HARI itu Sultan Hindi (Hindustan) mengumpulkan semua menteri dan orang besar-besar kerajaannya, termasuk panglima perang dan para hulubalang. Apakah gerangan yang terjadi? Rupanya, ada perkara mustahak yang hendak disampaikannya kepada para bawahannya itu. Bukan perkara sebarang perkara, melainkan perkara besar yang menentukan masa depan pemerintahan dan kerajaannya. Dia berencana, dan rencana itu telah lama dipikirkan dan baru sekarang akan dilaksanakannya, hendak memerangi Kerajaan Barbari. Nafsu berperangnya telah sampai ke titik didihnya.

            Dia baru berani mengutarakan dan melaksanakan niatnya itu setelah Sultan Abdul Hamid Syah, raja berida (senior) Kerajaan Barbari, mangkat. Ketika Sultan Abdul Hamid Syah masih hidup dan menerajui negeri, Sultan Hindi takut untuk melancarkan serangan ke negeri kaya itu karena Sultan Barbari sangat berpengalaman sehingga tak mudah dikalahkan oleh musuh dari negeri mana pun. Kini sultan yang terkenal itu telah tiada. Tak ada lagi alangan bagi Sultan Hindi untuk menahan syahwat penguasaan terhadap Negeri Barbari yang kaya, aman, makmur, dan sejahtera. Tekadnya telah bulat sehingga tak sesiapa pun boleh mengalanginya. Kalau dia membicarakan rencananya kepada bawahannya hari itu, siasat tersebut semata-mata untuk memperlihatkan bahwa dia pemimpin yang mengedepankan musyawarah. Akan tetapi, apa pun pikiran dan perkataan bawahannya, tetap yang harus dilaksanakan rencananya juga.

            “Bukankah beta yang menjadi penguasa negeri ini? Peduli apa beta akan pikiran orang lain walaupun kerabat sendiri!” begitu pekik hatinya lantang menggema sampai mengerenyam di kepalanya. Hanya, untuk sementara kecamuk itu belum diluahkannya. Kecuali, kalau ada pertentangan dan atau sanggahan dalam musyawarah hari itu yang tak terduga.

            Sekarang dia begitu yakin memerangi Kerajaan Barbari karena negeri sasaran idamannya itu dipimpin oleh raja yang masih sangat muda usia, Sultan Abdul Muluk, anak almarhum Sultan Abdul Hamid Syah. Dalam taksiran Sultan Hindi, sultan muda itu sangat miskin pengalaman. Dengan demikian, Negeri Barbari akan dengan mudah dapat ditaklukkan. Apatah lagi, untuk menaklukkan Kerajaan Barbari dia telah mempersiapkan siasat yang tak lazim. Dia pun telah membayangkan keuntungan materi yang tak terperikan dengan kata-kata ketika Negeri Barbari  kelak telah menjadi tanah jajahan.

            Ada dua alasan utama Sultan Hindi beriya-iya benar hendak memerangi Kerajaan Barbari. Pertama, dia hendak membalas dendam karena mamanda (paman)-nya dipenjara di negeri itu akibat saudagar Hindi itu melakukan penipuan dalam perniagaannya. Di Negeri Barbari hukum ditegakkan secara konsisten, sesiapa pun yang bersalah harus dihukum, tanpa kecuali kerabat pemimpin negeri. Sultan Hindi tak mau menerima keputusan itu, dia ingin pamannya dibebaskan. Kedua, dia hendak menguasai kekayaan Negeri Barbari. Motif kedua itu lebih merangsang syahwatnya untuk menjajah Kerajaan Barbari. Apakah yang terjadi di dalam musyawarah yang diselenggarakan pada hari itu?  

            Jikakalau seperti titah tuanku

            Tidaklah patut demikian itu

            Jikalau diperbuat juga begitu

            Jadilah kita bermain tipu

            Dari Syair Abdul Muluk (Haji 1846), bait 543—545, kita mendapatkan maklumatnya. Menteri berida Kerajaan Hindustan tak bersetuju dengan rencana sultannya. Pasalnya, Sultan Hindi hendak menyerang Kerajaan Barbari tanpa didahului maklumat perang. Dia hendak melakukan serangan tergempar (tiba-tiba) sehingga Kerajaan Barbari tak sempat membuat persiapan. Taktik itu merupakan aib, yang mengindikasikan bahwa negeri penyerang tak beradab dan pemimpinnya tergolong penjahat perang. Menurut menterinya, Sultan Hindi bermain siasat tipu tanda pemimpin tak tahu malu. Bahkan, menteri senior yang lain turut berperi.

            Jikalau menyerang demikian peri

            Bukannya adat raja yang bari

            Itulah akal orang pencuri

            Menantikan khilaf maka didatangi

            Ungkapan menteri berida yang kedua lebih memojokkan Sultan Hindi. Menurut menteri yang telah sekian lama mendampingi rajanya itu, rencana Sultan Hindi tak lazim dilakukan oleh pemimpin yang terhormat lagi mulia (Bukannya adat raja yang bari). Bahkan, menurut sang menteri, perbuatan itu tak kalah biadabnya dengan pencuri.

            Sultan Hindi tertekan dan berasa dipermalukan. Nasihat kedua menteri yang sangat dipercayainya, yang kali ini cenderung menentang rencana kejinya, membuatnya marah besar. Dia telah benar-benar gelap mata dan hendak mengusir kedua menteri berida dari ruang musyawarah itu. Hatinya telah beku sehingga tak mampu lagi menerima nasihat takzim dari orang yang sebelum ini sangat dipercayainya. Padahal, matlamat kedua menteri berida itu sungguh mulia, yakni agar negeri dan pemimpin tertingginya tak dipandang biadab oleh bangsa-bangsa beradab.  

            Belumlah habis berdatang sembah

            Baginda pun murka durja berubah

            Warna mukanya seperti darah

            Karena hatinya sangatlah marah

            Betapa Syair Abdul Muluk melanjutkan kisah dengan bait di atas. Sultan Hindustan marah semarah-marahnya. Begitu tinggi tensi amarahnya sehingga durja (wajah)-nya kelihatan laksana darah. Memang, darah panas telah berhimpun di sekujur kepalanya, mengalir deras di sebalik kulit wajahnya yang gundah. Karena khawatir kedua menteri berida itu memengaruhi bawahannya yang lain sehingga rencananya jadi mentah, dalam lanjutan bait syair dikisahkan, diusirnyalah kedua bawahan seniornya itu dari ruang musyawarah. Bahkan, diucapnya kata-kata kasar tua bangka yang tak patut lagi diajak bermadah. Dalam pada itu, para bawahannya yang lain cenderung membuat pilihan untuk menjadi makmum terbaik bagi pemimpinnya yang telah kehilangan pikiran waras dan hati yang cerah. Pilihan yang memang banyak juga ditiru oleh para bawahan yang tak memikirkan buruknya padah.

            Sultan Hindi—dalam suasana yang memang harus menyerlahkan sifat aslinya, bukan kepura-puraan seperti selama ini—telah menampilkan kualitasnya sebagai pemimpin yang tak berbudi pekerti. Dia tak mampu menahan amarahnya, bahkan kepada orang yang selama ini sangat setia mendampinginya, dua menteri berida yang sangat dihormati. Dia juga lebih-lebih telah menunjukkan cirinya sebagai pemimpin yang tak sabar ketika berhadapan dengan godaan duniawi dendam berahi. 

Pemimpin sekelas Sultan Hindustan memang tak pernah memperhatikan kearifan yang seyogianya dipegang teguh oleh setiap pemimpin. Bukankah Gurindam Dua Belas, Pasal yang Ketujuh, bait 7, dan Pasal yang Kesebelas, bait 4 (Haji 1847) telah menghimpun tunjuk ajar itu untuk dijadikan semacam cermin. Bukan cermin sebarang cermin, melainkan cermin diri agar kualitas kepemimpinan dan kejayaannya terjamin.

            Apabila mendengar akan khabar

            Menerimanya itu hendaklah sabar

            Hendak marah

Dahulukan hujah

            Kearifan itulah yang dilupakan oleh Sultan Hindustan. Sebagai pemimpin, dia seyogianya menempa diri agar bersifat sabar dan sanggup menahan amarah. Akan tetapi, pemimpin kelas rendah, mana pernah menghiraukan ilmu yang berfaedah. Baginya yang paling penting bagaimana memuaskan syahwat kekuasaan walau harus bertumpah darah. Padahal, Tsamarat al-Muhimmah, buku khas yang ditujukan kepada pemimpin sangat jelas memberikan arah agar pemimpin tak terbelok ke jalan yang salah.

            “Barang yang tiada dapat tiada daripada raja-raja dan pada orang besar-besar memeliharakan dia, yaitu tiga perkara. Pertama, memelihara roh…. Bermula memeliharakan dia dan mengobatkan dia ‘alal jumali. Tiada yang terlebih besar dan terlebih segera pada membaiki dia melainkan mendengar Quran al-Azim dan Hadits Said al-Mursalin dan perkataan dan nasihat dan ajaran sahabat dan aulia dan ulama dan ukumal mutaqaddimin wa al-mutaakhirin seperti memikirkan maknanya dan mafhumnya serta perkataan mereka itu pada menyuruh sabar (huruf tebal-miring oleh saya, HAM) dan reda dan tawakal…,”(Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 93, 96).

            Itulah hikmah yang seyogianya diperhatikan benar oleh para pemimpin, apatah lagi pada saat-saat yang genting. Yang terutama, menurut Raja Ali Haji rahimahullah, memelihara roh (baca: mental-spiritual) dengan pelbagai amalan yang baik sehingga diri menjadi dekat dengan Allah. Di antara sekian amalan yang baik itu, terekamlah melatih diri untuk bersabar.

            Rupanya, nasihat agar pemimpin senantiasa bersabar untuk menunjukkan kualitas kepemimpinannya tak bersumber dari kepintaran dan kehebatan manusia. Ianya memang terang lagi bersuluh berasal dari pedoman Allah yang tersurat di dalam firman-Nya.

“Dan, Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar(huruf miring-tebal oleh saya, HAM) dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami,” (Q.S. As-Sajdah:24).

Petunjuk Allah di atas jelas-jelas menyebutkan bahwa pemimpin yang sabar merupakan pemimpin yang meyakini ayat-ayat atau pedoman yang dianugerahkan oleh Tuhan. Pemimpin kelas unggul itu amat mustahil mengalami kegagalan kepemimpinan. Pasalnya, hidayah dan inayah Allah akan senantiasa menyertainya dalam melaksanakan amanah kepemimpinan. Mereka itulah para pemimpin yang sabar dalam menegakkan kebenaran, tak goyah oleh sebarang cabaran, dan tak takut menghadapi ancaman. Bagi mereka, kepemimpinan memang harus dipertanggungjawabkan sampai ke hadapan Allah Yang Maha Rahman. Intinya, pemimpin yang sabar adalah pemimpin pilihan.

            “Alkisah tersebutlah perkataan Raja Landak, bermula adalah Raja Landak itu namanya Ratu Bagus. Maka apabila ia mendengar Raja Pinang Sekayuk berperang dengan Raja Sebukit di dalam Mempawah (Kalimantan Barat, HAM), maka ia pun bersegeralah pergi dengan Raden Othman berjalan darat serta dibawanya segala orang Islam Landak dengan Dayak Cugi mengiring dia. Maka sampailah ia ke Pinang Sekayuk, lalu berjumpa dengan Pangeran Dipati Pinang Sekayuk. Maka berkhabarlah ia kepada Pangeran Dipati kedatangan ia berdua ini kerana hendak mendamaikan Pangeran Dipati dengan Pangeran Emas Seri Negara itu kerana apalah faedah berkelahi berbantah, kerana sudah seperti anak buah sanak saudara. Maka jawab Pangeran Dipati, “Yang saya tiada apa-apa mana-mana sahaja yang baik kepada Ratu Bagus, kerana pekerjaan saya ini (peperangan, HAM) sekali-sekali bukan perbuatan saya, tetapi adalah pekerjaan ini perbuatan anak saya, dengan tiada usul periksanya dan tiada sabar (huruf tebal-miring oleh saya, HAM). Beberapa kali sudah saya larang tiada juga diindahkannya sampai masanya inilah jadinya (peperangan, HAM), tidak pada dengan dia seorang isi negeri dan orang ramai yang menanggung susahnya,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 105—106).

            Nukilan Tuhfat al-Nafis di atas memerikan peperangan antara Negeri Pinang Sekayuk di bawah pimpinan Pangeran Dipati dan Negeri Sebukit di bawah pimpinan Pangeran Emas Seri Negara di Mempawah (Kalimantan Barat sekarang). Ternyata, punca atau penyebab kedua negeri yang pemimpinnya masih berkerabat itu berperang adalah pemimpinnya tak memiliki sifat sabar. Betapa rendahnya kualitas pemimpinnya (mudah marah) menyebabkan negeri porak-poranda oleh perang yang tak seharusnya terjadi jika pemimpinnya arif dan seluruh rakyat harus menanggung padah (akibat buruk)-nya.

            Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar, nescaya Allah memudahkan kesabaran baginya. Dan, tiadalah seseorang dianugerahi (oleh Allah SWT) pemberian yang lebih baik dan luas (keutamaannya) daripada (sifat) sabar,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

            Sabda Rasulullah SAW lebih menguatkan hujah bahwa pemimpin yang berkualitas seyogianya memiliki sifat sabar. Dan, pemimpin—bahkan sesiapa pun—yang memiliki sifat sabar akan memperoleh pelbagai anugerah utama lagi luas dari Allah SWT. Dikaitkan dengan kepemimpinan, oleh karena itu, tak seseorang pemimpin yang sabar pun akan mengalami kegagalan kepemimpinan. Pasalnya, dia akan dijaga dan dijamin oleh Tuhan.

            Sabar memiliki daya pen-suci roh pemimpin dan kepemimpinannya. Para pemimpin yang memiliki dan terus memeliharanya akan beroleh kejayaan kepemimpinan yang didambakan oleh setiap pemimpin kelas utama. Pemimpin terhormat lagi mulia hanya melekat pada mereka yang lulus ujian kesabaran dalam semua nuansa dan suasana. Dialah pemimpin yang beroleh anugerah dari Allah Taala. Beruntunglah pemimpin yang memegang teguh adat raja yang bari dalam praktik kepemimpinannya. Intaha.***

Tinggalkan Balasan