FESTIVAL Sastra Internasional Gunung Bintan (FSIGB) yang diselenggarakan pada September—Desember 2018 telah menjulangkan kembali nama Bintan, salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau. Apakah yang menarik tentang Negeri Bintan itu sehingga budayawan dan sastrawan ternama H. Rida K Liamsi, M.B.A. dan kawan-kawan sampai menyelenggarakan program bertaraf internasional di daerah itu? Untuk mengetahui perihal Bintan, kita dapat berkonsultasi, antara lain, dengan Raja Ali Haji rahimahullah melalui karya kamus ekabahasa beliau Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Berikut ini pemeriannya.

“Bintan yaitu di dalam daerah Negeri Riau [tentulah maksudnya Riau dalam konteks ketika Raja Ali Haji menulis karyanya itu, yang sekarang kita kenal sebagai Kepulauan Riau, HAM], satu pulau yang besar daripada segala pulau-pulau di dalam daerah Riau. Adalah ia bergunung yang lekuk di tengah-tengahnya. Adalah rajanya asalnya Wan Seri Beni namanya, yaitu perempuan. Kemudian, datang Raja Tribuana dari Palembang, diperbuatnya anak angkat. Maka, diserahkannya Negeri Riau itu dengan segala takluk daerahnya kepada Raja Seri Tribuana itu. Kemudian Raja Seri Tribuana itulah yang memperbuat Negeri Singapura, dan anaknya menggantikan dia yang berpindah ke Melaka, dan balik ke Johor semula, lalu ke Riau ke Bintan semula. Dialah asalnya Raja Melayu sebelah Johor dan sebelah tanah-tanah Melayu; anak-cucunyalah menjadi raja sampai masa kepada membuat kamus bahasa ini,” (Haji 1958).

Di dalam karya beliau bersama ayahanda beliau Raja Ahmad Engku Haji Tua, yakni Tuhfat al-Nafis (1865), dijelaskan bahwa Raja Seri Tribuana datang ke Bintan bersama Demang Lebar Daun. Orang yang disebutkan terakhir itu tak lain tak bukan adalah Raja Palembang yang menjadi mertua Seri Tribuana.

Dalam suatu versi Sejarah Melayu disebutkan bahwa Seri Tribuana bernama asli Seri Nila Pahlawan dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Beliau turun ke Bukit Seguntang Mahameru bersama dua saudaranya, Seri Nila Utama dan Seri Krishna Pandita. Kala itu Palembang diperintah oleh seorang raja yang bernama Demang Lebar Daun.

Tatkala mendengar berita ada anak raja besar keturunan Iskandar Zulkarnain turun ke Bukit Seguntang, Raja Demang Lebar Daun segera menemuinya untuk mendapatkan berkat kebesaran anak raja itu. Nila Pahlawan, kemudian, dinikahkan dengan putri Demang Lebar Daun yang bernama Wan Sendari. Baginda kemudian diangkat menjadi Raja Palembang menggantikan Demang Lebar Daun setelah keduanya mengucapkan sumpah setia. Setelah menjadi Raja Palembang, Seri Nila Pahlawan menggunakan gelar Seri Maharaja Sang Sapurba Paduka Seri Trimurti Tribuana. Dalam versi lain Baginda disebut Suparba Seri Tribuana atau Seri Tribuana atau Sang Sapurba saja.

Seri Nila Pahlawan atau Sang Sapurba atau Seri Tribuana dikaruniai empat orang anak yaitu Sang Maniaka, Sang Nila Utama, Puteri Candra Dewi, dan Puteri Seri Dewi atau Puteri Mengindra Dewi. Karena diserang Majapahit pada abad ke-13, Baginda dan keluarga berhijrah ke Bintan dan mangkat pun di Bintan.

Sang Nila Utama menggantikan ayahndanya menjadi raja. Ketika ditabalkan menjadi raja, Baginda memakai gelar Seri Maharaja Sang Utama Parameswara Batara Seri Tribuana. Bagindalah, kemudian, yang memindahkan pusat pemerintahan ke Temasik, yang lalu diberinya nama baru Singapura pada 1324.

 

Ada beberapa data yang bercanggah (bertentangan) sekitar sejarah Kerajaan Bintan seperti yang diperikan di atas. Percanggahan itu meliputi tokoh dan peristiwanya.

Pertama, soal tokoh Sang Sapurba. Semua versi Sejarah Melayu menyebut nama ini. Selain itu, Baginda juga dikenal dengan nama Suparba Seri Tribuana, Seri Tribuana, atau Sang Nila Utama. Raja Ali Haji dalam kedua karya beliau  yang disebutkan di atas hanya menyebutkan nama Seri Tribuana, tak disebutkan Sang Sapurba. Tokoh inilah yang dijadikan anak angkat oleh Wan Seri Beni, Raja Bintan, bahkan dinikahkan dengan Puteri Bintan, anak Wan Seri Beni dan mendiang suaminya Raja Bintan, Asyhar Aya.

Versi lain menyebutkan bahwa Sang Sapurba atau Seri Tribuana berbeda dengan Sang Nila Utama. Nama yang disebutkan terakhir itu dikatakan adalah putra kedua Sang Sapurba, yang kemudian menggantikan ayahndanya sebagai Raja Bintan, kemudian lagi memindahkan pusat pemerintahan ke Temasik atau Singapura, sedangkan Sang Sapurba atau Seri Tribuana wafat di Bintan. Padahal, menurut Raja Ali Haji Seri Tribuana wafat di Singapura.

Berhubung dengan percanggahan tentang tokoh itu, versi Raja Ali Haji dan yang selari dengan itu lebih meyakinkan. Pasalnya, Sang Sapurba atau Seri Tribuana atau Sang Nila Utama tak berada lama di Bintan, lalu Baginda membuka Singapura dan meninggal di sana.

Kedua, ada yang mengatakan bahwa Raja Melayu Palembang dan keluarganya itu sampai di Bintan sekitar 1158. Ada pula yang menyebutkan bahwa mereka berpindah setelah Sriwijaya diserang Majapahit pada abad ke-13.

Kedua pendapat itu kurang sabit di akal. Pasalnya adalah (a) pada 1158 Sriwijaya masih menjadi Kemaharajaan Melayu yang besar dan kuat, ia baru melemah satu abad lebih kemudian; lagi pula, jarak waktu ketibaan di Bintan dan dibukanya Singapura sangat lama yaitu 166 tahun yaitu pada 1324 M.; (b) pada akhir abad ke-13 Majapahit baru berdiri (1293 M.) sehingga belum menjadi kerajaan yang besar dan kuat, lagi pula Majapahit baru merebut Singapura pada 1376 M. ketika piut Sang Sapurba berkuasa yaitu Raja Parameswara atau Iskandar Syah. Majapahit baru mengalahkan Sriwijaya setahun kemudian yaitu pada 1377 sehingga Sriwijaya yang telah lemah dan terpecah-pecah itu betul-betul jatuh.

Lebih sabit di akal kedatangan keluarga Diraja Palembang ke Bintan sekitar abad ke-13 (setelah 1272 M.) yaitu setelah Sriwijaya dikalahkan oleh Kerajaan Tumapel-Singosari. Dari Kerajaan Singosari itulah memang kemudian didirikan Kerajaan Majapahit setelah mereka dikalahkan oleh Kerajaan Daha. Ketika dikalahkan Singosari, Sriwijaya belum betul-betul runtuh.

Terlepas dari semua percanggahan itu, Kerajaan Bintan bukanlah negeri yang baru. Kerajaan ini diperkirakan telah ada sekitar 300—200 S.M. Kerajaan Melayu-Hindu Bintan itu berdiri bersamaan dengan kerajaan-kerajaan merdeka kala itu seperti Kerajaan Tarumanegara (Jawa Barat), Kalingga (Jawa), Sriwijaya (Sumatera Tengah), Pasai (Aceh), Langkasuka (Kedah, Malaysia), Patani (Thailand Selatan), Inderapura (Pahang, Malaysia), dan Temasik (Singapura).

Empat ratus sampai lima ratus tahun kemudian yaitu sekitar 200 M. beberapa di antara kerajaan yang berdiri hampir bersamaan itu menjadi besar dan kuat. Kerajaan yang menjadi besar itu adalah Tarumanegara, Kalingga, Langkasuka, dan Sriwijaya. Kerajaan Tarumanegara dapat menaklukkan Lampung, Inderagiri, Temasik, termasuk Bintan. Sejak itu, Kerajaan Bintan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.

Sriwijaya, yang telah menunjukkan kemajuan sejak abad ke-3, memasuki abad ke-7 betul-betul berkembang pesat. Pada masa itu Sriwijaya telah menguasai Tarumanegara dengan semua daerah takluknya, seluruh Sumatera, Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, Kalimantan, Maluku, sampai ke Kepulauan Filipina. Pendek kata, Sriwijaya melesat menjadi Kemaharajaan Melayu Raya di Asia Tenggara. Dengan demikian, Kerajaan Bintan berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.

Bintan menjadi kerajaan merdeka kembali ketika Sriwijaya diambang kehancuran oleh perang saudara. Antara lain, Sriwijaya dapat dikalahkan oleh Kerajaan Tumapel-Singosari pada 1272 M. Tak lama setelah itulah keluarga Diraja Sang Sapurba atau Seri Tribuana datang dari Bukit Seguntang Mahameru, Palembang, ke Bintan dan dijadikan Raja Bintan oleh Ratu Wan Seri Beni setelah dijadikan anak angkat dan menantu oleh raja perempuan itu. Atas izin Wan Seri Beni jualah, Seri Tribuana memindahkan pusat pemerintahan ke Singapura pada 1324 karena kala itu Temasik menjadi bagian dari Kerajaan Bintan.

Pada 1292 Marcopolo, seorang pelaut Venesia, sempat singgah di Kerajaan Bintan-Temasik. Beliau mendapati Bintan sebagai bandar yang ramai dan makmur. Rakyatnya pun hidup sejahtera.

Ketika Singapura ditaklukkan oleh Majapahit pada 1376 M., Bintan kembali terjajah. Setelah Majapahit jatuh, Bintan berada di bawah Kerajaan Melaka karena Melaka pula yang menjadi kerajaan besar di Asia Tenggara. Bahkan, yang mendirikan Kerajaan Melaka tak lain tak bukan adalah keturunan kelima Seri Tribuana, yakni Sultan Iskandar Syah, yang merupakan keturunan campuran Palembang (Sriwijaya) dan Bintan. Memang, sejak pusat pemerintahannya dipindahkan ke Singapura, Bintan hanya dipimpin oleh pejabat setingkat Datuk Kaya, bukan lagi sultan.

Pada masa Kerajaan Melaka itulah putra-putra Kepulauan Riau yang mulanya berkhidmat di Bintan kembali bersinar. Ketika Melaka diperintahi oleh Raja Abdullah atau Sultan Mansyur Syah (1458—1477) melejitlah nama-nama Laksemana Hang Tuah (putra yang berasal dari Sungai Duyung, Lingga, dan sahabat-sahabatnya Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, dan Hang Kasturi. Bahkan, karena begitu terkenal dan harum namanya, mereka diperakui oleh banyak daerah lain bahkan negara lain, terutama Laksemana Hang Tuah, konon berasal dari daerah dan negara yang mengakuinya itu, padahal jelas sejatinya mereka adalah putra-putra terbaik Kerajaan Bintan (kepulauan Riau) kala itu.

Masa Sultan Mansyur Syah itu penjagaan Bintan, seluruh Kepulauan Riau, dan Singapura diserahkan tanggung jawabnya kepada Laksemana Hang Tuah. Setelah beliau bersara (purnabakti), tugas itu diteruskan kepada menantunya dan putra Hang Jebat, yakni Hang Nadim, dan seterusnya kepada anak-cucu mereka. Generasi anak-cucu Hang Tuah dan Hang Jebat itu diberi gelar Datuk Kaya dan Datuk Petinggi. Merekalah yang menjadi petinggi Bintan, bahkan gelar jabatannya telah diberlakukan sejak pusat Kerajaan Bintan-Temasik dipindahkan ke Temasik (Singapura).

Ketika Peringgi atau Portugis baru menjejakkan kakinya di Melaka pada 1509, mereka mendapati Kemaharajaan Melayu Melaka memang luar biasa perkembangannya. Negerinya ramai dan berlimpah kemakmuran. Bersamaan dengan itu raswah (korupsi) pun sangat semarak. Kesemuanya tertera dalam berita-berita Cina dan kronik Portugis. Dalam catatannya, Tome Pires menulis, “Siapa yang memiliki Melaka, dialah yang menentukan hidup-matinya Venesia.”

Tak diragukan lagi, itulah puncanya Melaka diserang Peringgi pada 25 Juli 1511. Pihak penceroboh itu mengerahkan kekuatan 1.600 serdadu dengan 15 kapal besar yang dipimpin oleh Admiral D’Alburqueque. Namun, tak mudah untuk menaklukkan Melaka. Baru pada 15 Agustus tahun itu juga Melaka dapat dikuasai oleh musuh setelah mereka mendatangkan bantuan dari jajahan Portugis di Goa (India).

Roboh sudah Kota Melaka. Sultan Mahmud, Sultan terakhir Melaka, memindahkan pusat pemerintahan yang juga menjadi benteng pertahanan. Ke mana lagi kalau bukan ke Bintan, yaitu di Kopak yang diperkuat dengan benteng pelindung di Kota Kara. Dari situlah Laksemana Hang Nadim melancarkan serangan terhadap Portugis di Melaka sehingga Peringgi harus menderita kerugian besar.

Pada Oktober 1512 Kota Kara diserang Portugis di bawah pimpinan Jorge d’Alburqueque dan Jorge de Brito dengan kekuatan 600 serdadu. Tak puas dengan itu, penjajah itu datang lagi pada 1523 dan 1524.

Dalam suatu serangan penghabisan, Kota Kara dihancurkan dan Kopak dibumihanguskan. Itu dilakukan setelah lebih dulu Pedo Mascarenhas yang memimpin 1.000 serdadu menyerang Bengkalis, salah satu tempat pertahanan Sultan Mahmud, pada 23 Oktober 1526. Dari sana mereka terus ke Pulau Bulang, dan akhirnya ke Bintan.

Sultan Mahmud beredar ke Kampar. Dan, pada 1528 Baginda mangkat di Pekan Tua, Pelalawan, kembali ke rahmatullah. Melaka jatuh sebetulnya bukan karena Peringgi terlalu kuat. Akan tetapi, kekeroposan di dalam negerilah—terutama karena perilaku penguasanya sehingga rakyat kecewa—yang menyebabkan Kerajaan Melayu itu roboh.

Terdahulu telah disebutkan bahwa ketika akan dijadikan raja, Sang Sapurba Taramberi Tribuana atau Seri Tribuana dengan Demang Lebar Daun mengucapkan sumpah setia. Sumpah itu dikenal dengan sebutan Sumpah Setia Melayu (lihat Sulalat al-Salatin atau Sejarah Melayu tulisan Tun Muhammad Seri Lanang).

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Adapun Tuanku segala anak-cucu patik sedia jadi hamba ke bawah duli Yang Dipertuan; hendaklah ia diperbaiki oleh anak-cucu duli Tuanku. Dan, ia berdosa, sebesar-besar dosanya pun, jangan ia difadhihatkan, dinista dengan kata yang jahat; jikalau besar dosanya dibunuh, itu pun jikalau berlaku pada hukum syarak.”

Maka titah Sang Sapuba, “Hendaklah pada akhir zaman kelak anak-cucu Bapa hamba jangan durhaka pada anak-cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun.”

Maka sembah Demang Lebar Daun, “Baiklah Tuanku, tetapi jikalau anak buah Tuanku dahulu mengubahkan dia, maka anak-cucu patik pun mengubahkanlah.”

Maka titah Seri Tri Buana,”Baiklah,kabullah hamba akan waad itu.”

Maka keduanya pun bersumpah-sumpahlah, barang siapa mengubahkan perjanjiannya itu dibalik(kan) Allah subhanahu wa taala bumbungan rumahnya ke bawah, kaki tiangnya ke atas.

Dengan bahasa kita sekarang, inti Sumpah Setia Melayu itu, “Rakyat tak boleh mendurhaka kepada raja, tetapi raja pun tak boleh mempermalukan rakyat.” Pelbagai penafsiran boleh dibuat tentang makna yang dikandung oleh Sumpah Setia itu selain arti harfiahnya.

Raja Ali Haji memang tak menyebutkan perihal Sumpah Setia itu di dalam karya-karya beliau. Akan tetapi, di dalam Tuhfat al-Nafis jelas-jelas beliau mengatakan mengapa peristiwa-peristiwa ini terjadi: Singapura dilanggar todak, Singapura ditaklukkan oleh Majapahit, dan Melaka dilanggar Peringgi. Penulis produktif lagi arif itu secara tersirat hendak mengingatkan kita akan saktinya Sumpah Setia Melayu itu. Maknanya, jika dilanggar, sesiapa pun yang melakukannya akan ditimpa padah yang amat buruk.

Putra-putra perkasa Bintan yang melegenda, Hang Tuah, Hang Jebat, dan yang paling menggemparkan Laksemana Bintan atau Laksemana Megat Seri Rama mempertegaskan bahwa Sumpah Setia itu memang tak boleh dilanggar. Laksemana Bintan terpaksa merekamkan sejarah pedih dan pilu: Sultan Mahmud Mangkat Dijulang pada 1699.

Pasal apa? Apa lagi kalau bukan kekejaman dan ketakadilan penguasa. Sumpah Setia telah dilanggar, maka terimalah padahnya. Jika Jebat bertindak hanya setakat aruk, maka Megat Seri Rama mengkhatamkannya dengan amuk! Maka, berhati-hatilah kalau Melayu telah merajuk. Sampai saat dan ketikanya, ia boleh meningkat menjadi aruk. Jika titik didihnya sampai pada derajat yang paling radikal,  ianya akan membakar amuk.

Masih bermaknakah kesemuanya itu bagi kita pada hari ini? Ada baiknya kita merenung secara seksama sebelum dibalikkan Allah SWT bumbungan rumah ke bawah, kaki tiangnya ke atas seperti direkamkan oleh Sumpah Setia Melayu.***

Tinggalkan Balasan