INILAH kalimat pembuka 2019 yang saya ucapkan, “Pelbagai cabaran dan cobaan telah, sedang, dan akan kita hadapi sebagai bangsa besar di dunia sampai setakat ini. Kita patut bersyukur karena sanggup dan terbukti cukup kuat bertahan sampai sekarang.” Padahal, begitu hebatnya terpaan budaya global, lebih-lebih yang  negatif, sengaja diserbukan ke arah kita akhir-akhir ini dengan daya koyaknya yang sangat mengerikan. Dampak dari budaya global yang negatif itu, antara lain, demikian deras dan kerasnya pelbagai isu disulutkan, termasuk masalah ideologi negara. Kita sadari atau tidak, kesemuanya itu sengaja disebarkan dan dikerahkan oleh kekuatan global untuk memecah belah dan, bahkan, menghancurkan kita sebagai bangsa demi keuntungan mereka.

Dalam sejarah perjalanan bangsa kita, serangan serupa memang tak mengenal kata berhenti dengan tensinya yang berfluktuasi dari masa ke masa. Ini bermakna kekuatan di sebalik angkara murka itu terus berupaya melancarkan serangannya sampai matlamat mereka tercapai. Kewaspadaan kita memang mustahak ditingkatkan untuk menghadapi “permainan” yang semakin canggih daya terjangnya serta cenderung bervariasi pula taktik dan strateginya.    

Kenyataan itu mewajibkan kita sebagai bangsa untuk senantiasa berintrospeksi diri. Masih banyak perkara yang mesti dan wajib diurus dan diluruskan agar keutuhan dan kekokohan kita sebagai bangsa yang besar dan kuat tetap menyerlah. Ianya tak boleh hanya ada dalam slogan dan ungkapan sekadar untuk membesar-besarkan hati rakyat. Ianya harus terwujud secara nyata senyata-nyatanya. Itulah tugas utama para pemimpin dari peringkat yang paling bawah sampai dengan yang paling atas yang harus direalisasikan sesuai dengan amanah yang diberikan oleh rakyat. Jangan pernah dikhianati amanah tersebut.

Bagi rakyat, janganlah diragukan, “Kalau sungguh bagai dikata, nyawa dan badan akan diserahkan.” Kenyataan itu telah dibuktikan oleh rakyat negeri ini jauh sebelum kita bersepakat untuk mendirikan sebuah negara modern di nusantara ini. Kekuatan rakyat yang mendapat inayah Allah-lah yang melepaskan kita dari belenggu penjajahan bangsa asing. Bersamaan dengan itu, dengan bangga kita mendirikan negara modern, Negara Kesatuan Republik Indonesia, berdasarkan kesepakatan dan perjuangan seluruh anak bangsa.

Siapa pun kita yang hidup pada hari ini, sekecil apa pun peruntungan kita hari ini, apatah lagi yang beruntung besar sampai segini, hendaklah menyematkan di hati dan lebih-lebih mengamalkan dalam perbuatan dan perilaku yang diamanatkan oleh Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji rahimahullah, Pasal yang Kesebelas, bait 1.

Hendaklah berjasa

Kepada yang sebangsa

Inilah di antara penyelamat dan pengokoh kita sebagai bangsa yang memang patut  disyukuri. Tentu yang paling utama adalah inayah Allah, pertolongan dan pelindungan Tuhan Yang Maha Esa, yang kita yakini benar sesuai dengan sila pertama Pancasila, dasar negara kita. Bersamaan dengan itu, walaupun secara kualitatif  terkesan mengalami pasang-surut, utamanya karena ketakacuhan memeliharanya dan terpaan budaya global negatif yang cenderung begitu menggoda, ternyata masih begitu bersebatinya nilai-nilai budaya dan tamadun kita sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari. Nilai-nilai budaya yang terala (luhur dan ranggi) itu, sedikit atau banyak, masih kita jadikan pedoman dalam pelbagai bidang kehidupan yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita, baik sebagai pribadi, masyarakat, maupun bangsa. Hal itu bermakna bahwa masih ada rasa setia-budaya, yang memang sangat mustahak perannya, di dalam diri kita meskipun berfluktuasi kuantitas dan kualitasnya bagi setiap orang dan atau kelompok, kecil ataupun besar.  

Dengan tetap setia terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa sendiri, kita—sedikit atau banyak—dapat menangkis penetrasi budaya asing yang negatif, yang tak padan, tak serasi, tak selaras, dan tak cocok dengan budaya dan peradaban kita, yang terpaan dan pengaruhnya semakin kuat dan canggih setakat ini. Kesetiaan kepada nilai-nilai budaya bangsa sendirilah yang memungkinkan kita tetap kokoh berdiri sebagai bangsa sehingga jati diri dan karakter kita sebagai bangsa yang merdeka dapat terus dipertahankan. Pada gilirannya, eksistensi kita sebagai bangsa yang besar di dunia ini tetap diperhitungkan oleh bangsa mana pun.

Karena sadar sesadar-sadarnya dan yakin seyakin-yakinnya dengan kenyataan itulah, kita di kawasan berbudaya Melayu seperti di Kepulauan Riau, sama halnya dengan saudara-saudara kita di daerah lain dengan budaya daerah masing-masing pula, dengan segala daya wajib berupaya untuk terus mengekalkan, membina, mengembang, dan memajukan budaya kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya nasional. Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu memang wajib untuk mengambil berat atau menaruh perhatian yang sungguh-sungguh akan kewajiban mengekalkan, membina, mengembangkan, dan memajukan budaya Melayu sebagai warisan penting budaya nasional dan dunia agar ianya tetap kekal dan maju pesat ke depan ini.

Bersamaan dengan itu, kita harus terus berupaya sekuat dapat agar budaya Melayu yang kaya akan nilai-nilai budi pekerti atau akhlak mulia dapat menjadi amalan masyarakat sehingga anak bangsa kita di kawasan ini tak hanya dapat bertumbuh dan berkembang sebagai insan yang cerdas komprehensif dan kompetitif, tetapi juga maju dengan karakter dan budi pekerti luhur lagi elok perilakunya.

Elok negeri berlimpah rezeki

Elok puak berlaku bijak

Elok kaum namanya harum

Elok bangsa berbudi bahasa

Itulah kearifan yang diturunkan oleh nenek-moyang kita orang Melayu secara turun-temurun. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab kita untuk mempertahankan dan mengembangkannya secara terus-menerus generasi demi generasi. Kesemuanya  itu menjadi tugas terwaris bagi kita tak kira apa pun profesi dan jabatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai budaya dan tamadun itu serta lebih-lebih memberikan ketauladanan kepada generasi muda yang berpikiran maju, berarti kita telah melaksanakan tanggung jawab terbesar yang memang diamanahkan oleh para pendahulu sehingga martabat dan marwah kita sebagai bangsa tetap terjaga. Pada gilirannya, kita akan disegani oleh bangsa lain dalam persaingan dalam era globalisasi ini.

Dengan alasan penyelamatan, pengembangan, dan pemajuan bangsalah, apa pun dan berapa pun besarnya cabaran (tantangan) wajib kita hadapi. Perjuangan menyelamatkan dan memajukan budaya bangsa untuk menyelamatkan keberadaan jati diri dan karakter bangsa harus kita laksanakan dengan sepenuh hati, bertanggung jawab, dan ikhlas. Sejarah membuktikan bahwa kita dapat tetap eksis sebagai bangsa karena kesetiaan kita terhadap budaya dan tamadun sendiri walaupun kita tak pernah menolak budaya asing yang positif dalam mengembangkan dan memajukan budaya dan peradaban kita.

Pembinaan dan pengembangan kebudayaan di kawasan ini seyogianya harus betul-betul dapat membangkitkan roh dan semangat (ber-)budaya Melayu dalam bingkai budaya nasional Indonesia. Hal itu penting karena kita tak hendak, dan memang tak boleh, terjebak pada aktivitas yang hanya itu ke itu saja, dan cenderung bersifat seremonial belaka, yang dampaknya dilupakan begitu sesebuah pertunjukan selesai dilaksanakan. Kalau demikian yang terjadi, upaya kita tak ubahnya seperti dibidalkan orang tua-tua, “Bagai mencurahkan air di daun keladi” atau “Bagai menabur garam di laut.” Tak berkesan dan tentu tak membawa faedah, yang semestinya kita malu jika hanya sekadar itu yang dikerjakan. Macam tak ada kerja lain, macam tak ada orang lain!

Dari upaya pengembangan, pembinaan, dan pemajuan kebudayaan, kita harapkan akan bermekaran anak bangsa—Generasi Pejuang Kemajuan Bangsa—yang bangga dan sangat mencintai budaya dan tamadun bangsanya. Pada saat yang sama mereka menjadikan nilai-nilai luhur budaya bangsanya sebagai pakaian utama dan pedoman hidupnya sehari-hari dan terus diperjuangkannya demi kemajuan bangsa yang dicintainya. Jika upaya itu dapat kita lakukan, nescaya kita telah berhasil membangun anak bangsa yang berjati diri, berpikiran maju, dan patriotik. Pada gilirannya, anak bangsa kita akan mampu bersaing—tak sekadar siap—dengan bangsa mana pun di dunia ini.

Lebih daripada itu, mereka tak akan mudah goyah ataupun goyang oleh terpakaan angkara murka, dalam wujud apa pun dan dari mana pun datangnya. “Musuh tak perlu dicari, tetapi jikalau datang, berpantang ia untuk ditolak!” Pasalnya, dayus hukumnya sebuah bangsa yang merdeka mengikuti telunjuk bangsa lain. Oleh sebab itu, jika berani datang juga si angkara murka, mereka harus melangkahi mayat anak negeri terlebih dahulu, bukan si penjual diri dan atau negeri. Semangat itu yang mesti tertanam dalam diri setiap anak bangsa yang menghayati nilai-nilai mulia budaya dan tamadun bangsanya.

Hal itu perlu dipahami, dihayati, dan diarifi karena tak ada bangsa yang tumbuh menjadi besar, kuat, dan tangguh dengan hanya sekadar mengadopsi budaya bangsa lain belaka, betapapun canggih dan hebatnya budaya bangsa yang diadopsi atau dan ditiru itu. Kehebatan dan kecanggihan sesuatu budaya hanya cocok, serasi, dan padan bagi bangsa itu sendiri. Budaya Barat, misalnya, walau setakat ini nyaris memengaruhi budaya bangsa mana pun di dunia, tetaplah hanya terbaik bagi bangsa Barat, tidak bagi bangsa kita atau bangsa lain. Begitu pula budaya Tiongkok, Jepang, Korea, dan sebagainya hanya terbaik untuk bangsa mereka masing-masing, tetapi tidak untuk bangsa Indonesia. Pasalnya, Indonesia memiliki keunggulan budaya dan peradabannya sendiri. Kita memiliki puncak-puncak kebudayaan daerah, yang memang hebat dan unggul, yang nescaya mampu membawa bangsa ini menjadi, tak hanya setakat bangsa besar, tetapi lebih-lebih maju bersama bangsa-bangsa sedunia.

Karena apa? Budaya—terutama nilai-nilainya—bertumbuh dan berkembang sesuai dengan nilai-nilai dan cara pandang yang dianggap benar oleh sesuatu bangsa dalam perjalanan sejarah bangsa yang bersangkutan. Jadi, budaya yang paling tepat dan paling canggih bagi bangsa Indonesia adalah budaya Indonesia! Pasalnya, kita hidup dan dihidupkan oleh budaya yang diwariskan oleh nenek-moyang kita itu sejak zaman-berzaman. Dan, jangan pernah meremehkan itu. Jangan pernah berniat apatah lagi bertindak “durhaka” terhadap budaya dan tamadun sendiri. Jika pendurhakaan itu terjadi, akan buruk padahnya!

Saya sangat percaya bahwa generasi yang percaya-diri terhadap budayanya sendirilah yang memiliki kualitas kultural yang sesungguhnya. Pada gilirannya, generasi seperti itulah yang mau dan mampu membela marwah bangsa dan negaranya dengan sepenuh hati. Dari generasi seperti itulah, nama Indonesia akan tetap harum semerbak ke depan ini. Dan, kita sadar bahwa kita memang harus menyiapkan masa depan dan laluan kreativitas yang lebih baik bagi generasi muda kita karena merekalah yang akan meneruskan kita dalam membangun dan memajukan bangsa kita ke depan ini.

Kenyataan itu mewajibkan pengembangan, pembinaan, dan pemajuan kebudayaan di kalangan generasi muda kita merupakan prioritas yang harus diutamakan. Upaya serupa itu harus lebih kuat digesa setakat ini karena masyarakat dunia, termasuk bangsa kita, tengah dilanda wabah degradasi moral dan kultural sedemikian parahnya sehingga hal itu memengaruhi semua aspek kehidupan. Syahwat kemaruk semakin merajalela di dunia setakat ini sehingga tak memedulikan tamadun manusia.

Kita sangat menyadari bahwa kebudayaan merupakan hasil pendidikan. Dengan demikian, upaya menyemai, menanam, dan menumbuhmekarkan rasa setia-budaya di kalangan generasi muda kita harus lebih intensif dilakukan melalui kegiatan kependidikan. Dalam konteks kependidikan yang dimaksudkan taklah melulu pendidikan formal saja, tetapi secara sinergis dilakukan melalui pendidikan informal di rumah tangga dan pendidikan nonformal di dalam masyarakat. Ada hal yang sangat peka (sensitif) untuk mencapai matlamat pendidikan budaya bagi mewujudkan rasa setia-budaya itu. Dalam hal ini, semua orang, terutama mereka yang disebut orang dewasa, lebih-lebih para pemimpin dalam setiap tataran masyarakat, harus mampu menjadi suri-tauladan yang baik. Dalam era sekarang, itulah cabaran terbesar sekaligus terberatnya.     

Berdasarkan pemikiran itulah, kita berharap pelbagai kegiatan kebudayaan atau lebih tepatnya tamadun di kawasan ini dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari upaya pengekalan, pembinaan, dan pengembangan nilai-nilai budaya Melayu. Hal itu bermakna kita harus menghindarkan diri dari pasung seremonial dan pencitraan belaka, apa pun matlamat dari pencitraan itu. Kegiatan membangun tamadun itu seyogianya dapat menemukan nilai-nilai terala (luhur) budaya Melayu yang relevan untuk dikembangkan dalam kehidupan bangsa Indonesia yang multikultural seperti yang pernah diperankannya pada masa lalu. Dengan demikian, nilai-nilai luhur tamadun Melayu tak hanya terpakai bagi orang Melayu, tetapi juga diharapkan bermanfaat bagi orang lain secara nasional, bahkan bagi bangsa lain dalam pergaulan antarabangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi, bukan bangsa yang sekadar menerima.

Apa pun kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan mestilah memberikan peluang bagi generasi muda kita untuk mengapresiasi nilai-nilai terala yang terkandung di dalam unsur budaya itu. Sebagai ilustrasi, sebutlah suatu kota di daerah ini melaksanakan tamasya, perhelatan, atau apa pun namanya yang dihubungkan dengan kesenian tradisional atau apa sajalah perhelatan budayanya. Kegiatan serupa itu tak seharusnya sekadar mengejar matlamat untuk membuktikan bahwa kesenian tradisional itu pernah jaya dan masih ada di daerah itu. Generasi muda kita harus dilibatkan secara aktif dalam kegiatan itu, terutama sebagai pelaku kegiatan atau sekurang-kurangnya sebagai pemerhati yang aktif.

Tentulah mereka harus dibimbing untuk menemukan nilai-nilai luhur di dalam kesenian itu. Dengan demikian, arahan dari para pembimbing sangat menentukan manfaat yang akan diperoleh. Jika aktivitas serupa itu menjadi kebiasaan, cepat atau lambat, rasa setia-budaya akan meresap ke dalam hati sanubari generasi muda kita. Dalam keadaan serupa itu upaya penyelamatan dan pemajuan bangsa dapat direalisasikan.

Memang tak terlalu mudah untuk mencapai matlamat luhur menciptakan generasi yang setia-budaya dalam era globalisasi ini. Buktinya, banyak negara yang menuai kegagalan, termasuk negara-negara adidaya dan adikuasa, yang dihantui oleh semakin merosotnya moral generasi muda. Akan tetapi, bukan berarti upaya itu tak dapat dilakukan, apatah lagi di negara kita yang masyarakatnya belum betul-betul tercabut dari akar budayanya. Kuncinya adalah memang ada upaya nyata yang terencana, terarah, dan terselenggara dengan baik secara terus-menerus.

Untuk mencapai matlamat itu, kita memerlukan tokoh yang benar-benar dapat ditauladani oleh generasi muda. Ketauladanannya tersimpul pada titik penentu: satunya perkataan dengan perbuatan. Itu saja sebetulnya, tak perlu dibuat rumit bangat jika niat telah diluruskan. Memang, pada masa kini sesiapa pun yang bersedia memperjuangkannya akan berhadapan dengan banyak sekali cabaran. Akan tetapi, justeru itulah hakikatnya sebuah perjuangan. Apatah lagi, perjuangan mulia untuk memajukan dan menyelamatkan bangsa. Semoga kesemuanya itu menjadi agenda hidup kita pada 2019 ini.***

Tinggalkan Balasan