Sampul buku Syair Raksi dan syair-syair pengiringnya edisi cetak litografi oleh Haji Muhammad Amin Cap, Singapura, tahun 1915. (foto: aswandi syahri)

Jodoh memang berada di tangan Tuhan, dan ‘penuh misteri’. Namun demikian telah menjadi resam manusia untuk selalu berikhtiar meraih suatu terbaik dalam sebuah perjodohan (ikatan syah laki-laki dan perempuan), yang muaranya adalah bahtera rumah tangga yang bahagia.

Oleh karena itu lah, dalam kebudayaan mana pun di bentangan jagat raya ini,  terdapat ‘kaidah’ tertentu untuk ‘merekayasa’ agar sebuah perjodohan yang berlanjut kepada sebuah  pernikahan menghasil sesuatu yang terbaik pada akhirnya. Dalam ‘kaidah’ itu, pertanyaan pokoknya bukanlah siapa jodoh si A atau si B? Sebaliknya, yang menjadi pokok persoalannya adalah: Apakah bila si A berjodoh dengan si B (menjadi pasangan suami istri) maka hidup mereka akan bahagia atau sebaliknya?

Dalam tatanan ‘kaidah’ itu, maka kelahiran seorang anak manusia (laki dan perempuan) diyakini berada dibawah naungan sekumpulan bintang atau tanda-tanda zodiak (lingkaran khayal di cakrawala yang dibagi menjadi dua belas tanda perbintangan) yang disebut rasi dalam kebudayaan Hindu, dan dikenal juga dengan sebutan mintakulburuj dalam kebudayaan Islam.

Di belahan benua Eropa pada masa lalu, kerja hitung-menghitung rasi atau zodiak ini dilakukan oleh para astrologer yang tunak dalam ilmu dan dunia horoscope. Sementara itu, di Alam Melayu, perhitungan astrologi yang disebut raksi ini awalnya bagian dari pekerjaan yang menjadi monopoli mereka-mereka yang disebut sebagai ahli-nujum: para peramal dalam istana raja.

Namun demikian, memasuki masa-masa akhir abad 19, perhitungan raksi atau rasi yang intinya adalah serangkaian kaidah dalam meramal dan mencari keseimbangan dan keserasian sepasang insan (laki dan perempuan) berdasarkan sekumpulan bintang-bintang, zodiak, raksi, atau rasi yang menaunginya, tidak lagi menjadi kerja-kerja istimewa dan monopoli para  ahli-nujum saja.

Menghitung dan meramal raksi atau keserasian lahir batin sepasang insan, apabila berjodoh dan berlanjut ke pelaminan, telah menjadi kerja-kerja yang ‘popular’ dan dapat dilakukan oleh siapa saja orang Melayu yang mampu membaca dan menulis dalam huruf jawi. Hal ini dimungkinkan dengan terbitnya sejumlah buku dan kitab yang dapat menuntun serta menunjukkan kaidah-kaidah dalam meramal masa depan perjodohan sepasang insan.

Kandungan isi kitab dan manuskrip tentang hal ini bukan hanya mudah dipraktekkan, namun juga enak dibaca karena ditulis dalam format syair yang lazim digunakan sebagai media penyampai gagasan-gagasan tradisi tulis Melayu lama,  yang indah bila membacanya sambil dinyanyikan atau disyairkan.

Dalam sejarah bibliografi buku-buku Melayu cetakan lama, kitab tentang hal ikhwal ramal-meramal “nasib” ini muncul untuk pertama kali sebagai konsumsi publik pada akhir tahun 1887 atau awal tahun 1888, di Singapura (Ian Proudfoot, 1992:440): ditandai dengan diterbitkannya buku Syair Raksian atau Syair Peraksian oleh Muhammad Said di Kampung Gelam, Singapura.

Selanjutnya, pada tahun 1903 (Ian Proudfoot, 1992:440), sebuah buku serupa dengan judul Syair Raksi, kembali muncul, dan sekali lagi  atas usaha penerbit dan pencetak Haji Muhammad Said di Kampung Gelam, Singapura. Pada tahun yang sama, penerbit Muhammad Said juga mencetak 1000 copy buku sejenis dengan judul “Raxi” yang disusun oleh seorang bernama Haji Ibrahim (tak ada informasi lebih lanjut tentang Haji Ibrahim ini! Apakah pengarangnya Haji Ibrahim yang berasal dari Pulau Penyengat?).

Pada tahun 1915, satu lagi buku Syair Raksi, yang disebut oleh Hans Overbeck dalam sebuah sebuah artikelnya tentang syair itu  hadir “sebagai sebuah edisi baru dari satu karya lama [yang pernah] dijelaskan dalam katalog-katalog lama para penerbit buku di Singapura”: dicetak dan diterbitkan oleh Haji Muhammad Amin Cap, yang beralamat di Bagdad Street No.7, Singapura  (Hans Overbeck, “Shaer Raksi” dalam JMBRAS, vol. I, 1923).

