“ENTAH berapa kali saya mendengar dari mulut Sutardji Calzoum Bachri (SCB) bahwa teks Sumpah Pemuda 1928 itu adalah puisi, adalah sajak,” tulis saya melalui pesan pendek kepada sahabat saya Abdul Wahab nun berada di sebuah pulau dalam kawasan Selat Melaka. Terbaru, ya amat baru, ketika ia didaulat membacakan sajak oleh Plt Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim sesaat setelah penabalan gelar kehormatan adat Datuk Seri Pujangga Utama oleh Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) kepadanya, hari Rabu, 29 Shafar 1440 bersamaan dengan 7 November 2018.

Waktu itu kembali sedikit  SCB menjelaskan, poetry image dalam teks naskah yang luar biasa tersebut., di antaranya bahwa apa-apa yang menjadi subjek maupun objek di dalam teks itu belum ada dan dibayangkan sebagai suatu kewujudan. Kasarnya apa yang dimaksudkan dengan Indonesia belum ada secara teritorial yang hendak diikat  dalam suatu kesepakatan tertentu untuk kepentingan bersama. Hal ini membedakannya dengan asal-muasal sebutan Indonesia sebagai suatu penamaan dalam peristiwa budaya yang sudah dikumandangkan sejak pertengahan abad ke-19—malahan bukan di kawasan dengan julukan Indonesia itu sendiri, tetapi Singapura.

Kalau hendak dilanjutkan, dapat disebutkan bagaimana gaya bahasa di dalam teks Sumpah Pemuda, hampir mendekati pada kelaziman mantera. Kata maupun frasenya yang berulang-ulang misalnya, mengingatkan kita pada repetisi. Konon, gaya semacam ini dimaksudkan untuk menghadirkan semangat kata-kata yang mampu memberi semacam sugesti kepada pembacanya. Sugesti itu akan berproduksi sebagai suatu tindakan sesuai dengan pemahaman seseorang atau sekelompok orang terhadapnya.

Abdul Wahab memaklumi kalau peristiwa 28 Oktober 1928 itu amat berpengaruh terhadap kemerdekaan RI 17 Agustus 1945, menempias pada kenegaraan Malaysia dan kemudian Singapura. Tetapi memang belum dapat dipastikan, apakah karena puisi Sumpah Pemuda itu yang melecut semangat kebangsaan Indonesia atau faktor lain. Tetapi hubung-kaitnya pastilah erat, diiringi berbagai peristiwa yang mengitarinya.  Termasuklah saat mengamati bahwa salah seorang aktor intelektual kehadiran teks tersebut adalah seorang penyair yakni M. Yamin, bersulang dengan kenyataan dukungan dari berbagai pemuda atas nama apa yang sekarang disebut daerah.

Apalagi kenyataannya kalau bercermin pada berbagai  sumber yang sauk-menyauk berkaitan dengan hal ini, selalu cepat hadir ketika diminta seperti Tengku Pante Kolu di Aceh yang banyak membakar semangat nasionalis di negeri rencong itu dengan Hikayat Perang Sabi-nya. Menggetarkan kalau disebut bagaimana Khansa R.ha, begitu tegar menghadapi kesyahidan empat orang anaknya yang selain dengan pedang terhunus juga menyemburkan puisi-puisi sang emak dari mulut  mereka saat menghadapi musuh.

***

Selanjutnya

Tinggalkan Balasan