Beranda blog

Pemimpin, Menanggung Pekerjaan Sakit dan Sukar

0

SESIAPA PUN pemimpinnya, dia dipilih dan diangkat dengan tugas utama menjaga negeri dan seluruh rakyat. Sebagai konsekuensinya, manusia yang menyediakan diri untuk menjadi pemimpin harus melaksanakan amanah itu dengan penuh tanggung jawab. Kualitas utama pemimpin memang diukur dari kemampuan dan kemauannya secara bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan yang diamanahkan kepadanya.

Perkara yang berhubung dengan tanggung jawab pemimpin, antara lain dapat kita baca dalam karya-karya Raja Ali Haji rahimahullah. Dalam Tsamarat al-Muhimmah, beliau mengungkapkan tanggung jawab utama pemimpin untuk menjaga negeri di bawah pemerintahan dan atau kepemimpinannya.

Ayuhai segala raja menteri

Serta pegawai kanan dan kiri

Hendaklah jaga ingatkan negeri

Perampok penyamun perompak pencuri

 

Melalui bait syairnya di atas, Raja Ali Haji mengingatkan para pemimpin untuk menjaga negeri yang dipimpinnya. Pasalnya, pemimpin dipilih dan diangkat memang dengan tugas utama untuk menjaga sekaligus memakmurkan negeri. Dalam hal penjagaan negeri, yang paling utama diperangi oleh pemimpin adalah perampok, penyamun, perompak, dan pencuri apa pun bentuk dan jenisnya, sama ada yang berasal dari dalam ataupun dari luar. Karena apa? Para penjahat itulah yang paling potensial merugikan negeri dan atau Negara sehingga kemakmuran negeri dan kesejahteraan rakyat menjadi terkendala.

Selain itu, para pemimpin juga harus mengingatkan seluruh anak negeri (rakyat sekaliannya) untuk melaksanakan tanggung jawab yang sama dalam menjaga negerinya. Pasalnya, negeri akan aman, makmur, dan sentosa jika pemimpin dan rakyat menaruh kepedulian yang sama dalam pembangunan negeri. Oleh sebab itu, pemimpin seyogianya memiliki kemampuan mengajak dan memotivasi rakyat untuk bersama-sama membangun negeri, termasuk penjagaan negeri. Atas dasar itu pulalah, pemimpin harus menampilkan kinerja yang unggul, baik, bersih, dan bebas dari segala prasangka negatif sehingga rakyat dengan senang hati bersedia berpartisipasi dalam pembangunan negeri.

 

Serta orang seribu laskar

Seratus hulubalang yang pendekar

Lain pula matros kapal yang besar

Menanggung pekerjaaan sakit dan sukar

 

Bait syair di atas berasal dari Syair Abdul Muluk. Bagian syair itu berkisah tentang para hulubalang dan laskar (tentara) yang mengiringi Sultan Abdul Muluk melakukan kunjungan muhibah ke negeri-negeri jiran. Para tentara itu melaksanakan tugas dan tanggung jawab mengawal pemimpin mereka (Sultan Abdul Muluk) dengan ikhlas, tanpa memikirkan kesulitan dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan. Di samping menyadari bahwa tugas itu memang menjadi tanggung jawab profesi sebagai tentara, mereka melaksanakan kesemuanya itu dengan bangga karena sang pemimpin sangat memperhatikan mereka.

Alhasil, pekerjaan seberat apa pun, karena dikerjakan secara bersama-sama dan saling menjaga, dapat dilaksanakan dengan baik dan memuaskan semua pihak. Pendek kata, kunci keberhasilan pekerjaan menjaga dan memakmurkan negeri terletak pada pemimpinnya. Jika pemimpin melaksanakan kebijakan kepemimpinan dengan penuh tanggung jawab, rakyat dan tentara pun akan mendukung pemimpinnya dengan berbuat sama, bahkan boleh jadi lebih dari yang diharapkan oleh pemimpinnya. Sebaliknya pula, jika rakyat acuh tak acuh terhadap pembangunan dan penjagaan negeri, hal itu berarti ada yang salah dalam kebijakan dan pelaksanaan pembangunan negeri yang dilakukan oleh pemimpin.

Tokoh-tokoh dalam Syair Abdul Muluk merupakan tokoh fiktif yang memang diciptakan oleh Raja Ali Haji untuk mengungkapkan pemikiran dan gagasan beliau, yang sudah barang tentu cemerlang, tentang pelbagai perkara dalam kehidupan ini, termasuk masalah kepemimpinan. Bahkan, Syair Abdul Muluk nyata-nyata berisikan pesan untuk melawan penjajah yang dikemas dalam bentuk syair naratif yang memesona. Kerajaan Barbari yang mula-mula merdeka sehingga menjelma menjadi kerajaan besar yang kuat, aman, makmur, dan sentosa, kemudian karena angkara murka yang dilakukan oleh pihak lain, pihak asing, dijajah oleh Kerajaan Hindustan, sumber angkara murka itu.

Dengan perjuangan gigih para pemimpinnya, justeru dipimpin oleh seorang perempuan, istri Sultan Abdul Muluk sendiri, Siti Rafiah yang mengubah dirinya dari perempuan jelita menjadi wira yang gagah perkasa lagi canggih taktik dan strategi perangnya. Dan, kepemimpinannya disokong sepenuhnya oleh rakyat dan tentara. Mereka berjuang tanpa mengenal rasa takut dan pantang menyerah. Setelah menempuh pelbagai suka-duka peperangan, akhirnya kemerdekaan Negeri Barbari dapat direbut kembali. Dalam watak tokoh-tokoh fiktif itu yang dipadu dengan alur cerita yang memikat, Raja Ali Haji mengemas nilai-nilai kepemimpinan, kejuangan, dan kepahlawanan dengan begitu sempurna dan sudah barang tentu menginspirasi kaum perjuangan untuk menghalau penjajah dari bumi nusantara.

Adalah fakta menarik pula bahwa Syair Abdul Muluk—karya sulung Raja Ali Haji yang selesai ditulis pada 1846—bebas sensor pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Hal itu membuktikan kepiawaian Raja Ali Haji mengemas siasat dan menggoreskan kalamnya. Dengan demikian, ketika beliau menulis, “… Dan, berapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, maka dengan segores kalam jadi tersarung,”  dibuktikan sendiri di dalam karya-karya beliau.

Selanjutnya, kata siapa karya-karya yang bertemakan perlawanan terhadap penjajah dipelopori oleh sastrawan Angkatan Balai Pustaka? Padahal, Raja Ali Haji telah menulisnya pada pertengahan abad ke-19, jauh sebelum ada Balai Pustaka. Agar lebih jelas, Negeri Barbari itu merupakan simbol Nusantara, sedangkan Negeri Hindustan adalah simbol penjajah, sangat mungkin Belanda. Menariknya lagi, motif penjajahannya adalah ekonomi dan perdagangan, maka pas-lah sudah adanya!

Jika Syair Abdul Muluk adalah karya fiktif, Tuhfat al-Nafis adalah karya sejarah yang nonfiktif. Dengan demikian, tokoh-tokohnya nyata dalam sejarah. Di dalam karya yang disebutkan terakhir itu pun, Raja Ali Haji (bersama ayahanda beliau Raja Ahmad Engku Haji Tua) menampilkan sisi tanggung jawab pemimpin. Berikut ini nukilan karya tersebut.

            “Alkisah maka tersebutlah perkataan Yang Dipertuan Muda Riau Opu Kelana Jaya Putera serta paduka adinda Opu Dahing Celak serta baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Maka baginda-baginda itu apabila sudahlah balik Raja Kecik ke Siak maka baginda serta Yang Dipertuan Muda muafakatlah pada membetulkan negeri dan segala Teluk rantau Johor yang telah dipulangkan oleh Raja Kecik, tatkala ia bersumpah di dalam masjid dahulu itu. Maka musyawarahlah baginda-baginda itu akan memeriksa segala jajahan itu. Maka bersiaplah Yang Dipertuan Muda dengan beberapa kelengkapannya yang akan dibawa itu,” (Matheson, Ed., 1982:104).

Kutipan di atas mencatatkan ikhtiar membangun kembali Kesultanan Riau-Johor setelah selesai berperang dengan Raja Kecik. Dalam hal ini, Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah dan Yang Dipertuan Muda Daeng Marewah mengambil tanggung jawab itu karena mereka adalah pemimpin negeri. Tak hanya ibukota negara yang diperhatikan, tetapi juga seluruh ceruk rantau wilayah kesultanan itu. Melalui musyawarah, kedua-dua Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda itu mufakat membangun kembali negeri yang porak-poranda karena perang, yang menimbulkan kerusakan fisik dan keadaan sosial-ekonominya. Begitulah pemimpin yang menyadari amanah yang dititipkan oleh Allah sanggup memikul tanggung jawab yang diserahkan kepadanya, bukan dengan retorika tanpa makna.

Satu lagi contoh pemimpin yang setia memikul tanggung jawab kepemimpinan disajikan oleh Raja Ali Haji. Kali ini dalam karya beliau Syair Gemala Mestika Alam. Siapa lagi tokoh itu kalau bukan Baginda Rasulullah SAW.

 

Tiada diindahkan Nabi Muhammad

Bersungguh-sungguh juga mengajar umat

Melepaskan daripada kafir zhalalat

Di negeri akhirat boleh selamat

 

Tiadalah mereka itu mengindahkan dia

Diperbuatnya juga perbuatan sia-sia

Menyakitkan nabi beberapa bahaya

Sampai dilontarnya nabi yang mulia

Rasulullah SAW telah berupaya menyelamatkan umatnya dari kecelakaan dunia dan azab akhirat dengan mengajarkan kebenaran kepada mereka. Bukannya pujian yang diterima, malah Baginda Rasul dilempari dan dicaci maki oleh orang-orang yang hatinya tertutup dari nilai-nilai kebenaran. Walaupun perilaku keji itu yang ditujukan kepada Baginda, Rasulullah tetap melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan karena Baginda Nabi menyadari bahwa amanah itu mutlak harus dilaksanakan, apa pun cobaan dan cabaran yang harus dihadapi.

Setiap pemimpin wajib melaksanakan tanggung jawabnya secara konsisten dan konsekuen. Ternyata, ketentuan itu memang perintah Allah. Di antara pedoman yang menyatakan hal itu adalah ini.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui,” (Q.S. Al-Anfaal:27).

Pedoman yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap pemimpin adalah agar mereka tak mengkhianati amanah (kepemimpinan) yang dititipkan. Dengan demikian, para pemimpin seyogianya menjalankan amanah kepemimpinan itu dengan penuh tanggung jawab. Jika amanah itu dikhianati, sanksi dari Allah akan mereka terima, baik di dunia maupun di akhirat. Atau, kalau tak di dunia, pasti di akhirat ketika tak lagi berguna segala siasat.

 Di antara sanksi bagi pemimpin yang menyimpang dari petunjuk Allah dijelaskan oleh Baginda Rasulullah SAW. Sabda Baginda Rasulullah itu seyogianya diperhatikan secara bersungguh-sungguh oleh setiap pemimpin.

Rasulullulah SAW bersabda, “Tiadalah seseorang hamba Allah yang diberi tugas untuk memimpin rakyat, kemudian dia mati, yang di hari kematiannya dia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah SAW mengharamkannya memasuki surga,” (H.R. Muttafaq’alaih).

Tanggung jawab kepemimpinan, ternyata tak selesai hanya di dunia saja. Sampai ke akhirat pun Allah akan meminta pertanggungjawaban sesiapa saja yang telah diamanahkan-Nya menjadi pemimpin. Sesiapa pun yang menyimpang tak akan pernah masuk surga. Itu janji sekaligus ancaman Allah. Oleh sebab itu, tak terbantahkanlah ketika Raja Ali Haji meneruskan amanat beliau dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 7.

