2Sastra Melayu: Reproduksi Kreatif

Hikayat Seri Rama (Foto: http://library.lontar.org/)

Hamba dengar ada hikayat Melayu dibawa orang dari Goa, barang kita perbaiki kiranya dengan istiadatnya supaya diketahui oleh segala anak cucu kita yang kemudian daripada kita, dan boleh diingatkannya oleh segala mereka itu, syahdan adalah beroleh faedah ia daripadanya… [Dari “Mukaddimah” Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu)]

Kutipan di atas secara ringkas membayangkan bahwa penciptaan teks dalam tradisi tulis Melayu merupakan sebuah proses reproduktif, melahirkan kembali, yang pengertiannya maktub ke dalam istilah-istilah ‘mengarang’, ‘menggubah’, ‘menyusun’, dan sejenisnya. Teks sebagai tenunan tanda (bahasa) dan makna dimasukkan ke dalam proses pembacaan untuk ‘diperbaiki’, dalam arti disesuaikan dengan konteks ruang dan waktu: dari ‘sana’ ke ‘sini’, dari ‘dulu’ ke ‘kini’, dari ‘mereka’ ke ‘kita’. Sumber teks bisa dari manapun: ‘hikayat Melayu dari Goa’ untuk penciptaan Sulalatus Salatin, cerita-cerita wayang purwa dan Panji Jawa untuk penciptaan kisah-kisah Mahabarata (seperti Hikayat Bomakawya) dan Ramayana (seperti Hikayat Seri Rama), serta ratusan teks roman Panji Melayu (seperti Syair Ken Tambuhan dan Panji Kuda Semirang), roman dan epik timur tengah sebagai sumber penciptaan berbagai hikayat dan syair berlatar timur tengah, seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Hanafiyah, Hikayat (dan) Syair Raja Damsyik, Syair Saudagar Bodoh, dll.

Meskipun bersumber dari kebudayaan ‘lain’, teks-teks itu tetap tampil dalam nuansa Melayu yang kental, yang menyiratkan kesadaran dan kepakaran pengarang tentang pekerjaannya: mengurai dan menenun kembali makna-makna yang ada dan yang diadakan (perbaruan makna). Penggunaan aneka sumber itu menegaskan pula kesadaran pada hakikat keterbukaan Melayu. Alih-alih mengelak, para pengarang Melayu masa lampau justru merenangi ‘kelainan-kelainan’ dalam hubungan dialogis dan mengajak khalayaknya menikmati pengembaraan tersebut.

Siapakah para pengarang itu? Kebanyakan mereka tinggal di istana, tidak bernama, dan hanya membekaskan jejak identitas dalam prolog-prolog teks mereka, yang dapat dikelompokkan ke dalam sebutan-sebutan: dalang atau dagang. Bila menyebut dirinya dalang, maka ia adalah narator yang percaya diri, dan karangannya dinyatakannya untuk menghibur: pelupaan hati yang lara. Bila menyebut dirinya dagang (sebutan lainnya: musafir, fakir, gharib), maka ia tampil sebagai narator yang bimbang, hamba yang dha’if di hadapan Maha Pencipta, dan karya-karyanya menghala pada faedah peringatan dan pendidikan (lihat G.L. Koster, Mengembara di Taman-taman yang Menggoda, KITLV dan Gurindam Press, 2011).

Dalang dan dagang adalah figur yang sebati dengan pengertian-pengertian pengembara yang mengarungi lautan tanda dan makna. Wajarlah mereka selalu merasa dirundung nestapa: berjarak dari kenyataan-kenyataan agar dapat melihat lebih jelas kenyataan-kenyataan itu sendiri, menyuling untuk kemudian menyisipkannya ke dalam teks-teks yang diadakan atau dikarangnya, untuk menggapai matlamat indah dan berfaedah. Tanpa keindahan dan keberfaedahan, mereka merasa seperti mengkhianati harapan khalayak, yaitu sekelompok orang yang berkumpul untuk mendengarkan karya mereka dibacakan.

Demikianlah pengarang dalam pusaran awal perkembangan dan kebangkitan tradisi tulis Melayu adalah para pencari, penyimak, dan penafsir gejala-gejala yang selalu berubah. Kepengarangan pula adalah ihwal menggubal gejala-gejala ke dalam kenyataan tekstual, yang dipersembahkan sebagai pelipur lara dunia atau peringatan dan pengajaran. Teks-teks mereka wujud dalam ribuan manuskrip, dalam berbagai versi dan varian dengan kekhasannya masing-masing, yang terbentuk oleh konteks ruang, waktu, dan pengalaman pribadi pengarang di dalam ideologi lingkungannya.

Tinggalkan Balasan