Ilustrasi. (sumber: nymag.com)

PADA zaman dahulu, setelah bayi lahir, tali pusat dipotong dengan menggunakan sebilah rotan atau kulit bambu yang ditajamkan. Sedangkan tembuni dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam periuk tanah disertai dengan asam dan garam, lalu disimpan dan djiaga dengan baik. Konon, setelah tanggal pusat barulah tembuni ditanam.

Inilah yang dikatakan:

Darah Emak menyimbah bumi,
Tembuni merabuk tanah pusaka,
Anak watang mendapat gelaran,
Kelak besar menjadi pahlawan.

Adapun tembuni disebut juga sebagai kembaran si bayi atau kakak si bayi. Untuk menanam tembuni, kononnya juga mempunyai syarat. Yaitu: setelah tembuni yang disimpan itu sampai kepada saatnya untuk ditanam, maka galilah lubang. Lalu tembuni itu ditanam dengan di atasnya dilingkupi oleh tempurung nyiur yang berlubang, kemudian dimasukkan sepotong bambu yang kononnya sebagai rongga ataupun lubang untuk udara.

Di atas tanah diberikan dua batang lilin yang menyala atau lampu cangkok. Maksudnya adalah untuk mengusir atau mencegah hantu setan. Sebelum Tuk (Mak) Bidan kembali ke rumah, telah membacakan doa atau mantra pada tembuni yang ditanam itu.

Kononnya, selama dalam perjalanan Tuk (Mak) Bidan itu tiada diperbolehkan untuk memalingkan mukanya ke kiri atau ke kanan apatah lagi kalau sampai ditegur ataupun disapa. Dikhawatirkan kelak si bayi akan juling atau bermata picing.

Apabila Tuk (Mak) Bidan telah selesai melakukan upacara penanaman tembuni, maka selesailah acara tersebut. Bubur pusat yang telah diperbuat itu bolehlah dimakan oleh semua yang hadir. Terkadang diakhiri pula dengan makan bersama yang disertai dengan pembacaan doa selamat.

Adapun pengertian yang diberikan kepada lambang yang terkandung dalam unsur upacara tanggal pusat itu, yaitu:

1. Bubur pusat yang berwarna merah-putih berarti suci dan ikhlas.
2. Bubur yang berasa asin (lemak) supaya dapat menghadapi kehidupan ini dengan tabah dalam kesukaan dan kedukaan. Mengajak anak-anak mengecap dan mencicipi bubur pusat itu dan membagikan uang, supaya kelak si bayi menjadi murah hati.
3. Lilin yang dinyalakan ketika menanam tembuni mempunyai maksud untuk menghalau jin yang akan mengganggu tembuni. Jika tembuni terganggu, si bayi di rumah juga terganggu.

Sumber: di sini

Tinggalkan Balasan