ABDUL Muluk belum lama ditabalkan menjadi Sultan Kerajaan Barbari. Dia menjadi sultan, berdasarkan hasil musyawarah orang besar-besar kerajaan dan disetujui oleh seluruh rakyat, menggantikan ayahandanya, Sultan Abdul Hamid Syah, yang telah mangkat. Karena sadar bahwa dirinya masih kurang pengalaman kepemimpinan, sultan muda yang berdurja pokta (tampan, ganteng) itu hendak menimba pengalaman dari pemimpin negeri tetangga yang lebih senior daripada dirinya. Maka, dia dan rombongan pun berkunjunglah ke negeri tetangga terdekat lebih dahulu. Selain terdekat, Kerajaan Ban dipilihnya sebagai negeri pertama yang dikunjunginya karena sultan negeri itu paling senior di antara para pemimpin negeri-negeri tetangganya. Selain hendak menimba pengalaman, kunjungan muhibah itu dilakukannya dengan maksud untuk bersilaturrahim seraya memperkenalkan dirinya kepada Sultan Ban dan para pembesar negeri jiran itu.

Setelah menempuh perjalanan laut beberapa hari di tengah terpaan badai dan amukan gelombang yang tiada terperi, Sultan Abdul Muluk dan rombongannya selamat sampai di Negeri Ban. Awal kedatangannya yang terkesan mendadak disambut dengan penuh curiga oleh para pemimpin dan rakyat Kerajaan Ban. Namun, setelah mengetahui siapa dirinya dan maksud kedatangannya, Sultan Abdul Muluk disambut dan diterima dengan penuh suka cita oleh Sultan Ban dan seluruh rakyatnya. Dikunjungi oleh pemimpin kerajaan besar merupakan kehormatan bagi Sultan Ban dan rakyat negerinya.

            Baru beberapa hari sultan muda dan rombongannya itu berada di Negeri Ban. Entah mengapa dia berasa gelisah bangat. Hari itu Sultan Abdul Muluk menyampaikan kegelisahannya kepada menteri berida (senior) yang menyertainya dalam kunjungan itu. Kegundahgulanaan hatinya itu diperikan oleh Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk (Haji 1846), bait 354.

Kepada pikiran beta sendiri

Hendak bermohon esok hari

Gundah hatiku tiada terperi

Tiada mendengar kabar negeri

            Setelah mendengar perkataan rajanya, menteri berida Kerajaan Ban pun menyatakan kegelisahan yang sama. Seperti halnya Sultan Abdul Muluk, menteri yang sangat berpengalaman itu pun berasa telah sangat lama meninggalkan negeri mereka (lih. Syair Abdul Muluk, bait 355, Haji 1846).

Menteri yang tua berdatang sembah

Benarlah Tuanku seperti titah

Hati patik pun sangatlah gundah

Negeri nin lama ditinggalkan sudah

            Risau mendera kedua-dua pemimpin Negeri Barbari, baik Sang Sultan maupun Si Menteri. Mereka tak sabar untuk menanti beberapa hari lagi. Perkara itu hendak disampaikan kepada Sultan Ban yang empunya negeri. Ke Negeri Barbari mereka harus segera kembali. Lagi pula, telah cukup memadai tunjuk ajar yang diperoleh dari Sultan Ban yang bijak-bestari.

Sudah bertitah sultan terbilang

Masuk ke peraduan wajah gemilang

Lakunya gundah bukan kepalang

Kasadnya hendak berangkat pulang

Kelanjutan Syair Abdul Muluk (Haji 1846), bait 357, berkisah bahwa telah bulat hasrat atau kasad Sultan Abdul Muluk untuk pulang ke negerinya. Apakah gerangan sebabnya raja muda itu dan menterinya tak betah tinggal di negeri orang walaupun Negeri Ban juga tergolong negeri yang aman, makmur, dan indah berseri? Apatah lagi, pemimpin dan rakyat negeri tetangganya itu menerima dan melayaninya dengan sepenuh hati.

Jawabnya, Sultan Abdul Muluk sangat mencintai tanah airnya, tanah tumpah darahnya. Dia tak sanggup berpisah terlalu lama dengan negeri yang sangat dibanggakannya, negeri tempat dia dilahirkan, negeri tempat dia  dibesarkan dengan pelbagai suka-duka kehidupan, bahkan negeri bertuah yang rakyatnya menitipkan amanah kepadanya untuk dijaga bagai menating minyak yang penuh, untuk dipertahankan dan dimajukan selagi hayat dikandung badan. Oleh sebab itu, walau baru beberapa hari berada di negeri orang, dia ingin segera pulang. Tempat jatuh lagi dikenang, inikan pula tempat bermain.

Pemimpin seperti Sultan Abdul Muluk menempatkan kecintaan kepada tanah air sebagai kualitas kepemimpinan yang memang harus melekat dalam diri pemimpin yang baik dan hebat. Semaju apa pun negeri orang, sebagus apa pun bangsa lain, seindah apa pun tanah air orang; negeri dan bangsanya sendirilah yang lebih dicintainya. Lebih-lebih, negeri itu telah memilihnya sebagai peneraju utama untuk mewujudkan matlamat besar menjadi negara dan bangsa dengan masa depan yang gemilang. Kecintaannya itu membuatnya senantiasa waspada agar tak terjadi perkara yang buruk terhadap dan merugikan negara dan bangsanya, apatah lagi kalau malapetaka itu terjadi pada masa pemerintahannya, karena kealpaan dan atau kelalaiannya misalnya.

Dia tak rela musibah yang dikhawatirkannya itu terjadi pada tanah air dan bangsanya. Dia tak sanggup membayangkan jika sejarah kelak mencatat bahwa kemerosotan negeri dan bangsanya berpunca dari kelalaian, ketololan, dan atau keserakahan kepemimpinannya. Dan, dia sangat menyadari bahwa dalam sejarah kehancuran bangsa-bangsa terdahulu, terutama, disebabkan oleh buruknya perilaku pemimpinnya, antara lain karena rendahnya kecintaan kepada negara dan bangsa. Pemimpin berkualitas jelek seperti itu tak peduli negerinya tergadai dan rakyatnya tersalai. Baginya yang penting mengejar matlamat dan ambisi pribadi sehingga untuk itu dia rela walau harus berkolusi dengan pialang negeri yang tercela pekerti.  

Jika hendak mengenal orang mulia

Lihat kepada kelakuan dia

Pemimpin yang mencintai tanah air dan bangsanya senantiasa menjaga perilakunya. Dia tak pernah berani mencemari kemuliaan nilai-nilai kepemimpinan yang agung. Oleh sebab itu, kearifan seperti yang terekam dalam Gurindam Dua Belas (Haji 1847), Pasal yang Kelima,bait 3, di atas senantiasa menjadi rujukannya ketika melaksanakan tindakan kepemimpinan. Untuk itu, nilai mencintai tanah air dan bangsa ditempatkan pada peringkat yang tertinggi lagi terhormat dalam kepemimpinannya. Pemimpin seperti itulah yang dapat digolongkan sebagai manusia yang mulia. Amanah yang diberikan kepadanya tak pernah sia-sia karena benar-benar dijalankannya dengan berbuat jasa kepada bangsa dan negara.

            Pemimpin yang mencintai negerinya senantiasa bersikap waspada. Selain kawan, lawan atau musuh mungkin saja datang dari suatu tempat dan waktu yang tak terduga. Namanya juga nafsu dunia, demi memuaskan syahwat kekuasaannya, sebarang orang boleh jadi pendurhaka. Bukankah Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.) 2013) melalui syair nasihatnya pada bait 40 pernah mengingatkan pemimpin agar tak terleka dan terlena oleh pelbagai siasat dan karenah dunia. Pelakunya boleh sesiapa sahaja, tak kira dari dalam ataupun luar negara, untuk menguasai negeri dan rakyat sesuatu bangsa.

Ayuhai segala raja menteri

Serta pegawai kanan dan kiri

Hendaklah jaga ingatkan negeri

Perampok penyamun perompak pencuri

Itulah, antara lain, perlunya pemimpin mencintai negerinya. Dengan kecintaan sejatinya, dia akan senantiasa waspada terhadap tindakan jenayah (kriminal) perampokan, penyamunan, perompakan, dan atau pencurian yang boleh dilakukan oleh sesiapa saja, baik dalam skala kecil maupun besar, dari peringkat terendah sampai tertinggi, dari kelas teri hingga kelas kakap, yang di kamus pribadinya tak ada lema (entri) lokap. Pemimpin yang mencintai tanah air dan bangsanya akan mewakafkan dirinya untuk memerangi tindakan jenayah yang tak terpuji itu. Dengan kata lain, di bawah kepemimpinannya tak sesiapa pun berani mencabar dan atau menjejas bangsa dan negaranya sehingga segala kekayaan yang dimiliki oleh negerinya benar-benar digunakan untuk mencapai matlamat sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itulah pemimpin yang mampu menjamin dan memperjuangkan kesejahteraan dan kebahagiaan bangsanya.

Keutamaan budi dan perilaku mencintai negeri dan rakyat dalam kepemimpinan tak semata-mata hasil dari perenungan luar biasa budi manusia. Ianya memang bersumber dari Sang Pencipta. Kesemuanya menjadi jelas setelah dirujuk dari firman-Nya. 

Dan, (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku! Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman dan sentosa. Dan, berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari kemudian di antara mereka ….” (Q.S. Al-Baqarah:126).

Dengan firman-Nya, Allah memberi petunjuk bahwa setiap pemimpin wajib mencintai negeri dan segenap rakyatnya. Untuk itu, Allah memberi contoh, di samping upaya-upaya cerdas kepemimpinan yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, Baginda tetap bermohon kepada Allah agar negeri dan segenap rakyatnya beroleh pelindungan, pertolongan, dan berkah dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Ternyata, doa dari pemimpin yang berbudi pekerti mulia itu segera diijabah oleh Allah. Pasalnya, pemimpin seperti Nabi Ibrahim AS itu sangat mencintai negeri dan rakyatnya sehingga segala sesuatu dipermudah. Hanya kepura-puraan bertopeng cinta yang akan mendera manusia kepada padah yang tak pernah sudah.   

Kita pun patutlah bersyukur kepada Allah. Pada masa lalu cukup banyak dianugerahi dengan pemimpin yang sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Budi dan perilaku kepemimpinan mereka, sekurang-kurangnya, boleh kita jadikan tolok-banding untuk mewujudkan visi dan misi menjadi bangsa besar, baik secara kuantitas maupun kualitas. Kesemuanya itu berpunca dari kecintaan yang tulus kepada bangsa dan negara.

“Alkisah maka tersebutlah perkataan Yang Dipertuan Muda Riau Opu Kelana Jaya Putera (Yang Dipertuan Muda I Riau-Lingga, Daeng Marewah, HAM) serta paduka adinda Opu Dahing Cellak serta baginda Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Maka baginda-baginda itu apabila sudahlah balik Raja Kecik ke Siak maka baginda serta Yang Dipertuan Muda muafakatlah pada membetulkan negeri dan segala teluk rantau Johor yang telah dipulangkan oleh Raja Kecik, tatkala ia bersumpah di dalam masjid dahulu itu. Maka musyawarahlah baginda-baginda itu akan memeriksa segala jajahan itu. Maka bersiaplah Yang Dipertuan Muda dengan beberapa kelengkapan yang akan dibawa berangkat itu,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 104).

Para pemimpin yang dinukilkan oleh Tuhfat al-Nafis di atas adalah Yang Dipertuan Besar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I (Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang 1722—1761), Opu Daeng Marewah (Yang Dipertuan Muda I Riau 1722—1729), dan Opu Daeng Celak (Yang Dipertuan Muda II Riau 1729—1745). Setelah peperangan dengan Raja Kecik, Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang porak-poranda. Begitu pula rakyat serata negeri mengalami beban dan tekanan psikologis yang sangat berat. Karena sangat mencintai negeri dan rakyatnya, ketiga pemimpin itu berupaya sekuat tenaga untuk membangun kembali negeri dan memulihkan rakyat dari tekanan psikologis yang diderita sebelum ini. Mereka tak rela negeri hancur dan rakyatnya menderita karena perbuatan penceroboh yang hendak menguasai negeri mereka. Adakah perjuangan mereka membangun kembali negeri itu berjalan tanpa hambatan dan cobaan?  

“Syahadan apabila selesailah musyawarah itu maka Yang Dipertuan Muda pun berlayarlah ke Tapukan memeriksa segala jajahan itu, serta mengaturkan tempat-tempat itu. Maka dengan takdir Allah taala Yang Dipertuan Muda pun geringlah sangat, maka dibawa oleh orang besar-besarnya segera ke Riau berlayar dengan dayungnya. Maka apabila sampai ke Pulau Pitung, maka Yang Dipertuan Muda pun mangkatlah kembali ke rahmat Allah taala…. (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 104—105).

            Ternyata, sesuai dengan catatan Tuhfat al-Nafis, perang tak membuat para wira itu terkorban, dalam arti meninggal dunia. Akan tetapi, dengan takdir Allah, ketika sedang giat-giatnya membangun kembali negeri yang telah porak-poranda akibat perang, Opu Daeng Marewah dipanggil pulang oleh Sang Maha Pencipta ke haribaan-Nya. Selesailah sudah bakti dan tanggung jawab Baginda di dunia. Baginda Kelana Jaya Putera telah mangkat ketika sedang bertugas membangun kembali negeri pada 1729 di Pulau Pitung (Petung?). Setelah Baginda mangkat, jabatan Yang Dipertuan Muda Riau dijabat oleh adinda Baginda, yakni Opu Daeng Celak, ayahanda Raja Haji Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda IV Riau, 1777—1784), Pahlawan Maritim Republik Indonesia.

Sejak itu, menjadi tugas Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I dan Opu Daeng Celak-lah untuk meneruskan pembangunan negeri dan memelihara rakyat karena amanah telah dipikulkan oleh Allah kepada kedua pemimpin hebat itu. Alhasil, kedua Baginda itu melaksanakan amanah kepemipinan negeri dengan menjadikan jiwa dan raga mereka sebagai tagannya. Tak seinci tanah, tak setetes air, dan tak sesenti udara pun milik bangsa dan negaranya boleh dikuasai oleh pihak lain. Dan, mereka tak berganjak dari sikap tegap lagi teguh itu. Pasalnya, mereka tak tergamak melihat anak-cucu mereka kelak bermastautin di negeri warisan nenek-moyangnya, tetapi hidup terlunta-lunta bagai orang yang tak memiliki negeri.  

Rasulullah SAW bersabda, “Ya, Allah. Jadikanlah kami mencintai Madinah seperti kami mencintai Mekah atau melebihi cinta kami kepada Mekah,” (H.R. Bukhari).

Hadits Rasulullah yang dikutip di atas lebih menegaskan lagi kenyataan ini. Para pemimpin yang tulus dan mulia, sangat mencintai negeri dan rakyatnya. Tak cukup hanya mengandalkan kerja keras dan cerdasnya, dia senantiasa bermohon akan hidayah, inayah, dan rahmat Allah agar diberi kemudahan untuk membangun dan memajukan bangsa dan negaranya. Memang, hanya pemimpin yang dirahmati Allah-lah yang akan mendulang kejayaan kepemimpinan yang sesungguhnya. Negerinya makmur dan rakyatnya bahagia. Dan, itulah matlamat sesungguhnya hidup bernegara.***   

Tinggalkan Balasan