[duduk tengah paling depan] SM Amin beserta teman-temannya di Komite Nasional Indonesia Pusat, di Yogyakarta.

Saksi Mata Lahirnya Sumpah Pemuda dan Teman Satu Kamar Mohamad Yamin

Mengenal SM Amin, Gubernur Pertama Riau ketika Beribukota di Tanjungpinang

Pada masa muda atau ketika masih bernama Krueng Raba, SM Amin dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dalam pergerakan dan sejumlah organisasi. Apalagi ketika menempuh studi hukum di Batavia. Tak ayal aktivitasnya ini lantas mempertemukannya dengan rekan sejawat. Satu di antara yang paling berkesan adalah Mohamad Yamin, tokoh pelopor Sumpah Pemuda 1928, yang ternyata adalah teman sekamar indekos Krueng Raba ketika menuntut ilmu di Yogyakarta. Dua pemuda ini saling kental mengenal dan akrab dalam organisasi Jong Sumatera Bond.

Tentang Mohamad Yamin, SM Amin menuliskan, “sahabat baik saya sejak kami bersekolah di AMS Yogyakarta.” Pokok pikiran Yamin tentang kesatuan para pemuda daerah kala itu berulang kali digaungkannya kepada SM Amin. “Dengan tak jemu-jemu dalam setiap kesempatan,” tulis SM Amin, “ia (Yamin) mengemukakan bahwa Indonesia adalah SATU dan penduduknya adalah SATU Bangsa.”

Pemikiran ini yang kemudian meluas ke alam pikiran setiap pemuda kala itu, sehingga terwujud dalam ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 melalui sebuah Kongres Pemuda II di Indonesisch Clubhuis, Jalan Kramat Raya 106, Batavia Centrum.

Baca Juga: Mengubah Nama Kecilnya

SM Amin hadir di sana. Ia menyaksikan sendiri ketika pemuda dari seluruh nusantara berkumpul. Suasananya, tulis dia, sangat gawat. Oleh karena itu kongres dijaga oleh polisi pemerintah Hindia Belanda. Sebenarnya, seusai kongres, hendak dilaksanakan pawai. Tetapi, ada pelarangan yang, tulis SM Amin, sangat mengecewakan dan menimbulkan suasana ‘hangat’.

SM Amin juga melihat peristiwa bersejarah ketika karibnya, Mohamad Yamin tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan menyerahkan secarik kertas kepada Ketua Kongres Sugondo Djojopuspito yang sedang berbicara. “Kertas ini,” tulis SM Amin, “ternyata memuat usul Mohamad Yamin, yang dimintanya supaya dibicarakan dan kemudian dijadikan Keputusan Kongres.”

Kemudian, setelah diperbincangkan dan mendapat persetujuan, terdengarlah pekikan “SETUJU!” dari seluruh hadirin. Gegap gempita, sorak-sorai berkumandang dalam suasana riang gembira, dan pada akhirnya terdengar teriakan “ALLAHU AKBAR!” yang kemudian turut dikumandangkan oleh seluruh hadirin.

“Dengan demikian, lahirlah Sumpah Pemuda, yang dalam perjalanan sejarah nusa dan bangsa Indonesia ternyata kemudian memainkan peranan yang sangat menentukan.”***

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan