Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri. (foto: fatih muftih)

HEBOH. Terkejut. Tidak percaya. Barangkali begitu yang dirasakan penduduk Tanjungpinang ketika dolar Malaya secara resmi dilarang digunakan sebagai alat tukar yang sah. Nilai tukar uang merosot tajam. Status spesial Tanjungpinang sebagai dollargebied (kawasan yang boleh menggunakan mata uang dolar) dicabut. Sebuah mimpi buruk yang tidak pernah diharapkan kala itu.

“Bahkan bukan lagi mimpi buruk, tapi sebuah bencana. Sampai-sampai menjadi mitos yang selalu kita dengar hari ini,” kata Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri.

Bagaimana situasi Tanjungpinang ketika pada akhirnya Soekarno memutuskan kebijakan politik konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura pada dekade 1960-an?

Semua kemewahan hidup zaman dolar di Tanjungpinang perlahan-lahan mulai memudar ketika Presiden Sukarno memutuskan berkonfrontasi dengan Kuala Lumpur dan Singapura, sempena protes keras terhadap pembentukan Malaysia oleh Inggris pada tanggal 26 September 1963. Hilang semua kejayaan finansial yang pernah ada itu.

Bagi penduduk Tanjungpinang, kebijakan politik ini membawa dampak multidimensi, yang pahitnya masih terasa hingga kini. Apalagi tak lama setelah itu, menyusul pula kebijakan bidang moneter yang melarang penggunaan mata uang dolar Malaya sebagai alat pembayaran yang sah di Tanjungpinang dan dan seluruh daerah Kepulauan Riau berdasarkan surat Keputusan Presiden RI No. 230 tahun 1963. Habis semua kemewahan itu.

Lalu tiba periode dedolarisasi?

Ya saat itu terjadi masa transisi dengan apa yang disebut dedolarisasi. Tapi ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar 10 bulan. Semuanya berakhir pada tanggal 1 Juli 1964 bersamaan dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden RI No. 3 tahun 1964 tentang penghentian penggunaan uang KR [Kepulauan Riau Rupiah] dan dimulainya penggunaan mata uang Rupiah: sama  seperti yang digunakan pada daerah lain di Republik Indonesia.

Tapi, ketika sudah dilarang, bukankah dolar Malaya masih bisa dipakai di Singapura dan Malaysia? Mereka masih bisa menggunakan dolar itu di sana?

Iya. Tapi tidak lagi banyak orang yang mau menyimpan dolar Malaya. Karena berakhirnya zaman dolar bagaikan sebuah ‘bencana’ bagi penduduk Tajungpinang ketika itu. Tak sedikit pula yang ‘terguncang’ karena tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah kenyataan: ketika uang yang banyak jadi sedikit.

Sebegitu bencanakah kebijakan itu?

Benar sekali. Sampai-sampai mungkin susah dinalar oleh orang zaman itu. Segala sesuatu  yang terjadi tak mampu dicerna dan dipahami oleh pikiran yang galau. Ada jarak yang memisahkan di antara apa yang dipikirkan dengan kenyataan yang sedang dihadapi. Akhirnya yang muncul adalah mitos.

Pulau Paku yang gersang di Tanjungpinang. (foto: panoramio.com)

Mitos? Tentang apa itu?

Kebetulan pula, bersaman dengan berakhirnya zaman dollar yang penuh dengan kemewahan dan kemakmuran itu, sebatang pohon perpat atau perepat (bruguiera sp.) yang tumbuh di Pulau Paku (sebuah pulau kecil, tepatnya beting pasir, antara Tanjungpinang dan Pulau Penyengat. Sebuah pulau ‘keramat’ tempat kapal induk VOC luluh-lantak oleh serangan Raja Haji dalam perang Riau 6 Kanuari 1784) mati tak bertaruk atau tak bertunas lagi.

Kejadian itu dipandang sebagai suatu yang janggal, tak biasa. Ketika itulah muncul sebuah mitos. Penduduk Tanjungpinang mengaitkan kemerosotan ekonomi dan perekonomian di Tanjungpinang dengan matinya pokok perpat di Pulau Paku itu. Konon, setelah itu tersebarlah cerita yang hingga kini masih menjadi buah-bibir: bahwa Tanjungpinang akan kembali makmur seperti zaman dolar apabila pokok perpat di Pulau Paku kembali bertaruk muda.

Akankah?***

Baca Juga:

Gebyar Zaman Dolar di Tanjungpinang

Ketika Dolar Dihapuskan

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan