 31-39), dari IX buah cerita yang terdapat di dalamnya.

            Sebagian besar kandungan isi kumpulan manuskrip Bunga Rampai ini sangat mirip dengan manukrip bernomor katalogus ML 24 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta yang juga berjudul Bunga Rampai, dan ditulis pada 19 Maret 1847. Karena itu, boleh jadi manuskrip Bunga Rampai dengan nomor katalogus Cod.Or. 1721 koleksi pepustakaan Universitas Leiden ini adalah salinan, atau versi pendek dari ML 24 koleksi Perpusnas, Jakarta.

Sejarah Melayu Yang Lain

            Manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan dibuka dengan kalimat sebagai berikut: “Alkisah maka tersebutlah perkataan raja di Singapura itu datang menyerang Negeri Bintan….”

Esensi narasi manuskrip ini tidak mengisahkan mengapa raja Singapura (yang tidak disebutkan namanya) itu menyerang Negeri Bintan dan jalannya peristiwa penyerangannya. Fokus narasinya lebih kepada dampak dari serangan yang menyebabkan Negeri Bintan kekuarangan makanan, serta upaya raja Bintan mencari batuan makanan dengan berundur ke Bukit Seguntang di Palembang, dan serangan balik Raja Bintan atas bantuan ‘penguasa’ Palembang.

Sejak awal, narasi manuskrip ini telah menunjukkan ‘gejala counter text’ melalui narasi yang berbeda dari teks Sejarah Melayu, dengan menyatakan bahwa ‘Raja Bintan’ datang ke Palembang, dan bukan sebaliknya. Dengan kata lain, narasi ini menjungkir balikkan hubungan Palembang-Bintan-dan Singapura seperti yang ditulis dalam kitab Sejarah Melayu, yang populer sebagai karya Tun Sri Lanang.

Dalam narasi manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan ini, juga dikisahkan bahwa secara hirarkis Raja Bintan lebih tinggi kedudukannya dari ‘penguasa’ Palembang  yang merendah-rendah menyebut dirinya sebagai “…abdi yang maha mulia…” di hadapan Raja Bintan.

Dikisahkan bahwa Raja Bintan bertolak dengan sebuah ghurab (sejenis perahu tradisional Melayu) ke Bukit Seguntang (Palembang) untuk mencari bantuan setelah mendapat kabar tentang cadangan bahan makaman yang melimpah di Palembang dari para Batin Laut (pemimpin orang laut dan rakyatnya, yang dalam sejarah dikenal sebagai sumber kekuatan militer  Bintan di laut).

Dalam manuskrip ini, kisah tersebut dinukilkan sebagai berikut: “…Maka kata Raja Bintan… Adapun akan kita datang ini oleh kerana kita mendengar khabar Batin Laut akan Mamak Pikrama. Disini banyak menaruh makanan, kerana kita ini memusuh dan berperang dengan Raja Singapura. Khabarnya Mamak Pikrama banyak menaruh makanan. Sebab itulah kita datang sendiri mendapatkan Mamak kita. Hendak mintak dikasihnya dan ditolong oleh Mamak kita itu…

Di Bukit Seguntang (Palembang) beliau disambut dengan segala kebesaran sebagai seorang raja, oleh ‘penguasa’ Palembang yang bernama Datuk Pikrama (yang disapa Mamak oleh Raja Bintan), dengan memerintahkan anaknya yang bernama Pusamar menjemput raja besar itu ke perahunya.

Sebagai ungkapan hormat, Datuk Pikrama menjamu Raja Bintan selama “…tiga hari tiga malam makan minum tiada henti...”. Dan dalam kesempatan itu pula, Raja Bintan bertitah berjanji akan membalas kasih bantuan Mamak Datuk Pikrama kepadanya.

Tehadap titah dan janji itu, sekali lagi, Mamak Datuk Pikrama dengan merendah-rendah dihadapan Raja Bintan, berkata: “…Mengapa Duli Syah Alam bertitah demikian. Akan nyata patik anak ini lagi di bawah Duli Suah Alam. Apatah gunanya yang ada pada patik ini. Tiada patut belanja negeri Syah Alam itu. Sia-sialah patik menjadi kebawah Duli Syah Alam. Kerana tiada adat hamba hamba Melayu itu melalui titah tuannya dan durhaka kepada tuannya sehingga mati….”

            Singkatnya, Raja Bintan terlepas dari bencana besar serangan Raja Singapura. Sebagai tanda terimakasih kepada Mamak Datuk Pikrama di Palembang, Raja Bintan mempersunting anak perempuannya yang bernama Dang Malini. Mamak Datuk Pikrama bersetuju. “Syahdan pada ketika itu juga Datuk Pikrama laki istri mengiasi anaknya dengan selengkapnya pakaian itu. Setelah sudah maka dihantarkannya pada baginda. Baginda pun  nikahlah dengan anaknya Datuk Pikrama…”

Selanjutnya, pada ketika itu juga baginda Raja Bintan mengangkat anak laki-laki Datuk Pikrama yang bernama Pusamar menjadi penguasa Palembang dengan gelar Demang Lebar Daun.”…Syahdan pada hari itu juga Yang Dipertuan Bintan menggelar Pusamar itu Demang Lebar Daun. Memegang Negeri Palembang itu. Menjadi orang besar Dalam Negeri Palembang itu.

Mungkin, karena esensi narasi manuskrip ini yang sangat berbeda dengan narasi Sejarah Melayu yang sangat terkenal itu, maka filolog Juynboll menyebut manuskrip Kisah Raja Singapura Menyerang Negeri Bintan atau cerita nomor 3 dalam manuskrip Cod.Or. 7121 koleksi Perpustakan Universitas Leiden ini sebagai “sebuah fragmen Sadjarah Malayu yang lain”.***

Supaya Bahtera Tak Tenggelam

0

KARENA jabatan yang diamanahkan kepadanya, Menteri Kerajaan Ban mendapat tugas mustahak dari sultan negeri itu. Dia memahami benar tugas dan tanggung jawabnya sebagai menteri. Kesemuanya itu dilaksanakannya dengan senang hati, tanpa sedikit jua berasa terbebani.

Lebih dari itu, sebagai seorang profesional, semua tugas pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya dilaksanakannya secara tepat dan cepat, tanpa membuang waktu barang sesaat. Dia berhasil  membuktikan diri sebagai menteri yang cekap dan cergas (tangkas) sehingga rajanya tak perlu menaruh was-was.

Raja Ali Haji rahimahullah menukilkan kisahnya di dalam Syair Abdul Muluk (1845) secara indah dan menarik. Inilah salah satu bait syairnya.

Karena menteri orang berbangsa
Barang kerja semuanya biasa
Habislah berkumpul negeri dan desa
Kepada baginda berbuat jasa

Seperti yang terekam di dalam bait syair di atas, Sang Menteri melaksanakan semua tugasnya dengan penuh tanggung jawab, tanpa berasa terbebani oleh pekerjaannya.

Semua tugas  itu, baik berat maupun ringan, dianggapnya sebagai sesuatu yang biasa karena memang harus dilaksanakan secara profesional.

Dia menyadari benar bahwa semakin tinggi pangkat dan jabatannya akan semakin banyak pula tugas yang harus dikerjakan dan semakin besar pula tanggung jawabnya.

Sifat, sikap, dan perilakunya itu menunjukkan bahwa Sang Menteri memang orang yang  berbangsa. Artinya, dengan kecergasannya Menteri Negeri Ban itu telah menampilkan dirinya sebagai sosok pemimpin terbilang, yang menjadi tumpuan harapan semua orang. Dengan demikian, sifat, sikap, dan perilaku cergas (cepat, tangkas, dan tak melalaikan pekerjaan) dalam melaksanakan tugas menjadi kualitas budi yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin pilihan.

Sebagai petinggi dengan jabatan penting, yang menentukan maju-mundur negeri, Sang Menteri sangat menyadari bahwa kebijakan dan kiat kepemimpinannya berdampak luas kepada negeri dan rakyatnya.

Oleh sebab itu, dia harus melaksanakan amanah yang diembannya dengan strategi yang baik, tak boleh sedikit pun ada yang cacat-celanya. Dengan begitulah, bakti yang dilaksanakannya akan mencapai matlamat sehingga memperoleh sebanyak-banyaknya manfaat.

Pemimpin sekelas menteri itu sadar akan tunjuk ajar dan pedoman yang tertuang di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Ketujuh, bait 3, yang memang harus diperhatikan oleh setiap pejabat agar pekerjaannya beroleh berkat sehingga disukai oleh rakyat.

Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat

Pemimpin dengan kualitas cergas itu memang patut menyandang predikat orang berbangsa (terhormat dan mulia). Apatah lagi, karena sifat kerendahhatiannya, dia tetap menganggap tanggung jawab yang besar yang dibebankan kepadanya sebagai pekerjaan biasa, yang memang harus dikerjakannya secara seksama. Sekali bersedia memikul amanah, berpantanglah dirinya berpaling tadah.

Jabatan dan pangkat tinggi yang disandangnya tak membuatnya lupa diri. Apatah lagi hanya sibuk dengan pencitraan diri, yang boleh berubah ujub dan takabur tanpa disadari. Pemimpin seperti Menteri Negeri Ban itu sadar sesadar-sadarnya bahwa semua sifat dan perangai negatif itu merugikan diri, rakyat, dan negeri.

Bukankah baktinya yang ikhlas dengan mengerahkan semua kemampuan diri akan menentukan nasib bangsa, baik sekarang maupun nanti? Pasalnya, sebagai pemegang amanah kepemimpinan, keselamatan bahtera bangsa menuju dermaga impian sangat ditentukan oleh komitmennya sebagai nakhoda yang mengendalikannya.

“Maka hendaklah ahli al-mahkamah tatkala berhimpun di dalam mahkamah jangan ia ‘ujub dan takabur akan dirinya akan ia mendapat pangkat daripada jabatan menteri atau pegawai seperti meridakan diri ‘ujub yang demikian itu. Akan tetapi, hendaklah tafakur dan insaf pada memandang orang yang berdakwa itu karena adalah mahkamah itu seolah-olah satu bahtera di lautan besar, dipukul ribut yang amat besar. Jika tiada baik-baik ahli bahtera itu membicarakannya, hampir tenggelam binasa dirinya di dalam dunia dan di dalam akhirat,” (Raja Ali Haji dalam Abdul Malik (Ed.) 2013, 63).

Amanat yang tersurat di dalam Tsamarat al-Muhimmah di atas memang tertuju kepada para pemimpin dan orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan yang berhubung dengan peradilan. Akan tetapi, secara tersirat, pesan itu juga berlaku dan begitu mustahak bagi semua pemimpin, apa pun jenis dan peringkat kepemimpinannya.

Semua bangsa yang beradab mengandalkan pemimpinnya dari kalangan orang-orang yang senantiasa tafakur dan sadar diri sehingga selalu bersedia menunaikan baktinya secara cerdas dan cergas, tanpa terlintas sedikit pun untuk bermalas-malas, apatah lagi berbuat culas.

Pemimpin yang cergas menyadari benar akan tunjuk ajar kepemimpinan dari syair nasihat yang terhimpun di dalam Tsamarat al-Muhimmah, bait 36. Oleh sebab itu, dia akan berusaha sekuat dapat untuk menghindari sifat dan tabiat yang akan mendatangkan mudarat.

Yakni jangan lengah dan lalai
Pekerjaan raja dihelai belai
Lengah dengan nasi dan gulai
Akhirnya kelak badan tersalai

Lawan pemimpin yang cergas memang pemimpin yang lengah dan lalai. Amanah yang diberikan kepadanya dicuaikan sehingga membuat dirinya, jangankan menjadi pemimpin, bahkan menjadi rakyat biasa saja pun tak menjanjikan kejayaan.

Obsesinya semata-mata “nasi dan gulai”, sama ada dalam arti denotatif ataupun konotatif. Hanya sebatas itu sajalah matlamat kepemimpinannya sehingga begitu bersara (purnabakti) tak sesiapa pun berupaya mengingatnya. Menurutnya mungkin dia orang yang pandai, tetapi bagi masyarakat yang menderita karena kepemimpinannya, dia tak lebih dari seorang yang lalai dan buruk perangai.

“Demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba pada waktu pagi, maka ia menerbangkan debu, dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh. Sesungguhnya, manusia itu sangat ingkar, tak berterima kasih kepada Rabbnya dan sesungguhnya, manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan, sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka, tidakkah dia mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada? Sesungguhnya, Rabb mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka,” (Q.S. Al-‘Adiyat:1—11).

Kualitas keteguhan hati laksana kuda perang dalam Surah Al-‘Adiyat itulah seyogianya dimiliki oleh sesiapa pun pemimpin yang niat dan bakti kepemimpinannya untuk kemaslahatan bangsa dan negara. Dia tak pernah gentar berhadapan dengan apa atau siapa pun yang berusaha untuk mengalihkan matlamatkan ke arah yang salah. Sandaran pedoman kebenarannya semata-mata petunjuk Allah.

Kepada Allah pulalah dia berlindung agar tak menyimpang dalam melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan yang diamanahkan kepadanya. Itulah pemimpin yang cergas dan tangkas dalam arti yang sesungguhnya.

Dalam hal ini, dia senantiasa berupaya agar terhindar dari golongan manusia yang ingkar, yang matlamat kepemimpinannya sekadar saling tak tumpah semata-mata cinta kepada harta dunia. Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa Allah telah bersumpah untuk mengganjar pemimpin yang gila harta itu dengan sanksi yang memang sepadan dengan keingkarannya.

Pemimpin yang cerdas dan tangkas ibarat kuda perang yang berlari kencang itu. Seraya menerjang dengan kuku kakinya yang memancarkan api, kuda yang perkasa itu menyerang ke kubu pertahanan musuh, tanpa ragu sedikit jua.

Dalam keadaan serupa itu, tak ada tantangan atau cabaran kepemimpinan yang tak dapat diatasinya. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan akan selalu bersamanya sesuai dengan janji dan jaminan-Nya. Bukankah Allah tak pernah ingkar  janji?

Memang, dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia, senantiasa ada pemimpin yang benar-benar memiliki keteguhan hati untuk membela marwah bangsa dan negaranya. Dia  laksana kuda perang yang siap menerjang apa atau siapa pun yang jadi penghalang niatnya yang mulia. Pemimpin dengan kualitas itu, karena memang telah dijamin oleh Allah, seandainya gugur pun dalam bakti kepemimpinannya, akan meninggalkan nama yang terbilang.

“… Maka kapal itupun keras juga hendak masuk. Maka lalulah berperang semula dengan kubu yang di Teluk Keriting itu. Maka azamatlah bunyinya meriam kapal itu. Maka seketika berperang itu maka kubu Teluk Keriting pun hendak tewas sebab ubat bedilnya habis. Maka menyuruhlah Yang Dipertuan Muda itu mengantarkan ubat sebuah sampan. Adalah yang mengantarkan ubat bedil itu Syahbandar Bopeng, adalah budak yang mengayuhkannya, kepala satu budak anak baik-baik namanya Encik Kalak. Maka sampan itupun (sic)dibedil oleh kapal dari laut dengan peluru penaburnya, maka sampan itupun (sic) tenggelam. Maka lepaslah satu tong ubat bedil itu dipikul oleh orang sampan itu naik ke darat kepada kubu Teluk Keriting itu. Maka dapatlah lima kali tembak, maka dengan takdir Allah taala kapal itupun (sic) terbakar, meletub berterbangan geladak kapal itu ke udara dan segala orang-orangnya pun habislah mati diterbangkan oleh ubat bedil yang meletub itu. Syahadan adalah pada suatu kaul, orangnya ada delapan ratus yang mati dan ada satu komesarisnya yang mati bersama-sama kapal itu….” (Matheson (Ed.) 1982, 204).

Kutipan dari Tuhfat al-Nafis di atas berkisah tentang peristiwa heroik ketika pasukan Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang di bawah pimpinan Yang Dipertuan Muda IV, Raja Haji, bertempur dengan pasukan VOC-Belanda dalam Perang Riau I di perairan Tanjungpinang.

Ketika perang sedang berkecamuk, pasukan Raja Haji yang bertahan di kubu Teluk Keriting nyaris kalah karena mereka kehabisan peluru. Dalam keadaan genting itulah Baginda menunjukkan kualitas cerdas dan cergasnya tanpa menunjukkan sikap yang panik sedikit pun.

Pasukan Baginda pun menjadi nyaman dipimpin oleh pemimpin hebat seperti itu. Dalam keadaan kalang kabutnya perang itu, Raja Haji memerintahkan prajuritnya mengantarkan pasokan peluru ke kubunya. Bahkan, perahu pengantar peluru itu pun dengan laskarnya dihujani tembakan oleh pihak musuh sehingga perahu dan muatannya itu pun tenggelam.

Untunglah, ada satu tong peluru yang dapat diselamatkan dengan cara dipikul oleh prajurit Raja Haji. Dengan sisa peluru yang hanya dapat dilakukan lima kali tembakan itulah, Baginda dan pasukannya menembakkannya ke kapal musuh.

Dengan inayah Allah, kapal komando VOC-Belanda—Malaka’s Walvaren—itu pun meledak berkeping-keping ke udara kena tembakan Raja Haji dan pasukannya dari kubu Teluk Keriting. Peristiwa 6 Januari 1784 itu, menurut Tuhfat al-Nafis, menewaskan 800 orang serdadu musuh. Itulah kemenangan gemilang pasukan Kerajaan Riau-Johor di bawah pimpinan Raja Haji.

Kemenangan besar Raja Haji dan pasukannya itu, sesungguhnya, karena inayah Allah. Selain itu, kualitas cerdas dan cergas yang dianugerahkan oleh Allah menggenapkan kejayaan kepemimpinan Baginda, baik pada masa perang maupun damai. Itulah bukti bahwa kualitas cergas menjadi indikator kejayaan kepemimpinan.

Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT mencela sikap lemah, tak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cergas. Namun, jika kamu tetap terkalahkan oleh sesuatu perkara, maka kamu berucaplah, cukuplah Allah menjadi penolongku dan Allah sebaik-baik pelindung,” (H.R. Abu Dawud).

Jelas sudah duduk perkaranya. Keutamaan sifat dan perilaku cergas (cakap dan tangkas) dalam memimpin bukanlah berasal dari rujukan yang sebarang. Pedoman itu langsung berasal dari Tuhan. Unsur keluhuran budi pemimpin itu seyogianya diterapkan secara konsisten dan konsekuen oleh setiap pemimpin.

Hanya dengan begitulah bakti kepemimpinannya bermanfaat sehingga memang patut dikenang orang. Jika tidak, samalah dirinya dengan seseorang nakhoda. Malangnya, dia bukanlah nakhoda cergas, melainkan juragan buruk lagi ceroboh yang membawa bahtera untuk tenggelam.***

Warna dalam Bahasa Melayu ternyata lebih Luas

0
Berapa banyak nama varian warna dalam bahasa melayu ? Tentu banyak yang akan terkejut apabila dikemukakan bahwa ada 26 varian warna merah dalam bahasa melayu, kemudian 15 varian warna hitam, 14 varian warna kuning, 12 jenis warna putih dan11 varian warna biru. Hal ini bukti dari rangginya tamadun melayu, jika dari segi warna saja memiliki kepekaan dan kehalusan luar biasa.
Dr. Mohd. Faizal, seorang Pengkaji dunia melayu akan membahas semua hal tersebut dalam artikel ini, sebagaimana Dikutip dari laman Berita Media Corp Singapura.

https://berita.mediacorp.sg/mobilem/commentary/komentar-konsep-warna-masyarakat-melayu-lebih-luas-daripada/4092974.html

Ada dugaan kalau orang Melayu hanya mengenal empat jenis warna saja: hitam, putih, merah dan hijau. Sementara warna biru, mungkin ialah suatu istilah yang baru.

Menurut Professor Asmah Haji Omar dalam buku “Bahasa Malaysia Saintifik”(2005), untuk menggambarkan warna biru, orang melayu cenderung menggolongkannya dalam warna hijau seperi hijau langit, hijau laut, hijau telur itik, hijau daun, dan hijau pucuk pisang.

Sementara warna merah dibagi menjadi warna emas merah, merah padi, dan merah matahari.

Namun demikian, Prof. Asmah menekankan bahwa orang melayu juga mengenal warna kuning dan kelabu. Sementara warna ungu, jingga, dan coklat baru dikenali orang melayu setelah diperkenalkan oleh masyarakat luar

Berasal dari Sansakerta

Warna yang berasal dari bahasa Sansekerta, Varna memiliki pengertian yang sama pada penampilan, luaran, dan bentuk. Istilah lain untuk warna bagi orang melayu adalah ragi.

Meskipun pada dasarnya rekognisi warna orang melayu terbatas, konsep warna orang melayu tetaplah luas, terutama apabila merujuk pada flora-fauna yang dapat dicirikan oleh warna-warni tertentu

Tesis sarjana Nurizzati Ismail di Universti Sains Malaysia, dengan judul ‘Peranan Warna Dalam Budaya Tradisional Melayu Dengan Rujukan Kepada Sulalat Al Salatin’ menyatakan warna sebagai contoh dapat dihubung-kait dengan warna biji rembia, warna bunga keduduk, warna biji asam, atau warna kulit manggis.

Demikian kita mendengar orang mengatakan baju kurung itu berwarna hijau lumut, atau hijau tahi lembu, ataupun kelubungnya berwarna kulit manggis.

Paling Menonjol

Penampilan warna yang paling menonjol untuk orang Melayu dapat ditemukan pada pakaian. Sebagai contoh dalam menjelaskan gambaran pakaian Hang Tuah seperti terlihat dalam Hikayat Hang Tuah.

Ia menyebut pakaian Hang Tuah sebagai: ‘Maka Laksamana pun memakai berserual kuning berkain kesumba murup diantelas, bertepi benirat, berikat pinggang cindai natar kuning, berbaju hijau digangsa, berdestar warna pelangi’.

Warna pada pakaian Hang Tuah tersebut ialah kuning, kesumba dan hijau. Kain ‘kesumba murup diantelas’ panglima Melayu itu ialah warna dari buah kesumba yang memiliki warna merah tua.

Sementara diantelas ialah sejenis kain. Destar warna pelangi merujuk kepada kepelbagaian warna. Tujuh warna asas yang disebutkan oleh Prof Asmah Omar di awal diperincikan kepada pelbagai pecahan warna lain.

7 Warna Generik Melayu

Tujuh warna generik orang Melayu dirincikan lebih lanjut oleh Che Husna Azhari dalam makalah beliau yang bertajuk ‘Teknologi Warna Alam Melayu’.

Terdapat 12 jenis putih iaitu putih bersih, putih umbut, putih lesu, putih langsat, putih pucat, putih kuning, putih luih, putih puaka, putih melepak, putih abu, putih metah, dan putih awan.

Sementara terdapat 14 jenis kuning iaitu kuning raja, kuning air, kuning tua, kuning muda, kuning daun, kuning tanah liat, kuning bunga ketola, kuning lemak ketam, kuning mihir, kuning gadin, kuning pinang masak, kuning kunyit, serta jingga dan perang yang turut disandarkan kepada kuning.

26 Jenis Warna Merah

Warna merah pula terbagi atas 26 jenis iaitu: merah tua, merah muda, merah darah, merah darah ikan, merah hati, merah kesumba, kesumba muruk, merah jambu atau merah bunga, pulut-pulut, merah lebam, merah malar, merah muruk, merah merang, merah marah, merah menjahang, merah menyala, merah padam, merah dadu, merah lembayung, merah pulasan, merah bunga raya, merah bunga cempaka, merah Melayu, merah telur, merah mawar atau kembang petang dan mengseta atau turut dikenali sebagai merah maggis.

Warna ungu yang dikatakan baru dikenal itu pula dibagi menjadi empat jenis yaitu ungu biji kundang, ungu butir setar, ungu lembayung dan ungu manis.

Hijau Warna Utama Melayu

Warna hijau yang merupakan warna utama orang Melayu terbagi kepada 10 jenis hijau yaitu; hijau tua, hijau muda, hijau daun, hijau serindit, hijau pucuk pisang, hijau cekur manis, hijau terusi, hijau kepala itik, hijau laut, dan hijau batu zamrud.

Terdapat tiga jenis kelabu iaitu kelabu asap, kelabu tahi anjing, dan kelabu asap api.

Sedangkan Hitam pula dibagi atas 15 jenis hitam; hitam birat, hitam kelawar, hitam legam, hitam jebak, hitam jengat, hitam lengit, hitam lotong, hitam kumbang, hitam usam, hitam berkilat, hitam tampuk manggis, hitam manis, hitam pekat, hitam kerak dodol, dan hitam arang.

11 Pecahan Biru

Apabila hijau dan biru dipisahkan dan diperhalusi, terdapat 11 pecahan biru yang dikenal oleh orang Melayu yaitu; biru raja, biru air laut, biru langit, biru nilam, biru nilakandi, biru manis, biru laut, biru lebam, biru muda, biru senin dan biru senam.

Dalam pada itu, orang Melayu Kelantan mempunyai pengkelasan warna yang tersendiri menurut pemerhatian mereka terhadap warna kulit lembu dan kerbau laga.

C.C Brown dalam ‘Kelantan Bull-Fighting’, sebuah penerbitan seal 1928 yang merekam budaya laga lembu di Kelantan dan Patani turut mencatat jenis-jenis warna yang digunakan orang Melayu dalam menggambarkan kulit lembu yang bermutu.

Hal yang sama turut menarik perhatian Anker Rentse dalam ‘Kelantan Names for Bullocks According to Their Color’ yang terbit pada tahun 1931.

13 jenis warna pada Kelantan Bull-Fighting yang disebutkan di atas adalah; warna jebat iaitu hitam;

– warna kumbang yang bermaksud hitam pekat; warna laka atau hitam perang;

– warna tal yakni hitam keperangan dan kelabu;

– warna tampung iaitu hitam dengan banyak tompok putih;

– warna arau yakni hitam dengan sedikit tompok putih;

– warna kelembak atau kelabu; warna lasat sepertinya buah langsat;

– warna kijang yang kemerahan; warna lipan tanah yang mana merah dengan hitam yang banyak;

– warna kubing yang mana merah dengan hitam yang sedikit;

– warna sela pula adalah warna merah pekat, dan

– warna kabul yang bermakna kelabu dengan perang.

Kepekaan Yang Luar Biasa

Lebih lanjut terdapat warna kerubeng belacan iaitu merah kekuningan; lasat besi yakni merah kekuningan, warna jebat kelawar iaitu hitam berminyak, warna laka tilang yang mana merahnya berkelabu kekuningan dan warna tampon bertuah yang menggambarkan manca atau panca warna atau beraneka ragam warna.

Tidak dapat diketahui bagaimanakah rupanya warna yang disebutkan dalam pemerian dan perincian di atas kerana dokumentasi yang lemah.

Namun demikian, cukup memadai apabila dikatakan bahwa orang Melayu mempunyai kesadaran dan kepekaan yang luar biasa kepada alam sekitar sehingga mereka dapat membedakan pelbagai jenis warna dengan cukup halus.

Perincian yang sangat teliti pada warna-warna ini juga menunjukkan betapa orang Melayu adalah bangsa yang berbudaya tinggi, memiliki Seni yang tinggi dan tekun dalam memahami alam sekitar.

Cukup untuk kita merasa bangga bahwa bangsa Melayu bukanlah bangsa yang rendah dari segi ilmu dan jika melihat dari perspektif warna dengan ilmu pengetahuan, ia juga menjadi petunjuk Melayu adalah bangsa dengan peradaban tinggi dan berkemajuan.

Tentang Penulis

Dr Mohd Faizal Musa. (Gambar: BERITAMediacorp)

Dr. Mohd Faizal Musa atau lebih dikenali dengan nama pena Faisal Tehrani, berusia 42 tahun, ialah seorang pengkaji, pemikir, novelis terkenal dan pejuang hak asasi manusia dari Malaysia. Beliau kini bertugas sebagai zamil penyelidik (Peneliti) di Institut Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia.

Kitab Ilmu Bedil Melayu

0

Khazanah senjata tradisional Melayu tidak hanya sebatas alat pertikaman seperti keris dan sejenisnya, akan tetapi mencakupi pula beragam senjata api dengan berbagai jenisnya seperti, bedil, istinggar, lela, rentaka dan lain sebagainya.

Keberadaan senjata api dalam khazanah persenjataan persenjataan tradisional Melayu ini tidak hanya dapat dibuktikan secara artefaktual, tapi juga dicatat dalam kitab-kitab khusus tentang Ilmu Bedil, yang menjelaskan berbagai aspek dan teknik penggunaan senjata api oleh orang Melayu.

Istilah bedil dalam bahasa Melayu (dan sudah barang tentu terpakai pula dalam bahasa Indonesia pada masa kini) adalah sebuah kosa kata serapan. Menurut H. Kern dalam sebuah artikelnya,  Oorsprong Van Het Maleisch Woord Bedil [Asal Usul Kosa Kata Bedil Dalam Bahasa Melayu], perkataan bedil itu berasal dari kosa kata wedil atau wediyal dalam bahasa Tamil.

Dalam sosok aslinya, perkataan ini menunjuk kepada mesiu atau ledakan bubuk mesiu. Namun setelah terserap menjadi bedil dalam kebudayaan Melayu, dan sejumlah kebudayaan lain di Nusantara, kosa kata Tamil itu digunakan untuk menyebut “semua” jenis senjata api yang menggunakan mesiu.

Demikianlah, dalam bahasa  Jawa dikenal istilah balin; dalam bahasa Sunda ada istilah bedil; dalam bahasa Batak dikenal pula dengan bodil; dalam bahasa Makasar, badili; dalam bahasa Bugis, balili; dalam bahasa Dayak, badil; dalam bahasa Tagalog, baril; dan orang Melayu menyebutnya bedil.

Koleksi NUS dan variannya

            Khazanah kepustakaan ilmu tradisonal Melayu yang menghiasi ruang kutubkhanah minggu ini berasal dari salinan mikrofilem sebuah faksimile manuskrip Melayu koleksi tertutup (close stack) milik Central Library (Perpustakaan Pusat) National University of Singapore, NUS, (Universitas Kebangsaan Singapura).

Manuskrip ini sesungguhnya tak mempunyai judul. Oleh pustakawan NUS, manuskrip yang ditulis menggunakan huruf jawi atau huruf Arab Melayu ini diberi judul Ilmu Obat Bedil, dengan nomor CALL# GN477 Ilm, dan tersimpan pada rak dengan nomor katalogus STACK# R0028718.

Katalog perpustakaan pusat NUS tak banyak memberikan informasi bibliografis tentang manuskrip ini. Selain tidak ada kolofon manuskrip yang dapat menjelaskan beberapa aspek pentingnya, katalog koleksi NUS juga tidak menjelaskan siapa penulis atau penyalinnya, dan kapan manuskrip ini ditulis atau disalin. Juga sulit untuk memeriksa cap air (watermark) pada kertas yang digunakan, karena yang tersedia hanyalah salinan sebuah manuskrip dalam format mikrofilm.

Foto citra mikrofilm halaman pertama kitab Ilmu Ubat Bedil koleksi Central Library National University of Singapore. (foto: dok. Aswandi syahri)

Namun yang pasti, dalam korpus khazanah manuskrip Melayu, manuskrip berkenaan dengan Ilmu Ubat Bedil ini bukanlah sebuah naskah tunggal yang bertaraf codex unicus. Perpustakaan Dewan Bahasa dan Pustaka di Kuala Lumpur, Malaysia, mempunyai dua varian manuskrip sejenis. Salah satu diantaranya diberi judul Ilmu Bedil  (MS 31). Manuskrip ini ditulis pada 44 lembar kertas folio berukuran 33 x 22 cm. Secara substansial, kandungan isi manuskrip ini sangat mirip dengan salinan manuskrip Ilmu Ubat Bedil koleksi NUS.

Sama seperti reproduksi manuskrip sejenis koleksi Perspustakaan NUS, pada manuskrip koleksi Perpustakaan Dewan Bahasa dan Pustaka juga tidak tertera nama penulis atau penyalinnya. Namun demikian, manuskrip milik Perpustakaan pusat NUS lebih istimewa karena berhiaskan iluminasi motif floral.

Selain di Singapura dan Malaysia, manuskrip ilmu bedil Melayu seperti ini juga ditemukan dalam koleksi sejumlah lembaga di Negeri Belanda. Di Perpustakaan Universitas Leiden, umpamanya, tersimpan tiga manuskrip sejenis yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

Ketiga manuskrip tersebut adalah: Pertama sebuah manuskrip dengan nomor katalogus Cod. Or. 5278 yang berjudul Ilmu Bedil: ditulis menggunakan huruf Bali, Arab, Arab Melayu, dan berasal dari Lombok. Manuskrip yang kedua ditulis dalam format ketikan dengan nomor katalogus Cod.Or. 8447 (39.2) dengan judul  Ilmu Bedil yang dihimpunkan dalam sebuah kumpulan salinan manuskrip berasal dari Sumatera Selatan. Dan ketiga adalah sebuah manuskrip dengan nomor katalogus Cod.Or. 12.257 berjudul  Ilmu Bedil  yang selesai ditulis di Bengkulu pada 1860.

Ilmu Bedil Melayu

            Apakah sesungguhnya kandungan isi sebuah kitab ilmu bedil Melayu? Paragraf pembuka kitab Ilmu Bedil Melayu koleksi Perpustakaan NUS, Singapura, yang menjadi rujukan utama kutubkhanah kali ini, diawali dengan penjelasan sebuah pasal tentang kaidah menggunakan salah satu jenis senjata api orang Melayu yang disebut istinggar, yakni senjata api Melayu yang  diadopsi dari Portugis. Orang Portugis menyebutnya Espingarda: sebangsa senapang atau bedil bersumbu (matclock guns).

Perihal senjata api yang disebut istinggar ini, yakni tentang bagaimana menakar obat bedil (mesiu) yang digunakan, antara lain dijelaskan sebagai berikut:

Pasal ini pada menyatakan jikalau hendak menjaga istinggar itu memara jauhnya itu anam depa, maka bubuh ubatnya berat seamas sepung.  Samakan dengan tembak tiga puluh timbangannya. Dibubuh ubat itu sedikit tiadalah baik. Sebagai lagi jikalau menjaga istinggar itu dekat, maka dibubuh ubatnya sedikit salahlah tembaknya, dan jikalau tembaknya itu jauh, maka dibubuh ubatnya itu banyak itupun salah juga tembaknya itu. Jikalau jauh dekat pun disamakan juga ubatnya itu”.

Setelah itu, bagian-bagian selanjutnya dari kitab ini berisikan penjelasan atau pasal-pasal yang berkenaan dengan teknik memegang dan mengarahkan senjata, menyiapkan peluru, mengatur pejera atau pembidik, pedoman berbagai teknik dalam menembak yang bernyawa, hinggalah kepada kaidah-kaidah teknis, seperti, bila laras sebuah bedil yang digunakan terlalu panas.

Seorang Pendekar Tembak Melayu dan sebuah bedil di pundaknya pada abad 19
(dok. Aswandi syahri)

Sebagai ilustrasi, pasal-pasal tersebut antara lain adalah: Pasal ini pada menyatakan syarat tatkala membedil. Pasal syarat menggamak bedil. Pasal pada menyatakan syarat kepada pandang. Pasal ini menyatakan syarat tatkala hendak akan melepaskan peluru, syarat membedil, syarat menaruhkan pejeranya, dan pasal pada menyatakan tilik tatkala hendak menembak segala yang bernyawa.

Pada bagian yang lain, kitab ini juga menjelaskan empat kaidah menembak dan dua belas rukun tembak yang wajib diketahui oleh seorang pendekar tembak Melayu.

Kaidah menembak yang pertama disebut tembak bidak. Dalam kaidah ini, kuncinya berada pada pandangan mata yang menatap lurus sepanjang laras bedil dan didukung oleh empat syarat penting bagi berhasilnya sebuah tembakan, yakni: mrnggunakan bedil yang baik, [meng]gamak atau memegang bedil secara baik, menggunakan peluru yang baik, dan menggunakan ubat bedil atau bubuk mesiu yang baik.

Teknik yang kedua disebut tembak kilat, yaitu dengan mengarahkan bedil pada sasaran yang tepat di depan mata. Kaidah yang ketiga disebut tembak ustaz. Dalam kaidah ini, yang menjadi kuncinya adalah  menempatkan poisisi bedil pada rusuk dan ditopang oleh tangan kiri. Adapun kaidah yang keempat, disebut kaidah tembak alat. yakni sebuah cara menembak yang mengutamakan segala anggota tubuh dan gabungan tiga kaidah menembak lainnya sebelumnya.

Selain menjelaskan teknik menembak, dalam kitab ini juga dijelaskan bagaimana jampi atau penawar bila luka terkena obat bedil. Begitu juga bila laras sebuah bedil sangat panas, maka dijelaskan pula ramuan penawarnya: “ambil tawas, tumbuk lumat-lumat, maka celupkan pada air cuka, kemudian sapukan pada bedil itu”.

Petunang Pengendali Peluru

            Pengetahuan tentang tentang cara menggunakan berbagai jenis senjata api tradisional seperti bedil, istinggar, rentaka, lela, penabur, senapang lantak, meriam dan sejenisnya oleh masyarakat di Alam Melayu, jelas banyak dipengaruh oleh pengetahuan yang berasal dari Turki, Arab, dan barangkali juga Eropa .

Namu demikian satu hal yang menarik, seperti dijelaskan dalam kitab ilmu bedil orang Melayu ini, penggunaan senjata-senjata api tersebut mendapat tambahan istiwema yang mungkin tak dikenal dalam teknologi dan tekni penggunaaan senjata api sejenis oleh orang Eropa dalam kurun yang sama.

Dengan menggunakan peluru berpetunang, berpitunang,  atau peluru yang telah telah dijampi dengan mantra dan ayat tertentu, seorang pendekar tembak Melayu dapat mengarahkan peluru itu tepat mengenai sasaran tembaknya.

Bagi orang Melayu, senjata-senjata api seperti  bedil, istinggar, meriam, lela, dan sejenisnya hanyalah alat atau media penyampai peluru ke sasaran tembak. Sebaliknya ketepatan peluru dalam dalam menjagkau sasaran tembak sangat ditentukan oleh jampi petunang atau pitunang yang sarat dengan do’a, mantra, dan makrifat yang dibacakan si penembak; petunang atau pitunang inilah yang berfungsi  sebagai peengendali arah peluru menunju sasaran tembaknya.

Oleh karena itu, selain ditentukan oleh berbagai aturan yang sifatnya teknis, maka beraga peluru yang digunakan untuk sasaran tembak yang berbeda dan beragam, dipergunakan jampi petunang atau pitunang yang berbeda pula.

Sebagai contoh, bila hendak menembak membinasakan orang [seorang manusi sebegai sasaran tembak], maka jampi penunangnya adalah sebagai berikut: Jibril nama peluru aku/ Mikail nama tembak aku/ Israfil nama bedil aku/ Israil nama tangan aku/ Barang kedak aku diikut olehmu/Aku memakai pakaian laki-laki/ Dengan berkat do’a Datuk Raja Lela.

Dalam terminologi dunia persenjataan modern, konsep atau gagasan dasar peluru berpetunang [peluru yang geraknya dikendalikan oleh oleh matra dan jampi] ini samalah seperti konsep peluru kendali. Jika memang demikian, apakah berlebihan bila mengatakan bahwa orang Melayu telah mengamalkan konsep dasar peluru kendali jauh sebelum orang Eropa menemukannya ratusan tahun kemudian.***

Karena Budi Jasad Tertawan

0

BUDI sungguh memegang peran yang sangat mustahak dalam kehidupan orang Melayu. Seseorang akan dihormati jika zahir dan batinnya bersalutkan kehalusan budi. Bersabit dengan itu, seseorang yang sanggup menghargai, mengenang, dan apatah lagi membalas budi orang lain akan mendapat kehormatan yang sama dalam pergaulan hidup. Hanya orang berbudilah yang mampu mengapresiasi sebarang budi dari orang lain.

Secara metaforis, orang Melayu mengiaskan daya tahan budi tak pernah ada habisnya. Jangankan masih di dalam kehidupan di dunia yang fana ini, bahkan setelah jasad tak berwujud pun keberadaan budi tak dapat dilenyapkan. Begitulah dahsyatnya daya ikat budi bagi manusia menurut penghayatan orang Melayu. Oleh sebab itu, nilai-nilai budi senantiasa ada di dalam setiap karya budaya bangsa Melayu, sama ada tersurat ataupun tersirat.

Nyiur gading puncak mahligai
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan tulang berkecai
Budi baik dikenang juga

Budi adalah intipati rohaniah yang bersemayam dalam jiwa dan hati-nurani seseorang manusia. Wujudnya tak terlihat karena berada dalam pikiran, perasaan, dan atau gagasan yang memang merupakan unsur dalaman, kecuali setelah ianya menjelma ke dalam unsur luaran seperti sifat, sikap, perkataan, kelakuan, watak, dan atau perangai. Hanya pada maujud yang konkret itulah dapat dilihat, diketahui, bahkan dinilai budi seseorang.

Budi, sesuai dengan makna asalnya dari bahasa Sansekerta, memiliki arti yang sangat dalam dan unsur kejiwaannya pun amat tinggi. Budi adalah bahagian jiwa yang memungkinkan manusia membuat kebijaksanaan. Dengan budi, manusia mampu membedakan kebenaran dengan kepalsuan sehingga menyerlahkan kebijaksanaan dan atau kearifan.

Walaupun konsep budi diadopsi dari bahasa Sanskerta, dalam budaya Melayu konsep itu mengalami ubah suai (modifikasi) yang mendasar. Hal itu disebabkan oleh pertembungan Melayu dengan Islam sehingga budaya Melayu pun berintikan nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, nilai-nilai Islam-lah yang menjadi rujukan utama berkaitan dengan konsep budi yang dipahami dan digunakan oleh orang Melayu sampai setakat ini.

Bukhari al-Jauhari menjelaskan perihal budi secara panjang lebar dalam karya beliau  yang sangat terkenal: Taj al-Salatin. Di antaranya beliau memerikan budi secara indah dan menarik.

“… budi itu, karena ada ia pohon segala kebenaran, dan aku betapa dapat aku tinggal jauh dari budi itu dan tiada menurut padanya, karena ia ada terhampir pada Allah Taala dari sekalian yang ada…. Adapun dalam kitab Sifatu’l-aql wa’l-aqil dikata wujud manusia itu seperti suatu negeri yang makmur, dan raja negeri itu budi itulah, dan menterinya itu musyawarah, dan pesuruhnya lidah, dan suratnya itu katanya. Maka daripada kelakuan pesuruh dan daripada peri katanya itu nyatalah peri rajanya dan kebajikan kerajaannya ….”

Berdasarkan perian itu, dapat disarikan ciri-ciri budi menurut Bukhari al-Jauhari, antara lain, ia adalah (1) entitas dalam diri manusia yang paling dekat dengan Allah, (2) asal-muasal segala kebenaran yang ditunjukkan Allah, (3) yang memancarkan cahaya (kebenaran) ke seluruh tubuh ibarat matahari bagi alam semesta, (4) yang mengarahkan manusia supaya tak sesat,       (5) dengan adanya boleh dibedakan baik dan buruk secara jelas, dan (6) yang membawa kesempurnaan bagi diri dan perbuatan manusia.

Bukhari al-Jauhari juga menguraikan tujuh tanda orang yang berbudi. Ketujuh tanda itu meliputi (1) berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya, menyukakan hatinya, dan memaafkan kesalahannya; (2) merendahkan diri kepada segala orang yang kurang martabatnya dari dirinya dan bermuliakan nyawanya kepada segala orang yang lebih martabatnya dari dirinya; (3) sangat berusaha dan menyegerakan segala pekerjaan dan perbuatan yang terpuji; (4) benci kepada segala pekerjaan yang keji dan orang yang jahat; (5) senantiasa menyebut nama Allah, meminta ampun atas segala kesalahan kepada-Nya, dan mengingat maut serta kubur; (6) mengatakan sesuatu sesuai dengan pengetahuan, kepastian, tempat, dan waktunya; dan (7) semata-mata bergantung kepada karunia Allah dalam mengatasi kesusahan dan menyakini bahwa Allah dapat memudahkan segala kesukaran sebab hal itu sangat mudah bagi Allah dan Dia amat mengasihani makhluk-Nya.

Raja Ali Haji rahimahullah pula menjelaskan konsep budi, antara lain, dalam syair yang ditempatkan beliau sebagai penjelasan lema (entri) budi di dalam karyanya Kitab Pengetahun Bahasa.Inilah dinukilkan sebait saja dari syair tersebut.

Orang berakal sangat mulia
Pakaian aulia dan anbia
Barang siapa mengikut dia
Itulah tanda orang bahagia

Berdasarkan syair itu, tanda-tanda budi dan atau orang berbudi itu, antara lain,  adalah (1) pakaian para ambia dan aulia, (2) selalu berbahagia, (3) merendahkan diri, (4) suka memberi, (5) tutur katanya lembut dan manis, (6) tak menyakiti hati orang lain, (7) tak melakukan perbuatan tercela, (8) mampu memimpin semua orang dengan baik, (9) cerdas, (10) tak suka kepada kekejaman, (11) tak suka merendahkan orang kecil, dan (12) tak suka mengejek orang lain.

Konsep budi yang dijelaskan kedua cendekiawan Melayu-Islam yang ternama itu jelas mengarah kepada ajaran Islam. Dalam pandangan mereka, budi merupakan maujud rohaniah yang berasal dari hati. Unsur rohaniah itulah yang harus dijaga supaya ianya sanggup mengendalikan semua fungsi jiwa dan unsur lahiriah manusia. Bahwa budi bersumber dari hati dapat juga dilihat dalam karya Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas (1846), Pasal yang Keempat, bait 1.

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun roboh

Dari bait Gurindam Dua Belas itu dapatlah diketahui bahwa fungsi hati yang dimaksudkan oleh Raja Ali Haji itu adalah juga fungsi budi. Budi-lah yang mengendalikan diri manusia. Jikalau budi baik, maka manusia yang memilikinya pun akan menjadi baik, begitu pula sebaliknya.

Fungsi hati tempat bersemayamnya budi itu semakin jelas terlihat dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, ada beberapa kata yang mengacu kepada makna ‘hati’ dalam bahasa kita, tetapi dengan kedalaman makna yang berlapis-lapis. Ada qalb yaitu dimensi hati yang paling luar, lebih dalam lagi ada fuâd yaitu dimensi hati yang lebih dalam dari qalb dan merujuk kepada akal yang mengandung potensi kecerdasan intelektual, ke dalam lagi ada pula tsaqâfah yaitu dimensi hati yang memiliki kecerdasan rohani, lebih dalam lagi ada lubb yang mengandungi semua kekuatan akal atau kecerdasan intelektual dan rohani, dan dimensi yang terdalam adalah sirr yang mengandungi rahasia kerohanian yang paling dalam (rahasia Allah).

Budi itu paling dekat dengan Allah menurut Bukhari al-Jauhari. Menurut Raja Ali Haji pula, budi adalah pakaian anbia dan aulia. Itu bermakna, sumber budi adalah lapisan hati yang terdalam, yang merupakan rahasia kerohanian yang terdalam dan sudah barang tentu pula yang tersuci serta tersakral yakni sirr dalam bahasa Arab. Dimensi kerohanian yang terdalam dari hati itulah yang paling mungkin menerima petunjuk langsung dari Allah tentang segala yang benar dan yang salah serta yang baik dan yang buruk. Sirr itulah yang menjelmakan kehalusan budi karena ianya bukan lagi dimensi fisis, melainkan metafisis.

Perkara itu dapat ditelusuri juga dalam wasiat Syaiyina Ali bin Abi Thalib r.a. “Maka wahai putraku, aku berwasiat kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya, hidupkan hatimu dengan selalu mengingat-Nya dan berpegang teguhlah pada tali-Nya (ketaatan dan penghambaan). Dan, ikatan apa yang dapat lebih dipercaya dan diandalkan dibandingkan dengan ikatan antara engkau dengan Tuhanmu (Allah) Jalla Jalaluhu, asal engkau bersungguh-sungguh dalam menjalinnya.

Maka hidupkan hatimu dengan nasihat (maw’izhah), matikan ia dengan kezuhudan, kuatkan ia dengan keyakinan, dan terangilah ia dengan hikmah. Dan, hinakan ia dengan mengingat kematian, buatlah ia mengakui kefanaan, jadikanlah ia tenteram dengan takut (kepada Allah), kenakan padanya pakaian kesabaran, pahamkan ia akan pelbagai malapetaka dunia dan peringatkanlah ia akan kekuasaan waktu serta getirkan perubahan, juga pergantian siang dan malam.”

Hati memiliki dua fungsi penting: pertama, untuk mengetahui, mengenali, dan memahami dan kedua, menjadi sumber pelbagai macam keinginan yang menggerakkan kegiatan manusia. Keinginan manusia juga terbagi atas dua bagian: (1) keinginan yang mengarah kehadirat Allah dan surga-Nya dan (2) keinginan yang mengekori syaitan dan neraka. Di hati itulah budi bersemayam. Dan, berdasarkan keinginan hati itulah, budi menentukan keberpihakannya: Allah dan surga atau syaitan dan neraka.

Pemilihan terhadap budi yang baik dan atau mulia tak semata-mata hasil dari pemikiran manusia. Ianya memang bersumber dari pedoman yang dianugerahkan oleh Allah.

“Dan, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan jika orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandungi) keselamatan,” (Q.S. Al-Furqan:63).

Atas dasar itulah keberpihakan pada kehalusan budi dalam hidup ini merupakan pilihan yang arif dan bijaksana. Itulah dia muara dari segala kebahagiaan yang dianugerahkan oleh Allah kepada manusia sebagai wujud dari Kemahapemurahan-Nya. Tak ada kebahagiaan yang seindah dan seagung keelokan dan kehalusan budi yang bersumber dari Allah Yang Maha Pemurah. Pasalnya, jaminan keselamatannya tak hanya sebatas memberi kebahagiaan di dunia yang fana ini, tetapi lebih jauh daripada itu, yakni kebahagiaan di akhirat yang pasti kekal dan abadinya. Selebihnya, terpulanglah kepada manusia: hendak percaya ataupun tidak. Yang pasti, pedomannya telah diberikan oleh Sang Khalik Yang Mahabaik.

Surga atau neraka memang menjadi pilihan yang terbuka. Maka, budilah yang menuntun manusia kepada pilihan yang arif dan bijaksana. Oleh sebab itu, tak heranlah jika budi setahun dapat menjadi segunung intan. Bahkan, ianya boleh menjadi hamparan luas berlian murni yang pasti menyelamatkan. Budi mulia sanggup menyertai manusia sampai ke alam baka. Maka, tak heranlah kita akan kenyataan: karena budi, jasad tertawan.***

Dua Taman Dari Lingga, Syair Taman Beradu & Hikayat Taman Permata

0

Daik-Lingga adalah mata rantai yang penting dalam tradisi cetak Riau-Lingga sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebuah percetakan milik kerajaan Lingga-Riau di Daik telah menghasilkan sejumlah karya cetak sejak 1886: dua diantaranya berjudul Syair Taman Beradu  dan Hikayat Taman Permata.

Buku Langka

            Judul lengkap Syair Taman Beradu adalah, Bahwa Ini Syair Taman Beradu Yakni Cermin Mata Bagi Segala Yang Awam Pelajaran Pada Perempuan-Perempuan, dengan judul imbuhan,  Di Dalamnya Beberapa Surah dan Bahas Boleh Menjadi Kesukaan Pada Yang Membaca Dia.

Syair yang penulisnya tidak dikenal  (anonymous) ini dicetak oleh Percetakan Kerajaan Lingga di Daik pada tahun 1889, pada zaman Sutan Abdulrahman Muazamsyah (1885-1911) bersemayam di Daik-Lingga.

Adapaun judul lengkap Hikayat Taman Permata adalah, Bahwa Ini Hikayat Taman Permata Yakni Majlis Bagi Segala Raja-Raja dan Orang Besar-Besar, dengan tambahan judul imbuhan, Maka Didalamnya Beberapa Cerita Yang Indah-Indah dan Beberapa Nasehat yang Berpaedah Adanya. Hikayat ini, dikarang oleh al-fakir al-hakir al-mata’raf bi-al-danbi wa-al-takshir Yaitu Tuan Haji Muhammad Yusuf ibni Puspa Teruna: dicetak oleh Percetakan Kerajaan Lingga pada 1889.

Kedua Hikayat dan Syair ini adalah kepustakaan langka (rare books) yang telah dicatat sebagai Early Malay Printed Books oleh Ian Proudfoot (1992). Menurut Proudfoot, hanya tersisa 3 eksemplaar Hikayat Taman Permata, dan kini berada dalam simpanan perpustakaan Oxford Institute of Social Anthropology, School of African and Oriental Studies, dan Cambridge University central Library di London.

Sebaliknya, diketahui hanya ada satu eksemplaar Syair Taman Beradu, dan kini berada dalam simpanan perpustakaan School of African and Oriental Studies, di London, Inggris. Saya beruntung mendapat “salinan digital” dua buku langka hasil cetakan Percetakan Kerajaan Lingga ini berkat budi baik saudara Jenni McCulum di Inggris.

Percetakan Kerajaan Lingga

            Syair Taman Beradu dan Hikayat Taman Permata adalah bukti otentik tentang peran besar yang telah dimainkan oleh Daik-Linga dalam sejarah intelektual Riau-Lingga. Banyak penjelasan dan kejelasan yang dapat disauk dari Hikayat dan Syair ini! Mengapa?

Syair dan Hikayat ini menyimpan rekam jejak sejarah percetakan typography atau percetakan menggunakan huruf timah, sebagai bagian dari mata rantai penting dalam sejarah tradisi tulis dan tradisi cetak Riau-Lingga yang idenya telah digagas oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat sejak tahun 1860-an

Singkatnya, realisasi ide besar Raja Ali Haji tentang pentingnya mesin cetak dan percetakan dalam sebuah tradisi tulis itu, terjadi di Daik-Lingga. Sekitar awal tahun 1860, sebuah percatekan tipografi milik kerajaan dibuka di Daik-Lingga.

Dalam perjalanan sejarahnya, percetakan ini sempat menggunakan beberapa nama resmi: Ofis Cap Kerajaan Lingga, Lingga & Strait Printing Office (1886), Ofis Cap Gabernemen Lingga (1887), dan Percetakan Kerajaan Lingga (1889)

Karya pertama yang dicetak oleh Percetakan Kerajaan di Daik-Lingga ini adalah karya Raja Ali Haji yang berjudul Thamarat al-Muhimmah (1867). Selain Syair Taman Beradu dan Hikayat Taman Permata, secara berturut-turut percetakan ini telah mencetak beberapa karya lainnya seperi, Tsamarat al Muhimmah karya Raja Ali Haji (1887). dua jilid Hikayat Napoleon Bonaparte (1887 dan 1888), Kisah Pelayan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1889), dan Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji (1891)

Menurut Jan Van der Putten dalam Printing in Riau Two Step Toward Modernity (1997:728), percetakan kerajaan di Daik-Lingga ini kemudian dipindahkan ke Pulau Penyengat, tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda Riau, pada awal 1890-an.

 Syair Taman Beradu

            Syair Taman Beradu adalah sebuah syair yang berisikan pedoman bagi kaum perempuan dalam menjalankan beberapa kaidah dan amaliah suai ajaran agama Islam: semacam ‘fikih perempuan’ yang memungkinkan dibaca kala senggang, atau menjelang terlelap (tidur atau beradu) di peraduan.

Halaman judul Hikayat Taman Permata koleksi SOAS-London (foto: dok. aswandi syahri)

Didalamnya tersurat untaian syair yang dikemas dalam bentuk dialog beberapa perempuan istri pandita yang bernama Siti Rabiyah, Siti Diyanah, Encik Jamilah istri Haji Abdullah, Encik Meta, dan Siti Afifah yang alim akan ilmu agama ketika mereka  berhimpun berkata-kata membahas akan ilmu dan amalnya serta.

Sepintas lalu, pola penulisan dan penyampaian dalam syair ini mengingatkan kita kepada beberapa syair Riau-Lingga lainnya seperti, Syair Burung karya Raja Hasan yang juga menggunakan dialog sejumlah burung untuk menjelaskan perkara-perkara agama, tasawuf, dan hukum fiqih dalam Islam.

Kandungan isi syair ini dibagi dalam lima bab. Dua bab diantaranya berisikan beberapa pasal, dan diakhiri dengan beberapa nasehat yang dikemas dalam untaian syair. Diawali dengan sembilan belas bait syair pengantar, lalu dilajutkan dengan Bab al-wudhuk  yang menjelaskan peri membersihkan anggota tubuh sebelum beribadah.

Bagian selanjutnya, adalah untaian syair tentang hukum mandi wajib yang diberi judul Mujib al-Asal. Lalu Bab al-Salat, yang berisikan Pasal Rukun Sembahyang, Pasal Membatalkan Sembahyang, Tarkah Sembahyang, Pasal Sembahyang Berjemaah, dan Pasal Kaparat.

Selepas untaian syair yang menjelaskan perkara zakat, Bab al-Zakat, isi syair ini dilajutkan dengan untaian syair Bab al-Tasawuf yang mengandungi pasal penjelasan perihal: Al-‘ain, al-Yadain, Farj, Rijlain, Qalbu, Makna Takbir, Makna Riya’, Makna Ujub, Makna Hasad, Kebinasaan Dengki Makna Syamathahih, Makna Ghadhab, Soal Zann, Makan hub-al-dunnia, Makna Tamak, Dawa’ al-Madhkur, Husn al-Khalk ala-Jamilah Adab al-Waladain, Adab al-Ikhwan, Adab al-Walid, Adab al-Mamluk, dan Adab al-Zaujah ala al-Zauj.

Hikayat Taman Permata

            Tidak seperti Taman Beradu yang digubah dalam bentuk puisi, maka Taman Permata dikemas dalam bentuk prosa, dan berisikan beberapa cerita atau hikayat dari tanah Arab; ikhwalnya beriskan kisah-kisah sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W hingga zaman raja-raja sepeninggal Beliau, dan kaya dengan pengajaran-pengajaran agama serta moral dalam Islam.

Halaman judul Hikayat Taman Permata koleksi SOAS-London (foto: dok. aswandi syahri)

Hanya saja, berbeda dengan Syair Taman Beradu, cerita-cerita dalam Hikayat Taman Permata ditujukan khusus sebagai ‘santapan rohani’ bagi para raja dan orang besar-besar. Fungsinya adalah ‘cermin’ tempat mengambil teladan sempena mengingatkan para raja dan orang besar-besar tentang kelemahan diri (manusia) sebagai mahluk Allah: Mengingatkan para raja dan orang besar-besar, serta semua manusia bahwa “…dunia ini tiadalah ia kekal, seperti orang tidur bermimpi dalam tidurnya…”

Selengkapnya, maksud dan tujuan penulisan Hikayat Taman Permata, dijelaskan pada ‘bagian pembuka’ hikayat tersebut sebagai berikut: “….supaya boleh raja-raja dan orang besar-besar mengambil teladan dan insaf akan dirinya. Barang siapa lalai dengan kebesaran dan kemuliaan didalam dunia ini, hendaklah ia ingat akan hari yang kemudian di dalam akhirat, dan kemulian akhirat itu yang amat kekal dengan sebenar-benarnya.”

Raja-raja yang dikisahkan dalam Hikayat Taman Permata, adalah raja-raja yang amat masyhur dengan kebesaran pada zamannya, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad S.A.W dan sesudahnya: raja-raja besar dan masyhur yang adil serta memelihara rakyat di dalam negerinya, yang memuliakan alim dan ulama, serta  fakir miskin.

‘Kumpulan’ hikayat dalam Taman Permata ditulis bersambung tanpa jeda. Diawali dengan kisah seorang Syekh bernama Abu Ali Daqaq Radhi-Allah-anh dengan Sultan Muhammad dan Sultan Ya’qub di negeri Khurasan, yakni sebuah kerajaan besar yang wilayahnya kekuasaannya mencakupi Afghanistan, Iran, dan Turkmenistan sekarang.***

Jikalau Hendak Nama Terbilang

0

NAMA memang menjadi perkara yang amat mustahak dalam tamadun kita. Oleh sebab itu, bangsa kita mengidealkan orang-orang dengan nama baik atau memiliki nama terbilang. Dalam perjalanan hidup di dunia ini, misi utama manusia adalah mengumpulkan bekal secukup-cukupnya untuk menuju tempat bermastautin yang abadi.

Alam akhirat pasti ditemui melalui peristiwa hidup setelah mati. Untuk itu, keterbilangan nama menjadi syarat mutlak yang mesti diperjuangkan oleh setiap manusia di dunia ini.

Sebagai manusia, di ujung pengembaraan dunia, kita wajib meninggalkan sesuatu di dunia yang fana ini untuk selanjutnya membawanya ke alam akhirat yang abadi. Sesuatu yang paling mustahak itu tiada lain nama yang terbilang.

Pasalnya, nama baik merupakan lambang (simbol) jati diri yang mesti diraih oleh setiap manusia karena sejalan dengan petunjuk Ilahi.

Tentu ada alasan bagi kesemuanya itu? Ternyata, memang ada dan, bahkan, banyak. Di antaranya, “Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (Q.S. At-Tiin:4).

Selanjutnya, “Dan, sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan,” (Q.S. Al-Isra’:70).

Nukilan firman Allah itu merupakan alasan mustahaknya manusia memperjuangkan nama baik. Allah memang menciptakan manusia sebagai makhluk yang terbaik, termulia, dan tersempurna di antara makhluk ciptaan-Nya. Atas dasar itu, manusia wajib memelihara segala kebaikan, kemuliaan, dan keistimewaan yang dianugerahkan oleh Allah itu agar keberadaannya sebagai makhluk terbaik dapat dipertahankan.

Jika tidak, tentulah turun derajatnya sehingga tak berbedalah dia dengan hewan sekalipun.

Berdasarkan petunjuk Allah itu, sangat tepat ketika Raja Ali Haji rahimahullah (selanjutnya disingkat RAH) memulai karya agungnya Gurindam Dua Belas (selanjutnya disingkat GDB) dengan persoalan nama. GDB Pasal yang Pertama, bait 1, langsung menyuratkan pernyataan ini.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Jelas sekali RAH sengaja mengusung tema utama nama baik untuk didedahkan di dalam keseluruhan GDB. Nama baik merupakan penyerlah jati diri yang diidealkan setiap bangsa yang beradab.

Selepas itu adalah perkara mewujudkannya. Jika hendak dibilangkan nama, manusia wajib mengenal agama (GDB, Pasal I, bait 1).

Inilah pedoman yang berkaitan dengan mengenal agama itu. “Sesungguhnya, (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku,” (Q.S. Al-Anbiya’:92). Ayat ini merupakan salah satu rujukan untuk menjelaskan amanat yang terkandung di dalam GDB Pasal yang Pertama, bait 1. Dengan pedoman-Nya itu, Allah menganjurkan manusia untuk memeluk dan mengikuti ajaran agama yang satu yakni agama Tauhid yang disediakan-Nya untuk keselamatan dan kesempurnaan jati diri manusia.

Apakah tanda mengenal agama? Pertama-tama, harus diperhatikan persoalan akidah. Dalam hal ini, yang terutama manusia harus mengenal Allah (GDB, Pasal I, bait 3).

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegah-Nya tiada ia menyalah

Manusia yang mengenal Allah ditandai dengan ikhlas melaksanakan suruhan (perintah) dan taat menjauhi tegahan (larangan)-Nya. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah itu dilaksanakannya dengan cara yang benar (tiada ia menyalah).

Lagi-lagi RAH memantapkan amanatnya melalui GDB dengan merujuk firman Allah. “Sesungguhnya, (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku,” (Q.S. Al-Mu’minuun:52).

Di samping menyeru manusia supaya menyembah-Nya, melalui firman-Nya itu, Allah mewajibkan manusia bertakwa kepada-Nya. Bertakwa kepada Allah tiada lain maksudnya melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. RAH menyebutnya, “Suruh dan tegah-Nya tiada ia menyalah.”

Persoalan akidah yang berkelindan dengan mengenal agama juga ditandai dengan mengenal diri (GDB, Pasal I, bait 4).

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal Tuhan Yang Bahari

 Mengenal diri bermakna menyadari kekurangan diri sebagai makhluk Allah walaupun manusia memang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. Namun, manusia tak dapat membandingkan dirinya dengan Allah Yang Mahasempurna. Karena banyaknya sisi kelemahan itulah, manusia harus senantiasa waspada dengan mengharapkan pertolongan dari Tuhan Yang Bahari atau Tuhan Yang Mahabesar.

Sangat banyak pedoman Allah yang disediakan oleh Allah untuk manusia untuk mengenal dirinya. Di antara petunjuk itu yang sejalan dengan GDB adalah ini, “Dan, Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tak mengetahui sesuatu apa pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur,” (Q.S. Al-Nahl:78).

Di antara firman Allah tentang penciptaan manusia yang tersurat di dalam Al-Quran adalah ayat 78 Surat Al-Nahl yang dikutip di atas. Ayat itu tak sekadar menjelaskan penciptaan manusia karena rahmat-Nya, tetapi manusia dianugerahkan tiga alat penting untuk memahami penciptaan dirinya oleh Allah. Dari makhluk yang sama sekali tak berdaya karena tak mengetahui sesuatu apa pun, manusia menjelma menjadi makhluk yang sempurna karena dianugerahkan pendengaran, penglihatan, dan yang paling utama hati.

Dengan unsur-unsur diri itulah seyogianya manusia memahami, menghayati, dan menyadari posisinya sebagai makhluk yang paling istimewa diciptakan oleh Allah. Pada gilirannya, tak ada ungkapan lain yang patut diucapkannya selain bersyukur (berterima kasih) kepada Allah. Tanda kesyukuran itu harus dibuktikan dengan melaksanakan semua perintah Allah dan sudah barang tentu menjauhi dan atau meninggalkan segala larangan-Nya.

Selanjutnya, manusia dapat dikatakan mengenal agama kalau dia mengenal dunia (GDB, Pasal I, bait 5). Beginilah tuturan RAH tentang perkara itu.

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terperdaya

Dari tuntunan yang diberikan oleh agama kita menjadi sadar sesadar-sadarnya bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya. Pengembaraan sementara di alam dunia menjadi penuh cabaran atau tantangan sehingga ketika manusia terleka lagi terlena, lari dari pedoman agama, dia boleh jadi lupa mengambil bekal untuk dibawa ke alam yang kekal, tempat yang menjanjikan kebahagiaan sejati bagi mereka yang sungguh-sungguh mengikuti pedoman Ilahi.

Soal karenah dunia yang memperdaya itu pun, GDB tak berganjak dari petunjuk Ilahi. Dalam hal ini, di antara firman Allah tentang dunia tersuratlah petunjuk ini.

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan yang bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan petani, kemudian tanam-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan, di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan, kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah kesenangan yang menipu,” (Q.S. Al-Hadid:20).

Begitu jelasnya penjelasan sekaligus tuntunan Allah tentang kehidupan dunia. Intinya, Allah memperingatkan manusia bahwa dunia ciptaan-Nya itu memang cenderung memberikan kesenangan yang menipu. Hanya manusia yang pandai memanfaat pendengaran, penglihatan, dan hatinya dengan benarlah yang dapat terhindar dari tipuan dunia.

Bagi mereka telah disediakan ampunan dan rida oleh Allah di akhirat kelak karena mereka benar-benar taat mengikuti petunjuk-Nya. Dengan demikian, sangat tepatlah GDB menyebutkan bahwa dunia ini hanyalah sekadar barang yang terperdaya karena dunia tak lebih dari sekadar permainan tipu-daya. Jika lalai, manusia akan terperdaya.

Masih dari sisi akidah, manusia dikatakan mengenal agama kalau dia mengenal akhirat (GDB, Pasal I, bait 6).

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Akhirat adalah alam kekal yang menjadi tujuan akhir pengembaraan manusia. Akhirat menyediakan kebahagiaan sejati bagi yang mengikuti petunjuk Ilahi, tetapi dapat menjadi penderitaan yang juga sejati bagi yang mengingkari. Akhirat jauh lebih bermanfaat daripada dunia, yang justeru lebih memberikan mudarat bagi mereka yang tak mengenal agama. Ringkasnya, bahagia dan nestapa akhirat yang abadi tak sebanding dengan dunia yang fana lagi memperdaya.

Lagi-lagi GDB menyematkan amanat yang selaras dengan kalam Ilahi. Inilah di antara rujukannya yang pasti, “Dan, tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui,” (Q.S. Al-Ankabuut:64).

Dunia, berdasarkan petunjuk Allah di atas, hanyalah semata-mata permainan dan senda-gurau. Pasalnya, dunia dengan segala suka-dukanya cuma sementara sifatnya. Oleh sebab itu, manusia yang serius memperjuangkan keterbilangan namanya tak boleh terjebak oleh permainan dunia.

Kebahagiaan di akhiratlah yang mesti sungguh-sungguh diperjuangkan walaupun kita tak dianjurkan untuk menyia-nyiakan dunia. Karena apa? Karena, kehidupan sesungguhnya adalah akhirat. Di tempat itulah berlangsungnya kehidupan yang abadi.

Karena ianya (akhirat) abadi, maka jika kebahagiaan yang diperoleh, maka bahagia itu pun abadi. Sebaliknya, jika penderitaan yang diderita, maka deraan itu juga abadi. Nah, tak terbantahkanlah bahwa dibandingkan akhirat, dunia ini hanyalah mudarat. Sama halnya dengan dibandingkan dunia, akhirat itu tak akan berhingga curahan nikmat Allah bagi sesiapa pun yang taat.

Manusia yang memiliki empat pengetahuan yang memadai tentang Allah, diri, dunia, dan akhirat itulah yang mampu mencapai makrifat (GDB, Pasal I, bait 2).

Barang siapa mengenal yang empat
Maka ia itulah orang yang makrifat

Meyakini, mengetahui, memahami, dan menghayati hakikat Allah, diri, dunia, dan akhirat akan mengantarkan manusia kepada penyerahan dan penghambaan diri secara menyeluruh kepada Allah sampai ke peringkat yang tertinggi (makrifat). Itulah bukti keyakinan diri yang tak tergoyahkan oleh segala godaan dunia yang fana.

Manusia yang mengetahui, memahami, menghayati, dan mengamalkan keempat perkara itu pulalah yang akan mampu mencapai kualitas takwa (GDB, Pasal 2, bait 1). Kualitas takwa memang menjadi dambaan setiap insan yang setia kepada Sang Pencipta.

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Dengan mengenal, memahami, dan menghayati keberadaan dan kedudukan Allah, diri, dunia, dan akhirat; manusia akan dengan ikhlas melaksanakan perintah Allah. Dengan ketaatan yang berlandaskan keyakinan dan pengetahuan yang benar dari sumber Yang Mahabenar, dia dengan suka rela menjauhi segala larangan-Nya.

Pasalnya, dia kini mengetahui bahwa yang diperintahkan atau yang dianjurkan itu memang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta semua yang dilarang itu memang mendatangkan kerugian kalau dilanggar.

“Dan, barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan,” (Q.S. An-Nuur:52).

Ayat yang dikutip di atas menjelaskan perihal orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah. Berdasarkan petunjuk Ilahi itu, mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Menurut GDB, orang yang mengenal makna takut itu mengenal Allah, mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal akhirat. Sudah barang tentu pengenalan itu sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Allah yang telah disebutkan terdahulu. Manusia dengan kualitas itulah yang akan memperoleh kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat, sesuai dengan jaminan dari Allah.

Setiap manusia pastilah mendambakan nama yang terbilang. Keterbilangan nama tak semata-mata berdasarkan ukuran manusia, yang cenderung alpa karena pelbagai kecenderungan nafsu yang menggoda. Akan tetapi, dasar keterbilangan yang sesungguhnya menurut tuntunan agama karena bersumber dari kalam Ilahi. GDB menyarankan bahwa hanya manusia yang memegang teguh agamalah—dalam arti melaksanakan ajaran agama tanpa berbelah bagi—yang namanya boleh terbilang, bukan dan tak akan pernah karena yang lain.

Ternyata, amanat GDB itu selaras dengan firman Allah. Berdasarkan kenyataan itu, nilai-nilai agama memang patut diikuti dan diimplementasikan dalam kehidupan ini agar manusia mampu mengusung nama yang terbilang. Tentu maknanya keterbilangan sejati, bukan keterbilangan yang menipu. Pasalnya, hanya keterbilangan sejati yang bermanfaat untuk kehidupan setelah meninggal dunia. Ingatlah, kehidupan kedua itu kekal adanya, sama ada bahagia ataupun derita.***

 

Buah Melake, Juadah Negeri Melayu

0
Sumber foto : http://www.azhan.co/resepi-kuih-buah-melaka-onde-onde-turun-temurun/

Buah Melake adalah juadah kue yang khas di negeri-negeri melayu, termasuk Kepulauan Riau.

Kue yang berbentuk bulat ini identik dengan warna hijau. Darimana gerangan warna hijau itu berasal? Air perasan daun pandan adalah jawabnya. Air perasan daun pandan seringkali menjadi pilihan karena bersifat alami, tanpa bahan pengawet yang biasa ditemui di pewarna buatan.

Kue kenyal ini dibuat dengan cara direbus. Setelah direbus dan berbentuk bulat, baru kemudian ditengahnya diisi gula merah.

Kemudian, setelah selesai diisi gula merah, Buah melake ini dibaluri parutan kelapa. Seiring berkembangnya zaman, penyajian buah melake tidak hanya parutan kelapa saja, bahkan parutan Keju menjadi pilihan.

Buah Melake rata-rata berasa manis. Diketahui, nama kue Buah Melake datangnya dari bentuk kue yang menyerupai buah pohon Melaka.

Saat bulan Ramadhan, Juadah ini sering menjadi hidangan buka puasa.

Belum pernah merasa Buah Melake ini? Jangan khawatir, kami sudah  menghimpun bagaimana cara pembuatan Kue Bulat manis ini, silahkan disimak.

Komposisi

  • 300 gr tepung ketan
  • 250 gr gula merah, potong-potong
  • Secukupnya air
  • Secukupnya garam
  • Secukupnya daun pandan, peras (opsional)
  • 250 gr kelapa parut

Cara Membuat Kue Basah Buah Melaka Tepung Ketan Manis

  1. Campurkan tepung ketan dengan garam dalam wadah adonan lalu siramkan air ke dalam wadah adonan berisi campuran tepung ketan dan garam tadi secara perlahan sambil diaduk merata. Perhatikan, air yang disiramkan pastikan tidak membuat adonan menjadi encer.
  2. Sisihkan terlebih dahulu adonan tepung ketan yang tadi dibuat dan kemudian beralih ke tahap berikutnya yaitu memarut daun pandan kemudian menambahkannya dengan air sedikit saja lalu peras. Tampung perasa air daun pandan untuk dicampurkan nanti dengan adonan tepung sebagai pewarna alami adonan.
  3. Campurkan adonan tepung ketan dengan air perasan daun pandan dan aduk merata. Diamkan adonan hingga teksturnya sedikit mengeras.
  4. Setelah itu, adonan dibentuk bulat dengan menggunakan tangan.
  5. Sisipkan potongan gula merah ke dalam bulatan adonan lalu rebus sampai mengembang dan matang.

Disarikan dari Sumber:

Tawarikh al-Sughra:Karya Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar

0

Bilik arsip dan perpustakaan kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat pada masa lalu sangat kaya dengan khazanah historiografi. Selain Tuhfat al-Nafis serta Silsilah Melayu dan Bugis yang sangat terkenal, didalamnya juga terdapat Tawarikh al-Sughra  dan Tawarikh al-Wustha, yang kini hanya dikenal oleh segelintir pakar sejarah dan manuskrip Melayu Riau-Lingga.

Kononnya, suatu ketika dulu Tawarikh al-Sughra ini pernahdinyatakanhilang dari almari arsip dan perpustakaan kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Untunglah  sebuah  salinannya masih tersimpan di Negeri Belanda, sehingga kita masih dapat membacanya. Apa saja isi Tawarikh al-Sughra?

Disalin di Pulau Boyan

            Manuskrip Tawarikh al-Sughra ini adalah sebuah manuskrip salinan yang dihimpunkan dalam sebuah kumpulan salinan manuskrip sejarah Kerajaan Riau-Lingga, berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja, koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, di Negeri Belanda.

Pada salah satu halaman dalam kumpulan salinan manuskrip Melayu asal Kepulauan Riau ini terdapat sebuah catatan yang menyebutkan bahwa ianya selesai disalin di Pulau Boyan dekat Pulau Batam pada hari Sabtu, 17 Sya’ban 1308 H, bersaman dengan 28 Maret 1891 M, oleh Qari Ibrahim bin al-Marhum Engku al-Hajj Muhammad Tayyib Koto Gedang, Minangkabau. Belum diperoleh data biografis lebih lanjut tentang Qari Ibrahim, namun diperkirakan ia adalah salah seorang ambtenaar pribumi yang bekerja di lingkungan kantor Contrileur Batam yang berkedudukan di Pulau Boyan, yang letaknya tak jauh dari Pulau Buluh.

Bagian awal salinan manuskrip Tawarikh al-Sughra dalam himpunan manuskrip Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja koleksi UB-Leiden. (foto: dok. Aswandi syahri)

Kumpulan salinan manuskrip ini disalin pada sebuah buku tulis bergaris (semacam buku untuk mecatat administrasi keuangan) dengan kover karton tebal dan bersampul kertas marmer warna coklat tua. Pada bagian depan kaver,  tertulis Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja sebagai judul kitab himpunan salinan manuskrip tersebut. Tulisan tangannya menggunakan huruh Arab-Melayu yang kemas dan mudah dibaca.

Isi ringkas himpunan salinan  manuskrip tersebut telah dideskripsikan oleh Dr. R. Rolvink melalui sebuah artikel yang dimuat dalam jurnal Archipel 20 (Rolvingk, 1980: 225-231), dan menjadi rujukan Dr. Teuku Iskandar ketika menyusun katalog mutakhir naskah Melayu, Minangkabau, dan Sumatra Selatan yang tersimpan di Negeri Belanda (Iskandar, 1999: 326-327).

Menurut Dr. Rolvink dan Dr. Teuku Iskandar, naskah yang diakuisisi (tepatnya dibeli) oleh Perpustakaan Universitas Leiden  dari Mr. Lange pada tahun 1932 ini, berisikankan salinan sepuluh buah manuskrip ( terdiri dari “manuskrip I” s.d. “manuskrip X” ).

Dalam himpunan salinan manuskrip ini, salinan manuskrip Tawarikh al-Sughra dideskripsikan sebegai manuskrip “nomor VI”. Baik Dr. Rolvink maupun Dr. Teuku Iskandar menjelaskan bahwa salinan manuskrip “nomor VI” dalam himpunan salinan manuksrip berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja ini sebagai satu manuskrip dengan satu satu pokok persoalan. Rolving menyebutnya sebagai A History of Indragiri. Sedangkan Teuku Iskadar, menggunakan kalimat pertama yang terdapat pada manuskrip  “nomor VI”  itu sebagai judulnya, yakni:  Ceritera yang didaftar daripada Ungku Busu Inderagiri.

Tampaknya, ada kekeliruan dalam upaya-upaya pembacaan terhadap kandungan isi manuskrip ini? Baik oleh Dr. Rolving maupun Dr. Teuku Iskandar. Mengapa? Karena dari hasil pembacaan ulang terhadap salinan manuskrip “nomor VI” ini, dapat dipastikan bahwa ia sesungguhnya mengandungi salinan dua manuskrip yang berbeda; yang salah satunya adalah bagian dari sebuah manuskrip berjudul Tawarikh al-Sughra yang pernah ada dalam arsip dan perpustakaan Kerajaan Riau-Lingga,  pernah dinyatakan hilang itu.

Karya Raja Jakfar

            ‘Jati diri’ sumber salinan manuskrip Tawarik al-Sughra ini (manuskrip aslinya)  tertara dalam kolofon (catatan petunjuk pada akhir sebuah manuskrip) yang terdapat pada halaman 185 dan 186 kumpulan salinan manuskrip berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja.

Berdasarkan kolofon itu, tampak bahwa manuskrip asli yang menjadi acuan atau master copy salinan manuskrip Tawarikh al-Sughra ditulis oleh Raja Jakfar ibni Raja Haji  atau  Yamtuan Muda Riau VI yang bersemayam di Pulau Penyengat. Ia menuliskannya berdasarkan “apa yang ia ketahui” dan “bahan-bahan tertulis yang ada dalam simpanannya”. Hal sangat  jelas terbaca pada baris-baris kalimat bagian awal dan bagian akhir kolofon yang saling berkelindan.

Pada bagian awal kolofon itu dinyatakan bahwa, “Syahdan maka segala hal yang tersebut itu, setengah daripadanya yang menceritakan yaitu hamba Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jakfar…”, yang kemudian dikunci dengan penjelasan, “…Maka, manakala melihat hamba akan segala surat-surat mereka itu telah bercerai-berai dan kebanyakan karam khat-khat mereka itu, maka berbangkitlah hatiku bahwa memperbuat akan yang demikian itu…”

Beberapa catatan kronologi peristiwa penting dalam sejarah Indragiri yang dicantumkan pada bagian akhir salinan manuskrip Tawarikh al-Sughra. (foto: dok. Aswandi syahri)

Mengapa Raja Jakfar menuliskan manuskrip sejarah ini? Jawabannya jelas tertera pada bagian-bagian yang menjadi teras utama dalam narasi  Tawarikh al-Wustha. Yamtuan Muda Raja Jakfar adalah aktor utama dalam salah satu fase dalam dalam rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah  Indragiri  yang menjadi teras utama dalam narasi Tawarikh al-Wustha.

Sebagai aktor yang terlibat dalam peristiwa, ketika menuliskannya sebegai sebuah “kisah” sejara”, Raja Jakfar tidak hanya bersandar pada kesaksiannya semata; ia juga melengkapinya dengan cerita-cerita yang  didengarnya dari saksi-saksi dan catatan sejarah yang ada di dalam istana Riau-Lingga pada zamannya.

Narasi dan informasi tertulis tersebut, antara lain diperolehnya dari ayah Raja Ali Haji yang menulis “manuskrip awl” Tuhfat al-Nafis, yakni Engku al-Haji Ahmad ibni al-Marhum Yang Dipertuan Muda Raja Haji; dari Engku Tengah atau Engku Puan Selangor ibni Yang Dipertuan Muda Raja Haji; dari Engku Puan Bongsu ibni Sultan Salehuddin Indragiri; dan dari ‘…surat-surat siarah [sejarah] perjalanan Raja Melayu…” yang kondisinya telah rusak  dan ‘…bercerai-berai…”.

Sejarah Kecil Indragiri

            Dalam kumpulan salinan manuskrip berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja ini, salinan manuskrip Tawarikh al-Sughra tertera pada halaman 161 hingga halaman 186.

Setelah diawali dengan beberapa baris do’a dan puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya, pada bagian awal nasakah ini, dijelaskan bahwa salinan manuskrip ini adalah “…suatu risalah yang dihubungkan akan dia pada akhir kitab yang bernama Tawarikh al-Sughra….”: atau sebuah salinan suatu bagian [akhir] dari sebuah manuskrip  yang berjudul Tawarikh al-Sughra atau ‘Sejarah Kecil’.

Di dalamnya, dijelaskan sejarah Indragiri dan kait-kelindannya sebagai bagian dari daerah takluk perintah Kerajaan Riau Lingga dan Daerah Takluknya dengan rentang temporal antara abad ke-18 hingga abad ke-19.

Diperkirakan, salinan bagian dari manuskrip Tawarikh al-Sughra ini erat kaitannya dengan naskah lain yang berjudul Mukhtasar Tawarikh al-Wustha, yang khusus menjelaskan kait-kelindan sejarah Raja-Raja Melayu dan Bugis dalam perjalanan sejarah kerajaan Riau-Lingga Johor dan Pahang serta daerah takluknya.

Teras utama narasi manuskrip ini diwali dengan pejelasan asal-usul negeri Indragiri yang pada mula dibuka oleh tiga orang besar Minangkabau (ditulis Minangkerbau) bernama: Tun Gagah, Tun Balai, dan Tun Gadis Kecil, yang hijrah dari pusar kerajaan Minangkabau karena perselisihan  politik dan adat.

Ketiganya adalah keturunan Patih Sebatang (Datuak Perpatiah nan Sabatang) yang dalam naskah ini disebut sebagai “…Orang Minangkerbau yang mengambil Sang Sepurba dari Palembang dirajakan di Minangkerbau….”

Alur narsinya terus begerak kepada kisah-kisah hubungan politik dan perselisihan ketiga orang besar itu dengan anak Raja Minangkabau di Pagaruyung kemudian datang menyerang “negeri baru mereka”; hubungan mereka dengan Melaka dan Majapahit; sehinggalah kepada kisah meminta raja dari Melaka (seperti diceritakan dalam kisah Rakit Kulim yang terkenal di Kuanta-Indragiri); serta kisah-kisah sejarah yang menyebabkan Indragiri menjadi daerah takluk Kerajaan Riau-Lingga.

Dalam kisah penaklukan Indragiri inilah dijelaskan bahwa Raja Haji Fisabillillah dan anaknya, Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar (penulis manuskrip Tawarikh Sughra ini) sebegai aktor utamanya.

Sebelum ditutup dengan sebuah kolofon yang isinya telah dijelaskan sebelumnya, teras utama narasi manuskrip ini diakhiri dengan catatan kronologis peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan Indragiri dan hubungannya dengan kerajaan Riau-Lingga; diawali sejak zaman Sultan Salehuddin hingga zaman Yamtuan Muda Riau Raja Jakfar yang menuliskannya.

Catatan kronologis peristiwa itu diawali dengan, “Bermula adapun Inderagiri diambil oleh Engku Kelana Raja Haji daripada tangan anak Raja Minangkerbau yaitu dalam tahun sanah 1169.”

Sembilan catatan krologis peritiwa itu diakhiri dengan penjelasan sebagai berikut: “Kemudian daripada itu Sultan sendiri juga memperbuat kontrak dengan Governement Holanda yang termaktub pada 11 Zulhijah sanah 1258 dan pada 13 hari bulan Januari 1843.”***

Gerbang Tuah Mahligai Marwah

0

Kewujudan jati diri sesuatu masyakat, kaum, dan atau bangsa, antara lain, dapat diamati dari tradisi mereka. Tradisi adalah penerusan peraturan, norma-norma, nilai-nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan yang baik di dalam masyarakat secara turun-temurun.

Sesuatu tradisi yang mampu bertahan dalam kurun waktu yang sangat lama membuktikannya mengandungi kearifan. Peran tradisi yang berkearifan dalam memajukan tamadun atau peradaban manusia setara dengan kecerdasan intelektual.

Dalam kehidupan terkini, sering secara sewenang-wenang dan tak adil, tradisi dikonotasikan kuno. Ianya cenderung dipertentangkan dengan konsep modern. Dalam hal ini, kemodernan dianggap simbol kemajuan.

Padahal, di dalam tradisi sangat banyak terkandung pemikiran maju, yang malah di dalam masyarakat modern sekalipun hal itu sering diabaikan sehingga mendatangkan malapetaka. Tradisi pantang mencemari dan merusaki laut, sungai, dan hutan, misalnya, merupakan simbol yang beramanatkan kewajiban manusia memelihara lingkungan hidup.

Alhasil, terpeliharalah kehidupan yang serasi, selaras, dan seimbang antara manusia dan lingkungan alam sekitar  sehingga mutu kehidupan terpelihara dengan baik.

Dalam masyarakat modern, bahkan, hanya dengan mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan atau politik, kekayaan alam itu disikat habis tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya bagi keberlangsungan hidup: manusia atau bukan manusia. Berdasarkan kenyataan itu, perilaku manakah yang tergolong primitif dan tertinggal, modern atau tradisikah?

Seyogianya modern memang berkonotasi kemajuan. Pasalnya, modernisasi dilaksanakan berdasarkan pemikiran yang positif  untuk memajukan tamadun manusia. Sayangnya, pemahaman, apatah lagi penerapan, konsep modern tak sejalan dengan makna dan semangat modern itu sendiri.

Akibatnya, dengan alasan mengejar kemodernan, justeru yang dilaksanakan perilaku primitif. Keprimitifan itulah sebetulnya yang bertentangan dengan kemodernan karena tak ada kreativitas di dalam keprimitifan itu. Sebaliknya, mempertahankan dan atau mengekalkan sesuatu yang baik dari kreativitas manusia itulah hakikat tradisi,  yakni tradisi yang baik.

Sebagai hasil pemikiran manusia, tradisi tak kesemuanya baik bagi kehidupan yang terus berubah. Kepercayaan terhadap kekuatan magis benda-benda, misalnya, tak hanya menyalahi akidah agama bagi umat Islam, tetapi juga dapat menjerumuskan manusia kepada perilaku lalai berusaha sebab mengharapkan bantuan daya magis benda yang diyakini itu.

Tradisi itu harus ditinggalkan atau direvisi mitosnya. Karena apa? Dampaknya akan merusak akidah umat yang agamanya mengharamkan kepercayaan itu dan menghambat kemajuan tamadun manusia.

Percaya terhadap daya magis pada keris, umpamanya, harus diubah suai (dimodifikasi) secara kreatif menjadi mencintai hasil kebudayaan sebagai penyerlah jati diri, benda seni yang menjadi simbol persatuan manusia yang mewarisi budaya berkeris, yang ada dalam hampir setiap masyarakat nusantara, dan lambang penghargaan kepada ketekunan, ketelitian, kerja keras, dan mutu kerja karena proses pembuatan keris dijiwai oleh semangat itu. Bagi pemimpin yang diberi kuasa oleh rakyat, keris menjadi lambang amanah yang dititipkan untuk dijalankan dengan arif,  bijaksana, dan adil sehingga rakyat dan negeri terpelihara dengan baik.

Keris menjadi simbol daya magis rakyat yang dipinjamkan kepada pemimpin untuk digunakan sesuai dengan matlamat yang sebenarnya dan tak boleh diselewengkan. Kesemuanya itu, dikurangi nilai negatifnya yang wajib dibuang, mendorong semangat kita untuk menjadi lebih baik sebagai manusia dan memperbaiki kemanusiaan secara terus-menerus.

Hasil pemikiran modern pun tak kurang cacatnya. Ambillah liberalisasi politik dan ekonomi sebagai contoh. Walau konon didasari nilai-nilai demokrasi dan keadilan, ternyata pemikiran itu hanya menguntungkan negara-negara dan bangsa-bangsa maju, yang membuat negara dan bangsa berkembang makin tertekan untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Alhasil, negara berkembang terus dicetak menjadi hinterland bagi negara maju.

Hal itu terjadi karena pada hakikatnya negara dan bangsa itu tak berangkat dari titik dan kondisi yang sama. Akibatnya, yang tertinggal makin tertinggal dan yang “maju” makin gila menguras dan menindas  mangsanya. Kekerasan hidup terjadi di mana-mana, bahkan di negara maju pun, terutama yang dialami oleh masyarakat menengah ke bawah.

Demokrasi dan keadilan hanya menjadi eufemisme bagi perilaku yang tak ubahnya lintah darat yang menghisap darah tamadun manusia. Pemikiran itu hanya menghasilkan raja-raja terbesar sampai terkecil dalam konteks politik dan ekonomi secara berjenjang  dari negara yang paling berkuasa dan kota terbesar sampai negara dan dusun terkecil di jagat raya ini.

Sistem itulah yang membenarkan kasta-kasta dalam tamadun manusia, yang konon ditentang para penganut dan pengagum demokrasi modern. Pemikiran jahat yang tersirat di sebalik manisnya istilah yang memang diciptakan untuk itulah sesungguhnya yang dipraktikkan dalam kenyataan.

Karena apa? Memang itulah matlamat sesungguhnya atau, lebih lunak, tujuan yang diselewengkan oleh penguasa yang dijiwai oleh semangat kebuasan primitif dan mendustakan kemanusiaan, bahkan ketuhanan. Dalam keadaan seperti itu, harapan dan kebanggaan apakah yang dapat diletakkan pada pemikiran modern? Jawabnya, tiada harapan!

Pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai tradisi nescaya dapat menghindarkan kita dari serbuan buas modernisasi yang menggila. Ambillah hikmah dari kebijakan dan kearifan Sultan Mahmud Riayat Syah mengamanahkan pengawalan regalia, lambang adat-istiadat, kekuasaan, marwah, dan keagungan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kepada Engku Puteri Raja Hamidah, istri Baginda. Amanah pengawalan tradisi kepada perempuan yang syahda itu merupakan simbol pelbagai kearifan yang menandakan ketinggian budi seorang pemimpin.

Istri harus menjadi pendamping terbaik suami, apatah lagi bagi kepemimpinannya. Senantiasa ada peran istri yang baik di belakang kejayaan seseorang suami. Itu makna pertama dari amanah pengawalan yang dititipkan. Karena pemimpin yang baik harus memiliki pendamping terbaik pula, maka istri yang baiklah yang harus memegang peran utama itu, sama ada di kala suka apatah lagi di kala duka.

Saling percaya suami-istri menjadi awal dan pengawal kejayaan  kepemimpinan. Suami tak menempatkan istrinya hanya sebagai penghias tahta belaka dan istri pun tak rela menggiring suaminya ke jurang penyelewengan kekuasaan.

Makna kedua, cinta-kasih kepemimpinan harus menjelma menjadi cinta-kasih kepada negara, negeri, dan rakyat. Penyatuan suami-istri itu pun merupakan lambang penyatuan bangsa (sang suami Melayu asli dan sang istri Melayu-Bugis). Dalam konteks pengawalan regalia, jika tak berada di tangan yang tepat, nasib negara dan bangsa akan tergadai.

Hanya manusia yang berjiwa wira dan negarawanlah yang mampu memegang amanah itu dengan segenap jiwa-raganya. Engku Puteri Raja Hamidah berhasil menjadikan dirinya ikon pengawal tradisi itu dengan cemerlang berkat kepercayaan, cinta, dan kasih suaminya, pemimpin negara, rakyat sekaliannya, dan marwah dirinya sebagai perempuan terbilang.

Dengan menerima amanah itu, seseorang harus sanggup menghadapi pelbagai tantangan atau cabaran karena tanggung jawabnya sangat besar. Engku Puteri sangat menyadari konsekuensi itu dan Baginda menempatkan marwah negara dan bangsanya di atas segala-galanya. Dan betul, dua kekuatan besar yang sedang dimabuk kuasa, Inggris dan Belanda, berkali-kali merayu dan menerornya dengan uang (rasuah, korupsi) dan karena kehabisan akal akhirnya menggunakan senjata. Apakah yang terjadi?

Perempuan mulia lagi perkasa itu tetap teguh, kokoh, tak berganjak. Lalu, dipekikkannya kepada kuasa asing itu, “Kalian tak akan mampu menjaga regalia ini karena ianya marwah bangsa dan negara kami. Hanya kamilah yang boleh dan tahu cara menjaganya dengan benar. Ia harus berada di tangan orang yang setia menggunakan segenap pikiran, hati, cinta-kasih, dan jiwa-raganya  untuk mengawalnya.

Jika kalian rampas dariku, ia tinggal menjadi lempengan emas yang tak ada lagi tuahnya, tetapi memang sangat bermakna bagi budaya kalian. Ingat dan camkanlah baik-baik, kalian tak pernah mampu merampas marwah kami!” Sebuah tembakan tepat dan telak yang menembus kepala dan jantung penceroboh dan membuat mereka terkapar membisu dari bidikan seorang perempuan perkasa pengawal tradisi. Engku Puteri menembakkan itu dengan peluru tamadun, yang seyogianya dipahami oleh setiap bangsa yang beradab.

Bayangkan, diperlukan sepasukan tentara yang bersenjata api lengkap hanya untuk menghadapi seorang perempuan yang sangat setia menjaga tradisi bangsanya. Betapakah  jika semua perempuan di negeri ini bersikap sama dengan Engku Puteri Raja Hamidah? Tentara dunia manakah yang sanggup mengalahkan mereka?  Angkara murka manakah dalam setiap generasi yang mampu melumpuhkan tamadun kita? Politik hedonisme manakah yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kehidupan bangsa kita yang telah dianggap baik dari generasi ke generasi? Tak ada! Itulah jawaban tegasnya. Alhasil, bersama suaminya Sultan Mahmud Riayat Syah dan Ayahndanya Raja Haji Fisabilillah, nama mereka sampai hari ini tetap dikenang.

Bangsa Asia lain di negara luar dapat dirujuk sebagai contoh yang representatif. Dalam hal ini, bangsa Jepang dan Korea bolehlah dirujuk. Mereka berhasil menjadi negara maju bukan semata-mata karena ketekunan mereka memburu sains dan teknologi, melainkan juga kesetiaan menjaga, merawat, membina, dan mengembangkan tradisi mereka.

Mereka bangga terhadap tradisi dan tamadun sendiri melebihi tamadun mana pun yang datang menerpa. Malaysia juga, walau pernah cukup lama nyaris hanya mengejar kemajuan sains dan teknologi, kemudian menyadari bahwa mereka tak boleh melupakan tradisi sebagai kearifan yang sangat diperlukan untuk menyelamatkan bangsa mereka.

Jika tak beraral, 2020 Malaysia pun akan menyusul menjadi negara modern yang madani dan maju. Artinya, bangsa-bangsa itu telah dan akan menjadi bangsa modern dengan pemikiran yang maju, tetapi bersamaan dengan itu tradisi mereka pun makin terawat dan berkembang.

Kesetiaan terhadap tradisi yang baik akan menjadikan sesuatu bangsa berkedudukan setara dengan bangsa mana pun di dunia ini. Mereka mampu bersaing dengan aman dan nyaman di dalam rumah besar tamadun sendiri.

Karena mereka juga membuka tingkap rumah besar peradaban itu bagi masuknya udara luar yang segar (nilai-nilai tamadun bangsa lain yang positif), rumah besar tamadun mereka itu akan semakin aman dan nyaman dalam menghadapi pelbagai tantangan atau cabaran yang nescaya pasti juga menerpa.

Namanya juga persaingan, pasti ada tantangannya. Akan tetapi, bangsa yang tak setia dan tak pandai merawat dan mengawal tradisinya akan terombang-ambing dihempas gelombang persaingan budaya global yang setiap saat siap menerkam bangsa-bangsa yang lemah maya (tak berdaya juang, khasnya dalam mengawal tradisi sendiri) sehingga kehilangan jati diri.

Dengan alasan itulah, dalam setiap generasi senantiasa ada orang yang mengabdikan dirinya sebagai penyelamat dan penyambung tradisi yang baik. Mereka berupaya sekuat dapat untuk menjadi penjaga gerbang tuah dan mahligai marwah.

Matlamatnya jelas untuk penyelamatan bangsa. Karena pilihan itu diambil, cabarannya pun silih berganti. Keyakinanlah yang membuat mereka bertahan karena bakti itu sesungguhnya amanah Allah. Amat merugilah orang-orang yang memalingkan nuraninya dari kebajikan yang terpuji itu.

Dalam konteks itu, patut disyukuri bahwa lembaga-lembaga seperti Yayasan Sagang dan Riau Pos Group di Pekanbaru, Riau, Yayasan Jembia Emas, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dan Dunia Melayu Dunia Islam, Melaka, Malaysia, sekadar menyebut beberapa contoh, telah bersedia memberikan anugerah kepada para pelaku seni-budaya sebagai bagian dari pembangunan tamadun. Menurut Raja Ali Haji rahimahullah dalam Tsamarat al-Muhimmah, padahal, perkara membalas jasa rakyat (memberi penghargaan) adalah tanggung jawab kerajaan (pemerintah) sebagai indikator pemerintah yang baik.

Karena setia mengawal tradisi, Yayasan Sagang, misalnya, telah menunaikan baktinya 23 tahun sampai dengan 2018 ini walaupun bukan milik pemerintah.  Yayasan binaan Riau Pos Group ini tergolong paling konsisten dan terlama memberikan Anugerah Sagang  pelbagai kategori kepada pelaku seni-budaya (perorangan dan lembaga) yang dinilai layak dan patut sesuai dengan baktinya.

Mulai 2016 langkah Yayasan Sagang itu diikuti pula oleh Yayasan Jembia Emas. Oleh sebab itu, upaya kedua yayasan itu dalam mengawal tradisi dan mengembangkan tamadun Melayu di Riau dan Kepulauan Riau sangat patut diapresiasi. Semoga niat baik dan kerja profesional kedua yayasan itu serta kerja keras orang-orang yang berada di depan dan di belakangnya menjadi budi baik yang akan dikenang orang berbilang zaman. Hanya mutu yang mengenal manikam.***

Baharu