DIPADA-padai sajalah akibat sajak secara fisik tersebut disebutkan selintas di atas, karena bukan hal itu yang hendak menjadi matlamat kita sekarang ini. Maka saya kembalikan wacana SCB itu kepada tampuknya yakni capaian sajak yang sebenar–proses bagaimana sesuatu menjadi puisi dan dampaknya sebagai puisi atau sajak.  Bahwa sajak memiliki dampak yang lain dari kepentingan sajak itu sendiri, hal tersebut kiranya dapat dikatakan sebagai suatu ihwal berbeda.

Betapapun demikian, dari contoh teks Sumpah Pemuda itu, akan terlihat peranan penyair di dalam suatu peristiwa yang bersama peristiwa-peristiwa lain mewujudkan suatu tonggak peradaban. Sudah berkali-kali disebutkan bahwa penyair M, Yamin amat berperan dalam teks tersebut, sekaligus hendak memosisikan penyair di dalamnya. Tapi sumbangan penyair di dalam teks ini, tidak saja membuahkan suatu sikap yang dinamis yakni suatu tindakan, tetapi juga yang kini dapat dinilai sebagai suatu pencatatan. Apa yang dikatakan Hasan Junus (almarhum) bahwa sastrawan yang tentu juga penyair sebagai pencatat sejarah terdepan, juga harus ditambah dengan kenyataan sebagai pencipta sejarah itu sendiri.

Cuma, mengapa penilaian teks Sumpah Pemuda sebagai sajak tidak berlaku secara massal, bahkan terkesan eksklusif dari seseorang bernama SCB,? Jawabnyaa yang sederhana adalah karena Sumpah Pemuda memang tidak diniatkan untuk itu. Tetapi yang lebih penting adalah sejarah membuktikan apa yang dicantumkan dalam teks itu sendiri. Sesuatu yang sudah dibuktikan sejarah, akan menemui makna yang cenderung obsolut. Oleh karena itu pula, bagi penyair, sejarah dapat berlaku sebagai kawan sekaligus musuh.

***

BEGINI ceritanya, tulis saya kepada Wahab, juga melalui pesan pendek telepon genggam. Boleh dikatakan, tidak ada sesuatu di dunia ini  terbebas dari sejarah, sebagai suatu rentetan peristiwa dengan sifat statis maupun dinamis yang dapat dihimpun dalam apa yang disebut data. Muhammad Yusof Hashim dalam bukunya Pensejarahan Melayu (1992; 1) mengungkapkan bahwa pada dasarnya sejarah adalah catatan-catatan peristiwa dan peristiwa-peristiwa itu sendiri, saling mempunyai pertalian yang relatif. Sesuatu peristiwa yang terjadi itu dicatatkan dan jadilah peristiwa tersebut sebagai sejarah. Dalam fenomena ini, peristiwa dan catatan peristiwa berkembang dan membentuk perkara-perkara selanjutnya.

Dengan demikian sejarah merambah semua kehidupan. Sebut saja misalnya dalam politik. Menurut Miriam Budiardjo (2014; 25-26), sejarah merupakan alat yang paling penting bagi ilmu politik karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa lampau untuk diolah lebih lanjut. Perbedaan pandangan antara ahli sejarah dan sarjana politik ialah bahwa ahli sejarah selalu meneropong masa yang lampau dan inilah yang menjadi tujuannya, sedangkan sarjana ilmu politik biasanya lebih melihat ke depan. Untuk Indonesia, mempelajari sejarah dunia dan Indonesia khususnya merupakan suatu keharusan. Sejarah dipelajari untuk ditarik pelajarannya agar dalam menyusun masa depan, tidak terbentur pada kesalahan-kesalahan yang sama.

Tak berlebihan kalau kemudian Wahab merasa bahwa anjuran muhasabah, menghisab diri, juga tak lain dari kehadiran sejarah dalam kehidupan. Seseorang dianjurkan apa yang telah dibuatnya, bahkan dalam hitungan hari dan jam. Apa-apa yang sudah dibuatnya pada masa lalu yang jauh maupun dekat, kemudian mengambil pelajaran darinya untuk tidak diulangi pada masa depan, malah dituntut untuk diperbaiki. Akan dibacanya catatan-catatan hitam yang kadang kala lebih banyak menonjol, sebab catatan putih berupa kebaikan-kebaikan diri memang dianjurkan untuk tidak dikenang. Cuma catatan-catatan hitam itu senantiasa pula disandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan lain, bahkan bisa menjadi obat tersendiri.

Di sisi lain, rumusan sejarah memang memang beragam. Banyak dicibir misalnya, ketika orang membandingkan terminologi Sulalatus Salatin karya Tun Srilanang dengan Tuhfat al-Nafis  karya Raja Ali Haji. Buku pertama konon amat jauh dari maksud sejarah karena tidak memisahkan antara fakta dengan mitos bahkan dongeng yang di dalamnya termasuk saat membahas Hang Tuah. Sedangkan buku kedua mendekati kajian sejarah antara lain dengan penyertaan waktu kejadian, bahkan menyelipkan satu kata “konon” sebagai sikap meragukan sesuatu yang disebut fakta.

Nyatanya pula dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Melayu, fakta dan mitos bukanlah bagian yang dapat dipisahkan. Untuk membuktikannya adalah suatu perkara lain. Agaknya karena begitu kuat kondisi ini wujud, kajian sejarah modern tidak lagi memandang remeh terhadap mitos maupun dongeng sebagai bagian dari sejarah walaupun dengan syarat sebagai suatu ingatan kolektif—beberapa kelompok masyarakat berpandangan sama terhadap suatu subjek.  Padahal sejarah pun pada hakikatnya diingat-ingat, dicari-cari, bahkan diciptakan.

***

Selanjutnya

1
2
3
Artikel SebelumPemimpin Negarawan Rakyat Tertawan
Artikel BerikutKepatutan Gelar Adat

Tinggalkan Balasan