Syair Raksi yang menjadi tajuk kutubkhanah untuk jantungmelayu.com kali ini adalah sebuah edisi baru terbitan tahun 1915 yang disebut Hans Overbeck dalam artikelnya. Penulisnya, yang juga dicatat oleh Overbeck, adalah seorang putera jati Riau ( dari Pulau Penyengat) yang bernama Raja Haji Ahmad. Buku yang dicetak secara litografis menggunakan huruf Arab Melayu ini asalnya adalah sebuah manuskrip yang selesai ditulis di Pulau Penyengat Inderasakti pada tahun 1906.

Syair Raksi edisi tahun 1915 ini dijuluki sebagai sebuah ‘karangan baru’. Kebaruannya, mungkin bukan hanya berbeda dari syair sebelumnya, tapi juga karena dirangkaikan dengan sejumlah syair lain sebagai ‘pengiringnya’: Syair Syarah Hari Bulan; Syair Naseht Menjaga Diri Supaya Sempurna; dan Syair Nasehat Jika Bertemu Seorang Supaya Terpelihara Diri.

Alhasil judul syair itu menjadi sangat panjang dan dinyatakan sebagai berikut: “Bahwa inilah syair raksi melihatkan orang laki istri bersahabat diiringi pula dengan syair hari bulan supaya jadi selamat tiap-tiap pekerjaan yang kita perbuat akan dia dan syair nasehat yang boleh diambil ‘itibar dan tauladan karangan baru”.

Syair Raksi, yang menjadi teras utama buku syair ini, adalah sebuah syair yang berisikan ramalan berdasarkan hasil perhitungan sempena melihat apa yang akan terjadi bila seorang laki-laki bernama A menikah dengan seorang perempuan bernama B. Hasil perhitungan dalam bentuk angka-angka itu diperoleh setelah huruf-huruf dalam rangkaian nama pasangan tersebut diformulasikan ke dalam nilai atau angka tertentu yang telah diatur dalam sebuah tabel. Kalkulasi dari angka-angka tersebut akan menghasilkan satu angka tertentu bagi nama si laki-laki dan si perempuan yang fatwanya (penjelasan ramalannya) dinyatakan dalam untaian bait-bait syair.

Sebagai ilustrasi, dalam Syair Raksi edisi tahun 1915 dicontohkan bahwa bila seorang bernama Hasan menikah dengan seorang bernama Mariam, maka hasil perhitungan angka-angka yang terkandung dalam nilai huruf yang membangun nama masing-masingnya akan menghasilkan angka 1 untuk Hasan dan angka 2 untuk Mariam.

Bagian awal Syair Raksi dan tabel nilai huruf dalam abjad jawi (Arab Melayu) yang dipergunakan yang dipergunakan dalam merasi (meramal) jodoh seseorang.
Menurut buku Syair Raksi edisi tahun 1915. (foto:aswandi sahri)

Selanjutnya dinyatakan pula  bahwasanya perpaduan dua angka ini, 1 dan 2, yang menjadi raksi Hasan dan Mariam, adalah perpaduan raksi yang baik: ditafsirkan sebagai

sebuah ikatan perjodohan yang tak dapat dipisahkan, seperti ikatan antara Adam dan Hawa. Dalam bait syairnya , raksi pasangan dengan angka akhir perhitungan 1 dan dua ini, difatwakan (dijelaskan) sebagai berikut:

 

Inilah raksinya satu dan dua

Terlalu baik raksinya kedua

Kepada yang lain tiada kecewa

Umpama Adam dengan Siti Hawa

 

Semua kemungkinan yang akan terjadi jika seorang laki-laki berna A menikah dengan perempuan bernama B difatwakan dalam format syair. Apa pun hasilnya, sangat tergantung kepada nilai huruf yang terkandung pada nama keduanya. Hasil dapat Kekal atau tidak. Bisa baik-bisa buruk. Juga bisa bahagia atau celaka. Bisa susah atau bisa senang dan membawa dampak bagi keluarga dan orang sekitarnya: semu itu diramalkan dalam fatwa berformat.

Pada masa kini, tradisi melihat  peruntungan perjodohan ala Syair Raksi ini mungkin tak diamalkan lagi. Namun sisa-sisanya masih dapat dirasakan dan diamati. Paling tidak hal ini terlihat dalam ungkapan ketika mengatakan sepasang suami-istri (si A dan si B) itu sangat se-rasi (se-raksi): yang selalu diumpamakan bagai pinang dibelah dua, seimbang, dan bersesuian dalam segala halnya.***

Artikel SebelumDari Melayu untuk Dunia
Artikel BerikutBintan Negeri Bersejarah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan