DENGAN serangkaian serangan besar-besaran dan gegap-gempita, pasukan yang dipimpin oleh Sultan Duri berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Hindustan. Bahkan, pemimpin pihak musuh, Sultan Hindustan, dapat ditawan. Serangan penamat yang berlangsung di Negeri Barbari itu dilakukan oleh Sultan Duri untuk membebaskan Kerajaan Barbari dari belenggu penjajahan Kerajaan Hindustan.

Kepemimpinan Sultan Duri yang gagah-perkasa, penuh taktis,  dan tak mengenal rasa gentar membangkitkan semangat pasukannya untuk berjuang habis-habisan dalam peperangan itu. Hasilnya pasukan Sultan Duri menang. Sejak itu berakhirlah penjajahan Kerajaan Hindustan terhadap Kerajaan Barbari. Dan, sejak itu pula rakyat Kerajaan Barbari bertambah yakin akan semboyan, “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa.” Merdeka!

            Setelah menang perang, Sultan Duri juga segera membebaskan Sultan Abdul Muluk, pemimpin sah Kerajaan Barbari, dan permaisurinya, Siti Rahmah. Sejak Kerajaan Barbari dijajah oleh  Kerajaan Hindustan, suami-istri pemimpin negeri itu ditawan dan dipenjarakan oleh Sultan Hindustan. Tak hanya itu, Sultan Duri yang gagah-perkasa itu juga merawat Sultan Abdul Muluk dan istrinya dengan penuh kasih-sayang sampai kedua suami-istri pemimpin negeri itu sehat kembali. Selama di dalam penjara, Sultan Abdul Muluk dan Siti Rahmah memang sangat menderita sehingga keduanya jatuh sakit. Pasalnya, pemimpin Negeri Barbari dan istrinya itu tak hanya dipenjara, tetapi juga disiksa ketika berada dalam tahanan pihak musuh.

            Wajarlah kemudian, disertai ucapan terima kasih yang tiada berhingga, Sultan Abdul Muluk bertanya tentang motivasi yang melatari Sultan Duri membantu dirinya dan kerajaannya. Dengan tatapan penuh kasih dan senyum penuh makna, Sultan Duri menjawab pertanyaan pemimpin Negeri Barbari yang sangat dihormatinya itu. Kisahnya terekam dalam Syair Abdul Muluk (Haji 1846), bait 1.390, yang pasti membuat bahagia sesiapa pun yang membacanya. Dengan lembut dan penuh takzim, pahlawan kemerdekaan Negeri Barbari itu berucap di hadapan Sultan Abdul Muluk dan istrinya.

Kekanda pun beta ambil pelihara

Karena Allah tiada bercura

Jika ada tulus dan mesra

Kasad (i)tu hendak dibuat saudara

Dari jawaban Sultan Duri itu jelaslah motivasinya membantu Kerajaan Barbari. Dia melaksanakan tugas itu secara ikhlas. Kesemuanya dilakukannya hanya karena Allah, tanpa maksud tersembunyi lainnya. Dengan kata lain, dia tak rela Kerajaan Barbari dan rakyatnya dijajah oleh Kerajaan Hindustan. Memang, sampai dengan episode itu, Sultan Abdul Muluk belum mengetahui siapa sesungguhnya Sultan Duri yang membantunya itu. Padahal, pahlawan itu sesungguhnya bukanlah laki-laki, melainkan perempuan jelita yang menyamarkan dirinya menjadi laki-laki perkasa. Dialah Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk juga, yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki untuk membebaskan negerinya dari belenggu penjajahan. Sampai di situ kisahnya, memang, samaran sang istri yang sangat setia itu belum terbongkar. Alhasil, oleh semua keluarga besarnya, dia hanya diketahui sebagai Sultan Duri yang berbudi pekerti mulia dan sangat ikhlas berbakti.

Di atas kesemuanya itu, Raja Ali Haji rahimahullah hendak menitip pesan bahwa pemimpin yang ikhlas berbakti akan menuai kejayaan perjuangan. Jangan berharap apa-apa dari bakti kepemimpinan, harus ikhlas untuk melaksanakan amanah Allah. Motivasi setiap pemimpin seyogianya semata-mata hendak membangun dan memajukan bangsa dan negara secara ikhlas seraya mengharapkan pertolongan dan rida Allah. Pasalnya, tanpa itu tak akan ada kejayaan kepemimpinan.

Pemimpin seperti Sultan Duri, nama samaran dari Siti Rafiah, dalam Syair Abdul Muluk itu memahami petuah kepemimpinan yang terdapat dalam kearifan bangsa kita. Di antaranya terhimpun di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Kedua Belas, bait 6 (Haji 1847). Apatah lagi, kalau dirujuk dari saat-saat genting ketika negerinya baru dikalahkan oleh Kerajaan Hindustan. Dalam keadaan hamil tua, Siti Rafiah mengerahkan dirinyanya sekuat tenaga untuk melarikan diri ke dalam hutan, menempa diri supaya memiliki kekuatan yang setara dengan laki-laki, dan melatih diri untuk berperang. Kesemuanya itu dilakukannya, dan untuk itu dia ikhlas  berkorban, semata-mata karena dia tak rela negerinya dijajah oleh bangsa lain. Takdirnya memang telah ditetapkan: harus berjuang untuk merebut kembali kemerdekaan negeri dan bangsanya. Keikhlasannyalah, antara lain, yang membuat dia berjaya.  

Ingat akan dirinya mati

Itulah asal berbuat bakti

            Sultan Duri atau Siti Rafiah, istri kedua Sultan Abdul Muluk, sadar sesadar-sadarnya bahwa setiap pemimpin memang wajib memiliki budi kepemimpinan ikhlas berbakti. Keyakinan itulah yang diterapkannya ketika menggantikan kepemimpinan suaminya dengan menghimpun kekuatan di luar negerinya seraya merencanakan pelbagai strategi. Dia rela mati demi mengembalikan marwah negeri. Dengan keyakinan itu, semua upaya dilakukannya tanpa rasa ngeri walaupun harus menyamar sebagai laki-laki. Dia yakin bahwa setelah seseorang mati, apatah lagi pemimpin negeri, orang hanya mengingat bakti. Tanpa bakti, seseorang pemimpin sungguh tiada berarti dan dalam waktu yang tak terlalu lama akan dilupai. Pasalnya, memang tiada sesuatu apa pun hendak dimaknai. Bukankah pemimpin dan kepemimpinan tiada yang abadi? Akan tetapi, budi yang menyertai kepemimpinan akan kekal-lestari.

            Apakah rahasianya sehingga pemimpin yang ikhlas berbakti akan menjulangkan kejayaan kepemimpinan? Rupanya, petunjuknya telah diberikan oleh Allah SWT. Pedoman itulah seyogianya diperhatikan oleh setiap pemimpin jika hendak berjaya dalam kepemimpinannya. Di antara petunjuk itu sangat patut diperhatikan pedoman ini.

            “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali, hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka,” (Q.S. Shaad:82-83).

            Berdasarkan petunjuk Allah itu, nyatalah sudah bahwa pemimpin, dan semua manusia juga, yang ikhlas dalam baktinya, tak dapat dibelokkan niatnya oleh sesiapa juga. Jangankan manusia, bahkan iblis pun tak mampu membuatnya tergoda. Dalam hal ini, bakti kepemimpinannya dia ikhlaskan semata-mata hanya karena Allah SWT. Dialah pemimpin yang senantiasa menaati segala petunjuk dan perintah Allah Yang Mahakuasa.

             Keutamaan sifat ikhlas seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Duri dalam bakti kepemimpinannya memang banyak dibahas dalam referensi tentang kepemimpinan. Sifat mulia itu tak hanya diyakini sebagai indikator kualitas kepemimpinan, tetapi juga menjadi jaminan kekuatan yang mengundang kejayaan kepemimpinan. Oleh sebab itu, para pemimpin tak boleh abai akan perilaku dan sifat ikhlas itu dalam praktik kepemimpinannya. Di dalam Tsamarat al-Muhimmah, perkara ikhlas itu dibahas secara tuntas sebagai syarat mutlak yang mesti dimiliki oleh setiap pemimpin.

“Hendaklah bersumpah dan bersedia dengan raja yang ia mengaku mengerjakan raja dengan ikhlas dan suci hati. Jika jatuh dalam pekerjaan itu menjadi perang atau perbantahan yang besar, maka yaitu adalah ia sebelah raja dan jika ada saudaranya atau kaum kerabatnya yang pada pihak sebelah musuh raja itu, maka yaitu tiada boleh ia pandang lagi jika sudah jatuh di perbantahan yang besar seperti perang umpamanya,” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 85).

Begitulah seyogianya pemimpin yang ikhlas. Bahkan, jika ternyata ada saudara dan atau kaum kerabatnya berupaya hendak mengarahkannya ke arah yang salah, dengan ikhlas pula dia harus mengambil jarak dari mereka walaupun secara kekeluargaan mereka itu orang-orang terdekat. Artinya, keikhlasan dalam memimpin akan menyelamatkan pemimpin, tetapi persaudaraan yang menyesatkan akan mencelakakan pemimpin dan kepemimpinan.

Memimpin itu tergolong kebajikan. Supaya nilai mulia yang dikandunginya boleh menyelamatkan kepemimpinan, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Mahdini (Ed.) 1999, 103) memberikan pedomannya. Patutlah disimak bait 5 syair nasihat yang sungguh memikat.

Kerja kebajikan janganlah malas

Zahir dan batin janganlah culas

Jernihkan hati hendaklah ikhlas

Seperti air di dalam gelas

Itulah sifat-sifat utama yang menyertai perilaku dan sifat kepemimpinan yang ikhlas. Pemimpin yang ikhlas itu rajin bekerja, tak pernah malas. Zahir dan batinnya tak pernah berbuat curang. Orangnya tak akan pernah mempraktikkan perilaku “lain yang dikatakan, tetapi lain pula yang dilakukan”. Ibarat air di dalam gelas, ikhlas itu bening tanpa sebarang cemaran. Itulah sebabnya, beban yang berat akan terasa ringan. Bandingkanlah kekuatan yang memungkinkan Sultan Duri memenangi peperangan, yang kesemuanya itu karena keikhlasan. Tak ada musuh (hambatan/rintangan) yang tak dapat dikalahkan.

Adakah tokoh pemimpin di dunia ini yang benar-benar dapat ditauladani dalam kaitannya dengan keikhlasan? Untuk menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita simak Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus 2000, 131), bait 89.

Sebab berperang ugama yang mulbih

Nabi Muhammad lisanul fasih

Hatinya suci sangatlah bersih

Akan dunia tiada ia kasih

Memperhatikan bait syair yang dinukilkan di atas, jelaslah pasti ada pemimpin yang mendasarkan perjuangannya dengan nilai keikhlasan. Bahkan, mungkin banyak pemimpin yang berkualitas baik itu dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa sedunia sehingga kepemimpinan mereka patut ditauladani.

Di atas semua pemimpin itu adalah Nabi Muhammad SAW. Seperti disuratkan dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam di atas, Baginda Rasulullah berjuang mengajarkan kebenaran dari Allah SWT, selain dengan tulus ikhlas, tanpa mengharapkan kesenangan dunia sama sekali. Semua bakti kepemimpinan Baginda laksanakan untuk kebaikan umat manusia dan semata-mata karena Allah. Oleh sebab itu, Rasulullah SAW merupakan tauladan utama tokoh pemimpin yang ikhlas menyerukan kebajikan demi keselamatan umat manusia sejagat. Tak hanya keselamatan dunia, tetapi lebih-lebih Baginda berjuang agar manusia dapat meraih keselamatan akhirat yang abadi.

Ma’qal Ibnu Yasar al-Muzanni r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang hamba diberi kepercayaan (amanah) oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu dia tak ikhlas dalam mengerjakan amanah itu, maka dia tak mencium bau surga,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah tak hanya berjuang membimbing manusia biasa yang tak diberi amanah kepemimpinan tertentu. Bahkan, seperti tersurat dalam hadits di atas, Baginda juga berjuang menuntun pemimpin rakyat agar ikhlas dalam melaksanakan amanah Allah itu. Pasalnya, jika diselewengkan, kepemimpinan tak hanya menuai kegagalan, tetapi lebih-lebih menyeret pemimpin kepada derita yang tak mengenal batas waktu. Tempatnya bukanlah surga yang akan ditempati oleh para pemimpin bermutu, melainkan neraka yang derita azabnya tak sesiapa pun yang tahu.***

Tinggalkan Balasan