Ilustrasi Si Pitung.

Melacak Pelarian Si Pitung di Tanjungpinang 1893

KISAH hidupnya bagaikan Dewa Janus yang mempunyai dua wajah saling berlawanan. Satu wajahnya memainkan peran seorang ‘perampok baik hati’ di sehingga dijuluki ‘Robin Hood Betawi’, dan satu wajah lainnya merupakan perompak yang licik dan bandit di mata polisi kolonial di Batavia (Jakarta).

Aksi-aksi yang dilakukannya untuk membantu masyarakat yang dizalimi pemerintah kolonial di Batavia, dan kemampuannya berulang kali lepas dari penjara Belanda, membuat  sosoknya melegenda di antara fakta dan khayal, dan dianggap sebagai orang keramat yang punya kekuatan supranatural.

Dalam legenda dan cerita lisan masyarakat Betawi, sosok Pitung adalah hero orang Betawi, penduduk asli Jakarta: sebutan hero ini tidak hanya melekat pada masa hidupnya, namun terus berlanjut setelah ia meninggal. Kisah hidupnya menjadi ‘buah bibir’ dan menjadi bahan cerita dalam tradisi lisan Betawi, difilmkan, dan ditulis dalam karya-karya sastra Betawi.

Terlepas dari sosoknya sebagai legenda hidup dalam cerita-cerita tradisi masyarakat Betawi, sesungguhnya, Si Pitung adalah tokoh historis: sosok dalam sejarah masyarakat Betawi yang merujuk kepada seseorang (actual person) yang hidup pada paruh kedua abad ke-19. Ia adalah tipikal bandit sosial yang lazim muncul dalam suasana ketimpangan sosial-ekonomi zaman kolonial di berbagai belahan dunia pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20

Aksi-aksi banditisme Si Pitung di Batavia tercatat dalam arsip-arsip Resident Batavia dan direkam laporan-laporan surat kabar sezaman seperti telah ditunjukkan oleh Margreet van Till dalam sebuah tulisannya yang sangat menarik tentang Si Pitung, “In Search of Si Pitung; The History of an Indonesian Legend “ (BKI, deel 152, 3e aflevering, 1996, hal:471-479).

Pitung lahir di kawasan Pengumben, sebuah desa daerah Rawabelong, Batavia (di sekitar stasiun kereta api daerah Palmerah, Jakarta). Ia adalah anak pasangan Bung Piung dan Mbak Aminah, dan dicatat sebagai santri sebuah pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin.

Dalam aksinya merayau-rayau dan merampok tuan-tuan tanah dan orang kaya di kampung-kampung di sekitar Batavia, Pitung membentuk sebuah komplotan. Anggotanya terdiri ‘Robinhood Betawi’ lainnya seperti  Djii, Rais, dan Jebul, yang semuanya tercatat dalam arsip kolonial dan reportase surat kabar kolonial sezaman.

Menurut Margreet van Till, aksi perbanditan oleh Si Pitung dan komplotannya di kampung-kampung di sekitar Batavia untuk pertamakali dilaporkan oleh surat kabar berbahasa Melayu, Hindia Holanda, sekitar bulan Juni 1892. Ia dilaporkan sebagai sosok yang yang penuh warna (a colourful figure).

Namun yang menarik, dan selama ini  belum pernah terungkap, nama  hero orang Betawi itu bersama seorang anggota komplotannya yang bernama Djii pernah muncul di Tanjungpinang (Riouw) sekitar sebelas bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1893, dan menjadi orang yang paling dicari.

Apa hubungan Si Pitung dengan Tanjungpinang pada 1893? Kisah ini bukan ‘dongeng’ dalam Lenong Betawi, tapi sejarah yang ada fakta historisnya. Ketika itu, rumor tentang petualangan Si Pitung heboh kembali.

SALINAN surat Asistent Resident Riouw kepada Raja Ali Kelana sempena minta bantuan melacak dan menangkap Si Pitung dan Djii yang dicurigai berada di Tanjungpinang pada bulan Mei 1893. Surat asli kini ada dalam simpanan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta. (foto: Aswandi)

Berdasarkan laporan rechercheur (reserse), Si Pitung dan Djii ‘dicurigai’ berada di Tanjungpinang pada bulan Mei 1893. Untuk itu otoritas polisi dan pemerintah kolonial Belanda di Batavia bergerak mengerah segala upaya mencarinya.

Kisah melacak jejak si Pitung di Tanjungpinang bermula setelah dua ‘bandit’ kelas kakap dimata kepala Polisi Batavia untuk wilayah Meester Cornelis (Jatinegara) itu berhasil lolos secara misterius dari penjara Messter Cornelis (LP Cipinang) pada malam 20 April 1893, setelah sebelumnya ditangkap karena aksi perompakan pada bulan Agustus 1892.

Menurut Margreet van Till, setelah pelarian ‘dua bandit’ itu, Java Bode, sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Batavia melansir berita tentang adanya kaitan kejahatan internasional dengan aksi-aksi serta pelarian Si Pitung dan Djii. Bahkan, pada 15 Agustus 1893, surat kabar Java Bode melaporkan bahwa Djii telah berhasil lolos ke Singapura menggunakan kapal. Sementara keberadaan si Pitung masih samar, dan penuh rumor serta misterius.

