Peta kawasan Teluk Ketapang, Melaka, dan daerah sekitarnya pada tahun 1784. Di kawasan ini lah medan Perang Raja Haji “tahap kedua” berlangsung, dan ditandai dengan gugurya Raja Haji pada 18 Juni 1784. (sumber: E. Netscher. “Twee Bergeringen van Malakka (1756/1757 – 1784, hal: 18)”. (foto: aswandi syahri)

Setiap hari jadi Tanjungpinang diperingati pada tanggal 6 Januari, maka kita (khususnya warga kota Tanjungpinang) akan mengimbas semula peristiwa Perang Raja Haji atau Perang Riau dan rangkaian peristiwa yang terjadi dalam perang perang laut terbesar sepanjang abad 18 di Selat Melaka itu sempena mengambil tuah kemenangan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji Fisabilillah dalam sebuah perperangan laut dengan Kompeni Holanda (Belanda) di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784.

            Selama ini kita hanya mengetahui satu kaul (pendapat) tentang sebab-musabab (casus belli) atau justifikasi tindakan perang tersebut, yakni: Peristiswa penangkapan kapal Betsy milik Inggris yang membawa 1154 peti candu (belakangan, entah mengapa, ada yg merubah fakta keras ikhwal candu di atas kapal Betsy ini dengan timah?) yang yang berlabuh di Pulau Bayan (dekat Tanjungpinang) oleh Kompeni Holanda (VOC-Belanda). Ada ketidakadilan dalam pembagian muatan kapal rampasan itu sehingga membuat Raja Haji tak puas. Alasannya, konon ada perjanjian antara Raja Haji dan VOC-Belanda. “Musuh Raja Haji musuh kepada Kompeni Holanda. Adapun jika ada pekerjaan tangkap-menangkap rampas-merampas musuhnya itu ada bahagian di dalam itu antara keduanya jika Raja Haji punya pekerjaan (atau yang merampasnya) konon”, tulis Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis.

            Peristiwa penangkapan kapal Betsy dicatat sebagai punca peperangan tersebut oleh Raja Haji dalam Tuhfat al-Nafis (1860) maupun oleh penulis kronik Belanda seperti Eliza Netscher dalam Nederlander in Djohor en Siak (1870), dan tentu dengan pejelasan sejarahnya menurut versi mereka masing-masing. Namun esensinya sama: Perang itu berpunca pada peristiwa kapal Betsy.

            Namun demikian, dilain pihak, sesungghnya dalam Tuhfat al-Nafis Raja Ali Haji juga menyebutkan adanya kaul (pendapat)  kedua tentang sebab-musabab (casus belly) pecahnya perang “tiga tahap” yang –“tahap keduanya”- berakhir dengan dengan gugurnya Raja Haji Haji di medan perang Tanjung Palas, Teluk Ketapang, Melaka, pada 18 Juni 1784.

Anehnya, kisah ini hanya ada dalam naskah Tuhfat al-Nafis versi panjang (sebuah versi perluasan oleh Raja Ali Haji atas naskah awal yang ditulis oleh ayahny) dan tidak terdapat dalam Tuhfat al-Nafis versi pendek, seperti yang penah dihadiahkan oleh Raja Ali Kelana kepada Resident van Riouw, A. L. van Haaselt (sahabat dalam perjalanannya ke Pulau Tujuh itu) ketika bersara sebagai Resident Riouw pada 1896. Selain itu, kaul (pendapat) kedua tentang sebab musabab peristiwa perang ini juga tidak pernah disebut-sebut dalam kepustakaan terkini tentang Perang Raja Haji dan VOC-Belanda antara tahun 1782-1784.

            Seperti telah disebutkan sebelumnya, dua kaul (pendapat) tentang sebab-musabab pecahnya peperangan itu, antara lain dipaparkan oleh Raja Ali Haji dalam salah satu versi panjang Tuhfat al-Nafis yang dikenal juga sebagai Tuhfat al-Nafis naskah Terengganu. Menurut Raja Ali Haji, pemaparan tentang kaul (pendapat) yang kedua itu dinukilkannya berdasarkan dua bahan sumber lokal yang disebutnya sebagai “…Siarah [sejarah] Pihak Selangor…” dan “…Siarah [sejerah] Sebelah Lingga dan Riau yaitu karangan Engku Busu…”

            Bagaimana pemaparan Raja Haji tentang dua kaul (pendapat) sebab-musabab pecahnya perang Raja Haji dan Kompeni Holanda itu? Berikut ini dinukilkan bagian-bagian yang berisi dua kaul tersebut dengan penambahan keterangan dalam kurung dari saya yang merumikannya. Dirumikan atau dialihaksarakan dari kitab Tuhfat al-Nafis naskah Terangganu yang masih ditulis dalam huruf Arab-Melayu (khususnya halaman 143 dan 144):

Bagian manuskrip Tuhfat al-Nafis dari Terengganu yang bersikan penjelasan tentang dua kaul sebab-musabab pecahnya antara Perang Raja Haji dan VOC Belanda.

***

            “Berkata sahibul al-hikayat. Adalah kiranya delapan tahun Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji memerintahkan kerajaan Negeri Riau, maka datang lah takdir Allah ta’ala yang amat kuasa serta melakukan kehendak-Nya atas segala hamba-Nya akan kekejian dunia yang tiada kekal dan nikmatnya yang tiada tetap, padahal berpindah-pindah daripada satu hal kepada hal keadaannya, supaya segala hamba-Nya jangan mengasihi dunia ini [dan] hendaklah kasihkan akhirat negeri yang kekal dan nikmatnya yang tetap dan kerajaannya yang maha besar seperti firmanya di dalam Qur’an al-‘azim. Yakni maka apabila engkau lihat kelak di sana, yakni diakhirat, engkau lihat lah akan nikmat dan kerajaan yang besar-besar hingga beberapa beberapa ayat di belakangnya menyatakan nikmat akhirat itu dan kehinaan dunia ini.

            Kata yang ampunya cetera adalah permulaan sebab kekeruhan Negeri Riau dan sebab kerusakannya maka yaitu atas dua kaul. Dan adalah kaul yang pertamayang aku dapat di dalam sejarah dan siarah pihak Selangor sebab yang zahirnya aku periksa. Khabar yang mutawatir kepada orang yang tua yang sama-samanya dan yang mengiring dia [yang mengiringi Raja Haji], yaitu adalah Yang Dipertuan Muda Raja Haji ada berjanji konon dengan kompeni Holanda. Musuh Raja Haji musuh kepada Kompeni Holanda.

Adapun jika ada pekerjaan tangkap-menangkap rampas-merampas musuhnya itu ada bahagian di dalam itu antara keduanya jika Raja Haji punya pekerjaan konon. Kemudian datang lah sebuah kapal musuh Holanda itu masuk ke dalam Riau berlabuh di Pulau Bayan. Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun menyuruh memberitahu ke Melaka [kepada] Gurnadur [Gubernur VOC di] Melaka. Maka datanglah satu kapal dari Melaka. Sah diambilnya kapal itu  dengan segala muatannya, dibawanya ke Melaka.

Maka serta sampai ke Melaka, maka jadi lah kapal itu hukum rampas kepada Holanda  jalan seperti adat permusuhan. Maka tiba-tiba tiada Raja Haji itu tiada mendapat bahgian. Disitu konon maka Raja Haji pun mengikut lah ke Melaka hingga Muar hendak memeriksa pekerjaan itu.

Raja Melaka [Gubernur VOC di Melaka, Pieter Gerardus de Bruijn] pun menyuruh [orang] kepercayaannnya pergi ke Muar berbicara dengan Raja Haji itu. Adalah namanya yang tersebut di dalam Selangor itu yaitu Sinyor Bram. Kata setengah orang namanya Abram perwakil Holanda yang datang itu dan seorang Kapitan Melayu jadi wakil Raja Melaka pada pekerjaan itu.

Maka Raja Haji pun berkhabar lah kepada kedua wakil yang kepala itu, “kita yang memberitahu ke Melaka, dan lagi [kapal Betsy itu] diambil di dalam pelabuhan kita di Negeri Riau. Sekarang mana bahagian kita disitu”. Maka da’wa Raja Haji itu tiada lah wakil Raja Melaka itu menerimakannya. Jadi bersalahan paham dan bersalah-salahan maksud lah. Maka jadi lah perkelahianlah kita. Sebab yang pertama [ini] yang zahirnya di dalam siarah Selangor [serta] khabar orang tua-tua yang mutawatir adanya.

            Syahdan adapun pula [kaul]yang kedua, aku dapat didalam siarah sebelah Lingga dan Riau yaitu karang Engku Busu, ayahandanya Tengku Wuk Dungun. Adalah sebab perang Yang Dipertuan Muda Raja Haji dengan Kompeni Holanda, sebab Raja Kecik Tun Dalam Yang Dipertuan Terengganu muafakat dengan Kapitan Glas [ Kapten Class de Wind: Commisaaris Kota Melaka, Bookkeeper, dan sekaligus pedagang VOC di  Melaka] mencari jalan kerusakan negeri. Yaitu, ada Yang Dipertuan Terengganu menaruh seorang anak Cina itu baharu dimasukannya Islam. Diberinya nama Jamilah. Maka dikehendakan oleh Kapitan Glas itu.

Maka diberikan oleh Yang Dipertuan Raja Kecik Tun Dalam. Maka ia minta pula kepada kepada Kapitan Glas itu membuat pokok pangkal perkelahian di Kuala Riau supaya sakit hati orang Riau akan Kompeni Wilanda itu. Maka dipakai lah oleh Kapitan Glas si Jamilah itu, lalu bunting. Tatkala Kapitan Glas hendak pergi ke Riau, hendak membuat pokok perkelahian dengan Prins [sebutan untuk orang Prancis?] di Kuala Riau itu, maka si Jamilah itu ditinggalkannya kepada adiknya yang bernama Kapitan Glais. Disuruhnya bawa ke Cina.

Maka sepeninggalan Kapitan Glas pergi ke Riau membuat pokok perkelahian [dengan] Prins di Kuala Riau itu, maka Kapita Glas pun berlayar lah hendak ke Cina tiada dengan takdir Allah ta’ala. Serta sampai di Kuala Labai di laut Terengganu, maka angin besar pun turun. Maka kapal Kapitan Glas pun pecah lah . Dan segala Wilanda [orang Beanda] pun mati lah. Yang di dalam kapal itu tiada lah tinggal lah barang seorang jua pun. Dan si Jamilah pun mati lah jua.

Syahdan adalah waktu kapal Kapita Glas pecah itu ada beberapa perahu-perahu yang lain bersama-sama pecah. Adalah kira-kira seratus sepuluh buah semuanya. Masuk dengan perahu orang Sambas besar kecil. Dan serta selup Yang Dipertuan Terengganu pun pecah juga. Dan inilah sebab yang kedua, yang batinnya, intihia.”***

Artikel SebelumMemajukan Budaya, Membahagiakan Bangsa
Artikel BerikutDaulat Tuanku Duli Khalifah
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan