“DAH tentulah Hab, penyair juga berada dalam lanskap sejarah demikian,” tulis saya kepada Wahab. Ia menghadapi peristiwa-peristiwa, ia menghadapi catatan-catatan. Ia membelek-belek peristiwa apakah berkaitan langsung dengan sajak atau tidak. Hal ini sejalan dengan hakikat sajak yang sebenarnya sebagai suatu pengorganisasian data untuk dijadikan simbol secara konkrit atau untuk dikonkritkan. Pengkonkritan simbol itu pulalah yang membedakannya dengan prosa fiksi yang merupakan upaya mengorganisir data untuk dijadikan simbol secara asbtrak.

SCB dalam acara penabalan gelar adat kehormatan yang sudah ditulis pada paragraf pertama dari tulisan ini juga kembali menegaskan bahwa memang penyair tidak menulis di atas kertas kosong, tetapi di atas tulisan lain berupa sejarah, mitos, dan sejenis dengannya. Ia barangkali mempertebal suatu tulisan, entah sekata, sekalimat, dan separagraf. Berbancuh dengan berbagai pengalaman, bahkan bakat, penyair mencipta berdasarkan ciptaan terdahulu. Inilah agaknya apa yang disebut sebagai hakikat ciptaan manusia yakni pasti berawal dan berakhir dengan berbagai contoh, sementara Allah mencipta tanpa contoh dan tanpa awal maupun akhir.

Dengan demikian, sajak pun diciptakan berdasarkan data yang tak lain adalah gumpalan peristiwa yang kita sebut sejarah. Jadi sajak atau puisi bukan bual kosong belaka. Ia berhadapan dengan data diri, lingkungan atau segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk sajak-sajak yang lahir dari tangan dan masa berbeda. Inilah yang semuanya dipadupadankan, menerima sekaligus meghindar.

Saya teringat, saat selalu di Jakarta karena tugas sebagai wartawan, sesekali saya berbual dengan penyair Afrizal Malna—suatu pertemuan yang tidak sempat diaksarakan. Dalam suatu kesempatan tahun 90-an, di kantor Kompas, Jalan Palmerah, ia menyebutkan bahwa sajak-sajak sekarang bagai anak haram tanpa diketahui orangtua maupun susur galurnya. Maka sajak muncul dari migrasi kata-kata. Memungkinkan sekali kata-kata berpindah dari satu tempat ke tempat yang tak “dikenalnya” sebelumnya, bahkan barangkali saja terus mencari tempat untuk memosisikan diri.

Cuma saya katakan waktu itu bahwa tidak demikian halnya bagi kami di Riau. Kami tidak dapat melepaskan diri dari tradisi sastra yang sudah terbentuk sambil berusaha untuk menemukan yang lain. Kelak kemudian saya melihat bagaimana kami bisa melepaskan diri dari tradisi tersebut di tengah kegemilangan berbagai hal termasuk melalui karya-karya Raja Ali Haji, Abdurrahman Sidik, Pak Taslim, bahkan Sutardji Calzoum Bachri. Inilah kemudian apa yang dikatakan Sutardji Calzoum Bachri bahwa bagi sastrawan asal Riau (tentu juga Kepulauan Riau) harus berkarya dari puncak, bukan dari bawah. Secara gamblang malahan penyair ini mengatakan, apa pun caranya, nama besar Raja Ali Haji misalnya, akan membayang dalam pikiran mauoun perasaan  seorang sastrawan asal daerah ini ketika ia berkarya.

Tentu kondisi ini bukanlah penyakit dan patut dikeluhkan, tetapi sebagai pelecut krativitas yang nyata. Cuma yang hendak saya katakan di sini adalah seorang penyair mana mungkin melepaskan diri dari karya-karya di sekitarnya, bahkan tentu saja dari segala arah, dunia. Tentu ada suatu kekuatan lain kalau hal itu dilakukan, tetapi juga tidak terlepas dari apa yang ada di sekitarnya itu. Raja Ali Haji di tengah kesuburan pantun dan syair justeru menulis gurindam yang belum dikenal dalam tradisi tulis Melayu waktu itu, tetapi begitu banyak persamaannya dengan bentuk pepatah-petitih atau tradisi lisan Melayu Riau. Belum lagi kenyataan Raja Ali Haji sebagai seorang ulama, sementara pandangan umum mengatakan bahwa gurindam bersumber dari sastra Hindu.

Saya pikir, kenyataan gurindam itu saja merupakan wacana yang menyimpan sejarah berbagai hal, termasuk sejarah kata gurindam itu sendiri. Disebut berasal dari kata dalam bahasa Tamil yakni kirindam, bagi orang Melayu Riau terutama pesisir, dapat bermakna sebagai suatu keadaan jiwa yang remuk, misalnya melihat kelakuan seseorang atau keadaan yang tak sesuai dengan dirinya. Bagaimana terjadi perubahan dari kirindam menjadi gurindam, tentu bukan sesuatu peristiwa kebahasaan yang sederhana. Apalagi melihat kenyataan yang dihadapi saat gurindam itu ditulis Raja Ali Haji.

***

WAHAB menyimpulkan, dengan demikian, selain terlibat aktif dalam sejarah, penyair pun memaparkan sejarah dengan karyanya berupa sajak. “Itu pun kita peroleh dari sejarah,” tulis Wahab.

Pasalnya, lanjut Wahab, mau tak mau sajak yang hadir di tengah khalayak akan wujud sebagai sesuatu. Manusia yang berakal, sebagaimana takdirnya akan berusaha memberi makna terhadap sesuatu itu. Benny H. Hoed (2014), menulis bahwa makna tersebut dapat dicari dalam sejarah sebagaimana dipikirkan oleh pemeluk paham semiotik Piere. Sementara makna dalam sejarah merupakan hasil kumulasi dari waktu ke waktu, dihadapkan pada makna yang muncul secara berurutan dan kumulatif dalam proses waktu.

Bagi sebagian penyair, kenyataan itu barangkali tidak mengenakkan. Puisi kehilangan daya rabaannya karena ia muncul sebagai narasi. Terlebih dari itu pengorganisasian data menjadi simbol untuk dikonkritkan, terburai menjadi pengabstrakan simbol. Ia tidak lagi terdedah bagi berbagai kemungkinan, cenderung menjadi makna tunggal. Oleh karenanya pula, sajak telah menjalankan fungsinya di dalam sosial kemasyarakatan yang penyair tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap apa yang telah diciptakannya sendiri. Malahan bisa jadi, sajak itu menjadi sesuatu yang asing baginya, mungkin juga sebagai musuh tak berkesudahan.

Barangkali Gurjndam Duabelas karya Raja Ali Haji “tersisihkan” ketika teropong sejarah dihadapkan kepadanya. Akan mengemuka bagaimana dalam waktu bersamaan saat karya itu dibuat, Riau makin kehilangan pamornya di kawasan Selat. Perang Riau dan bersambut dengan Traktat London 1824, menyebabkan Riau tidak lagi menarik untuk pembangunan ekonomi, sedangkan Singapura makin menjulang. Tetapi tidak pula dinafikan bagaimana dalam keadaan demikian, kehidupan spritual di Riau makin subur, seolah-olah memparadokkan capaian material dengan rohani. Justeru saat-saat semacam itu pulalah sastra maupun bahasa Melayu dibina di Pulau Penyengat dengan teori dan praktiknya sekaligus—sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup budaya Melayu, bahkan sejak Sriwijaya begitu mekar di Muaratakus.

***

TENTU posisi sejarah yang bisa berlawanan ketika dihadapkan dengan sajak maupun penyair, tak pernah menjadi alasan untuk memudarkan kesejarahan dalam kepenyairan. Pasalnya pasti yakni suatu keniscayaan sebagai makhluk hidup sebagaimana disinggung sedikit banyaknya pada bagian pertengahan di atas. Tersebab manusia memerlukan sejarah, dengan sendirinya, penyair pun harus menjadikan sejarah sebagai pijakan kreatif. Artinya, meneroka sejarah sebagai suatu program kepenyairan, bukan semata-mata sebagai pemberian semula jadi oleh harkat mapun martabat penyair. Sebab dengan sejarahlah orang menemukan jati diri yang membedakannya dengan makhluk lain. Akan kita lihat kelak bahwa bagaimana membuminya secara lebih abadi sajak-sajak yang bergelut dengan kesejarahan.

Barangkali sejarah mempertemukan kita dalam suatu semangat yang harus dibaca dengan perspektif luas, sehingga dengan demikian begitu banyak persamaan dapat disemai pada hari ini maupun masa mendatang. Keberadaan Hang Tuah melalui Hikayat Hang Tuah, segelintir disebut memiliki antipati Jawa dengan melupakan guru dan keris kebanggaan Hang Tuah. Bukankah guru terakhir Hang Tuah adalah Aria Bupala di Jawa, sedangkan keris Taming Sari disebut menjadi asbab kekuatan Hang Tuah. Belum lagi meneroka bagaimana tak ada persoalan dalam istana Melayu, seorang Jawa memegang jabatan tertinggi di kerajaan setelah raja yakni Patih Kerma Jaya. Ya, Hang Tuah, tak bisa dikelompokkan dalam kelambu hitam putih karena meskipun berbentuk prosa, Hikayat Hang Tuah memiliki semangat sajak.

Banyak sekali contoh konkrit dari hal-hal di atas jika diletakkan dalam tataran prosa fiksi. Di dalam sajak juga kurang lebih serupa, tetapi sebagaimana hakikatnya puisi atau sajak, kenyataan sejarah di dalamnya memang tersembunyi sebelum diungkai sendiri berdasarkan sejarah oleh pihak luar penyair semacam pengamat, bahkan penikmat. Tentu paling terngiang di dalam ingatan adalah Odyssey oleh Homeros yang tak henti-henti mengantarkan kisah perang Troya kepada kita, Derek Walcott pula menggambarkan sejarah kelautan dari masa terdekat dalam Omeros. Kita cukup terobati dengan Hang Tuah oleh Amir Hamzah, kemudian disusul Sejarah Melayu  oleh Muhammad Haji Salleh.

Jadi, kita tidak mengawali sajak sejarah atau apa pun nama maupun takrifnya, tapi bahkan tengah menjalaninya. Mungkin ia bukan sesuatu yang didambakan, cuma tak perlu pula menghindar darinya. Ia semula jadi, tinggal kita memeliharanya atau tidak—tinggal kita membesarkannya atau tidak. “Suai Hab?” tulis saya kepada sahabat itu tanpa menunggu jawaban darinya.

Biografi Taufik Ikram Jamil

Taufik Ikram Jamil, lahir di Telukbelitung, Kab. Kepulauan Meranti, Riau, 19 September 1963. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen bertajuk Sandiwara Hang Tuah (1996), Membaca Hang Jebat (1998), dan Hikayat Batu-batu (2005). Novelnya adalah Hempasan Gelombang (1998) dan Gelombang Sunyi (2001). Buku puisinya adalah tersebab haku melayu (1995), tersebab aku melayu (2010), tersebab daku melayu (2015), dan Syair-syair Harian 2016 (2018). Buku sajak dalam tiga bahasa Taufik, diberi judul What’s Left and Other Poems (2015).  

Karyanya juga terdapat dalam antologi bersama yang terbit di Pekanbaru, Kuala Lumpur, Jakarta, dan Yogyakarta. Ia juga menulis buku sejarah Dari Percikan Kisah Membentuk Provinsi Riau (2003) dan Tikam Jejak Pulau Bengkalis (2004). Selain itu, ia menulis buku budaya Melayu Riau untuk siswa SMP dan SMA, 2013.  Sejumlah karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Belanda, Portugal, dan Jerman.

Beberapa penghargaan diraihnya. Tahun 1997, Cerpennya Menjadi Batu, meraih juara pertama dalam sayembara menulis cerpen di majalah sastra Horison. Pada tahun serupa, Yayasan Sagang Pekanbaru menetapkan Sandiwara Hang Tuah sebagai buku pilihan. Setahun kemudian, 1998, cerpennya  yang bertajuk Pagi Jumat Bersama Amuk menjadi cerpen utama Indonesia menurut versi Dewan Kesenian Jakarta. Pusat Bahasa Depdikbud memberikan penghargaan untuk kumcernya Membaca Hang Jebat tahun 1999. Novel Hempasan Gelombang, meraih harapan dua dalam penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1997. Sedangkan untuk kumpulan sajak, tersebab aku melayu masuk lima besar dalam Khatulistiwa Literary Award tahun 2010 dan disebut sebagai satu dari tiga kumpulan puisi penting tahun 2010 oleh majalah Tempo. Buku puisi tersebab daku melayu memperoleh predikat buku puisi pilihan Hari Puisi Indonesia 2015.

Di sisi lain, Taufik juga dikenal sebagai penggiat seni. Setelah berhenti sebagai wartawan Kompas tahun 2002, ia memimpin Dewan Kesenian Riau, 2002-2007, dan mendirikan Akademi Kesenian Melayu Riau sekaligus memimpin dan mengajar di lembaga tersebut, 2002-2012. Untuk semua aktivitas ini, ia memperoleh berbagai penghargaan baik dari pemerintah Provinsi Riau, Yayasan Sagang, dan PWI Riau seperti Budayawan Pilihan (2003) serta Seniman Perdana (2006).

1
2
3
Artikel SebelumPemimpin Negarawan Rakyat Tertawan
Artikel BerikutKepatutan Gelar Adat

Tinggalkan Balasan