 

Akhirat itu terlalu nyata

Kepada hati yang tidak buta

 

Menjadi pemimpin sememangnya baik. Namun, akan lebih baik lagi jika para pemimpin melaksanakan amanah kepemimpinan sesuai dengan petunjuk Allah dan rasul-Nya. Oleh sebab itu, sesiapa pun yang berniat baik dan berkemampuan baik, silalah berjuang untuk menjadi pemimpin. Asal, sanggup mengukur diri dan berkemampuan membawa negeri dan rakyat menjadi lebih baik. Jika tidak, janji dan ancaman Allah hendaklah dicamkan baik-baik. Pasalnya, padah bagi pemimpin yang memesongkan niat dan perbuatan kepemimpinan sungguh tak baik.

Konsekuensi kepemimpinan hanya dua: (1) gagal dan (2) berjaya. Yang pertama karena tak mampu dan lebih-lebih tak mau melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik. Yang kedua karena memang benar-benar mampu dan mau mengerahkan segala kemampuannya dengan ikhlas dan bertanggung jawab.***

 

Es Air Mata Pengantin, Minuman Khas Indragiri Hulu

0

Provinsi Riau memiliki berbagai kuliner yang unik. Tak hanya jenis makanan, tapi juga minuman. Di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), ada minuman yang unik. Namanya es air mata pengantin. Pada zaman dulu minuman ini biasa disajikan saat acara pernikahan maupun acara-acara lainnya yang mengandung unsur kebahagiaan. Sehingga seringkali orang menyebut minuman ini sebagai simbol dari air mata yang bahagia.

Es Air Mata Pengantin menyuguhkan cita rasa yang menyegarkan. Isinya tak jauh beda dengan sajian es campur pada umumnya. Di dalamnya terdapat berbagai macam agar-agar yang kenyal dan berwarna-warni. Selain itu, minuman ini juga dilengkapi dengan biji selasih, sirup, es batu. Sebagai pelengkap, biasanya ditambahkan blewah yang memiliki manfaat untuk kesehatan.

Tak perlu jauh-jauh ke Inhu atau menunggu pernikahan adat Riau untuk bisa menyantap segarnya es air mata pengantin. Anda bisa membuatnya di rumah dengan kreasi sendiri.
Minuman ini bisa dibilang mirip dengan es campur yang disajikan dengan beragam buah. Perpaduan cita rasa buah yang menggugah selera dicampur dengan manisnya agar-agar pastinya sangat menyegarkan di tenggorkan. Apalagi disajikan dingin dan disantap. Minuman ini tak hanya ada di Inhu, di kota lain di Riau, seperti Pekanbaru, es air mata pengantin juga dikenal.

Minuman Es Air Mata Pengantin masuk dalam nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) tahun 2018. Es dari negeri para Raja itu masuk dalam kategori minuman tradisional terpopuler. Pada ajang pariwisata terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2018, Es Air Mata Pengantin bersaing ketat dengan 9 minuman tradisional dari provinsi lain. Ada Aia Aka (Kota Bukittinggi), Bir Pletok (Jakarta Selatan), Es Brenebon (Provinsi Gorontalo), Es Kelacin (Provinsi Sulawesi Barat), Es Nangka Selasih (Provinsi Kalimantan Selatan), Es Sekemu (Provinsi Banten), Jus Pinang (Provinsi Jambi), Loloh Cemcem (Kabupateb Bangli), dan satu lagi Markisa Brastagi (Kabupaten Karo Sumatera Utara). **

Catatan Al-Azhar : Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu

0

1Mukaddimah

“Sastra Melayu” adalah saujana luas gejala-gejala dalam rentang waktu yang juga amat panjang untuk dibahas. Istilah ini mengandung pengertian “semua sastra berbahasa Melayu” yang pernah ada sepanjang sejarah (dari dulu hingga sekarang). Kini, penggunaan istilah “sastra” sudah melebar pula, mencakup semua seni bahasa (verbal arts), baik yang tertulis maupun lisan, sehingga ke dalam pengertian “semua sastra berbahasa Melayu” itu pun harus pula ditambahkan “dengan semua variasi dialeknya”. Dari segi ruang, “sastra Melayu” merangkum sastra (tertulis dan lisan) di sejumlah negara berbahasa Melayu, yaitu sebagian Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, sebagian Singapura, dan sebagian Thailand.

Oleh karena itu, saya hanya akan mengemukakan buah renungan dan pokok-pokok pemikiran tentang “sastra Melayu” dalam bentang ruang “Melayu Riau” sahaja. Istilah “Melayu Riau” yang digunakan di sini bukanlah dalam pengertian geo-politik dan administrasi pemerintahan, tetapi suatu entitas budaya yang dipersatukan antara lain oleh kebanggaan, kepedihan, dan sikap kesejarahan yang sama dari zaman ke zaman, di samping jalinan kekerabatan dan inter-penetrasi budaya yang sudah berlangsung sejak lama.

Kata “Riau” pada mulanya merujuk pada Sungai Carang di Pulau Bintan yang kawasannya pada abad ke-18 menjadi pusat kerajaan Johor, sehingga kemudian nama kerajaan itu dikenal juga dengan sebutan “Johor-Riau”. (Untuk penamaan Riau, lihat Viviene Wee, Melayu: The Hierarchies of Being in Riau, 1985). Pada tahun 1824, kolonial Inggris dan Belanda menandatangani Traktat London yang membelah dua wilayah luas kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga: Johor dan Pahang di bawah jajahan Inggris, dan Riau-Lingga di bawah jajahan Belanda. Sejak itu “Riau-Lingga” menjadi sebutan untuk lembaga politik kerajaan Melayu di Selat Melaka dan Laut Cina Selatan, sampai kerajaan ini dibubarkan Belanda pada tahun 1911. Di masa kemerdekaan, sejak tahun 1957, kata “Riau” menjadi nama provinsi, dengan wilayah mencakup bekas wilayah Kerajaan Riau-Lingga, Kerajaan Siak, dan beberapa kerajaan kecil di Sumatera timur. Pada tahun 2002, pemerintah Republik Indonesia memekarkan provinsi ini menjadi dua: Provinsi Riau (dengan wilayah intinya bekas Kerajaan Siak dan beberapa kerajaan di Sumatera timur), dan Provinsi Kepulauan Riau (dengan wilayah inti bekas Kerajaan Riau-Lingga). Kata “Riau” yang digunakan sebagai nama “Provinsi Riau” telah memutuskan hubungannya dengan asal-muasalnya. Pada latar inilah istilah “Sastra Melayu Riau” yang saya pakai memijakkan kedua kakinya di Riau daratan dan kepulauan yang kini telah menjadi dua provinsi ini.

Fokus renungan dan pembahasan mengenai “Sastra Melayu Riau” juga dirangsang oleh adanya anggapan, bahwa: (1) kawasan ini dianggap sebagai jantung alam Melayu; budayawan UU Hamidy (1983), misalnya, menyebutnya sebagai “pusat bahasa dan kebudayaan Melayu”; (2) dalam periode kesejarahan tertentu, kawasan ini merupakan episentrum dinamika sastra Melayu (di dalam pensejarahan sastra Melayu klasik, pengkaji Melayu R.O. Winstedt menyebutkan fenomena “sastra Melayu Riau” sebagai Riau School, aliran atau mazhab Riau); (3) dalam politik identitas kontemporer, “sastra Melayu Riau” merupakan inti dari apa yang disebut oleh pengkaji Melayu lainnya, Will Derks (1997), sebagai Malay identity work, yaitu korpus karya yang memancarkan ke-Melayu-an di tengah gelombang ke-Indonesia-an.

Kembali

Syair Perkawinan Anak Sultan Bintan

0

Hingga setakat ini, manuskrip Melayu milik Raffles ini dianggap  sebagai manuskrip  yang tertua diantara khazanah manuskrip syair dari Kepulauan Riau-Lingga yang telah dicantumkan dalam katalogus manuskrip Melayu koleksi sejumlah perpustakaan penting di dunia.

Informasi bibliografis tentang manuskrip ini untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Herman Neubronner van der Tuuk pada tahun 1866, dan dipublikasikan dalam dua jurnal yang terbit di Belanda dan Inggris. Versi bahasa Belandanya dimuat dalam artikel berjudul “Kort verslag van de Maleische handschriften toebehoorende aan de Royal Asiatic Society te Londen”, “Laporan singkat tentang manuskrip Melayu milik Royal Asiatic Society di London”, yang dipublikasikan dalam jurnal Bijdragen edisi 13, tahun 1866.

Sedangkan versi bahasa Inggrisnya, dengan judul “Short account of the Malay manuscripts belonging to Royal Asiatic Society”, dimuat dalam Journal Royal Asiatic Society, new serie, pada tahun yang sama.

Pemerian ringkas oleh van der Tuuk, dan kolofonnya, menjelaskan bahwa manuskrip syair ini asalnya adalah milik Sir Thomas Stamford Raffles, Verzameling van Raffles, (Gubernur Jendral Inggris yang mengubah Tumasik menjadi Singapura dan punya minat yang besar terhadap sejarah, bahasa, dan sastra Melayu serta Jawa) yang kini menjadi bagian dari koleksi besar manuskrip Melayu simpanan British Library, London, dengan nomor katalog Raffles Malay No. 49.

Publikasi ringkas van der Tuuk tentang manuskrip syair ini pada tahun 1866, menjadi rujukan utama ketika Petrus Voohoeve menyusun katalogus baru perpustakaan Royal Asiatic Society itu tahun 1963. Hal serupa juga dilakukan oleh sejarawan Mc. Ricklefs dan Petrus Voohoeve ketika menghimpun katalogus seluruh manuskrip asal Indonesia yang tersimpan di seluruh perpustakaan publik yang ada Inggris dalam sebuah buku katalogus berjudul, Indonesian Manuscripts in Great Britain A Catalogue Manuscripts in Indonesian Languages in British Public Collections, pada tahun 1977.

Saya beruntung, karena berhasil mendapatkan salinan digital naskah syair ini berkat bantun Dr. Farouk Yahya yang ketika itu sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan disertasi berjudul Magic and Divination: the Malay Tradition in Illustrated Manuscripts di School of Oriental and African Studies (SOAS) University of London pada tahun 2010.

***

Manusrip syair milik Thomas Stamford Raffles ini sebenarnya tak mempunyai judul. Bahkan van der Tuuk yang pertamakali memerikannya mengatakan bahwa judulnya tak pasti (onzeker). Ia hanya menjelas bahwa syair ini sebagai, Het bevat een gedicht op een koning van Bintan (?), de beschrijving der pracht van zijn paleis, van zijn tuin enz (Sebuah syair tentang seorang Raja Bintan (?) gambaran tentang istananya, tamannya dll).

Bahkan dalam catatan kakinya tentang syair ini, ia meragukan judul  Syair Karangan Bintan Basa Melayu atau Syair Karangan Banten yang tertera pada ‘halaman judul’ syair itu. Menurut Van der Tuuk, kedua judul itu adalah sebagai suatu perkiraan belaka (een gissing te zijn) dari pemilik awalnya atau lembaga yang kemudian menyimpannya.

Ricklefs dan Voohoeve (1977) yang memperbaiki infomasi bibliografis syair ini dalam katalogusnya, juga tidak mencantumkan judulnya. Mereka hanya menjelaskan syair ini sebagai A shair containing the celebration of a King Bintan. 

Judul syair  ini juga tidak disebutkan oleh pengarang atau penyalinnya dalam baris-baris baitnya, atau dalam kolofonnya. Oleh karena itu, mengacu kepada esensi narasinya,  dalam kutubkhnah ini saya menyebutnya sebagai “Syair Perkawinan Anak Sultan Bintan”.

Selanjutnya, dapat dipastikan bahwa manuskrip syair ini adalah sebuah salinan atas sebuah manuskrip yang aslinya hingga kini belum ditemukan. Menurut Ricklefs dan Voohoeve, manuskrip syair ini disalin diatas kertas berukuran  26,5 x 20,5 Cm dengan cap air (water mark) ‘J Whatman’: yakni kertas Inggris  yang berasal dari tahun 1808.

Berdasarkan informasi yang tertera pada kolofonnya, sedikit sebanyaknya dapat lah diketahui bahwa manuskrip syair ini selesai disalin (di Singapura), Kepada hijrat Nabi Salallah-‘alaihi-wassalam [pada] seribu dua ratus dua puluh anam tahun kepada tahun dal, dan kepada ampat hari bulan Safar dan harinya Khamis waktunya jam pukul satu, yang bersamaan dengan 28 Februari 1811.Dalapm kolofon itu juga disebutkan pemilik dan penyalinya: Yang ampunya Tuan Raffles adanya. Adapun yang menyurat atau menyalinnya adalah Muhamad Latif ibni Qadr Muhyi-al-din.

Manuskrip syair ini bukanlah manuskrip tunggal atau satu-satunya. Van der Tuuk pernah membuat sebuah salinan berdasarkan manuskrip ini, yang kemudian dihimpun-kan dalam kumpulan manuskrip berisikan catatan, salinan, dan kutipan bagian-bagian manuskrip Melayu milik van der Tuuk yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dengan nomor katalogus Cod. Or. 31260a-u.

***

Syair  “Syair Perkawinan Anak Sultan Bintan” ini adalah tipikal sebuah syair fiksi (bukan syair sejarah). Oleh karena itu jangan membayangkan bahwa isinya berkenaan dengan sejarah kerajaan Bintan seperti dikisahkan pada bagian-bagian awal Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin),  karya Tun Sri Lanang Datuk Bendahara Paduka Raja.

Narasinya mengisahkan perayaan atau pesta besar yang diiktiraf sebagai sebuah kerja dar-al-salam, sempena pernikahan anak Sultan Bintan dengan anak Sultan Johor, kononnya. Dikisahkan, bahwa kerja besar itu diawali dengan membangun sebuah balai tujuh ruang yang dikerjakan oleh Suku Kelumang Rakyat Kuala dan Suku Jemaja yang dipimpin oleh Tukang Hamid, Encik Halim, dan Tukang Hamat.

Istiadat pernikahan diraja itu diawali dengan prosesi mengarak sirih yang indah-indah gubahannya, pada taggal 6 Zulhijah. Perarakan itu diawali dengan barisan pembawa gubahan sirih mengindra persembahan Datuk Bendara. Selanjutnya, prosesi itu diikuti pula dengan arakan-arakan  sirih perdana agung persembahan Datuk Temenggung, sirih bersambar kuntum beraja persembahan Engku Paduka Maharaja, dan sirih sekain persembahan Engku Busu.

Latar ceritanya adalah tempat-tempat di Pulau Bintan, seperti Pulau Biram Dewa, Sungai Galang, dan lain sebagainya yang dilukiskan sebagai tempat yang mempunyai kekuatan ghaib. Selain itu, dikisahkan pula perihal keindahan istana Sultan Bintan, yang dihiasi dengan taman, dan tasik yang di tengahnya terdapat Pulau Biram Dewa yang ghaib; berhiaskan beringin dililit naga puspa, dan banyak patung orang-orangan.

Bait-bait syair ini bertaburkan kosa kata Melayu yang arkhais, dan kosa kata khas yang lazim digunakan (meminjam istilah Wilkinson dalam kamusnya yang sangat terkenal, 1959)  sebagai expressed poetically;  yakni kosa kata yang lazim digunakan untuk megungkapkan ekspresi puitik yang tinggi dalam karya-karya sastra Melayu lama. Contoh perkatan-perkatan yang mempunyai kadar expressed poetically tersebut antara lain adalah: paksi  (burung), ayapan (makanan), dicandak (ditarik), wanta (delima wanta: buah nyireh), rerada , dewal (dinding atau tembok keliling kota raja), lukluk (mutiara, batu mulia), mutia (mutiara), maya (seri, berseri), kemala (sejenis batu yang bercaya dan mempunyai hikmat), pelinggam (sejenis batu marmer), dan lain sebagainya.

Seluruh narasi syair ini diakhiri dengan bait-bait yang mengisahkan prosesi ijab kabul yang berlansung khidmat, diikuti dengan mengarak mempelai ke dalam istana, dilanjutkan dengan persembahan hidangan serta berpuluh-puluh semberap (tepak sirih diraja yang bentuknya persegi enam).

Selesailah putera duli  sempayan
Keluarlah hidangan berlakayan
Berpuluh semberab berdadayan
Memberi ayapan hulubalang sekalian

Sebagai sebuah manuskrip syair tertua dalam korpus syair Riau-Lingga yang diketahui hingga setakat ini, Virginia Matheson pernah menyenaraikan syair ini sebagai syair terawal dalam senarai dari Pulau Penyengat yang dimuatnya dalam artikel berjudul Question Arising From A Nineteenth Century Riau Syair (RIMA, Volume 17, 1983).***

Tradisi Perpuisian Kepulauan Riau (2-selesai)

0

Penyair Kepulauan Riau yang juga tergolong generasi pelopor puisi modern adalah Ibrahim Sattah. Seperti halnya Sutardji, Sattah juga mengembangkan puisi mantra ditambah dengan puisi permainan kanak-kanak, yang dikemas menjadi puisi modern. Kehadiran Sattah pun, termasuk cara pembacaan puisinya yang menghendak-hentak, telah menggemparkan jagat perpuisian ASEAN. Penyair yang karir awalnya polisi ini telah menerima banyak sekali pujian dari dalam dan luar negeri—dan tentu diikuti dengan anugerah yang diberikan kepadanya—karena kreativitasnya memperbaharui dunia perpuisian Indonesia. Selama karirnya sebagai penyair, Sattah telah menerbitkan buku puisi Dandandit (1975), Ibrahim (1980), Hai Ti (1981), dan Sejumlah Sajak untuk Hari Sastera ’83 (1983). Tentulah karya-karya beliau juga terbit di pelbagai media massa di Indonesia.

Baca Tulisan sebelumnya : Tradisi Perpuisian Kepulauan Riau (1)

Machzumi Dawood juga tergolong penyair pelopor puisi modern Kepulauan Riau. Beliau telah memulai kreativitas sebagai penyair sejak 1970-an. Beliau telah menerbitkan buku puisi terdiri atas Kumpulan Pertama (1974), Topeng Bulan (1976), dan Sajak untuk Dia (1996). Selain itu, beberapa buku kumpulan bersama penyair lain yaitu Karya Cipta Sastrawan Kepulauan Riau (1994), Sajak di Mimbar DPR (1998), Jazirah Luka dan Sajak-Sajak Lainnya (1999), Tersebab Senandung Laut Hitam (2002), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2006), Ka Te Pe (2007), dan Jalan Bersama 2 (2008). Sejumlah sajaknya dimuat pula di pelbagai media massa. Dari senarai karyanya, jelaslah bahwa Machzumi Dawood tergolong penyair yang sangat produktif dalam berkarya.

Machzumi Daud menutup senarai penyair pelopor perpuisian modern Kepulauan Riau. Deretan berikutnya bermunculanlah generasi penerus.

Dalam kelompok generasi penerus, tercatatlah nama Abdul Malik. Beliau lebih dikenal sebagai penulis karya ilmiah tentang sastra-budaya, esai sastra-budaya, dan cerpen. Malik telah mulai menulis sejak 1981 ketika kuliah di Universitas Riau, Pekanbaru. Dari 1985 sampai sekarang beliau telah menerbitkan 40 buku sastra dan budaya, baik sebagai penulis tunggal maupun karya bersama penulis lain, dalam dan luar negeri. Dalam bidang puisi, beliau telah menulis sejumlah sajak cinta sejak 1980-an yang sampai kini belum diterbitkannya karena dihasratkan untuk diterbitkan setelah pensiun sebagai dosen (profesi yang ditekuninya sekarang) atau sekurang-kurangnya setelah tak lagi menjabat sebagai pejabat struktural universitas sebagai kenang-kenangan di masa tua. Puisi-puisinya terbit dalam karya bersama Percakapan Lingua Franca (2010) dan sejumlah sajaknya terbit di pelbagai media massa yang terbit di Riau dan Kepulauan Riau. Beliau pun telah menerima pelbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Nama Tusiran Suseno juga sangat terkenal dalam deretan penulis Kepulauan Riau. Menariknya pula, dalam bidang puisi, beliau menerbitkan Mari Berpantun (2003) yang merupakan puisi tradisional dan merupakan satu-satunya karya tunggal beliau dalam bidang puisi. Dengan demikian, penyair yang berprofesi sebagai penyiar RRI ini tercatat sebagai orang kedua di Kepulauan Riau yang membukukan pantun setelah Haji Ibrahim. Puisi-puisi beliau yang lain dibukukan dalam kumpulan bersama penulis lain, yakni Karya Cipta Sastrawan Kepulauan Riau (1994), Sajak di Mimbar DPR (1998), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2006), dan Jalan Bersama 2 (2008).

Abdul Kadir Ibrahim (Akib) adalah penyair Kepulauan Riau yang juga birokrat. Sebagai penyair, puisi-puisi Akib cenderung berbeda dengan penyair lain dalam hal tipografinya. Kenyataan itu menyebabkan puisinya tampil beda di samping maknanya yang cenderung religius. Dalam karir kepenyairannya, Akib telah menerbitkan buku puisi 66 Menguak (1991), Negeri Airmata (2004), dan Menguak Negeri Airmata Hang Tuah (2010). Bersama penyair lain, Akib menerbitkan buku puisi Menggantang Warta Nasib (1992), Pancang-Pancang Universitas Riau (1994), Sagang ’96 (1996), 142 Penyair Menuju Bulan (2006), dan Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2006), dan Sergam (2018). Sejumlah puisinya juga terbit di pelbagai media massa. Akib termasuk sastrawan Kepulauan Riau yang produktif dan telah menerima pelbagai perhargaan.

Dalam senarai penyair Kepulauan Riau termaktublah nama Hoesnizar Hood. Selain menulis puisi, penyair yang juga wakil rakyat (anggota legislatif) ini, juga dikenal sebagai penulis esai yang sangat produktif. Penyair yang senantiasa mengangkat tema degradasi kebudayaan dan kritik sosial ini telah meneribitkan buku puisi Kalau: Tiga Racik Sajak (1997) dan Tarian Orang Lagoi (1999). Dalam pada itu, beliau juga menerbitkan karya bersama penyair lain, yakni Karya Cipta Sastrawan Kepulauan Riau (1994), Sajak di Mimbar DPR (1998), Jazirah Luka dan Sajak-Sajak Lainnya (1999), Tersebab Senandung Laut Hitam (2002), dan Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2006). Beliau pun menerbitkan karya bersama penyair negara jiran Makam (2000). Hoesnizar Hood, dalam karirnya sebagai seniman, telah menerima pelbagai penghargaan dan anugerah seni, yang memmbuktikan bahwa karya-karya diakui secara nasional.

Nama Bhinneka Surya Sam tak dapat dilupakan dalam daftar penyair Kepulauan Riau. Polisi yang menjadi penyair ini karya tunggal Selusuh (1997). Selain itu, Tok Mok—begitu beliau biasa disapa—juga menerbitkan karya bersama penulis lain: Tanda Mata (1996), Sajak di Mimbar DPR (1998), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2006), dan Ka Te Pe (2007).

Penyair Junewal Muchtar juga termasuk generasi penerus perpuisian modern Kepulauan Riau. Dari penyair ini Kepulauan Riau mewarisi buku-buku puisi Batu Api (1999), Perjalanan Darah ke Kota (2003), Sembilu Rindu (2003), dan Topeng Makyong (2008). Lawen—nama sapaannya—juga menerbitkan karya bersama Sajak di Mimbar DPR (1998), Jazirah Luka dan Sajak-Sajak Lainnya (1999), Tersebab Senandung Laut Hitam (2002), Rampai Melayu untuk Kepulauan Riau (2002), dan Jalan Bersama 2 (2008). Dari senarai karyanya itu, jelaslah bahwa Lawen tergolong penyair yang tunak dalam bidangnya.

Tarmizi atau lebih dikenal dengan nama Tarmizi Rumahitam juga penyair yang produktif. Karyanya telah terangkum dalam 23 antologi puisi. Buku puisinya yang telah terbit 4 th Rumahitam (2004). Dalam kumpulan bersama terdapat Puisi Rumpun Kita (2008), Akulah Musi (2009), Jalan Menikung ke Bukit Timan (2009), Sauk Seleko (2010), Segara Aksara (2010), Tuah Tarano Ate (2011), Puisi Menolak Korupsi 2 (2013), Rumah Peradaban (2014), dan Medan Sastra (2017). Tarmizi telah membacakan puisi-puisinya di dalam dan luar negeri, termasuk di Guimet (Museum Seni Asia) di Paris, Perancis.

Deretan penyair modern Kepulauan Riau juga mencatatkan nama penting ini. Beliau tiada lain Suryati A. Manan. Perempuan, yang PNS kemudian menjadi Walikota Tanjungpinang tiga periode, itu tergolong produktif menulis puisi. Sebagai penyair, beliau telah menerbitkan Melayukah Aku (2007), Perempuan Walikota (2008), dan Surat untuk Suami (2010). Selain itu, karya beliau terbit dalam kumpulan bersama: Jalan Bersama (2008), Perempuan dalam Makna (2009), dan Bual Kedai Kopi (2010). Kehadiran Suryatati dalam barisan penyair modern Kepulauan Riau telah membuat kreativitas perpuisian menjadi lebih bergairah lagi. Beliau pun telah menerima pelbagai penghargaan dalam baktinya sebagai penyair.

Kepulauan Riau juga memiliki penyair hebat Ramon Damora. Beliau telah menulis puisi sejak kuliah di IAIN Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru, Riau. Dalam bidang puisi, beliau menerbitkan Bulu Mata Susu (2007) dan Soneta Anai-Anai (2015). Selain itu, sajak-sajaknya terbit dalam 12 antologi bersama, antara lain, 60 Puisi Indonesia Terbaik (2009), Traversing/Merandai, kumpulan puisi dwibahasa: Indonesia-Inggris, (2009), Cinta, Kenangan, dan Hal-Hal yang Tak Selesai (2011), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), dan Yang Datang Setelah Khairil (2016). Dua sajaknya dalam Soneta Anai-Anai diterjemahkan dan dimuat dalam kumpulan puisi berbahasa Perancis Florilege (2017). Selain itu, puisi-puisinya juga terbit di pelbagai media massa di Indonesia. Ramon Damora juga telah meraih beberapa penghargaan dalam kiprahnya sebagai penyair.

Ada juga nama Harfan Min Kitabillah dalam senarai penyair modern Kepulauan Riau. Beliau telah meneribitkan buku puisi Teduh Bulan Maret (2016) dan Matahari Menggelinding dari Puncak Garis Miring (2017). Selain itu, ada kumpulan bersama Sergam (2018). Buku puisi Matahari Menggelinding dari Puncak Garis Miring karya penyair yang juga pengasuh Pesantren Mata Hati ini menjadi karya terpilih penerbitan buku puisi Dewan Kesenian Kepulauan Riau.

Nama Yuanda Isha juga memperkaya senarai penyair modern Kepulauan Riau. Buku puisinya yang telah terbit adalah Seribu Satu Puisi (2015), Perempuan Menulis (2017), dan Sejak Kau Ajari Aku Membaca (2017). Antologi bersamanya terdiri atas Etape Perjalanan Malam (2014), Nyanyian Asmara Perempuan Luka (2014), Menyemai Ingat Menuai Hormat (2015), Kidung Cinta Yuanita (2015), Blencong (2016), Akar Rumput (2017), Akar Cinta Tanah Air Udara Indonesia (2017), Masih Ada Matahari yang Akan Terbit (2017), Mengunyah Garam (2017), dan Sergam (2018). Selain itu, beliau menggagas buku Tembang Jiwa Kelana (2015), Aku dan Sebuah Cerita (2015), Serunai Bambu (2016), Nyanyian Roemah Kita, dan Rumah Doa (2017). Puisi-puisinya juga terbit di sejumlah media massa.

Selepas generasi penerus perpuisian modern itu, muncul pula generasi baru yang penuh harapan. Mereka terdiri atas Rendra Setyadiharja yang telah menerbitkan Gurindam Mutiara Hidup (2010), Fatih Muftih, Tak Melayu Hilang di Jawa (2011), Yoan Sutrisna Nugraha, Negeri Pantun (2011), Rudi Rendra, Teduh Bulan Maret (2014) dan Matahari Tergelincir dari Kaki Miring (2017), Barozi Alaika, Perempuan Mengingat Lelaki Melupa (2017), Al Mukhlis, Rahasia Bola Mata (2017), Irwanto Rawi Al Mudin dalam antologi bersama Sajak 64 Penyair (2011), Sayap-Sayap Bening (2012), Bebas Melata 3 Negara (2012), dan Sergam (2018), serta Jonni Pakkun dalam antologi bersama Sergam (2018). Puisi-puisi penyair muda itu pun terbit di sejumlah media massa.

Dengan memperhatikan senarai di atas, dapatlah dikatakan bahwa masa depan perpuisian Kepulauan Riau masih tetap cerah dan menjanjikan untuk meneruskan tradisi yang telah berlangsung berbilang abad. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan oleh generasi muda adalah harus dijaga konsistensi dalam berkarya dan kualitas karya. Pasalnya, dalam bidang kesusastraan, puisi khasnya, para sastrawan dan penyair Kepulauan Riau terdahulu senantiasa diperhitungkan dalam perkembangan kesusastraan nasional, bahkan regional. Padahal, orang-orang yang menjadi sastrawan Kepulauan Riau sejak dahulu profesinya beraneka ragam. Dalam bidang inilah ungkapan Hang Tuah masih dapat kita pertahankan, “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.” Semoga!***

Manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu

0

Legitimasi dan pesebatian pemerintahan Melayu dan Bugis di Kerajaan Riau-Lingga-Johor-dan Pahang yang bermula sejak dekade kedua abad ke-18 bukan semata-mata urusan politik. Legitimasi politiknya juga ditopang oleh sejumlah penulis sejarah atau historiografi. Salah satu diataranya adalah  Aturan Setia Bugis Dengan Melayu.

***

            Manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu yang diperbincangkan dalam  kutubkhanah untuk jantungmelayu.com kali ini adalah sebuah manuskrip salinan. Disalin di Pulau Penyengat  pada 2 Syakban 1265 Hijriah bersamaan dengan dengan 23 Juni 1849 Miladiah (pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Ri’ayatsyah di Daik-Lingga) berdasarkan sebuah manuskrip aslinya yang ditulis pada 10 Syafar 1234 H bersamaan dengan 8 Desember 1818 M.

Katalogus koleksi manuskrip Melayu dan Minangkabau milik Perpustakaan Universitas Leiden yang disusun oleh E.P. Wieringa (1998:29) menjelaskan bahwa manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu ini pada mulanya adalah milik perpustakaan Koninkelijke Academie, Akademi Kerajaan di kota Delf, yaitu sebuah lembaga pendidikan tinggi bagi calon aparat sipil Belanda yang akan ditugaskan Hindia Belanda  pada abad ke-19.

Pada 1 Juli 1864, sekolah calon ambtenaar Hindia Belanda itu ditutup. Lantas, sebagai upaya  penyelamatan ‘harta karun’ milik perpustakaan Academie tersebut’, seluruh koleksi manuskrip simpanannya (yang ditulis dalam bahasa Melayu, Jawa, Arab, dan Batak)  diserahkan pengelolaannya kepada Perpustakaan Universitas Leiden. Seratus sebilan puluh tujuh manuskrip tersbut kini didaftarkan dengan nomor urut katalogus mulai dari Cod.Or.1689 hingga Cod.Or.1886.

            Aturan Setia Bugis Dengan Melayu ditulis pada 35 muka surat menggunakan  kertas Eropa berukuran 34 x 20 Cm, dengan watermark (cap air) Pro Patria dan inisial huruf GIB. Seperti tertera pada margin atas sebelah kanan halaman judulnya,  manukrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu pada mulanya adalah milik pribadi F. W. Walbeehm yang tinggal di kota Delf.

Siapa F.W. Walbeehm? Tak ada penjelasan lebih jauh tentang jati dirinya. Namun  boleh jadi ianya berkait rapat dengan  J.H. Walbeehm pernah menjadi sekretaris dan Asisten Resident Riouw di Tanjungpinang pada abad 19.

Dalam korpus manuskrip Riau-Lingga, Aturan Setia Bugis Dengan Melayu bukanlah manuskrip tunggal. Ia mempunyai beberapa  ‘varian’ dengan judul yang bervariasi pula. Dalam koleksi perpustakaan Universitas Leiden, terdapat 2 lagi salinan ‘variannya’. Pertama adalah Cod. Or.1724 yang juga berjudul Aturan Setia Bugis Dengan Melayu. Kedua adalah bagian dari koleksi H.C. Klinkert yang berjudul Hikayat Riau dengan nomor katalogus KI.37.

Isi Aturan Setia Bugis Dengan Melayu ini juga serupa dengan manuskrip manuskrip Sejarah Raja-Raja Riau koleksi Von de Wall yang kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta (nomor katalogus W 62), dan serupa pula dengan dua manuskrip lain yang kini tersimpan di perpustakaan Shool of Oriental and African Studies (SOAS) dan Royal Asiatic Society (R.A.S) di London.

Halaman terakhir manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.

Historiografi Bugis Sentris

            Jika merujuk kepada hasil-hasil kajian Virginia Matheson tentang manuskrip-manuskrip bahan sumber sejarah yang dipergunakan oleh Raja Ali Haji dan ayahandnya, Raja Ahmad Engku Haji Tua, ketika menyelesaikan karya historiografi yang berjudul Tuhfat al-Nafis, maka kandungan isi manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu dan ‘variannya’ menunjuk kepada sebuah manuskrip lebih tua  yang disebut oleh Raja Ali Haji dan ayahnya dalam Tuhfat al-Nafis sebagai ‘Sejarah dan Siarah Pihak Riau’ atau ‘Karangan Engku Busu’.

Aturan Setia Bugis Dengan Melayu adalah salah satu prototype pensejarahahan atau historiografi istana Riau-Lingga-Johor dan Pahang yang sangat Bugis sentris dalam eksplanasi atau penjelasan sejarahnya. Narasinya menempatkan kuasa dan kedudukan  pihak Upu Bugis lima saudara sebagai sentrum  dalam semua peristiwa yang dikisahkan dan hal ikhwal persetiaan yang dibuhul dalam aliansi pemerintahan Bugis dan Melayu dalam Kerajaan Johor yang baru di Negeri Riau sejak dekade kedua abad 18 hingga abad 19.

Tampak sekali bahwasanya penulisan Aturan Setia Bugis Dengan Melayu  bertujuan untuk menjelaskan (membuat eksplanasi sejarah) tentang apa yang sebenarnya terjadi (menurut sudut pandang pihak Bugis) sepanjang perjalanan sejarah kerajaan Riau-Lingga-Johor dan Pahang, yang narasinya merujuk jauh ke belakang:  sejak zaman Sultan Abdul Jalil, Sultan Johor Lama, yang mangkat di Kuala Pahang serta peranan-peranan penting yang telah dimainkan oleh Yamtuan Muda Bugis di Riau sejak dekade pertama abad ke-18.

Gambaran subjektifitas dalam sebuah penulisan ‘sejarah istana’ yang Bugis sentris itu terlihat jelas pada utaian kalimat-kalimat pembuka manuskrip  Aturan Setia Bugis Dengan Melayu, yang berperan sebagai pengingat dan penegas pentingnya hubungan sejarah antara Bugis dan Melayu sebagaimana tersirat dari  judulnya, Aturan Setia Bugis Dengan Melayu.

Kalimat-kalimat pembuka manuskrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu, antara lain mengatakan: “Fasal ini pada menyatakan daripada jalan akan memberi ingatan dan fikiran. Mudah-mudahan mengambil paham di dalam hati supaya mudah mimikirkan tabiat orang salah dan orang yang benar…Dengan takdir Allah Ta’ala, kita ini seumpama orang yang berjalan. Apabila sesat di hujung kalan, maka hendaklah kembali mencari ke pangkal jalan. Jika tiada dapat ke pangkal jalan, hingga pertengahan jalan hendaklah juga dicari jalannya yang betul supaya jangan jauh amat sesatnya...”

Secara historiografis, Aturan Setia Bugis Dengan Melayu ditulis sebagai salah upaya untuk membangun legalitas historis raja-raja Bugis dalam struktur baru sebuah pemerintah kerajaan Melayu  Johor (cikal bakan Riau-Lingga-Johor-Pahang), yang tergambarkan dalam seluruh narasinya.

Sebagai bagian dari usaha membangun legalitas-historis itu, maka dalam narasi Aturan Setia Bugis Dengan Melayu ini juga dicantumkan fakta-fakta sejarah tentang pelantikan beberapa Yamtuan Muda dari kalangan Bugis, dan beberapa  perjanjian persetian atau sumpah setia antara Raja Melayu dan Raja Bugis yang pernah dizahirkan.

Sebagai ilustrasi, dalam Aturan Setia Bugis Dengan Melayu dicantumkan fakta sejarah sebagai berikut: “…Kepada Hijrah seribu seratus empat puluh satu tahun dan tahun Zai, maka digantikan oleh Yang Dipertuan saudara Baginda yang bernama Daeng Pali (Daeng Celak) itu jadi Raja Muda, maka bergelar Sultan Alaudin juga. Maka dibaharui juga sumpah  setia itu oleh Duli Yang Dipertuan Muda itu dengan Datuk Bendahara dengan Engku Busu, dan segala orang besar-besar…bersumpah setia mufakat tiadalah berubah-ubah…”.

Selain itu, dan ini yang mustahak, ditegaskan pula  bahwasanya Sultan Sulaiman, Sultan Melayu (pertama) bagia Kerajaan Johor yang baru di Negeri Riau,  naik tahta ditabalkan oleh orang Bugis pada tahun 1722. Dan berkenaan dengan hal ini, manukrip Aturan Setia Bugis Dengan Melayu menjelaskannya sebegai berikut: ”…Hijrah Nabi S.A.W. seribu seratus tiga, tahun Ba, dan kepada hari Khamis, maka…tatkala masa itulah Raja Sulaiman itu ditabalkan oleh Kelana Jaya Putera (Daeng Marewah) serta Daeng Menampok. Maka bergelar Sultan Sulaiman diatas tahta kerajaan di Negeri Johor dan Pahang (di Riau)”.***

Tradisi Perpuisian Kepulauan Riau (1)

1

KEPULAUAN RIAU memang ditakdirkan menjadi kawasan persebaran puisi di nusantara. Sama dengan wilayah lain di nusantara, genre puisi awal yang dikenal di Kepulauan Riau adalah mantra.

Setelah itu berkembang pula jenis puisi lama yang khas Melayu—hanya ada di kawasan yang berbudaya Melayu di nusantara ini—yakni pantun. Memang, di kawasan yang tak berbudaya Melayu ada juga puisi lama yang mirip pantun, tetapi tetaplah jenis puisi itu bukan pantun. Pantun sejatinya puisi khas Melayu, yang kemudian berkembang juga ke kawasan-kawasan bukan Melayu karena begitu populernya sehingga disukai juga oleh masyarakat non-Melayu, bahkan membuat bangsa asing terkagum-kagum akan keunikan dan keindahannya.

Mantra dan pantun merupakan genre sastra lisan dan anonim. Walaupun begitu,  kemudian, ada juga pantun yang ditulis dan penulisnya membubuhkan namanya pada karyanya itu. Tatkala mantra dan terutama pantun terus berkembang, muncul pula puisi tulis khas Melayu di Kepulauan Riau. Puisi tradisi tulis yang awal itu adalah syair, gurindam, dan gabungan pantun-syair. Jenis puisi yang disebut terakhir itu bersajak ab-ab dan empat baris sebait (seperti pantun), tetapi tak bersampiran/pembayang atau keempat barisnya merupakan isi (mirip syair).

Dalam tradisi puisi tulis, karya-karya itu tak lagi anonim.  Berhubung dengan itu, tercatatlah sejumlah penyair yang telah, sedang, dan terus menunaikan baktinya dalam perkembangan perpuisian di Kepulauan Riau. Oleh sebab itu, perpuisian, khasnya, dan kesusastraan, umumnya, menjadi tradisi di daerah ini, turun-temurun dan silih berganti, walaupun ianya mengalami pasang-surut juga secara kuantitas dan kualitas. Atas dasar konsistensi itulah surat kabar Koran Jakarta menggelari (menjuluki) Kepulauan Riau, umumnya, dan Tanjungpinang, khasnya, sebagai Kota Puisi di Indonesia.

Puisi tulis mulai bertapak di Kepulauan Riau sejak zaman Kesultanan Riau-Lingga, yakni pada 1820. Para penulis yang tergolong pelopor atau perintis perpuisian tulis tradisional itu sekurang-kurang ada tiga orang. Pertama, Bilal Abu atau nama lainnya Lebai Abu yang menulis (1) Syair Siti Zawiyah (1820) dan (2) Syair Haris Fadhilah (1830); kedua, Raja Ahmad Engku Haji Tua yang menghasilkan tiga buku puisi (1) Syair Engku Puteri (1831), (2) Syair Raksi (1841), dan (3) Syair Perang Johor (1843/44); ketiga, Daeng Wuh yang menulis satu buku puisi, yakni Syair Sultan Yahya (1840).

Setelah generasi pelopor itu, muncullah generasi pengokoh jati diri perpuisian Kepulauan Riau. Mereka terdiri atas Sang Penulis Serbabisa dan prolifik, Raja Ali Haji dan teman-teman seangkatannya.

Raja Ali Haji yang tiada lain putra Raja Ahmad Engku Haji Tua itu, di antara 20 karyanya, menulis sekurang-kurangnya 8 buku puisi. Karya beliau meliputi (1) Syair Abdul Muluk (1845), (2) Gurindam Dua Belas (1846/47), (3) Syair Warnasarie (1853), (4) Ikat-Ikatan Dua Belas Puji, (5) Syair Hukum Nikah atau Suluh Pegawai (1866), (6) Syair Siti Shianah (1866), (7) Syair Awai (1868/69), dan (8) Syair Sinar Gemala Mestika Alam (1895). Raja Ali Haji telah menambahkan khazanah puisi Kepulauan Riau, selain syair naratif, dengan gurindam dan paduan pantun dan syair (dalam Ikat-Ikatan Dua Belas Puji).

Penyair seangkatan Raja Ali Haji adalah Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda. Beliau telah menghasil 3 karya dalam bidang puisi: (1) Syair Raja Damsyik (1864), (2) Syair Sidi Ibrahim bin Khasib (1865), dan (3) Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu. Dengan karyanya yang tertera pada (3) itu, jelaslah bahwa Haji Ibrahim menjadi pelopor pantun menjadi sastra tulis, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai puisi lisan.

Penulis lainnya adalah Raja Saliha. Beliau adalah saudara kandung Raja Ali Haji. Penulis perempuan ini sekurang-kurangnya menulis satu buku puisi, yakni Syair Abdul Muluk (1845), yang ditulisnya bersama saudaranya Raja Ali Haji.

Saudara Raja Ali Haji yang juga menjadi penulis adalah Raja Haji Daud. Profesi sehari-harinya adalah tabib atau dokter kerajaan. Sebagai penyair, beliau menulis satu buku puisi, yakni Syair Peperangan Syarif Hasyim atau Syair Siarah Said Qasim (1870).

Seangkatan dengan Raja Ali Haji ada dua orang Yang Dipertuan Muda (YDM, jabatan setingkat di bawah Sultan Riau-Lingga) yang membukukan nama mereka juga sebagai penyair. Pertama, Raja Haji Ali (YDM VIII Kesultanan Riau-Lingga), yang tiada lain adalah juga saudara sepupu Raja Ali Haji. Baginda menulis satu buku puisi, yakni Syair Nasihat (1857). Kedua, Raja Abdullah (YDM IX Kesultanan Riau-Lingga) dan adinda Raja Haji Ali. Beliau menulis (1) Syair Madi (1848), (2) Syair Kahar Masyhur, (3) Syair Syarkan (1857), dan (4) Syair Encik Dosman.

Senarai di atas itulah para pengokoh jati diri perpuisian Kepulauan Riau. Di belakang mereka ada pula generasi penerus. Barisan ini terdiri atas Encik Kamariah yang menulis satu buku puisi Syair Sultan Mahmud (1855), Raja Safiah binti Raja Ali Haji menulis Syair Kumbang Mengindera (1855), Raja Hasan ibni Raja Ali Haji menulis Syair Burung (1859), dan Raja Kalsum binti Raja Ali Haji menulis Syair Saudagar Bodoh (1861).

Masih dalam senarai generasi penerus. Termaktublah nama Raja Haji Muhammad Tahir ibni Raja Abdullah (YDM IX Riau-Lingga). Hakim Agung Kesultanan itu juga penyair dan menghasilkan Syair Pintu Hantu. Seangkatan dengan beliau, Haji Muhammad Yusuf Puspa Teruna menulis Taman Permata (1889).

Penyair ini adalah tabib atau dokter Kesultanan Riau-Lingga dan tercatat sebagai dokter pertama Kepulauan Riau yang berhasil melakukan tindakan medis operasi. Nama beliau pulalah yang kita tabalkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Provinsi Kepulauan Riau. Beliau adalah Raja Haji Ahmad Tabib ibni Raja Hasan (cucu Raja Ali Haji). Sebagai penyair beliau tergolong cukup produktif dengan menghasilkan 5 buku puisi: (1) Syair Nasihat Pengajaran Memelihara Diri, (2) Syair Raksi Macam Baru, (3) Syair Tuntutan Kelakuan, (4) Syair Dalail al-Ihsan, dan (5) Syair Perkawinan di Pulau Penyengat.

Generasi penerus yang lain adalah Khalid Hitam atau nama sebenarnya Raja Khalid ibni Raja Hasan ibni Raja Ali Haji. Beliau berprofesi sebagai politisi. Sebagai penyair, beliau menulis 2 buku puisi: (1) Syair Perjalanan Sultan Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau Pergi ke Singapura (1890) dan (2) Syair Peri Keindahan Istana Sultan Johor yang Amat Elok (1890). Penyair ini wafat di Jepang dalam upaya diplomatik melawan penjajah Belanda.

Saudara Khalid Hitam adalah Abu Muhammad Adnan atau nama sebenarnya Raja Abdullah ibni Raja Hasan. Beliau juga adalah Hakim Agung Kesultanan. Sebagai penyair, beliau menghasilkan 3 karya: (1) Syair Seribu Satu Hari (1919), (2) Syair Syahinsyah (1922), dan (3) Ghayat al-Muna. Istri beliau, Salamah binti Ambar, juga penyair perempuan yang menulis 2 buku puisi: (1) Nilam Permata dan (2) Syair Nasihat untuk Penjagaan Anggota Tubuh.

Setelah generasi penerus itu, muncullah generasi pembaharu dalam hal sikap dan tema karya. Akan tetapi, jenis karya yang digunakan tetaplah hikayat (prosa) dan syair (puisi). Tepatnya, kesusastraan Kepulauan Riau masa ini memasuki generasi transisi tradisional-modern. Penulis yang termaktub dalam kelompok ini adalah sastrawan yang juga penyair Aisyah Sulaiman atau nama lengkapnya Raja Aisyah binti Raja Sulaiman ibni Raja Ali Haji. Penyair yang begitu bersemangat memperjuangkan emansipasi perempuan ini menghasilkan 4 buku, dua di antaranya adalah puisi, yakni (1) Syair Khadamuddin (1926) dan (2) Syair Seligi Tajam Bertimbal. Karya beliau itu diterbitkan secara anumerta karena Aisyah Sulaiman wafat pada 1924.

Karya-karya penyair generasi awal 1800-an sampai dengan awal 1900-an itu berbentuk puisi tradisional. Dalam hal ini, yang terbanyak adalah syair naratif, yakni syair yang berkisah lengkap dari awal sampai akhir dengan unsur intrinsik penokohan, alur, tema, latar, amanat, dan lain-lain yang mirip prosa, tetapi dalam wujud puisi, yakni syair. Selain itu, ada pula gurindam dan paduan pantun-syair, serta pantun tertulis.

Setelah Aisyah Sulaiman wafat, kreativitas perpuisian Kepulauan Riau bagai mati suri. Tak ada lagi puisi, bahkan prosa juga, yang ditulis di daerah ini. Kebuntuan itu akhirnya terpecahkan juga dengan terbitnya buku kumpulan karya sastra (esai dan puisi) Jelaga (1969) yang ditulis oleh 3 sastrawan: Hasan Junus, Iskandar Leo (Rida K Liamsi), dan Eddy Mawuntu. Era 1960-an ini Kepulauan Riau memasuki masa puisi modern, yang memang secara tematik telah menyerlah di dalam karya Aisyah Sulaiman. Generasi pelopor puisi modern ini membabitkan beberapa nama penyair.

Hasan Junus memang tak menulis puisi. Beliau lebih menekuni naskah drama, cerpen, dan yang terbanyak esai. Akan tetapi, esai-esainya banyak membahas puisi Timur dan Barat. Baktinya dalam bidang kesusastraan telah diakui sampai ke mancanegara yang membawanya menerima beberapa anugerah sastra. Karena ketunakan dan kefasihan beliau dalam mengupas karya sastra melalui esainya, para pengamat sastra banyak yang menggelari beliau sebagai Penghulu Sastra Indonesia dan Kyai Sastra Indonesia.

Seangkatan dengan Hasan Junus adalah sastrawan dan budayawan Rida K Liamsi. Dalam bidang sastra, beliau menulis esai, novel, dan puisi. Penyair yang juga jurnalis dan pengusaha ini telah menerbitkan buku kumpulan puisi Ode ke-X (1981), Tempuling (2003), dan Perjalanan Kelekatu (2008). Sejumlah sajaknya dimuat di pelbagai media yang terbit di Indonesia. Bersama penulis lain, beliau menerbitkan Jelaga (1969). Kelebihan utama Rida K Liamsi yang terlihat dalam puisi-puisinya adalah kemampuannya memanfaatkan khazanah maritim dan budaya bahari untuk menggambarkan pikiran dan perasaannya melalui puisi. Karena mutu karya dan ketunakannya dalam berkarya, Rida K Liamsi juga telah menerima pelbagai anugerah sastra dari dalam dan luar negeri.

Penyair pelopor puisi modern Kepulauan Riau lainnya adalah Sutardji Calzoum Bachri. Sebagai penyair, beliau telah berjaya mengembalikan marwah perpuisian Indonesia kepada mantra, yang diberi roh baru sesuai dengan perkembangan manusia modern. Sebelum beliau, para penyair Indonesia dan Asia Tenggara sekian lama tenggelam dalam pengaruh pola puisi Barat.

Sutardji Calzoum Bachri, Foto: Adi Pranadipa

Gerakan perlawanan Sutardji terhadap penjajahan perpuisian Indonesia yang dilakukannya melalui pembacaan sajak-sajaknya di TIM pada akhir 1960-an dan akhir 1970-an ternyata menggemparkan jagat perpuisian ASEAN, bahkan Asia. Itulah kelebihan Sutardji. Beliau memiliki kemampuannya membaca puisi yang menyihir penonton sehingga membuat orang terkagum-kagum, yang belum pernah dilakukan oleh penyair Indonesia sebelum ini. Melalui kredonya, beliau menabalkan diri sebagai Presiden Penyair Indonesia. Sebagai penyair, Sutardji telah menerbitkan buku puisi O (1973), Amuk (1977), Kapak (1981), dan O, Amuk, Kapak (1981). Selain itu, puisi-puisi beliau juga dimuat di pelbagai media di Indonesia. Karena jasanya dalam bidang kesusastraan, Sutardji telah menerima pelbagai penghargaan dan anugerah dari dalam dan luar negeri. (Bersambung)

15 Dialek Bahasa Melayu di Kepri

0

Bahasa Indonesia cikal bakalnya dari Bahasa Melayu di Kepulauan Riau sudah jamak banyak yang tahu. Selama ini ada anggapan Bahasa Melayu yang ada di Kabupaten/Kota yang ada di Kepri itu sama.

Ada juga menganggap berbeda-beda. Nah, berdasarkan peta bahasa yang dibuat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, ada 15 dialek Bahasa Melayu di Kepri.

15 dialek Bahasa Melayu di Kepri, yakni Dialek Pesisir, Dialek Kundur (dipakai di Kundur, Karimun), Dialek Bintan-Karimun dituturkan di Bintan dan Karimun.

Dialek Pecong dituturkan di Kelurahan Pecong, Kota Batam. Dialek Karas Pulau Abang dituturkan di Pulau Abang Karas, Batam.

Dialek Malang Rapat-Kelong dituturkan di Desa Malang Rapat, Bintan dan Desa Kelong, Bintan.Ada pula Dialek Mantang Lama di Mantang Lama, Bintan.

Dialek Rejai di Desa Rejai, Lingga. Dialek Posek di Posek, Lingga, Dialek Merawang dituturkan di Merawang, Lingga.Dialek Berindat Sebelah dituturkan di Desa Berindat, Lingga.

Dialek Arung Ayam di Natuna. Ada lagi Dialek Kampung Hilir, Dialek Pulau Laut, keduanya di Natuna. Dialek Ceruk di Bunguran, Natuna.

Di Indonesia, Bahasa Melayu ada 87 dialek. Di Sumatera Utara ada 11 dialek, Kepri ada 15 dialek, Jambi ada delapan dialek, Riau hanya satu dialek, yakni Dialek Pesisir. Di Sumsel ada sembilan dialek Bahasa Melayu.

Dialek Bahasa Melayu lainnya ada di DKI Jakarta terdiri dua dialek, Kalimantan Timur tujuh dialek, NTB satu dialek.

Mantan wartawan yang kini jadi Anggota DPRD Lingga, Ahmad Nashiruddin mengaku penasaran dengan banyaknya dialek Bahasa Melayu di Kepri. Ia berpendapat hasil penelitian mengenai dialek bahasa itu juga dibuat visualnya agar mudah memahami, persamaan dan perbedaan dialek bahasa itu.

“Saya misalnya asal Desa Rejai. Disebut ada Dialek Rejai. Ingin tahu perbedaannya dengan dialek Bahasa Melayu lain di Bintan, Natuna dan Karimun. Kalau ada visualnya. Direkam kita lebih mudah memahami,”kata Udin, sapaan akrabnya. **

Keringkasan Sejarah Melayu (Sebuah Histriografi Riau-Lingga Karya Tengku Muhammad Saleh Tahun 1930)

0
Dua Sejarawan: Sejarawan Tengku Muhammad Saleh Damnah dan Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad semasa di Tanjungpinang tahun 1956. (foto: koleksi Tengku Husin. repro: Aswandi syahri)

Penulisan sejarah Riau-Lingga yang bersifat “istana sentris” ternyata tidak berhenti di tangan Raja Ali Haji melalui Tuhfat al-Nafis pada tahun 1865, akan tetapi terus berlanjut hingga tahun 1930, jauh setelah kerajaan Kerajaan Riau-Lingga berakhir pada tahun 1911.

Oleh karena itu, Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji dan ayahnya yang dianggap sebagai sebuah historiografi (pensejarahan) Riau-Lingga yang ‘pro Bugis’ dan menumpukan narasi utamanya pada peran penting pihak Bugis, bukanlah “narasi tunggal” dalam pensejarahan Riau-Lingga. Terdapat ‘narasi sejarah’ yang lain dalam  persejarahan Riau-Lingga dan belum terlalu banyak dikenal. Judulnya  adalah Keringkasan Sejarah Melayu dan Jadwal Salasilah Raja Melayu (selanjutnya disebut: Keringkasan Sejarah Melayu).

Meski pun sama-sama ditulis menurut ‘perspektif istana’, namun terdapat perbedaan yang sangat menyolok antara Tuhfat al-Nafis yang ditulis di Pulau Penyengat pada masa Kerajaan Riau-Lingga dan Keringkasan Sejarah Melayu yang ditulis di Daik-Lingga setelah sembilan belas tahun  kerajaan pewaris kebesaran Melaka itu berakhir pada tahun 1911.

Secara historiografis, Keringkasan Sejarah Melayu adalah sebuah ‘narasi sejarah’ Riau-Lingga yang ditulis  berdasarkan perspektif “Melayu sentris’ dan menurut cara pandang ‘Yang Dipertuan Besar’ di Daik-Lingga. Narasi utamanya berusaha mengimbangi Tuhfat al-Nafis yang “Bugis sentris”.

Karya Tengku Muhammad Saleh

Keringkasan Sedjarah Melayu, pada mulanya adalah sebuah manuskrip (naskah tulisan tangan), yang disusun oleh Tengku Muhammad Saleh Damnah di Daik-Lingga pada tahun 1930. Tengku Muhammad Saleh lahir di Istana Damnah yang terletak  di kawasan Hulu Damnah, Daik-Lingga, pada 17 Januari 1901. Beliau mangkat di Daik-Lingga pada 10 Oktober 1966. Jenazahnya dimakamkan berhampiran makam Pahlawan Nasional, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang terletak di belakang mihrab Masjid Jamik Sultan Lingga di Daik.

Berdasarkan silsilah keluarga diraja Johor-Riau-Lingga-dan Pahang yang disusunnya pada tahun 1935, susur galur dirinya berkait-kelindan dengan Sultan Mahmud Ri’ayatsyah, Sultan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang yang bersemayam di Daik-Lingga (1761-1812). Ayahnya adalah Tengku Abubakar (salah seorang anggota Rusydiah Club-Riouw Pulau Penyengat) putera Tengku Husin ibni Tengku Usman (Tengku Embong Usman) ibni Sultan Muhammad Mu’azamsyah (1832-1820) ibni Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah atau Tengku Jum’at (1812-1832) ibni Sultan Mahmud Ri’ayatsyah (1761-1812),

Susur galur Tengku Muhammad Saleh yang berkelindan dengan Sultan Yang Dipertuan Besar kerajaan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang di Daik-Lingga adalah salah satu punca utama yang membuat arah narasi historiogarfisnya dalam Keringkasasan Sedjarah Melayu berbeda dari Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji yang susur galurnya berkelindan dengan   Yang Dipertuaindan  Muda Riau di Pulau Penyengat.

Manuskrip Keringkasan Sejarah Melayu yang asalnya ditulis dalam huruf Arab-Melayu (jawi) telah “hilang”, dan  hingga kini tak diketahui dimana keberadaannya. Yang sampai kepada kita pada hari ini hanyalah berupa foto-copy naskah ketikan hasil alih aksara saudara Tengku Muhammad Saleh yang bernama Tengku Ahmad bin Tengku Abubakar atau Tengku Bon pada 1 Januari 1969 (ditulis menggunakan mesin tik dalam ejaan lama). 

Bermula di ‘Museum Weltevreden’

Tampaknya, kesadaran sejarah yang mendorong Tengku Muhammad Saleh menyelesaikan penulisan  Keringkasan Sejarah Melayu bermula di ‘Museum Weltevreden’ (sebuah museum milik lembaga Bataviaasch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen di Bndar Betawi (Jakarta) ) yang kini bernama Museum Nasional. Apakah yang menggugah resa sejarah Tengku Muhammad Saleh ketika berada ‘Museum Weltevreden’ itu?

Tahun 1929, Tengku Muhammad Saleh melanjutkan pendidikannya pada sekolah H.I.S (Holansch Inslandsche School) di kawasan Petodjo, di Bandar Betawi (Jakarta). Suatu hari di tahun 1929, beliau mengunjungi ‘Museum Weltevreden’ yang ketika itu dikenal juga sebagai Gedung Arca. Pada salah satu ruangan koleksi barang-barang berharga dari seluruh Hindia Belanda yang terdapat di museum tersebut, ia menemukan sejumlah alat-alat kebesaran kerajaan Riau-Lingga yang dipindahkan penyimpanannya dari Pulau Penyengat (Tanjungpinang)  ke museum milik Bataviaasch Genootschaap di Batavia oleh Resident van Riouw pasca penghapusan Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1913.

Dari sejumlah alat kebesaran Kerajaan Riau-Lingga yang disimpan di museum itu, ada satu yang ‘mencuri perhatiannya’: karena disitu terdapat inskripsi yang menyebutkan asal-usul raja-raja Riau-Lingga sebagai keturunan raja-raja besar Bukit Siguntang. Alat kebesaran itu adalah Cogan, yang pada suatu ketika di zaman  Kerajaan Riau-Lingga, pernah memainkan peranan yang penting sebagai simbol legitimasi Sultan-Sultan yang bersemayam di Daik-Lingga dan Pulau Penyengat.

Cogan Sultan Riau-Lingga dan inskripsi yang tertulis diatasnya itulah yang telah mendorong Tengku Muhammad Saleh menulis sebuah “narasi sejarah” Riau-Lingga menurut ‘perspektif Melayu’ atau dari sudut pandang Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-dan Pahang, setelah ia kembali ke Daik-Lingga pada tahun 1930.

Tentang Cogan dan peralatan kebesaran Kerajaan Riau-Lingga yang dilihatnya itu, Tengku Muhammad Saleh mencatakannya pada bagian awal Keringkasan Sejarah Melayu: “Lambang dan kebesaran Alatan Kerajaan Lingga dan Riau ini, yang tersimpan di Museum Weltevreden (Betawi)jang ersebut diatas dapat kulihat sendiri dengan mata kepalaku, semasa aku masih dudu dalam Sekolah 1e H.I.S. di Petodjo (Betawi) dalam tahun 192, dan ku salin naskahnja seperti jang tersebut diatas.”

“Versi Melayu” Sejarah Riau-Lingga

Kerangka utama Keringkasan Sedjarah Melayu yang terdiri dari 18 halaman itu dibagi dalam 18 bab. Diawali dengan sebuah pendahuluan dan diakhiri dengan sebuah penutup, beserta lampiran silsilah raja-raja Melayu Riau-Lingga yang oleh penulisnya disebut sebagai Djadwal Salasilah Raja Melayu.

Narasi utamanya adalah sejarah kerajaan Riau-Lingga sejak masih bernama Kerajaan Johor dan wilayahnya mencakupi Riau, Pahang, dan tanah Johor di Semenanjung. Penjelasan historiografisnya dimulai dengan kisah kedatangan Sang Nila Utama (sebagai cikal bakal raja-raja Melayu) di Bintan sekitar tahun 1133 M, dan diakhir dengan narasi tentang Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah yang “dipetjat” oleh Belanda  di Pulau Penyengat tahun 1911.

Selain narasi utama tersebut, pada bagian penutup dimuat sebuah catatan tambahan (postscript) sepanjang satu halaman yang bersikan narasi ringkas tentang bekas Kerajaan Riau-Lingga setelah ditinggal Sultan Abdulrahman yang “lari meninggalkan negeri Riau ke Singapura” pada 1911, dan pejelasan ringkas tentang situasi politik di bekas wilayah Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1949.

Secara kesuluruhan eksplanasi (penjelasan) sejarah Riau-Lingga dalam Keringkasasan Sejarah Melayu dijabar dalam urut-urutan tujuh belas judul narasi.

Diawali dengan, Sang Nila Utama glr Sangseperbu 1133 Masehi; lalu diikuti dengan narasi tentang kisah Pembukaan Kerajaan di Singapura; Malaka Ditaklukan oleh Portugis; Sulthan-Sulthan Djohor; Keturunan Sang Nila Utama; Singapura Dilanggar Todak; Singapura Dialahkan oleh Modjopahit; Permulaan Agama Islam Masuk Melaka; Pembukaan Indragiri; Pahang dan Johor Mengambil Angkatan Sultan; Sulthan Sulaiman Berkeradjaan di Riau; Peperangan Radja Adji Dengan Gubernur Melaka; Sulthan Mahmud Sjah Pindah Berkedudukan di Lingga; Sulthan Muzafar Sjah Dipecat oleh Belanda; Sulthan Abdul Rahman Mu’azam Sjah; Asisten Residen di Lingga; dan berakhir dengan narasi tentang Sulthan Abdulrahman Dipetjat (pada tahun 1911).

Narasi historis dalam Keringkasan Sedjarah Melayu berbeda dari Tuhfat al-Nafis. Menurut Virginia Matheson (1988), yang penting dalam Keringkasan Sedjarah Melayu adalah bahwa pemerintahan Sultan-Sultan Melayu di Daik-Lingga adalah waris langsung Kesultanan Melaka, dan mereka bekerja kearah kemaslahatan rakyat mereka.

Keringkasan Sedjarah Melayu menggunakn silsilah yang agung sebagai sumber legitimasi Sultan Yang Dipertuan Besar di Lingga: asal usul keturunan mereka yang berpunca dari Bukit Siguntang dan Melaka adalah menjadi penekanan dalam narasi utamanya.

Menurut Keringkasan Sedjarah Melayu, krisis dan malapetaka yang terjadi di kerajaan Riau-Lingga terjadi karena pewaris tahta yang sah diabaikan. Kenyataan ini dikemukakannya sebagai wujud kritik historis terhadap penabalan Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah, sultan Riau-Lingga yang terakhir (1885-1911) dan sekaligus pengganti Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (Sultan Melayu terakhir di Kerajaan Riau-Lingga) yang tidak mempunyai zuriat penerus tahta.

Tenggku Muhammad Saleh menilai penabalan itu mengabaikan waris sah yang masih ada ketika itu. Tentang hal ini, selengkapnya, dinukilkannya sebagai berikut: “Menurut keterangan yang kuat, waris jg kuat masih ada yang berhak mendjadi Sulthan [ketika itu] seperti T[engku] Said, T[engku] Husen, dan T[engku] Mahmud, kenapa sebabnja maka waris Sulthan tidak berpindah kepada orang2 tersebut, tidak kita ketahui.”

Bagian Keringkasan Sejarah Melayu yang berisikan narasi historis tentang Sulthan Abdul Rahman Mu’azam Sjah; Asisten Residen di Lingga; dan Sulthan Abdulrahman Dipetjat.

Menurut Keringkasan Sedjarah Melayu, “malapetaka” yang berujung pada runtuhnya kerajaan bersejarah itu semakin mengemuka ketika Sultan Abdurahman Mu’azamsyah berhasil ‘menggenggam’ jabatan Sultan di Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau di tangannya. Keputusan ‘politik’ itu telah mengabaikan sumpah setia antara Sultan Sulaiman dan Yang dipertuan Muda Bugis ketika mula-mula menubuhkan kerajaan itu pada 1722.

Tentang sebab-sebab keruntuhan Kerajaan Riau-Lingga itu, Keringkasan Sedjarah Melayu menguncinya dengan penjelasan sebagai berikut: ‘maka dari mulai dialah [Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah] pelanggaran sumpah setia yang telah dibikin oleh Sulthan Sulaiman dahulunja, jaitu dengan kata-kata, hilang tumbuh patah berganti, umpama mata hitam dengan mata putih tak boleh bertjerai2 antara Sulthan dengan Jang Dipertuan, jika disalah satu pihak menjalahi, tidak akan selamat anak tjutjunja dari dunia sampai keachirat. Demikian sumpah yang dibikin dahulunja. Tetapi bagi Sulthan Abdulrachman [Mu’azamsyah] sumpah tetap menjadi sumpah, [namun] kemauan dia didjalankan juga.”

Sikap Melayu

0

SETIAP bangsa pasti memiliki sikap khas yang membedakannya dengan bangsa lain. Begitu pula dengan orang Melayu.

Sikap merupakan maujud yang abstrak. Artinya, sikap tak dapat diamati secara langsung sebagaimana kita mengamati potongan tubuh manusia, bentuk ikan yang berenang di dalam aquarium, dan sebagainya. Sama halnya dengan pikiran, perasaan, dan minat—misalnya—sikap hanya dapat diamati melalui perantaraan perilaku atau perangai. Keberadaan sikap ditunjukkan oleh rasa suka atau tak suka, senang atau tak senang seseorang atau kelompok masyarakat pada objek tertentu. Menurut Berkowitz (1972), sikap seseorang (juga sesuatu puak, kaum, masyarakat, atau bangsa) terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) atau perasaan tak mendukung (unfavorable) terhadap sesuatu objek. Salah satu unsur pembentuk sikap adalah budaya. Sikap seseorang atau masyarakat yang bersumberkan nilai budayanya disebut sikap budaya.

Sikap dikaitkan dengan perilaku yang berada dalam kenormalan dan merupakan respon atau reaksi terhadap rangsangan dari lingkungan sosial. Pembentukan sikap sering tak disadari oleh orang atau masyarakat yang bersangkutan karena ianya terbentuk di alam bawah sadar. Akan tetapi, sikap bersifat dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan yang disebabkan oleh interaksi seseorang dan atau sesuatu masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan pada suatu waktu dan di suatu tempat tak disangsikan lagi pengaruhnya terhadap pernyataan sikap.

Diakui atau tidak, bagi sesiapa pun, berinteraksi dan berbaur dengan orang Melayu menjadi pengalaman yang menyenangkan, nyaman, dan atau selesa. Oleh sebab itu, di kawasan Melayu, di mana pun di dunia ini, orang-orang pelbagai ras, suku, dan agama berdatangan untuk mengubah nasib, terutama mereka yang di tempat asalnya kurang beruntung atau tak dapat mengembangkan diri secara optimal. Bahkan, dalam banyak kasus mereka yang datang dari pelbagai penjuru kawasan pada suatu saat jumlahnya lebih banyak dibandingkan orang Melayu itu sendiri di kawasan Melayu. Provinsi Kepulauan Riau, Riau, sebagian Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, dan lain-lain merupakan contoh yang paling representatif untuk menjelaskan gejala itu. Dalam konteks negara, Singapura juga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand Selatan menjadi contoh yang paling tepat juga.

Mengapakah terjadi demikian? Jawabnya, orang Melayu bersikap terbuka bagi sesiapa saja. Tak pernah terjadi tantangan atau hambatan dari orang Melayu terhadap sesiapa pun yang datang ke kawasan mereka. Lingkungan hidup orang Melayu yang memang strategis dan terbuka dari segala penjuru membentuk sikap terbuka pada diri mereka. Di samping itu, keyakinan orang Melayu bahwa semua makhluk berhak memperoleh kehidupan yang layak dan baik di bumi Allah, menjadikan mereka menumbuhkan dan mengembangkan sikap bertimbang rasa terhadap sesama. Oleh sebab itu, timbullah pikiran bahwa orang tak akan berhijrah jauh-jauh dari tanah kelahirannya jika telah menemukan kehidupan yang ideal di tempat asalnya itu. Dengan demikian, perjuangan manusia untuk memperoleh kehidupan yang layak dengan cara yang baik tak boleh dihambat, malah harus didukung sepenuhnya. Itulah nilai demokratis yang dipegang teguh oleh orang Melayu zaman-berzaman.

Dalam interaksi sosial (dan) budaya, termasuk bersama saudara barunya, orang Melayu menyenangi suasana yang harmoni. Mereka akan sangat malu jika untuk memperoleh rezeki di bumi Allah ini, misalnya, harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan ancaman terhadap orang lain. ”Setiap orang memerlukan lampu agar mendapatkan terang, tetapi janganlah mematikan lampu orang lain untuk menghidupkan lampu kita sendiri.” Itu adalah keyakinan orang Melayu tentang keharmonisan hidup bersama di dalam masyarakat. Itulah idealisme demokrasi Melayu yang mengutamakan harmoni dan keadilan kepada semua orang.

Atas dasar itu, orang Melayu sangat mencela praktik-praktik kekerasan dan persaingan tak sehat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Jika berhadapan dengan gejala tak harmonis itu, biasanya mereka lebih memilih untuk tak terbabit atau tak melibatkan diri. Walaupun begitu, mereka akan bertindak reaktif jika ternyata ketakelokan perangai telah bersimaharaja lela di kawasan yang mereka menjadi ahli waris sahnya. Dengan demikian, ada perilaku yang boleh ditimbangrasakan, boleh ditoleransikan, tetapi kalau sudah melampaui batas kepatutan dan kewajaran tak akan dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah Kolonial Belanda pada masa lalu, sebagai contoh, pernah merasakan betapa sulitnya meredam reaksi orang Melayu jika mereka telah tersinggung.

Untuk menjaga harmoni di lingkungan hidup mereka, orang Melayu sangat terbiasa menaati peraturan sosial. Hal itu dimungkinkan karena sejak lama mereka berada dalam sistem pemerintahan kerajaan berkesinambungan yang membesarkan tamadunnya dengan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Konsistensi dalam penerapan peraturan hukum itulah yang menyebabkan Kesultanan-Kesultanan Melayu pada masa lampau mencapai kejayaannya dan lama baru dapat dijajah oleh pihak asing. Kerajaan Riau-Lingga, misalnya, baru betul-betul dapat diduduki oleh Belanda pada 1913.  Itu pun terjadi karena Pemerintah Hindia Belanda berasa sangat terancam oleh penentangan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Rahman Muazamsyah II. Cara yang ditempuh Belanda pun tergolong tak lazim yaitu ketika Sultan Abdul Rahman sedang tak berada di kerajaannya, Pulau Penyengat Indera Sakti. Kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaysia akhirnya juga memang dikuasai oleh Inggris, tetapi daulat raja-raja tetap dihormati oleh penjajah itu sehingga kerajaan atau raja-rajanya tetap berkuasa untuk mengatur kehidupan masyarakat. Pasalnya, peraturan yang dibuat kerajaan sangat efektif untuk mengatur perilaku dan peri kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, Inggris tak perlu mencampuri urusan perhubungan antara sultan dan rakyatnya.

Bertahan pada idealisme dan sikap demokratis yang diperikan di atas dianggap dilema bagi orang Melayu oleh sebagian orang. Tak kurang dari Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, menganggap fenomena itu merupakan ”dilema Melayu”. Sesungguhnya, orang Melayu memantangkan diri untuk memasuki arena persaingan yang tak fair, tak adil, tak sesuai dengan peraturan yang baku. Oleh sebab itu, tak heranlah orang Melayu akan tertinggal jika dihadapkan dengan persaingan yang mereka sebut sebagai perilaku ”tak tentu arah atau tak tentu hala”. Sebaliknya, orang Melayu akan menunjukkan semangat yang bernyala-nyala jika diberi laluan di jalan yang benar, yang sesuai dengan peraturan hukum dan prinsip-prinsip keadilan. Tak heranlah, dalam banyak kasus, anak-anak Melayu sering kalah dalam persaingan untuk mendapatkan sesuatu yang seyogianya menjadi haknya, bantuan pendidikan misalnya, dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain jika untuk mendapatkan kesemuanya itu harus ditempuh cara-cara yang di luar dari alur dan patutnya seperti dengan kekerasan, bahkan di kawasan atau di daerah mereka sendiri. Sebuah kenyataan yang ironis memang, tetapi mempertahankan harga diri dan idealisme merupakan sikap yang mereka anggap tak dapat ditawar-tawar karena sejalan dengan ajaran Tuhan.

Biasanya, jika dihadapkan dengan tekanan, reaksi yang ditunjukkan oleh orang Melayu cenderung sangat perlahan. Akan tetapi, hal itu bukan berarti mereka tak bereaksi sama sekali. Reaksi itu akan meningkat tahap demi tahap secara pasti dari yang biasa disebut marah, merajuk, aruk, sampailah pada titik yang paling tinggi dan paling dahsyat yaitu amuk. Dalam sejarah tamadun Melayu, aruk dan amuk pernah dilakukan oleh orang Melayu karena diperlakukan secara tak adil. Aruk dilakukan oleh Hang Jebat terhadap Sultan Melaka sehingga dia berhasil mempermalukan penguasa itu di hadapan rakyatnya. Dan, tensi tertinggi amuk ditunjukkan oleh Laksemana Megat Seri Rama atau Laksemana Bentan terhadap Sultan Mahmud Syah II atau Sultan Mahmud Mangkat Dijulang karena perilaku penguasa itu dianggap telah melampaui batas rasa yang boleh dipertimbangkan. Pemerintah Hindia Belanda pun pernah merasakan betapa dahsyatnya amuk Raja Haji Fisabilillah dan Sultan Mahmud Riayat Syah walaupun tokoh yang disebutkan terakhir itu melakukannya dengan strategi yang berbeda. Kesemuanya ritual ”menuntut béla” itu dilakukan oleh para wira Melayu karena penguasa semasa telah melanggar nilai-nilai demokratis yang diidealkan, yakni keadilan dan harmoni dalam kebersamaan.

Dengan demikian, keserasian, keselarasan, keadilan, dan harmonilah yang diidealkan oleh orang Melayu dalam hidup berdampingan dengan sesiapa pun, sama ada di luar kawasannya ataupun lebih-lebih di dalam kawasan Melayunya. Cita-cita tertinggi dalam kehidupan sosial itu baru dapat dicapai jika nilai-nilai keadilan dan harmoni dapat dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen, baik oleh sesama anggota masyarakat dari mana pun asalnya maupun oleh penguasa yang di tangannya nuansa kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dipertaruhkan. Ketika dihadapkan dengan dilema, orang Melayu akan memilih: tetap mempertahankan nilai-nilai demokratis bertimbang rasa atau, justeru, membuat perhitungan dengan ”ritual amuk” terhadap sumber yang mati rasa. Alhasil, itulah sikap demokratis yang diidealkan tamadun dan bangsa Melayu.

Sering orang lain gagal paham tentang sikap orang Melayu. Suatu ketika dulu, orang Melayu dikejutkan oleh pernyataan tak berdasar Effendi Simbolon, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Ringkasnya, dalam menanggapi bergabungnya tiga partai politik yang awalnya berada dalam Koalisi Merah Putih (KMP) ke kabinet Presiden Joko Widodo, Tuan Effendi Simbolon menyebutnya sebagai ”demokrasi a la Melayu” (lihat Jawa Pos.com, Kamis, 11/02/2016). Kontan saja, pernyataan pemimpin politik yang berkantor di Senayan, Jakarta, itu mendapat reaksi keras dari pelbagai komponen Melayu di negeri ini.

Memang, tak sepatutnya Tuan Effendi Simbolon mengaitkan gonjang-ganjing dan persaingan politik praktis semasa antarpartai politik di negeri ini dengan tamadun Melayu (dalam hal ini demokrasi). Pasalnya, fenomena itu tak ada kena-mengenanya dengan Melayu dan tamadunnya. Jangankan Tuan Effendi Simbolon yang nyata-nyata tak memahami Melayu (terlihat dari pernyataannya itu), bahkan orang Melayu pun kalau membuat pernyataan seperti itu pasti akan menimbulkan kemarahan besar dari kalangan Melayu. Karena apa? Kenyataannya, nilai-nilai demokrasi yang diamalkan oleh orang Melayu tak serendah itu.

Untuk diketahui, tamadun Melayu merupakan salah satu tamadun yang telah memberikan sumbangan terbesar dalam pengembangan tamadun bangsa kita, Indonesia, jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, kawasan-kawasan Melayu di nusantara ini telah memberikan sumbangan yang terbesar bagi pendapatan negara kita sampai setakat ini walaupun sejak lama pula pengembaliannya ke kawasan-kawasan Melayu untuk pembangunan masyarakat dan daerahnya jauh dari berimbang. Walaupun pelbagai reaksi dan kritik terus dikemukakan sehubungan dengan kebijakan yang cenderung tak adil itu, orang Melayu di mana pun di Indonesia ini masih mampu menahan diri demi mempertahankan harmoni dalam kebersamaan.

Atas dasar itu, sangat sabit di akal ketika orang Melayu sangat tersinggung terhadap Tuan Effendi Simbolon, yang tiada lain dalam kedudukannya sebagai pemimpin politik nasional, dengan pernyataannya yang tak memiliki dasar apa pun, baik secara kultural maupun politik. Itulah sebabnya, pernyataan negatif itu dianggap pelecehan, bahkan cenderung berunsur SARA, terhadap orang Melayu dan tamadunnya yang telah dijunjung tinggi sejak zaman-berzaman. Dengan demikian, tuntutan agar  Effendi Simbolon meminta maaf secara terbuka kepada orang Melayu karena pernyataan negatifnya ketika itu seyogianya dilakukan secara jantan oleh anggota dewan yang terhormat itu. Dengan mengacu kepada tamadun Melayu, kejantanan seseorang akan diakui jika dia mampu mengakui kesalahannya dan secara sadar meminta maaf karena ketelanjuran itu.

Intinya, sikap dan idealisme demokrasi Melayu tiada lain keseimbangan, keselarasan, keserasian, keadilan, dan harmoni di antara sesama makhluk Tuhan. Kesemuanya itu sejalan dengan ajaran Allah dan tuntunan Rasulullah. Itulah yang harus dipelajari dan dipahami oleh sesiapa pun yang hendak berhujah tentang Melayu.

Nilai-nilai demokrasi Melayu itu belum mampu diterapkan dalam politik praktis oleh partai politik apa pun di negara ini sampai setakat ini. Dengan kata lain, partai politik kita belum menghalakan tujuan ke arah yang ideal itu. Oleh sebab itu, sikap arogan di sesuatu kawasan yang yang dihalakan kepada orang Melayu ada kalanya  menyebabkan bangsa yang bertamadun tinggi itu melakukan tindak balas tiada terduga. Tindak balas dan atau pelajaran berharga itulah yang dilakukan oleh orang Melayu di beberapa tempat akhir-akhir ini seperti di Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan lain-lain.

Dan, itu sering membuat orang lain terpana dan menyadari bahwa ternyata langit itu tinggi juga. Oleh sebab itu, untuk mengukurnya, tak boleh hanya sekehendak perut sendiri, berapa pun takaran perut itu agar terpuaskan nafsu duniawi. ***

Baharu