Untuk mengantisipasi semua kemungkinan, ruang gerak kedua bandit itu dipersempit, dan menutup semua ‘pintu keluar’ dari Hindia Belanda. Bersempena itu, Asistent Resident Batavia untuk wilayah Meester Cornelis melayangkan sepucuk surat kepada Resident Riouw di Tanjungpinang pada 23 April 1893.

Isinya, mohon bantuan untuk melacak keberadaan Si Pitung dan Djii di Tanjungpinang, Riouw: karena keduanya telah dovonis hukuman gantung tersebab aksi peramporan dan kekerasan yang merenggut sejumlah nyawa di Batavia.

Keputusan ini diambil karena pentingnya posisi pelabuhan Riouw atau Tanjungpinang pada ketika itu, yang berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan bagi kapal-kapal dari pelabuhan di Pulau Jawa dan Sumatera yang hendak menuju Singapura.

Permintaan bantuan Asisten Resident Meester Cornelis untuk memantau keberadaan Si Pitung dan Djii itu juga diteruskan oleh  Asistent Resident Riouw, De Boer de Vel Boer, di Tanjungpinang kepada Raja Ali Kelana sebagai pelaksana tugas semua pekerjaan Yang Dipertuan Muda Riau di Pulau Penyengat, termasuk masalah kemanan, melalui sepucuk surat bertarikh 5 Mei 1893. Ada dua hal penting dalam surat itu.

Pertama, tentang seorang bernama Hadji Alam atau Hadjie Ibrahim (orang Sungai Pinang, Singkep) terlibat pembunuhan Toean van Raalten, seorang insinytur kepala yang pernah ikut dalam ekspedisi iilmiah Toean Yzerman ke pedalaman Sumatera Tengah. Ia dicurigai berada di Tanjungpinang dan akan bertolak ke Mekah via Singapura bersama Syekh di Loebog Djambi. Kedua, perihal Si Pitung dan Djii yang juga dicurigai berada di Tanjungpinang, Riouw.

Barangkali, khusus untuk si Pitung, di setiap sudut strategis di kota Tanjungpinang ketika itu, terpampang plakat bertuliskan ‘Wanted, Gezocht, dicari. Si Pitung dan Djii’, dalam bahasa Inggris, Belanda, dan Melayu. Sebab, ada hadiah berupa uang sebesar f 350 yang dijanjikan oleh Asistent Resident Meester Cornelis kepada siapa saja yang berhasil menangkapnya.

Dalam surat kepada Raja Ali Kelana  tersebut, Resident Riouw di Tanjungpinang juga menulis nama populer kedua pelarian dan nama lain Pitung, yaitu Salihoen. Informasi tentang nama kedua bandit itu juga dilengkapi dengan ciri-ciri fisiknya serta kampung asal msing-masing.

Si Pitung digambarkan sebagai sosok yang tinggi, berwajah garang, badan sedang dan gemuk, dengan kulit hitam manis. Sebaliknya Djii ditandai dengan postus tubuh yang kecil pendek, kulit kekuning-kuningan, dan bentuk muka tirus (lonjong). Dua sosok dengan ciri-ciri fisik seperti itulah yang harus disiasat oleh Raja Ali Kelana.

“…Radja Allie toeloeng siasatkan sekiranja berdjoempa orang2 itoe bolehlah di tangkap dan hantarkan kepada kita disini  (di Tanjungpinang)…”.

Selanjutnya, isi lengkap bagian-bagian berkenaan dengn Si Pitung dan Djii dalam surat Asistent Resident Riouw, De Boer de Vel Boer, kepada Raja Ali Kelana di Pulau Penyengat (dalam surat, tertulis, Penyangat), yang kini tersimpan di Arsip Nasional Jakarta itu saya salinkan sesuai ejaan aslinya. Adapun tambahan keterangan dalam kurung, adalah dari saya:

“…Sjahdan lagi damikian djoega, jang kita ada mendapat soerat dari P.T. (Paduka Tuan)  Asjistent Resident di Meester Cornelis (Asistent Resident Batavia di Jatinegara) jang tertoelis pada 23 h.b. (hari bulan) April 1893 No. 1476  iaitoe menjatakan pada malam 19 djalan 20  h.b. (hari bulan) April tahoen ini (tahun 1893), telah lari 2 orang (ber)salah dari pendjara di sana jang mendapat hoekoeman akan digantong, satoe bernama Pitoeng atau Salihoen orang kampoeng Soekaboemi, dan jang kedoewa bernama Djiie orang Kampoeng Kamandoran, maka kedoewa2 kampoeng itoe terdoedoek di dalam district Kebajoran afdeeling Meester Cornelis (Jatinegara).

Adalah tanda sifatnja orang2 ijang terseboet itoe terseboet di bawah ini:

Si Pitoeng tinggi, roepa garang, sedang gemoek, koelit itam manis, moekanja boelat, misai sedikit, bertjambang sedikit baroe toemboeh dekat telinga.

Si Djiie, ketjil pendek, koelitnja kekoening2ngan, tempang, moekanya tiroes, ada tanda krepoet di moeka kanan.

Maka P.T. (Paduka Tuan)  Asjistent Resident jang terseboet diatas telah mengakoe barang siapa mendapat tangkap orang2 itoe, beroleh hadijah f 350,-

Maka dari hal ini haraplah djoega kita soepaja Radja Allie (Kelana) toeloeng siasatkan sekiranja berdjoempa orang2 itoe bolehlah di tangkap dan hantarkan kepada Kita disini (di Tanjungpinang), demikianlah adanja.”***

Tinggalkan Balasan